Anda di halaman 1dari 45

PT.

PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

MATERI PELAJARAN NO. 11


PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -191/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

11. PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN


11.1. Beberapa pengertian/definisi
Pengertian Pertolongan Pertama
Pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau cedera/kecelakaan yang
memerlukan penanganan medis dasar.
Pengertian Dasar Medis.
Tindakan perawatan berdasarkan ilmu kedokteran yang dimiliki oleh orang awam
atau orang awam yang terlatih secara khusus. Batasannya adalah sesuai dengan
sertifikat yang dimiliki oleh Pelaku Pertolongan Pertama.
Pelaku Pertolongan Pertama
Pelaku Pertolongan Pertama adalah penolong yang pertama kali tiba di tempat
kejadian yang memiliki kemampuan dan terlatih dalam penanganan medis dasar.

11.2. Tujuan Pertolongan Pertama


a. Menyelamatkan jiwa penderita
b. Mencegah cacat
c. Memberikan rasa aman dan menunjang proses penyembuhan

11.3. Dasar Hukum


Diatur dalam KUHAP (Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana) yaitu mengenai
Pelanggaran tentang orang yang perlu ditolong, diatur dalam Pasal 531 KUHAP yang
berbunyi :
Barang siapa menyaksikan sendiri ada orang di dalam keadaan bahaya maut, lalai
memberikan atau mengadakan pertolongan kepadanya, sedang pertolongan itu
dapat diberikan atau diadakannya dengan tidak akan mengkhawatirkan, bahwa ia
sendiri atau orang lain akan kena bahaya dihukum kurungan selama-lamanya tiga
bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 4.500,- Jika orang perlu ditolong itu
mati, diancam dengan KUHAP 45, 165, 187, 304, 478, 525, 566

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -192/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Catatan Implementasi di Lapangan :


Pasal ini berlaku, apabila Pelaku Pertolongan Pertama dapat melakukan tanpa
membahayakan keselamatan dirinya dan orang lain.
Kerahasiaan Medis Penderita
Diatur dalam Pasal 322 KUHAP yang berbunyi :
1. Barang

siapa

dengan

sengaja

membuka

sesuatu

rahasia

yang

wajib

menyimpannya oleh karena jabatan atau pekerjaannya baik yang sekarang


maupun yang dahulu, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya sembilan
bulan atau dengan denda sebanyak-banyaknya Rp. 9.000,2. Jika kejahatan itu dilakukan dengan cara tertentu, maka perbuatan itu hanya
dapat dituntut atas pengaduan orang itu.
Persetujuan Tindakan Pertolongan
Ada 2 (dua) bentuk persetujuan antara lain :
a. Persetujuan yang dianggap diberikan, tersirat (Implied Consent)
b. Persetujuan yang dinyatakan (Expressed Consent)
Persetujuan diberikan : penderita dalam keadaan sadar memberikan isyarat yang
mengizinkan tindakan pertolongan dilakukan atas dirinya. Dan dalam keadaan gawat
darurat (emergency) yaitu penderita dalam keadaan tidak sadar.
Persetujuan yang dinyatakan : Persetujuan dinyatakan dalam secara lisan atau
secara tertulis oleh penderita (tertulis).
Dasar Hukum PMI
PMI dapat menyelenggarakan Pertolongan Pertama, pelatihan dan Pos Pertolongan
Pertama diatur dalam peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 023/Birhub/1972
Kewajiban Pelaku Pertolongan Pertama
a. Menjaga keselamatan diri, anggota tim, penderita dan orang sekitarnya
b. Dapat menjangkau penderita
c. Dapat mengenali masalah
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -193/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

d. Meminta bantuan/rujukan
e. Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat
f.

Membantu Pelaku Pertolongan Pertama

g. Ikut menjaga kerahasiaan medis penderita


Kualifikasi Pelaku Pertolongan Pertama
a. Jujur dan bertanggung jawab
b. Berlaku professional
c. Kematangan emosi
d. Kemampuan bersosialisasi
e. Kondisi fisik baik
f.

Mempunyai rasa bangga

Peralatan Dasar Pelaku Pertolongan Pertama (PP)


Peralatan Dasar yang dipergunakan oleh pelaku PP disebut Alat Perlindungan Diri
(APD)
Prinsip menghadapi darah dan cairan tubuh antara lain darah dan semua cairan
tubuh sebagai media penularan penyakit (Hepatitis, TBC, HIV/AIDS)
Beberapa APD yang digunakan antara lain :
1. Sarung tangan karet
2. Kacamata pelindung
3. Masker penolong
4. Masker Resusitasi
5. Helm
6. Rompi pelindung
Peralatan Pertolongan Pertama
a. Penutup muka (kassa steril, bantalan kasa)
b. Pembalut (verban, mitella, plester)
c. Cairan antiseptic (Alkohol 70 %, Betadine)
d. Cairan pembersih (Boorwater)
e. Peralatan Stabilitasi (bidai, spinal panjang)
f.

Gunting pembalut

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -194/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

g. Pinset
h. Senter
i.

Stateskop Tensimeter, Neck Collar, tandu

11.4. Penilaian
11.4.1. Penilaian keadaan
a. Bagaimana kondisi sesuatu ?
b. Kemungkinan apa saja yang akan terjadi ?
c. Bagaimana mengatasinya ?

