Anda di halaman 1dari 18

AKUNTANSI LSM

MAKALAH
disusun guna melengkapi tugas matakuliah Akuntansi Sektor Publik

Oleh :
Intan Permata Devi

110810301116

Iftakhul Jannah

120810301135

Yuninggar Galuh

130810301112

Adinda Intan D.

130810301133

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS JEMBER
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Pada dasarnya, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) adalah istilah
yang senantiasa digunakan oleh masyarakat luas untuk menyebut
organisasi yang bergerak di bidang sosial (tidak berorientasi profit) dan
secara institusi tidak terikat dan/atau tidak berada di bawah organ-organ
negara. Pengertian LSM ini sama dengan yang pada umumnya disebut
sebagai Non-Government Organization (NGO).
Tumbuh pesatnya LSM di Indonesia pasca reformasi 1998 tidak
diiringi dengan perharian yang memadai akan akuntabilitas LSM dari
kalangan aktivis LSM sendiri. Akuntabilitas terkait dengan tindakan atau
perilaku yang didasarkan pada standar etik, kinerja yang optimal,
mekanisme control (governance), konsistensi terhadap visi dan mandate
organisasi, penghargaan terhadap prinsip-prinsip demokrasi, HAM, dan
hak asasi perempuan.
Amerika serikat mengalami dan telah mendefinisikan krisis
akuntabilitas LSM dan organisasi social mereka yang meliputi penyalah
gunaan amanah dan hak istimewa, dan krisis governance. Upaya yang
dilakukan adalah perbaikan governance LSM, pengaturan mandiri oleh
LSM, dan pengaturan pemerintah yang afektif terutama untuk LSM yang
terbukti menyalah gunakan amanah public dan menggunakan LSM demi
kepentingan pribadi.
Jadi akuntabilitas LSM menjadi tuntutan public dengan salah satu
bentuk implementasi akuntabilitas adalah dengan menyusun laporan
keuangan LSM. Untuk menghasilkan laporan keuangan diperlukan
sistem akuntansi untuk LSM.

1.2

Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengembangan akuntansi pada LSM?
2. Bagaimana sistem akuntansi LSM?
3. Apa sajakah laporan yang dihasilkan LSM?

1.3

Tujuan
1. Untuk mengetahui perkembangan akuntansi pada LSM
2. Untuk mengetahui sistem akuntansi LSM
3. Untuk mengetahui laporan yang dihasilkan LSM

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PSAK NO. 45 Tentang standar akuntansi untuk Entitas Nirlaba


Dasar tuntutan akuntabilitas, yang dalam hal ini pertanggung
jawaban keuangan terhadap segala aktivitas pada semua organisasi LSM
adalah PSAK No. 45 mengenai pelaporan keuangan organisasi nirlaba.
Karakteristik organisasi nirlaba berbeda dengan organisasi bisnis. Dimana
perbedaan utama yang mendasar adalah cara organisasi itu memperoleh
sumber dana dari lembaga donor dan para penyumbang lainnya.
2.2 Perkembangan akuntansi untuk LSM
2.2.1 Ruang Lingkup
Kegiatan LSM lebih banyak berupa program bantuan dan layanan
sosia. Akibatnya kegiatannya berorientasi meningkatkan kesadaran
masyarakat tentang hak dan kewajiban sebagai manusia dan warga
Negara. Untuk itu LSM perlu menyusun tujuan atau sasaran, agenda
kegiatan maupun program bagi masyarakat. Dalam menyusun tujuan atau
sasaran diperlukan pengelolaan organisasi yang sangat erat kaitannya
dengan penganggaran. Siklus penganggaran diawali dengan tahap
Pencatatan, Penganggaran, Pelaksanaan, dan pelaporan. Setelah itu
mekanisme pertanggungjawaban menjadi bagian yang tidak dapat
dipisahkan. Ada dua pola pertanggungjawaban yaitu pertanggung jawaban
vertical dan horizontal.
2.2.2 Karakteristik
2.2.3 Tujuan Laporan Keuangan:
Tujuan utama laporan keuangan organisasi nirlaba pada dasarnya
memiliki kesamaan dengan tujuan laporan keuangan organisasi komersial,
yaitu menyajikan informasi yang relevan atas kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh organisasi tersebut. Namun, dikarenakan adanya perbedaan
tujuan organisasi, menyebabkan adanya perbedaan pada kalangan pemakai
laporan keuangan dan isi dari laporan keuangan tersebut. PSAK Nomor 45
memberikan pengertian tujuan laporan keuangan organisasi nirlaba adalah
untuk menyediakan informasi yang relevan untuk memenuhi kepentingan

para penyumbang, anggota organisasi, kreditur, dan pihak lain yang


menyediakan sumber daya bagi organisasi nirlaba.

