Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Keperawatan gawat darurat atau Emergency Nursing merupakan pelayan
keperawatan yang komprehensif yang diberikan kepada pasien dengan injuri
atau sakit yang mengancam jiwa. Kondisi kegawatdaruratan dapat terjadi
dimana saja, kapan saja dan sudah menjadi tugas dari petugas kesehatan untuk
menangani masalah tersebut. Walaupun begitu, tidak menutup kemungkinan
kondisi kegawatdaruratan dapat terjadi pada daerah yang sulit untuk
membantu korban sebelum ditemukan oleh petugas kesehatan menjadi sangat
penting (Sudiharto & Sartono, 2011).
Kondisi kegawatdaruratan diantaranya adalah serangan jantung. Data
World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa serangan jantung
masih menjadi pembunuh manusia nomor satu dinegara maju dan berkembang
dengan menyumbang 60 persen dari seluruh kematian. Selain itu, kecelakaan
lalu lintas juga menjadi salah satu penyebab kematian terbesar. Dalam dua
tahun terakhir ini, kecelakaan lalu lintas di Indonesia oleh World Health
Organization (WHO) dinilai menjadi pembunuh terbesar kelima. Data terbaru
yang dikeluarkan, World Health Organization (WHO) menunjukkan India
menempati urutan pertama negara dengan jumlah kematian terbanyak akibat
kecelakaan lalu lintas. Sementara Indonesia menempati urutan kelima. Namun
yang

mencengangkan,

Indonesia

justru

menempati

urutan

pertama

peningkatan kecelakaan menurut data Global Status Report on Road Safety


yang dikeluarkan WHO. Indonesia dilaporkan mengalami kenaikan jumlah
kecelakaan lalu lintas hingga lebih dari 80 persen. Di Indonesia, jumlah
korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas mencapai 120 jiwa per harinya.
Kecelakaan lalu lintas juga menjadi penyebab 90 persen cacat seumur hidup
(Disability Adjusted Life Years/DALYs) (Rudi, 2007).
Proyeksi yang dilakukan WHO antara tahun 2000 dan 2020 menunjukan,
kematian akibat kecelakaan lalulintas akan menurun 30 persen di negaranegara dengan pendapatan tinggi seperti Amerika, Inggris dan Belanda, tetapi
akan meningkat di negara-negara pendapatan rendah seperti Timor-Timor,

Laos dan negara berkembang seperti Indonesia, Vietnam. Tanpa adanya


tindakan yang nyata tahun 2020 kecelakaan lalu lintas akan menjadi penyebab
kematian nomor 3 di dunia (Itha, 2008).
Keadaan para korban kecelakaan dapat menjadi semakin buruk dan
bahkan berujung kematian jika tidak ditangani secara cepat (Sunyoto, 2010).
Sunyoto juga lebih lanjut menjelaskan bahwa satu jam pertama adalah waktu
yang sangat penting dalam penanganan penyelamatan korban kecelakaan lalu
lintas yaitu dapat menekan sampai 90% angka kematian. Penanganan yang
dimaksud adalah bantuan dasar hidup. Langkah terbaik untuk situasi ini
adalah waspada dan melakukan upaya konkrit untuk mengatasinya.
Berdasarkan fenomena di atas, maka peneliti merasa tertarik untuk
melakukan penelitian mengenai pentingnya pelatihan BHD dalam peningkatan
peran perawat terhadap kondisi kegawat daruratan.
B. Rumusan Masalah
Dengan mempertimbangkan latar belakang masalah yang telah diuraikan,
maka dapat dirumuskan masalah dalam karya tulis ini adalah sebagai berikut :
Bagaimana pentingnya pelatihan BHD dalam peningkatan peran perawat
terhadap kondisi kegawat daruratan?
C. Tujuan
1. Mengetahui pentingnya BHD dalam peran perawat kegawat daruratan
D. Manfaat
Karya tulis ini diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi pemerintah
dan masyarakat dalam melakukan tindakan kegawat daruratan ( emergency
nursing ).
E. Metode Studi Pustaka
Penulisan karya tulis ilmiah ini dilakukan dengan studi literature dari buku,
jurnal dan publikasi resmi Depkes.
BAB II
TELAAH PUSTAKA
A. Definisi Kegawatdaruratan
Gawat darurat secara umum didefinisikan sebagai semua kondisi
yang dirasakan dengan menempatkan seseorang secara hati-hati atau
seseorang sesuai kepentingannya yang membutuhkan dengan segera

