Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masyarakat terdiri atas bermacam-macam manusia dengan segala
macam perbedaan. Bidan memahami dan mengenal masyarakat akan
memudahkan kita membantu mereka untuk hidup sehat.
Penggerakan dan pemberdayaan masyarakat merupakan suatu proses
pengorganisasian

masyarakat

yang meliputi identifikasi

masalah di

masyarakat, pencarian sumber daya manusia baik masyarakat intern maupun


ekstern.
Dapat juga diartikan sebagai proses kegiatan masyarakat yang bersifat
setempat yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
melalui pemberian pengalaman belajar dan secara bertahap dikembangkan
pendekatan yang bersifat partisipatif dalam bentuk pendelegasian wewenang
dan pemberian peran yang semakin besar kepada masyarakat.
Penggerakan dan pemberdayaan masyarakat juga merupakan proses
pemberian informasi secara terus menerus dan berkesinambungan mengikuti
perkembangan sasaran, serta proses membantu sasaran, agar sasaran tersebut
berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (knowledge) dari tahu
menjadi mau (attitude) dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku
yang diperkenalkan (practice).
Sasaran utama dari penggerakan an pemberdayaan adalah individu dan
keluarga, serta kelompok masyarakat. Dalam mengupayakan agar seseorang
tahu dan sadar kuncinya terletak pada keberhasilan membuat orang tersebut
memahami apa yang menjadi masalah baginya dan bagi masyarakat pada
umumnya. Namun apabila masyarakat tersebut belum mengetahui dan
menyadari bahwa sesuatu itu merupakan masalah maka masyarakat tersebut
tidak akan bersedia menerima informasi apapun lebih lanjut.

Apabila masyarakat telah menyadari masalah yang dihadapinya, maka


perlu diberikan informasi umum lebih lanjut tentang masalah yang
bersangkutan.
Perubahan dari tahu ke mau pada umumnya dicapai dengan menyajikan
fakta-fakta dan permasalahan yang terjadi. Tetapi selain itu juga dengan
mengajukan harapan bahwa masalah tersebut bisa dicegah dan atau dapat
diatasi.
B. Rumusan Masalah
Kurangnya pengetahuan kader tentang pendokumentasian kondisi
kesehatan masyarakat di wilayahnya.
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Khusus
a. Meningkatkan jumlah dan mutu upaya kader dibidang kesehatan.
b. Meningkatkan kemampuan tokoh masyarakat dalam merintis dan
menggerakan usaha kesehatan di masyarakatnya dan meningkatkan
kemampuan organisasi masyarakat dalam penyelenggaraan upaya
kesehatan serta,
c. Meningkatnya kemampuan kader masyarakat dan organisasi masyarakat
dalam menggali, menghimpun dan mengelola data masyarakat untuk
upaya kesehatan.
2. Tujuan Umum
Melakukan asuhan kebidanan komunitas pembinaan kader posyandu
di komunitas.
D. Manfaat Penulisan
1. Bagi Peneliti
Dapat menambah pengetahuan tentang masalah yang diteliti, berlatih
menjadi seorang peneliti dan dapat berlatih membuat laporan penelitian.
2. Institusi Palayanan Kesehatan
Dapat menjadi acuan dan dapat mejadi dasar kebijaksanaan untuk lebih
memberdayakan tenaga kesehatan dalam hal promosi kesehatan kepada
individu, kelompok maupun masyarakat.
3. Bagi Kader

Dapat

menambah

pengetahuan

pendokumentasian.

kader

tentang

pencatatan

dan

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian Kader
Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang dipilih
oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan
perseorangan maupum masyarakat serta untuk bekerja dalam hubungan yang
amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan kesehatan.
Kader merupakan tenaga masyarakat yang dianggap paling dekat dengan
masyarakat. Departemen kesehatan membuat kebijakan mengenai pelatihan
untuk

kader

yang

dimaksudkan

untuk

meningkatkan

pengetahuan,

menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi. Para kader
kesehatan masyarakat itu seyogyanya memiliki latar belakang pendidikan
yang cukup sehingga memungkinkan mereka untuk membaca, menulis dan
menghitung secara sederhana.
Kader kesehatan masyarakat bertanggung jawab terhadap masyarakat
setempat serta pimpinan-pimpinan yang ditunjuk oleh pusat-pusat pelayanan
kesehatan. Diharapkakn mereka dapat melaksanakan petunjuk yang diberikan
oleh para pembimbing dalam jalinan kerja dari sebuah tim kesehatan.
Para kader kesehatan masyarakat itu mungkin saja bekerja secara fulltime atau part-time dalam bidang pelayanan kesehatan dan mereka tidak
dibayar dengan uang atau bentuk lainnya oleh masyarakat setempat atau oleh
puskesmas.
B. Peran Kader
Peran kader sebagai pelaku penggerakan masyarakatat yaitu :
1. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
2. Pengamatan terhadap masalah kesehatan di desa
3. Upaya penyehatan lingkungan.
4. Peningkatan kesehatan ibu, bayi dan anak balita.
5. Pemasyarakatan keluarga sadar gizi (Kadarzi).
C. Tugas Kader

Kader ditunjuk oleh masyarakat dan biasanya kader melaksanakan tugastugas kader kesehatan masyarakat yang secara umum hampir sama tugasnya
dibeberapa Negara, yaitu
1. Pertolongan pertama pada kecelakaan dan penangan penyakit yang ringan.
2. Melakukan pengobatan sederhana.
3. Pemberian motivasi kepada ibu-ibu sebelum dan sesudah melahirkan.
4. Pemberian motivasi dan saran-saran tentang perawatan anak.
5. Memberikan motivasi dan peragaan tentang gizi (program UPGK).
6. Program penimbangan balita dan pemberian makanan tambahan.
7. Pemberian motivasi tentang imunisasi dan bantuan pengobatan.
8. Melakukan penyuntikan imunisasi (Kolumbia, Papua New Guinea dan
Sudan).
9. Pemberian motivasi KB.
10. Membagikan alat-alat KB.
11. Pemberian motivasi tentang sanitasi lingkungan, kesehatan
12. Perorangan dan kebiasaan sehat secara umum.
13. Pemberian motivasi tentang penyakit menular, pencegahan dan perujukan.
14. Pemberian motivasi tentang perlunya follow up pada penyakit
15. menular dan perlunya memastikan diagnosis.
16. Membantu kegiatan di klinik.
17. Merujuk penderita ke puskesmas atau ke rumah sakit.
18. Membina kegiatan UKS secara teratur.
19. Mengumpulkan data yang dibutuhkan oleh puskesmas membantu
pencatatan dan pelaporan.
D. Pembentukan Kader
Mekanisme pembentukan kader membutuhkan kerjasama tim. Hal ini
disebabkan karena kader yang akan dibentuk terlebih dahulu harus diberikan
pelatihan kader. Pelatihan kader ini diberikan kepada para calon kader di desa
yang telah ditetapkan. Sebelumnya telah dilaksanakan kegiatan persiapan
tingkat desa berupa pertemuan desa, pengamatan dan adanya keputusan
bersama untuk terlaksananya acara tersebut. Calon kader berdasarkan
kemampuan dan kemauan berjumlah 4-5 orang untuk tiap posyandu.
Persiapan dari pelatihan kader ini ialah :
1. Calon kader yang akan dilatih.
2. Waktu pelatihan sesuai kesepakatan bersama.
3. Tempat pelatihan yang bersih, terang, segar dan cukup luas.
4. Adanya perlengkapan yang memadai.
5. Pendanaan yang cukup.
6. Adanya tempat praktik (lahan praktik bagi kader).

