Anda di halaman 1dari 37

TUGAS NASKAH AKADEMIK

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAMBI


Tentang
REKRUTMEN PENGAWAS PENDIDIKAN MENENGAH

OLEH
SUTOYO/NIM 8156132093
Kelas AW2 AP Kepengawasan
Mata Kuliah
KEBIJAKAN PTK DIKMEN
Dosen Pengampu
DR. DARWIN, M.Pd.

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN


KONSENTRASI KEPENGAWASAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2016

KATA PENGANTAR

Dengan mungucapkan Alhamdulillah sebagai ungkapan rasa syukur ke


hadirat Allah SWT karena hanya berkat rahmat-Nya jualah Naskah Akademik ini
dapat diselesaikan tepat waktu.
Naskah Akademik ini merupakan kajian secara akademis terhadap
antisispasi diberlakukakannya Undang undang nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintah Daerah, khususnya yang berkaitan dengan pemindahan segala
tanggung jawab Pendidikan Menengah dai pemerintah kabupaten/kota ke
pemerintah provinsi. Lebih khusus lagi yang barkaitan dengan kepengaawasan
dikmen. Bahkan jauh lebih khusus lagi tentang rekrutmen pengawas dikmen di
Provinsi Jambi.
Sebagai sebuah kajian akademis, maka Naskah Akademik ini dapat
dijadikan sebagai salah satu rujukan dalam pembahasan Perda tentang
Kependidikan Menengah, khususnya tentang kepengawasan di DPRD Provinsi
Jambi dan Pemprov Jambi. Diharapkan Nasakah akademik dapat membantu
secara lebih komprehensif dan akademis terhadap sebuah regulasi di tingkat
Provinsi Jambi yang akan dihasilkan kelak. Maju terus Pendidikan di Provinsi
Jambi!
Medan, Februari 2016
Sutoyo

DAFTAR ISI
ii

Hal
Kata Pengantar.....................................................................................................ii
Daftar Isi..............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang.....................................................................................................1
Identifikasi Masalah ............................................................................................3
Tujuan dan Kegunaan..........................................................................................3
Metode Penyusunan.............................................................................................4
BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIS EMPIRIS
Kajian Teoritis Rekrutmen Pengawas..................................................................5
Kajian terhadap Asas/prinsip Rekrutem Pengawas..............................................7
Kualifikasi............................................................................................................7
Seleksi Calon Pengawas......................................................................................11
Syarat-syarat Pengawas Dikmen..........................................................................13
Tugas Pokok dan Fungsi Pengawas.....................................................................15
Kajian Terhadap Praktik Penyelenggaraan Pengawasan Dikmen........................17
Kondisi Nyata di Lapangan.................................................................................17
Implikasi Penerapan Sistem Baru........................................................................18
Dukungan dari Legislatif, Eksekutif dan Masyarakat Jambi.............................19
BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN TERKAIT
Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008......................................................20
Permendiknas Nomor 12 Tahun 2007..................................................................20
Peraturan Daerah Provinsi Jambi nomor 4 Tahun 2011.......................................21
BAB IV LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS
Landasan Filosofis ..............................................................................................22
Landasan Sosiologis ............................................................................................23
Landasan Yuridis .................................................................................................23
BAB V JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN DAN RUANG LINGKUP
MATERI MUATAN
iii

Jangkauan Pengaturan .........................................................................................25


Arah Pengaturan...................................................................................................25
Ruang Lingkup Materi ........................................................................................26
BAB VI PENUTUP
Kesimpulan..........................................................................................................32
Saran....................................................................................................................32
Daftar Pustaka......................................................................................................33

iv

NASKAH AKADEMIK
RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAMBI
TENTANG
REKRUTMEN PENGAWAS PENDIDIKAN MENENGAH
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemerintah memutuskan bahwa implementasi pelaksanaan secara penuh
terhadap Undang Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah
mulai 1 Januari 2017. Salah satu butir Undang Undang tersebut adalah peralihan
tanggung jawab secara penuh Pendidikan Menengah (dikmen) atau setingkat
SMA/SMK ke Pemerintah Provinsi. Selama ini berdasarkan otonomi daerah,
pendidikan menengah menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota.
Kewenangan provinsi atas pendidikan menengah ini menyangkut alokasi
dana dari Anggaran Pendapatn dan Belanjan Negara (APBN) dan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), tenaga pendidik dan kependidikan,
infrastruktur SMA/SMK, pembangunan SMA/SMK, dan siswa.
Jeda waktu yang diberikan hingga 1 Januari 2017 harus dimanfaat sebaik
mungkin oleh Pemerintah Provinsi bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD) provinsi, termasuk Provinsi Jambi untuk mempersiapkan segala
sesuatunya yang diperlukan. Salah satu yang harus dipersiapkan jauh-jauh hari
adalah Peraturan Daerah yang berhubungan dengan pelimpahan wewenang
Pendidikan Menengah ke Pemerintah Provinsi. Di antara pelimpahan wewenang
tersebut adalah wewenang terhadap tenaga pendidik dan kependidikan. Salah satu
tenaga tersebut adalah Pengawas Sekolah.
Selama ini pengawas SMA/SMK telah ada dan berada di bawah naungan
Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Eksistensinya pun relatif tidak bergema.
Implementasinya bersifat parsial. Setiap kabupaten/kota memiliki corak tersendiri
dalam mengatur pengawas sekolah. Misalnya, Kabupaten Tanjung Jabung Timur
1

dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat menerapkan pengawas sekolah per


kecamatan per orang. Tidak ada pengawas mata pelajaran. Berbeda dengan
kabupaten/kota lain di Provinsi Jambi yang sudah menerapkan pengawas mata
pelajaran. Hal ini dapat dianalogikan dengan sebuah baju dengan corak beraneka
ragam yang belum tentu sesuai antara satu corak dengan corak lainnya.
Padahal, seharusnya pengawas mengambil peranan penting dalam
konstalasi dunia pendidikan nasional di Indonesia. Apalagi keberadaan Pengawas
Sekolah telah didukung oleh regulasi lain seperti Permendiknas nomor 143 tahun
2014 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah
dan Angka Kreditnya. Ada juga Peraturan Pemerintah nomor 74 tahun 2008
tentang Guru. Di samping itu masih ada regulasi-regulasi lain tentang
kepengawasan sekolah.
Salah satu sebab kekurangeksisan pengawas sekolah selama ini ditengarai
karena keberadaan pengawas sekolah dari hulu ke hilir memang kurang dikelola
dengan

semestinya.

Mulai

dari

rekrutmen,

pengangkatan,

pelaksanaan,

monitoring, hingga pelaporan disinyalir kurang transparan. Akibatnya, pengawas


seakan menjadi sesosok monster yang menakutkan bagi guru dan kepala sekolah.
Berdasarkan berbagai fakta di atas, maka sudah saatnya dunia supervisi
pendidikan di Indonesia, khususnya Provinsi Jambi harus diperbaiki secara
holistik. Untuk itu, perbaikan harus dimulai dari akarnya, yaitu dari rekrutmen
pengawas sekolah. Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa awal yang baik akan
menentukan akhir yang baik pula. Jika rekrutmen pengawas dilakukan dengan
benar, maka diharapkan terpilih pengawas yang benar, bekerja dengan benar, serta
menghasilkan layanan yang benar. Pada muaranya diharapkan peningkatan mutu
pendidikan nasional dan mampu bersaing di tingkat regional maupun global.
Agar pelaksanaan rekrutmen pengawas sekolah tidak parsial seperti di
masing-masing kabupaten/kota selama ini, maka rekrutmen pengawas harus
terpusat dengan skop Provinsi Jambi. Hal ini dilakukan agar pola kepengawasan
di wilayah Provinsi Jambi nantinya dapat seragam di seluruh bumi Sepucuk Jambi
Sembilan Lurah ini. Oleh karena itu perlu disusun Rancangan Peraturan Daerah
Provinsi Jambi tentang Rekrutmen Pengawas SMA/SMK. Sebelum diusulkan
2

oleh eksekutif Provinsi Jambi ke DPRD provinsi Jambi untuk dibahas dalam
sidang, tentu harus dilakukan berbagai kajian akademis sebelumnya. Naskah
akademik ini merupakan kajian tersebut.
B. Identifikasi masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka terdapat indentifikasi masalah
sebagai berikut:
1. Apa langkah Pemprov dan DPRD Provinsi Jambi dalam mengantisipasi
diberlakukannya UU no 23 tahun 2014 pada tanggal 1 Januari 2017 nanti,
terutama yang berhubungan dengan kepengawasan dikmen?
2. Bagaimana

Rancangan Peraturan Daerah tentang Rekrutmen Pengawas

Dikmen di Provinsa Jambi?