evaluasi medis atau pembedahan dan pengobatan (Stone dan Humphries,


2004). Gawat darurat medik adalah suatu kondisi yang dalam pandangan
penderita, keluarga atau siapapun yang bertanggungjawab dalam
membawa penderita ke rumah sakit, memerlukan pelayanan medic
segera.Kondisi tersebut berlanjut hingga petugas kesehatan yang
professional menetapkan baha keselamatan penderita atau kesehatannya
tidak terancam. Namun, keadaan gawat darurat yang sebenarnya adalah
suatu kondisi klinik yang memerlukan pelayanan medic segera kondisi
tersebut berkisar antara yang memerlukan pelayanan ekstensif segera
dengan rawat inap rumah sakit dan yang memerlukan pemeriksaan
diagnostic atau pengamatan, yang setelahnya mungkin memerlukan atu
mungkin juga tidak memerlukan rawat inap (Hanafiah, 1998).
Ada 4 tipe kondisi gawat darurat yaitu :
1. Gawat Darurat: Keadaan mengancam nyawa yang jika tidak segera
ditolong dapat meninggal atau cacat sehingga perlu ditangani dengan
prioritas pertama. Sehingga dalam keadaan ini tidak ada waktu tunggu.
Yang termasuk keadaan adalah pasien keracunan akut dengan
penurunan kesadaran, gangguan jalan napas, gangguan pernapasan,
gangguan

sirkulasi

atau

pemaparan

pada

mata

yang

dapat

menyebabkan kebutaan ini.


2. Gawat tidak Darurat: Keadaan mengancam nyawa tetapi tidak
memerlukan tindakan darurat. Keadaan ini termasuk prioritas ke dua
dan setelah dilakukan resusitasi segera konsulkan ke dokter spesialis
untuk penanganan selanjutnya. Yang termasuk pasien gawat tidak
darurat adalah: pasien kanker stadium lanjut yang mengalami
keracunan akut.
3. Darurat tidak Gawat: Keadaan yang tidak mengancam nyawa tetapi
memerlukan tindakan darurat. Pasien biasanya sadar tidak ada ganguan
pernapasan dan sirkulasi serta tidak memerlukan resusitasi dan dapat
langsung diberi terapi definitive. Pasien dapat dirawat di ruang rawat
inap atau jika keadaannya ringan dapat di pulangkan untuk selanjutnya
kontrol ke poliklinik rawat jalan.

4. Tidak Gawat tidak Darurat: Keadaan yang tidak mengancam nyawa


dan tidak memerlukan tindakan darurat. Gejala dan tanda klinis ringan
atau asimptomatis. Setelah mendapat terapi definitive penderita dapat
dipulangkan dan selanjutnya kontrol ke poliklinik rawat jalan.
Langkah membagi menjadi 4 keadaan sesuai dengan kondisi klien
berdasar yang prioritas kondisi yang paling mengancam nyawa. Kondisi
yang mengancam nyawa di nilai berdasarkan jalan nafas (airway),
pernafasan (breathing), sirkulasi (circulation) dan kondisi neurologis
(disabilty).mengetahui dan mampu menilai dari pasien yang sesuai dengan
keadaan kegawatannya, dapat memberikan pelayanan yang optimal dan
tepat, menghindari terjadinya kesalahan penanganan dalam memilih
kondisi pasien. Angka kematian mapun angka kecacatan dapat menurun.
B. Pelatihan Bantuan Hidup Dasar
Bantuan Hidup Dasar