2.3 Sistem Akuntansi LSM


2.3.1 Siklus akuntansi pada suatu entitas nirlaba dapat digambarkan
sebagai berikut

Bukti
Transaksi

Jurnal

Buku
Besar
Buku

Nerac

Laporan

Keuanga

Lajur

Tambaha
n

Tahap
Pencatatan
Tahap
1.Tahap
Tahap
pencatatan,terdiri dari
kegiatan pengidentifikasian
dan
Pengikhtisaran

Pelaporan
pengukuran dalam bentuk transaksi dan buku pencatatan,kegiatan

pencatatan bukti transaksi ke dalam buku jurnal dan


memindahbukukan (posting) dari jurnal berdasarkan kelompok atau
jenisnya ke dalam akun buku besar.
2. Tahap pengikhtisaran,terdiri dari penyusunan neraca saldo berdasarkan
akun-akun buku besar, pembuatan ayat jurnal penyesuaian,penyusunan
kertas kerja,pembuatan ayat jurnal penutup,membuat neraca saldo
setalah penutupan,membuat ayat jurnal pembalik.
3. Tahap pelaporan,terdiri dari laporan posisi keuangan,laporan arus
kas,dan catatn atas laporan keuangan.
Para pengguna laporan keuangan organisasi nirlaba, dalam hal ini LSM,
memiliki kepentingan bersama yang tidak berbeda dengan organisasi
bisnis, yakni untuk menilai:
1. Jasa yang diberikan oleh LSM dan kemampuannya untuk terus
memberikan jasa tersebut.
2. Cara pengelolah pelaksaan dan pertanggungjawabannya.
3. Aspek kinerja pengelolah.

2.3.2

Metode Pencatatan Akrual

Tujuan dari pelaporan keuangan LSM adalah menyediakan


informasiyang berguna untuk pengambilan keputusan, disamping untuk
menunjukanakuntabilitas suatu organisasi terhadap sumber daya terpecaya
dengan:
a. Menyediakan informasi mengenai sumber-sumber, alokasi, dan
penggunaan sumber daya keuangan.
b. Menyediakan informasi mengenai bagaimana organisasi LSM
menadai aktivitasnya dan memenuhi persyratan kasnya.
c. Menyediakan informasi yang berguna dalam mengevaluasi
kemampuan organisasi LSM untuk menandai aktivitasnya dana
untuk memenuhi kewajiban secara komitmennya.
d. Menyediakan informasi mengenai kondisi keuangan suatu
organisasi LSM dan perubahan di dalamnya.
e. Menyediakan informasi menyeluruh yang berguna dalam
mengevaluasi kinerja organisasi LSM dari segi biaya jasa, efisiensi
dan pencapaian tujuan.
Laporan keuangan LSM juga memainkan peranan preduktif dan
prospektif yang menyediakan informasi yang berguna dalam memprediksi
banyaknya sumber daya yang disyaratkan untuk operasi berkelanjutan,
sumber daya yang dapat dihasilkan oleh operasi berkelanjutan, dan resiko
berasosiasi serta ketidak pastian. Laporan keuangan dapat juga
menyediakan informasi kepada pemakainya ,seperti:
a. Menidentifikasikan apakah sumber daya telah didapatkan dan
digunakan sesuai dengan anggaran yang ditetapkan.
b. Mengidentifikasi apakah sumber daya telah didapatkan dana
digunakan sesuai dengan persyaratan, termasuk data keuangan
yang ditetapkan oleh pengambil kebijakan di masing-masing LSM.
Untuk mencapai tujuannya, laporan keuangan LSM harus disusunatas
dasarakrual. Dengan dasar ini pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui
padasaat terjadinya (dan bukan pada saat kas atau secara kas diterima
ataudibayar) serta dicatat dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam
laporankeuangan periode bersangkutan. Laporan keuangan LSM yang
disusun atas dasar akrual akan memberikan informasi kepada pemakai
tidak hanyatransaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan dan

