Anda di halaman 1dari 9

DAWAI PENGISI ANGAN

Fajar menyingsing secepat ombak yang berderai di tepian pantai. Kicaun burung
gereja menemaniku membuka pagi. Tak sabar aku menantikan hari pertamaku masuk SMA.
Dan tak ada lain yang lebih penting selain penantianku yang begitu lama untuk dapat
bertemu lagi dengan Dara, sahabatku.
Bel berbunyi, aku bersiap untuk masuk kelas baruku, memulai lembaran baru dengan
semangat baru. Pak guru membantuku memeperkenalkan diriku di depan calon teman-teman
baruku. Hatiku berdebar kencang, gigiku terasa linu seperti disengat lusinan lebah. Langitlangit serasa jatuh di atas kepalaku ketika pak guru menyebutkan agar aku duduk di samping
orang yang paling ingin kutemui di dunia ini, Dara. Oh my God! teriakku dalam hati.
Jantungku tak henti-hentinya berdebar. Rasanya hati ini tak kuasa menahan gejolak
keinginanku yang ingin segera berbincang-bincang tentang banyak hal dengan Dara. Ayahku
yang harus mutasi ke pulau seberang memaksakku harus meninggalkan kota yang telah
menyaksikanku lahir hingga aku tumbuh, Cirebon, dan sahabat terbaikku, Dara, 3 tahun lalu.
Namun, sesampainya aku di sampingnya, terdengar dua kata yang sungguh menyesakkan
hatiku, dua kata yang tak pernah kubayangkan kan keluar dari mulutnya, Ganggu aja!
Ya Tuhan, aku tak sampai hati memikirkan kata-kata itu benar-benar ditujukan
padaku. Pada saat itu, tanpa sadar, aku memegang bahunya, belagak akrab, karena takut
memikirkan kemungkinan bahwa Dara membenciku sejak aku pergi meninggalkannnya.
Namun, lagak akrabku dibalasnya dengan tatapan sinis.
Bel Sekolah berbunyi tiga kali berurutan, tanda sekolah dibubarkan. Jalan setapak
kususuri dengan muka menghadap ke tanah. Badanku lemas setelah aktivitas yang kulalui
hari ini. Begitu sampai di belokan gang, aku bertemu dengan seorang pemuda, lebih tua
setahun dariku, kurasa. Dia terlihat sedang mencoba bangkit berdiri, tanah yang dipijaknya
terlihat sedikit tidak rata. Reflek aku berlari memapahnya ketika dia hampir jatuh tersungkur.
Kubantunya berdiri tegap.
Terima kasih, pemuda itu berkata sembari menatap jauh ke depan dengan tatapan
kosong, Siapa namamu?