( BHD) adalah tindakan darurat untuk

membebaskan jalan nafas, membantu pernapasan dan mempertahankan


sirkulasi darah tanpa menggunakan alat bantu (Alkatiri, 2007). Tujuan BHD
ialah untuk oksigenasi darurat secara efektif pada organ vital seperti otak dan
jantung melalui ventilasi buatan dan sirkulasi buatan sampai paru dan jantung
dapat menyediakan oksigen dengan kekuatan sendiri secara normal (Latief,
2009). Frame juga mengatakan BHD dapat juga di lakukan pada pasien yang
mengalami henti nafas,henti jantung dan juga perdarahan.
Definisi Bantuan hidup dasar (Basic life support) adalah usaha yang
dilakukan untuk menjaga jalan napas (airway) tetap terbuka, menunjang
pernapasan dan sirkulasi dan tanpa menggunakan alat-alat bantu (Soerianata,
1996). Istilah basuc life support mengacu pada mempertahankan jalan nafas
dan sirkulasi. Basuc life support ini terdiri dari beberapa elemen yaitu
penyelamatan pernapasan (juga dikenal dengan pernapasan dari mulut ke
mulut) dan kompresi dada eksternal. Jika semua digabungkan maka digunakan
istilah Resusitasi Jantung Paru (RJP) (Handley, 1997).
Bantuan

hidup

adalah

suatu

usaha

yang

dilakukan

untuk

mempertahankan kehidupan pada saat penderita mengalami keadaan


mengancam nyawa, yang meliputi segera mengenali tanda-tanda henti jantung
4

dan segera mengaktifkan sistem respon kegawat daruratan, segera melakukan


RJP (Resusitasi Jantung Paru), dan segera melaukan defibrilasi dengan
menggunakan AED (Automated External Defibrilator) (Rokhaeni, Heni dkk,
2001)
1. Segera mengenali tanda-tanda henti jantung
Ketika menemukan penderita dengan henti jantung, segera kenal
tanda-tanda henti jantung. Tetapi sebelum mendekati penderita, hal yang
harus dilakukan penolong adalah meyakini bahwa lingkungan sekitar
penderita aman dan tempatkan pada tempat datar dan keras dengan posisi
supine kemudian cek respon dan nadi kurang dari 10 detik pada nadi
karotis.
2. Mengaktifkan sistem respon kegawatdaruraatan
Ketika ditemukan penderita tidak sadar dan bernapas tidak normal
dan nadi tidak teraba segera aktifkan sistem respon kegawat daruratan,
mengambil AED jika tersedia. Jika AED tidak tersedia kirim penolong lain
untuk mengambil AED.
3. Melakukan RJP
RJP merupakan salah satu yang mendasari bantuan hidup dasar ,
pedoman AHA (American Heart Association) untuk RJP 2010 mengalami
perubahan yaitu dengan mendahulukan sirkulasi sebelum penatalaksanaan
jalan nafas dan pernafasan (Circullation, Airway, Breathing ). Kompresi
dada paling sedikit 100x/menit dengan kedalaman 2 inci atau 5 cm dan
biarkan dada recoil secara sempurna setelah kompresi dada untuk
menghasilkan pengisian jantung secara lengkap sebelung kompresu
berikutnya.
4. AED atau defibrillator
Ketika AED datang, segera pasang pad pada dada penderita tanpa
menginterupsi kompresi dada dan nyalaka AED. Cek irama, tentukan
apakah irama shockable atau unshockable.
a. Irama shockable
Jika terdapat irama VF/VT tanpa nadi segera berikan shock (tindakan
defibrilasi). Setelah itu segera lakukan RJP selama 2 menit atau 5
siklus kompresi dan ventilasi dengan rasio 30:2.
b. Irama unshockable
Jika terdapat irama kecuali VF/VT tanpa nadi segera lakukan RJP
selama 2 menit atau 5 siklus kompresi dan ventilasi dengan rasio 30:2.

Lakukan cek irama tiap 2 menit hal ini terus dilakukan hingga terdapat
tanda-tanda sirkulasi spontan. (Penelitian dan pengembangan yayasan
ambulans gawat darurat 118, 2011)
Tujuan utama dari bantuan hidup dasar adalah suatu tindakan
oksigenasi

darurat

untuk

mempertahankan

ventilasi

paru

dan

mendistribusikan darah-oksigenasi ke jaringan tubuh (Alkatiri, 2007).


