Anda di halaman 1dari 9

SUMBERDAYA MANUSIA “ Mahasiswa Bekerja Paruh Waktu Merupakan Suatu Strategi”

Tugas makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Pembangunan Pertanian

memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Pembangunan Pertanian Disusun Oleh : A’la Fahmi 0810440001 Arif Lukman

Disusun Oleh :

A’la Fahmi

0810440001

Arif Lukman Hakim

0810440024

Suhendar Widyantoro

0810440281

Agung Christianto W.

0810443027

Noviyanto C.

0810443043

FAKULTAS PERTANIAN JURUSAN AGRIBISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2010

PENDAHULUAN

Di zaman seperti ini perekonomian semakin sulit, ada dua golongan akibat dari perekonomian tersebut yang pertama yaitu yang kaya semakin kaya dan golongan yang kedua yaitu yang miskin semakin miskin. kebanyakan warga Indonesia termasuk golongan yang kedua, karna zaman sekarang sangatlah susah mencari pekerjaan. dengan desakan ekonomi, maka tidak jarang orang para orang tua yang menyuruh anak-anaknya untuk bekerja. Dengan makin sulitnya perekonomian saat ini maka banyak anak-anak yang menjadi korban. Kebanyakan anak-anak yang masih sekolah, dan banyak kita jumpai anak-anak yang masih sekolah bekerja contohnya sebagai penjual koran,tukang parkir,pedagang asongan,dan sebagainya. Itu dilakukan karna desakan perekonomian dalam rumah tangganya sangat terbatas, sedangkan mereka masih ingin bersekolah. Dengan mereka bekerja maka akan dapat membantu perekonomian dalam rumah tangganya, dan mereka dapat juga bersekolah. Dari penjelasan di atas maka kami akan membahas pekeja paruh waktu, dan sebagai objek kajian kami adalah mahasiswa, karna itu realita yang terjadi di sekitar kami saat ini

Ø Pandangan Umum

ISI

o Menurut Sosiologi Kerja Sebelum memfokuskan analisis, perlu ditegaskan di sini, bahwa makna kerja secara sosiologis jauh berbeda dengan sudut pandang ekonomi. Kalau pandangan ekonomi, sebuah pekerjaan lebih dinilai sebagai sebuah aktivitas yang melahirkan nilai tambah (added value). Aktifitas yang tidak mengakibatkan adanya perubahan nilai tambah, tidak dikategorikan sebagai bekerja. Orang yang bekerja adalah orang yang berusaha keras untuk menghasilkan produk atau jasa, sehingga menghasilkan nilai tambah. Hal ini berbeda dengan sosiologi. Makna pekerjaan perlu diposisikan sebagai proses aktualisasi diri dan nilai sosial dirinya di masyarakat. Orang yang tidak bekerja, adalah kelompok orang yang memiliki status sosial lebih rendah dibandingkan dengan orang yang bekerja. Pengangguran merupakan kelompok marginal dalam posisi masyarakat kerja. kerja atau pekerjaan adalah satu aktivitas yang membantu dirinya mampu memaksimalkan peran dan fungsi dirinya pada status sosial tertentu. Dalam menentukan nilai pekerjaan itu, maka kesadaran setiap pekerja menjadi sangat penting. Orang yang bekerja tetapi tidak nyaman, dan tidak menikmatinya, sesungguhnya dirinya tengah teralienasikan (termarginalkan) dalam pekerjaannya itu sendiri. Posisi ini, menyebabkan seseorang masuk dalam tahap ‘robotisasi manusia’ atau manusia robot. Manusia robot adalah fenomena hilangnya kesadaran manusia sebagai manusia yang menyebabkan dirinya menjadi bagian dari mesin ekonomi. Pada konteks inilah, kerja dan pekerja, harus dilakukan dengan iringan kesadaran. Kesadaran yang kita maksudkan ini, yaitu kesadaran akan tujuan dari bekerja itu sendiri. Mereka yang bekerja paruh waktu, cenderung menunjukkan motivasi kerja yang tidak sejalan hakikat kerja itu sendiri.