Tim pelatihan kader melibatkan dari beberapa sektor. Camat otomatis


bertanggung jawab terhadap pelatihan ini, namun secara teknis oleh kepala
puskesmas. Pelaksaan harian pelatihan ini adalah staf puskesmas yang mampu
melaksanakan. Adapun pelatihnya adalah tenaga kesehatan, petugas KB
(PLKB), pertanian, agama, PKK dan sektor lain.
Waktu pelatihan ini membutuhkan 32 jam atau disesuaikan. Metode
yang digunakan adalah ceramah, diskusi, simulasi/demonstrasi, permainan
peran, penugasan dan praktik lapangan. Jenis materi-materi yang disampaikan
adalah :
1. Pengantar tentang posyandu.
2. Persiapan posyandu.
3. Kesehatan ibu dan anak.
4. Keluarga berencana
5. Imunisasi.
6. Gizi.
7. Penanggulangan diare.
8. Pencatatan dan pelaporan.
E. Syarat Untuk Menjadi Kader
Syarat untuk menjadi seorang kader harus mempunyai latar belakang
pendidikan yang cukup, yaitu :
1. Bisa membaca
2. Bisa menulis
3. Bisa menghitung secara sederhana
4. Mau menjadi seorang kader
F. Strategi Untuk Menarik Minat Menjadi Kader
Untuk menarik minat Toma dan Toga menjadi kader, yang perlu kita
lakukan, yaitu mengumpulkan Toma dan Toga dalam suatu pertemuan.
Tujuannya agar kita lebih mudah dalam memberikan pengarahan tentang
kader tersebut.
1. Menjelaskan bahwa menjadi kader itu merupakan suatu tindakan yang
sangat mulia, karena perannya sangat penting dimasyarakat.
2. Menjelaskan bahwa kader merupakan suatu tugas tanpa pamrih, dimana
seorang kader menjalankan tugasnya untuk kepentingan seluruh
masyarakat yang ada di lingkungannya.
G. Strategi Menjaga Eksistensi Kader

Setelah kader posyandu terbentuk, maka perlu adanya strategi agar


mereka dapat selalu eksis membantu masyarakat di bidang kesehatan.
Beberapa upaya yang dapat dilaksanakan adalah :
1. Refreshing kader posyandu pada saat

posyandu

telah

selesai

dilaksanakan oleh bidan maupun petugas lintas sector yang mengikuti


kegiatan posyandu
2. Adanya paguyuban kader posyandu tiap desa dan dilaksanankan
pertemuan rutin tiap bulan bulan secara bergilir di setiap posyandu.
3. Revitalisasi kader posyandu baik tingkat desa maupun kecamatan. Dimana
semua kader diundang dan diberikan penyegaran materi serta hiburan dan
bisa juga diberikan rewards.
4. Pemberian rewards rutin misalnya berupa kartu berobat gratis ke
puskesmas untuk kader dan keluarganya dan juga dalam bentuk materi
yang lain yang diberikan setiap tahun.
H. Hal yang Perlu Disampaikan Dalam Pembinaan Kader
Para kader kesehatan yang bekerja di pedesaan membutuhkan
pembinaan/pelatihan dalam rangka menghadapi tugas-tugas mereka, masalah
yang dihadapinya. Pembinaan/pelatihan tersebut dapat berlangsung selama 6-8
minggu atau bahkan lebih lama lagi, yaitu sebagai berikut :
1. Pemberitahuan ibu hamil untuk bersalin ditenaga kesehatan (promosi
bidan siaga)
Pembinaan kader yang dilakukan bidan didalamnya berisi tentang
perran kader adalah dalam daur kehidupan wanita dari mulai kehamilan
sampai dengan masa perawatan bayi. Adapun hal-hal yang perlu
disampaikan dalam persiapan persalinan adalah sebagai berikut :
a. Sejak awal, ibu hamil dan suami menentukan persalinan ini ditolong
oleh bidan atau dokter.
b. Suami atau keluarga perlu menabung untuk biaya persalinan
c. Ibu dan suami menanyakan ke bidan atau ke dokter kapan perkiraan
tanggal persalinan.
d. Jika ibu bersalin dirumah, suami atau keluarga perlu menyiapkan
terang, tempat tidur dengan alas kain yang bersih, air bersih dan sabun
untuk cuci tangan, handuk kain, pakaian kain yang bersih dan kering
dan pakaian ganti ibu.
2. Pengenalan tanda bahaya kehamilan, persalinan, nifas serta rujukan
7

a. Tanda-tanda bahaya kehamilan


Pada setiap kehamilan perlu di informasikan kepada ibu, suami dan
keluarga tentang timbulnya kemungkinan tanda-tanda bahaya dalam
kehamilan.