pembayaran kas di masadepan serta sumber daya yang mempresentasikan


kas yang akan diterima dimasa depan.
Oleh karena itu, laporan keuangan LSM menyediakan
jenistransaksi masa lalu dan peristiwa lainnya yang paling berguna bagi
pemakaidalam pengambilan keputusan.
Laporan Keuangan LSM biasanya disusun atas dasar
kelangsunganusaha organisasi LSM dan dalam melanjutkan usahanya di
masa depan. Olehkarena itu, organisasi ini diasusikan tidak bermaksud
atau berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara material skala
pelayanannya.
2.4 Laporan yang dihasilkan
2.4.1 Laporan Posisi Keuangan
Tujuan laporan posisi keuangan adalah untuk menyediakan
informasi mengenai aktiva, kewajiban dan aktiva bersih, serta informasi
mengenaihubungan diantara unsur-unsur tersebut pada waktu tertentu.
Informasi dalam laporan posisi keuangan yang digunakan bersama
pengungkapan dan informasi dalam laporan keuangan lainnya, dapat
membantu para penyumbang, anggota organisasi, kreditor, dan pihakpihak lain yang menilai:
1. Kemampuan organisasi untuk memberikan jasa secara berkelanjutan,
2. Likuiditas, Fleksibilitas keuangan, kemampuan untuk memenuhi
kewajibannya, dan kebutuhan pendanaan eksternal
Penyajian Aset dan Kewajiban
1. Laporan posisi keuangan,termasuk CALK,menyediakan informasi
yang relevan mengenai sifat,likuiditas,fleksibilitas keuangan,dan
hubungan antara asset dan kewajiban.
2. Kas atau asset lainnya yang dibatasi penggunaannya oleh penyumbang
harus disajikan terpisah dari kas atau asset lain yang tidak terikat
penggunaanya.

2.4.2 Laporan aktivitas


Tujuan utama laporan aktivitas adalah menyediakan informasi mengenai:
1. Pengaruh transaksi dan peristiwa lain yang mengubah jumlah serta
sifat aktiva bersih.
2. Hubungan antara transaksi dan peristiwa lain.

3. Bagaimana sumber daya digunakan dalam pelaksanaan berbagai


program atau jasa.

Informasi dalam laporan aktivitas membantu pengguna laporan keuangan


untuk :
1. Mengevaluasi kinerja dalam suatu periode
2. Menilai upaya,kemampuan,dan kesinambungan organisasi LSM dalam
memperjuangkan kepentingan politiknya
3. Menilai pelaksanaan tanggung jawab dan kinerja pengurus.
Perubahan kelompok aktiva bersih
1. Laporan aktivitas menyajikan jumlah perubahan aktiva bersih terikat
permanen, terikat temporer dan tidak terikat selama satu periode.
2. Laporan aktivitas menyajikan pendapatan sebagai penambah aktiva
bersih tidak terikat, kecuali penggunaannya dibatasi oleh penyumbang
dan menyajikan beban sebagai pengurang aktiva bersih tidak terikat.
Klasifikasi pendapatan beban,keuntungan,dan kerugian sebagai berikut
1. Laporan aktivitas menyajikan pendapatan sebagai penambah aktiva
bersih tidak terikat, kecuali penggunaannya dibatasi oleh penyumbang
dan menyajikan beban sebagai pengurang aktiva bersih tidak terikat.
2. Sumbangan disajikan sebagai penambah aktiva bersih tidak terikat,
terikat permanen, atau terikat temporer, tergantung pada ada tidaknya
pembatasan.
3. Laporan aktivitas menyajikan keuntungan dan kerugian yang diakui
dari investasi dan aktiva lain (kewajiban) sebagai penambah atau
pengurang aktiva bersih tidak terikat, kecuali jika penggunaannya
dibatasi.
4. Klasifikasi pendapatanm, beban, keuntungan, dan kerugian dalam
kelompok aktiva bersih tidak mengatur peluang adanya klasifikasi
tambahan dalam laporan aktivitas.Laporan arus kasTujuan utama
laporan arus kas adalah menyajikan informasi mengenaipenerimaan
dan pengeluaran kas selama suatu priode.

2.4.3

Laporan Arus Kas


Tujuan utama laporan arus kas adalah menyajikan informasi

mengenai penerimaan dan pengeluaran kas selama suatu priode. Laporan


arus kas disajikan sesuai PSAK 2 tentang laporan arus kas dengan
komponen berikut ini:
1. Aktivitas investasi: perolehan dan pelepasan aset jangka panjang
serta investasi lain.
2. Aktivitas operasi: aktivitas penghasil utama pendapatan entitas dan
aktivitas lain.
3. Aktivitas pendanaan: aktivitas yang mengakibatkan perubahan
dalam jumlah serta komposisi kontribusi modal dan pinjaman
entitas.

