Anda di halaman 1dari 8

Implementasi Agenda Pertanian Presiden Baru Era Jokowi

Semua pihak, termasuk stakeholder bidang pertanian, menginginkan adanya


perbaikan kondisi pembangunan pertanian. Fakta lemahnya ketahanan pangan
nasional benar-benar ada di depan mata.
Sejumlah bahan pangan masih impor. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan
pada periode Januari-Oktober 2013, volume impor pangan tercatat sebanyak 15,4 juta
ton senilai US$ 7,73 miliar. Padahal, rerata permintaan pangan meningkat 5 persen
per tahun. Pada pertengahan tahun ini, Perum Bulog berniat mengimpor 50.000 ton
beras Vietnam.
Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK), yang terpilih menjadi presiden dan wakil
presiden dalam Pilpres 2014, telah memberikan gambaran prioritas pembangunan
pertanian di masa depan saat kampanye lalu.
Jokowi-JK ingin membangun kedaulatan pangan berbasis agrobisnis kerakyatan.
Pengendalian impor pangan dan pemberantasan mafia impor pangan juga menjadi
perhatian presiden dan wakil presiden terpilih ini.
Secara tegas Jokowi menjanjikan Indonesia bebas impor pangan 4-5 tahun ke depan.
Seribu desa berdaulat dicanangkan hingga 2019. Kemampuan petani, kelembagaan
petani, serta hubungan petani dengan pemerintah, juga peran perempuan petani akan
ditingkatkan. Saluran irigasi, bendungan, sarana transportasi, serta 5.000 pasar
tradisional dan lembaganya akan diperbaiki.
Jokowi-JK juga menjanjikan reformasi agraria. Lahan seluas 9 ha akan
didistribusikan ke petani kecil dan buruh tani. Hal ini diharapkan akan meningkatkan
rerata kepemilikan lahan kepala keluarga petani menjadi 2 ha dari sekitar 0,3 ha saat
ini. Program lain membuka 1 juta ha lahan baru di luar Jawa dan Bali. Bank khusus
pertanian, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), dan koperasi juga akan
dibangun.
Presiden baru terpilih ini juga memprogramkan percobaan lapang atau demplot di tiap
kabupaten. Ini guna meningkatkan produktivitas pertanian rakyat. Industri
pengolahan pangan, peternakan, dan perikanan berdaya saing tinggi didorong untuk
tumbuh. Dua juta ha lahan disiapkan untuk ubi kayu, ubi jalar, aren, sagu, sorgum,
kelapa, kemiri, dan bahan baku bioetanol, sehingga dapat menyerap 12 juta pekerja.
Penggunaan energi terbarukan, terutama biodiesel, terus ditingkatkan dan menjadi
kebijakan wajib. Pola pengusahaan badan usaha milik negara (BUMN) rakyat dan
BUMN swasta akan ditempuh. Harga pangan pun dijamin menguntungkan petani,
peternak, dan nelayan, serta konsumen melalui kebijakan harga dan stok.