11.4.2. Penilaian dini


a. Kesan Umum (penentuan kasus Trauma dan Medis)
b. Pemeriksaan respon (Awas Suara Nyeri Tidak respon)
c. Memastikan jalan nafas terbuka
-

Teknik angkat dagu tekan dahi (pasien respon)

Teknik pendorongan rahang bawah (pasien tidak respon)

d. Menilai pernafasan (Lihat Dengar Rasakan selama 3-5 detik)


e. Menilai sirkulasi selama 5 10 detik dan menghentikan pendarahan hebat

f.

Memeriksa nadi radial / pergelangan tangan (dewasa ada respon)

Memeriksa nadi brakial / bagian dalam lengan atas (bayi ada respon)

Memeriksa nadi karotis / leher (dewasa tidak ada respon)

Memeriksa nadi brakial (bayi tidak ada respon)

Menghubungi bantuan
Mintalah bantuan kepada orang lain untuk melakukannya atau lakukan sendiri

11.4.3.

Pemeriksaan fisik

a. Penilaian Terarah
Tujuan : agar penolong dapat melaksanakan penatalaksanaan yang terbaik
sesuai dengan keadaan yang dihadapi (sikap profesional)
Kasus trauma

: Tanda pada umumnya terlihat dengan jelas dan teraba kecuali


penderita mengalami cidera bagian tubuh
Teliti kasusnya dengan signifikan atau tidak signifikan

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -195/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Kasus medis

11. P3K

Berupa gejala yang dirasakan oleh penderita dengan

wawancara untuk menentukan riwayat penderita.


Teliti kasusnya berdasarkan ada tidaknya respon perderita dan pemeriksaan vital.
b. Prinsip pemeriksaan fisik ada dua hal, yaitu :
1.

Pemeriksaan yang meliputi seluruh tubuh penderita dengan tujuan


menemukan berbagai tanda.

2.

Pemeriksaan fisik dilakukan sistematis dan berurutan dari ujung kepala


sampai ujung kaki.

Teknik pemeriksaan fisik : LIHAT, BANDINGKAN, DAN RABA


Tindakan yang melibatkan panca indera kita berupa :
a. Penglihatan (inspeksi)
b. Perabaan (palpasi)
c. Pendengaran (auskultasi)
Pada penderita cedera, harus dicari adanya :
1. Perubahan bentuk (P)
2. Luka terbuka

(L)

3. Nyeri tekan

(N)

4. Bengkak

(B)

Urutan pemeriksaan fisik antara lain :


Kepala (kulit kepala, tulang tengkorak, tulang wajah, telinga, hidung, mata, mulut),
leher, dada, perut, punggung, anggota gerak atas dan bawah.
Periksa tanda vital pada penderita.
Tanda Vital
Parameter yang digunakan dalam dua tanda vital adalah :
1. Denyut Nadi Normal (Jam tangan selama 15 detik)
-

Bayi

: 120 - 150 kali/menit

Anak

: 80 - 150 kali/menit

Dewasa

: 60 - 90 kali/menit

2. Frekuensi Pernafasan Normal (Jam tangan selama 30 detik)


Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -196/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Bayi

: 25 - 50 kali/menit

Anak

: 15 - 30 kali/menit

Dewasa

11. P3K

: 12 - 20 kali/menit

3. Suhu Tubuh Normal : 37 derajat celcius (Thermometer dan perabaaan dengan


punggung tangan)
4. Tekanan Darah Normal (Tensimeter dan Stetoskop)
-

Sistolik : 100 140 mmHg

Diastolik : 60 90 mmHg

5. Kulit (lembab, kering, berkeringat)

11.4.4. Riwayat penderita


Wawancara dengan penderita, keluarga atau saksi mata terutama kasus medis
Untuk memudahkan, dikenal dengan akronim K O M P A K
K : Keluhan Utama (Gejala dan tanda)
O : Obat-obatan yang diminum
M : Makanan / minuman terakhir
P : Penyakit yang diderita
A : Alergi yang dialami
K : Kejadian

11.4.5. Pemeriksaan berkala atau lanjut


Penanggulangan pemeriksaan dari awal sebelum petugas medis datang ke lokasi
kejadian.
Secara umum lakukan pemeriksaan berkala meliputi :
-

Keadaan respon

Nilai kembali jalan nafas, perbaiki jika perlu

Nilai kembali pernafasan, frekuensi dan kualitasnya

Periksa kembali nadi penderita

Nilai kembali keadaan kulit : suhu, kelembaban dan kondisinya dari ujung
kepala sampai kaki

Periksa kembali secara seksama

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -197/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Periksa kembali ketatalaksanaan penderita (pembalutan, pendarahan, dan


pembidaian)

Periksa selalu tanda vital, cacat setiap perubahan yang terjadi.

11.4.6. Pelaporan
Setiap tindakan dan pemeriksaan harus dicatat secara singkat dan jelas dan
sebagai bahan rujukan.
Dalam laporan sebaiknya dicatat antara lain :
-

Umur dan jenis kelamin penderita

Keluhan utama

Tingkat respon

Keadaan jalan nafas

Pernafasan

Sirkulasi

Pemeriksaan fisik yang penting

KOMPAK yang penting

Pentatalaksanaan pertolongan

Perkembangan lain yang penting

11.5. Luka bakar


Penyebab
-

Thermal (suhu > 60 derajat Celcius)

Kimia (asam/basa kuat)

Radiasi

Pertolongan luka bakar


1. Luka bakar derajat satu (permukaan)
Ciri-cirinya :
-

Warna kemerahan, nyeri dan bengkak

Lapisan kulit paling atas (kulit ari)

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -198/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

