Anda di halaman 1dari 24

Masa Depan Tuhan

Riba dalam Prespektif Islam


by Sutihat rahayu suadh

Oleh : Sutihat Rahayu Suadh

BAB I
PENDAHULUAN
I.I LATAR BELAKANG
Dalam bingkai ajaran Islam, aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh manusia untuk dikembangkan
memiliki beberapa kaidah dan etika atau moralitas dalam syariat Islam. Allah telah menurunkan
rizki ke dunia ini untuk dimanfaatkan oleh manusia dengan cara yang telah dihalalkan oleh Allah
dan bersih dari segala perbuatan yang mengandung riba. Diskursus mengenai riba dapat dikatakan
telah klasik baik dalam perkembangan pemikiran Islam maupun dalam peradaban Islam karena
riba merupakan permasalahan yang pelik dan sering terjadi pada masyarakat, hal ini disebabkan
perbuatan riba sangat erat kaitannya dengan transaksi-transaksi dibidang perekonomian (dalam
Islam disebut kegiatan muamalah) yang sering dilakukan oleh manusia dalam aktivitasnya seharihari. Pada dasarnya transaksi riba dapat terjadi dari transaksi hutang piutang, namun bentuk dari
sumber tersebut bisa berupa qard, buyu dan lain sebagainya. Para ulama menetapkan dengan tegas
dan jelas tentang pelarangan riba, disebabkan riba mengandung unsur eksploitasi yang dampaknya
merugikan orang lain, hal ini mengacu pada Kitabullah dan Sunnah Rasul serta ijma para ulama.
Bahkan dapat dikatakan tentang pelarangannya sudah menjadi aksioma dalam ajaran Islam.
Babarapa pemikir Islam berpendapat bahwa riba tidak hanya dianggap sebagai sesuatu yang tidak
bermoral akan tetapi merupakan sesuatu yang menghambat aktifitas perekonomian masyarakat,
sehingga orang kaya akan se makin kaya sedangkan orang miskin akan semakin miskin dan tertindas.

Bagi orang Islam, al-Quran adalah petunjuk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang absolut. Sunnah
Rasulullah saw berfungsi menjelaskan kandungan al-Quran. Riba sebagai persoalan pokok dalam makalah
ini, disebutkan dalam Al-Quran dibeberapa tempat secara berkelompok. Dari ayat-ayat tersebut para
ulama membuat rumusan riba, dan dari rumusan itu kegiatan ekonomi diidentifikasi dapat dimasukkan
kedalam kategori riba atau tidak. Dalam menetapkan hukum, para ulama biasanya mengambil langkah
yang dalam Ushul Fiqh dikenal dengan talil (mencari illat). Hukum suatu peristiwa atau keadaan itu
sama dengan hukum peristiwa atau keadaan lain yang disebut oleh nash apabila sama illat-nya.[1]
Manusia merupakan makhluk yang rakus , mempunyai hawa nafsu yang bergejolak dan selalu
merasa kekurangan sesuai dengan watak dan karakteristiknya, tidak pernah merasa puas, sehingga
transaksi transaksi yang halal susah didapatkan karena disebabkan keuntungannya yang sangat
minim, maka harampun jadi (riba). Ironis memang, justru yang banyak melakukan transaksi yang
berbau riba adalah dikalangan umat Muslim yang notabene mengetahui aturan aturan ( the rules

of syariah) syariat Islam. Sarjana barat pernah berkomentar I found muslim in Indonesian, but I
didnt find Islam in Indonesian, I didnt find muslim in West Country, but I found Islam in West
country. Maksudnya adalah bahwa ia menemukan orang Islam di Indonesia, tetapi perbuatan
orang Islam tidak Islami, sebaliknya ia tidak menemukan orang Islam di negara barat tetapi
perbuatan atau pekerjaannya mencerminkan kebudayaan Muslim. Kalau demikian kondisi umat
Islam, maka celakalah mereka. Karena seorang muslim sejati hanya akan melongok dunia
perekonomian melalui kaca mata Islam yang selalu mengumandangkan ini halal dan ini haram, ini
yang diridhoi Allah dan yang ini dimurkai oleh-Nya Riba merupakan suatu tambahan lebih dari
modal asal, biasanya transaksi riba sering dijumpai dalam transaksi hutang piutang dimana
kreditor meminta tambahan dari modal asal kepada debitor. tidak dapat dinafikkan bahwa dalam
jual beli juga sering terjadi praktek riba, seperti menukar barang yang tidak sejenis, melebihkan atau
mengurangkan timbangan atau dalam takaran.

Rumusan Masalah

Apa pengertian riba dalam prespektif islam dan bagaimana riba dalam pandangan agama islam
dan agama samawi ?

Apa saja jenis-jenis atau macam-macam riba dalam islam ?

Bagaiamana tahapan pelarangan riba dalam Al-Quran?

Apa saja perbedaan investasi dan riba ?

Bagaimana pandangan kaum modernis terhadap riba dan bagaimana praktik riba dalam kehidupan
masyarakat?

Tujuan Penelitian
Mengetahui pengertian riba dalam prespektif islam dan bagaimana riba dalam pandangan agama

islam dan agama samawi

Mengetahui jenis-jenis atau macam-macam riba dalam islam

Mengetahui tahapan pelarangan riba dalam Al-Quran beserta dalil yang menjelaskannya.

Mengetahui perbedaan investasi dan riba.

Mengetahui pandangan kaum modernis terhadap riba dan praktik riba dalam kehidupan
masyarakat.

1.4 Metedologi
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode/cara pengumpulan data atau informasi
melalui : Penelitian melalui data primer dan juga melalui penelitian kepustakaan (Library Research) yaitu
penelitian yang dilakukan melalui studi literature, internet, dan sebagainya yang sesuai atau yang ada
relevansinya (berkaitan) dengan masalah yang dibahas.

Sistematika Penulisan

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang penulisan ini, maka terlebih dahulu penulis akan
menguraikan sistematika penulisannya agar lebih mudah dipahami dalam memecahkan masalah yang ada,
di dalam penulisan ini dibagi dalam 3 (tiga) bab yang terdiri dari:
Riba berarti menetapkan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan
persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok, yang dibebankan kepada peminjam. Riba secara
bahasa bermakna: ziyadah (tambahan). Dalam pengertian lain, secara linguistik riba juga berarti tumbuh
dan membesar . Sedangkan menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok
atau modal secara bathil. Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, namun secara umum terdapat
benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli
maupun pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam.
Adapun menurut istilah syara adalah akad yang terjadi dengan penukaran yang tertentu, tidak diketahui
sama atau tidaknya menurut aturan syara, atau terlambat menerimanya. Sehubungan dengan arti riba
dari segi bahasa tersebut, ada ungkapan orang Arab kuno menyatakan sebagai berikut; arba fulan
ala fulan idza azada alaihi (seorang melakukan riba terhadap orang lain jika di dalamnya terdapat
unsur tambahan atau disebut liyarbu ma athaythum min syaiin litakhuzu aktsara minhu (mengambil dari
sesuatu yang kamu berikan dengan cara berlebih dari apa yang diberikan).
Menurut terminologi ilmu fiqh, riba merupakan tambahan khusus yang dimiliki salah satu pihak yang
terlibat tanpa adanya imbalan tertentu. Riba sering juga diterjemahkan dalam bahasa Inggris
sebagai Usury dengan arti tambahan uang atas modal yang diperoleh dengan cara yang dilarang oleh
syara, baik dengan jumlah tambahan yang sedikit atau pun dengan jumlah tambahan banyak.
Adapun menurut istilah syariat para fuqah sangat beragam dalam mendefinisikannya, diantaranya aitu :

Menurut Al-Mali riba adalah akad yang terjadi atas penukaran barang tertentu
yang tidak diketahui tmbangannya menurut ukuran syara ketika berakad atau
dengan mengakhirkan tukarana kedua belah pihak atau salah satu keduanya.

