Anda di halaman 1dari 14

RANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO

HIDRO SUNGAI JENE BERANG TINGGI MONCONG


KABUPATEN GOWA

DISUSUN OLEH:

NAMA : MUH. RAIS


NIM : D411 11 005
SUB PRODI : TEKNIK ENERGI LISTRIK

JURUSAN ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

I.

PENDAHULUAN

Sumber Daya Air adalah sumber daya dengan beragam kegunaan yang
sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kegunaan air juga
meliputi penggunaan air dalam upaya pengadaan energi listrik yang juga
merupakan kebutuhan utama dalam masyarakat. Keterbatasan tenaga listrik
merupakan salah satu permasalahan yang harus segera diatasi sehingga tidak
mengakibatkan krisis yang dapat berdampak lebih besar.
Dalam hal penyediaan listrik, perluasan jaringan sampai ke daerah-daerah
terpencil pada umumnya tidak ekonomis. Begitu juga dengan penggunaan
pembangkit berbahan bakar fosil untuk daerah terpencil biasanya tidak ekonomis,
karena skala pembangkitan yang terlalu kecil dan tingginya biaya bahan bakar.

Meskipun demikian, penyediaan listrik tetap harus dilakukan karena merupakan


investasi sosial yang tak terhindarkan dalam rangka peningkatan kesejah-teraan
masyarakat.
Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan akan penerangan listrik pada
daerah terpencil perlu diciptakan alat yang dapat menjangkau tempat terpencil
yang murah dan ramah lingkungan, yaitu Pembangkit Listri Tenaga Mikrohidro
(PLTMH). Pemasangan pembangkit listrik tenaga air atau Pembangkit Listrik
Tenaga Mikrohidro (PLTMH) khususnya didaerah terpencil masih perlu
dikembangkan melihat daerah di Indonesia yang banyak sekali air yang belum
dimafaatkan secara optimal, dan masih banyak pula daerah terpencil di Indonesia
yang belum terjangkau oleh aliran listrik (PLN). Sebagai alternatif pembangkit
listrik dengan menggunakan diesel (PLTD) yang menggunakan bahan bakar
minyak khususnya solar yang biaya operationalnya lebih besar dibanding
PLTMH, disamping itu PLTMH juga ramah lingkungan.
Pemerintah telah pula membuat peraturan perundangan yang menunjang
investasi dalam bidang PLTMH yaitu Peraturan Pemerintah No. 03 tahun 2005
tentang Ketenagalistrikan menyatakan bahwa guna menjamin ketersediaan energi
primer untuk pembangkit tenaga listrik, diprioritaskan penggunaan sumber energi

setempat dengan kewajiban mengutamakan pemanfaatan sumber energi


terbarukan.
Sungai Jene Berang mempunyai ketersediaan air yang cukup sepanjang
tahun (kontinuitas), debit yang dapat diandalkan, dan memiliki kontur yang sesuai
dengan teknis perencanaan untuk dibangun PLTMH didaerah ini. Dengan
kenyataan dan kondisi yang demikian, ada kemungkinan air yang belum
dimanfaatkan itu digunakan untuk membangkitkan listrik. Listrik yang dihasilkan
dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang bermukim di Daerah
Aliran Sungai (DAS) Jene Berang, Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten
Gowa. Dengan demikian indikasi listrik yang dihasilkan adalah listrik dengan
daya kecil.

II. METODOLOGI PERENCANAAN


A. Hydropower
Pembangkit energi air skala mikro atau pembangkit tenaga mikrohidro
semakin populer sebagai alternatif sumber energi, terutama di wilayah yang

terpencil. Sistem pembangkit tenaga mikrohidro dapat dipasang di sungai kecil


dan tidak memerlukan dam yang besar sehingga dampaknya terhadap lingkungan
sangat kecil.
Pembangkit tenaga mikrohidro dapat digunakan langsung sebagai
penggerak mesin atau digunakan untuk menggerakan generator listrik. Instalasi
pembangkit listrik dengan tenaga mikrohidro biasa disebut sebagai Pembangkit
Listrik Tenaga Mikrohidro, disingkat PLTMH. Daya yang dibangkitkan antara 5
kW sampai dengan 100 kW
Besarnya tenaga air yang tersedia dari suatu sumber tenaga air bergantung
pada besarnya head dan debit air. Dalam hubungan dengan reservoir air maka
head adalah beda tinggi antara muka air pada reservoir dengan muka air keluar
pada turbin. Total daya yang terbangkitkan dari suatu turbin air adalah merupakan
reaksi antara head dan debit air seperti di tunjukan pada persamaan berikut:
P = Q x g x h x turbin x generator
dengan:
P = daya (watt)
3