3. Apa pertimbangan filosofis, sosiologis, yuridis Raperda tersebut?
4. Apa sasaran dan ruang lingkup Raperda tersebut?
C. Tujuan dan Kegunaan
Berdasarkan indentifikasi masalah di atas, maka tujuan penulisan naskah
akademik ini adalah:
1. Memberi masukan berupa langkah-langkah yang seharusnya dilakukan
oleh Pemprov Jambi bersama DPRD Provinsi Jambi dalam mengantisipasi
diberlakukannya UU nomor 23 tahun 2014 pada tanggal 1 Januari 2017
mendatang, terutama yang berhubungan dengan dunia pendidikan
menengah di Provinsi Jambi, khususnya dalam hal Kepengawasan
Dikmen.
2. Menyampaikan alasan-alasan pentingnya Raperda Provinsi Jambi tentang
Rekrutmen Pengawas SMA/SMK dan rancangan sederhananya.
3. Memberi pertimbangan filosofis, sosiologis, dan yuridis terkait Raperda
Provinsi Jambi tentang Rekrutmen Pengawas SMA/SMK.
4. Mengetahui sasaran dan ruang lingkup Raperda Provinsi Jambi tentang
Rekrutmen Pengawas SMA/SMK.

D. Metode Penyusunan
Naskah Akademik ini disusun terdiri atas empat bab. Bab pertama berisi
latar belakang pentingnya Perda Provinsi Jambi tentang Rekrutmen Pengawas
Dikmen, identifikasi masalah, tujuan serta metode penyusunannya.

Bab dua

berisi tentang kajian teoritis serta empiris praktis terhadap hal-hal yang berkaitan
dengan Perda Provinsi Jambi tentang Rekrutmen Pengawas Dikmen. Bab tiga.
Bab empat berisi kesimpulan dan saran yang berguna bagi semua pihak yang
terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan menengah di Provinsi Jambi.

BAB II
KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIS EMPIRIS
A. Kajian Teoritis Rekrutmen Pengawas
1.

Pengertian Rekrutmen
Rekrutmen adalah serangkaian aktivitas mencari dan memikat pelamar

kerja dengan motivasi, kemampuan, keahlian, dan pengetahuan yang diperlukan


guna menutupi kekurangan yang diidentifikasi dalam perencanaan kepegawaian
(Simamora, 2006 : 212). Sedangkan menurut Schermerhorn dalam Simamora
(2006), rekrutmen adalah proses penarikan sekelompok kandidat untuk mengisi
posisi yang lowong.
Dari pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa rekrutmen
merupakan proses seleksi untuk menemukan orang yang pas untuk mengisi
sebuah lowongan pekerjaan sesuai dengan kualifikasinya. Dalam naskah
akademik ini, rekrutmen pengawas bermakna seleksi penerimaan calon pengawas
untuk mengisi lowongan jabatan sebagai pengawas sekolah dengan kualifikasi
tertentu yang telah ditentukan. Dengan demikian, proses rekrutmen pengawas
harus dilakukan secara profesional, transparan dan akuntabel.
2.

Pengawas dan Kepengawasan Dikmen


Kepengawasan (controlling) merupakan istilah yang biasa di dengar dalam

dunia manajemen. Hal ini mengingat kepengawasan merupakan salah satu bagian
dari kegiatan manajemen di samping perencanaan, pengaturan, dan pelaksanaan.
Hampir semua ahli manajemen sepakat bahwa kepengawasan merupakan salah
satu unsur penting dalam manajemen.
Para ahli berpendapat tentang pengertian dari kepengawasan. Beberapa di
antaranya adalah sebagai berikut. Weihrich dan Koontz dalam Aedi (2014 : 2)
mengungkapkan bahwa pengawasan merupakan salah satu fungsi manajemen
yang mengukur dan melakukan koreksi atas kinerja atau upaya yang sedang
dilakukan dalam rangka meyakinkan atau memastikan tercapainya tujuan dan
rencana yang telah ditetapkan.
5

Sejalan dengan Weihrich dan Koontz, Sutisna (1989:240) mrngemukanan


bahwaa pengawasan adalah fungsi administratif

dimana administrator

memastikan bahwa apa yang dikerjakan sesuai dengan yang dikehendaki. Bell
(1992 : 37) berpendapat controlling is the monitoring of performance to ensure
that objective are being achieved and tasks completed. Dari pendapat Bell itu
dapat diketahui bahwa pengawasan merupakan kegiatan monitoring kerja untuk
memastikan bahwa tujuan dapat dicapai serta tugas dapat diselesaikan.
Lebih lengkap, Mockler dalam Aedi (20114 : 4) mengatakan bahwa
pengawasan sebagai usaha sistematis menetapkan standar pelaksanaan dengan
tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan
kegiatan nyata dengan standar, menetapkan dan mengukur deviasi-deviasi dan
mengambil tindakan koreksi yang menjamin bahwa semua sumber daya yang
dimiliki telah dipergunakan dengan efektif dan efisien.
Pendapat yang lebih sederhana dikemukakan oleh Johnson (dalam Pidarta,
2011 : 163) yang mendefinisikan bahwa kontrol yaitu fungsi sistem yang
melakukan penyesuaian terhadap rencana, mengusahakan agar penyimpanganpenyimpangan tujuan sistem hanya dalam batas-batas yang dapat ditoleransi.
Berdasarkaan berbagai pendapat para ahli mengenai definisi pengawasan
secara umum di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengawasan merupakan
proses sistematis untuk memastikan bahwaa proses berjalan sesuai rencana dan
standar yang ditentukan sehingga dapat dipastikan tercapainya tujuan yang telah
ditetapkan.
Dalam naskah akademik ini pengawasan yang dimaksud adalah
pengawasan sekolah atau pengawasan pendidikan, khususnya Pendidikan
Menengah (SMA/SMK).
Sementara itu pengawas (supervisor) merupakan orang yang melakukan
kegiatan kepengawasan (supervisi). Dalam naskah akademik ini, yang dimaksud
pengawas adalah pengawas pendidikan/sekolah.

3.

Pengawas Dikmen
Pengawas Dikmen dalam naskah akademik ini adalah pengawas sekolah

(Pendidikan) setingkat SMA/SMK. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 74


tahun 2008 tentang Guru, Pengawas Sekolah adalah guru PNS yang diangkat
dalam jabatan pengawas sekolah. Pengawasan merupakan rangkaian aktivitas
pengawas sekolah dalam menyusun program pengawasan, melaksanakan program
pengawasan, evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan, dan melaksanakan
pembimbingan dan profesionalisme guru.
B. Kajian terhadap Azas/prinsip Rekrutem Pengawas
1. Kualifikasi
Dengan asumsi bahwa jabatan pengawas di masa depan, lebih menarik
bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya maka kualifikasi yang dituntut dari
calon pengawas bisa ditingkatkan. Kualifikasi calon pengawas bisa dilihat dari
beberapa aspek yakni; tingkat pendidikan dan keahlian/keilmuan, pangkat/jabatan
dan pengalaman kerja serta usia.
1) Tingkat Pendidikan dan Keahlian
Tingkat pendidikan dan keahlian atau keilmuan bagi pengawas dan calon
pengawas SMA/SMK dibedakan antara pengawas rumpun/mata pelajaran dan
bimbingan konseling.
a. Kualifikasi untuk pengawas rumpun mata pelajaran/mata

pelajaran,

berpendidikan minimal S1 kependidikan dan S1 nonkependidikan dalam


rumpun ilmu yang relevan dan memiliki Akta IV. Sangat diutamakan yang
berpendidikan S2-S3 kependidikan dan atau S2-S3 nonkependidikan yang
memiliki Akta IV. Lebih utama lagi berpendidikan S2 Kepengawasan.
Pengawas rumpun mata pelajaran terutama di SMA dan SMK sebaiknya
menjadi pengawas mata pelajaran agar keahlian pengawas lebih relevan
dengan mata peljaran-mata pelajaran yang diberikan di SMA dan mata diklat di
SMK. Mata pelajaran-mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa
Inggris, Fisika, Kimia, Biologi memerlukan pengawas dengan keahlian yang
sama. Demikian halnya untuk mata diklat di SMK.
7