Menurut Abdurrahman Al-Jaziri, yang dimaksud dengan riba adalah akad yang
terjadi dengan penukaran tertentu, tidak diketahui sama atau tidak menurut
aturan syara atau terlambat salah satunya.

Syaikh Muhammad Abduh berendapat riba adalah penambahan-penambahan


yang disayaratkan oleh orang yang memiliki harta kepada orang yang
meminjam hartanya karena pengunduran janji pembayaran oleh peminjam dari
waktu yang telah ditentukan.







Artinya: Rasulullah saw. bersabda: Emas dengan emas sama timbangan dan ukurannya, perak dengan
perak sama timbangan dan ukurannya. Barang siapa yang meminta tambah maka termasuk riba.[2]
Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa apabila tukar-menukar emas atau perak maka harus sama
ukuran dan timbangannya, jika tidak sama maka termasuk riba. Dari situ dapat dipahami bahwa riba
adalah ziydah atau tambahan. Akan tetapi tidak semua tambahan adalah riba.Dalam istilah fiqh, riba
adalah pengambilan tambahan dari harta pokok secara bathil baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam
meminjam.
Berbicara riba identik dengan bunga bank atau rente, sering kita dengar di tengah-tengah masyarakat
bahwa rente disamakan dengan riba. Pendapat itu disebabkan rente dan riba merupakan bunga uang,
karena mempunyai arti yang sama yaitu sama-sama bunga, maka hukumnya sama yaitu haram.
Dalam prakteknya, rente merupakan keuntungan yang diperoleh pihak bank atas jasanya yang telah
meminjamkan uang kepada debitur dengan dalih untuk usaha produktif, sehingga dengan uang pinjaman
tersebut usahanya menjadi maju dan lancar, dan keuntungan yang diperoleh semakin besar. Tetapi
dalam akad kedua belah pihak baik kreditor (bank) maupun debitor (nasabah) sama-sama sepakat atas
keuntungan yang akan diperoleh pihak bank.
Timbullah pertanyaan, di manakah letak perbedaan antara riba dengan bunga? Untuk menjawab pertanyaan
ini, diperlukan definisi dari bunga. Secara Timbullah pertanyaan, di manakah letak perbedaan antara riba
dengan bunga? Untuk menjawab pertanyaan ini, diperlukan definisi dari bunga. Secara leksikal, bunga
sebagai terjemahan dari katainterest yang berarti tanggungan pinjaman uang, yang biasanya dinyatakan
dengan persentase dari uang yang dipinjamkan.9 Jadi uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa riba usury
dan bunga interest pada hakekatnya sama, keduanya sama-sama memiliki arti tambahan uang.

Abu Zahrah dalam kitab Buhsu fi al-Rib menjelaskan mengenai haramnya riba bahwa riba adalah tiap
tambahan sebagai imbalan dari masa tertentu, baik pinjaman itu untuk konsumsi atau eksploitasi, artinya
baik pinjaman itu untuk mendapatkan sejumlah uang guna keperluan pribadinya, tanpa tujuan untuk
mempertimbangkannya dengan mengeksploitasinya atau pinjaman itu untuk di kembangkan dengan
mengeksploitasikan, karena nash itu bersifat umum.
Abd al-Rahman al-Jaziri mengatakan para ulama sependapat bahwa tambahan atas sejumlah pinjaman
ketika pinjaman itu dibayar dalam tenggang waktu tertentu iwadh(imbalan) adalaha riba.11 Yang
dimaksud dengan tambahan adalah tambahan kuantitas dalam penjualan asset yang tidak boleh dilakukan
dengan perbedaan kuantitas (tafadhul), yaitu penjualan barang-barang riba fadhal: emas, perak, gandum,
serta segala macam komoditi yang disetarakan dengan komoditi tersebut.
Riba (usury) erat kaitannya dengan dunia perbankan konvensional, di mana dalam perbankan konvensional
banyak ditemui transaksi-transaksi yang memakai konsep bunga, berbeda dengan perbankan yang berbasis
syariah yang memakai prinsip bagi hasil (mudharabah) yang belakangan ini lagi marak dengan
diterbitkannya undang-undang perbankan syariah di Indonesia nomor 7 tahun 1992.

II.1.2 Pandangan Para Pakar Mengenai Riba


Para pakar ekonomi memahami lebih banyak lagi bahaya riba mengikuti perkembangan praktik-praktik
ekonomi. Di antaranya adalah: buruknya distribusi kekayaan, kehancuran sumber-sumber ekonomi, lemah
nya perkembangan ekonomi, pengangguran, dan lain-lain.
Para ulama sepakat bahwa riba adalah haram dan termasuk dosa besar. Keadaan seperti yang digambarkan
oleh Ibnu Taimiyah rahimahullahu sebagai berikut: Tidak ada suatu ancaman hukuman atas dosa besar
selain syirik yang disebut dalam Al-Qur`an yang lebih dahsyat daripada riba.Kesepakatan ini dinukil oleh
Al-Mawardi rahimahullahu. Mohammad Ali al-Saayis di dalam Tafsiir Ayat Ahkaam menyatakan, telah
terjadi kesepakatan atas keharaman riba di dalam dua jenis ini (riba nasiiah dan riba fadlal). Keharaman
riba jenis pertama Al-Quran; sedangkan keharaman riba jenis kedua ditetapkan berdasarkan hadits shahih.
Abu Ishaq di dalam Kitab al-Mubaddamenyatakan; keharaman riba telah menjadi konsensus, berdasarkan
al-Quran dan Sunnah.
Secara garis besar pandangan tentang hukum riba ada dua kelompok, yaitu:

Kelompok

pertama

mengharamkan

riba

yang

berlipat

ganda/adfan

mudhafa,karena yang diharamkan al-Quran adalah riba yang berlipat ganda


saja,

yakni

ribanasah, terbukti

juga

dengan

hadis

tidak

kecuali nasah. Karenanya, selain riba nasah maka diperbolehkan.

ada

riba

Kelompok kedua mengharamkan riba, baik yang besar maupun kecil. Riba
dilarang dalam Islam, baik besar maupun kecil, berlipat ganda atupun tidak.
Riba yang berlipat ganda haram hukumnya karena zatnya, sedang riba kecil
tetap haram karena untuk menutup pintu ke riba yang lebih besar (harmun
lisyadudzariah).

Meski demikian ada beberapa pandangan yang berbeda. Perbedaan-perbedaan itu umumnya disebabkan
oleh beragamnya interpretasi terhadap riba. Kendati riba dalam al-Quran dan al-Hadits secara tegas
dihukumi haram, tetapi karena tidak diberi batasan yang jelas, sehingga hal ini menimbulkan
beragamnya

interpretasi

terhadap

riba.

Selanjutnya persoalan ini berimplikasi

juga terhadap

pemahaman para ulama sesudah generasi sahabat. Bahkan, sampai saat ini persoalan ini (interpretasi
riba) masih menjadi perdebatan yang tiada henti. Namun demikian, ulama mutaqaddimin pada umumnya
sepakat tentang keharamannya.