Penyajian
Suatu transaksi tunggal dapat meliputi beberapa arus kas yang
diklasifikasikan ke dalam lebih dari satu aktivitas. Misalnya, jika
pelunasan pinjaman bank meliputi pokok pinjaman dan bunga, maka
unsur bunga dapat diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi dan unsur
pokok pinjaman diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan
Aktivitas Operasi
Arus kas aktivitas operasi terutama diperoleh dari aktivitas penghasil
utama pendapatan entitas. Oleh karena itu, arus kas tersebut pada
umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang mempengaruhi
penetapan laba rugi.
Aktivitas Investasi
Pengungkapan terpisah arus kas yang berasal dari aktivitas investasi
adalah penting karena arus kas tersebut mencerminkan pengeluaran yang
terjadi untuk sumber daya yang dimaksudkan menghasilkan pendapatan
dan arus kas masa depan. Hanya pengeluaran yang menghasilkan
pengakuan atas aset dalam laporan posisi keuangan yang memenuhi syarat
untuk diklasifikasikan sebagai aktivitas investasi.
Aktivitas Pendanaan

Pengungkapan terpisah arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan


adalah penting karena berguna untuk memprediksi klaim atas arus kas
masa depan oleh para penyedia modal entitas.

2.5 Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan LSM


Karakteristik kualitatif merupakan ciri khas yang membuat
informasi dalam laporan keuangan berguna bagi pemakai. Terdapat empat
karakter kualitatif pokok yaitu: dapat dipahami, relevan, keandalan, dan
dapat diperbandingkan.
1. Dapat Dipahami
Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan
keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh
pemakai. Untuk maksud ini, pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan
yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta
kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar.
Namun demikian, informasi kompleks yang seharusnya dimasukkan dalam
laporan keuangan tidak dapat dikeluarkan hanya atas dasar pertimbangan
bahwa informasi tersebut terlalu sulit untuk dapat dipahami oleh pemakai
tertentu.
2. Relevan
Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi
kebutuhan pemakai dalam proses pengambilan keputusan. Informasi
memiliki kualitas relevan kalau dapat mempengaruhi keputusan ekonomi
pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu,
masa kini atau masa depan, menegaskan, atau mengkoreksi, hasil evaluasi
mereka di masa lalu.
Peran informasi dalam peramalan (predictive) dan penegasan
(confirmatory) berkaitan satu sama lain. Misalnya, informasi struktur dan
besarnya aktiva yang dimiliki bermanfaat bagi pemakai ketika mereka
berusaha meramalkan kemampuan organisasi dalam memanfaatkan
peluang dan bereaksi terhadap situasi yang merugikan. Informasi yang
sama juga berperan dalam memberikan penegasan (confirmatory role)
terhadap prediksi yang lalu, misalnya, tentang bagaimana struktur

keuangan organisasi diharapkan tersusun atau tentang hasil dari operasi


yang direncanakan.
Informasi posisi keuangan dan kinerja di masa lalu seringkali
digunakan sebagai dasar untuk memprediksi posisi keuangan dan kinerja
masa depan dan hal-hal lain yang langsung menarik perhatian pemakai,
seperti pembayaran dividen dan upah, pergerakan harga sekuritas dan
kemampuan organisasi untuk memenuhi komitmennya ketika jatuh tempo.
Untuk memiliki nilai prediktif, informasi tidak perlu harus dalam bentuk
ramalan eksplisit.
Namun demikian, kemampuan laporan keuangan untuk membuat
prediksi dapat ditingkatkan dengan menampilkan informasi tentang
transaksi dan peristiwa masa lalu. Misalnya, nilai prediktif laporan laba
rugi dapat ditingkatkan kalau pos-pos penghasilan atau beban yang tidak
biasa, abnormal dan jarang terjadi diungkapkan secara terpisah.
Azas Materialitas.
Relevansi informasi dipengaruhi oleh hakekat dan materialitasnya. Dalam
beberapa kasus, hakekat informasi saja sudah cukup untuk menentukan
relevansinya. Misalnya, pelaporan suatu segmen baru dapat mempengaruhi
penilaian risiko dan peluang yang dihadapi organisasi tanpa
mempertimbangkan materialitas dari hasil yang dicapai segmen baru
tersebut dalam periode pelaporan. Dalam kasus lain, baik hakekat maupun
materialitas dipandang penting, misalnya jumlah serta kategori persediaan
yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Informasi dipandang material kalau kelalaian untuk mencantumkan
atau kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi
keputusan ekonomi pemakai yang diambil atas dasar laporan keuangan.
Materialitas tergantung pada besarnya pos atau kesalahan yang dinilai
sesuai dengan situasi khusus dari kelalaian dalam mencantumkan
(omission) atau kesalahan dalam mencatat (misstatement).
Karenanya, materialitas lebih merupakan suatu ambang batas atautitik
pemisah dari pada suatu karakteristik kualitatif pokok yang harus dimiliki
agar informasi dipandang berguna.
3. Keandalan
Agar bermanfaat, informasi juga harus andal (reliable). Informasi
memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan,
kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian

