Anda di halaman 1dari 7

PENENTUAN DIAGNOSIS PADA KASUS RUJUKAN OBSTETRI

DI RSUP Dr.KARIADI SEMARANG

PENDAHULUAN
Sistem rujukan dalam bidang obstetri pada dasarnya mempunyai maksud dan tujuan
untuk memberikan pelayanan yang sesuai yang diperlukan oleh ibu hamil khususnya kasus-kasus
yang perlu dirujuk untuk mendapat perawatan spesialistik, sehingga diharapkan dapat mencapai
tingkat kesehatan ibu hamil dan bersalin yang optimal. Dengan adanya sistem rujukan yang baik,
diharapkan kasus-kasus dengan resiko tinggi dapat ditangani lebih cepat, tepat dan
berkesinambungan.
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Perinatal (AKP) merupakan tolok ukur
untuk menilai keberhasilan pelayanan obstetri terhadap ibu hamil di suatu negara. AKI dan AKP
yang tinggi berarti pelayanan kebidanan maupun perinatal belum memadai. Rendahnya AKI dan
AKP berarti sistem pelayanan tersebut sudah mulai baik. Pemerintah Indonesia telah bertekad
untuk mempercepat penurunan AKI menjadi 125 pada tahun 2010 (Menuju Indonesia Sehat
2010).
Tingginya angka kematian ibu bukan saja dipengaruhi oleh faktor kesehatan, tetapi juga
oleh faktor-faktor di luar kesehatan, antara lain :
1; Faktor penderita : kemiskinan / sosial ekonomi yang rendah, sosiobudaya, ketidaktahuan
ibu hamil maupun keluarga.
2; Faktor keterlambatan :
a; Terlambat mengenali adanya bahaya / masalah karena pengetahuan / kemampuan
yang kurang dalam menegakkan suatu diagnosis
b; Terlambat dalam merujuk pasien ke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten,
yang merupakan akibat dari keterlambatan dalam mengenali masalah
c; Terlambat dalam mengambil tindakan yang bisa disebabkan karena rujukan
dengan diagnosis yang keliru / tidak lengkap.
Diagnosis dalam kasus obstetri sangat penting karena akan mempengaruhi tindakan yang
akan dilakukan serta kecepatan dan ketepatan tindakan yang harus dilakukan, termasuk merujuk
1

pasien bila diperlukan. Dalam kenyataannya, sering dijumpai pasien dirujuk tidak disertai data
yang lengkap dan diagnosis yang tepat, sehingga mengakibatkan keterlambatan penanganan oleh
rumah sakit penerima rujukan.
BAHAN DAN CARA KERJA
Penelitian ini merupakan suatu penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan di RSUP
Dr.Kariadi Semarang dalam periode 1 Juli 31 Desember 2007. Sampel diambil dari seluruh
penderita kasus-kasus rujukan obstetri di RSUP Dr.Kariadi Semarang yang memenuhi syarat
penerimaan sampel. Data untuk penelitian ini didapat dari Catatan medik pasien dari instalasi
Rekam Medik RSUP Dr.Kariadi Semarang dalam periode 1 Juli 31 Desember 2007.
Syarat penerimaan sampel :
a; Penderita adalah ibu hamil, bersalin, post partum, kasus rujukan obstetri yang dirawat
inap di RSUP Dr. Kariadi Semarang.
b; Penderita disertai dengan surat rujukan
c; Perujuk adalah tenaga kesehatan yang menandatangani surat rujukan
d; Indikasi rujukan adalah karena alasan medis atau alasan lainnya selain karena penderita
ingin melahirkan di RSUP Dr.Kariadi Semarang
Batasan operasional penelitian :
1; Rujukan obstetri adalah pelimpahan wewenang dan tanggung jawab pengelolaan pasien
wanita yang sedang hamil, bersalin yang dilakukan secara vertikal
2; Surat rujukan adalah surat pengantar yang digunakan sebagai persyaratan dalam kegiatan
rujukan.
3; Perujuk adalah tenaga kesehatan yang menandatangani surat rujukan.
4; Diagnosis adalah ketrampilan membedakan satu penyakit dengan yang lainnya serta
menentukan sifat penyakit berdasarkan tanda, gejala dan pemeriksaan penunjang.
Dalam penelitian ini asal perujuk dibagi menjadi :
a; Bidan ( praktek swasta / puskesmas )
b; Dokter umum ( praktek swasta / puskesmas / rumah sakit )
c; Dokter spesialis kebidanan dan kandungan ( praktek swasta / rumah sakit )
2