II.1.3 Riba : Tinjauan Historis


Riba bukan cuma persoalan masyarakat Islam, tapi berbagai kalangan di luar Islam pun memandang serius
persoalan riba. Kajian terhadap masalah riba dapat dirunut mundur hingga lebih dari 2.000 tahun silam.
Masalah riba telah menjadi bahasan kalangan Yahudi, Yunani, demikian juga Romawi. Kalangan Kristen
dari masa ke masa juga mempunyai pandangan tersendiri mengenai riba.
Dalam Islam, memungut riba atau mendapatkan keuntungan berupa riba pinjaman adalah haram. Ini
dipertegas dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 275 : padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba. Pandangan ini juga yang mendorong maraknya perbankan syariah dimana konsep
keuntungan bagi penabung didapat dari sistem bagi hasil bukan dengan bunga seperti pada bank
konvensional,

karena

menurut

sebagian

pendapat

(termasuk Majelis

Ulama

Indonesia),

bunga bank termasuk ke dalam riba. bagaimana suatu akad itu dapat dikatakan riba? hal yang mencolok
dapat diketahui bahwa bunga bank itu termasuk riba adalah ditetapkannya akad di awal. jadi ketika kita
sudah menabung dengan tingkat suku bunga tertentu, maka kita akan mengetahui hasilnya dengan pasti.
berbeda dengan prinsip bagi hasil yang hanya memberikan nisbah bagi hasil bagi deposannya. dampaknya
akan sangat panjang pada transaksi selanjutnya. yaitu bila akad ditetapkan di awal/persentase yang
didapatkan penabung sudah diketahui, maka yang menjadi sasaran untuk menutupi jumlah bunga tersebut
adalah para pengusaha yang meminjam modal dan apapun yang terjadi, kerugian pasti akan ditanggung
oleh peminjam. berbeda dengan bagi hasil yang hanya memberikan nisbah tertentu pada deposannya. maka
yang di bagi adalah keuntungan dari yang didapat kemudian dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati
oleh kedua belah pihak. Contoh nisbahnya adalah 70% : 30%, maka bagian deposan 70% dari total
keuntungan yang didapat oleh pihak bank.
Pertama, dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 275 276, Allah SWT menyatakan bahwa:

Orangorang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang
kemasukan syaitan lantaran tekanan penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan
mereka berkata, sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli
dan mengharamkan riba. Orangorang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus
berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang
larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Oran yang kembali (mengambil riba), maka orang itu
adalah penghuni penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya(275).
Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap
dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa (276).
Di dalam ayat tersebut Allah menegaskan bahwa Dia mengharamkan riba untuk dijadikan sebuah
instrument mencari keuntungan dalam kegiatan sosial ekonomi. Namun, Allah menyuburkan sedekah dan
menghalalkan jual beli sebagai salah satu jalan untuk memperoleh harta dengan cara yang baik.
Berdasarkan uraian diatas, pandangan Islam sudah sangat jelas bahwa konsep riba adalah haram. Secara
bahasa riba berarti kelebihan atau tambahan. Para ulama fiqh mendefiniskan riba sebagai sebuah kelebihan
harta dalam suatu muamalah dengan tidak ada imbalan atau gantinya. Sedangkan secara umum dijelaskan
bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam secara
batil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam Islam.
Sistem ekonomi syariah yang salah satu prinsip di dalamnya adalah larangan mengambil harta secara batil
dengan menggunakan instrument riba telah menimbulkan kecenderungan bahwa konsep larangan riba
hanya terdapat pada Islam. Hal ini akhirnya menimbulkan kesan bahwa larangan riba ini hanya
diperuntukkan oleh umat Islam saja dan merugikan umat agama lain yang selama ini telah nyaman dengan
sistem ekonomi kapitalisnya. Namun, riba ternyata bukanlah persoalan kalangan Islam saja, tetapi sudah
menjadi persoalan serius yang dibahas oleh kalangan non-muslim.
Konsep riba sebenarnya telah lama dikenal dan telah mengalami perkembangan dalam pemaknaan. Kajian
mengenai riba, ternyata bukan hanya diperbincangkan oleh umat Islam saja, tetapi berbagai kalangan di
luar Islam-pun memandang serius persoalan ini. Jika dirunut mundur hingga lebih dari dua ribu tahun
silam, kajian riba ini telah dibahas oleh kalangan non-Muslim, seperti Hindu, Budha (Rivai, dkk, 2007:
761), Yahudi, Yunani, Romawi dan Kristen (Antonio, 2001: 42).
Konsep riba di kalangan Yahudi, yang dikenal dengan istilah neshekh dinyatakan sebagai hal yang
dilarang dan hina. Pelarangan ini banyak terdapat dalam kitab suci mereka, baik dalam Old Testament
(Perjanjian lama) maupun dalam undang-undang Talmud. Banyak ayat dalam Old Testament yang
melarang pengenaan bunga pada pinjaman kepada orang miskin dan mengutuk usaha mencari harta dengan
membebani orang miskin dengan riba (Antonio, 2001: 43) diantaranya adalah sebagai berikut:

Kitab Exodus (Keluaran) pasal 22 ayat 25 menyatakan sebagai berikut: Jika


engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang
miskin di antaramu, maka janganlah engakau berlaku sebagai penagih utang
terhadap dia; janganlah engkau bebankan bunga uang terhadapnya.

Kitab Deuteronomy (Ulangan) pasal 23 ayat 19 menyebutkan sebagai berikut:


Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan
makanan atau apapun yang dapat dibungakan.

Kitab Levicitus (Imamat) pasal 25 ayat 36-37 menyatakan sebagai berikut:


Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba darinya, melainkan engkau
harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu bisa hidup di antaramu. Janganlah
engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu
janganlah kau berikan dengan meminta riba.

Sedangkan pada masa Yunani dan Romawi Kuno, praktek riba merupakan tradisi yang lazim berlaku
(Islahi, 1988: 124). Pada masa Yunani sekitar abad VI SM hingga 1 M, terdapat beberapa jenis bunga yang
bervariasi besarnya (Antonio, 2001: 43). Sementara itu, pada masa Romawi, sekitar abad V SM hingga IV
M, terdapat undang-undang yang membolehkan penduduknya mengambil bunga selama tingkat bunga
tersebut sesuai dengan tingkat maksimal yang dibenarkan hukum (maximum legal rate). Nilai suku bunga
ini berubah-ubah sesuai dengan berubahnya waktu, namun pengambilannya tidak dibenarkan dengan cara
bunga berbunga (double countable).
Pada masa Romawi terdapat 4 jenis tingkat bunga (Antonio, 2001: 44), yaitu sebagai berikut:

Bunga maksimal yang dibenarkan: 8%-12%

Bunga pinjaman biasa di Roma: 4%-12%

Bunga di wilayah taklukan Roma: 6%-100%

Bunga khusus Byzantium: 4%-12%

Meskipun demikian, praktik pengambilan bunga tersebut dicela oleh para ahli filsafat Yunani, diantaranya
Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM), begitu pula para ahli filsafat Romawi, seperti Cato
(234-149 SM), Cicero (106-43 SM) dan Seneca (4 SM-65 M)mengutuk praktik bunga, yang
digambarkannya sebagai tindakan tidak manusiawi (Islahi, 1988: 124)

Konsep riba di kalangan Kristen mengalami perbedaan pandangan, yang Secara umum dapat
dikelompokkan menjadi tiga periode sebagai berikut:
Pertama, pandangan para pendeta awal Kristen (abad I-XII) yang mengharamkan riba dengan merujuk
pada Kitab Perjanjian Lama dan undang- undang dari gereja. Pada abad IV M, gereja Katolik Roma
melarang praktik riba bagi para pendeta, yang kemudian diperluas bagi kalangan awam pada abad V M.
Pada abad VIII M, di bawah kekuasaan Charlemagne, gereja Katolik Roma mendeklarasikan
praktik riba sebagai tindakan kriminal (Iqbal dan Mirakhor, 2007: 71).
Kedua, pandangan para sarjana Kristen (abad XII-XVI) yang cenderung membolehkan bunga, dengan
melakukan terobosan baru melalui upaya melegitimasi hukum, bunga dibedakan menjadi interest dan
usury. Menurut mereka, interest adalah bunga yang diperbolehkan sedangkan usury adalah bunga yang
berlebihan. Para sarjana Kristen yang memberikan kontribusi pemikiran bunga ini adalah Robert of
Courcon (1152-1218), William of Auxxerre (1160- 1220), St. Raymond of Pennaforte (1180-1278), St.
Bonaventure (1221-1274) dan St. Thomas Aquinas (1225-1274) (Antonio, 2001: 47).
Ketiga, pandangan para reformis Kristen (abad XVI-1836) seperti Martin Luther (1483-1536), Zwingli
(1454-1531), Bucer (1491-1551) dan John Calvin (1509-1564) yang menyebabkan agama Kristen
menghalalkan bunga ( interest ). Pada periode ini, Raja Henry VIII memutuskan berpisah dengan Gereja
Katolik Roma, dan pada tahun 1545 bunga ( interest ) resmi dibolehkan di Inggris asalkan tidak lebih dari
10%. Kebijakan ini kembali diperkuat oleh Ratu Elizabeth I pada tahun 1571 (Karim, 2001: 72; Rivai,
dkk, 2007: 763).
Dari berbagai perspektif yang telah terurai diatas, praktek riba tidak hanya dilarang di agama Islam namun
juga telah menjadi pembahasan yang serius di kalangan umat Kristiani, Yahudi, bangsa Yunani dan
Romawi. Ada beberapa alasan penting yang mendasari pelarangan praktik riba yaitu karena dari praktik ini
telah tercipta ruang hilangnya keseimbangan tata kehidupan sosial ekonomi kemasyarakatan. Prinsip
pengambilan bunga menjadi sebuah senjata bagi penganut sistem kapitalis (golongan kaya) untuk
mengambil keuntungan yang sebesar besarnya yang mana hal ini semakin melemahkan posisi orang
orang miskin. Salah satu alat dalam menyuburkan riba adalah kehadiran uang yang saat ini telah berubah
fungsi dari alat tukar menjadi alat komoditas untuk menghasilkan keuntungan.
Dengan latar belakang sejarah tersebut diatas, maka seluruh praktik operasionalisasi perbankan modern
yang mulai tumbuh dan berkembang sejak abad XVI M ini menggunakan sistem bunga. Sistem
bunga ini mulai tumbuh, mengakar, dan mendarah-daging dalam industri perbankan modern sehingga
sulit untuk dipisahkan. Bahkan mereka beranggapan bahwa bunga adalah pusat berputarnya sistem
perbankan. Jika tanpa bunga, maka sistem perbankan menjadi tak bernyawa dan akhirnya perekonomian
akan lumpuh (Mannan, 1997: 165).