Naysilla, panggil aku Nayla, kusodorkan tanganku dekat dengannya. Namun,


kulihat dia agak kesulitan menggapai tanganku yang berada tepat di samping dadanya.
Aghaza, panggil saja Agha meraih tanganku sambil tersenyum.
Kamu tinggal di mana? tanyaku.
Setelah gang ini, belok kiri, dua blok dari sini, masuk gang, lurus, mentok pohon,
belok kanan, rumah ketiga dari kiri setelah belokan jawabnya.
Lengkap amat, kataku dengan cepat. Dia hanya membalas dengan senyuman.
Rumahku belok kanan setelah gang ini, kataku.
Aku berjalan bersama dengannya sampai ke ujung gang. Dalam perjalanan sebelum
sampai di ujung gang, kami ngobrol sedikit.
Udah sore, kenapa baru pulang? tanyanya.
Aku baru pindah kesini kemarin, kurang tau daerah sekitar sini, jadi aku kesasar
waktu pengen pulang. Hhaha.
Dia tertawa irit mendengar jawabanku.
Setelah sampai di ujung gang, akhirnya aku berpisah jalan dengannya. Dia ke arah
kanan, sedangkan aku ke arah kiri. Dari awal pertemuanku dengannya, ada suatu hal yang
kurasa janggal darinya, tetapi aku tidak tahu apa.
Pagi tiba lebih awal dari yang kukira. Aku bergegas pergi ke sekolah seperti biasa.
Entah mengapa ada sesuatu di dadaku yang membuatku sesak. Di kelas, aku duduk di pojok
ruang kelas, sendiri. Kutunggu Dara, satu-satunya orang yang aku kenal di kelas, tetapi dia
tak kunjung datang padahal bel sekolah sudah berbunyi. Dia dipulangin gara-gara telat kali
ya? pikirku. Ternyata pada saat istirahat, aku berpapasan dengannya di kantin. Kupikir dia
tidak masuk sekolah.
Kulemparkan senyum padanya. Namun, dia tetap membalasnya dengan tatapan sinis.
Apa sih yang salah dariku, sampe Dara sinis gitu? Tanyaku dalam hati. Seminggu aku
bersekolah di sana, tak ada satu hal pun yang berubah. Dara dengan tatapan sinisnya dan aku
yang selalu sendirian. Namun, satu hal yang kutahu, Dara bukanlah Dara yang dulu aku
kenal. Keanggunannya tak lagi kulihat. Entah kenapa, cara bicaranya menjadi agak kasar, dan
2

satu hal yang pasti, dia sangat berkuasa sekolah, kurasa. Semua yang diinginkannya dengan
mudah didapatnya. Teman, kantin, taman, hingga satpam pun rasanya luluh di hadapannya.
Aku merasa sangat asing di sana. Tak ada seorang pun yang menyapaku, atau
bertanya padaku tentang apa pun bahkan melihatku pun tidak. Aku rasa aku tahu alasannya,
tetapi aku hanya tidak bisa mengakuinya. Setiap waktuku di sekolah selain di kelas,
kuhabiskan dengan membaca novel Serlock Holmes atau komik Detective Conan di sudut
taman, sendiri. Hal ini terjadi setiap hari. Sampai-sampai rasanya, andai ini mimpi, aku ingin
segera terbangun dari mimpi buruk ini. Kupikir tak ada satu pun orang di dunia ini yang
betah sendiri, Tapi, aku bisa apa? pikirku dalam hati.
Aku berpikir, hal ini mungkin akan berlangsung terus sampai aku lulus. Setidaknya
setahun lagi aku bisa bertahan sendiri, tanpa menarik perhatian, menjalani aktivitas di sekolah
dengan lancar tanpa ada masalah. Namun, sebenarnya dalam hati aku ingin sekali berteriak
bahwa aku ingin menjalani masa-masa di SMA seperti halnya siswa-siswa yang lain. Ada
teman, sahabat, berbagi canda dan tawa, bersusah-susah bersama, mungkin nakal sedikit
bersama-sama, telat masuk bersama. Aku sadar, di posisisku yang sekarang ini, hal-hal
tersebut sulit menjadi kenyataan. Hanya, aku berharap agar mendapat teman walaupun satu
agar hidupku terasa sedikit lebih berwarna, tidak datar seperti ini. Hidup yang sangat
membosankan.
Waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB, waktuku untuk berhenti berandai-andai,
saatnya bagiku untuk menghilangkan penat dari segala macam beban pikiranku di sekolah
dengan bermain biola bersama teman-teman perkumpulan biola baruku di Cirebon.
Setibanya aku di sana, tak ada satu pun temanku. Kurasa mereka semua terlalu sibuk
sehingga lupa akan agenda kumpul mingguan yang seharusnya jatuh pada hari itu. Ya,
udahlah nanggung, daripada balik lagi, mending maenan sendiri, pikirku dalam hati.
Sepuluh menit setelah pemanasan, ternyata ada satu orang yang datang. Dia datang dengan
menenteng biola berwarna biru langit dan kurasa tak asing bagiku.
Lagu yang indah, dia berkata.
Makasih, jawabku. Setelah mendengar jawabanku, dia refleks tersenyum, lalu
berkata, Apa judulnya, Nay?