b. Kualifikasi untuk pengawas bimbingan konseling hendaknya berpendidikan


minimal S1 kependidikan khususnya jurusan/program studi Bimbingan
Konseling, diutamakan yang berpendidikan S2-S3 Kependidikan terlebih lagi
Jurusan Bimbingan Konseling atau S2 Kepengawasan.
Calon pengawas untuk semua kualifikasi di atas dipersyaratkan lulus
Pendidikan Profesi Pengawas (30-36 SKS) pada LPTK Negeri yang telah ditunjuk
pemerintah dan mengikuti Diklat Pengawas. Bagi yang berpendidikan S2
Kepengawasan, tidak perlu mengikuti Pendidikan Profesi Pengawas.
2) Jabatan/Pangkat dan Pengalaman Kerja.
Berdasarkan jabatan/pangkat dan pengalaman kerja, yang bisa diangkat
sebagai calon pengawas adalah yang sedang menjadi dan atau pernah menjadi
guru dan Kepala Sekolah/Wakil Kepala Sekolah, berstatus jabatan fungsional
dengan pangkat serendah-rendahnya III/c untuk guru dan III/d untuk Kepala
Sekolah/Wakil Kepala Sekolah. Sedangkan pengalaman kerja yang dipersaratkan
adalah 8 tahun bagi yang sedang menjadi guru dan 4 tahun bagi yang sedang
menjadi Kepala Sekolah.
Idealnya calon pengawas berasal dari Kepala Sekolah atau minimal Wakil
Kepala Sekolah yang pernah menjadi guru agar ada jenjang karir yang jelas dari
guru - wakil kepala sekolah - kepala sekolah - pengawas. Persyaratan di atas
menunjukkan bahwa yang menjadi pengawas harus berstatus Pegawai Negeri
Sipil. Jika dimungkinkan calon pengawas bisa diangkat dari Kepala Sekolah nonPNS berpendidikan S2 Kependidikan. Setelah menempuh pendidikan profesi
pengawas dan Diklat pengawas, mereka bisa diangkat sebagai PNS dengan
jabatan pengawas pratama atau muda. Jika mereka diberi kesempatan menjadi
pengawas nampaknya tidak akan mengalami kesulitan dalam merekrut pengawas
pada masa sekarang. Pendidikan Profesi Pengawas dan Diklat Pengawas tidak
diperlukan bagi yang berpendidikan S2 Kepengawasan.
3) Usia.
Dari hasil studi empiris ditemukan usia pengawas rata-rata 52 tahun
dengan pengalaman kerja sebagai PNS sekitar 26 tahun dan masa kerja sebagai
8

pengawas rata-rata 6,5 tahun. Data di atas terlihat bahwa usia dan masa kerja
pengawas sebagai PNS cukup tinggi sehingga masa kerja mereka tinggal beberapa
tahun lagi sehingga kecenderungan untuk berprestasi di masa tua menjadi agak
menurun. Hal ini berimplikasi pada citra pengawas saat ini kurang
menguntungkan. Oleh sebab itu rekruitmen pengawas perlu peremajaan dengan
mengangkat tenaga pengawas pada usia sekurang-kurangnya 35 tahun dan
setinggi-tingginya 45 tahun, sehingga dimungkinkan punya masa bakti cukup
lama dan bisa diberikan pembinaan yang berkesinambungan.
Mekanisme dan prosedur rekrutmen calon pengawas satuan pendidikan
dilakukan secara transparan, akuntabel, terbuka dan adil serta kompetitif.
Rekruitmen pengawas dikmen diawali dengan analisis kebutuhan tenaga
pengawas oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jambi agar diketahui pengawas bidang
apa yang diperlukan dan berapa banyak dibutuhkan. Pada tahan awal, Dinas
Pendidikan Provinsi Jambi dapat meminta data pengawas dikmen dari masingmasing kabupaten/kota di seluruh wilayah Provinsi Jambi. Berdasarkan kebutuhan
tersebut rekrutmen calon pengawas dilaksanakan di tingkat Provinsi Jambi
melalui pendaftaran calon pengawas kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi
Jambi. Beberapa tahapan yang ditempuh adalah sebagai berikut
1. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi menyampaikan informasi kepada
setiap kepala SMA/SMK tentang adanya rekrutmen calon pengawas
rumpun mata pelajaran/mata pelajaran dan pengawas Bimbingan
Konseling disertai kualifikasi dan persaratannya. Informasi dan sosialisasi
ini diberi waktu sekurang-kurangnya satu bulan agar semua tenaga
pendidik dan tenaga kependidikan mengetahuinya secara terbuka.
Formulir pendaftaran beserta kualifikasi dan persyaratan calon pengawas
dikirim ke setiap setiap SMA/SMK agar diketahui oleh semua guru dan
kepala sekolah yang berminat.
2. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi menerima berkas pendaftaran
calon pengawas dari setiap SMA/SMK. Masa pendaftaran diberi waktu
minimal dua minggu. Berkas pendaftaran terdiri atas formulir yang telah
diisi lengkap disertai lampiran-lampirannya termasuk rekomendasi dari
9

atasan langsung si calon. Formulir Pendaftaran calon Pengawas disiapkan


oleh Direktorat Tenaga Kependidikan, bisa diunduh via internet.
3. Kepala Dinas Provinsi Jambi memeriksa dan menyeleksi kelengkapan
berkas pendaftaran yang terdiri atas persyaratan administratif dan
lampiran-lampirannya

untuk

menetapkan

calon

yang

memenuhi

persyaratan. Berkas pendaftaran calon yang dinilai lengkap dikirimkan


oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi kepada Lembaga
Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Jambi. Dinas Pendidikan
Provinsi Jambi dan LPMP Jambi bersifat koordinatif. Berkas pendaftaran
yang tidak lengkap segera dikembalikan kepada calon untuk dilengkapi
sebagaimana mestinya. Waktu yang diperlukan untuk melakukan
pemeriksaan berkas pendaftaran paling lama satu bulan.
4. LPMP Jambi melakukan verifikasi data hasil pemeriksaan oleh Kepala
Dinas Pendidikan Provinsi Jambi dan melakukan seleksi administratif
calon pengawas. Berdasarkan hasil verifikasi dan seleksi tersebut
selanjutnya LPMP menetapkan dan mengirimkan calon pengawas yang
memenuhi syarat kepada Direktorat Tenaga Kependidikan. Kriteria yang
digunakan dalam seleksi administratif dilihat dari kualifikasi, persyaratan
administrtif dan kelengkapan lampiran yang diminta dari calon pengawas
(lihat seleksi tahap I pada butir seleksi). Waktu yang disediakan untuk
melakukan verifikasi dan seleksi persaratan administratif paling lama dua
minggu.
5. Kepada calon yang memenuhi semua persyaratan administratif, Direktorat
Tenaga Kependidikan mengirim surat pemberitahuan yang menyatakan
calon berhak mengikuti seleksi calon pengawas serta diminta membuat
karya tulis tentang kepengawasan dan menyerahkannya kepada Direktorat
Tenaga Kependidikan paling lama satu bulan setelah menerima
pemberitahuan. Dalam surat pemberitahuan tersebut dicantumkan waktu
dan tempat pelaksanaan seleksi. Sedangkan calon yang tidak memenuhi
persyaratan diberitahu tidak memenuhi persaratan sebagai calon
pengawas.
10