Adanya

tanda-tanda

bahaya

mengharuskan

ibu,

suami/keluarga untuk segera membawah ibu kepelayanan kesehatan/


memanggil bidan.
Tanda-tanda bahaya kehamilan meliputi :
1) Perdarahan jalan lahir
2) Kejang
3) Sakit kepala yang berlebihan
4) Muka dan tangan bengkak
5) Demam tinggi menggigil / tidak
6) Pucat
7) Sesak nafas
b. Tanda-tanda kegawatan dalam persalinan
Sebagai akibat dari permasalahan dalam persalinan, kegawatan dalam
persalinan dapat terjadi dengan tanda-tanda sebagai berikut :
1) Perdarahan
2) Kejang
3) Demam, menggigil, keluar lender dan berbau
4) Persalinan lama
5) Mal presentase
6) Plasenta tidak lahir dalam 30 menit
c. Kegawatan masa nifas
Pada masa segera setelah persalinan, kegawatan dapat terjadi
baik pada ibu ataupun bayi. Kegawatan yang dapat mengancam
keselamatan ibu baru bersalin adalah perdarahan karena sisa plasenta
dan kontraksi serta sepsis (demam). Pada bayi yang baru dilahirkan
dapat terjadi depresi bayi dan atau trauma.
Bila terjadi kegawatan pada ibu / bayi beri tahu ibu, suami dan
keluarga tentang tatalaksanaan yang dikerjakan dan dampak yang
dapat ditimbulkan dari tatalaksana tersebut. Serta persiapan tindakan
rujukan. Tindakan ini perlu untuk melibatkan ibu, suami dan keluarga
sehingga tercapai suatu kerjasama yang baik.
Apabila ibu dan bayi sudah berada dirumah, informasikan
kepada ibu, suami dan keluarga bahwa adanya tanda-tanda kegawatan
mengharuskan ibu untuk dibawah segera kesarana pelayanan kesehatan
atau menghubungi bidan.

Tanda-tanda kegawatan masa nifas pada ibu. Tanda-tanda


kegawatan masa nifas pada ibu yang perlu diperhatikan meliputi :
1) Perdarahan banyak atau menetap
2) Rasa lelah yang sangat, mata, bibir dan jari pucat
3) Bengkak pada salah satu atau kedua kaki
4) Rasa sakit pada perut berlebihan dan lokia berbau busuk atau
berubah warna.
5) Pucat, tangan dan kaki dingin (syok)
6) Tidur turun dratis
7) Kejang
8) Sakit kepala berlebihan / gangguan pandangan
9) Bengkak pada tangan dan muka
10) Peningkatan tekanan darah
11) Buang air kecil sedikit / berkurang dan sakit
12) Tidak mampu menahan BAK / ngompol
13) Demam tanpa atau dengan menggigil
14) Adanya kesedihan yang mendalam, kesulitan dalam tidur, makan
dan merawat bayi.
Adanya salah satu tanda kegawatan tersebut mengharuskan ibu
mendapatkan pelayanan dari bidan / mencari pertolongan kesarana
pelayanan kesehatan. Tanda-tanda kegawatan masa nifas pada bayi.
Pada bayi sebagian besar penyebab kematian adalah karena
infeksi, asveksia dan trauma pada bayi. Pengenalan tanda-tanda
kegawatan pada bayi perlu untuk dilakukan penatalaksanaan lebih dini
yang sesuai yang dapat menurunkan kematian tersebut. Kegawatan
bayi dapat terjadi hari-hari pertama masa nifas dan perlu pertolongan
segera ataupun dalam 7 hari pertama masa nifas yang juga
memerlukan pertolongan disarana pelayanan kesehatan.
Kegawatan bayi beberapa hari setelah persalinan harus segera
dibawah kesarana pelayanan kesehatan / hubungi bidan :
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Bayi sulit bernafas


Warna kulit dan mata kuning
Pernafasan lebih dari 60 x / menit
Kejang
Pendarahan
Demam
Bayi tidur sepanjang malam dan tidak mau menetek sepanjang
hari.
9

8) Tidak dapat menetek (mulut kaku)


Kegawatan bayi 7 hari pertama masa nifas yang membutuhkan
perawatan bidan/dibawah kesarana pelyanan kesehatan secepatnya :
1) Hypothermia
2) Pucat / kurang aktif
3) Diare / konstipasi
4) Kesulitan dalam menetek
5) Mata merah dan bengkak / nanah
6) Merah pada tali pusat / tercium bau
7) Tetanus neonatorum
d. Rujukan
Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu kepfasilitas
rujukan/fasilitas yang memiliki sarana lebih lengkap, diharapkan
mampu menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir. Meskipun
sebagian besar ibu akan mengalami persalinan normal namun 10
sampai 15% diantaranya akan mengalami masalah selama proses
persalinan dan kelahiran bayi sehingga perlu dirujuk kefasilitas
kesehatan rujukan.
Sangat sulit untuk menduga kapan penyakit akan terjadi
sehingga kesiapan untuk merujuk ibu dan atau bayinya kefasilitas
kesehatan rujukan secara optimal dan tepat waktu (jika penyulit
terjadi) menjadi saran bagi keberhasilan upaya penyelamatan, setiap
penolong persalinan harus mengetahui lokasi fasilitas rujukan yang
mampu untuk menatalaksana kasus gawat darurat obstetri dan bayi
baru lahir seperti :
1) Pembedahan termasuk bedah sesar
2) Transfusi darah
3) Persalinan menggunakan ekstraksi fakum / cunam
4) Pemberian anti biotik intravena
5) Resusitasi BBL dan asuhan lanjutan BBL
Informasi tentang pelayanan yang tersedia ditempat rujukan,
ketersediaan pelayanan purna waktu, biaya pelayanan dan waktu serta
jarak tempuh ketempat rujukan dadlah wajib untuk diketahui oleh
setiap penolong persalinan jika terjadi penyulit, rujukan akan melalui
alur yang singkat dan jelas. Jika ibu bersalin / BBL dirujuk ketempat

10

yang tidak sesuai maka mereka akan kehilangan waktu yang sangat
berharga untuk menangani penyakit untuk komplikasi yang dapat
mengancam keselamatan jiwa mereka pada saat ibu melakukan
kunjungan antenatal,jelaskan bahwa penolong akan selalu berupaya
dan meminta bekerja sama yang baik dari suami / keluaga ibu untuk
mendapatkan layanan terbaik dan bermanfaat bagi kesehatan ibu dan
bayinya,termasuk kemungkinan perlunya upaya rujukan pada waktu
penyulit,seringkali tidak cukup waktu untuk membuat rencana rujukan
dan ketidaksiapan ini dapat membahayakan keselamatan jiwa ibu dan
bayinya.
Anjurkan ibu untuk membahas dan membuat rencana rujukan
bersama suami dan keluarganya. Tawarkan agar penolong mempunyai
kesempatan untuk berbicara dengan suami dan keluarganya untuk
menjelaskan tentang perlunya rencana rujukan apabila diperlukan.
Masukan persiapan-persiapan dan informasi berikut kedalam
rencana rujukan.
1) Siapa yang akan menemani ibu dan BBL
2) Tempat-tempat rujukan mana yang lebih disukai ibu dan keluarga?
(jika ada lebih dari satu kemungkinan tempat rujukan, pilih tempat
rujukan yang paling sesuai berdasarkan jenis asuhan yang
diperlukan)
3) Sarana transportasi yang akan digunakan dan siapa yang akan
mengendarainya ingat bahwa transportasi harus segera tersedia,
baik siang maupun malam.
4) Orang yang ditunjuk menjadi donor darah jika transfuse darah
diperlukan.
5) Uang yang disisihkan untuk asuhan medik, transportasi, obatobatan dan bahan-bahan.
6) Siapa yang akan tinggal dan menemani anak-anak yang lain pada
saat ibu tidak dirumah.
7) Kaji ulang rencana rujukan dengan ibu dan keluarganya.
Kesempatan ini harus dilakukan selama ibu melakukan kunjungan
asuhan antenatal / diawal persalinan (jika mungkin). Jika ibu belum