yang tulus atau jujur (faithful representation) dari yang seharusnya


disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan.
Informasi mungkin relevan tetapi jika hakekat atau penyajiannya tidak
dapat diandalkan maka penggunaan informasi tersebut secara potensial
dapat menyesatkan.
Misalnya, jika keabsahan dan jumlah tuntutan atas kerugian dalam
suatu tindakan hukum masih dipersengketakan, mungkin tidak tepat bagi
Organisasi untuk mengakui jumlah seluruh tuntutan tersebut dalam neraca,
meskipun mungkin tepat untuk mengungkapkan jumlah serta keadaan dari
tuntutan tersebut.
Azas Penyajian Jujur.
Agar dapat diandalkan, informasi harus menggambarkan dengan jujur
transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang
secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan. Jadi, misalnya, neraca
harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya
dalam bentuk aktiva, kewajiban dan ekuitas organisasi pada tanggal
pelaporan yang memenuhi kriteria pengakuan.
Informasi keuangan pada umumnya tidak luput dari risiko
penyajian yang dianggap kurang jujur dari apa yang seharusnya
digambarkan. Hal tersebut bukan disebabkan karena kesengajaan untuk
menyesatkan, tetapi lebih merupakan kesulitan yang melekat dalam
mengidentifikasikan transaksi serta peristiwa lainnya yang dilaporkan,
atau dalam menyusun atau menerapkan ukuran dan teknik penyajian yang
sesuai dengan makna transaksi dan peristiwa tersebut.
Dalam kasus tertentu, pengukuran dampak keuangan dari suatu pos
sangat tidak pasti sehingga organisasi pada umumnya tidak mengakuinya
dalam laporan keuangan. Misalnya, meskipun dalam kegiatan usahanya
organisasi dapat menghasilkan goodwill, tetapi lazimnya sulit untuk
mengidentifikasi atau mengukur goodwill secara andal.
Namun, dalam kasus lain, pengakuan suatu pos tertentu tetap dianggap
relevan dengan mengungkapkan risiko kesalahan sehubungan dengan
pengakuan dan pengukurannya.
Azas Substansi Mengungguli Bentuk.
Jika informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan jujur
transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan, maka peristiwa

tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas
ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya. Substansi transaksi atau
peristiwa lain tidak selalu konsisten dengan apa yang tampak dari bentuk
hukum. Misalnya, suatu organisasi mungkin menjual suatu aktiva kepada
pihak lain dengan cara sedemikian rupa sehingga dokumentasi
dimaksudkan untuk memindahkan kepemilikan menurut hukum ke pihak
tersebut; namun demikian, mungkin terdapat persetujuaan yang
memastikan bahwa organisasi dapat terus menikmati manfaat ekonomi
masa depan yang diwujudkan dalam bentuk aktiva. Dalam keadaan seperti
itu, pelaporan penjualan tidak menyajikan dengan jujur transaksi yang
dicatat (jika sesungguhnya memang ada transaksi).
Azas Netralitas.
Informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai, dan
tidak bergantung pada kebutuhan dan keinginan pihak tertentu. Tidak
boleh ada usaha untuk menyajikan informasi yang menguntungkan
beberapa pihak, sementara hal tersebut akan merugikan pihak lain yang
mempunyai kepentingan yang berlawanan.
Azas Pertimbangan Sehat.
Penyusun laporan keuangan adakalanya menghadapi ketidakpastian
peristiwa dan keadaan tertentu, seperti ketertagihan piutang yang
diragukan, prakiraan masa manfaat pabrik serta peralatan, dan tuntutan
atas jaminan garansi yang mungkin timbul. Ketidakpastian semacam itu
diakui dengan mengungkapkan hakekat serta tingkatnya dan dengan
menggunakan pertimbangan sehat (prudence) dalam penyusunan laporan
keuangan. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat
melakukan prakiraan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga aktiva atau
penghasilan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban atau beban tidak
dinyatakan terlalu rendah.
Namun demikian penggunaan pertimbangan sehat tidak
memperkenankan, misalnya, pembentukan cadangan tersembunyi atau
penyisihan (provision) berlebihan, dan sengaja menetapkan aktiva atau
penghasilan yang lebih rendah atau pencatatan kewajiban atau beban yang