Aku baru teringat, dia Agha, pemuda yang bertemu denganku beberapa waktu lalu di
belokan gang.
Moonlight Sonata, pernah maenin ini?
Cuman beberapa kali. Kadang abis kadang engga. Hhahaha.
Uhm. Sebenernya bosen juga sih maeninnya. Kenal lagunya Shing Dong Woo
yang Geu Sok Eh Suh?
Iya, napa gitu?
Nggak apa-apa. Bisa coba maenin? Soalnya dari kemarin nyoba banyak not-not yang
fals. Hhe.
Boleh.
Lima menit berlalu untuk mendengar permainan dari Agha. Fantastic, dari hati
banget maennya, sampe merinding, pujiku.
Iya dong, kalo nggak, pesan dari lagunya engga bisa nyampe ke kita, jelasnya.
Emang kamu tau apa yang Shing Dong Woo coba sampein?
Uhm. Mungkin biar kita harus tetep ceria dan semangat apa pun yang terjadi dan
tetep senyum everywhere everytime, mungkin. Hhahaha
Kata-katanya seperti sedang memberiku semangat agar aku harus bangkit dari
keterpurukan yang kubuat sendiri.
Hhaha lagu itu selalu membuat kita tenang ya. Bikin kita kuat. Selalu menjadi
teman yang nggak akan pernah pergi dan selalu ada jika kita minta, jawabku ringan.
Lagi ada masalah ya? Cerita aja! jawabnya cepat.
Engga apa-apa sih, cuman dicuekin temen lama aja. Tiga tahun lalu aku pergi ke
Bangka Belitung soalnya ayah dimutasi ke sana, tapi pas aku balik ke sini dia kaya engga
kenal aku. Kaya marah, ngehindar gitu. Di sekolah juga aku sendirian. Hhaha. Jadi curhat
colongan nih.
Hhahaha. Nggak apa-apa, certain aja. Mungkin dia butuh waktu.

Makanya emang nggak penting.


Tapi kok nangis, jawabnya tak lama setelah aku meneteskan air mataku. Dengan
cepat kuusap air mata yang menetes tanpa izin ini.
Ah. Kelilipan, jawabku.
Nangis aja kalo bisa buat kamu lega.
Engga kok. Eh napa sih kamu kalo ngomong nggak pernah mau mandang muka aku?
Emang muka aku jerawatan yah?
Dia tersenyum lembut lalu berkata, Bukannya nggak mau, tapi nggak bisa.
Ya ampun, bodo banget sih gue, dia buta cing, ucapku dalam hati.
Maaf yah, kataku sambil bertampang seperti memohon untuk dimaafkan, Dari
kapan?
Waktu umurku lima tahun, aku dapet kecelakaan pesawat waktu mau pergi ke
Aussie, pesawatnya jatoh, beruntung aku masih hidup sementara penumpang lain semuanya
meninggal, aku cuman sekarat empat bulan lalu kehilangan kedua mataku, untung orang
tuaku nggak ikut waktu itu. Hhaha jawabnya.
Sekarat empat bulan kamu bilang cuman? Ya ampun. Kok kamu bisa sekuat itu?
Siapa bilang aku nggak takut. Aku berada di saat dimana Tuhan bisa nyabut nyawaku
kapan aja. Waktu itu aku nggak bisa ngrasain apa pun. Aku ngrasa nggak punya raga lagi,
semuanya lumpuh, tapi aku masih bisa ngarasain jiwaku yang bergetar ingin tetap hidup.
Ayah juga cerita waktu itu dokter udah angkat tangan. Tapi, itu bukan alasan aku buat diem
aja. Aku pengen hidup. Cuma itu yang aku pikirin waktu itu. Hasilnya yah kaya sekarang.
Aku hanya bisa menunduk. Mendengar ceritanya membuatku malu. Dia menagalami
cobaan begitu berat, tetapi masih bisa tegar sampai sekarang, sedangkan aku hanya masalah
kecil begini, aku seperti kehilangan masa depan saja. Rasanya tidak pantas aku menangis
karena masalahku yang begini ini. Bagiku sekarang, Agha adalah inspirasiku. Yang
membuatku kuat, tetap tersenyum dan semangat. Pada hari itu juga kuputuskan untuk
berhenti menyesal atas kepergianku yang membuatku jauh dari Dara. Aku bertekad untuk
mencari tahu sebab dia menjauhiku.