Kedaulatan Pangan Nasional


Beberapa program mendasar layak ditekankan dalam pembangunan pertanian di
Indonesia ke depan untuk membumikan kedaulatan pangan nasional. Kebijakan
pemerintah pusat dan daerah perlu diselaraskan untuk mendukung model
pembangunan yang menopang kedaulatan pangan nasional berbasis rakyat.
Konversi lahan harus dihambat melalui penerapan UU Nomor 42/2009 tentang
Perlindungan Lahan Pangan Berkelanjutan. Peraturan pemerintah dan peraturan
teknis lain mesti segera diwujudkan sehingga UU ini mudah diimplementasikan.
Pemberdayaan petani melalui peningkatan kepemilikan dan penguasaan tanah
pertanian mutlak dilakukan. Selama ini, sepertinya pemerintah royal memberikan
konsensi puluhan hingga ratusan ribu ha pada pengusaha, tetapi pelit untuk
mendistribusikan tanah kepada petani.
Program land reform pemerintahan sebelumnya masih sangat jauh dari harapan. Luas
kepemilikan lahan pengusaha perkebunan kontradiktif dengan sulitnya petani
mendapat akses lahan.
Revisi Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26/2007 tentang Pedoman Perizinan
Usaha Perkebunan, yang akan membatasi penguasaan luas lahan perkebunan untuk
satu perusahaan atau grup perlu didorong. Redistribusi aset, terutama lahan bagi
petani, menjadi faktor penting untuk membangun kedaulatan pangan dan
meningkatkan kesejahteraan petani.
Land reform mesti diikuti access reform. Berbagai fasilitas pendukung rakyat
berusaha kompetitif perlu diciptakan. Pemberdayaan aspek teknis, dukungan akses
modal, dan pasar bagi produk petani layak difasilitasi negara.
Sarana pengairan, berupa bendungan dan saluran irigasi, perlu dibangun dan dijaga
fungsinya oleh negara. Transportasi penghubung desa dengan kota harus diperlancar.
Pertanian berbasis rakyat layak dikembangkan.
Transportasi harga pasar di tingkat konsumen dan pedagang semestinya diketahui
petani. Pola harga musiman, stok komoditas di berbagai daerah, dan tingkat harga
secara terintegrasi dapat diinformasikan melalui teknologi informasi komunikasi
(TIK) yang semakin berkembang.
Segala bentuk penimbunan yang mendistorsi harga mutlak ditindak tegas. Jika hal ini
dilakukan bersama transparansi harga dan kelancaran infrastruktur transportasi, akan
tercipta harga kompetitif yang melindungi produsen dan konsumen.
Satu hal yang penting dikendalikan negara adalah arus ekspor impor produk
pertanian. Negeri ini terkesan mudah membuka perdagangan bebas dengan berbagai

negara, namun sering terlambat menyiapkan petani dan pengusaha produk pertanian
agar mampu bersaing di tingkat global.
Karena itu, kesigapan mendongkrak daya saing produk pertanian dengan
meningkatkan produktivitas dan mutunya sesuai standar pasar global mutlak
dilakukan.
Intervensi Negara
Meski negeri ini tidak lepas dari perdagangan global, bukan berarti negara
melepaskan semua perdagangan produk pertanian pada mekanisme pasar tanpa
intervensi negara. Peran negara sangat menentukan kebijakan ekspor-impor dengan
membuka atau menutup sesuai kepentingan nasional. Peningkatan produksi nasional
tak cukup bermakna jika produk impor berharga miring masih terus masuk ke sini.
Program presiden beserta wakil presiden baru yang terpilih perlu tetap berkomitmen
dan konsisten menjalankan program yang selama ini menjadi lemah. Jangan sampai
program presiden yang ada tersandera kepentingan kelompok pengusaha dan
penguasa dari koalisi partai pendukung presiden terpilih.
Jokwi-JK sudah selayaknya mengakomodasi program mendasar dan terbaik untuk
membangun pertanian Indonesia di masa depan. Kita berharap agenda pertanian
presiden baru terpilih ini tak hanya menjadi wacana semata namun dapat
diimplementasikan secara nyata dan mampu membawa perubahan menuju kemajuan
pertanian di masa yang akan datang menjadi lebih baik.
Penulis adalah mahasiswa Program Pascasarjana IPB, aktivis/pegiat Jaringan
Petani Sehat Indonesia (JPSI)
https://ppp2bnkarawang.wordpress.com/2015/02/06/implementasi-agenda-pertanianpresiden-baru-era-jokowi/

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan


Pangan (KRKP), Said Abdullah, menilai kebijakan pertanian di era pemerintahan
Joko Widodo dan Jusuf Kalla tidak memiliki kreatifitas yang signifikan. Ia juga
menuding target mencapai swasembada padi, jagung, dan kedelai dalam periode tiga
tahun hanya target yang sangat ambisius.
''Ambisius karena kondisi ekosistem pertanian sudah sedemikian rusak, ancaman
hama penyakit tinggi dan kondisi iklim yang makin tak bisa diprediksi. Selain itu,
strategi yang dipakai juga tak ada berubah dari era SBY. Kecuali keterlibatan TNI
secara langsung dan rehabilitasi irigasi, selebihnya sama,'' kata Said di Jakarta, Kamis
(14/5).

