Anda di halaman 1dari 11

TUGAS TERSTRUKTUR

STRUKTUR DAN FISIOLOGIS


HEWAN PERCOBAAN DIABETES MELITUS TIPE 2
RESISTENSI INSULIN

Oleh :
MOCH. ABDUL ROKIM
B2A015007

FAKULTAS BIOLOGI
PROGRAM STUDI S2 BIOLOGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2015

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit peningkatan glukosa darah yang tidak bisa
diubah menjadi glikogen dan tidak bisa masuk ke dalam sel yang disebabkan oleh disfungsi
sel beta pankreas berakibat menenurunnya produksi insulin, selain itu peningkatan glukosa
darah karena kerja insulin terganggu (resistensi insulin) yang tidak bisa merespon kadar
glukosa darah tersebut.
Diabetes Melitus tipe 2 atau non insulin dependent diabetes mellitus (NIDDM)
biasanya ditandai resistensi dan kekurangan produksi insulin karena jumlah glukosa dalam
darah tidak sebanding dengan jumlah insulin (Setiawan, 2011). Resistensi insulin sendiri
disebut sebagai dasar terjadinya DM tipe 2 dan dapat disebabkan oleh gangguan pre reseptor,
reseptor dan post reseptor (Handayani, 2009).
Banyak penelitian mengenai diabetes yang menggunakan hewan percobaan yang
didasarkan patogenesis yang terjadi pada manusia. Dari situlah kita sudah mendapatkan obatobat yang saat ini beredar untuk penyakit diabetes melitus. Walalupun tidak sepenuhnya
gambaran patologis hewan sama dengan gambaran patologis manusia karena perbedaan
kondisi patologis dan fisiologis serta macam-macam tipe diabetes melitus juga macam dari
komplikasinya. Hewan percobaan diabetes melitus ada 2 : (1) terinduksi (induced), misalnya
melalui pankreaktomi, senyawa kimia (diabetogenik) dan virus; (2) spontan (spontaneous),
misalnya menggunakan tikus BB (bio breeding) atau mencit NOD (non-obese diabetic).
Spontaneous animal models mempunyai karakteristik yang relatif sama dengan kondisi
diabetes mellitus pada manusia meliputi gejala-gejala penyakit (Nugroho, 2006).
B. Perumusan Masalah
1. Apa saja cara membuat hewan percobaan diabetes melitus tipe 2 resistensi insulin
2. Bagaimana cara mebuat hewan percobaan diabetes melitus tipe 2 resistensi insulin
C. Tujuan

1. Mengetahui macam-macam cara membuat hewan percobaan diabetes melitus tipe 2


resistensi insulin.
2. Mengetahui cara-cara mebuat hewan percobaan diabetes melitus tipe 2 resistensi
insulin.

PEMBAHASAN

DM tipe 2 yang ditandai dengan adanya resistensi insulin dan gangguan sel
Langerhans pankreas dalam memproduksi insulin. Hewan uji DM tipe 2 bisa dibuat dengan
cara : pemberian nutrisi yang dapat menstimulasi resistensi insulin, pankreatektomi parsial,
pemberian senyawa diabetogenik, ataupun secara genetik. Dengan perlakuan itu bisa
mengakibatkan terjadinya penurunan respon jaringan perifer terhadap aktivitas insulin atau
malfungsi dari reseptor insulin dan disfungsi sel Langerhans pankreas dalam memproduksi
insulin, keduanya yang menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah sesuai DM tipe 2
(Nugroho, 2006).
Yang dilakukan Syamsul dan kawan kawan pada penelitiannya hewan percobaannya
diberikan pakan yang kaya lemak dan fruktosa untuk membuat hewan percobaan terjadi
resistensi insulin. Berikut komposisi yang digunakan pakan dengan kaya lemak : 80 % pakan,
15 % lemak babi dan 5 % telur bebek. Hewan percobaan yang digunakan 6 kelompok tikus
dengan pembagian 5 kelompok dengan pakan kaya lemak dan 1 kelompok dengan pakan
normal. Lalu masing-masing perharinya diberikan konsumsi sebanyak 15 g/tikus. Lalu
diberikan fruktosa sebanyak 1,8 g/kg BB tikus melalui oral. Dilanjutkan hewan percobaan
yang sudah diperlakukan tadi di uji DM tipe 2 resisten insulin insulinnya dengan parameter
sebagai berikut : (1) uji kadar glukosa preprandial dan post prandial, (2) uji aktivitas
hipoglikemik dan glibenklamid, dan (3) pengamatan ekspresi protein GLUT-4 pada jaringan
otot.
Pengukuran berat badan dilakukan 5 hari sekali dimulai pada hari ke-0 sampai hari
ke-50. Berdasrkan hasil analisis statistik didapatkan bahwa pemberian fruktosa dan pakan
kaya lemak mempengaruhi kenaikan BB kelompok tikus yang diberi asupan lemak-fruktosa
secara bermakna dibanding kelompom tikus normal.
Hasil pengukuran kadar glukosa preprandial dan post prandial pada hari ke-0, 20, 30,
dan 50 mengindikasikan pemberian fruktosa dan pakan pakan kaya lemak mempengaruhi