Esok datang sesuai perkiraanku. Di sekolah pun tak ada yang berubah. Kujalani harihariku seperti biasa. Bel pulang berbunyi terasa begitu cepat. Sesuai rencana, hari itu aku
pergi ke tempatku biasa menari bersama Dara, Sanggar Bambu Agung. Aku menari berdua
dengannya di sana. Tari Jaipong sudah kukuasai betul. Begitu pun Dara. Kutanya pada
pengelola sanggar apakah semenjak aku keluar sanggar Dara masih sering ke tempat itu.
Beliau mengatakan tidak.
Setelah itu, aku pergi ke tempat bermain Tenis dengannya. Setelah kutanya pada
pengelola tempat itu. Jawabannya sama. Semenjak aku keluar dari perkumpulan itu, Dara tak
pernah sekali pun muncul untuk bermain.
Tempat ketiga yang kukunjungi adalah rumahnya. Seperti dulu, di sana hanya ada
pembantunya saja, sementara orang tuanya sedang bekerja ke luar kota. Sialnya,
pembantunya ternyata bukan Bi Arsi lagi. Bi Arsi telah berhenti tiga bulan lalu. Kutanya
mengenai tempat tinggal Bi Arsi kepada pembantu yang baru, dia pun tidak mengetahuinya.
Memang sial, investigasi ku hari itu tak membuahkan apapun. Aku kembali merenung
semalaman hingga lupa makan.
Keesokan paginya, hari itu sekolahku libur karena di sekolah ada acara rapat orang
tua murid kelas X yang baru masuk. Aku memutuskan untuk jogging di taman kota pagi itu.
Sesampainya di alun-alun, aku bertemu Agha. Tanpa pikir panjang, aku langsung
menyapanya.
Hei, Gha. Senam di sini juga?
Iya nih. Lumayan waktu libur, daripada nganggur di rumah. Sendiri?
Iya
Tak berapa lama setelah kami bebincang-bincang, Dara muncul dan mengisi tempat di
barisan depan senam yang sejak tadi memang sengaja dikosongkan. Refleks, kutarik lengan
baju milik Agha.
Gha, itu Dara. Depan kamu arah jam dua, bisikku pelan.
Kamu mau apa? jawabnya.
Apa?

Aku nanya kamu mau apa? Mau diem aja di sini mandengin dia dari jauh atau
samperin dia sekarang dan tanya hal yang mau kamu tau.
Aku.
Di dunia ini, engga akan terjadi sesuatu jika kita nggak mewujudkannya.
Makasih ya Gha.
Agha tersenyum ketika aku pergi meninggalkannya. Kudekati Dara perlahan. Ketika
aku sampai di dekatnya, dia dengan cepat berpaling dari hadapanku dan berjalan ke belakang
barisan. Kuikuti dia sampai kebelakang, sampai akhirnya dia berhenti dan menatapku tajam
dan sinis.
Mau kamu apa sih? tanyanya dengan nada tinggi.
Aku cuman pengen ngobrol sebentar sama kamu, ada hal yang mesti kita omongin,
Dara.
Denger ya Naysilla! Aku engga tau apa yang kamu mau dari aku, dan aku nggak mau
tau. Tapi satu hal, jangan giniin aku terus.
Apa? aku mulai bingung apa yang dia maksudkan. Aku terus membiarkannya
berbicara.
Aku nggak ngerti kenapa setiap kamu mandengin aku, kaya orang pengen makan
orang. Kamu sirik sama aku, hah? Jawab!
Maksud kamu apa sih Ra? Aku beneran nggak ngerti arah omongan kamu dari tadi.
Atau kamu yang nggak ngerti arah pembicaraan kita? tanyaku bingung, Kamu jangan
belagak nggak kenal aku deh. Jangan bikin aku naik darah.
Yeah, emang aku nggak kenal kamu kali.
Hah? aku terkejut , mendengar jawabannya yang ngelantur, Kamu kenapa sih Ra?
Marah?
Ya iyalah marah. Dari tadi kamu belagak sok akrab gitu. Siapa yang nggak sebel.
Udah ah, capek. Dia pergi dengan langkah seribu keluar dari alun-alun. Aku hanya diam