Said juga tidak merasa terkejut ketika rezim Jokowi-JK memutuskan untuk
melakukan impor beras. ''Rumor mengenai impor beras akhirnya menjadi kenyataan.
Hal ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Jauh sebelum pemerintah memutuskan
impor, bahkan sebelum harga beras bergejolak hebat pada periode Februari-Maret,
kami telah mengingatkan sekaligus memprediksikan bahwa impor beras akan terjadi,''
ujarnya.
Lebih lanjut Said mengatakan sepertinya kebijakan kementerian pertanian yang
sekarang ini tidak belajar dari pengalaman 10 tahun pada era SBY. Berdasar data
FAO, kata dia, dengan pendekatan yang sama Indonesia impor beras sebanyak 7,3
juta ton. Tercatat Indonesia impor beras dalam volume besar pada tahun 2005 sebesar
1,1 juta ton, 2011 sebesar 2,7 juta ton dan 1,8 pada tahun 2012. ''Tetapi pada tahuntahun ini produksi terjun bebas karena adanya serangan hama penyakit dan sebagian
kecil karena bencana banjir atau kekeringan.''
Swasembada yang didekati dengan pendekatan input luar yang tinggi, menurut Said,
telah terbukti gagal untuk meningkatkan produksi. Pendekatan ini, kata dia,
menyebabkan agroekologi hancur lebur. Kualitas kesuburan tanah, lanjutnya, terus
turun karena hama penyakit menjadi semakin resisten.
''Di Jawa kandungan bahan organik di tanah tinggal 0,5 persen dari idealnya di atas 2
persen. Penyemprotan pestisida yang membabibuta mengilangkan musuh alami,
hama penyakit makin kebal, akibatnya tingkat serangannya makin hebat,'' paparnya.
Menurut Said, kalaupun terjadi kenaikan sifatnya hanya akan sesaat saja. Jadi bukan
tidak mungkin ketika akhir tahun ini produksi naik, 2 atau 3 tahun lagi produksi
turun. ''Jika demikian maka impor dilakukan lagi. Jadi ini tidak lagi mengejutkan,''
ujarnya

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/05/14/nobtj0-kebijakanpertanian-era-jokowi-tak-kreatif

Kementerian Pertanian: Kedaulatan Pangan Indonesia


Ditulis: 10 Desember 2014

Oleh: Dhanie Nugroho


(Kandidat Master of Economic di Australia National University
/ Tim Materi www.kawalmenteri.org
email: halo@kawalmenteri.org

Kedaulatan pangan nasional masih menjadi salah satu target utama pemerintahan RI
di bawah kepemimpinan Joko Widodo. Sebagaimana yang tertuang di dalam UU No.
18 tahun 2012 tentang Pangan, terdapat 5 komoditas utama yang wajib dicapai oleh
pemerintah Indonesia dalam mewujudkan swasembada pangan, yaitu beras, jagung,
gula, kedelai dan daging. Dari kelima komoditas ini, tiga komoditas menjadi target
yang lebih dititkberatkan untuk dicapai, yaitu beras, jagung dan gula.

Swasembada pangan sendiri bukanlah topic yang asing bagi masyarakat Indonesia
mengingat pada era Orde Baru di bawah kepemimpinan mantan Presiden Soeharto,
Indonesia telah berhasil mencapai swasembada pangan, khususnya beras. Namun,
ketahanan pangan menjadi polemik pada era kepemimpinan presiden selanjutnya.