2. Luka bakar derajat dua (sedikit lebih kedalam)


Ciri-cirinya :
-

Lapisan kulit yang rusak dan lapisan dibawahnya terganggu

Adanya gelembung berisi cairan, bengkak, kulit kemerahan, lembab danrusak

3. Luka bakar derajat tiga (ke dalam jaringan tulang)


Ciri-cirinya :
-

Lapisan yang kena tidak terbatas, bahkan dapat sampai ke tulang dan
organ

Warna kulit hitam dan gosong, kulit tampak kering, pucat

Mati rasa karena kerusakan syaraf

Tidak menimbulkan rasa nyeri

Luas permukaan tubuh


Penanganan dan penentuan derajat luka bakar luas permukaan tubuh yang
mengalami luka bakar sangat berperan.
Pedoman untuk mengetahui luas daerah yang terbakar dilakukan dengan Hukum
Sembilan yaitu membagi daerah tubuh dengan prosentase 9 (sembilan) perdaerah
tubuh
Hukum Sembilan Pada Dewasa
DAERAH TUBUH
1. Kepala
2. Badan bagian depan atas
3. Badan bagian depan bawah
4. Badan bagian belakang atas
5. Badan bagian belakang bawah
6. Lengan kiri
7. Lengan kanan
8. Tungkai kanan bagian depan
9. Tungkai kanan bagian belakang
10. Tungkai kiri bagian depan
11. Tungkai kiri bagian belakang
12. Kemaluan

9%
9%
9%
9%
9%
9%
9%
9%
9%
9%
9%
9%

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -199/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Hukum Sembilan Pada Anak-anak


DAERAH TUBUH
1. Kepala
2. Badan bagian depan atas
3. Badan bagian depan bawah
4. Badan bagian belakang atas
5. Badan bagian belakang bawah
6. Lengan kanan depan
7. Lengan kanan belakang
8. Lengan kiri depan
9. Lengan kiri belakang
10. Tungkai kanan bagian depan
11. Tungkai kanan bagian belakang
12. Tungkai kiri bagian depan
13. Kemaluan

18 %
9%
9%
9%
9%
4,5 %
4,5 %
4,5 %
4,5 %
7%
7%
7 %
7%

Kategori luka bakar


1. Luka bakar ringan
-

Tidak mengenai wajah, tangan, kaki, sendi, kemaluan, atau saluran nafas

Luka bakar derajat tiga < dari 2 % luas permukaan tubuh

Luka bakar derajat dua < dari 15 % luas permukaan tubuh

Luka bakar derajat satu < dari 50 % luas permukaan tubuh

Luka bakar derajat dua < dari 10 % luas permukaan tubuh

2. Luka bakar sedang


-

Tidak mengenai wajah, tangan, sendi, kemaluan, dan saluran nafas

Luka bakar derajat tiga antara 2 % - 10 % luas permukaan tubuh

Luka bakar derajat dua antara 15 % - 30 % luas permukaan tubuh

Luka bakar derajat satu > dari 50 % luas permukaan tubuh

3. Luka bakar berat


-

Luka bakar disertai cedera saluran nafas

Luka bakar derajat tiga pada wajah, tangan, kaki, sendi, kemaluan dan

saluran nafas
-

Luka bakar derajat tiga diatas 10 % luas permukaan tubuh

Luka bakar derajat dua lebih dari 30 % luas permukaan tubuh

Luka bakar disertai nyeri, bengkak serta perubahan bentuk alat gerak

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -200/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Luka bakar meliputi satu bagian tubuh seperti lengan, tungkai dan dada

Semua luka derajat tiga > 20 % pada anak-anak dapat mengakibatkan syok

Luka bakar dua seluas 20 % pada luka bakar pada orang dewasa dapat
mengakibatkan syok

Luka bakar derajat dua seluas 10 % pada anak-anak dapat

mengakibatkan syok
Beberapa hal yang harus diperhatikan !
1. Luka bakar yang disebabkan listrik dan kimia
2. Daerah wajah yang terkena : wajah, tangan dan kaki, kemaluan, bokong, paha
bagian dalam, sendi (cacat tubuh)
3. Usia kurang dari lima tahun atau lebih dari 55 tahun, dianggap berat
Penanganan luka bakar

Nilai keamanan tempat kejadian dan keselamatan penolong *

Hentikan proses luka bakarnya (alirkan air dingin)

Lepaskan pakaian dan perhiasan kecuali melekat pada tubuh

Tentukan derajat berat luka bakar selama pemeriksaan fisik

Hitung derajat luka bakar selama pemeriksaan fisik

Hitung derajat luka, luas permukaan tubuh, lokasi luka dan faktor komplikasi dan
kemungkinan cedera lain.

Tutup luka bakar (kasa steril), jangan gunakan lemak, salep cairan antiseptik dan
es