Tujuan bantuan hidup dasar ialah untuk oksigenasi darurat secara efektif
pada organ vital seperti otak dan jantung melalui ventilasi buatan dan
sirkulasi buatan sampai paru dan jantung dapat menyediakan oksigen
dengan kekuatan sendiri secara normal (Latief, 2009).
C. Peran perawat di Unit Gawat Darurat
1. Pengertian peran
Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang
lain terhadap kedudukan dalam suatu sistem. Peran dipengaruhi oleh
keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil
(Ali, 2002). Setiap peran memiliki 3 elemen, yaitu (Blais, 2006) :
a. Peran Ideal
Peran ideal mengacu pada hak dan tanggung jawab terkait peran
yang secara sosial dianjurkan atau disepakati.
b. Peran yang dipersepsikan
Peran yang mengacu pada bagaimana penerima peran (orang yang
menerima peran) percaya dirinya harus berperilaku dalam peran
tersebut.
c. Peran yang ditampilkan
Peran yang mengacu pada apa yang sebenarnya dilakukan oleh
penerima peran.
2. Pengertian perawat
Perawat adalah tenaga profesional yang mempunyai pendidikan
dalam sistem pelayanan kesehatan. Kedudukannya dalam sistem ini
adalah anggota tim kesehatan yang mempunyai wewenang dalam
penyelenggaraan pelayanan keperawatan (Kozier, Barbara, 1995).
Tugas pokok perawat menurut Kep Men PAN No 94 Th 2001
tentang jabatan fungsional perawat adalah memberikan pelayanan
keperawatan berupa asuhan keperawatan/kesehatan individu, keluarga,
kelompok,

masyarakat

dalam

upaya

peningkatan

kesehatan,

pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, pemulihan kesehatan,


serta pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka kemandirian
dibidang keperawatan/kesehatan.
3 fungsi perawat : fungsi keperawatan mandiri (independen),
fungsi

keperawatan

ketergantungan

(dependen),

dan

fungsi

keperawatan kolaboratif ( interdependen ) ( Kozier, 1991 ).


3. Peran Perawat
Peran perawat adalah segenap kewenangan yang dimiliki oleh
perawat untuk menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan
kompetensi yang dimiliki ( Gaffar, 1999 ).
Perawat juga berperan sebagai advokat atau pelindung klien, yaitu
membantu mempertahankan lingkungan yang aman bagi klien dan
mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan
melindungi klien dari efek yang tidak diinginkan yang berasal dari
pengobatan atau tindakan diagnostik tertentu. Peran inilah yang belum
tampak dikembangkan institusi kesehatan di Indonesia, perawat masih
sebatas menerima delegasi dari profesi kesehatan yang lain tanpa
mempertimbangkan akibat dari tindakan yang akan dilakukan apakah
aman atau tidak bagi kesehatan klien. Manajer kasus juga merupakan
salah satu peran yang dapat dilakoni oleh perawat, disini perawat
bertugas untuk mengatur jadwal tindakan yang akan dilakukan
terhadap klien oleh berbagai profesi kesehatan yang ada di rumah sakit
untuk meminimalisasi tindakan penyembuhan yang saling tumpang
tindih dan memaksimalkan fungsi terapeutik dari semua tindakan yang
akan dilaksanakan terhadap klien ( Potter dan Perry, 2005 ).
4. Peran Perawat di Rumah Sakit
Hasil Lokakarya Nasional 1983 dikutip oleh Ali, 2002 peran perawat
mencakup :
a. Perawat sebagai pelaksana pelayanan kesehatan.
Perawat bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan
keperawatan dari yang bersifat sederhana sampai yang paling
kompleks, secara langsung atau tidak langsung kepada klien
sebagai individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Ini
merupakan peran utama dari perawat, dimana perawat dapat
memberikan asuhan keperawatan yang professional, menerapkan

ilmu atau teori, prinsip, konsep dan menguji kebenarannya dalam


situasi nyata, apakah kriteria profesi dapat ditampilkan dan sesuai
dengan

harapan

penerima

jasa

keperawatan.