11

membuat rencana rujukan selama kehamilannya, penting untuk


dapat mendiskusikan rencana tersebut dengan ibu dan keluarganya
diawal persalinan. Jika timbul masalah pada saat persalinan dan
rencana rujukan belum dibicarakan maka sering kali sulit untuk
melakukan semua persiapan-persiapan secara cepat. Rujukan tepat
waktu merupakan unggulan asuhan saying ibu dalam mendukung
keselamatan ibu dan BBL.
Singkatan BAKSOKU dapat digunakan untuk mengingat hal-hal
penting dalam mempersiapkan rujukan untuk ibu dan bayi.

B (Bidan)
Pastikan bahwa ibu dan bayi baru lahir didampingi oleh
penolong persalinan yang kompeten untuk penatalaksana gawat darurat
obstetri dan BBL untuk dibawah kefasilitas rujukan.
A (Alat)
Bawa perlengkapan dan bahan-bahan untuk asuhan persalinan,
masa nifas dan BBL (tabung suntik, selang IV, alat resusitasi, dll)
bersama ibu ketempat rujukan. Perlengkapan dan bahan-bahan tersebut
mungkin diperlukan jika ibu melahirkan dalam perjalanan menuju
fasilitas rujukan.
K (Keluarga)
Beri tahu ibu dan keluarga mengenai kondisi terakhir ibu dan
bayi dan mengapa ibu dan bayi perlu dirujuk. Jelaskan pada mereka
alas an dan tujuan merujuk ibu kefasilitas rujukan tersebut. Suami /
anggota keluarga yang lain harus menemani ibu dan BBL hingga
kefasilitas rujukan.
S (Surat)
Berikan surat ketempat rujukan. Surat ini harus memberikan
identifikasi mengenai ibu dan BBL, cantumkan alas an rujukan dan

12

uraikan hasil penyakit, asuhan / obat-obatan yang diterima ibu dan


BBL. Sertakan juga partograf yang dipakai untuk membuat keputusan
klinik
O (Obat)
Bawa obat-obatan esensial pada saat mengantar ibu kefasilitas
rujukan.

Obat-obatan

tersebut

mungkin

diperlukan

selama

diperjalanan.
K (Kendaraan)
Siapkan kendaraan yang paling memungkinkan untuk merujuk
ibu dalam kondisi cukup nyaman. Selain itu, pastikan kondisi
kendaraan cukup baik untuk mencapai tujuan pada waktu yang tepat.
U (Uang)
Ingatkan keluarga agar membawah uang dalam jumlah yang
cukup untuk membeli obat-obatan yang diperlukan dan bahan-bahan
kesehatan lain yang diperlukan selama ibu dan bayi baru lahir tinggal
difasilitas rujukan.
e. Penyuluhan gizi dan keluarga berencana
1) Penyuluhan Gizi Ibu Hamil
Berat badan ibu hamil harus memadai, bertambah sesuai
dengan usia kehamilan. Berat badan yang bertambah dengan
normal, menghasilkan anak yang normal. Kenaikan berat badan
ideal pada ibu hamil sebanyak 7 kg (untuk ibu yang gemuk) dan
12,5 kg (untuk ibu yang tidak gemuk). Di luar batas itu, dinilai
abnormal.
Dalam 3 bulan pertama, berat badan ibu hamil akan naik
sampai 2 kg. Kemudian, dinilai normal jika setiap minggu berat
badan naik 0,3 kg. Pada kehamilan tua, rata-rata kenaikan berat
badan ibu akan mencapai 12 kg. Jika kenaikan berat badan lebih
dari normal, akan berisiko mengalami komplikasi preeklamsia dan
janin terlalu besar sehingga menimbulkan kesulitan persalinan.

13

Demam tinggi pada masa nifas. Pada masa nifas, selama 42


hari setelah melahirkan, ibu yang mengalami demam tinggi lebih
dari 2 hari, dan disertai keluarnya cairan (dari liang rahim) yang
berbau, mungkin mengalami infeksi jalan lahir. Cairan Hang rahim
yang tetap berdarah, keadaan ini dapat mengancam keselamatan
ibu.
Zat makanan yang dibutuhkan ibu hamil, yaitu:
a) Energi, dihasilkan dari karbohidrat, protein, dan zat patinya.
Protein. Ibu hamil membutuhkan protein lebih banyak dari
biasanya.
b) Protein hewani lebih besar dibandingkan protein nabati. Contoh: ikan, daging, susu, dan telur harus lebih banyak
dikonsumsi jika dibandingkan dengan tahu, tempe, dan kacang.
Protein

dapaa

diperoleh

dari

susu,

telur,

dan

keju.

Tambahannya diperoleh dan gandum dan kacang-kacangan.


Manfaat dari protein:
(1) Protein untuk membangun tubuh janin dimulai dari sebesar
sehingga menjadi tubuh seberat 3,5 kg
(2) Protein digunakan untuk membuat ari-ari.
(3) Protein digunakan untuk menambah unsur dalam cairan
darahterutama haemoglobin dan plasma darah.
(4) Protein digunakan untuk pembuatan cairan ketuban.
c) Vitamin. Ada beberapa jenis vitamin yang penting untuk ibu
hamil.

Jika

ibu

hamil

sampai

kekurangan

vitamin,

pembentukan sel-sel tubuh anak akan berkurang. Anak dapat


kurang darah, cacar bawaam kelainan bentuk, bahkan ibu dapat
keguguran. Vitamin yang dibutuhkan oleh ibu hamil, yaitu B6,
C, A, D, E, dan K.
d) Mineral.
(1) Kalsium. Kalsium sangat penting karena dibutuhkan untuk
pembentukan tulang. Apabila kekurangan kalsium, bayi
yang dikandung akan menderita kelainan tulang dan gigi.
Sumber kalsium yang tinggi diperoleh dari semua makanan
yang berasal dari susu. seperti keju, es krim, dan kue.