6. Seleksi

calon

pengawas

dilaksanakan

oleh

Direktorat

Tenaga

Kependidikan bekerja sama dengan LPMP yang pelaksanaannya bisa


diselenggarakan di Provinsi Jambi atau di LPMP. Seleksi dilaksanakan
sekali dalam setahun yang waktunya diatur secara tersendiri. Berkas
pendaftaran calon yang memenuhi persaratan mengikuti seleksi harus
sudah sampai di Direktorat Tenaga Kependidikan paling lambat satu bulan
sebelum seleksi dilaksanakan.
7. Penetapan calon yang lulus seleksi sepenuhnya menjadi kewenangan
Direktorat Tenaga Kependidikan. Pengumuman hasil seleksi paling lambat
satu bulan setelah seleksi dilaksanakan dan dikirimkan kepada Kepala
Dinas Provinsi Jambi dengan kepala SMA/SMK dan LPMP.
8. Direktorat Tenaga Kependidikan mengajukan pengangkatan calon
pengawas yang telah lulus seleksi, sesuai dengan peraturan yang berlaku.
C. Seleksi Calon Pengawas
Calon pengawas yang telah memenuhi kualifikasi dan persyaratan
sebagaimana dikemukakan di atas berhak mengikuti seleksi calon pengawas.
Seleksi dilaksanakan dua tahap. Tahap pertama seleksi administrasi yang
dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jambi dan LPMP Provinsi Jambi
sebagaimana telah dijelaskan di atas. Tahap kedua seleksi akademik yang
dilaksanakan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan bekerjasama dengan LPMP
Provinsi Jambi.
Seleksi Tahap I: Seleksi tahapan ini dilaksanakan oleh LPMP Provinsi Jambi
bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Propinsi Jambi yang disesuaikan dengan
kepentingan daerah. Kriteria seleksi dilihat dari:
1. Surat Keterangan Dokter yang menyatakan sehat jasmani dan rohani,
2. Daftar Riwayat Hidup yang memuat identitas diri, pekerjaan sekarang,
pengalaman kerja, tingkat pendidikan, pangkat dan golongan, usia, prestasi
yang pernah dicapai dll.
3. Surat keterangan aktif mengajar atau membimbing dari atasan langsung,
4. Daftar penilaian Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) dua tahun terakhir,
11

5. Fotokopi ijazah yang telah dilegalisir sesuai dengan kualifikasi yang


ditetapkan
6. Makalah atau karya tulis yang berkaitan dengan kepengawasan dari salah
satu tema (boleh dipilih) di bawah ini:
a. Pengelolaan kepengawasan sekolah yang efektif dan efisien
b. Pengembangan Kurikulum sekolah yang akan dibinanya
c. Strategi pengembangan sekolah berbasis Iptek
d. Inovasi dalam meningkatkan kinerja sekolah
e. Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah
Tema makalah atau kerya ilmiah bisa disesuai dengan perkembangan
zaman yang kekinian.
Seleksi Tahap II: Seleksi tahapan kedua dilaksanakan oleh LPMP Provinsi Jambi
bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Propinsi, dengan menggunakan acuan dari
Direktorat Tenaga Kependidikan. Seleksi terdiri atas :
1. Tes tertulis yang telah distandarisasi meliputi:
- Test Potensi Akademik
- Tes Kecerdasan Emosi
-Tes Penguasaan substansi kepengawasan (kompetensi),
2. Tes Kepribadian
3. Tes Kreativitas.
4. Presentasi karya ilmiah yang dilengkapi dengan wawancara.
Materi dasar yang dijadikan kriteria seleksi terdiri atas:
1. Potensi Akademik (kemampuan verbal, numerikal, penalaran dan persepsi
ruang), Penguasaan kompetensi pengawas yang mencakup semua dimensi
dan indikatornya,
2. Penguasaan ilmu dalam bidang yang relevan, dengan bidang kepengawasannya (Rumpun Mata pelajaran/mata pelajaran dan bimbingan konseling).
3. Kepribadian yang meliputi: sikap, motivasi, kerjasama, inisiatif dan
kreativitas.
Batas kelulusan dapat dipilih salah satu dari dua pendekatan yakni
pendekatan acuan patokan (PAP) atau pendekatan acuan norma (PAN). Jika
12

jumlah calon yang lulus dengan pendekatan patokan melebihi jumlah pengawas
yang dibutuhkan, pendekatan acuan norma lebih tepat untuk diterapkan. Namun
jika peserta yang lulus dengan acuan patokan lebih sedikit dari yang dibutuhkan,
penetapan kelulusan bisa menggunakan acuan norma dengan syarat bagi calon
yang di bawah standar lulus tetapi diperlukan karena kebutuhan, perlu
mendapatkan perlakuan khusus (pendampingan intensif) sampai memenuhi
standar kelulusan. Pada tahap selanjutnya calon yang telah dinyatakan lulus perlu
mengikuti pendidikan profesi pengawas untuk mendapatkan sertifikat pengawas
dan mengikuti Diklat Pengawas Tipe A (Kompetensi dan Orientasi Tugas Pokok
dan Fungsi). Bagi peserta yang berpendidikan S2 Kepengawasan, pendidikan
Profesi Pengawas dan Diklat Pengawas tipe A tidak diperlukan lagi.
D.Syarat-syarat Pengawas Dikmen
Selain kualifikasi sebagaimana dikemukakan di atas diberlakukan pula
sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon pengawas. Ada dua kategori
persyaratan calon pengawas sekolah yakni persyaratan administrasi dan
persyaratan akademik. Berdasarkan kualifikasi di atas maka persyaratan
administratif calon pengawas adalah:
1. Berpengalaman sebagai guru minimal 8 tahun secara terus menerus, wakil
kepala sekolah dan atau kepala sekolah minimal berpengalaman 4 tahun
dan menunjukkan prestasi selama ia menjadi guru, wakil kepala sekolah
atau kepala sekolah.
2. Memiliki sertifikat Pendidikan Profesi Pengawas dari LPTK Negeri.
3. Pangkat/golongan sekurang-kurangnya golongan III/c yang dibuktikan
dengan SK kepangkatan
4. Sehat jasmani dan rohani, dibuktikan dengan Surat Keterangan Dokter
dari Rumah Sakit yang ditunjuk.
5. Tidak sedang terkena hukuman pelanggaran disiplin kategori sedang atau
berat.

13

6. Menyatakan secara tertulis bersedia mengikuti Pendidikan dan Pelatihan


Pengawas Tipe A (Orientasi Pekerjaan Pengawas Sekolah), bagi yang
bukan berendidikan S2 Kepengawasan.
7. Menyatakan secara tertulis bersedia ditempatkan di mana saja dalam
wilayah Provinsi Jambi tempat sekolah yang akan dibinanya.
8. Menyatakan secara tertulis bersedia berpartisipasi aktif dalam Organisasi
Profesi Pengawas (misalnya APSI).
9. Direkomendasikan oleh atasan langsung setelah melalui proses pemilihan
di sekolah yang bersangkutan.
Persyaratan di atas dituangkan dalam formulir pendaftaran calon pengawas
disertai lampiran-lampirannya yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan.
Selain kelengkapan administrasi tersebut di atas, calon pengawas dapat
menyerahkan bukti prestasi seperti:
1. Pernah menjadi guru teladan/berprestasi yang dibuktikan dengan fotokopi
surat keterangan/piagam
2. Pernah menjadi guru inti atau instruktur peningkatan mutu guru, menjadi
ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau yang sejenis,
dibuktikan dengan fotokopi surat penetapan/keterangan/ piagam
3. Pernah

berprestasi

dalam

melaksanakan

tugas

sebagai

kepala

sekolah/wakil kepala sekolah yang dibuktikan dengan fotokopi surat


penetapannya.
Sedangkan Persyaratan akademik calon pengawas sekolah adalah
sebagai berikut :
1. Memiliki pengetahuan yang luas tentang pendidikan dan wawasan Wiyata
Mandala;
2. Memiliki keahlian keilmuan yang relevan dengan bidang kepengawasan
yang dibuktikan dengan fotokopi ijazah S1 dan atau S2 yang telah
dilegalisir oleh yang berwewenang.
3. Memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melaksanakan tugas
kepengawasan;