Masyarakat

mengharapkan perawat mempunyai kemampuan khusus untuk


menanggulangi masalahmasalah individu, keluarga, kelompok atau
masyarakat. Perawat harus menguasai konsep-konsep dalam
lingkup kesehatan dan melatih diri sehingga dapat memiliki
kemampuan tersebut. Kemampuan ini diperoleh selama masa
pendidikan dan dimantapkan saat menjalankan tugasnya di sarana
pelayanan kesehatan.
b. Perawat sebagai pengelola pelayanan dan institusi keperawatan.
Perawat bertanggung jawab dalam hal administrasi keperawatan
baik di masyarakat maupun di dalam institusi dalam mengelola
pelayanan keperawatan untuk individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat. Perawat juga bekerja sebagai pengelola suatu sekolah
atau program pendidikan keperawatan. Sebagai administrator
bukan berarti perawat harus berperan dalam kegiatan administrasi
secara umum. Perawat sebagai tenaga kesehatan yang spesifik
dalam sistem pelayanan kesehatan tetap bersatu dalam profesi lain
dalam pelayanan kesehatan. Setiap tenaga kesehatan adalah
anggota potensial dalam kelompoknya dan dapat mengatur,
merencanakan, melaksanakan dan menilai tindakan yang diberikan,
mengingat perawat merupakan anggota profesional yang paling
lama

bertemu

klien,

maka

perawat

harus

merencanakan,

melaksanakan dan mengatur berbagai alternatif terapi yang harus


diterima oleh klien. Tugas ini menuntut adanya kemampuan
managerial yang handal dari perawat.
c. Perawat sebagai pendidik dalam keperawatan.
Perawat bertanggung jawab dalam hal pendidikan dan pengajaran
ilmu keperawatan kepada klien, tenaga keperawatan maupun
tenaga kesehatan lainnya. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan
dalam keperawatan adalah aspek pendidikan, karena perubahan
tingkah laku merupakan salah satu sasaran dari pelayanan

keperawatan. Perawat harus bisa berperan sebagai pendidik bagi


individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
d. Perawat sebagai peneliti dan pengembang pelayanan keperawatan.
Seorang perawat diharapkan dapat menjadi pembaharu (innovator)
dalam ilmu keperawatan karena ia memiliki kreativitas, inisiatif,
cepat tanggap terhadap rangsangan dari lingkungannya. Kegiatan
ini dapat diperoleh melalui kegiatan riset atau penelitian. Penelitian
pada

hakikatnya

adalah

melakukan

evaluasi,

mengukur

kemampuan, menilai dan mempertimbangkan sejauh mana


efektivitas tindakan yang telah diberikan. Dengan hasil penelitian,
perawat dapat menggerakkan orang lain untuk berbuat sesuatu
yang baru berdasarkan kebutuhan, perkembangan dan aspirasi
individu, keluarga, kelompok atau masyarakat. Oleh karena itu
perawat

dituntut

untuk

selalu

mengikuti

perkembangan,

memanfaatkan media massa atau media informasi lain dari


berbagai sumber. Selain itu perawat perlu melakukan penelitian
dalam

rangka

mengembangkan

ilmu

keperawatan

dan

meningkatkan praktek profesi keperawatan khususnya pelayanan


keperawatan

pendidikan

keperawatan

dan

administrasi

keperawatan. Perawat juga menunjang pengembangan di bidang


kesehatan dengan berperan serta dalam kegiatan penelitian
kesehatan
Adapun peran perawat dalam pemenuhan kebutuhan
keamanan adalah sebagai berikut :
a. Pemberi perawatan langsung ( care giver ) : perawat
memberikan bantuan secara langsung pada klien dan keluarga
yang mengalami masalah terkait dengan kebutuhan keamanan.
b. Pendidik, perawat perlu memberikan pendidikan kesehatan
kepada klien dan keluarga agar klien dan keluarga melakukan
program asuahan kesehatan keluarga terkait dengan kebutuhan
keamanan secara mandiri, dan bertanggung jawab terhadap
masalah keamanan keluarga.
c. Pengawas kesehatan, perawat harus melakukan home visit
atau kunjungan rumah yang teratur untuk mengidentifikasi atau

melakukan pengkajian tentang kebutuhan keamanan klien dan


keluarga.
d. Konsultan, perawat sebagai nara sumber bagi keluarga dalam
mengatasi masalah keamanan keluarga. Agar keluarga mau
meminta

nasehat

kepada

perawat

maka

hubungan

perawatkeluarga harus dibina dengan baik, perawat harus


e.

bersikap terbuka dan dapat dipercaya\.


