Anda di halaman 1dari 7

Bed Site Teaching

Hordeolum Eksternum Palpebra Superior OS


Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Kepaniteraan Klinik
di Bagian Ilmu Kesehatan Mata RSMH Palembang

Oleh:
Bhisma Trisandi Musa Suryamanggala, S.Ked
(04054821517134)

Pembimbing:
dr. Rusdianto, SpM

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA


RUMAH SAKIT DR. MOH. HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015

STATUS PASIEN
1. Identitas Pasien
Nama

: Tn. S

Umur

: 48 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Bangsa

: Indonesia

Pekerjaan

: Pegawai Swasta

Alamat

: Jl. Macan Lindungan Palembang

Tanggal Pemeriksaan : 2September 2015


2. Anamnesis
a. Keluhan Utama
Bengkak kemerahan di kelopak mata kiri atas sejak 4 hari yang lalu

b. Riwayat Perjalanan Penyakit


7 hari yang lalu, penderita merasa keloak mata kiri atas terasa
membengkak tanpa disertai benjolan. Keluhan terasa saat pasien baru
bangun tidur, dan berkurang saat saat siang hari. Mata berair (-), gatal (-),
rasa mengganjal pada kelopak mata (-), kotoran mata (-), keluar nanah
pada saat benjolan ditekan (-), keluar air mata pada saat benjolan ditekan
(-), riwayat trauma (-), mata merah (-), pandangan kabur (-).
4 hari yang lalu, penderita mengeluh timbul bengkak kemerahan di
kelopak mata kiri atas yang terasa nyeri, mata berair (-), gatal (+), rasa
mengganjal pada kelopak mata (+), kotoran mata (-), keluar nanah pada
saat benjolan ditekan (+), keluar air mata pada saat benjolan ditekan (-),
riwayat trauma (-), mata merah (-), pandangan kabur (-). Penderita
kemudian berobat ke RS Khusus Mata Masyarakat Palembang.

3
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat keluhan yang sama sebelumnya (-)
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat DM (-)

Riwayat memakai kacamata (-)

Riwayat trauma pada bola mata (-)

Riwayat alergi (-)

d. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga disangkal

3. Pemeriksaan Fisik
a. Status Generalis
Keadaan umum
Kesadaran

: tampak sakit ringan


: compos mentis

Tekanan darah

: 130/80 mmHg

Nadi

: 87 kali/menit regular, isi dan tegangan cukup

Frekuensi napas

: 26 kali/menit

Suhu

: 36,7o C

b. Status Oftalmologis
Visus
Tekanan
intraokular

Okuli Dekstra
6/9

Okuli Sinistra
6/9

N+0

N+0

KBM

Ortoforia

GBM

Palpebra

Tenang

Tampak massa,

4
hiperemis, ukuran
8mm x 8mm,
konsistensikenyal,
nyeri tekan (+)
Konjungtiva

Tenang

Tarsal: Tampak Hiperemis

Kornea

Jernih

Jernih

BMD

Sedang

Sedang

Iris

Gambaran baik

Gambaran baik

Pupil

Bulat, central, refleks cahaya


(+), diameter 3 mm

Bulat, central, refleks cahaya


(+), diameter 3 mm

Lensa

Jernih

Jernih

RFOD (+)

RFOS (+)

Bulat, batas tegas, warna


merah, c/d 0,3 dan a:v 2:3
Refleks Fovea (+)

Bulat, batas tegas, warna


merah, c/d 0,3 dan a:v 2:3
Refleks Fovea (+)

Kontur pembuluh darah baik,


eksudat (-), darah (-)

Kontur pembuluh darah


baik, eksudat (-), darah (-)

Segmen
Posterior
Refleks
Fundus
Papil
Makula
Retina

4. Pemeriksaan Penunjang
-

Pemeriksaan Slit lamp

5. Diagnosis banding
-

Hordeolum Eksternum palpebra superior OS


Kalazion palpebra superior OS

6. Diagnosis Kerja
Hordeolum Eksternum palpebra superior OS
7. Tatalaksana
-

Informed consent
Menjelaskan kepada pasien bahwa keluhan yang dialami terjadi

akibat infeksi dan peradangan di kelopak mata


Menjelaskan kepada pasien agar selalu menjaga kebersihan mata
dengan tidak mengucek mata dan rajin mencuci tangan

Kompres hangat selama 10-15 menit pada mata kiri setiap hari

Kloramfenikol salep 3x1 pada mata kiri

Asam mefenamat tablet 3 x 500 mg

Kontrol ulang setelah 7 hari. Bila tidak ada perbaikan, rujuk ke dokter
spesialis mata untuk dilakukan insisi kuretase.