14

Selain itu, juga banyak terdapat pada kacang-kacangan dan


sayuran berdaun hijau.
(2) Fosfor. Mineral ini dapat diperoleh dari makanan seharihari. Fosfor berhubungan erat dengan kalsium. Jika
jumlahnya tidak seimbang di dalam tubuh, dapat terjadi
gangguan. Gangguan yang paling sering adalah kram pada
tungkai.
(3) Zat besi. Sel darah merah Ibu hamil bertambah sampai
30rc. Berarti, tubuhnya memerlukan tambahan zat besi.
Setiap hari. ibu hamil membutuhkan tambahan 700-800 mg
zat besi. Sumber makanan yang mengandung zat besi tinggi
adalah hati. Oleh karena itu, ibu hamil perlu banyak
mengonsumsi hati, daging. telur, kacang-kacangan, dan
sayuran berwarna hijau. Kebutuhan zat besi ibu hamil
meningkat pada kehamilan trimester II dan III. Pada masa
tersebut, kebutuhan zat besi tidak dapat diandalkan dari
menu harian saja. Walaupun menu hariannya cukup
mengandung zar besi.
(4) Zink, mineral, ini dibutuhkan dalam jumlah yang sangat
kecil, biasanya cukup dari makanan sehari-hari.
(5) Fluor. Mineral floyr juga tidak banyak diperlukan.
(6) Yodium. Yosidum cukup diperoleh dari air minum dan
sumber bahan makanan laut.
2) Penyuluhan KB
Sebelum pemberian metode kontrasepsi, misalnya pil, suntik,
atau KDR terlebih dahulu menentukan apakah ada keadaan yang
membutuhkan

perhatian

khusus.

Salah

satu

usaha

untuk

menciptakan kesejahtreraan adalah dengan memberi nasihat


perwakinan, pengobatan kemandulan, dan memperkecil angka
kelahiran (Depkes RI 1999).
Program KB adalah bagian yang terpadu dalam program
pembangunan nasional dan bertujuan untuk turut serta menciptak~
kesejahteraan ekonomi, spiritual, dan sosial penduduk Indonesia.
Tujuan program KB adalah memperkecil angka kelahiran, menjaga
15

kesehatan ibuanak, serta membatasi kehamilan jika jumlah anak


sudah mencukupi. Peserta KB akan mendapat pelayanan dengan
cara sebagai berikut:
a) Pasangan usia subur yang istrinya mempunyai keadaan 4
terlalu yaitu terlalu muda, terlalu banyak anak, terlalu sering
hamil, dan terlalu tua akan mendapat prioritas pelayanan KB.\
b) Peserta KB diberikan pengertian mengenai metode kontrasepsi
dengan keuntungan dan kelemahan masing-masing sehingga ia
dapat : menentukan pilihannya.
c) Harus mendapat informasi mengenai metode kontrasepsi
dengan keuntungan dan kelemahannya sehingga ia dapat
menentukan pilihannya
d) Harus dilakukan pemeriksaan fisik sebelum pelayanan KB
diberikan kepada klien agar dapat ditentukan metode yang
paling cocok dengam hasil pemeriksaannya.
e) Harus mendapatkan informasi tentang kontraindikasi pemakai.
berbagai metode kontrasepsi.
f) Kegiatan IM merupakan salah satu komponen dari pelayanan
i;;-sehatan

reproduksi

esensial

(PKRE)

yang

dapat

dilaksanakan di tiap tingkat pelayanan sesuai dengan


kewenangannya.
f. Promosi tabulin, donor darah berjalan, ambulan desa, suami siaga,
satgas gerakan sayang ibu
1) Kesehatan
Promosi kesehatan adalah proses memberdayakan masyarakat
untuk memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatannya
melalui peningkatan kesadaran, kemauan, dan kemampuaserta
pengembangan lingkungan sehat. Sasaran promosi kesehatan adalah individu, keluarga, masyarakat, dan petugas pelaksana
program.
2) Tabulin (Tabungan Ibu Bersalin)
Tabulin merupakan institusi masyarakat dengan anggota para ibu
hamil atau PUS (Pasangan Usia Subur) yang belum hamil, dengan
bentuk kegiatan yang berupa pengumpulan dana di lingkungan
anggotanya, ma syarakat, atau subsidi dari pemerintah.
16

3) Donor darah berjalan


Donor darah berjalan merupakan pendonoran darah secara
bertahaa. beberapa kali, atau secara berangsur-angsur selama 3
bulan sekali agar mendonorkan darahnya ke PMI. Tujuan utama
diadakannya donor darah adalah untuk membantu PMI dalam
ketersediaan stok darah di PMI yang berkurang sejak terjangkitnya
penyakit demam berdarah.
4) Ambulans Desa
Ambulans desa merupakan sistem yang dikembangkan oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk mengangkut ibu bersalin
5)

yang perlu dirujuk ke rumah sakit atau puskesmas.


Suami Siaga
Program ini suami diharapkan siap secara mental. Ketika ibu
menghadapi persalinan, siapkan mentalnya untuk memberikan
dukungan atau semangat kepada istri. Secara fisik, suami
mempersiapkan dirinya untuk menjaga dan melindungi istrinya.
Secara materil, suami mempersiapkan dana untuk persalinan
istrinya.

17

BAB III
PENGKAJIAN ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS/KELOMPOK

I. PENGKAJIAN KOMUNITAS
A. Core (inti) komunitas:
Usia
0-<1
1-<5
5-6
7-16
16-21
22-59
>60
Jumla
h

Jumla
h
3
11
7
40
19
172
18
270

Jenis
Suk
Kelamin
u
Laki Perem
Jawa
-laki puan
3
11
7
18
22
40
19
172
18
270

Pendidikan
S
D
7

SM
P
-

SM
A
-

UNI
V
-

Td
k
1

B. Dimensi biologis
1. Angka kesakitan dan kematian (Overall, age specific, cause specific):
a. Angka kesakitan pada tahun 2014 tidak ada.
b. Angka kematian neonatal pada tahun 2014 tidak ada.
c. Angka kematian ibu pada tahun 2014 tidak ada.
Kematian
Ibu
Bayi
Anak

Penyebab
-

Jumlah
-

2. Masalah kesehatan/penyakit (dalam 6 bulan terakhir):


Penyakit
Hipertensi
Anemia
Febris
Diare
Gigi berlubang
Stroke

Insiden
18
2
1

Prevalen
-

3. Bagaimana angka kematian dan kesakitan dibandingkan dengan tahun


sebelumnya (bandingkan dengan angka kabupaten/kota):