lebih tinggi, sehingga laporan keuangan menjadi tak netral, dan karena itu,
tidak memiliki kualitas andal.
Azas Kelengkapan.
Agar dapat diandalkan, informasi dalam laporan keuangan harus
lengkap dalam batasan materialitas dan biaya. Kesengajaan untuk tidak
mengungkapkan (omission) mengakibatkan informasi menjadi tidak benar
atau menyesatkan dan karena itu tidak dapat diandalkan dan tidak
sempurna ditinjau dari segi relevansi.
4. Dapat Dibandingkan
Pemakai harus dapat memperbandingkan laporan keuangan
organisasi antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan (trend)
posisi dan kinerja keuangan. Pemakai juga harus dapat
memperbandingkan laporan keuangan antar organisasi untuk
mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan
secara relatif. Oleh karena itu, pengukuran dan penyajian dampak
keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang serupa harus dilakukan
secara konsisten untuk organisasi tersebut, antar periode organisasi yang
sama dan untuk organisasi yang berbeda.
Implikasi penting dari karakteristik kualitatif dapat
diperbandingkan adalah bahwa pemakai harus mendapat informasi tentang
kebijakan akuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan
dan perubahan kebijakan serta pengaruh perubahan tersebut. Para pemakai
harus dimungkinkan untuk dapat mengidentifikasi perbedaan kebijakan
akuntansi yang diberlakukan untuk transaksi serta peristiwa lain yang
sama dalam sebuah organisasi dari satu periode ke periode dan dalam
organisasi yang berbeda.
Ketaatan pada standar akuntansi keuangan, termasuk
pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan olehorganisasi,
membantu pencapaian daya banding. Kebutuhan terhadap daya banding
jangan dikacaukan dengan keseragaman semata-mata dan tidak seharusnya
menjadi hambatan dalam memperkenalkan standar akuntansi keuangan
yang lebih baik. organisasi tidak perlu meneruskankebijakan akuntansi
yang tidak lagi selaras dengan karakteristik kualitatif relevansidan
keandalan. Organisasi juga tidak perlu mempertahankan suatu
kebijakanakuntansi kalau ada alternatif lain yang lebih relevan dan lebih

andal. Berhubung pemakai ingin membandingkan posisi keuangan, kinerja


serta perubahan posisi keuangan antar periode, maka organisasi perlu
menyajikan informasi periode sebelumnya dalam laporan keuangan.

BAB 3
PENUTUP

KESIMPULAN
Dasar tuntutan akuntabilitas, yang dalam hal ini
pertanggungjawaban keuangan terhadap segala aktivitas pada semua
organisasi LSM adalah PSAK No.45 mengenai pelaporan keuangan
organisasi nirlaba. Tujuan dari pelaporan keuangan LSM adalah
menyediakan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan,
disamping untuk menunjukan akuntabilitas suatu organisasi terhadap
sumber daya terpecaya. Laporan keuangan organisasi nirlaba meliputi
laporan posisi keuangan pada akhir periode laporan, laporan aktivitas,
serta laporan arus kas untuk suatu periode pelaporan. Tujuan laporan
posisi keuangan adalah untuk menyediakan informasi mengenaiaktiva,
kewajiban dan aktiva bersih, serta informasi mengenai hubungan diantara
unsur-unsur tersebut pada waktu tertentu. Siklus akuntansi adalah suatu
proses penyedia laporan keuangan organisasi selama suatu periode
tertentu.

16

DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra., 2007, Akuntansi untuk LSM dan Partai Politik, Erlangga,
Halim, Abdul., 2012, Akuntansi Sektor Publik. Jakarta: Penerbit Slemba Empat.
http://keuanganlsm.com//
PSAK 45 Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba

17

18