II. 2 JENIS-JENIS RIBA


Secara

garis

besar

riba

dikelompokkan

menjadi dua.Yaitu riba

hutang-piutang

dan

ribajual-

beli.Riba hutang-piutang terbagi lagi menjadi riba qardh dan riba jahiliyyah. Sedangkan riba jual-beli
terbagi atas riba fadhl dan riba nasiah.

1.

Riba dalam Utang (Hutang-Piutang)


Riba Qardh

Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (muqtaridh).

Riba Jahiliyyah

Hutang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu
yang ditetapkan.
Pada masa jahiliyah, riba terjadi dalam pinjam meminjam uang. Karena masyarakat Mekah merupakan
masyarakat pedangang, yang dalam musim-musim tertentu mereka memerlukan modal untuk dagangan
mereka. Para ulama mengatakan, bahwa jarang sekali terjadi pinjam meminjam uang pada masa tersebut
yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif.
Pinjam meminjam uang terjadi untuk produktifitas perdatangan mereka. Namun uniknya, transaksi pinjam
meminjam tersebut baru dikenakan bunga, bila seseorang tidak bisa melunasi hutangnya pada waktu yang
telah ditentukan. Sedangkan bila ia dapat melunasinya pada waktu yang telah ditentukan, maka ia sama
sekali tidak dikenakan bunga. Dan terhadap transaksi yang seperti ini, Rasulullah SAW menyebutnya
dengan riba jahiliyah.
Penjelasan Riba dalam Utang:
Riba akibat hutang-piutang disebut Riba Qard ( ) , yaitu suatu manfaat atau tingkat kelebihan
tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (muqtarid), danRiba Jahiliyah ( ) , yaitu
hutang yang dibayar dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu
yang ditetapkan. Perbedaan antara utang yang muncul karena qardh dengan utang karena jual-beli adalah
asal akadnya. Utang qardh muncul karena semata-mata akad utang-piutang, yaitu meminjam harta orang
lain untuk dihabiskan lalu diganti pada waktu lain. Sedangkan utang dalam jual-beli muncul karena harga
yang belum diserahkan pada saat transaksi, baik sebagian atau keseluruhan.

Contoh riba dalam utang-piutang (riba qardh), misalnya, jika si A mengajukan utang sebesar Rp. 20 juta
kepada si B dengan tempo satu tahun. Sejak awal keduanya telah menyepakati bahwa si A wajib
mengembalikan utang ditambah bunga 15%, maka tambahan 15% tersebut merupakan riba yang
diharamkan.
Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan, kaum muslimin telah bersepakat berdasarkan riwayat
yang mereka nukil dari Nabi mereka (saw) bahwa disyaratkannya tambahan dalam pinjam meminjam
(qardh) adalah riba, meski hanya berupa segenggam makanan ternak.
Bahkan, mayoritas ulama menyatakan jika ada syarat bahwa orang yang meminjam harus memberi hadiah
atau jasa tertentu kepada si pemberi pinjaman, maka hadiah dan jasa tersebut tergolong riba, sesuai kaidah,
setiap qardh yang menarik manfaat maka ia adalah riba.

2.

Riba Dalam Jual-Beli


Riba Fadhl

Pertukaran antarbarang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang
dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang ribawi.

Riba Nasiah

Penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang
ribawi lainnya. Riba dalam nasiah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara
yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian.
Penjelasan riba dalam jual beli :
Riba akibat jual-beli disebut Riba Fadl ( ) , yaitu pertukaran antar barang sejenis dengan kadar
atau takaran yang berbeda dan barang yang dipertukarkan termasuk dalam jenis barang ribawi. Dalam jualbeli, terdapat dua jenis riba, yakni riba fadhl dan riba nasiah. Keduanya akan kita kenal lewat contohcontoh yang nanti akan kita tampilkan.
Berbeda dengan riba dalam utang yang bisa terjadi dalam segala macam barang, riba dalam jual-beli tidak
terjadi kecuali dalam transaksi enam barang tertentu yang disebutkan oleh Rasulullah saw. Rasulullah saw
bersabda:
Jika emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak, bur (gandum) ditukar dengan bur, syair
(jewawut, salah satu jenis gandum) ditukar dengan syair, kurma dutukar dengan kurma, dan garam ditukar
dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa

menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut
dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa. (HR. Muslim no. 1584)
Ada beberapa poin yang bisa kita ambil dari hadits di atas:
Pertama, Rasulullah saw dalam kedua hadits di atas secara khusus hanya menyebutkan enam komoditi
saja, yaitu: emas, perak, gandum, jewawut, kurma dan garam. Maka ketentuan/larangan dalam hadits
tersebut hanya berlaku pada keenam komoditi ini saja tanpa bisa diqiyaskan/dianalogkan kepada komoditi
yang lain. Selanjutnya, keenam komoditi ini kita sebut sebagai barang-barang ribawi.
Kedua, Setiap pertukaran sejenis dari keenam barang ribawi, seperti emas ditukar dengan emas atau garam
ditukar dengan garam, maka terdapat dua ketentuan yang harus dipenuhi, yaitu: pertama takaran atau
timbangan keduanya harus sama; dan kedua keduanya harus diserahkan saat transaksi secara tunai/kontan.
Disamping harus sama, pertukaran sejenis dari barang-barang ribawi harus dilaksanakan dengan
tunai/kontan. Jika salah satu pihak tidak menyerahkan barang secara tunai, meskipun timbangan dan
takarannya sama, maka hukumnya haram, dan praktek ini tergolong riba nasiah atau ada sebagian ulama
yang secara khusus menamai penundaan penyerahan barang ribawi ini dengan sebutan riba yad.
Ketiga, Pertukaran tak sejenis di antara keenam barang ribawi tersebut hukumnya boleh dilakukan dengan
berat atau ukuran yang berbeda, asalkan tunai. Para ulama menggolongkan praktek penundaan
penyerahan barang ribawi ini kedalam jenis riba nasiah tapi ada pula ulama yang memasukkannya dalam
kategori sendiri dengan nama riba yad.

