Anda di halaman 1dari 3

Adab Talim Mutaalim (Kegiatan Belajar Mengajar)

Posted by akhireza on 7 Agustus 2015


Posted in: Adab, Ilmu Agama. 1 Komentar

Adab Talim Mutaalim terbagi atas tiga, yakni adab terhadap ilmu, adab
terhadap guru, dan adab terhadap murid

I. Adab terhadap ilmu

Adab terhadap ilmu terbagai atas tiga tahap. Yakni sebelum, ketika dan setelah
menuntut ilmu.

a. Adab sebelum menuntut ilmu

Niat yang benar


Menuntut ilmu diniatkan sebagai ibadah dan hanya karena Allah semata
Kemudian, menuntut ilmu dengan kerendahan hati.. Meski mungkin kita sudah
pernah mendengar ilmu yg sedang disampaikan itu
Menuntut ilmu dengan niat untuk diamalkan. Karena jika orang mengamalkan
ilmunya, maka Allah akan menambah ilmunya.
Belajarlah ilmu untuk selanjutnya diajarkan kepada orang lain. Jangan pelit
dengan ilmu yg kita punya. Bukankah salah satu amal yang tak akan putus
pahalanya adalah ilmu yang bermanfaat?
Berikutnya, mencintai ilmu dengan sepenuh hati. Karena orang akan selalu
mengingat apa yang dicintainya. Merasa sulit memahami atau menghapal suatu
materi? Bisa jadi itu karena kita tidak atau belum mencintainya.
Carilah ilmu yang bermanfaat dari guru yang berkapasitas. Ciri ilmu yang
bermanfaat adalah, membuat semakin takut kepada Allah. Sesungguhnya
yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (QS.
Faathir [35] : 28)

b. Adab ketika menuntut ilmu

Yang pertama, adalah berdoa di awal dan akhir.. Di awal minimal mengucap
basmalah, dan diakhiri dengan hamdalah.

Berusaha hadir di awal waktu, mencari tempat yang paling baik.. Sehingga
dapat mendengar atau membaca dengan baik.
Dengarlah dengan seksama, jangan sambil berbincang, sms-an, atau malah
menelpon.
Catatlah materi yang dianggap penting.. Ikatlah ilmu dengan mencatatnya.
Bertanyalah jika ada yang kurang dipahami, ketika sudah dipersilahkan untuk
bertanya.
Di dalam menuntut ilmu, kita diharuskan untuk bresabar.
Jangan meninggalkan tempat kecuali ada sesuatu yang mendesak.

c. Adab setelah menuntut ilmu

Niatkan untuk mengamalkan ilmu yang sudah didapatkan.


Niatkan untuk menyampaikan kepada orang lain dengan ikhlas.
Bertawadhu (rendah hati)-lah setelah memiliki ilmu. Tidak masuk surga orang
yang di dalam hati ada kesombongan meskipun hanya sebiji sawi. (HR.Muslim)
Gunakanlah ilmu di jalan Allah, untuk menambah ketaqwaan kepada-Nya.

II. Adab murid kepada guru.

Menghormati guru, sebagaimana kita hormat kepada orang tua kita.


Meminta nasihat kepadanya, karena beliau tentunya lebih bijaksana karena
pengalaman dan ilmunya.
Tidak mendebat guru. Bukan berarti tidak boleh mengoreksi ketika beliau
khilaf. Maksudnya adalah tidak boleh mengadu guru. Misalnya dengan
mengatakan Guru A mengatakan X, kenapa Anda bilang Y?
Tidak menyebut keburukan guru kepada orang lain.
Memaafkan kesalahannya. Karena guru juga manusia, tak luput dari
kekhilafan.
Menceritakan kebaikan-kebaikannya.
Mendoakan guru agar diberi kebaikan dunia dan akhirat.

III. Adab guru terhadap murid yang diajarnya.

Memberikan ilmu sesuai kemampuannya, serta sesuai kebutuhan murid..


Bahasa ke anak SD tentu berbeda dengan ke mahasiswa.
Mengasihi murid seperti anak sendiri.
Tidak menyebut keburukan murid didepan murid lainnya.
Mendoakan murid agar diberi kemudahan dalam pemahaman ilmu untuk
kebaikan dunia dan akhirat.