o Adanya Benturan Sudut Pandang Bagi perusahaan, hadirnya pekerja paruh waktu merupakan satu fenomena tersendiri. Pada satu sisi, mereka memiliki tambahan tenaga kerja (manpower), tetapi pada sisi lain para pekerja paruh waktu memiliki potensi masalah khusus. Diantaranya yakni para pekerja paruh waktu tidak memiliki waktu luang dalam memaksimalkan kemampuannya dalam mendukung visi dan misi perusahaan, waktu aktualisasi kompetensi karyawan terbatas, dan tingginya potensi mutasi (hijrah) karyawan. Bila hal ini tidak terantisipasi, sudah tentu potensial menjadi masalah besar bagi perusahaan. Karena masalah-masalah tersebut bisa menyebabkan terganggunya kinerja perusahaan. Apalagi, seperti diungkap sebelumnya, bahwa pekerja paruh waktu itu tidak akan maksimal mengaktualisasikan kompetensi dirinya di perusahaan tersebut. Begitu pula sebaliknya. Dengan bekerja paruh waktu, sesungguhnya si pekerja pun tidak mampu bekerja secara maksimal. Seluruh kemampuan dirinya, tidak bisa ditunjukkkan di perusahaannya. Batasan ruang dan waktu, menjadi penyebab formal bagi dirinya untuk bisa memaksimalkan kemampuan. Sementara di lain pihak, adagium (peribahasa), “bisnis itu membutuhkan perhatian dan kemampuan yang maksimal”. Perhatian dan kemampuan yang setengah-setengah, hanya akan menjadi penyebab awal hancurnya masa depan bisnis.

Ø Bekerja paruh waktu merupakan suatu strategi Mahasiswa adalah kelompok dominant yang menjalani ‘profesi’ sebagai pekerja paruh waktu. Mereka bekerja, selepas atau sebelum menjalani profesi yang sesungguhnya, yaitu kuliah. Waktu yang diambil untuk bekerja pun tidak tanggung-tanggung, kadang sore hari bahkan tak jarang pula ada yang mengambil ship (giliran) malam hari. Mahasiswa yang bekerja akan memperoleh banyak hal positif dari pekerjaannya itu, di samping tidak sedikit pula perjuangan yang harus

dilakukan. Kuliah memang cukup menyita waktu, apalagi pada awal-awal musim perkuliahan, banyak hal mengenai universitas yang baru kita masuki harus kita ketahui, mulai dari keadaan kampus sampai peraturan-peraturan yang berhubungan langsung dengan kegiatan perkuliahan. Hal ini tentunya diperlukan untuk mendukung kelancaran kegiatan perkuliahan itu sendiri, semakin kita mengenal sesuatu hal, maka kita akan semakin menikmati hal tersebut. Umumnya mahasiswa yang bekerja pada saat kuliah merupakan mahasiswa yang mengambil disiplin ilmu yang lebih popular, misalnya ilmu Desain, ilmu Tehnik Informasi, ilmu Sastra dan lain-lain. Mereka biasanya bekerja sebagai creative designer, programmer, guru pada tempat kursus ataupun staf administrasi paruh waktu, ataupun bisa saja sebagai pekerja waktu penuh, selama jadwal kuliah mereka bisa disesuaikan dengan waktu kerja. Ada pula mahasiswa yang memilih pekerjaan yang tidak berhubungan sama sekali dengan ilmu yang sedang mereka pelajari di universitas, biasanya berupa pekerjaan paruh waktu, misalnya sebagai penulis. Hal-hal positif yang bisa diperoleh dengan bekerja yaitu di samping kita bisa mempunyai penghasilan sendiri, pengalaman yang kita dapatkan saat bekerja sangat bermanfaat untuk mendukung perkuliahan itu sendiri. Setidaknya kita dapat merasakan langsung semua hal yang berhubungan dengan dunia kerja yang sesungguhnya, yang selama ini hanya kita tahu dari buku dan sharing dari dosen. Dengan pengetahuan dan pengalaman langsung, kita akan lebih mudah memahami isi perkuliahan tersebut. Karena pada dasarnya, isi perkuliahan memang menjelaskan istilah-istilah dan hal-hal yang terjadi dan berhubungan erat dengan dunia kerja. Keuntungan lain dari bekerja pada saat kuliah, mahasiswa dapat menggunakan perusahaan tempat mereka bekerja sebagai obyek studi kasus bagi tugas-tugas, diskusi ataupun makalah kuliahnya. Hal ini akan memberi banyak kemudahan bagi mahasiswa, karena mereka sudah mengenai dengan baik perusahaan tersebut dan pengurusan surat izin melakukan penelitian akan jauh lebih mudah juga. Mahasiswa juga

dapat menggunakan fasilitas yang diberikan perusahaan, misalnya komputer atau bahkan layanan internet, untuk kepentingan perkuliahan dan tentu saja ini dilakukan di luar jam kerja.