II.3 TAHAPAN PELARANGAN RIBA


Tahapan Pelarangan Riba Dalam Al-Quran;
Pelarangan riba diturunkan tidak sekaligus melainkan secara bertahap. Proses ini sama dengan pelarangan
khamr (minuman keras). Dari proses kedua pelarangan tersebut dapat kita lihat persamaan antara riba dan
khamr. Kedua fenomena itu sudah merupakan kebiasaan yang mengakar pada masyarakat. Untuk
meruntuhkan nilai-nilai yang sudah sedemikian tertanam dalam masyarakat dibutuhkan cara yang tepat,
bijaksana namun tegas. Hal ini sangat sesuai dengan teori sosiologi modern, dimana untuk menggantikan
sesuatu yang sudah memasyarakat digunakan melting method. Nilai lama tidak serta merta dilarang
melainkan didudukkan dulu permasalahannya, dikaji secara objektif keuntungan serta kerugiannya,
dilakukan pemasyarakatan nilai pengganti, pemutihan, dan tentu saja law enforcement. Inilah hikmah
diturunkannya al-Quran secara bertahap dimana ayat yang diturunkan mampu menjawab permasalahanpermasalahan aktual yang timbul dalam masyarakat. Selain tercantum dengan sangat jelas dalam al-Quran,

pelarangan riba juga terdapat dalam hadits yang merupakan kontrol yang dilakukan oleh Rasulullah atas
aplikasi pelaksanaan perintah dan larangan dalam kehidupan nyata masyarakat.

Tahap Pertama, menolak anggapan bahwa pinjaman riba pada


zahirnya menolong mereka yang memerlukan sebagai suatu perbuatan
mendekati atau taqarrub kepada Allah SWT.

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia. Maka riba itu
tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk
mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan
(pahalanya) (Qs. Ar-Rum: 19)
Dalam surat Ar-Rum ayat 39 Allah menyatakan secara nasehat bahwa Allah tidak menyenangi orang yang
melakukan riba. Dan untuk mendapatkan hidayah Allah ialah dengan menjauhkan riba. Di sini Allah
menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang mereka anggap untuk menolong manusia merupakan cara
untuk mendekatkan diri kepada Allah. Berbeda dengan harta yang dikeluarkan untuk zakat, Allah akan
memberikan barakah-Nya dan melipat gandakan pahala-Nya. Pada ayat ini tidaklah menyatakan larangan
dan belum mengharamkannya

Tahap kedua, riba digambarkan sebagai suatu yang buruk dan


balasan yang keras kepada orang Yahudi yang memakan riba.

Pada tahap kedua, Allah menurunkan surat An-Nisa ayat 160-161. Maka disebabkan kedzaliman orangorang Yahudi, kami harankan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya)
dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi manusia dari jalan Allah, dan disebabkan
mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka
memakan harta orang dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan orang-orang yang kafir diantara
mereka itu siksa yang pedih (Qs. An-Nisa: 160-161).
Riba digambarkan sebagai sesuatu pekerjaan yang dhalim dan batil. Dalam ayat ini Allah menceritakan
balasan siksa bagi kaum Yahudi yang melakukannya. Ayat ini juga menggambarkan Allah lebih tegas lagi
tentang riba melalui riwayat orang Yahudi walaupun tidak terus terang menyatakan larangan bagi orang
Islam. Tetapi ayat ini telah membangkitkan perhatian dan kesiapan untuk menerima pelarangan riba. Ayat
ini menegaskan bahwa pelarangan riba sudah pernah terdapat dalam agama Yahudi. Ini memberikan isyarat
bahwa akan turun ayat berikutnya yang akan menyatakan pengharaman riba bagi kaum Muslim.

Tahap ketiga, riba itu diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu


tambahan yang berlipat ganda.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah
kamu kepada Allah supaya kamu mendapatkan keberuntungan (Qs. Ali-Imran: 130).
Dalam surat Ali Imran ayat 130, Allah tidak mengharamkan riba secara tuntas, tetapi melarang dalam
bentuk lipat ganda. Hal ini menggambarkan kebijaksanaan Allah yang melarang sesuatu yang telah
mendarah daging, mengakar pada masyarakat sejak zaman jahiliyah dahulu, sedikit demi sedikit, sehingga
perasaan mereka yang telah biasa melakukan riba siap menerimanya.

Tahap keempat, ayat riba diturunkan oleh Allah SWT. Yang dengan
jelas sekali mengharamkan sebarang jenis tambahan yang diambil
daripada jaminan.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba yang belum dipungut,
jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka
ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan
riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya. (Qs. Al-Baqoroh:
278-279).
Turun surat al-Baqarah ayat 275-279 yang isinya tentang pelarangan riba secara tegas, jelas, pasti, tuntas,
dan mutlak mengharamannya dalam berbagai bentuknya, dan tidak dibedakan besar kecilnya. Bagi yang
melakukan riba telah melakukan kriminalisasi. Dalam ayat tersebut jika ditemukan melakukan
kriminalisasi, maka akan diperangi oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.
Ayat ini merupakan peringatan keras dan ancaman yang sangat tegas bagi orang yang masih tetap
mempraktekkan riba setelah adanya peringatan tersebut. Ibnu Juraij menceritakan Ibnu Abbas mengatakan
bahwasannya ayat ini maksudnya ialah, yakinilah bahwa Allah dan Rasul akan memerangi kalian.
Sedangkan menurut Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah tentang riba,
makasudnya, barangsiapa yang masih tetap melakukan praktek riba dan tidak melepaskan diri darinya,
maka wajib atas Imam kaum Muslimin untuk memintanya bertaubat, jika ia mau melepaskan diri darinya,
maka keselamatan baginya, dan jika menolak, maka ia harus dipenggal lehernya.

II.4 PERBEDAAN INVESTASI DENGAN


RIBA
II.4.1 Perbedaan Investasi dengan
Membungakan Uang

Ada dua perbedaan mendasar antara investasi dengan mem-bungakan uang. Perbedaan tersebut dapat
ditelaah dari definisi hingga makna masing-masing.

Investasi adalah kegiatan usaha yang mengandung risiko karena berhadapan


dengan unsur ketidakpastian. Dengan demikian, perolehan kembaliannya
(return) tidak pasti dan tidak tetap.

Membungakan uang adalah kegiatan usaha yang kurang mengandung risiko


karena perolehan kembaliannya berupa bunga yang relatif pasti dan tetap.

Islam mendorong masyarakat ke arah usaha nyata dan produktif. Islam mendorong seluruh masyarakat
untuk melakukan investasi dan melarang membungakan uang. Sesuai dengan definisi di atas, menyimpan
uang di bank Islam termasuk kategori kegiatan investasi karena perolehan kembaliannya (return) dari
waktu ke waktu tidak pasti dan tidak tetap. Besar kecilnya perolehan kembali itu ter-gantung kepada hasil
usaha yang benar-benar terjadi dan dilakukan bank sebagai mudharib atau pengelola dana.
Dengan demikian, bank Islam tidak dapat sekadar menyalurkan uang. Bank Islam harus terus berupaya
meningkatkan kembalian atau return of investment sehingga lebih menarik dan lebih memberi kepercayaan
bagi pemilik dana.

II.4.2 Perbedaan Hutang Uang dan Hutang


Barang
Ada dua jenis hutang yang berbeda satu sama lainnya, yakni hutang yang terjadi karena pinjam-meminjam
uang dan hutang yang terjadi karena pengadaan barang. Hutang yang terjadi karena pinjam-meminjam
uang tidak boleh ada tambahan, kecuali dengan alasan yang pasti dan jelas, seperti biaya materai, biaya
notaris, dan studi kelayakan. Tambahan lainnya yang sifatnya tidak pasti dan tidak jelas, seperti inflasi dan
deflasi, tidak diperbolehkan. Hutang yang terjadi karena pembiayaan pengadaan barang harus jelas dalam
satu kesatuan yang utuh atau disebut harga jual. Harga jual itu sendiri terdiri dari harga pokok barang plus
keuntungan yang disepakati. Sekali harga jual telah disepakati, maka selamanya tidak boleh berubah naik,
karena akan masuk dalam kategori riba fadl. Dalam transaksi perbankan syariah yang muncul adalah
kewajiban dalam bentuk hutang pengadaan barang, bukan hutang uang.