14

4. Mampu menyusun program kepengawasan untuk sekolah-sekolah


binaannya;
5. Memiliki prestasi, dedikasi dan loyalitas yang dibuktikan dengan SKP.
6. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi;
7. Lulus seleksi calon pengawas yang diselenggarakan secara khusus oleh
instansi yang ditunjuk dan dibuktikan dengan Surat Tanda Lulus (STL)
Calon Pengawas. Tidak diperlukan bagi calon berpendidikan S2
Kepengawasan.
8. Menyusun dan menyerahkan karya tulis di bidang kepengawasan
9. Khusus untuk Pengawas Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), selain
memenuhi persyaratan di atas, juga harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
10. Memiliki pengetahuan dan kemampuan membina guru dan tenaga
kependidikan dalam mengembangkan kerjasama dengan dunia usaha
dan/atau dunia industri;
11. Memiliki pengetahuan, wawasan dan kemampuan mengembangkan
laboratorium/praktikum dan mengembangkan unit produksi pada SMK
yang dibinanya.
Persyaratan akademik di atas dapat dilihat dari hasil seleksi calon
pengawas selain dari persyaratan administratif di atas dan lampiran-lampirannya.
Semua persyarakat dan formulir dapat diunduh di situs Dinas Pendidikan Provinsi
Jambi dan LPMP Provinsi Jambi.
E. Tugas Pokok dan Fungsi Pengawas
Dimensi tugas pengawas terlihat dari tabel sebagai berikut:
Dimensi Tugas
Pengawas
Menyupervisi

Sasaran
1. Kinerja kepala SMA/SMK
2. Kinerja guru
3. Kinerja staf sekolah
4. Pelaksanaan kurikulum/mata pelajaran
15

5. Pelaksanaan pembelajaran
6. Ketersediaan dan pemanfaatan sumber daya
7. Menejemen sekolah, dan lain-lain
1. Kepala sekolah

Menasihati

2. Guru
3. Tim kerja sekolah dan staf
4. Komite sekolah
5. Orang tua siswa
1. penjaminan/standar mutu pendidikan

Memantau

2. proses dan hasil belajar peserta didik


3. pelaksanaan ujian
4. rapat guru dan staf
5. hubungan sekolah dengan masyarakat
membuat

laporan

6. data statistik kemajuan sekolah


1. kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi

perkembangan

2. Kemendiknas

kepengawasan

3. publik

mengoordinasi

4. sekolah binaan
1. mengoordinasi sumber personal dan material
2. kegiatan antarsekolah
3. kegiatan pre/inservive training bagi guru dan
kepala sekolah serta pihak lain.

memimpin

4. Pelaksanaan kegiatan inovasi sekolah


1. Perkembangan kualitas SDM di sekolah binaan
2. Pengembangan sekolah
3. Partisipasi dalam kegiatan manajerial di Dinas
Pendidikan Provinsi
4. Berpartisipasi dalam perencanaan pendidikan di
Provinsi Jambi
5. Berpartisipasi dalam seleksi calon kepala sekolah
6. Bepartisipasi dalam rekrutmen personel proyek
atau program-program khusus pengembangan

16

mutu sekolah.
7. Pengelolaan konflik
8. Berpartisipasi dalam menangani pengaduan

F. Kajian Terhadap Praktik Penyelenggaraan Pengawasan Dikmen


Provinsi Jambi
1. Kondisi Nyata di Lapangan
Saat ini pelaksanaan Kepengawasan Pendidikan Menengah (SMA/SMK)
masih berada di tangan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi.
Namun mulai tanggal 1 Januari 2017 mendatang, akan terjadi pemindahtanganan
tanggung jawab tersebut ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Selama ini
pelaksanaan pengawasan SMA/SMK yang dilaksanakan oleh masing-masing
kabupaten/kota terkesan parsial, tidak holistik. Antarkabupaten/kota pun
pengimplementasian terhadap produk regulasi kepengawasan SMA/SMK
berbeda. Sebagai contoh, pengwasan SMA/SMK di Kabupaten Tanjung Jabung
Timur dan Tanjung Jabung Barat belum dilaksanakan sesuai regulasi. Pengawas
mata pelajaran SMA/SMK tidak ada di dua kabupaten tersebut.
Pengawas SMA/SMK, juga SMP dilakukan hanya oleh satu orang
pengawas per kecamatan, tidak peduli latar belakang mta pelajaran yang
diampunya sebelumnya. Seorang pengawas untuk mengawasi semua SMA/SMK
dan semua guru SMA/SMK di sebuah kecamatan tentu jauh dari yang seharusnya.
Seharusnya pengawas SMA/SMK dibagi menjadi pengawasan manajerial untuk
pengawasan kinerja kepala sekolah dan pengawasan akademik untuk memberi
layanan kepada mata pelajaran. Kondisi yang terjadi di kedua kabupaten itu
menyebabkan pelaksanaan pengawasan hanya bisa dilakukan pengawasan
manajerial, sedangkan pengawasan akademik tidak bisa diterapkan karena status
pengawasnya.
Di samping itu stigma terhadap profesi kepengawasan pun masih negatif.
Pengawas masih dianggap momok oleh sebagian guru dan kepala sekolah.
Kehadiran pengawas di sekolah justru meresahkan guru dan kepala sekolah.
17

Stigmanya adalah bahwa pengawas datang akan menakut-nakuti guru-guru dan


kepala sekolah. Hal ini ini terjadi karena secara umum masih kurangnya
kompetensi pengawas yang sudah ada saat ini.
Temuan fakta di lapangan juga mengindikasikan terjadinya praktik-praktik
tidak transparansi, terbuka, dan akuntabel dalam rekrutmen calon pengawas
SMA/SMK. Aroma kolusi tercium tajam. Indikatornya antara lain: (1) informasi
rekrutmen pengawas yang tertutup. (2) Dilakukan nyaris tanpa seleksi.
Sekonyong-konyong telah terpilih seorang pengawas X.
Di sinyalir praktik-praktik kepengawasan SMA/SMK seperti itu bukan hanya
terjadi di kedua kabupaten itu saja.
G. Implikasi Penerapan Sistem Baru yang Akan Diatur dalam Perda
Rekrutmen Pengawas SMA/SMK Provinsi Jambi
Diasumsikan bahwa jabatan pengawas SMA/SMK di masa depan akan
lebih menarik bagi kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan guru,

maka

kualifikasi yang dituntut dari calon pengawas harus ditingkatkan. Kualifikasi


calon pengawas bisa dilihat dari beberapa aspek yakni; tingkat pendidikan dan
keahlian/keilmuan, pangkat/jabatan dan pengalaman kerja serta usia.
Asumsi lainnya adalah bahwa suatu proses akan berhasil jika dimulai
dengan benar. Revitalisasi kepengawasan akan berhasil jika seluruh rangkaian
kepengawasan juga berjalan dengan benar. Salah satu mata rangkaian tersebut
adalah awal yang benar, yakni rekrutmen pengawas SMA/SMK yang benar. Benar
di sini artinya sesuai dengan regulasi yang berlaku. Jadi, dengan rekrutmen
pengawas yang benar sesuai regulasi, maka proses kepengawasan pun akan
menjadi benar. Muara dari semuanya tentu saja adalah meningkatnya mutu
pendidikan nasional secara umum.
Pun demikian dengan penerapan sistem baru berupa regulasi baru, yakni
Peraturan Daerah Provinsi Jambi tentang Rekrutmen Pengawas SMA/SMK ini.
Dengan penerapan yang benar dan holistik, maka kualitas kepengawasan Dikmen
di Provinsi Jambi akan meningkat. Stigma negatif terhadap profesi pengawas
sekolah secara bertahap diubah ke arah positif.
18

H. Dukungan dari Legislatif, Eksekutif dan Masyarakat Jambi


Dukungan dari pemerintah (eksekutif dan legislatif) sangat diperlukan
karena terkait dengan UU nonor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah junto
UU No. 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah yang secara politis memberi
wewenang

kepada

pemerintah

provinsi

untuk

merencanakan

program

pembangunan wilayahnya secara tepat, efisien, dan berdaya guna. Untuk


mewujudkan hal tersebut diperlukan pendidik berkualitas untuk mencetak tamatan
SMA yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi dan tamatan SMK yang siap
bersaing di dunia kerja.
Aspirasi masyarakat merupakan salah satu bentuk dukungan untuk
diberlkukannya Perda Provinsi Jambi tentang Rekrutmen Pengawas SMA/SMK
ini. Hal ini muncul dari keprihatinan akan kualitas pendidikan menengah di
Provinsi Jambi yang masih di bawah standar nasional. Setidaknya terlihat dari
hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) 2015 lalu.
Tenaga pendidik yang berkualitas akademik dan profesional akan dapat
menghasilkan lulusan yang berkualitas pula yang kelak menjadi pengemban tugas
pembangunan daerah. Dukungan baik dari pemerintah Provinsi Jambi, DPRD
Provinsi Jambi maupun masyarakat Provinsi Jambi seyogianya dilihat dari
sinkronisasi dan sinergi kelayakan sosial. Kelayakan sosial yang dimaksud dilihat
dari beberapa sisi yang sungguh riil, terutama yang berkaitan dengan kekhasan
Jambi, kebutuhan Pengembangan kelembagaan, dan kebutuhan pengembangan
sumberdaya manusia Jambi.
Peningkatan tenaga pendidik di Provinsi Jambi harus dibarengi oleh
peningkatan salah satu mata rantai pendidikan, yakni pengawasannya.
Pengawasan diperlukan agar pendidikan menengah di Provinsi Jambi selalu on
the track.
BAB III
EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANG
TERKAIT
19

