Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

JAPANESE ENCEPHALITIS

OLEH :
FADJRI ALRIFANNUR

1510029016

PEMBIMBING :
DR. WILLIAM S. TJENG, SP.A
LABORATORIUM / SMF ILMU KESEHATAN ANAK
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER UNIVERSITAS MULAWARMAN
RSUD A.W.SJAHRANIE SAMARINDA

BAB I
PENDAHULUAN
Japanese Encephalitis (JE) adalah suatu penyakit infeksi virus
pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh flavivirus
dan disebarkan atau ditularkan oleh nyamuk dengan
perantaraan hewan lain, seperti babi.[5]
Hasil surveilans di Bali, yang dilakukan Ditjen PPM & PL
DepKes, FK UU dan International Vaccine Institut (IVI) Korea
dalam waktu 2001-2002, ditemukan 74 kasus JE 16 orang
(21,6%) diantaranya terjadi pada anak usia 13-24 bulan,
dengan angka kematian secara keseluruhan 9,46%. 47,30%
sembuh dengan gejala sisa dari depresi emosi sampai
kelainan saraf kranial, deserebrasi, dekortikasi dan paresis. [2]

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Japanese Encephalitis (JE) adalah suatu penyakit yang menyerang
susunan saraf pusat, yang disebabkan oleh JEV yang ditularkan
[5]
dari
binatang
melalui
gigitan
nyamuk.
Arbovirosis yaitu penyakit yang disebabkan oleh virus dan ditularkan
artropoda.
Pada penyakit JE, reservoir utama adalah babi dan vektornya
adalah nyamuk Culex.

Epidemiologi
ditemukan di hampir seluruh wilayah Asia, mulai dari Asia
Timur yaitu Jepang dan Korea, sampai ke Asia Selatan, seperti di
India dan Sri Langka, serta Asia Tenggara, termasuk kepulauan
Indonesia. [2]
Di Jepang JE pertama kali diketahui secara klinis tahun 1871,
kemudian pada tahun 1924 terjadi epidemi hebat sehingga
angka kematian mencapai 65% dari 6.125 kasus. Epidemi
yang hebat terjadi kembali pada tahun 1935 dan 1948. Setelah
itu dari tahun 1968

Etiologi dan Faktor Risiko


Japanese Encephalitis Virus termasuk dalam Arbovirus grup B,
genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Virus ini berbentuk sferis
dengan diameter 40-60 nm, inti virion terdiri dari asam
ribonukleat (RNA) berupa rantai tunggal yang sering bergabung
dengan protein disebut nukleoprotein.
Faktor risiko :
reservoir dan nyamuk sebagai vektornya. Infeksi pada manusia
timbul secara kebetulan terutama pada orang yang tinggal dekat
dengan reservoir dan vektornya cukup banyak misalnya di
pedesaan, di daerah pertanian yang memakai irigasi pengairan. [1]

Patogenesis
1. Terjadinya viremia, virus menembus dan berkembang biak pada
sel endotel vaskuler dengan cara endositosis, sehingga dapat
menembus sawar darah otak.
2. Setelah mencapai jaringan susunan saraf pusat, virus
berkembang-biak di dalam sel dengan cepat pada retikulum
endoplasma yang kasar serta badan golgi dan setelah itu
menghancurkannya.
3. Akibat infeksi virus tersebut maka permeabilitas sel neuron, glia
dan endotel meningkat, mengakibatkan cairan di luar sel mudah
masuk ke dalam sel dan timbulah edema sitotoksik.
4. Adanya edema dan kerusakan susunan saraf pusat ini
memberikan manifestasi klinis berupa ensefalitis. Area otak
yang terkena dapat pada thalamus, ganglia basal, batang otak,
serebelum, hipokampus dan korteks serebral. [1]

Manifestasi Klinik
Gejala klinis JE tidak berbeda secara klinis dengan ensefalitis yang
disebabkan oleh virus lain
Masa inkubasi 4-14 hari, setelah itu perjalanan penyakit akan
melalui 4 stadium klinis, yaitu: [1]

Manifestasi Klinik
1. Stadium Prodormal
Stadium prodormal berlangsung 2-3 hari dimulai dari keluhan
sampai timbulnya gejala terserangnya susunan saraf pusat.
Gejala yang sangat dominan adalah demam, nyeri kpala,
menggigil. Gejala lain berupa malaise, anoreksia, keluhan dari
traktur respiratorius seperti batuk, pilek dan keluhan traktus
gastrointestinal seperti mual, muntah dan nyeri di daerah
epigastrium. Nyeri kepala dirasakan di dahi atau seluruh kepala,
biasanya hebat. Demam persisten Namun mungkin saja
seorang pasien JE hanya mengalami demam ringan atau
gangguan pernafasan ringan.

Manifestasi Klinik
2. Stadium Akut
Stadium akut dapat berlangsung 3-4 hari, ditandai dengan
demam tinggi yang tidak turun dengan pemberian antipiretik.
Pasien mulai merasakan dampak dari pembengkakan jaringan
otak dan peningkatan tekanan intrakranial.
Gejala tekanan intrakranial meninggi berupa gangguan
keseimbangan dan koordinasi, kelemahan otot-otot, tremor,
kekakuan pada wajah (wajah seperti topeng), nyeri kepala, mual,
muntah, kejang, penurunan kesadaran dari apatis hingga koma.

Manifestasi Klinik
3. Stadium SubAkut
Pada stadium subakut, gejala gangguan susunan saraf pusat
berkurang namun seringkali pasien menghadapi masalah
pneumonia ortostatik, infeksi saluran kemih dan dekubitus.
Gangguan fungsi saraf menetap, seperti paralisis spastik,
hipotrofi otot, sebagai akibat perawatan lama dan pemasangan
kateter urin, fasikulasi, gangguan saraf kranial dan gangguan
saraf ekstrapiramidal.