HASIL PENELITIAN
Selama periode 1 Juli sampai 31 Desember 2007 terdapat 296 kasus rujukan obstetri.
Tabel 1. Sebaran diagnosis rujukan oleh bidan, dokter umum dan SpOG di RSUP

Dr.Kariadi

Semarang
Yang merujuk
Bidan
%

Yang merujuk
Dokter umum
%

Yang merujuk
Dokter SpOG
%

Tabel 2.

Tanpa
Keterangan Diagnosis Diagnosis
keterangan tidak lengkap tidak sesuai Sesuai
(tanpa Dx) (tanpa Dx)
32
37
46
60
18,29%
21,14%
26,28%
34,29%

Total

Tanpa
Keterangan Diagnosis Diagnosis
keterangan tidak lengkap tidak sesuai Sesuai
(tanpa Dx) (tanpa Dx)
0
18
29
32
0%
22,78%
36,71%
40,51%

Total

Tanpa
Keterangan Diagnosis Diagnosis
keterangan tidak lengkap tidak sesuai Sesuai
(tanpa Dx) (tanpa Dx)
0
9
5
28
0%
21,43%
27,03%
66,67%

Total

175

79

42

Sebaran kasus rujukan berdasarkan diagnosis yang sesuai dengan RSUP

Dr.Kariadi Semarang
No
1.
2.

Diagnosa rujukan
Preterm
Postterm

Bidan
12
3

Asal Rujukan
Dokter Umum
3

Jumlah

12
10

10
8,33

SpOG
4

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.

Ketuban Pecah Dini


Partus macet
Partus tak maju
Kelainan letak
Gemelli
Gawat janin
PE Ringan
PE Berat
Eklampsia
Bekas SC
Polihidramnion
Panggul sempit
Perdarahan antepartum
IUFD
Inersia uteri sekunder
Jumlah
%

10
5
2
4
2
3
2
6
3
3
2
1
2
60
50

4
1

10
5
4

8
4
2
1
3
2

4
1
32
26,67

28
23,33

10
5
2
12
3
3
2
24
9
9
1
6
8
2
2
120
100

8,33
4,17
1,67
10
2,5
2,5
1,67
20
7,5
7,5
0,83
5
6,67
1,67
1,67
100

PEMBAHASAN
Sebagai rumah sakit pusat rujukan di Jawa Tengah, RSUP Dr.Kariadi Semarang telah
menerima rujukan dari fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan yang belum mampu mengelola
penderita, baik dari segi sumber daya manusia, sarana maupun peralatan.
Pada umumnya, sebagian besar ibu hamil melakukan perawatan antenatal di bidan dan
pada saat persalinan banyak juga yang didampingi oleh bidan. Karena bidan tidak boleh
4