II.4.3 Perbedaan antara Bunga dan Bagi Hasil


Sekali lagi, Islam mendorong praktik bagi hasil serta mengharamkan riba. Keduanya sama-sama memberi
keuntungan bagi pemilik dana, namun keduanya mempunyai perbedaan yaitu;

Bagi hasil:

Penentuan besarnya rasio/ nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan
berpedoman pada kemungkinan untung rugi

Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang


diperoleh

tergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. Bila usaha merugi,


kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak.

Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil

Bunga bank (Riba):

Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi harus selalu untung

Besarnya

persentase

berdasarkan

pada

jumlah

uang

(modal)

yang

dipinjamkan

Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah


proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi

Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan


berlipat atau keadaan ekonomi sedang booming

Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh beberapa kalangan.

Islam mendorong masyarakat kearah usaha nyata dan produktif. Islam mendorong seluruh masyarakat
untuk melakukan investasi dan melarang membungakan uang. Menyimpan uang dibank Islam termasuk
kategori kegiatan investasi karena perolehan kembaliannya dari waktu ke waktu tidak pasti dan tidak tetap.
Besar kecilnya perolehan kembali itu tergantung kepada hasil usaha yang benar-benar terjadi dan
dilakukan bank sebagai mudharib atau pengelola dana.
Dengan demikian, bank Islam tidak dapat sekedar menyalurkan uang. Bank Islam harus berupaya
meningkatkan kembalian atau return off investment sehingga lebih menarik dan lebih memberi
kepercayaan kepada pemilik dana.

1.5 PANDANGAN KAUM MODERN


TERHADAP RIBA
Kaum modernis memandang riba lebih menekankan pada aspek moralitas atas pelarangannya, dan
menomor-duakan legal-form riba, seperti yang ditafsirkan dalam fiqh. Mereka (kaum modernis) adalah
Fazlur Rahman (1964), Muhammad Asad (1984), Said al-Najjar (1989), dan Abd al-Munim al-Namir
(1989).
Menurut Muhammad Asad:
Garis besarnya, kekejian riba (dalam arti di mana istilah digunakan dalam al-Quran dan dalam banyak
ucapan Nabi SAW) terkait dengan keuntungan-keuntungan yang diperoleh melalui pinjaman-pinjaman
berbunga yang mengandung eksploitasi atas orang-orang yang berekonomi lemah orang-orang kuat dan
kayadengan menyimpan definisi ini di dalam benak kita menyadari bahwa persolan mengenai jenis
transaksi keuangan mana yang jatuh ke dalam kategori riba, pada akhirnya, adalah persoalan moralitas
yang sangat terkai dengan motivasi sosio-ekonomi yang mendasari hubungan timbal-balik antara si
peminjam dan pemberi pinjaman.
Menurut pemikir modern yang lain adalah Abdullah Yusuf Ali, beliau mendefiniskan riba adalah:
Tidak dapat disangsikan lagi tentang pelarangan riba. Pandangan yang biasa saya terima seakan-akan
menjelaskan, bahwa tidak sepantasnya memperoleh keuntungan dengan menempuh jalan perdagangan
yang terlarang, di antaranya dengan pinjam meminjam terhadap emas dan perak serta kebutuhan bahan
makanan meliputi gandum, gerst (seperti gandum yang dipakai dalam pembuatan bir), kurma, dan garam.
Menurut pandangan saya seharusnya larangan ini mencakup segala macam bentuk pengambilan
keuntungan yang dilakukan secara berlebih-lebihan dari seluruh jenis komoditi, kecuali melarang pinjaman
kredit ekonomi yang merupakan produk perbankan modern.
Sedangkan Fazlur Rahman berpendapat bahwa riba:
Mayoritas kaum muslim yang bermaksud baik dengan bijaksana tetap berpegang teguh pada keimanannya,
menytakan bahwa al-Quran melarang
seluruh bunga bank. (menanggapi penjelasan tersebut) sedih rasanya pemahaman yang mereka dapatkan
dengan cara mengabaikan bentuk riba yang bagaimanakah yang menurut sejarah dilarang, mengapa alQuran mencelanya sebagai perbuatan keji dan kejam mengapa menganggapnya sebagai tindakan
eksploitatif serta melarangnya, dan apa sebenarnya fungsi bunga bank pada saat ini.

Bagi kaum modernis tampak dengan jelas bahwa apa yang diharamkan adalah adanya eksploitasi atas
orang-orang miskin, bukan pada konsep bunga itu sendiri (legal-form) menurut hukum Islam, apa yang
diharamkan adalah tipe peminjaman yang berusaha mengambil untung dari penderitaan orang lain.
II.6 Praktik Riba Dalam Kehidupan
Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa riba adalah segala tambahan yang disyaratkan dalam transaksi
bisnis tanpa adanya padanan yang dibenarkan syariah. Praktek seperti ini dapat terjadi dihampir seluruh
muamalah maliyah kontemporer, diantaranya adalah pada :

Transaksi Perbankan.

Sebagaimana diketahui bersama, bahwa basis yang digunakan dalam praktek perbankan (konvensional)
adalah menggunakan basis bunga (interest based). Dimana salah satu pihak (nasabah), bertindak sebagai
peminjam dan pihak yang lainnya (bank) bertindak sebagai pemberi pinjaman. Atas dasar pinjaman
tersebut, nasabah dikenakan bunga sebagai kompensasi dari pertangguhan waktu pembayaran hutang
tersebut, dengan tidak memperdulikan, apakah usaha nasabah mengalami keuntungan ataupun tidak.
Praktek seperti ini sebenarnya sangat mirip dengan praktek riba jahiliyah pada masa jahiliyah. Hanya
bedanya, pada riba jahiliyah bunga baru akan dikenakan ketika si peminjam tidak bisa melunasi hutang
pada waktu yang telah ditentukan, sebagai kompensasi penambahan waktu pembayaran. Sedangkan pada
praktek perbankan, bunga telah ditetapkan sejak pertama kali kesepakatan dibuat, atau sejak si peminjam
menerima dana yang dipinjamnya. Oleh karena itulah tidak heran, jika banyak ulama yang mengatakan
bahwa praktek riba yang terjadi pada sektor perbankan saat ini, lebih jahiliyah dibandingkan dengan riba
jahiliyah.
Selain terjadi pada aspek pembiyaan sebagaimana di atas, riba juga terjadi pada aspek tabungan. Dimana
nasabah mendapatkan bunga yang pasti dari bank, sebagai kompensasi uang yang disimpannya dalam
bank, baik bank mengalami keuntungan maupun kerugian. Berbeda dengan sistem syariah, di mana bank
syariah tidak menjanjikan return tetap, melainkan hanya nisbah (yaitu prosentasi yang akan dibagikan dari
keuntungan yang didapatkan oleh bank). Sehingga return yang didapatkan nasabah bisa naik turun, sesuai
dengan naik turunnya keutungan bank. Istilah seperti inilah yang kemudian berkembang namanya menjadi
sistem bagi hasil.

Transaksi Asuransi.

Dalam sektor asuransi pun juga tidak luput dari bahaya riba. Karena dalam asuransi (konvensional) terjadi
tukar menukar uang dengan jumlah yang tidak sama dan dalam waktu yang juga tidak sama. Sebagai
contoh, seseorang yang mengasuransikan kendaraannya dengan premi satu juta rupiah pertahun. Pada
tahun ketiga, ia kehilangan mobilnya seharga 100 juta rupiah. Dan oleh karenanya pihak asuransi

memberikan ganti rugi sebesar harga mobilnya yang telah hilang, yaitu 100 juta rupiah. Padahal jika
diakumulasikan, ia baru membayar premi sebesar 3 juta rupiah. Jadi dari mana 97 juta rupiah yang telah
diterimanya? Jumlah 97 juta rupiah yang ia terima masuk dalam kategori riba fadhl (yaitu tukar menukar
barang sejenis dengan kuantitas yang tidak sama).
Pada saat bersamaan, praktek asuransi juga masuk pada kategori riba nasiah (kelebihan yang dikenakan
atas pertangguhan waktu), karena uang klaim yang didapatkan tidak yadan biyadin dengan premi yang
dibayarkan. Antara keduanya ada tenggang waktu, dan oleh karenanya terjadilah riba nasiah. Hampir
semua ulama sepekat, mengenai haramnya asuransi (konvensional) ini. Diantara yang mengaramkannya
adalah Sayid Sabiq dan juga Sheikh Yusuf Al-Qardhawi. Oleh karenanya, dibuatlah solusi berasuransi yang
selaras dengan syariah Islam. Karena sistem asuransi merupakan dharurah ijtimaiyah (kebutuhan sosial),
yang sangat urgen.