Manifestasi Klinik
4. Stadium konvalesens
berlangsung lama dan ditandai dengan kelemahan, letargi,
gangguan koordinasi, tremor dan neurosis. Berat badan dapat
sangat menurun. Stadium ini dimulai saat suhu kembali normal.
Gejala sisa yang sering dijumpai

Sekuele
Sekuele atau gejala sisa ditemukan pada 5-70% kasus,
umumnya pada anak usia dibawah 10 tahun : [1]
1. Sistem motorik : motorik halus (72%), kelumpuhan
(44%), gerakan abnormal (8%)
2. Perilaku : agresif (72%), emosi tidak terkontrol (72%),
gangguan perhatian (55%), depresi (38%)
3. Intelektual : abnormal (72%), retardasi (22%)
4. Fungsi neurologi lain : gangguan ingatan (46%), afasia
(38%), epilepsi (20%), paralisis saraf kranial (16%)
dan kebutaan (2%).

Diagnosis
Seleksi kasus JE berdasarkan kriteria WHO, dikutip dari Lubis: [9]

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Demam lebih dari 38C


Gejala rangang meningeal
Gejala rangsang korteks (kejang, gerakan involunter)
Gangguan kesadaran
Gangguan saraf otak (suara pelan dan parau) ix and x/vag
Gejala piramidal (kelumpuhan) dan ekstrapiramidal (gerakan
involunter)
7. Cairan otak jernih, protein positif, glukosa <100mg/dL

Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan darah
Akan ditemukan anemia dan leukositosis ringan, LED
meningkat
2. Pemeriksaan cairan serebrospinal
Cairan serebrospinal tampak jernih, tergantung dari jumlah
leukosit, bervariasi antara 20-5.000/mL. Pada beberapa hari
pertama tampak neutrofil dan limfosit, setelah itu tampak
limfosit dominan, kadar glukosa normal atau menurun,
sedangkan kadar protein meningkat 50-100 mg/dL.
3. Uji serologi
Uji diagnostik baku untuk JE adalah pemeriksaan IgM
Capture dengan cara ELISA (Enzyme linked imunnosorbent
assay) sensitivitas 100%

Pemeriksaan Penunjang

4. Pemeriksaan Konfirmasi
1. Isolasi virus
Isolasi JEV sering didapat dari jaringan otak. Dari darah JEV
dapat diisolasi selama stadium akut, sedangkan dari CSS virus
dapat diisolasi pada permulaan ensefalitis.
2. Pemeriksaan RT-PCR
Deteksi RNA virus JE dapat dilakukan dengan menggunakan
Reverse Transcription PCR Amplification (RT-PCR).

Diagnosa Banding
1. Meningitis TBC : uji mantoux positif, biakan BTA dari cairan
serebropinal positif
2. Meningitis bakterialis : cairan serebrospinal purulen
3. Leptospirosis : ikterus, hepatosplenomegali

Penatalaksanaan

Pengobatan Simtomatik
1. Menghentikan kejang, pemberian diazepam
2. Menurunkan demam, antipiretik Suportif dengan istirahat
dan kompres
Mencegah pening TIK
3. Mengurangi edema otak, Pemberian deksametason IV
dengan dosis tinggi 1mg/kgBB/hari dalam 4 dosis
4. Mempertahankan fungsi metabolisme otak, glukosa
10%, sehingga kadar gula darah menjadi normal, 100150 mg/dL.

Penatalaksanaan

Pengobatan tambahan
1. Perawatan jalan nafas
2. Perawatan sistem kardiovaskular
3. Pemberian cairan intravena balance
4. Pemberian antibiotik

Imunisasi

Terdapat 2 jenis vaksin JE


1. Vaksin hidup yang dilemahkan :
Vaksin dibuat antara lain dari biakan sel ginjal hamster.
diberikan 2 dosis dengan interval 1 tahun
2. Vaksin dari virus mati
Suspensi virus dibuat dari jaringan otak . Pemberiannya
sebagai berikut: anak umur kurang dari 3 tahun imunisasi
pertama diberikan 0,5 ml(1ml u/ >3th) secara subkutan,
imunisasi ke-2 diberikan dosis dan cara yang sama dengan
imunisasi pertama dengan interval 1 tahun dari imunisasi
pertama.

Mencegah gigitan nyamuk

Nyamuk Culex menggigit manusia mulai menjelang malam


hari sampai besok paginya, oleh karena itu perlu tidur
memakai kelambu atau mempergunakan repelan dalam
bentuk cairan atau krim yang dipakai pada bagian tubuh
manusia yang terbuka atau memakai obat pembasmi
nyamuk. [1,5]

Prognosis

1. Usia. Pada anak kecil akan didapatkan gejala sisa yang


lebih sering dan lebih banyak ragamnya daripada anak yang
lebih besar.
2. Gejala klinis. Gejala sisa yang timbul sangat erat
kaitannya dengan berat ringannya gejala pada stadium akut.
Demam tinggi yang berlangsung lama, kejang yang hebat
dan sering, depresi pernafasan yang timbul dini akan
mengakibatkan prognosis buruk.
3. Hasil pemeriksaan cairan serebrospinal. Kadar protein
yang tinggi prognosisnya kurang baik.

Mortalitas dan Morbiditas

1. Terdapat 33-50% pasien dengan gejala


simtomatik meninggalkan gejala sisa neurologis
berupa kejang, parese saraf kranial atau motorik,
atau kelainan gerakan
2. tingkat mortalitas dapat mencapai 35%.
3. Di seluruh dunia dilaporkan 10.000 kematian
setiap tahunnya.

TERIMAKASIH