Kolaborasi, perawat juga harus berkerja sama dengan lintas
program maupun secara lintas sektoral dalam pemenuhan
kebutuhan keamanan keluarga untuk mencapai kesehatan dan

keamanan keluarga yang optimal.


f. Fasilitator, perawat harus mampu menjembatani dengan baik
terhadap pemenuhan kebutuhan keamanan klien dan keluraga
sehingga faktor risiko dalam ketidak pemenuhan kebutuhan
keamanan dapat diatasi.
g. Penemu kasus / masalah, perawat mengidentifikasi masalah
keamanan secara dini, sehingga tidak terjadi injuri atau risiko
jatuh pada klien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan
keamanannya.
h. Modifikasi lingkungan, perawat harus dapat memodifikasi
lingkungan rumah maupun lingkungan masyarakat agar tercipta
lingkungan

yang

sehat

dalam

menunjang

pemenuhan

kebutuhan keamanan
5. Peran Perawat Secara Umum
Peran perawat menurut Konsorsium Ilmu Kesehatan, 1989 terdiri dari:
a. Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan
Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan ini dapat dilakukan
perawat dengan mempertahankan keadaan kebutuhan dasar
manusia

yang

dibutuhkan

melalui

pemberian

pelayanan

keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga


dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar bisa direncanakan
dan dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat
kebutuhan

manusia,

kemudian

dapat

dievaluasi

tingkat

perkembangannya. Asuhan keperawatan yang diberikan dari hal ini


yang sederhana sampai dengan yang kompleks.
b. Peran sebagai advokat ( pembela pasien )
10

Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien, keluarga


dalam menginterprestasikan berbagi informasi dari pemberi
pelayanan atau informasi lain khususnya dalam pengambilan
persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan kepada
pasien, juga dapat berperan mempertahankan dan melindungi hak
hak pasien yang meliputi hak atas pelayanan yang sebaik
baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak privasi, hak
untuk menentukan nasibnya sendiri dan hak untuk menerima ganti
rugi akibat kelalaian.
c. Peran sebagai edukator ( pendidik )
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan
tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan
yang diberikan, sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien
setelah dilakukan pendidikan kesehatan.
d. Peran sebagai koordinator Peran ini dilaksanakan dengan
mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan
kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan
kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien.
e. Peran sebagai kolaborator ( kerjasama )
Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan
yang terdiri dari : dokter, fisioterapis, ahli gizi dan lainnya dengan
berupanya

mengidentifikasi

pelayanan

keperawatan

yang

diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan


bentuk pelayanan selanjutnya.
f. Peran sebagai konsultan ( penasihat )
Yaitu sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan
keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas
permintaan klien terhadap informasi tentang tujuan pelayanan
keperawatan yang diberikan.
g. Peran sebagai pembaharu ( peneliti )
Peran sebagai pembaharu dapat dilakukan dengan mengadakan
perencanaan, kerjasama, perubahan yang sitematis dan terarah
sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan.
6. Macam macam fungsi peran perawat di unit gawat darurat
Menurut Aryatmo ( 1993 ) yaitu :

11

a. Mengkaji

kebutuhan

perawatan

penderita,

keluarga

dan

masyarakat, serta sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan untuk


kebutuhan tersebut.
b. Mengevaluasi hasil pelayanan keperawatan.
c. Mengidentifikasi hal-hal yang perlu diteliti atau dipelajari dan
melaksanakan penelitian guna meningkatkan pengetahuan dan
mengembangkan ketrampilan, baik dalam praktek maupun dalam
pendidikan keperawatan.
d. Mengelola pelayanan perawatan di rumah sakit.
e. Mengutamakan perlindungan dan keselamatan penderita dalam
melaksanakan tugas keperawatan.
f. Memfasilitasi rujukan dalam rangka menyelesaikan rujukan
masalah kegawat daruratan.
g. Memberi pelayanan secara multi disiplin.
h. Mendokumentasikan dan komunikasikan

informasi

tentang

pelayanan yang telah diberikan serta kebutuhan untuk tindak


lanjut.
i. Mengatur waktu secara efisien walaupun informasi terbatas.