Jagalah kehangatan tubuh pasien

Rujuk ke rumah sakit

Penanganan luka bakar serius


1. Luka Bakar Kimia
Nilai keamanan tempat kejadian dan keselamatan diri penolong * Segera
siram dengan air sebanyak-banyaknya > 20 menit
Jangan menyirami bahan kimia yang beraksi kuat dengan air misalnya kaustik
soda
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -201/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Bila mengenai mata, siram dengan air mengalir dan lepaskan lensa kontak
Minimalkan kontaminasi lanjut dengan aliran air
2. Luka Bakar Listrik
Luka bakar listrik yang harus diwaspadai adalah terjadinya henti nafas dan henti
jantung, serta kerusakan jaringan syaraf dan organ dalam.
Gejala dan tanda syok listrik antara lain :
a. Perubahan status mental dan respon
b. Tampak luka bakar berat
c. Pernafasan dangkal, tidak teratur atau tidak ada
d. Denyut nadi lemah
e. Patah tulang majemuk karena kontraksi otot
Penanganan luka bakar listrik
a. Nilai keamanan tempat kejadian dan keselamatan diri penolong
b. Lakukan penilaian dini
c. Periksa dan cari luka bakar di daerah listrik masuk dan keluar
d. Atasi syok, bila ada
e. Lakukan RJP jika diperlukan
f. Rujuk ke RS terdekat
3. Luka bakar Inhalasi
Luka bakar yang terjadi karena menghirup udara panas, asap atau bahan racun
yang masuk ke ruangan nafas.
Gejala dan tanda antara lain :
a. Bulu hidung hangus terbakar
b. Luka bakar pada wajah
c. Butir arang karbon dalam cairan ludah
d. Bau asap pada pernafasan
e. Kesukaran bernafas
f. Pernafasan berbunyi
g. Serak,batuk dan sukar bicara
h. Kulit kebiruan
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -202/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

i. Gerakan dada terbatas


Penanganan luka bakar inhalasi
Nilai keamanan tempat dan keselamatan penolong.
Pindahkan penderita ke tempat yang aman.
Berikan oksigen, oksigen yang dilembabkan.
Penilaian dini terutama jalan nafas.
Lakukan pernafasan buatan.
Hati-hati pemberian oksigen di daerah kebakaran, pastikan penderita sudah
aman untuk mencegah reaksi antara api dan oksigen.

11.6. Balut- membalut (verbandleer)


I. Balut membalut
1. Macam pembalut
-

Kain segitiga (mitella)

Plester (Kleefpleister)

Pembalut pita biasa (Zwachtel)

2. Guna pembalut
Untuk penutup :
-

Supaya jangan kena cahaya

Supaya jangan kena debu atau kotoran

II. Macam-macam Pembalut


1. Kain segitiga
Kain segitiga dibuat dari kain putih yang tidak berkapur (mori), kelihatannya
tipis, sifatnya lemas, dan keadaanya kuat.
Cara menggunakan kain segitiga :
-

Dilebarkan :
Untuk membalut anggota badan yang berbentuk tangan, untuk pembalut
atau pembungkus : dada, panggul, punggung, perut, kaki, dan tangan.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -203/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Cara dilipat-lipat menyerupai dasi panjang


Dipergunakan untuk pembalut anggota yang bundar (circle) bulat panjang
(cylinder, bulat panjang lonjong (kegel) dan persendian.

Cara yang dibelah setengah dari tingginya.


Kain segitiga yang dinamakan Plantenga. Digunakan istimewa untuk
membalut mammae, selain itu untuk membalut punggung dan pinggul.

Cara dilipat-lipat dari alas sampai setengah tingginya.


Digunakan untuk membalut persendian

Cara dibelah kiri-kanan sejajar dengan alas.


Digunakan untuk bermacam-macam Funda.

Cara menyimpulkan kain segitiga ada 2 macam :


1. Simpul laki-laki
Simpul ini mempunyai bentuk rata dan ceper, akibatnya tidak menekan
pada kulit.
2. Simpul perempuan
Simpul macam ini berbentuk bulat sehingga menekan pada kulit.
2. Plester (Kleefpleister)
Pembalut pita bergetah ini digunakan untuk :
-

Perekatan kain kassa yang dilipat pada kulit


Kalau ada luka-luka kecil yang tidak banyak mengeluarkan darah, atau
ulcus dan bisul. Sesudah dipakaikan obat lalu ditutup dengan kassa yang
dilipat, lalu direkatkan pada kulit dengan plester.

Balutan penarik
Kalau ada tulang yang patah, kadang dipasang balutan penarik. Selain
untuk patah dipakai untuk sendi yang menderita coccitis (radang sendi
paha)

dan

gonitis

(radang

sendi

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -204/306

lutut).

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Untuk fiksasi
Untuk patah tulang costa yang menembus kulit, biasanya direkatkan
plester mulai dari tulang punggung melalui costa yang patah sampai
sernum.

Untuk Beunton.
Apabila ada luka lama atau ulcus yang lebar jarak antara kedua
pinggirnya, dipasang beunton. Maksudnya supaya kedua belah pinggir
luka itu, lekas menjadi rapat atau lekas tertutup. Cara demikian dipakai
juga bila ada hernia di pusar anak kecil.

3. Pembalut pita biasa (Zwachtel)


Pembalut pita biasa terdiri atas bermacam-macam bahan. Tiap bahan
dipergunakan untuk keperluan yang berbeda.
a. Pembalut kain kassa
Tipis dan jarang : untuk luka sederhana, pembalut basah, pembalut ulcus,
bahan pembuat pembalut gips.
b. Pembalut Cambrics
Serupa dengan pembalut kain kassa, bedanya benangnya lebih kasar dan
tebal. Penggunaannya sama dengan kain kassa.
c. Pembalut kain kassa bertajin (stiifsel-verband)
Dibuat dari kain kassa tapi mengandung tajin, oleh sebab itu jadi kaku.
Kalau hendak dipakai pembalut ini direndam dulu dalam air hangat,
sesudah basah lalu diperas, gunanya supaya tajin jadi lengket. Dipakai
untuk memperbaiki curcular gips yang sudah mulai rusak.
d. Pembalut katun.
Dipakai untuk P3K. Juga dapat digunakan untuk pembalut, penekan, dan
balutan penarik, tetapi hasilnya kurang memuaskan.
e. Pembalut flanel
Untuk balutan penekan, balutan penarik dan P3K.
f. Pembalut ideal