18

a. Angka kesakitan semakin menurun dan kesehatan semakin


meningkat
b. Status imunisasi komunitas (termasuk imunisasi dasar dan ulangan):
c. Semua RT 04 sudah mencapai UCI 100%
C. Dimensi Psikologis:
1. Nilai, keyakinan dan agama yang dianut:
Sebagian besar penduduk menganut agama Islam
2. Gambaran komunitas ke depan:
Terciptanya lingkungan yang aman, bebas penyakit dan kehidupan
ekonomi yang makmur.
3. Kejadian penting di komunitas:
Munculnya kejadian hipertensi dan DM pada lansia di masyarakat
memicu masyarakat untuk lebih memperhatikan pola makan/diit.
4. Intreraksi/komunikasi antar anggota komunitas:
Masyarakat membudayakan kehidupan bergotong royong dengan
anggota masyarakat lain, tetapi individualisme dapat terlihat pada
beberapa kelompok masyarakat, pola komunikasi lancar di dalam
komunitas.
5. Jaringan komunikasi (radio, tv, telepon, internet, dll):
Akses informasi baik lewat radio, TV, Internet, telepon di semua desa
tergolong mudah didapat.
6. Sumber-sumber stress di komunitas:
Genetik, lingkungan (beban kerja)
7. Resiko gangguan jiwa di komunitas:
Tidak ada gangguan jiwa di dalam komunitas.

D. Dimensi Fisik:
1. Lokasi komuniti (batas wilayah, urban/rural):
Wilayah berbatasan dengan:
a. Sebelah Barat
: RT 03
b. Sebelah Timur : RT 05
c. Sebelah Selatan : RT 01
d. Sebelah Utara
: RT 02
2. Luas wilayah kepadatan penduduk:
a. Luas wilayah
: 20.000 Ha
b. Jumlah penduduk : 270 jiwa
3. Iklim dan cuaca:
beriklim tropis.
4. Perumahan (tipe, kondisi, jumlah anggota perluas rumah, sanitasi)
a. Tipe rumah
19

Kondisi rata-rata di komunitas sebagaian besar permanen


b. Kondisi
Kondisi rata-rata layak huni.
c. Jumlah anggota per-luas rumah:
Jumlah anggota keluarga rata-rata 4-5 orang dengan luas rumah
9x12 m.
d. Sanitasi
Sanitasi rumah yang sebagian besar sudah memenuhi syarat
kesehatan.
5. Safety hazard di lingkungan:
Tidak memiliki ancaman kesehatan.
6. Sumber air (kuantitas dan kualitas):
Air artetis (sumur)
7. Pembuangan limbah:
Limbah dibuang melalui saluran got baik saluran terbuka maupun saluran
tertutup.
8. Kebisingan;
Kebisingan masih dalam batas normal yaitu jalan raya sambiroto
9. Potensial disaster:
Tidak ada
E. Dimensi Sosial:
1. Pemerintahan (tipe, efektifitas, dll)
Sistem pemerintahan daerah yang secara stuktural terdiri dari ketua RT,
Sekertaris, bendahara, dan beberapa seksi.
2. Pemuka komunitas (Toga, Toma, dll)
Partisipasi tokoh agama dan tokoh masyarakat sudah baik.
3. Politik dan afiliasinya:
Saluran-saluran untuk melaksanakan hak politik warga dapat dilihat
keikutsertaan warga pada pemilihan kepala desa, pemilukada dan pemilu
legislatif / presiden yang mencapai angka sekitar 60%.
4. Status kelompok minoritas:
Kelompok minoritas tidak mencolok keberadaannya, status mereka sama
dengan kelompok mayoritas, tidak ada perbedaan dalam segi apapun.
5. Bahasa yang digunakan komunitas:
Bahasa yang digunakan bahasa Jawa.
6. Status sosial ekonomi:
Menengah kebawah
7. Pekerjaan
Sebagian besar bekerja sebagai Swasta
8. Transportasi:
Mempunyai kendaraan sendiri sepeda motor.
9. Pelayanan sosial:
20

Masyarakat sudah dapat dengan mudah menggunakan fasilitas pelayanan


sosial, jarang sekali ada laporan masyarakat tentang ketidakpuasan di
pelayanan sosial.
10. Fasilitas pertokoan:
Tidak ada, kecuali warung-warung kecil.
F. Dimensi Perilaku:
1. Pola Konsumsi:
a. Nutrisi: kebiasaan makan 3x sehari dengan makanan pokok nasi,
lauk-pauk, sayuran kadang buah dan susu.
b. Alkohol: sebagian kecil warga masih ada yang mengkonsumsi
alkohol.
c. Merokok: kebanyakan sebagian besar laki-laki dikomunitas adalah
perokok aktif.
d. Penggunaan obat/zat adiktif (NAZA): tidak menggunakan NAZA
2. Aktifitas Gerak dan rekreasi:
a. Gerak badan/olahraga:
Jarang olahraga
b. Aktifitas relaksasi utama:
Relaksasi biasa dilakukan dengan cara beristirat atau tidur, dan juga
ada yang menggunakan jasa tukang pijat.
c. Fasilitas rekreasi:
Di komunitas pada umumnya melakukan aktifitas rekreasi dengan
jalan-jalan ke pusat kota, dan keluar kota dan ada juga di rumah
menonton TV.
3. Perilaku lain-lain:
a. Penggunaan alat pengaman:
Umumnya masyarakat sudah sadar atas pengaman diri misalnya, bila
naik sepeda motor menggunakan helm, walaupun masih ada yang
kurang memperhatikan penggunaan alat pengaman misalnya alat
pelindung diri (APD), diantaranya sarung tangan, masker, dan alas
kaki penutup.
b. Penggunaan alat kontrasepsi:
Masyarakat mempunyai jumlah PUS 52 orang yang sudah mengikuti
KB dengan data sebagai berikut :
IUD
:4
MOP
:MOW
:5
Suntik
: 14
Pil
: 13
Kondom
:21

Senggama terputus
:G. Dimensi kesehatan (terkait tiga garis pertahanan flexible, normal dan
resistant line):
1. Sikap komunitas terhadap kesehatan:
Masyarakat masih beranggapan bahwa
masyarakat

adalah

masalah

petugas

masalah

kesehatan.