terpaku. Tak mengerti apa yang terjadi dan apa yang barusan kudengar. Seketika Agha
menepuk bahuku dari belakang, menyadarkanku dari lamunanku.
Tadi aku denger sedikit obrolan kalian. Maaf yah nguping, akunya.
Nggak apa-apa kali. Tapi I swear aku engga ngerti sama sekali.
Kamu cuman pura-pura nggak ngerti, balasnya sambil tersenyum.
Aku menoleh kearahnya dalam sekejap, Kemana aku harus pastiin?
Ketempat yang tepat, balasnya lagi sambil tersenyum.
Kumulai memahami kata-katanya dan mulai mengerti arti senyumnya. Gha, kataku
sambil tersenyum dan pergi berlari meninggalkannya. Kulihat dia hanya tersenyum sambil
melambaikan tangannya sebatas kepalanya.
Satu jam kemudian, sampailah aku di kediaman Dokter Catur, dokter pribadi kelurga
Dara.
Permisi, Dok. Masih ingat saya? tanyaku.
Maaf, ade siapa ya?
Saya temannya Dara. Dulu dokter pernah priksa waktu saya dan Dara waktu jatuh ke
kolam ikan. Ingat?
Oh ya, saya ingat. Ada apa ade datang kemari, apa ade jatoh ke kolam lagi?
Ah nggak dok. Saya cuman pengen nanya tentang kondisinya Dara saat ini.
Kebetulan saya baru saja datang dari Bangka, Dok.
Oh itu, Dokter Catur tiba-tiba tersenyum simpul, Dia cuman amnesia.
Benar dugaanku, kataku dalam hati.
Beberapa hari setelah kepergian ade, ia tidak mau makan, merenung di kamarnya
sendiri. Waktu itu dia mengalami shock berat karena pada hari itu juga kakaknya yang paling
tua meninggal dunia akibat gagal ginjal. Lalu ia keluar bermain sepeda dan tertabrak becak
dan mobil secara beruntun.
Apa dia masih bisa sembuh Dok?

Sebetulnya, amnesia yang dideritanya tidak bersifat permanen. Artinya dia masih
bisa sembuh. Dia bisa sembuh kapan saja dia mau asalkan dia punya niat. Sebenarnya harus
ada yang membantu, karena hal-hal yang harus diingatnya adalah hal-hal yang berat yang
menyangkut tentang kehilangan hal-hal berharganya.
Terima kasih Dok.
Sama-sama Ade. Hati-hati di jalan.
Hari itu juga aku langsung meluncur ke rumah Dara. Dengan bermodal sepeda dan
foto masa kecil aku dengannya, aku memulai dari awal lagi menjalin hubungan
persahabatanku dengannya, mencoba membuatnya mengingat kembali kenangan masa
lalunya yang tak perlu ia lupakan. Awalnya dia menolak dengan tegas. Sulit memang.
Namun, setelah beberapa minggu berlalu, akhirnya ia mau menerimanya.
Sahabatku yang sedang kuperjuangkan, Dara, dan sahabat yang selalu memberiku
semangat untuk terus berjuang mendapatkan apa yang kuinginkan walaupun harus jatuh
bangun, Agha. Mereka adalah sahabat-sahabat terbaikku dan akan tetap seperti itu.

***