Visi misi presiden selama masa kampanye

Presiden terpilih pun telah menegaskan visi misinya terkait dengan permasalahan
ketahanan pangan dan pertanian selama masa kampanye, yaitu menjadikan Indonesia
sebagai negara produsen di bidang pertanian. Hal ini cukup realistis mengingat
kemampuan Indonesia bila menilik sejarah pencapaian Indonesia di bidang ketahanan
pangan. Guna mencapai target ini, terdapat dua sisi yang harus dikerjakan oleh
pemerintah nantinya, yaitu efisiensi di lini produksi serta efisiensi di bidang
pemasaran hasil produksi pertanian. Kedua sisi inilah yang kemudian diterjemahkan
ke dalam visi beliau berikutnya terkait dengan ketahanan pangan Indonesia.

Visi kedua adalah mengupayakan produksi pertanian yang berbiaya rendah (low cost
production). Hal ini, menurut beliau, bisa dilakukan dengan pendampingan
pemerintah kepada para petani dalam penggunaan pupuk, terutama pupuk organic,
serta penggunaan benih unggul.Visi ketiga adalah untuk mengatasi permasalahan
permodalan yang sering dihadapi oleh para petani. Salah satu program yang

dicontohkan adalah pembangunan bank pertanian yang khusus menangani


permasalahan kredit di bidang pertanian. Dengan demikian, petani tidak lagi
dihadapkan pada permasalahan ketiadaan biaya untuk pengusahaan pertanian, baik itu
untuk benih, pupuk, maupun tenaga kerja di bidang pertanian.

Sedangkan visi keempat menjawab permasalahan yang dihadapi oleh para petani
dalam hal pemasaran produk hasil pertanian. Salah satu program yang dapat
dilakukan, menurut beliau adalah pemberdayaan instansi pemerintah yang saat ini
telah ada untuk menjadi penyeimbang di pasar pertanian. Bulog yang selama ini
menjadi penyalur beras akan lebih diberdayakan untuk memenuhi visi keempat yang
dicetuskan selama masa kampanye.

Permasalahan saat ini dalam mencapai kedaulatan pangan

Kedaulatan pangan memang menjadi isu strategis yang perlu digarap oleh
pemerintah, mengingat kebutuhan pangan Indonesia yang sangat besar dengan total
penduduk diperkirakan mencapai lebih dari 240 juta jiwa pada tahun 2014. Namun
demikian, pencapaian program ketahanan pangan nampaknya memiliki tantangan
yang cukup berat, mengingat tantangan yang dihadapi oleh pemerintah cukup
kompleks dan lintas sektoral. Artinya, program ketahanan pangan ini tidak dapat
dicapai oleh pelaksanaan program-program oleh satu kementerian terntentu,
melainkan kerjasama lintas sector yang terpadu dan terintegrasi satu sama lain.

Terlepas dari permasalahan lintas sektoral yang wajib dibenahi oleh kabinet Kerja,
peningkatan produksi pertanian terbelenggu oleh permasalahan dari sisi produksi,
seperti sarana irigasi, ketersediaan benih unggul, dan ketercapaian pupuk bersubsidi
bagi para petani. Tidak hanya itu, Ditejn PSP Kementerian Pertanian juga merilis
bahwa terdapat konversi lahan pertanian yang cukup signifikan selama lima tahun
terakhir sebesar 100.000 ha per tahun. Konversi lahan menjadi salah satu
permasalahan utama dalam peningkatan produksi pertanian, konversi lahan pertanian
cenderung berlaku satu arah. Artinya, lahan pertanian yang telah dikonversi
peruntukannya untuk misal perumahan, perkebunan atau areal tambang, akan sangat
sulit untuk dapat dikonversi kembali peruntukannya sebagai lahan pertanian. Hal ini

disebabkan tingkat kesuburan tanah yang hilang seiring konversi lahan yang
dilakukan.