Di Indonesia ketentuan hukum positif terdapat berbagai peraturan


perundang-undangan yang mengatur atau memiliki keterkaitan dengan rekrutmen
kepengawasan pendidikan. Bab ini akan membahas analisis dan kajian terhadap
peraturan perundang-undangan lain yang berhubungan dengan rekrutmen
pengawas dikmen.
A. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008
Dalam PP nomor 74 tahun 2008 tentang Guru, pengawas sekolah adalah
guru PNS yang diangkat dalam jabatan pengawas sekolah. Kewajiban pokoknya
adalah melaksanakn kegiatan kepengawasan di sekolah binaannya, baik bagi
kengawasan manajerial maupun kepengawasan akademik. Kewajiban pengawas
sekolah tersebut terdapat secar eksplisit pada pasal 15 ayat 4 PP nomor 74 tahun
2008.
Kepengawasan manajerial dan akademik pada dasarnya merupakan
penerapan standar nasional pendidikan (SNP) Indonesia. Sementara itu, jenis
pengawas sekolah tertuang dalam Pasal 54 ayat 8 PP Nomor 74 2008. Tujuan
besarnya tentu saja adalah mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana
termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.
Sayangnya, PP ini beum mengakomodasi rekrutmen secara nasional. Hal
ini karena implmentasi kepengawasan menjadi wewenang daerah dalam bingkai
pelaksanaan Otonomi Daerah. Akibatnya, rekrutmen pengawas di setiap
kabupaten/kota

bisa

berbeda-beda,

tergantung

penafsiran

masing-masing

kabupaten/kota terhadap regulasi ini.


B. Permendiknas Nomor 12 Tahun 2007
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor Tahun 2007 berisi tentang
Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. Dalam Permen ini juga dijabarkan tiga
kategori pengawas sekolah, yakni (1) Pengawas TK/RA, (2) Pengawas SMP/MTs
dan SMA/MA, dan (3) Pengawas SMK/MAK.
Dalam Permendiknas di atas

SMA dan SMK dibedakan kategorinya.

Padahal dalam Undang Undang No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah,


20

SMA dan SMK merupakan Pendidikan Menengah yang akan dilimpahkan dari
kabupaten/kota ke provinsi. Hal ini berarti bahwa memang harus ada perubahan
peraturan perundang-undangan tentang pengawas sekolah, terutama untuk
setingkat SMA dan SMK.
C. Peraturan Daerah Provinsi Jambi nomor 4 Tahun 2011
Peraturan Daerah (perda) Provinsi Jambi nomor 4 Tahun 2011 mengatur
tentang Penyelenggaraan Pendidikan. Pada Bab I Pasal 21 dibunyikan pendidik
adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi ecagai guru, dosen, konselor,
pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan lain yang
sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan
pendidikan. Pada

Bab I Pasal 40 dibunyikan bahwa Badan Pengawas dan

Pengendali Mutu Pendidikan Provinsi Jambi adalah badan monitoring,


evaluasidan pengawasan secara mandirui pelaksanaan peraturan daerah tentang
penyelenggaraan pendidikan di Provinsi Jambi.
Dari dua pasal pada Bab I di atas terlihat bahwa Pengawasan sekolah
belum tersentuh sama sekali. Pada Pasal 21 bahkan tidak memasukkan pengawas
sekolah ke dalam ranah pendidik. Padahal, pengawas juga merupakan guru. Bisa
juga ditafsirkan bahw apengawas tidak perlu disebut secara khusus karena ia
adalah seorang guru. Sedangkan dalam pasal 40 tentang Badan Pengawas, yang
dimaksud Badan pengawas dalam pasal itu bukanlah pengawas sekolah, tetapi
semacam LPMP.
Dengan demikian, Perda Provinsi Jambi nomor 4 tahun 2011 ini belum
mengakomodasi eksistensi pengawasan sekolah. Apalagi Perda ini mengatur
secarab umum pendidikan mulai tingkat paling rendah hingga tinggi. Artinya
tidak ada pembahasan khusus tentang pengawas sekolah tingkat SMA/SMK,
apalagi bicara tentang rekrutmennya.
BAB IV
LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS
A. LANDASAN FILOSOFIS
21

Pendidikan berhubungan erat dengan eksistensi suatu bangsa di masa


mendatang. Melalui pendidikanlah, masa depan bangsa Indonesia dipertaruhkan.
Jika bicara level Provinsi, maka pendidikan di Provinsi Jambi saat ini merupakan
modal dalam menentukan eksistensi masayarakat Jambi dalam percaturan di
tingkat nasional, bahkan globa pada masa mendatang. Pendidikan merupakan
kegiatan menyiapkan masa depan suatu bangsa yang bukan hanya harus bertahan
agar tetap eksis, tetapi dalam berbagai dimensi kehidupan pada tataran nasional
maupun internasional dapat mengambil peran secara bermartabat. Pada
hakikatnya pendidikan merupakan bantuan pendidik terhadap peserta didik dalam
bentuk bimbingan, arahan, pembelajaran, pemodelan, latihan, melalui penerapan
berbagai strategi pembelajaran yang mendidik. Pendidikan berlangsung dalam
ruang dan waktu yang dipengaruhi oleh lingkungan fisik, sosial, dan psikologis.
Dalam aktivitas pendidikan terlibat interaksi antara pendidik dan peserta
didik yang secara hakiki tidak berbeda, keduanya dalam proses dinamis untuk
menjadi (on becoming), yaitu pendidikan bertujuan untuk menjadikan manusia
yang utuh sesuai dengan citra keunikannya. Atas dasar landasan filosofis
tersebut, maka dapat ditegaskan bahwa pendidik merupakan agen pembelajaran
yang mempersiapkan peserta didik mencapai pengembangan potensinya secara
optimal.
Di dalam pelaksanaan manajemen, termasuk manajemen pendidikan salah
satu bagian yang ikut menentukan keberhasilan mencapai tujuan, yakni adanya
pengawasan (controlling). Pengawasan pendidikan menengah di Provinsi Jambi
diperlukan sebagai salah satu mata rantai untuk mencapai keberhasilan tujuan
pendidikan di Provinsi Jambi.

B. LANDASAN SOSIOLOGIS
Landasan sosiologis berhubungan dengan perkembangan, kebutuhan, dan
karateristik

masyarakat.

Landasan

sosiologis

pendidikan,

khususnya

22

kepengawasan di sini bermakna bahwa pengawasan dikmen merupakan salah satu


keniscayaan dalam sistem pendidikan menengah.
Masyarakat Provinsi Jambi adalah landasan sosiologis sistem pendidikan,
khususnya pendidikan menengah di Provinsi Jambi. Dari waktu ke waktu
kebutuhan masayarakat akan pendidikan semakin kompleks. Berbagai upaya
dilakukan pemerintah untuk menyesuaikan sistem pendidikan dengan tuntutan
kebutan masayarakat, dunia usaha serta perkembangan teknologi dan informasi.
Perbaikan apapun dalam sistem pendidikan di Povinsi Jambi seyogyanya
tetap demi kepentingan masyarakat secara umum. Kepentingan masyarakat
menjadi prioritas dalam dunia pendidikan.
C. LANDASAN YURIDIS
1. Peraturan Menteri Dalam Negeri

Nomor 1 tahun 2014 tentang

Pembentukan Produk hukum Daerah


2. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintah Daerah
3. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 143 tahun 2014
tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas
Sekolah dan Angka Kreditnya
4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 tahun 2009 tentang
Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan.
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2008 tentang
Guru
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 48tahun 2008 tentang
Pendanaan Pendidikan
7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2007 tentang
Standar Pengawas Sekolah/Madraasah
8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan
9. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen
23

10. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang


Sistem Pendidikan Nasional

BAB V
JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN DAN RUANG LINGKUP
MATERI MUATAN

24

A. Jangkauan Pengaturan
Lingkup atau Jangkauan pengaturan, dalam Rancangan Perda Rekrutmen
Pengawas Dikmen ini, mencakup hal-hal sebagai berikut:

Rekrutmen Pengawas Dikmen

Kualifikasi calon pengawas dikmen

Pendidikan dan Keahlian

Jabatan dan pengalaman kerja

Seleksi Calon Pengawas dikmen

Syarat-syarat Pengawas Dikmen

Tugas Pokok dan Fungsi Pengawas

Kondisi di lapangan

Implikasi penerapan raperda

Dukungan masyarakat

B. Arah Pengaturan
Secara umum, dapat dikatakan bahwa mutu pendidikan di Indonesia masih
rendah. Berbagai penelitian menyatakan hal tersebut.