Q = Debit (m /s)
2

g = gaya gravitasi (m/s )


h = tinggi jatuh efektif (m)
= efisiensi (%)

B. Perencanaan PLTMH
1. Debit Andalan

Lengkung durasi aliran (flow duration curve) adalah suatu grafik yang
memperlihatkan debit sungai dan selama beberapa waktu tertentu dalam satu
tahun. Pada gambar berikut jelas bahwa debit minimum terdapat selama setahun
penuh, sedangkan debit maksimum hanya terdapat selama beberapa jam.
Lengkung durasi aliran digambarkan dari data-data debit, sekurang-kurangnya
selama 10 tahun.
Tabel 1. Klasifikasi Kondisi hidrologi
Flow Duration
Interval
0 - 10%
10 - 40%
40 - 60%
60 - 90%
90 - 100%

Hydrologic Condition
Class
High flows
Moist Conditions
Mid-Range Conditions
Dry Conditions
Low Flows

Sumber: Cleland 2003.

2. Bak Penenang (Forebay)

Bak penenang berfungsi untuk mengontrol perbedaan debit dalam pipa


pesat (penstock) dan saluran pembawa karena fluktuasi beban, disamping itu juga
sebagai pemindah sampah terakhir (tanah, pasir, kayu yang mengapung) dalam
air yang mengalir. Bak penenang dilengkapi saringan (trashrack) dan pelimpas
(spillway).
Vf = Af x hf
= Bf x L x (hs + z)
Dengan:
3

Vf = Volume desain bak penenang (m )


2

Af = Luas bak penenang (m )


hf = Tinggi muka air pada bak penenang (m)
L

= Panjang bak penenang (m)

= Beda tinggi (m)

3. Penstock
Pipa pesat dalam perencanaan mikrohidro biasanya juga disebut dengan
Penstock. Penstock adalah saluran penghubung antara bak penenang (forebay)
menuju turbin. Pipa ini direncanakan untuk dapat menahan tekanan tinggi dan
berfungsi untuk mengalirkan air dari pengambilan (intake) menuju bak penenang.
Untuk mendapatkan diameter pipa dapat dihitung dengan persamaan sebagai
berikut:

Dengan:
D = Diameter pipa pesat (m)
3

Q = Debit pembangkit (m /dt)


V = Kecepatan aliran pada pipa pesat (m/dt)
H = Tinggi pipa pesat (m)
4. Pemilihan Turbin
Turbin Air adalah turbin dengan air sebagai fluida kerja. Air yang mengalir
dari tempat yang lebih tinggi menuju tempat yang lebih rendah, hal ini air
memiliki energi potensial. Dalam proses aliran didalam pipa, energi potensial
tersebut berangsur-berangsur berubah menjadi energi mekanis, dimana air
memutar roda turbin. Roda turbin dihubungkan dengan generator yang mengubah
energi mekanis (gerak) menjadi energi listrik

Gambar 1. Grafik Pemilihan Turbin


Sumber: Fraenkel 1991

Adapun tipe penggunaan head yang berlaku pada beberapa macam turbin
diantaranya:
Kaplan
Francis
Pelton
Turgo

2 < H < 40
10 < H < 350
50 < H <1300
50 < H < 250
Kecepatan spesifik setiap turbin memiliki kisaran, antara lain sebagai

berikut:
12 < Ns < 25
60 < Ns < 300

Turbin pelton

Turbin francis

Turbin crossflow 40 < Ns < 200


Turbin propeller 250 < Ns < 1000

Dengan mengetahui Ns turbin maka perencanaan dan pemilihan jenis


turbin akan lebih mudah. Untuk estimasi perhitungan dapat dilakukan dengan
menggunakan rumus berikut:

Dengan:
N = kecepatan pada turbin (rpm)
Ns = kecepatan spesifik (rpm)
h = tinggi jatuh efektif (m)
P=

daya yang dihasilkan (kW)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Perhitungan
Pembangunan PLTMH Jene Berang direncanakan di Desa Parigi,
Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan dengan

memanfaatkan aliran sungai Jene Berang. Jumlah penduduk Desa Parigi pada
contoh perencanaan ini adalah 50 RT, tiap RT terdiri dari 5 orang. Kebutuhan
energi listrik setiap orang yaitu 4 kWh / hari.

Gambar 2. Skema Rancangan PLTMH


Untuk mendukung perencanaan PLTMH Jene Berang, maka dilakukan
perhitungan sebagai berikut:
1. Debit Andalan
Guna mendapatkan kapasitas PLTMH, tidak terlepas dari perhitungan
berapa banyak air yang dapat diandalkan untuk membangkitkan PLTMH. Debit
andalan adalah debit yang masih dimungkinkan untuk keamanan operasional
suatu bangunan air, dalam hal ini adalah PLTMH. Pada rancangan PLTMH Sungai
3

Jene Berang ini, debit air (Q = 0.5 m /dt ).