kesehatan
Terbukti

di
dari

musyawarah rencana pembangunan desa anggaran untuk kesehatan


minim. Kalau sudah parah baru periksa di tenaga kesehatan.
2. Pelayanan kesehatan dan sumber-sumber (tipe, kesediaan, harga,
adekuat, penggunaan ):
Terdapat 1 puskesmas, posyandu setiap tanggal 10 yang dapat di akses
masyarakat, biaya rawat jalan gratis tindakan sesuai peraturan daerah,
tersedia Jamkesmas, Jamkesda, karyawan pabrik menggunakan
jamsostek.
3. Pelayanan antenatal:
Pelayanan bisa diperoleh di puskesmas, posyandu sesuai standar.
4. Program promosi kesehatan:
a. Perilaku hidup bersih dan sehat
b. Pemberantasan sarang nyamuk
c. Pencegahan penyakit menular
d. Bak sampah
5. Jaminan pemeliharaan kesehatan komunitas:
a. Jaminan kesehatan masyarakat
b. Jaminan kesehatan daerah
c. Jaminan sosial teknologi
II. PENGKAJIAN KELOMPOK
Target group :
I.
Dimensi Biologis
1. Usia, jenis kelamin, suku;
a. Usia
: 119 jiwa
b. Jenis kelamin
Laki-laki
: 55 jiwa
Perempuan
: 64 jiwa
c. Suku
Jawa
:110 jiwa
Kristen
:Lain-lain
:2. Tingkat tumbuh kembang/maturasi kelompok:

22

Pada usia bayi dan balita tumbuh kembang sesuai grafik tumbuh
kembang di buku KIA dan grafik Denver Development Screnning test
(DDST)
Pada usia anak, remaja, dan dewasa tumbuh kembang normal
dipengaruhi faktor internal seperti keluarga, nutrisi dan faktor eksternal
sesuai pendidikan, teman bermain, media massa, pekerjaan, dll
ada lansia menempatkan diri sebagai orang tua, dan telah menjadi
contoh bagi anak-anaknya.
3. Masalah kesehatan yang utama lazim:
Masalah kesehatan yang sering muncul dalam kelompok adalah

II.

hipertensi dan DM.


4. Immunisasi;
Rt 04 sudah mencapai UCI (Univeral child Imunization)
Dimensi psikologis
1. Gambaran diri kelompok:
Didalam keluarga menciptakan suassana saling terbuka dan tolong
menolong antar warga, tidak ada yang dikucilkan, tidak ada masalah
psikologis.
2. Ketrampilan koping:
Mampu memberikan hiburan bagi diri sendiri dan keluarga saat terjadi
suatu masalah.
3. Insiden dan prevalen masalah psikologis:
Tidak ada masalah psikologis
4. Stresor psikologis didalam masyarakat:
Stresor secara spesifik tidak ada, secara umum adalah masalah ekonomi
keluarga. Maraknya kemajuan IPTEK dengan akses-akses yang
mestinya belum saatnya dibuka oleh anak-anak karena akan mudah

III.

ditiru.
Dimensi fisik:
1. Lokasi tempat target grup:
Rt 04 Rw 01 Sambiroto
2. Kondisi lingkungan yang dapat membahayakan (polusi, pertukaran
cuaca, risiko penyakit):
3. Perumahan :
Tipe perumahan sebagian besar permanen. Kondisi rumah memenuhi

IV.

syarat kesehatan, MCK permanen.


Dimensi Lingkungan Sosial:
1. Sikap komunitas terhadap target group:

23

Hubungan antara komunitas cukup harmonis, namun keakraban antar


penduduk kurang karena mayoritas penduduk bekerja hingga sore hari.
2. Status sosial dan ekonomi target grup:
Di komunitas sebagian besar mempunyai kehidupan ekonomi
menengah kebawah, dengan jiwa sosial yang kurang diantara
penduduk.
3. Pendidikan:
Pendidikan kelompok terbagi menjadi pendidikan TK 2, SD 13,
pendidikan SMP 17, pendidikan SMA 37 dan perguruan tinggi 42.
4. Pekerjaan
a. Swasta
: 74
b. Buruh industri : 5
c. Pedagang
:5
d. PNS
:9
e. Pensiunan
:3
f. IRT
: 23
5. Pelayanan kesehatan yang bersifat proteksi:
Posyandu dan puskesmas
6. Transportasi (termasuk khusus):
Menggunakan transportasi berupa sepeda motor milik pribadi, angkot,
V.

ojek, kendaraan pribadi.


Dimensi perilaku
1. Kebutuhan nutrisi :
Kebiasaan makan 3x sehari dengan makanan pokok nasi, sayur, laukpauk, kadang-kadang buah dan susu.
2. Merokok :
Sebagian besar laki-laki di dalam kelompok mempunyai kebiasaan
merokok.
3. Gerakan badan:
Gerakan badan dilakukan saat bekerja, kebiasaan olahraga biasa
dilakukan para remaja seperti sepak bola, voly dan lari pagi.
4. Aktivitas rekreasi :
Di dalam kelompok umumnya melakukan aktivitas rekreasi dengan
jalan-jalan ke pasar, mall, dan pusat kota, ada juga yang dirumah nonton
tv

24

5. Perlindungan khusus yang digunakan :


Sebagaian besar masyarakat menggunakan alat perlindungan diri saat
berpergian maupun saat bekerja.

6. Kontrasepsi
Kontrasepsi yang umum digunakan oleh kelompok adalah pil, suntik,
IUD, implan dan MOW. Tidak ada kejadian luar biasa pada penggunanan
alat kontrasepsi. Mayoritas penguna kontasepsi adalah suntik.
VI.

Dimensi Kesehatan
1. Pelayanan kesehatan yang dibutuhkan :
Pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat adalah adanya
kader yang mengarahkan tentang cara meningkatkan kesehatan
masyarakat serta puskesmas yang memberikan pelayanan mendasar
dengan berbagai promosi kesehatan untuk meningkatkan derajat
kesehatan di dalam kelompok.
2. Sikap terhadap kesehatan dan pelayanan kesehatan :
Sikap kelompok kesehatan terhadap kesehatan adalah sangat
memperhatikan kesehatannya, jika terjadi perubahan atau penurunan
kesehatan segera memeriksakan ke fasilitas kesehatan yang dipilihnya.
Kelompok dapat memanfaatkan pelayanan kesehatan secara tepat.
3. Jaminan pemeliharaan kesehatan :
Kelompok menggunakan pelayanan asuransi untuk memberikan
jaminan pemeliharaan kesehatan, sedangkan yang tidak menggunakan
pelayanan kesehatan tersebut cukup melaksanakan upaya preventif
sesuai dengan promosi kesehatan yang diberikan puskesmas.
Kelompok keluarga miskin menggunakan jaminan JAMKESMAS,
JAMKESDA, karyawan pabrik menggunakan jamsostek.