8. Prognosis
Quo ad vitam

: bonam

Quo ad functionam

: bonam

9. Analisis Kasus

6
Tn. S, laki-laki, usia 48 tahun, datang ke poliklinik mata RSKMM
Palembang dengan keluhan bengkak kemerahan pada bagian atas kelopak mata kiri
sejak 4 hari yang lalu.
Dari anamnesis didapatkan keteangan sejak 7 hari yang lalu, pasien
mengeluh timbul benjolan pada kelopak mata kiri bagian atas. Kelopak mata akan
bengkak dapat disebabkan proses inflamasi maupun non inflamasi. Peradangan yang
sering terjadi yaitu hordeolum, kalazion, karsinoma kelenjar sebasea, befaritis,
sedangkan yang non inflamasi biasanya akibat penyakit ginjal, jantung. Pasien
mengaku benjolan berwarna merah, dan terasa mengganjal. Pasien juga mengeluh
nyeri pada benjolan. Hal ini membuktikan bahwa keluhan benjolan diakibatkan
proses inflamasi, sehingga bengkak kelopak mata akibat penyakit ginjal dan jantung
dapat disingkirkan, sekaligus dapat menyingkirkan kalazion dan karsinoma kelenjar
sebasea, karena kalazion merupakan benjolan pada kelopak mata yang tidak
hiperemis dan nyeri dan karsinoma kelenjar sebasea yang berbentuk nodul dan keras.
Pasien menyangkal adanya keluhan mata berair-air dan terdapat kotoran mata, juga
menyangkal keluar nanah dari sudut mata saat benjolan ditekan sehingga diagnosis
banding blefaritis dan dakriosistitis dapat disingkirkan. Diagnosis paling mungkin
adalah hordeolum. Pada anamnesis pasien mengaku keluar nanah dari pangkal
rambut saat benjolan ditekan, hal ini menandakan bahwa hordeolum yang diderita
merupakan hordeolum eksternum.
Pada riwayat penyakit dahulu pasien menyangkal memakai kacamata
sebelumnya, riwayat sakit mata sebelumnya disangkal, riwayat trauma disangkal
sehingga dapat dipastikan bahwa keluhan benjolan pada kelopak mata bukan
diakibatkan trauma. Riwayat keluhan mata serupa pada anggota keluarga lain
disangkal.
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan status generalikus pasien dalam
batas normal.Pada pemeriksaan spesifik status oftalmologikus, didapatkan visus 6/9
baik OD maupun OS.Pada palpasi bola mata, didapatkan tekanan intraokuler kedua
mata normal.Kedudukan bola mata juga normal (ortoforia) dan gerakan bola mata ke
segala arah (tidak ada gangguan otot bola mata dan tidak ada gangguan saraf
penggerak bola mata nervus III, IV, dan VI). Namun, pada pemeriksaan palpebra OS,

7
ditemukan adanya massa hiperemis, ukuran 8x8 mm, permukaan rata, batas tegas,
konsistensi kenyal, dan ada nyeri tekan.
Pada pemeriksaan bilik mata depan, iris, pupil, lensa, dan segmen posterior
pada pasien ini, didapatkan keadaan dalam batas normal. Pasien

dapat

diedukasi

bahwa kelainan mata yang dialaminya merupakan infeksi akut yang kemungkinan
besar disebabkan oleh bakteri, menjelaskan untuk tidak menggosok atau mengucek
mata, melakukan kompres hangat untuk meningkatkan aliran darah pada benjolan
yang diharapkan dapat mempercepat proses penyembuhan. Pasien juga diedukasi
untuk menjaga kebersihan tangan, wajah, dan mata.Pada pasien dapat diberikan
antibiotik topikal kloramfenikol salep 3 kali sehari untuk menghentikan infeksi. Jika
tidak terdapat perbaikan setelah 7 hari maka dapat dilakukan insisi kuretase. Jika
semua tatalaksana dilakukan dengan baik maka pasien dapat sembuh dengan baik.