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -205/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Rupanya seperti kaus, sifatnya elastis. Dipakai untuk balutan penekan,


teristimewa kalau ada haematom juga dipakai untuk pembalut amputatie
dan trepanatie.
g. Pembalut Tricot
Rupanya seperti kaus, agak elastis ditengahnya terbuka. Dipakai untuk
pembalut amputatie, trepanatie, dan untuk membuat ranselverband.
h. Pembalut cepat (snelverband)
Pembalut cepat dari pabrik sudah dibuat steril. Biasanya dipakai untuk
P3K
i. Pembalut Gips
Dibuat untuk pembalut kain kassa yang telah dibubuhi tepung gips
diatasnya, lalu digulung. Menggulung pembalut gips harus agak longgar
supaya air mudah masuk dalam gulungan, waktu direndam dalam air
hangat bila hendak dipakai.
Pembalut gips dipakai untuk pengobatan lebih lanjut, jika ada tulang yang
patah terutama tangan dan kaki. Tujuannya untuk fiksasi tulang yang
patah atau sendi yang meradang.
j. Pembalut Martine
Terbuat dari karet, oleh sebab itu sangat elastis. Dipakai untuk balutan
keras (afbinding) dan balutan setengah keras

(stuwing). Dinamakan

menurut nama dokter yang pertama membuatnya.

III. Cara menggunakan kain segitiga.


1.

Membalut kepala cara capitum parvum triangulare


Letakkan kain segitiga di atas kepala dengan sudut puncak menutupi
hidung. Pinggir alas dilipat-lipat, sampai lipatan itu terletak rapat di belakang
kepala. Ujung kiri dan kanan ditarik ke muka melalui pangkal kuping sebelah
atas, kemudian disimpulkan di atas dahi, mendidih ujung puncak tadi.
Pinggir kiri dan kanan ditarik-tarik supaya licin dan rata. Kemudian ujung
sudut puncak yang menutupi hidung tadi ditarik ke atas kepala lalu dipeniti.
Guna balutan ini adalah untuk pembungkus kepala bila ada luka kecil, juga
untuk membungkus kepala bagian wanita, bila akan dioperasi.

2. Membalut kepala cara Fascia Nadosa (pospakket)


Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -206/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Guna balutan ini adalah untuk pertolongan pertama bila di bagian pelipis
terdapat luka yang mengeluarkan darah.
Luka ditutup dengan bahan steril lalu ditutup dengan kapas. Di atas tersebut
diletakkan sepotong kayu gabus, setelah itu kain segitiga yang telah dilipat
diletakkan di bawah dagu kemudian kedua ujungnya ditarik ke atas melalui
muka kuping. Ujung yang satu melalui daerah tulang pelipis yang tidak sakit,
terus ke atas kepala, turun ke bagian tulang pelipis yang sakit di atas kayu
gabus tadi. Kemudian kedua ujung kain segitiga disilangkan sehingga satu
dari ujung kain segitiga tadi menuju ke dahi dan satu lagi menuju ke
belakang kepala. Kedua ujungnya dipertemukan di bagian tulang pelipis
yang tidak sakit lalu disimpulkan tepat di atas kain balutan yang pertama.
Perlunya disilangkan lagi di atas kayu gabus tadi supaya kayu tadi lebih
keras menekan pada luka itu sehingga darah tidak keluar lagi.
Fascia Nadosa ini dapat dipakai pula untuk fiksasi sendi rahang, untuk
membalut kuping, atau untuk membalut kompres basah dari luar pada orang
sakit gigi.
3. Funda
Funda terdiri dari kain segitiga, sisi kaki kiri dan kanannya dibelah kira-kira
6-10 cm, lebarnya dari sisi alas di sebelah masing-masing 1/3 dari panjang
sisi alas.
Pengunaan funda :
-

Membalut dagu secara funda maxillae

Membalut hidung secara funda nasi

Membalut dahi secara funda frontis

Membalut belakang kepala (funda occipitis)

Membalut tumit (funda calcenei)

4. Membalut dada
Kain segitiga yang dipakai untuk pembalut dada biasanya dilebarkan saja.
Gunanya untuk menutup luka atau ulcus yang sudah diobati.
Ujung puncak kain segitiga harus terletak di atas bahu, sisi alas dari kain
segitiga dirapatkan pada bagian antara perut dengan dada. Sedangkan
kedua ujung sudut alas masing-masing ditarik ke punggung lalu

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -207/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

disimpulkan. Ujung puncak tadi dari atas bahu ditarik ke punggung lalu
disimpulkan dengan salah satu sudut alas.

5. Membalut punggung
Sama caranya dengan untuk dada, hanya memasangnya terbalik.
6. Membalut secara plantenga
Plantenga biasanya dipakai untuk membalut dada wanita yang mengalami
mastitis. Biasanya keadaan ini terdapat pada wanita yang baru melahirkan.
Wanita dengan mastitis bila buah dadanya tergantung saja biasanya terasa
sangat sakit. Oleh sebab itu dibalut dengan cara plantenga.
-

Penunjang mammae cara plantenga


Bagian mammae yang sakit dipakaikan kompres basah. Setelah itu
plantenga diletakkan di atas dada pasien tersebut. Ujung yang telah
dibelah dihadapkan ke atas, disilangkan di leher, lalu diikatkan di
samping bawah leher. Sisi alas plantenga itu diletakkan di pangkal
mammae dan kedua ujung sudut plantenga masing-masing ditarik ke
punggung, lalu disimpulkan.
Fungsi dari balutan ini adalah untuk mengurangi rasa sakit.