Rendahnya mutu

pendidikan dapat terlihat baik secara manajerial maupun akademis. Hal ini tentu
tidak luput dari masih rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM), dalam hal ini
adalah Tenaga Pendidik (guru) dan Tenaga kependidikan (TU, pustakawan,
laboran, dan sebagainya).
Dalam mata rantai pendidikan di Indonesia, sebenarnya tenaga pengawas
pendidikan memiliki peranan strategis dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.
Kinerja pengawas berefek kepada kinerja kepala sekolah, kinerja kepala sekolah
berakibat kepada kinerja para guru, kinerja guru berpengaruh pada kualitas
pembelajaran yang bermuara pada kualitas siswa sebagai output. Jika
pengawasnya baik, maka kinerja kepala sekolah pun akan baik. Jika kinerja kepala
sekolah baik, maka kinerja para guru juga baik. Jika kinerja para guru baik, maka
pembelajaran akan baik, dan mutu lulusan meningkat. Secara umum akan
bermuara pada peningkatan mutu pendidikan.
25

Sayangnya, eksistensi kepengawasan di Indonesia umumnya dan di


Provinsi Jambi khususnya masih seakan dipandang sebelah mata. Keberadaannya
seolah antara ada dan tiada. Meskipun ada, penerapan belum sepenuhnya sesuai
dengan regulasi. Pengangkatan pengawas sekolah lebih kepada unsur kedekatan
dengan pengambil kebijakan atau pertimbangan senioritas, yang kadang karena
sudah tua justru malah kurang produktif. Akibatnya, eksistensi kepengawasa
sekolah, terutama SMA/SMK di Provinsi Jambi masih perlu pembenahan di sanasini.
Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan dalam rangka pembenahan
dunia kepengawas dikmen adalah dengan perbaikan rekrutmen pengawas secara
benar, bersih, akuntabel, dan transparan. Oleh karena itu dalam penyusunan
Rancangan Perda tentang Rekrutmen Pengawas Dikmen ini diperlukan ketegasan
dalam merekrut para calon pengawas menjadi pengawas dalam sebuah regulasi.
C. Ruang Lingkup Materi Muatan
Istilah muatan materi diperkenalkan

oleh A.Hamid, SA, pada tahun

1979 dalam tulisannya yang berjudul Materi Muatan Peraturan Perundangundangan, yang kemudian dikembangkan lebih
disertasinya

tahun

1990,

dengan

judul

lanjut dan dimuat dalam

Peranan Keputusan Presiden

Republik Indonesia dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara.


Istilah materi muatan tidak semudah yang

dibayangkan kebanyakan

orang. Kalau istilah peraturan perundang-undangan dengan segala macam


seluk-beluknya barangkali para ahli hukum Tata

Negara sudah banyak

membicarakannya dan membahasnya. Meskipun hingga kini pun belum ada


kesepahaman mengenai peraturan perundang-undangan,
tidak,

para

ahli perundang-undangan

namun

paling

telah mengeluarkan berbagai teori.

Misalnya teori undang-undang dalam artian formal.


Istilah

materi

muatan

merupakan

terjemahan

dari

kalimat

net eigenaardig onderwerp der wet te omscrijven dari Torbecke dalam Met
Wetsbegrip in Nederland, 1966, hal.47, karangan Bohtlink/Logemann, yaitu: De
Grondwet ontleent het begrip van wet enkel van den persoon, die haarmaakt. Zij
26

heeft de vraag opengelaten, wat moet bij ons door eene wet, eneat kan op eene
andere wijze warden vastgesteld ? Even als andere Grondwetten, heeft zij zich
onthouden het eigenaardig onderwerp der wette omschrijven.
Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI
1945)

meminjam pemahaman tentang Undang-Undang (UU), hanyalah dari

sudut pejabat atau lembaga yang membentuknya. Undang Undang Dasar (UUD),
membiarkan pertanyaan terbuka mengenai apa yang di negara kita, harus
ditetapkan dengan Undang Undang dan apa yang boleh di ditetapkan dengan cara
lain.
Demikian

pula

ilmu

hukum

tata

usaha

negara

telah

banyak

mempersoalkan kaidah-kaidah bagi teknik dan proses pembentukan berbagai jenis


peraturan perundang-undangan. Namun demikian, menurut A. Hamid, SA
keduanya belum menyinggung secara mendalam dan membiarkannya tanpa
kejernihan mengenai rnasalah materi muatan peraturan perundang-undangan
yang semestinya dirnuat dalam tiap jenis peraturan perundang-undangan.
Mengenai

apa

yang

harus

dimuat

dalam

suatu

jenis

peraturan

perundang-undangan baru, A. Hamid, SA, yang mengeluarkan teorinya secara


signifikan pada tahun 1979, dan sebagai konseptor materi muatan, mengatakan
bahwa berdasarkan UUD 1945 (sebelum amandemen) ada 18 hal (butir) yang
secara tegas-tegas diperintahkan oleh UUD 1945.
Akan

tetapi,

sesudah

terjadinya

Perubahan

Pertama

UUD

1945,

Perubahan Kedua UUD 1945, Perubahan Ketiga UUD 1945, dan Perubahan
Keempat UUD 1945 (SIUM MPR 1999, ST MPR 2000, ST MPR 2001, dan ST
MPR 2002), yang secara tegas-tegas harus diatur lebih lanjut dengan undangundang menjadi kurang lebih 40 hal (butir) yaitu:
Pasal2ayat (1), Pasal 6 ayat (2), Pasal 6A ayat (5), Pasal 11 ayat (3), Pasal 12,
Pasal 15, Pasal 16, Pasal 17 ayat (4), Pasal 18 ayat (1), Pasal 18 ayat (7), Pasal
18A ayat (1), Pasal ISA ayat (2), Pasal 18B ayat (1), Pasal 18B ayat (2), Pasal 19
ayat (2), Pasal 20A ayat (4), Pasal 22A, Pasal 22B, Pasal 22C ayat (4), Pasal 22D
ayat (4), Pasal 22E ayat (6), Pasal 23A, Pasal 23B, Pasal 23C, Pasc, 23D, Pasal
23E ayat (3), Pasal 23G ayat (2), Pasal 24 ayat (3), Pasal 24A ayat(1), Pasal 24A
27

ayat (5), Pasal 24B ayat (4), asal 24C ayat (6), Pasal 25, Pasal 25A, Pasal 26 ayat
(3), Pasal 281 ayat (5), Pasal 30 ayat (5), Pasal 31 ayat (3), & Pasal 33 ayat (5),
Pasal 34 ayat (4), dan Pasal 36C.
Hal-hal lain yang harus diatur dengan undang-undang adalah yang
berkaitan
hukum

dengan asas

konstitusionalisme dan asas

(rechtsstaat). Di samping

itu,

hal-hal

negara berdasar atas


yang

membebani

masyarakat, mengurangi kebebasan orang atau yang berkaitan dengan HAM, juga
merupakan materi muatan undang-undang.
Apabila ke-40 hal tersebut yang perlu diatur atau ditetapkan dengan undangundang dirinci, maka

kita akan mendapatkan muatan undang-undang yang

materi-materinya dapat dirumuskan sebagai berikut:


Yang secara tegas diperintahkan oleh UUD untuk diatur dengan UU;
Yang mengatur lebih lanjut ketentuan-ketentuan UUD dan TAP MPR;
Yang mengatur HAM penduduk, terlepas dari kedudukannya sebagai warga
negara atau bukan;
Yang mengatur hak dan kewajiban warga negara;
Yang mengatur pembagian kekuasaan negara, termasuk kekuasaan peradilan dan
hakim yang bebas;
Yang mengatur organisasi pokok lembaga-lembaga negara;
Yang mengatur pembagian daerah negara atas daerah besar dan kecil;
Yang mengatur siapa warga negara dan

cara memperoleh atau kehilangan

kewarganegaraan;
Hal-hal lain yang oleh ketentuan

suatu

undang-undang,

ditetapkan untuk

diatur tebih lanjut dengan undang-undang lain


Yang mengatur lebih lanjut tentang tata cara pembentukan undang-undang (vide
Pasal 22A, UUD 1945 baru).
Menurut A. Hamid, SA dari apa yang tercantum diatas ternyata materi
muatan dalam hurut c, kemudian h, ialah yang paling luas, karena di
dalamnya termasuk hal-hal yang menyangkut pengaturan disertai sanksi pidana,
pencabutan hak milik, dan sebagainya yang berkaitan denganterganggu-nya
hak-hak asasi (HAM), dan hak-hak warganegara.
28

Khusus

mengenai

undang-undang dalam

arti formal yang

tidak

memuat materi peraturan seperti pengesahan perjanjian dan juga penetapan


anggaran pendapatan dan belanja negara, haruslah diakui bahwa karena sifatnya
itu, maka tidak diperlukan lagi adanya pengaturan lebih lanjut, baik dengan
Peraturan Pemerintah maupun dengan Keputusan Presiden, sedangkan Materi
muatan Perpu adalah sama dengan undang-undang.
Berdasarkan ajaran A. Hamid SA tentang materi muatan maupun
berdasarkan ketentuan Pasal

10 UU No. 12 Tahun 2011, maka masalah

rekrutmen pengawas dikmen di Provinsi Jambi, merupakan salah satu materi


muatan undang-undang ini.
Selanjutnya, mengenai ruang lingkup Materi Muatan, pada dasarnya
mencakup:
1. Ketentuan Umum
Dalam ketentuan umum ini, memuat rumusan akademik mengenai
pengertian istilah, yaitu;
Istilah, adalah kata atau frasa yang dipakai sebagai nama/lambang, yang
mengungkapkan makna, konsep, proses, keadaan, atau sitat yang khas dalam
bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Frasa, adalah satuan linguistik yang lebih besar dari kata, dan lebih kecil
dari klausa, dan kalimat. Frasa berarti juga kumpulan kata non predikat.

2. Materi Muatan Yang Akan Diatur;


Sebagaimana diuraikan di atas, maka materi muatan atau substansi yang
berkaitan dengan Raperda Rekrutmen Pengawas Dikmen meliputi, antara lain:
a.

Rekrutmen Pengawas Dikmen


Norma yang dapat dibuat :
pengkajian dan penyusunan kebijakan daerah di bidang rekrutmen

kenegawasan Dikmen di Provinsi Jambi; Sosialisasi dan implementasi di satuan


pendidikan di seluruh Provinsi Jambi.
b. Ruang lingkup;
Norma yang dapat dibuat :
29

Rekrutmen pengawas dikmen berlaku di seluruh wilayah Provinsi Jambi


pada pendidikan setingkat SMA/SMK.
Norma yang dapat dibuat :
Syarat-syarat pengawas dikmen
Kualifikasi calon Pengawas dikmen
Seleksi calon pengawas dikmen
Tugas pokok dan fungsi pengawas dikmen
c.

Pengawasan Implementasi Rekrutmen Pengawas Dikmen


Norma yang dapat dibuat :
Melakukan penyelidikan atas kebenaran laporan serta keterangan tentang

adanya malpraktik rekrutmen pengawas dikmen.


e. Peran serta masyarakat
Norma-norma yang dapat dibuat antara lain adalah:
1) Setiap guru, warga negara atau kelompok masyarakat, kepala sekolah, lembaga
swadaya masyarakat (LSM), organisasi

kemasyarakatan , media massa dapat

berperan serta secara aktif untuk memberikan masukan sekaligus pengawasan


terhadap implementasi rekrutmen pengawas dikmen Provinsi Jambi.
2) Masyarakat,

termasuk

organisasi

sosial

kemasyarakatan,

dapat

melakukan gugatan publik, atau gugatan perwakilan kelompok (class action), hak
gugat LSM (legal standing), dan gugatan oleh warga negara (citizen law suit),
terhadap pelanggaran terhadap Perda ini;
3) Masyarakat, termasuk organisasi sosial kemasyarakatan dapat melakukan
laporan dan pengaduan atas pelanggaran Perda ini.
4)

Masyarakat,

termasuk

organisasi

sosial

kemasyarakatan

dapat

memberikan informasi atas pelanggaran Perda ini.

f. Ketentuan Peralihan
Ketentuan Peralihan adalah salah satu ketentuan dalam

peraturan

perundang-undangan yang rumusannya dapat didefinisikan ketika diperlukan


atau jika diperlukan. Definisi ini berarti bahwa tidak semua peraturan perundangundangan memiliki Ketentuan Peralihan (Transitional Provision). Substansinya
30

bahwa Ketentuan Peralihan diperlukan untuk mencegah kondisi kekosongan


hukum akibat perubahan ketentuan dalam perundang-undangan.
Khusus untuk pembentukan Peraturan Daerah Provinsi Jambi

tentang

Rekrutmen Pengawas Dikmen ini, tidak diperlukan adanya Ketentuan Peralihan.


Namun pengusul juga membuka diri, kalau memang nanti di dalam pembahasan
Rancangan Peraturan Daerah tentang Rekrutmen Pengawas Dikmen ini
diperlukan adanya Ketentuan Peralihan.

BAB VI
PENUTUP

31

Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang ,


Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, di Bab Penutup ini, diuraikan juga
tentang Subbab mengenai Kesimpulan dan Subbab Saran.
A. Kesimpulan
1. Rendahnya mutu pendidikan di Provinsi Jambi menghendaki perubahan
dalam pengelolaan pendidikan, salah satunya dengan revitalisasi peran
pengawas sekolah yang dimualai dari rekrutmen pengawas secara benar,
transparan, dan akuntabel.
2. UU nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah akan diberlakukan
mulai 1 Januari 2017 dimana salah satu butirnya adalah pengalihan
Pendidikan Menengah (SMA/SMK) dari kabupaten/kota ke provinsi.
Konsekuensinya adalah diperlukannya sebuah regulasi tentang dikmen di
tingkat provinsi, terutama rekrutmen pengawas dikmen.
B. Saran
1. Agar Naskah Akademik ini menjadi salah satu rujuan dalam pembahasan
Perda Rekrutmen Pengawas Dikmen di DPRD Provinsi jambi dengan
Pemerintah Provinsi Jambi.
2. Perda yang telah disahkan harus dimplementasikan secara benar di seluruh
wilayah Provinsi Jambi.
3. Masayarat, guru, organisasi kemasyarakat, media massa agar proaktif ikut
terlibat dalam pengawasan implementasi Perda dengan cara melaporkan jika
melihat terjadinya malpraktik rekrutmen pengawas dikmen di Provinsi
Jambi.

DAFTAR PUSATAKA

32

Aedi, Nur. 2014. Pengaawasan Pendidikan: Tinjauan Teori dan Praktik. Jakarta :
Rajawali Press
Attamimi, A. Hamid S. 1979. Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan
majalah Hukumdan Pembangunan
Bell, Les. 1992. Managing Teams in Scondary Schools. New York : Routledge
Peraturan Daerah Provinsi Jambi nomor 4 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan
Pendidikan
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 143 tahun 2014 tentang
Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan
angka Kreditnya
Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru
Pidarta, Made. 2011. Manajemen Pendidikan. Jakarta : Bina Aksara
Simamora, Hendry. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia, edisi 3. Yogyakarta
: STIE YKPN
Sutisna, Oteng. 1989. Administrasi Pendidikan. Bandung : Angkasa
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan
Undang undang nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah

33