III.RESUM PENGKAJIAN :
A. Pengkajian Komunitas
I. Core Komunitas
Jumlah KK
Jumlah Laki-laki
Jumlah Wanita
Ibu hamil

: 84 KK
: 135 orang
: 135orang
: 3 orang
25

Bayi
: 4 anak
Balita
: 20 anak
Remaja
: 14 orang
PUS dan WUS
: 126 orang
Lansia
: 18 orang
Sedangkan tingkat pendidikan dikomunitas adalah sebanyak
pendidikan TK 2, SD 13, pendidikan SMP 17, pendidikan SMA 37
dan perguruan tinggi 42.
II. Dimensi Biologis
Angka kesakitan pada tahun 2014 Hipertensi dan DM pada lansia
Untuk masalah kesehatan tahun 2014 tertinggi: tidak ada
Status imunisasi semua sudah mencapai UCI.
III. Dimensi Psikologis
Pada umumnya dikomunitas menganut agama Islam. Jaringan
komunikasi sudah maju. Tidak ada resiko orang mengalami
gangguan jiwa dikomunitas.
IV. Dimensi Fisik
Lokasi komunitas wilayah Rt 04 Sambiroto
V. Dimensi Sosial
Sistem pemerintahan daerah, pemuka dikomunitas adalah Toma
seperti Ketua RT, dan Toga seperti kyai. Kelompok minoritas tidak
ada yang mencolok statusnya tidak dibedakan dengan kelompok
yang lain. Bahasa yang dipakai dikomunitas adalah bahasa Jawa dan
bahasa Indonesia. Status ekonomi menengah kebawah, pekerjaan
rata-rata karyawan dan PNS, transportasi mayoritas mobil milik
sendiri dan transportasi sepeda motor bagi para remaja. Pelayanan
sosial terserap dikomunitas, dan fasilitas pertokoan memenuhi
kebutuhan komunitas.
VI. Dimensi Perilaku
Pemenuhan nutrisi yaitu makan dengan gizi seimbang, kebiasaan
merokok pada laki-laki, konsumsi alkhohol sebagian kecil,
penggunaan obat atau zat adiktif belum diketahui dengan jelas.
Olahraga biasa dilakukan oleh remaja seperti sepak bola, voly, dll.
Aktivitas rekreasi adalah menonton televisi atau bermain kerumah
26

tangga. Aktivitas relaksasi biasanya dengan tidur atau menggunakan


jasa tukang pijat. Perlindungan menggunakan alat pengaman pada
pekerja misalnya dalam proyek dan sepatu booth. Penggunaan alat
kontrasepsi pada umumnya suntik KB, pil KB, implan, IUD dan
MOW.
VII. Dimensi Kesehatan
1. Pelayanan kesehatan

yang

dibutuhkan:

puskesmas

yang

memberikan pelayanan mendasar dengan berbagai promosi


kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan didalam
kelompok.
2. Sikap terhadap kesehatan dan pelayanan kesehatan:
Masyarakat peduli terhadap kesehatannya.
3. Jaminan pemeliharaan kesehatan:
Jaminan kesehatan masyarakat
Jaminan kesehatan daerah
Jaminan sosial teknologi

27

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada bab ini akan di bahas lebih rinci mengenai kasus yang ada di
lapangan dengan menggunakan langkah varney yang sebelumnya telah di ajarkan
dalam perkuliahan, diantaranya adalah:
I. Pengkajian
A. Data Subjektif
Data subjektif ini diperoleh berdasarkan anamnesa secara
menyeluruh di. Disana penulis mendapatkan beberapa masalah, salah
satunya adalah masalah rendahnya minat warga untuk menjadi kader.
B. Data Objektif
Data subjektif ini diperoleh berdasarkan wawancara yang di
lakukan kepada kader di pegang oleh ibu kader dan pembukuan tentang
data posyandu yang kurang lengkap karena terbatasnya tenaga
sukarelanya.
II. Interpretasi Data
Dalam melakukan pengkajian didapatkan data subjektif dan objektif di kasus
rendahnya minat menjadi kader.
III.
Identifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Masalah kesehatan di kurang terpantau.
IV.
Identifikasi Kebutuhan Segera
Pembinaan kader
V. Intervensi
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh yang ditentukan
oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan
penatalaksanaan terhadap diagnosa yang telah diidentifikasikan atau
diantisipasi yang bersifat segera ataupun rutin.
VI.

VII.

Implementasi
Merupakan penatalaksanaan dari rencana yang telah disusun secara
komprehensif sesuai dengan skala prioritas.
Evaluasi
Setelah penulis melakukan implementasi pada tanggal 18 Januari 2015 dan
dapat langsung di evaluasi. Hasil dari evaluasi tersebut menunjukan respon
28

yang positif dari Ny. H. Ditunjukan dengan mengertinya ibu terhadap


masyarakatnya dan cara meningkatkan minat warga menjadi kader, ibu juga
bersedia untuk mengikuti kegiatan pembinaan kader, dan ibu mengerti cara
pengisian lembar SIP (Sistim Informasi Posyandu).

29

BAB V
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Setelah dilakukan pengkajian maka penulis dapat mengidentifikasi
masalah yang muncul yaitu rendahnya minat warga menjadi kader. Hal ini
dikarenakan kesibukan warga dengan pekerjaannya serta kurangnya sosialisasi
dengan masyarakat.

B.

Saran
1. Bagi tenaga kesehatan
Hendaknya memberikan penyuluhan tentang kesehatan secara
menyeluruh dan terperinci dengan memperhatikan tingkat pendidikan
masyarakat.
2. Bagi masyarakat
Bagi masyarakat, perlu ditingkatkan kerjasama antar masyarkat,
tokoh

masyarakat,

kader

kesehatan,

petugas

kesehatan

dalam

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat agar kesehatan masyarakatnya


lebih berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA

30

Amythie.2012. Pembinaan Kader. Diunduh 12 Juni 2012, tersedia dari :


http://amythie.blogspot.com/2012/04/pembinaan-kader.html
Dep.Kes.RI. 2000. Pedoman bagi petugas kesehatan.
Manuaba, Ida Bagus Gede.1998, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan &
Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
Meilani, Niken, dkk.2009. Kebidanan Komunitas. Yogyakarta : Fitramaya
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri, Jilid I. Jakarta: EGC.
Saefudin, Abdul Bari. 2005. Ilmu Kebida nan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Trimanunipa. 2009. Anemia dalam kehamilan. www.trimanunipa@yahoo.
com. Di unduh senin, 31, 2010.
Winda, Cheri.2011. Makalah Pergerakan Peran Serta. Diunduh 5 Juni 2012,
tersedia dari : http://www.anakciremai.com/2011/08/makalah-pergerakanperan-serta.html

31