Penekan buah dada cara Plantenga


Plantenga ini dilebarkan di punggung, ujung puncak yang terbelah
masing-masing diletakkan melewati bahu, sehingga pangkalnya yang
dibelah terletak di pangkal leher. Ujung sudut alas ditarik ke dalam
melalui ketiak lalu disimpulkan dengan ujung puncak di bagian bahu
sebelah depan, sehingga mammae tertarik dan tertekan. Ujung sudut kiri
disimpulkan dengan belahan ujung puncak kanan, ujung sudut kanan
disimpulkan dengan belahan ujung puncak kiri, sehingga terjadi silang.
Gunanya untuk penutup atau penekan mammae yang sakit.

Membungkus perut cara Plantenga


Ujung puncak dihadapkan ke bawah. Kedua ujung dari sudut alas,
masing-masing ditarik ke pinggang, lalu disimpulkan. Ujung puncak yang
sudah dibelah masing-masing ditarik ke bawah terus ke belakang

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -208/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

melalui sela paha, setelah itu kedua ujung puncak masing-masing


disimpulkan pada ujung sudut alas di pinggang tadi.
7. Membalut sendi siku
Kain segitiga dilipat-lipat, bagian tengahnya diletakkan di tengah-tengah
siku, kedua ujung diarahkan ke perlipatan siku. Di perlipatan siku kedua
ujung kain segitiga itu bertemu, ujung dari atas terus menuju ke bawah, ke
daerah siku agak ke atas sedikit. Ujung yang dari bawah terus ke atas,
menuju daerah siku agak ke bawah siku sedikit. Dari sana, masing-masing
menuju kembali ke tengah-tengah perlipatan siku, lalu di sana disimpulkan.
Guna dari balutan ini untuk penekan dan penutup daerah siku yang sakit.
8. Membalut sendi pergelangan tangan
Kain segitiga dilipat terlebih dahulu. Setelah itu bagian tengah kain segitiga
diletakkan di telapak tangan. Ujung yang satu melewati sela ibu jari dan
telunjuk, terus ke punggung tangan, menuju pergelangan tangan sebelah
luar. Ujung yang lain, dari pinggir telapak tangan sebelah luar naik ke
punggung. Terus menuju ke pergelangan tangan sebelah dalam. Masingmasing mengitari daerah pergelangan tangan, kemudian disimpulkan.
Guna balutan ini untuk penutup-penekan luka di daerah pergelangan
tangan.
9. Membalut tangan seluruhnya
Kain segitiga dilipat mulai dari alas sampai 2-3 kali. Di atasnya diletakkan
tangan yang akan dibalut. Pinggir alas tadi letaknya kira-kira di bagian
pergelangan tangan. Setelah itu puncaknya dilipatkan ke punggung tangan.
Kemudian sisi kanan dan sisi kiri kain dilipat, dibelitkan beberapa kali pada
pergelangan tangan, kemudian disimpulkan di sana.
Guna balutan ini sebagai penutup pada luka yang telah diobati.
10.Kain segitiga untuk menggendong tangan
Gunanya untuk menggendong atau penahan tangan yang sakit. Apabila
tangan tersebut patah, maka letak tangan dalam gendongan itu harus rata
dari ujung siku sampai ke ujung tangan. Kalau disebabkan luka, maka letak
tangan dalam gendongan itu agak lebih tinggi ke ujung tangan, gunanya
untuk mengurangi pendarahan. Sebelum digendong, lukanya terlebih
dahulu diobati dan dibalut.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -209/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Pembungkus Kepala
(Capitum pervum triangulare)

Membalut kepala
(secara Fascia Nadosa)

Membalut dahi
(Funda Frontis)

Membalut dahi
Membalut dagu(Funda maxillae)

Membalut hidung (Funda Nasi)

(Funda Frontis)

Membalut belakang kepala


(Funda Occipitis)

Membalut tumit secara Funda

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -210/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

A. Membalut dada

11. P3K

B. Membungkus dada

A. Membungkus punggung

B. Membungkus punggung

B. Mitella = Penggendong tangan

A. Permulaan pengerjaan
Penggendongan

C. Mitella = Penggendongan tangan selesai

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -211/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Membalut sendi

Membalut sendi pergelangan tangan

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -212/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Membalut tangan seluruhnya

C
A. Pembalut berkepala Satu
B. Pembalut berkepala dua
C. Pembalut berkepala tiga

A. Pembalut berkepala satu


Fascia Uniens

B. Pembalut berkepala dua


Fascia Uniens

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -213/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

A. Membalut kepala
cara Fascia Sagitalis

11. P3K

B. Membalut kepala
cara Fascia Sagittalis

C. Membalut kepala secara Fascia

D. Membalut kepala

Sagittalis dilakukan secara


berturut-turut 2 atau 3 kali

cara Sagittalis
(selesai)