Langkah awal pencapaian ketahanan pangan nasional

Presiden terpilih Joko Widodo telah menerbitkan Peraturan Presiden terkait dengan
pembangunan waduk Jatigede di Sumedang Jawa Barat. Menjadi waduk terbesar
kedua di Indonesia, waduk ini diharapkan mampu menjadi salah satu sarana irigasi
bagi pertanian di Provinsi Jawa Barat. Terbitnya perpres ini menjadi salah satu
langkah konkrit dalam pencapaian target ketahanan pangan nasional.

Kebijakan lain yang ditempuh oleh pemerintah adalah dikeluarkannya peraturan


menteri pertanian Permentan No. 130/permentan/SR.130/11/2014 tentang subsidi
pupuk. Peraturan menteri pertanian ini bertujuan untuk mengatur peredaran pupuk
bersubsidi bagi kalangan petani kecil dan menengah dengan luas lahan maksimal 2
Ha bagi petani dan maksimal 1 Ha bagi petambak. Subsidi pupuk berdasarkan
peraturan ini adalah pupuk organic serta pupuk non-organik seperti Urea, ZA, NPK
dan SP36. Total alokasi subsidi pupuk yang disediakan oleh pemerintah untuk tahun
2015 mencapai 9,5 juta ton yang akan dialokasikan ke setiap provinsi sesuai dengan
kuota yang telah ditetapkan pemerintah pusat. Pembagian ke wilayah kabupaten/kota
sepenuhnya akan dilakukan oleh gubernur dengan memperhatikan kebutuhan di
setiap kabupaten/kota di bawahnya.

Dari empat permasalahan utama produksi pertanian, masih terdapat dua permasalahan
yang belum mendapat solusi awal untuk mengatasinya, yaitu permasalahan benih
unggul serta konversi lahan. Terkait dengan konversi lahan, pemerintah dihadapkan
pada permasalahan yang lebih kompleks, dimana arah konversi lahan cenderung satu
arah. Ditjen PSP Kementerian Pertanian menargetkan pencetakan sawah baru di
luar Pulau Jawa untuk mengatasi penurunan lahan pertanian produktif yang mencapai
100.000 Ha per tahun. Namun demikian, peraturan untuk mendukung pencetakan
sawah baru ini masih belum terbit. Terlepas dari itu, konversi lahan menjadi lahan
pertanian produktif berpotensi memiliki kontraproduktif jangka panjang. Akan sangat
disayangkan apabila pencetakan sawah baru dilakukan dengan mengkonversi wilayah

hutan, mengingat peran pentingnya wilayah hutan dalam menjaga ekosistem alam
yang berkesinambungan.

Kesimpulan

Pemerintah masih dihadapkan pada pekerjaan rumah untuk menjadikan Indonesia


sebagai negara pertanian. Dari visi misi Presiden Joko Widodo selama masa
kampanye nampaknya kabinet Kerja masih berkutat untuk membenahi proses
produksi pertanian. Pun demikian, tidak semua permasalahan terkait dengan proses
produksi pertanian telah mendapatkan solusi awal yang dibutuhkan. Sedangkan visi
presiden untuk membentuk bank pertanian yang berfungsi untuk mempermudah
petani dalam mengakses kredit modal untuk usaha produksi pertanian hingga saat ini
masih belum tersentuh. Diperlukan langkah kongkrit untuk membenahi proses
pemberian kredit kepada para petani secara lunak. Pekerjaan lain yang harus
diselesaikan adalah bagaimana mendekatkan pasar untuk dapat dengan mudah
diakses oleh para petani.

Sumber:
http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2009/11/091126_rice_six.shtml
UU pangan no 18 tahun 2012.
Tempo, selasa, 25 November 2014, hal 5.
http://finance.detik.com/read/2014/11/24/085505/2756840/4/pekan-depan-jokowikeluarkan-perpres-pembangunan-waduk-terbesar-ke-2-di-ri
Permentan No 130/permentan/SR.130/11/2014
http://hkti.org/inilah-perbedaan-visi-misi-bidang-pertanian-capres-2014-jokowi-vsprabowo.html

https://www.selasar.com/politik/mempertanyakan-visi-pertanian-jokowi-dan-prabowo