Transaksi Jual Beli Secara Kredit.

Jual beli kredit yang tidak diperbolehkan adalah yang mengacu pada bunga yang disertakan dalam jual
beli tersebut. Apalagi jika bunga tersebut berfruktuatif, naik dan turun sesuai dengan kondisi ekonomi dan
kebijakan pemerintah. Sehingga harga jual dan harga belinya menjadi tidak jelas (gharar fitsaman).
Sementara sebenarnya dalam syariah Islam, dalam jual beli harus ada kepastian harga, antara penjual dan
pembeli, serta tidak boleh adanya perubahan yang tidak pasti, baik pada harga maupun pada barang yang
diperjual belikan. Selain itu, jika terjadi kemacetan pembayaran di tengah jalan, barang tersebut akan
diambil kembali oleh penjual atau oleh daeler dalam jual beli kendaraan. Pembayaran yang telah dilakukan
dianggap sebagai sewa terhadap barang tersebut.
Belum lagi komposisi pembayaran cicilah yang dibayarkan, sering kali di sana tidak jelas, berapa harga
pokoknya dan berapa juga bunganya. Seringkali pembayaran cicilan pada tahun-tahun awal, bunga lebih
besar dibandingkan dengan pokok hutang yang harus dibayarkan. Akhirnya pembeli kerap merasa
dirugikan di tengah jalan. Hal ini tentunya berbeda dengan sistem jual beli kredit secara syariah. Dimana
komposisi cicilan adalah flat antara pokok dan marginnya, harga tidak mengalami perubahan sebagaimana
perubahan bunga, dan kepemilikan barang yang jelas, jika terjadi kemacetan. Dan sistem seperti ini, akan
menguntungkan baik untuk penjual maupun pembeli.
Masih banyak sesungguhnya transaksi-transaksi yang mengandung unsur ribawi di tengah-tengah
kehidupan kita. Intinya adalah kita harus waspada dan menghindarkan diri sejauh-jauhnya dari muamalah
seperti ini. Cukuplah nasehat rabbani dari Allah SWT kepada kita Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan
yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu;
sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. Annisa : 29)
II.7 Pelarangan Riba dalam Sistem Keuangan Islam

Pelarangan riba, menurut Qardhawi memiliki hikmah yang tersembunyi dibalik pelarangannya yaitu
perwujudan persamaan yang adil di antara pemilik harta (modal) dengan usaha, serta pemikulan resiko dan
akibatnya secara berani dan penuh rasa tanggung jawab. Prinsip keadilan dalam Islam ini tidak memihak
kepada salah satu pihak, melainkan keduanya berada pada posisi yang seimbang. Konsep pelarangan riba
dalam Islam dapat dijelaskan dengan keunggulannya secara ekonomis dibandingkan dengan konsep
ekonomi konvensional. Riba secara ekonomis lebih merupakan sebuah upaya untuk mengoptimalkan aliran
investasi dengan cara memaksimalkan kemungkinan investasi melalui pelarangan adanya pemastian
(bunga). Semakin tinggi tingkat suku bunga, semakin besar kemungkinan aliran investasi yang terbendung.
Hal ini dapat diumpamakan seperti sebuah bendungan. Semakin tinggi dinding bendungan, maka semakin
besar aliran air yang terbendung (Ascarya, 2007: 17).
Dengan pelarangan riba, maka dinding yang membatasi aliran investasi tidak ada sehingga alirannya lancar
tanpa halangan. Hal ini terlihat jelas pada saat Indonesia dilanda krisis keuangan dan perbankan pada
1997-1998. Pada saat itu, suku bunga perbankan melambung sangat tinggi mencapai 60%. Dengan suku
bunga setinggi itu bisa dikatakan hampir tidak ada orang yang berani meminjam ke bank untuk investasi.
Dari penjelasan di atas, implikasi pelarangan riba pada sektor riil, menurut Ascarya (2007: 19) antara lain:

Mengoptimalkan aliran investasi tersalur lancar ke sektor riil.

Mencegah penumpukan harta pada sekelompok orang, ketika hal tersebut


berpotensi mengeksploitasi perekonomian (eksploitasi pelaku ekonomi atas
pelaku yang lain; eksploitasi sistem atas pelaku ekonomi);

Mencegah timbulnya gangguan-ganguan dalam sektor riil, seperti inflasi dan


penurunan produktivitas ekonomi makro;

Mendorong terciptanya aktivitas ekonomi yang adil, stabil dan sustainable


melalui mekanisme bagi hasil (profit-loss sharing) yang produktif.

Dengan demikian, adanya pelarangan riba dalam Islam, maka aliran investasi menjadi optimal dan tersalur
ke sektor produktif. Sementara itu, dalam sistem konvensional sistem bunga membuat aliran investasi
menjadi tidak optimal dan tidak lancar karena sebagiannya terhambat. Sedangkan dengan tidak adanya
pelarangan judi, sebagian investasi tidak tersalur ke sektor produktif sebagaimana Sistem Konvensional.
(Sumber: Ascarya, 2007: 21)
Lebih jauh lagi, ketika riba hanya mencakup usury, maka fokus pengembangan ekonomi Islam akan
mengarah kepada penyempurnaan dan kelengkapan regulasi dari infrastruktur ekonomi Islam saja, yang di
dalamnya mencakup lembaga keuangan Islam (bank syariah, asuransi syariah, pasar modal syariah, dan

sebagainya). Namun, ketika riba termasuk interest, maka fokus pengembangan ekonomi Islam juga
mengarah kepada tatanan makroekonomi dan pengelolaan moneter yang berbasis emas (full bodied
money) pada dimensi jangka panjang (Ascarya, 2007: 21).
II.8 Cara-Cara Pengembangan Uang yang Tidak Mengandung Riba
Riba merupakan suatu bentuk transaksi ekonomi yang keharamannya bukan disebabkan karena dzatnya,
namun disebabkan oleh transaksi yang dilakukan (haram lighairihi).
Solusi Islam untuk menghindarkan riba dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan aktivitas ekonomi
syariah yakni Investasi. Investasi ini dapat dilakukan melalui kerjasama ekonomi yang dilakukan dalam
semua lini kegiatan ekonomi, baik produksi, konsumsi dan distribusi. Salah satu bentuk kerjasama dalam
bisnis ekonomi Islam adalah musyarakah atau mudharabah. Melalui transaksi musyarakah dan mudharabah
ini, kedua belah pihak yang bermitra tidak akan mendapatkan bunga, tetapi mendapatkan bagi hasil atau
profit dan loss sharing dari kerjasama ekonomi yang disepakati bersama. Profit-loss sharing ini dapat
dianggap sebagai sistem kerjasama yang lebih mengedepankan keadilan dalam bisnis Islam, sehingga
dapat dijadikan sebagai solusi alternatif pengganti sistem bunga. Profit-Loss Sharing: Solusi Islam
terhadap Alternatif Pengganti Bunga Sebagai alternatif sistem bunga dalam ekonomi konvensional,
ekonomi Islam menawarkan sistem bagi hasil (profit and loss sharing) ketika pemilik modal (surplus
spending unit) bekerja sama dengan pengusaha (deficit spending unit) untuk melakukan kegiatan usaha.
Apabila kegiatan usaha menghasilkan, keuntungan dibagi bersama dan apabila kegiatan usaha menderita
kerugian, kerugian juga ditanggung bersama. Sistem bagi hasil ini dapat berbentuk mudharabah atau
musyarakah dengan berbagai variasinya. Dalam mudharabah terdapat kerja sama usaha antara dua pihak
dimana pihak (shahibul mal) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lainnya sebagai mudharib
(pengelola). Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam
kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian
mudharib. Namun, seandainya kerugian itu diakibatkan karena kelalaian mudharib, maka mudharib juga
harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut (Antonio, 2001: 95).
Alternatif pengganti bunga yang lain adalah partisipasi modal (equity participation) melalui ekspektasi rate
of return yang disebut sebagai musyarakah. Sektor riil merupakan sektor yang paling penting disorot dalam
ekonomi Islam karena berkaitan langsung dengan peningkatan output dan akhirnya kesejahteraan
masyarakat. Segala komponen dalam perekonomian diarahkan untuk mendorong sektor riil ini, baik dalam
memotivasi pelaku bisnis maupun dalam hal pembiayaannya (Masyhuri, 2005: 108-109).
Ekspektasi return, berbeda dengan suku bunga yang selalu dijustifikasi pleh time value of money, namun
justru dikaitkan dengan economic value of money. Dengan demikian, faktor yang menentukan nilai waktu
adalah bagaimana seseorang memanfaatkan waktu itu. Semakin efektif dan efisien, maka akan semakin
tinggi nilai waktunya. Dengan pemanfaatan waktu sebaik-baiknya untuk bekerja dan berusaha akan