IV. Pembalut Pita Biasa (Zwachtel)


Macam-macam pembalut pita :
- Berkepala Satu
- Berkepala dua
- Berkepala tiga
Cara membalut :
- Biasanya jalannya pembalut dari kiri ke kanan
- Balutannya harus menutup dan pinggirnya harus rapat
- Balutan tidak boleh kendor, akibatnya merosot atau terlepas
- Balutan tidak boleh terlalu kencan, akibatnya adalah stuwing
Zwachtel untuk pembalut kepala ada bebarapa macam :
- Pembalut cara Fascia Uniens, memakai pembalut berkepala satu/dua
- Pembalut cara Fascia Sagitalis, memakai pembalut berkepala tiga
- Cara Mitra Hyppokratis (Fascia Capitalis), memakai satu/dua pembalut
- Cara Capistrum, memakai pembalut berkepala satu
- Cara Fascia Nadosa (Pospakket), harus memakai pembalut berkepala dua
- Mata satu (Monoculus) atau mata dua (Bonaculus)
- Membalut telinga cara korner
Macam-macam pembalut untuk bentuk anggota :
- Bentuk bulat panjang (cylinder)dengan cara :
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -214/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

a. Balut Biasa (dolabra currens)


b. Balut pucuk rebung (dolabra reversa)
-

Bentuk bulat panjang lonjong (kegel), dengan cara :


a. balut pucuk rebung (dolabra reversa)
b. Balut belit ular (dolabra repens)

Untuk persendian dipakai cara :


a. Balut silang (spica)
b. Balut penyu (testudo)

A. Membalut kepala cara Mitra


Hyppokratis (Fuscia Capitalis)

B. Membalut kepala cara Mitra Hyppokratis


(Fascia Capitalis) satu pembalut

A. Membalut kepala cara Mitra


Hyppokratis (Fascia Capitalis)
dua pembalut

B. Membalut kepala cara Mitra Hyppokratis


(Fascia Capitalis) dua pembalut

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -215/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

A. Lingkaran Pertama

B. Ke dagu

11. P3K

C. Ke belakang leher

D. Ke belakang leher dan naik


lingkaran ke-2 yaitu dari
belakang kepala dagu ke
belakang kepala

E. Memindahkan
haluan
melanjutkan
lingkaranlingkaran
pendahulu

F. Membalu selesai

G. Membalut kepala cara Capistrum

A. Membalut mata Satu

B. Membalut mata satu (Monoculus) selesai

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -216/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Membalut telinga cara Korner

A (2 X)

Membalut betis secara pucuk rebung menaik


Membalut lengan atas

1. A.

. (2 X)

(Dolabra Currents Humeri

2. B.

(naik)

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -217/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
Ascendens)

11. P3K

3. C.

(dilipat ke bawah)

4.

B. lagi dan seterusnya

5. D.

Membalut betis secara pucuk rebung


menurut Dolabra reversa crutis descendent

(2 X) penutup

C
A (2 X)

B. Membalut betis secara belit ular


(Dolabra Currens)

Pembalut sendi pergelangan kaki =


Spica Pedis Ascendens
1.

A. (2 X)

2.

(naik)

3.

(turun)

A. Siku tertutup

B. Berganti-ganti
atas-bawah (siku)

C. Membalut sendi siku cara


Testudo Cubiti Resersa (selesai)

4. lagi dan seterusnya

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -218/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

11.7. Fraktur (patah tulang)


Pendahuluan
Terjadi pada tulang yang mengalami tekanan. Pada dasarnya seseorang yang
mengalami fraktur akan mengalami kesulitan untuk menggerakkan bagian yang
cedera, rasa sakit yang luar biasa, bisa disertai pendarahan atau tidak. Ada
bebarapa jenis fraktur, fraktur terbuka, fraktur tertutup, fraktur sederhana,
Comminuted Fracture, fraktur stabil, fraktur tidak stabil.
Fraktur terbuka sangat mudah mendiagnosisnya, yaitu terdapat tulang yang
menembus keluar. Sedangkan untuk mendiagnosis fraktur tertutup agak sukar,
karena tulang yang patah tidak menonjol keluar.
Fraktur sederhana apabila tulang yang patah hanya pada satu garis, lain lagi dengan
comminuted fraktur, disini terjadi patah tulang dengan bagian yang patah terdapat
tulang yang terpecah-pecah.
Fraktur stabil terjadi apabila terdapat tulang yang patah, tetapi antara tulang tersebut
tertekan oleh tekanan yang kuat dan bertemu pada bagian yang tepat sehingga
sepertinya tulang tidak patah. Hal ini dapat menyebabkan penderita tetap dapat
berjalan meskipun dengan rasa sakit yang luar biasa. Fraktur yang tidak stabil
adalah tulang dimana bagian tulang yang patah tidak bertemu dengan tepat.
Diagnosa fraktur
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -219/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

1. Perhatikan bagian yang cedera apakah ada benjolan/tulang keluar/normal.


2. Raba pada bagian yang cedera, sakit atau tidak. Penderita patah tulang biasanya

merasa sakit.
3. Bila patah tulang biasanya penderita tidak bisa menggerakkan bagian bawah dari

tulang tersebut.
4. Apabila terjadi fraktur, perhatikan vital sign, karena pada tulang, patahan tulang,

dapat merusak pembuluh darah disekitarnya dan syaraf. Sehingga biasanya


bagian tulang bawah akan menjadi pucat/biru. Lakukan sensation test, yaitu
menguji bagian bawah cedera masih dapat merasakan atau tidak. Kalau tidak,
berarti patah tulang.
5. Apabila terjadi fraktur tertutup, biasanya hanya terdapat benjolan (bedakan

dengan benjolan yang bukan patah tulang), rasakan konturnya dan perhatikan
bentuknya, bandingkan dengan bagian yang sama dengan yang tidak cedera.
6. Jangan lupa tanyakan riwayat kejadian pada penderita.