kadar glukosa darah preprandial tikus lemak-fruktosa secara bermakna dibandingkan tikus
normal.
Hewan uji sudah mengalami DM tipe 2 resisten insulin dapat dilihat dari parameter:
uji aktivitas hipoglikemik dari glibenklamid dan pengamatan ekspresi protein GLUT-4 pada
jaringan otot. Uji aktivitas hipoglikemik dari gliben-klamid tikus yang diberi lemak-fruktosa
terbukti memang mengalami resistensi insulin, ini dapat dilihat dengan nilai persen daya
hipoglikemik yang lebih kecil dari kelompok tikus normal.
Pengamatan ekspresi protein GLUT-4 pada jaringan otot dengan metode
Immunohistochemistry (IHC) maka kita dapat melihat perbedaannya. Hasil perhitungan total
nilai ekspresi GLUT-4 kelompok tikus normal lebih tinggi dari tikus lemak-fruktosa. Ini
memperkuat asumsi banyaknya ekspresi GLUT-4 berefek penggunaan glukosa oleh jaringan
semakin baik, sehingga jumlah glukosa dalam darah menjadi berkurang karena diangkut ke
jaringan. Disimpulkan syamsul dan kawan-kawan membuat hewan percobaan dengan
pemberian nutrisi yang dapat menstimulasi resistensi insulin (Syamsul, 2011)..
Streptozotosin (STZ) atau 2-deoksi-2-[3-(metil-3-nitrosoureido)-D-glukopiranose]
diperoleh dari Streptomyces achromogenes dapat digunakan untuk menginduksi baik DM
tipe 1 maupun tipe 2 pada hewan uji. Untuk menginduksi DM tipe 2, STZ diberikan intravena
atau intraperitoneal dengan dosis 100 mg/kg BB pada tikus yang berumur 2 hari kelahiran,
pada 8-10 minggu tikus tersebut mengalami gangguan respon terhadap glukosa dan
sensitivitas sel terhadap glukosa. Di lain pihak, sel dan tidak dipengaruhi secara
signifikan oleh pemberian streptozotosin pada neonatal tersebut sehingga tidak membawa
dampak pada perubahan glukagon dan somatostatin. Patofisiologis tersebut identik pada DM
tipe II (Fidzaro, 2010).

Gambar Struktur Kimia Streptozotosin (Nugroho, 2006)


Kerja STZ menembus sel Langerhans melalui tansporter glukosa GLUT 2. Aksi STZ
intraseluler menghasikan perubahan DNA sel pankreas. Alkilasi DNA oleh STZ melalui
gugus nitrosourea mengakibatkan kerusakan pada sel pankreas. STZ merupakan donor NO
(nitric oxide) yang berkontribusi merusak sel pankreas melalui peningkatan aktivitas
guanilil siklase dan pembentukan cGMP. NO dihasilkan sewaktu STZ mengalami
metabolisme dalam sel. Selain itu, STZ juga mampu mengaktifkan oksigen reaktif yang
berperan dalam kerusakan sel pankreas. Pembentukan anion superoksida karena aksi STZ
dalam mitokondria dan peningkatan aktivitas xantin oksidase. Dalam hal ini, STZ
menghambat siklus Krebs dan menurunkan konsumsi oksigen mitokondria. Produksi ATP
mitokondria yang terbatas berakibat berkurangnya secara drastis nukleotida sel pankreas.
Peningkatan defosforilasi ATP memacu meningkatnya substrat untuk enzim xantin oksidase
(sel pankreas mempunyai aktivitas tinggi terhadap enzim ini), lalu terjadi peningkatan asam
urat. Xantin oksidase mengkatalisis reaksi pembentukan anion superoksida aktif. Dari
pembangkitan anion superoksida, terbentuk hidrogen peroksida dan radikal superoksida. NO
dan oksigen reaktif tersebut adalah penyebab utama kerusakan sel pankreas. Kerusakan
DNA akibat STZ dapat mengaktivasi poli ADP-ribosilasi berakibat penekanan NAD+ seluler,

selanjutnya penurunan jumlah ATP, dan akhirnya terjadi penghambatan sekresi dan sintesis
insulin. Selain itu, kalsium berlebih yang menginduksi nekrosis, tidak mempunyai peran yang
signifikan pada nekrosis yang diinduksi STZ (Nugroho, 2006).
Hetereogenitas genetik dan multifaktorial lingkungan menjadi tantangan tersendiri untuk
mendiagnosa dengan tepat mekanisme molekuler yang berhubungan dengan pengobatan
diabetes. Transgenik pada hewan sendiri khususnya pada tikus memberikan wawasan kita
terhadap regulasi sera pengembagan gen, patogenesis dan menemukan cara pengobatan baru
untuk diabetes. Transgenik dan knockout model yang dikembangkan untuk mempelajari
peran gen dan pengaruhnya terhadap tindakan insulin perifer seperti reseptor insulin, IRS-1,
IRS-2, glucose transporter (GLUT 4), peroxisome proliferator activated receptor-g (PPAR-g)
and tumour necrosis factor-a (TNF-a), serta sekresi insulin seperti GLUT-2, glucokinase
(GK), islet amyloid polypeptide (IAPP) and GLP-1 dan produksi glukosa di hati yang
berhubungan dengan perkembangan DM tipe 2 (Srinivasan & Ramarao, 2007).
Yang dilakukan Howarth dan kawan-kawan menggunakan tikus muda Zucker diabetic
fatty (ZDF) (berumur 9-13 minggu). Ciri-cirinya adalah peningkatan berat badan dan berat
hati, penyusutan rasio jantungdengan