melayani ibu hamil maupun ibu bersalin dengan resiko, maka wajar jika bidan merupakan
perujuk dari sebagian besar penderita dan akan segera merujuk penderita tersebut jika
menemukan kasus kehamilan dengan komplikasi dan persalinan resiko tinggi.
Dokter umum jarang menangani kasus obstetri dibandingkan dengan bidan sehingga
persentase dokter umum sebagai perujuk adalah lebih kecil dibandingkan bidan. Dokter umum
jarang mendampingi penderita yang bersalin dan pada umumnya kurang memiliki ketrampilan
dalam menolong persalinan,sehingga mereka cenderung akan segera merujuk penderita jika
menemukan kasus kehamilan dan persalinan resiko tinggi. Sedangkan dokter umum yang
bertugas di rumah sakit, maka dokter tersebut akan menangani seluruh penderita yang berada di
rumah sakit tersebut, termasuk kasus-kasus obstetri. Bila dokter tersebut tidak mampu mengelola
penderita secara optimal, maka penderita akan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih mampu.
Meskipun dokter spesialis kebidanan dan kandungan berhak dan telah menangani kasuskasus kehamilan resiko tinggi, tetapi karena jumlah ibu hamil yang dilayani relatif sedikit
dibandingkan dengan ibu hamil yang dilayani oleh bidan, maka dapat dimengerti bahwa jumlah
penderita yang dirujuk juga sedikit, disamping itu sebagian besar kasus telah mendapatkan
pertolongan di RS oleh dokter spesialis yang bersangkutan.
Diagnosis pasien yang akan dirujuk sebagian besar sudah sesuai dengan diagnosis dari
RSUP Dr.Kariadi yaitu sebesar 120 (40,54%). Pada kasus rujukan, diagnosis pasien yang dikirim
sangat penting artinya karena hal ini juga akan berpengaruh terhadap kecepatan penanganan dari
rumah sakit penerima rujukan. Dengan diagnosis yang tepat maka diharapkan tindakan yang
dilakukan terhadap pasien juga lebih cepat dan tepat sesuai dengan penyakit yang diderita. Akan
sangat merugikan jika pasien dirujuk dengan diagnosis yang keliru, apalagi tidak disertai
keterangan apapun yang dapat berakibat peningkatan mortalitas dan morbiditas pasien. Dalam
hal ini keterampilan dan pengetahuan dari petugas medis dalam hal membuat diagnosis sangatlah
diperlukan, karena dari data yang ada masih terdapat rujukan yang tidak disertai diagnosis
ataupun dirujuk dengan diagnosis yang keliru.
Komuikasi utama dalam kasus rujukan pada saat ini adalah surat rujukan yang lebih
bersifat satu arah. Perlu dipertimbangkan sistem komunikasi lain untuk mempercepat persiapan
dalam pengelolaan kasus kasus rujukan ke RSUP Dr.Kariadi Semarang.
SIMPULAN
5

Rujukan kasus obstetri ke RSUP Dr.Kariadi sebagian besar telah dilengkapi data yang cermat
dan diagnosis yang tepat, walaupun masih banyak juga rujukan yang kurang lengkap, dimana
dikhawatirkan akan mempengaruhi kecepatan dan ketepatan rumah sakit penerima rujukan
dalam menangani pasien.
Peningkatan pengetahuan petugas medis baik bidan, dokter umum maupun dokter spesialis
sangat diperlukan untuk dapat mendeteksi suatu kelainan/penyakit berdasarkan tanda/gejala serta
pemeriksaan terhadap pasien, sehingga akhirnya dapat dibuat suatu diagnosis yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA :
1;

Wiknjosastro H. Kematian maternal. Dalam : Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimdhi


T. Eds. Ilmu kebidanan. Edisi ketiga. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, 1997 :7.

2;

Affandi B. Peranan dokter spesialis obstetri ginekologi dalam jaringan pelayanan


kesehatan ibu. Dalam : Sutoto, Kristanto H, Noor Pramono, Iskandar TM,editors. Naskah
lengkap PIT XI POGI. Semarang : Badan Penerbit UNDIP; 1999.27-34.
6

3;

Haya. Profil Rujukan Kasus Obstetri di RS Sanglah tahun 2000-2001. Dalam : Kumpulan
makalah ilmiah KOGI XII. Yogyakarta, 2003.

4;

Widiyanto. Kendala-kendala pada kasus rujukan obstetri di RSUP Dr.Kariadi Semarang.


Dalam : Kumpulan naskah lengkap KOGI XII. Yogyakarta, 2003.