Pertolongan fraktur
1. Bila ada luka bersihkan dahulu lukanya
2. Jangan mobilisasi bagian cedera
3. Bila kurang mampu, jangan mencoba-coba untuk mengembalikan tulang yang

patah pada tempatnya


4. Imobilisasi dengan teknik bidai yang benar
5. Bawa ke Rumah Sakit

Pertolongan penderita dislokasi (tulang bergeser dari mangkuk sendi) sama dengan
pertolongan penderita fraktur.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -220/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Gbr 11.1 Jenis Fraktur

Simple Fracture

Greenstick Fracture
Closed Fracture

Comminuted Fracture
Open Fracture

Gbr. 11.2

Menghentikan pendarahan

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -221/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Bleeding from the arm (A) is bandaged with

Should blood seep though another pad (C + D)

the knot away from the bleeding site (B)

is bandaged into place (E + F) over the stop

A
D

C
E

Gbr. 11.3. Dislokasi sendi bahu

Gbr. 11.4. Bidai untuk Dislokasi Sendi Bahu

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -222/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Gbr. 11.5. Tanda Patah Tulang

Normal

Closed Fracture

Open Fracture

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -223/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Gbr. 11.7 Bidai Pergelangan Tangan

Gbr. 11.8 Bidai Lengan dan Kaki

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -224/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Gbr. 11.9 Imobilisasi Kaki untuk pertolongan Cedera Pelvis

Gbr. 11.10 Teknik Bidai Kaki

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -225/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Gbr. 11.11. Penyangga untuk patah tulang lengan bawah

Gbr. 11.12. Membalut luka terbuka

B
A

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -226/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Gbr. 11.13. Penyangga untuk Fraktur Collarbone

A
B

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -227/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Gbr. 11.14. Stabilisasi leher

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -228/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Place of rolled up blanket (or piece of clothing) ander


neck it self (A), while walking boots can be arranged to
stop sideways movement (B).

Gbr. 11.15. Bidai Leher

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -229/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Roll up blanket (A), wrap it around the casualtys troat


(B) (without impairing breathing) and then tie it at the
front (C)

Gbr. 11.16 Imobilisasi Benda AsinG

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -230/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Kram / Cramp
Terjadi apabila banyak penumpukan asam laktat, kekurangan asam mineral karena
habis terpakai. Biasanya bagian yang paling sering terkena adalah ekstreminitas
bawah. Cara pertolongannya adalah mengusahakan otot yang kram tersebut untuk
berhenti berkontraksi. Penderita diberikan cairan pengganti ion tubuh yang hilang,
istirahat. Jangan memijat bagian yang kram, cukup diusap dengan balsem, atau
yang memberi rasa panas atau dingin sehingga rasa sakit tersamarkan misalkan
Conterpain. Kalau diperlukan penanganan yang cepat dapat digunakan klor ethyl.

Gbr. 11.17. Membalut luka tertusuk

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -231/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Gbr. 11.18. Penanganan Kram

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -232/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

11.8. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Karena Terkena


Arus Listrik
1. Bebaskan penderita dari arus listrik tersebut
2. Tempatkan penderita pada ruangan yang mempunyai cukup udara segar
3. Apabila penderita masih bernafas, baringkan telentang, buka semua
pakaian yang mengikat.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -233/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

4. Rangsanglah kesadaran penderita dengan minyak wangi, cuka, dan


sebagainya, bila ia pingsan.
5. Apabila penderita tidak bernafas (seolah-olah mati), lakukanlah pernafasan
buatan hingga penderita mulai bernafas lagi dan timbul tanda-tanda mati
yang nyata (adanya lebam mayat dan kuku mayat) ditemukan mati oleh
dokter.
6. Bila penderita mulai bernafas lagi, rangsanglah kesadarannya dengan cara
seperti pada item 4.
Cara pembebasan korban yang terkena aliran listrik
Pemutusan hubungan antara korban dan penghantar, harus dilakukan
dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Hantaran harus sedapat mungkin dibuat bebas tegangan dengan
mempergunakan saklar-saklar atau dengan melepaskan alat-alat
pengaman

atau

dengan

menarik

hantaran

itu

sampai

putus

menggunakan benda yang bukan logam (seperti sebilah kayu atau tali
yang dililitkan pada penghantar itu).
2. Dengan menarik korban dari tempat kecelakaan
3. Menarik hantaran dari tubuh korban dengan menggunakan pakaian
kering yang dipintalkan / diikatkan pada tali
4. Dengan menghubung singkatkan atau mentanahkan hantaran
Untuk menghindarkan atau mengurangi pengaruh arus listrik, para
penolong harus menempatkan diri dari atas papan yang kering, diatas
kain, pakaian kering, atau landasan-landasan serupa yang bukan logam.

11.9. Pertolongan pertama pada kecelakaan karena tenggelam


-

Dalam menolong orang yang akan tenggelam, peganglah dari belakang


untuk menjaga keamanan diri sendiri

Peganglah dibawah ketiak atau di bawah dagunya dan lutut penolong


ditekan pada badan yang ditolong

Jika perlu tutup hidung korban secara paksa dengan dua jari

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -234/306

PT. PLN (Persero)


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

11. P3K

Setelah sampai di darat, kendorkan semua pakaian yang menyesakkan,


bersihkan mulut penderita dari pasir atau lumpur

Lepaskan gigi palsu penderita (jika ada)

Telungkupkan badan penderita, berdirilah dengan kaki terbuka di tengah


badan penderita, sehingga penderita ada di posisi antara kedua
tungkainya

Pegang dengan kedua tangan dekat rusuk yang paling bawah dan
angkatlah badan penderita, sehingga badan atau kepala menelungkup ke
lantai untuk mengeluarkan air yang masuk ke badan penderita

Apabila pernafasan berhenti, segera lakukan pernafasan buatan

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


Hal -235/306