Anda di halaman 1dari 3

Sudah Saatnya Semua Elemen Pemerintah Gotong Royong dalam

Meningkatkan Kepatuhan Pajak, Tidak Hanya DJP!


Gotong

royong

pembantingan
pemerasan

adalah

tulang

bersama,

keringat

bersama,

perjuangan bantu-membantu bersama.


Amal semua buat kepentingan semua,
keringat

semua

buat

kebahagiaan

semua. Demikian sepenggal ungkapan


pidato

Presiden

Soekarno

kepada

seluruh peserta sidang BPUPKI (1 Juni 1945) untuk menjadikan gotong royong
sebagai landasan semangat membangun bangsa. Nilai gotong royong tersebut
harusnya diaplikasikan dalam setiap usaha yang dilakukan oleh bangsa ini, tak
terkecuali usaha dalam peningkatan kepatuhan pajak. Meningkatkan Kepatuhan
Pajak idealnya idak hanya menjadi tanggung jawab DJP saja, melainkan semua
elemen pemerintah harus bergotong-royong mewujudkannya. Untuk meningkatkan
kepatuhan pajak yang maksimal dapat dilakukan dengan mengkombinasikan
kebijakan coercive power (kekuasaan paksaan) dan legitimate power (kekuasaan
legitimasi), Kebijakan ini diharapkan akan berhasil apabila instansi pemerintah lain
bersinergi bersama mewujudkannya.
Kebijakan Coercive Power dilakukan dengan meningkatkan iklim antagonis
kepada wajib pajak

yaitu kekuasaan berdasarkan paksaan melalui kontrol yang

ketat dan denda (Gangl et al., 2012), Program DJP terkait kebijakan ini adalah
meningkatkan frekuensi pemeriksaan pajak sekaligus meningkat sanksi pajak atas
ketidakpatuhan pembayar pajak, melakukan penyanderaan wajib pajak atas wajib
pajak yang tidak berkemauan membayar utang pajak dan melakukan penyidikan
atas wajib pajak yang melakukan tindak pidana dibidang perpajakan. Kegiatan ini
tidak bisa dikatakan sukses besar, hal ini dikarenakan kontribusi penerimaan pajak
dari kegiatan ini tidak sampai 5% tiap tahunnya dari total penerimaan pajak nasional.
Kebijakan coercive power yang dilakukan DJP diatas juga sering mendapatkan
perlawanan dari wajib pajak, herannya instansi pemerintah seperti Kepolisian atau
Kejaksaan yang seharusnya bersinergi dengan DJP kadangkala dijadikan senjata
wajib pajak untuk melawan DJP. Ini tentunya sangat ironis, untuk itu Presiden RI
harus bersikap tegas untuk mengerahkan pasukannya dalam hal ini DJP, Kepolisian,
Kejaksaan dan Intitusi Penegak Hukum lain untuk bahu membahu mensukseskan
kebijakan coercive power yang dicanangkan oleh DJP, dengan sinerginya lembaga-

lembaga

diatas

diharapkan

keberhasilan

kebijakan

coercive

power

untuk

meningkatkan kepatuhan pajak dapat tercapai.


Kebijakan Legitimate Power dilakukan dengan meningkatkan iklim pelayanan
kepada wajib pajak yang ditandai dengan suasana positif, saling menghormati dan
kerjasama antara otoritas dan pembayar pajak (Gangl et al., 2012), Program DJP
untuk mendukung kebijakan ini sangat beragam mulai dari program pelayanan prima
semisal memberikan pelayanan pada hari libur, pemberian pelayanan sampai malam
hari, pelayanan dropbox (jemput bola penyampaian SPT), pembuatan NPWP satu
hari jadi, call center (kring pajak) yang selalu aktif, sosialisasi pentingnya pajak dan
pemanfaatan hasil pajak, dll. Upaya-upaya ini cukup berhasil membangun
kepercayaan wajib pajak untuk senantiasa patuh membayar pajak, tetapi
kepercayaan tersebut masih bisa ditingkatkan karena masih banyak masyarakat
yang tidak percaya oleh pelayanan yang dilakukan oleh petugas pajak dan
pemanfaatan hasil pajak. Upaya untuk meningkatkan kepercayaan wajib pajak diatas
wajib dilakukan oleh DJP dan semua instansi pemerintah lain yang memberikan
pelayanan kepada masyarakat. Instansi yang memberikan pelayanan kepada
masyarakat harus memberikan pelayanan lebih baik dan mengkampanyekan bahwa
pelayanan yang diberikan berkat kontribusi pajak yang dibayarkan oleh masyarakat,
mulai dari pelayanan kesehatan di puskesmas, pelayanan pendidikan gratis,
pemberian kartu indonesia sehat, pemberian kartu indonesia pintar, pembuatan
infrastruktur seperti jalan, jembatan nasional, pembangkit listrik dll., dengan
kampanye masif tersebut diharapkan masyarakat semakin sadar akan pentingnya
membayar pajak, sehingga otomatis kepatuhan pajak dapat meningkat.
DJP sebaiknya mengkombinasikan kebijakan coercive power dan kebijakan
legitimate power secara tepat. Dengan mengkombinasikan Kebijakan legitimate
power yang ditinggikan dan kebijakan coercive power yang diturunkan frekuensinya
akan menghasilkan kepatuhan pajak yang maksimal (Eva Hofmann, et al., 2014).
Kombinasi kebijakan coercive power dan kebijakan legitimate power yang tidak tepat
dikhawatirkan menjadi bumerang bagi DJP dalam upaya meningkatkan kepatuhan
pajak. Untuk itu Pemerintah bersama dengan DJP harus merumuskan kebijakan
dengan hati-hati dan menjalankan dengan penuh tanggung jawab, sehingga
kepercayaan masyarakat semakin tinggi terhadap pajak.
Sekali lagi, DJP tidak bisa bekerja one man show (pertunjukan sendiri), DJP
perlu bersinergi dengan intitusi penegak hukum dan intansi pelayan masyarakat lain
untuk menjalankan dan mengoptimalkan kebijakan ini. Jikalau berhasil tentunya DJP
tidak bisa mengklaim keberhasilan itu atas usahanya sendiri, institusi pemerintah lain
perlu mendapatkan apresiasi juga, jika Pegawai DJP mendapatkan kenaikan gaji
dikarenakan keberhasilan dalam mencapai penerimaan pajak, dengan semangat

kegotongroyongan tadi pegawai institusi lain tentunya juga dinaikkan gajinya.


Institusi penegak hukum dan intansi pelayan masyarakat lain wajib sadar juga bahwa
kesuksesan DJP adalah kesuksesan mereka juga, sehingga mereka harus total
dalam mensupport DJP. Perlu semua kalangan sadari bahwa kesuksesan DJP
adalah kesuksesan rakyat indonesia seluruhnya, karena sejatinya hasil kerja dari
DJP akan dimanfaatkan oleh semua rakyat Indonesia, jadi tidak ada alasan lagi
untuk tidak mendukung kebijakan coercive power dan kebijakan legitimate power
yang dicanangkan DJP.