BAB III
METODE PENULISAN
Menurut

Sugiyono

(2008)menyatakan

definisi

metode

deskriptif

analisismerupakan metode penelitian dengan caramengumpulkan data-data sesuai


dengan yang sebenarnya kemudian data- data tersebut disusun, diolah dan
dianalisis untuk dapat memberikan gambaran mengenai masalah yang ada.

12

Metode

deskriptif

analitis

merupakan

metode

yang

bertujuan

mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap suatu obyek penelitianyang


diteliti melalui sampel atau data yang telah terkumpul dan membuat kesimpulan
yang berlaku umum.
Menurut Whitney (1960), metode deskriptif analitis merupakan metode
pengumpulan fakta melalui interpretasi yang tepat. Metode penelitian ini
ditujukan untuk mempelajari permasalah yang timbul dalam masyarakat, kegiatan,
sikap, opini, serta proses yang tengah berlangsung dan pengaruhnya terhadap
fenomena tertentu dalam masyarakat.

BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS
A. Analisis
Penelitian Dahlan (2014) menunjukkan bahwa sebelum diberikan
pendidikan kesehatan tentang BHD yang terbanyak dalam kategori
pengetahuan buruk, sedangkan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan sesudah
diberikan pendidikan kesehatan tentang BHD yang terbanyak dalam kategori
pengetahuan baik.Hasil ini menunjukkan bahwa pentingnya suatu pendidikan
kesehatan terhadap tingkat pengetahuan tenaga kesehatan.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan oleh Umi Nur Hasanah (2015) dalam
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Keterampilan Perawat Dalam
Melakukan Tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD) di RSUD Kabupaten
Karanganyar, didapatkan data bahwa terdapat 220 perawat yang setiap
tahunnya secara bergantian telah mendapatkan pelatihan BHD, berupa

13

pelatihan PPGD da pelatihan BTCLS. Berdasarkan data yang didapat pada


rekam medic pasien yang datang ke RSUD Kabupaten Karanganyar pada
tahun 2014 dari januari-november baik itu rawat jalan maupun rawat inap
sebanyak 4250 pasien. Dalam satu bulan terakhir di ruang IGD terdapat 12
pasien dan di ruang ICU terdapat 7 pasien yang membutuhkan
penatalaksanaan bantuan hidup dasar, namun tindakan yang dilakukan perawat
belum berhasil menyelamatkan pasien tersebut. Hal ini membuktikan bahwa
masih tingginya angka kematian dan begitu pentingnya bantuan hidup dasar
yang harus dimiliki oleh semua perawat.
Dari hasil observasi dan wawancara peneliti pada saat studi pendahuluan
di instalasi gawat darurat (IGD) dan Intensif Care Unit (ICU) bahwa perawat
di ruang tersebut hanya sekedar tahu bahwa BHD adalah bantuan hidup dasar
dan pada saat perawat melakukan tindakan BHD kurang maksimal dan belum
sesuai standar operasional prosedur (SOP). Hal ini membuktikan bahwa masih
kurangnya pengetahuan dan skill perawat terhadap penatalaksanaan bantuan
hidup dasar.
Menurut Suharty Dahlan (2014), dalam jurnal keperawatan Pengaruh
Pendidikan Kesehatan Tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) Terhadap Tingkat
Pengetahuan Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Wori Kecamatan Wori
Kabupaten Minahasa Utara menunjukkan bahwa tenaga kesehatan sebagai
orang yang pertama kali menemukan korban dapat melakukan pertolongan
pertama pada siapapun dalam keadaan yang gawat darurat terutama pada
orang yang mengalami henti jantung dan henti nafas yang merupakan indikasi
dari pemberian BHD. Dengan pendidikan kesehatan tentang Bantuan Hidup
Dasar (BHD) dapat meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan maupun
masyarakat tentang BHD dan sangat menunjang untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan apabila diikuti dengan pelatihan BHD.
B. Sintesis
BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Simpulan