Ø Analisa Penutup Kendati demikian, bagaimana pun juga persepsi kita, fenomena pekerja paruh waktu adalah fenomena actual yang telah terjadi. Bahkan, bisa jadi menjadi fenomena sepanjang masa. Melanjutkan analisis di atas, dapat ditemukan bahwa motivasi seseorang menjalani profesi kerja paruh waktu, bisa ditelaah dari dua sisi. Satu sisi, dilihat dari trend modernisasi pekerjaan, maka pekerjaan (bentuk, jenis, tempat, dan waktu) adalah sebuah pilihan sadar manusia. Apapun bentuk pekerjaan, mereka jalani dengan satu kesadaran tersendiri. Demikian pula, dengan pilihannya untuk bekerja paruh waktu. Pada sisi lain, kerja paruh waktu di era transisi-ekonomi adalah lebih disebabkan karena keterpaksaan. Orang menjalani kerja paruh waktu, karena tidak ada pilihan lain, tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukannya sambil menjalani profesi lain. Oleh karena itu, dalam sudut kedua ini, kerja paruh waktu bukan sebuah pilihan sadar dari pelaku, namun lebih disebabkan karena keterpaksaan dan atau desakan pragmatis (ekonomi) dalam hidupnya. Dua fakta itu sudah tentu akan memiliki implikasi atau dampak yang jauh berbeda. Baik terhadap si pelaku maupun perusahaan tempat mereka kerja. Terkait dengan hal ini, ada beberapa hal yang bisa dikemukakan. Pertama, perusahaan harus mampu melakukan analisis jabatan (anjab), dan analisis pekerjaan (job description), sehingga dapat memisahkan jenis pekerjaan strategis dan pekerjaan pendukung. Pekerjaan strategis membutuhkan perhatian dan waktu kerja yang maksimal, sedangkan jenis pekerjana pendukung dapat diserahkan kepada para pencari kerja paruh waktu.

Kedua, lembaga pendidikan perlu memberikan pencerahan mengenai semangat intrepreneur kepada siswa atau mahasiswa. Hal ini untuk mendukung usaha munculnya pekerja paruh waktu. Dengan adanya kebutuhan pragmatisnya mahasiswa, kerja paruh waktu bisa ‘penolong’ bagi mahasiswa dalam mengejar karirnya sendiri. Terakhir, tetap perlu dicatat bahwa bekerja paruh waktu adalah bagian penting dari ciri kota. Dalam sudut pandang sosiologis, budaya kerja di kota adalah diversifikasi pekerjaan. Bekerja paruh waktu adalah transisi orientasi dari pekerja tunggal ke diversifikasi pekerjaan. Oleh karena itu, munculnya trend ini tidak bisa dicegah. Karena fenomena ini adalah fenomena sosiologis, yang akan terus berkembang seiring dengan perkembangan dan pemaknaan seseorang terhadap pekerjaan itu sendiri. Kita membutuhkan manusia berkualitas, yaitu manusia yang mampu secara sadar dan mandiri menentukan jenis pekerjaannya sendiri. Kerja paruh waktu (part time) atau waktu utuh (full time) adalah pilihan dalam hidup, dan bukan keterpaksaan karena hidup.

KESIMPULAN

Sebagai mahasiswa kerja paruh waktu bukanlah sebagai beban, Namun dengan kerja paruh waktu mahasiswa akan mendapat beberapa keuntungan yaitu dapat membantu perekonomian dalam keluarganya yang lagi susah, bisa terbantu juga apabila pengiriman yang telat. Dan keuntungan yang lainnya yaitu dapat memanfaatkan fasilitas di tempat pekerjaannya untuk menjadi bahan dalam membuat tugas kuliah. Mahasiswa juga akan mendapat pengalaman bekerja, yang menjadi modal awal setelah kuliahnya nanti. Jadi kerja paruh waktu bagi mahasiswa tidak selalu berkonotasi negatif, Namun ada beberapa hal yang dapat membantu mahasiswa.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2010. www.google.com/mahasiswa_sebagai_pekerja_paruh_waktu. Diakses pada tanggal 12 Maret 2010 Anonymous. 2010. www.google.com/pekerjaan_paruh_waktu. Diakses pada tanggal 12 Maret 2010