menghasilkan pendapatan yang dapat dinilai dengan uang. Hal ini bertentangan dengan time value of
money, yang tidak secara proporsional mempertimbangkan probabilitas terjadinya deflasi, selain adanya
inflasi. Karena pada realitanya, ketidakpastian (uncertainty) selalu terjadi, dan sangat menjadi tidak adil
jika hanya menuntut adanya kepastian, seperti yang berlaku dalam ekonomi konvensional melalui konsep
time value of money-nya.
Oleh karena itu, pemodal dalam Islam tidak berhak meminta rate of return yang nilainya tetap dan tidak
seorangpun berhak mendapatkan tambahan dari pokok modal yang ditanamkannya tanpa keikutsertaannya
dalam menanggung resiko (Masyhuri, 2005: 109-110).
Dengan demikian, menurut Ascarya (2007: 26) kedua sistem profit and loss sharing ini, baik mudharabah
dan musyarakah akan mampu menjamin adanya keadilan dan tidak adanya pihak yang tereksploitasi
(terdzalimi). Melalui sistem bagi hasil ini juga akan terbangun pemerataan dan kebersamaan serta
menciptakan suatu tatanan ekonomi yang lebih merata. Sedangkan dalam perekonomian konvensional,
sistem riba, fiat money, commodity money, dan pembolehan spekulasi akan menyebabkan penciptaan uang
(kartal dan giral) dan tersedotnya uang di sektor moneter untuk mencari keuntungan tanpa resiko.
Akibatnya, uang atau investasi yang seharusnya tersalur ke sektor riil untuk tujuan produktif sebagian
besar lari ke sektor moneter dan menghambat pertumbuhan bahkan menyusutkan sektor riil.
BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Dari uarain makalah di atas, maka dapat disimpulkan bahwa riba merupakan kegiatan eksploitasi dan tidak
memakai konsep etika atau moralitas. Allah mengharamkan transaksi yang mengandung unsur ribawi, hal
ini disebabkan mendholimi orang lain dan adanya unsur ketidakadilan (unjustice). Para ulama sepakat dan
menyatakan dengan tegas tentang pelarangan riba, dalam hal ini mengacu pada Kitabullah dan Sunnah
Rasul serta ijma para ulama.
Transaksi riba biasanya sering terjadi dan ditemui dalam transaksi hutang piutang dan jual beli. Hutang
piutang merupakan transaksi yang rentan akan riba, di mana kreditor meminta tambahan kepada debitor
atas modala awal yang telah dipinjamkan sebelumnya. Sejak pra-Islam riba telah dikenal bahkan sering
dilakukan dalam kegiatan perekonomian sehari-hari. Secara garis besar riba ada dua yaitu: riba akibat
hutang piutang dan riba akibat jual beli.
Pelarangan Riba tidak hanya Islam saja yang melarang pengambilan riba, tetapi agama-agama samawi juga
melarang dan mengutuk pelaku riba. Riba juga bukan hanya persoalan masyarakat Islam, tapi berbagai
kalangan di luar Islam pun memandang serius persoalan riba. Kajian terhadap masalah riba dapat dirunut

mundur hingga lebih dari 2.000 tahun silam. Pelarangan riba telah menjadi bahasan kalangan Yahudi,
Yunani, demikian juga Romawi. Kalangan Kristen dari masa ke masa juga mempunyai pandangan
tersendiri mengenai riba yang sangat tidak adil.
Kaum modernis memandang riba lebih menekankan kepada aspek moralitas, bukan pada aspek legal
formalnya, tetapi mereka (kaum modernis) tidak membolehkan kegiatan pengambilan riba.
III.2 Saran
Islam mengharamkan riba selain telah tercantum secara tegas dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 278279 yang merupakan ayat terakhir tentang pengharaman riba, juga mengandung unsur eksploitasi. Dalam
surat al-baqarah disebutkan tidak boleh menganiaya dan tidak (pula) dianiaya, maksudnya adalah tidak
boleh melipat gandakan (adafan mudhaafan) uang yang telah dihutangkan, juga karena dalam
kegiatannya cenderung merugikan orang lain.
Maka dari itu jauhilah riba, dan lakukanlah aktivitas ekonomi untuk dikembangkan sehingga memiliki
beberapa kaidah dan etika atau moralitas dalam syariat Islam. Allah telah menurunkan rizki ke
dunia ini untuk dimanfaatkan oleh manusia dengan cara yang telah dihalalkan oleh Allah dan
bersih dari segala perbuatan yang mengandung riba.
DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia. 2014. Riba. (Online). Tersedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Riba. [di akses pada 6 Mei 2014,
06:54]
Fauzi, Abu Amar. 2014. Riba dalam Prespektif Islam, Kristen, Yahudi, Yunani dan Romawi. Surabaya.
(Online). Tersedia di (http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2014/12/10/riba-dalam-prespektif-islamkristen-yahudi-yunani-dan-romawi-691193.html). [diakses pada 10, Desember 2014 12:55]
Maulan,

Rizka.

2014. Larangan

Riba

dalam

Islam.

(Online).

Tersedia

dihttps://investasisyariahonline.wordpress.com/seputar-riba/larangan-riba-dalam-islam/.
[Sumber; eramuslim.com]
Dien, Hisyam Ad. 2013. Pengertian Riba, Jenis-Jenis Riba, Contoh-Contoh Riba. (Online). Tersedia
di http://www.globalmuslim.web.id/2013/01/pengertian-riba-jenis-jenis-riba-contoh.html. [diakses pada
Januari 2013, 08:01]
KoperasiSyariah.

2009. Perbedaan

Investasi

dengan

Membungakan

Uang.

(Online).

Tersedia

di http://www.koperasisyariah.com/perbedaan-investasi-dengan-membungakan-uang/. [diakses pada, 8


Februari 2009, 07:01]

Lubis,

Tagor

Mulya.

2014. Perbedaan

Bagi

Hasil

dan

Bunga

Bank.

(Online).

Tersedia

di http://mulyalubis.weebly.com/perbedaan-bagi-hasil-dan-bunga-bank.html. [diakses pada 2014, 12:07]


Chair, Waisul. 2012. Riba dalam Prespektif Islam. (Online). Tersedia dihttp://fe.unira.ac.id/wpcontent/uploads/2012/10/RIBA-DALAM-PERSPEKTIF-ISLAM.pdf. [diakses pada 2012,
Munawwir, Ahmad Warson, al-Munawwir, Kamus Arab-Indonesia, cet. 14.
Yogyakarta: P. al-Munawwir, 1997