14

B. Rekomendasi
Strategi pelaksanaan Program Pemberantas Sarang Nyamuk (PSN) dengan
melibatkan masyarakat agar lebih aktif yaitu :
1. Mengadakan kebersihan lingkungan secara rutin menjelang musim hujan
di masing-masing banjar.
2. Monitoring/supervisi

dari

pengawas/supervisor

terhadap

jumantik

sewaktu-waktu.
3. Memantau Program Gertak PSN hingga ke tingkat rumah tangga.
4. Memberikan penghargaan kepada kader yang aktif berpartisipasi dalam
pengendalian DBD.
5. Menayangkan iklan layanan masyarakat yang mensosialisasikan gejala
DBD untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap DBD. Dengan iklan
layanan masyarakat, masyarakat luas mengetahui cara penanganan DBD
sehingga angka kematian akibat DBD dapat ditekan. Iklan layanan
masyarakat juga dapat menjadi media sosialisasi cara pencegahan DBD.
6. Hasil akhir yang diharapkan adalah:
a. Masyarakat dapat lebih terlibat karena pern serta masyarakat sangat
penting dalam gerakan PSN ini
b. Pemerintah dapat melaksanakan

programnya

bukan

hanya

mencanangkannya
c. Angka kesakitan DBD dapat menurun setiap tahunnya

DAFTAR PUSTAKA
Rezania, N., & Handayani, O. (2015). Hubungan Karakteristik Individu dengan
Praktik Kader Jumantik dalam PSN DBD di Kelurahan Sampangan
Semarang.UJPH Unnes Journal of Public Health, 4(1), 3138. Retrieved
from http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujph

15

Dirjen PP dan PL Depkes RI. (2011). Modul pengendalian demam berdarah


dengue. Jakarta: Depkes RI

Afira, F., & Mansyur, M., (2013). Gambaran Kejadian Demam Berdarah Dengue
di Kecamatan Gambir dan Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat, Tahun
2005-2009. e-Jurnal Kedokteran Indonesia Vol. 1, No. 1, April 2013

Sandhi, P.D.A, & Martini, N. K. (2014). Pengaruh Faktor Motivasi Terhadap


Kinerja Juru Pemantau Jentik Dalam Pelaksanaan Pemberantasan Sarang
Nyamuk Di Kecamatan Denpasar Selatan Tahun 2013 . Community
Health VOLUME II No 1 Januari 2014

Kemenkes RI. (2014). Situasi Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Jakarta :


Depkes RI: Infodatin.

Kementerian Kesehatan RI, & Indonesia, R. (2014). Petunjuk Teknis Jumantik


Psn Anak Sekolah. Jakarta : Depkes RI

Pratamawati, D. A. (2010). Peran Juru Pantau Jentik dalam Sistem Kewaspadaan


Dini Demam Berdarah Dengue di Indonesia (The Role of Juru Pantau
Jentik in Dengue Haemorrhagic Fever Early Warning System in
Indonesia). Kesmas, 6(6), 243248.

16

Mubarokah, R. (2013). Upaya Peningkatan Angka Bebas Jentik Demam Berdarah


Dengue ( Abj-Dbd ) Melalui Penggerakan Juru Pemantau Jentik
( Jumantik ) Di Rw I Kelurahan Danyang Kecamatan Purwodadi
Kabupaten Grobogan Tahun 2012. Skripsi.

Redaksi, A. (2010). Buletin Jendela Epidemiologi , Volume 2 , Agustus 2010.


Buletin Jendela Epidemiologi, 2, 48.

World Health Organization. (2009). Dengue: guidelines for diagnosis, treatment,


prevention, and control. Special Programme for Research and Training in
Tropical Diseases, x, 147. doi:WHO/HTM/NTD/DEN/2009.1

17