berat badan dan kadar glukosa darah acaknya

meningkat. Ciri lain dari tikus ZDF yaitu kadar hemoglobin A1c plasman, gangguan toleransi
glukosa, hiperinsulinemia, hiperlipidemia dan hipertensi sedang.
Menurut Srinivasan dan Ramarao model hewan untuk DM tipe 2 :
No
1

Kategori
Obesitas
Spontan atau dari hewan yang ob/ob mouse
mempunyai gen diabetes

db/db mouse

Non Obesitas
- Cohen diabetic rat
- GK rat
- Torri rat Non obese

KK mouse

C57BL/6 (akita) mutant

KK/Ay mouse

mouse
ALS/Lt mouse

NZO mouse

NONcNZO10 mouse
TSOD mouse

Zucker fatty rat


ZDF rat
SHR/N-cp rat
JCR/LA-cp rat
OLETF rat
Obese rhesus monkey
2

Diet / hewan yang diinduksi Sand rat


nutrisi agar terjadi diabetes

C56/BL 6J mouse

Spiny mouse
Hewan yang diinduksi zat GTG treated
kimia agar terjadi diabetes

obese Dosis rendah ALXatau STZ

mice

pada tikus dewasa


STZ pada tikus yang baru

Hewan bedah diabetes

lahir
Lesi VMH pada tikus Pancreatomic parsial
obesitas diabetes yang

Hewan Tansgenik diabetes

menjalani diet
Merusak 3 receptor - Transgenik

dan

yang

knockuot

tikus

model

melibatkan

Merusak Uncoupling

gen insulin reseptor insulin

protein (UCP1) pada

juga

tikus

komponen

sinyal

insulin

terakhir

seperti

IRS-1,

IRS-2,

glucose

transporter

(GLUT

4),

peroxisome

proliferator

activated

receptor-g

(PPAR-g), PTP-1B (TNFa)


- Knockout gen Glukokinasi
atau GLUT 2 dari tikus
- Human islet amyloid
polypeptide yang
diekspresikan pada tikus

KESIMPULAN
Jadi hewan uji DM tipe 2 bisa dibuat dengan cara :
1. Pemberian nutrisi yang dapat menstimulasi resistensi insulin yaitu membuat obesitas
dahulu
2. Pankreatektomi parsial bisa dengan mengurangi masa tikus
3. Pemberian senyawa diabetogenik STZ ataupun aloksan

4. Secara genetik bisa dari hewan yang sudah secara keturunan menderita diabetes (seperti
tikus ZDF) atau bisa secara trasngenik.

DAFTAR PUSTAKA

Handayani,W., Rudijanto, A., Indra, M.R., 2009, Susu Kedelai Menurunkan Resistensi
Insulin pada Rattus norvegicus Model Diabetes Melitus Tipe 2, Malang
Fidzaro, 2010, Pengaruh Pemberian Ekstrak Biji Klabet (Trigonella graecum L) Terhadap
Kadar Glukosa Darah dan Gambaran Histologi Pankreas Mencit (Mus musculus) yang
Terpapar Streptozotocin, UIN, Malang

Howarth,F.C., Qureshi, M.A., Hassan,Z., Al Kury, L.T, Isaev, D., Parekh,


K.,Yammahi, Adrian, Adeghate, E., 2011, Changing Pattern of Gene Expression is
Associated with Ventricular Myocyte Dysfunction and Altered Mechanisms of Ca2+
Signalling in Young Type2 Zucker Diabetic Fatty Rat Heart, United Arab Emirates
University, Al Ain, United Arab Emirates

Nugroho, A. E., 2006, Hewan Percobaan Diabetes Mellitus : Patologi Dan Mekanisme Aksi
Diabetogenik, UGM, Yogyakarta
Setiawan, A.S.,Yulinah, S., Adnyana K., Permana, H., Sudjana, P., 2011, Efek Antidiabetes
Kombinasi Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum Linn.) dan Rimpang Kunyit (Curcumma
domestica Val.) dengan Pembanding Glibenklamid pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2,
Bandung
Srinivasan, K, Ramarao, P., 2007, Animal models in type 2 diabetes research: An overview,
National Institute of Pharmaceutical Education & Research (NIPER), Mohali, India
Syamsul, E.S, Nugroho, A.S., Pramono, S., 2011, Aktivitas Antidiabetes Kombinasi Ekstrak
Terpurifikasi Herba Sambiloto (Andrographis paniculata (Burn.F.) NESS.) dan Metformin
Pada Tikus DM Tipe 2 Resisten Insulin, UGM, Yogyarta