2. Desain Bendung

Gambar 3. Desain Bendung


3. Desain Bak Penenang
Tujuan bangunan bak penenang adalah sebagai tempat penenang air dan
pengendapan akhir. Forebay merupakan tempat permulaan pipa pesat (penstock)
yang mengendalikan aliran minimum, sebagai antisipasi aliran yang cepat pada
turbin, tanpa menurunkan elevasi yang berlebihan dan menyebabkan arus balik
pada saluran. Bak penenang dilengkapi dengan saringan (trashrack) dan pelimpas
(spillway).

Gambar 4. Desain Bak Penenang

4. Desain Penstock
Saluran pipa pesat (penstock) berfungsi sebagai saluran pembawa debit
dari bak penenang menuju ke turbin. Pipa pesat direncanakan dengan
menggunakan pipa PVC.

Gambar 5. Desain Bak Penenang


5. Pemilihan Turbin
Klasifikasi turbin berdasarkan tinggi jatuh efektif, debit dan kecepatan
spesifik (Ns), maka PLTMH Sungai Jene Berang dirancang menggunakan turbin
Kaplan (Fixed Blade Propeller).

Gambar 6. Fixed Blade Propeller Turbine


6. Pemilihan Generator
Generator merupakan alat yang mengkonversi energi mekanik air menjadi
energi listrik. Generator yang digunakan pada sistem PLTMH ini adalah
Generator 3 phasa dengan tegangan (V = 380 volt) dengan frekuensi (f = 50 Hz).

Gambar 7. Generator PLTMH


7. Perhitungan Teknik
Kebutuhan daya total = 50 RT x 5 orang x 4 kWh / hari
= 1000 kWh / hari
Efisiensi Total = (Daya Aktual : Daya yang harus dibangkitkan) x 100%
70 %

= (1000 kW: Daya yang harus dibangkitkan) x 100%

Jadi, Daya PLTMH yang harus dibangkitkan adalah (1000 kW x 100%) : 70%
= 1428 kW ( jawaban soal nomor 1 bagian a)
Maka, tinggi terjun air efektif (h) dapat dicari melalui persamaan:
P

= Q x g x h x total

1428 kW

= (0.5 m /dt) x (9.8 m/s ) x h x 70 %

= (1428kW) : (0.5 m /dt x 9.8 m/s x 0.7)

= 416 m (jawaban soal nomor 1 bagian b)

IV. PENUTUP
IV.1. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan perhitungan yang telah dilakukan dengan


memperhatikan rumusan masalah dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Kebutuhan energi masyarakat pada pemukiman di Daerah Aliran Sungai


(DAS) Jene Berang adalah 1000 kWh.
2. Besarnya daya yang harus dibangun pada PLTMH Jene Berang dengan debit
3

0,5 m /dt efisiensi total 70% adalah 1428 kW.


3. Tinggi terjun air efektif yang dapat memenuhi syarat PLTMH Jene Berang
adalah 416 m.
IV.2. SARAN

Untuk kemajuan masyarakat desa Tinggi Moncong diharapkan kepada


PEMDA dan PLN setempat agar dapat memperhatikan masyarakat untuk
membantu pelaksanaan pembangunan Pembangit Listrik Tenaga Mikro Hidro
(PLTMH).

V. DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim (2008). Buku Utama Pedoman Studi Kelayakan PLTMH. Jakarta:


Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.
2. Arismunandar A, dan Kuwahara S (2004). Teknik Tenaga Listrik Jilid I.
Jakarta: PT Pradnya Paramita.
3. Cleland, B.R .November 2003. TMDL Development From the Bottom Up -Part III: Duration Curves and Wet-Weather Assessments. National TMDL
Science and Policy 2003 -- WEF Specialty Conference. Chicago, IL.
4. Dake, J.M. (1985). Hidrolika Teknik. Jakarta: Erlangga.
5. Dandekar, M.M., dan Sharma, K.N. (1991). Pembangkit Listrik Tenaga Air.
Jakarta: Universitas Indonesia.
6. Fraenkel, Paish, Bokalders, Harvey, Brown, Edwards. (1991). Micro-hydro
power, A guide for development workers. Intermediate Technology
Publications
7. Hadisusanto,Nugroho(2011).
Aplikasi Hidrologi. Yogyakarta: Jogja Mediautama.
8. http://en.wikipedia.org/wiki/Propeller _turbine. Propeller Turbine. diakses
2012.
9. Liu, Henry (2003). Pipeline Engineering. United States of America: Lewis
Publishers.