Anda di halaman 1dari 105

1

RESUME KOMPILASI SKENARIO 1


BLOK 12 : Reproduksi
Oleh:
KELOMPOK TUTORIAL A
Abdulrozzaq

(122010101086)

Ferdian Nugroho

(142010101001)

Annisa Sarfina Djunaedy

(142010101003)

Nikmatul Maula Nur R.

(142010101006)

Desy Pratiwi Widjajana

(142010101015)

Ferry Fitriya Ayu A.

(142010101019)

Hasbi Maulana Arsyad

(142010101033)

Amalia Nur Zahra

(142010101041)

Tria Yudinia

(142010101047)

Billy Jusup Kurniawan

(142010101052)

Nihayah Lukman

(142010101072)

Rahmad Adi Prasetyo

(142010101091)

Lusi Padma S. M.

(142010101096)

Haryo Kunto Wibowo

(142010101105)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016

Tujuan Belajar

Menjelaskan anatomi dan histologi sistem reproduksi wanita


Alat genetalia eksterna dan interna
Anatomi jalan lahir (panggul)
Menggambarkan fisiologi kehamilan dan persalinan
Siklus menstruasi
Proses kehamilan
Fisiologi janin
Endokrinologi dalam kehamilan dan persalinan
Fisiologi laktasi
persalinan : fisiologi dan mekanisme persalinan
Nifas
Menyebutkan manajemen bayi baru lahir, resusitasi neonatal
Menjelaskan peran ASI dan PASI
Menjelaskan aspek etik pada pemeriksaan obstetrik (pemeriksaan fisik,
pemeriksaan labolatorium)
Menjelaskan aspek sosial budaya dalam kehamilan

1. FERDIAN NUGROHO - ANATOMI


1. Anatomi Sitem Reproduksi Wanita
Genitalia Eksterna

Genitalia eksterna pada wanita secara kesatuan disebut vulva atau pudendum,terdiri dari :
1. Mons Pubis adalah bantalan jaringan lemak dan kulit yang terletak di atas simfisis
pubis. Bagian ini tertututp rambut pubis setelah pubertas.
2. Labia Mayora (bibir mayor) adalah dua lipatan kulit longitudinal yang merentang
kebawah dari mons pubis dan menyatu di sisi posterior perineum, yaitu kulit antara
pertemuan dua lipatan ini dan anus. Labia mayora homolog (serupa dalam struktur
dan asalnya) dengan skrotum pada laki-laki.
3. Labia Minora (bibir minor) adalah dua lipatan kulit diantara labia mayora. Lipatan ini
tidak berambut, tetapi mengandung kelenjar sebasea dan beberapa kelenjar keringat.
4. Prepusium klitoris adalah pertemuan lipatan-lipatan labia minora dibawah klitoris.
5. Frenulum adalah area lipatan dibawah klitoris.
6. Klitoris, bagian ini homolog dengan penis laki-laki, tetapi lebih kecil dan tidak
memiliki mulut uretra. Klitoris terdiri dari dua crura (akar), satu batang (badan), dan
satu glans klitoris bundar yang banyak mengandung ujung saraf dan sangat sensitif.
7. Batang klitoris mengandung dua korpora kavernosum yang tersusun dari jaringan
erektil. Saat menggembung dengan darah selama eksitasi seksual, bagian ini
bertanggung jawab untuk ereksi klitoris.
8. Vestibula adalah area yang dikelilingi oleh labia minora. Vestibula menutupi mulut
uretra, mulut vagina, dan duktus kelenjar bartolini (vestibular besar)
9. Kelenjar Bartolin homolog dengan kelenjar bulbouretral pada laki-laki. Kelenjar ini
memproduksi beberapa tetes sekresi mukus untuk membantu melumasi orifisium
vaginal saat eksitasi seksual.
10. Bulba vestibular adalah massa jaringan erektil dalam di substansi jaringan labial.
Bagian ini sebanding dengan korpora spongiosum penis.
11. Orifisium uretra adalah jalur keluar urine dari kandung kemih. Tepi lateralnya
mengandung duktus untuk dua kelenjar parauretral (Skene) yang dianggap homolog
dengan kelenjar prostat pada laki-laki.
12. Mulut vagina terletak dibawah orifisium uretra. Himen (selaput dara), suatu membran
yang bentuk dan ukurannya bervariasi, melingkari mulut vagina.
13. Perineum (pada laki-laki dan perempuan) adalah area berbentuk seperti intan yang
terbentang dari simfisis pubis di sisi anterior sampai ke koksiks di sisi posterior dan
ke tuberositas iskial di sisi lateral.

Genitalia Interna
Organ genitalia interna meliputi:
1. OVARIUM
-

Ovarium ini berjumlah 2 buah di kanan dan kiri dengan panjang 3-5 cm, lebar 2-3 cm,

dan tebal 1 cm.


Bentuknya seperti kacang kenari
Masing-masing ovarium mengandung sejumlah folikel primordial yang berkembang
saat awal kehidupan fetus dan menunggu saat pematangan menjadi ovum

Lokasi dan Perlekatan


Terletak pada dinding samping rongga pelvis posterior dalam sebuah ceruk dangkal
yaitu fossa ovarian ditahan dalam posisi itu oleh mesenterium pelvis (lipatan peritoneum
antara peritoneum visceral dan peritoneum parietal) dan Retroperitoneal.
Struktur
-

-Dilapisi epithelium germinal


-Jaringan ikat pada ovarium disebut stroma
-Terdiri dari korteks pada bagian luar dan medulla pada bagian dalam
-Medulla mengandung pembuluh darah dan limfatik, serabut saraf, sel-sel otot polos,

dan sel-sel jaringan ikat.


-Korteks mengandung folikel ovarian,unit fungsional ovarium.

2. TUBA FALLOPI
Panjang 10 cm dengan diameter 0,7 cm ditopang oleh ligamen besar uterus
Salah satu ujungnya melekat pada uterus dan ujung lainnya membuka rongga pelvis
Bagian-bagiannya:
-

Pars uterine Ostium uteri


Isthmus: Segmen terdekat dari uterus

Ampulla: Bagian tengah segmen tuba


Infundibulum: Ujung terbuka menyerupai corong (ostium) pada tuba uterus. Bagian
ini memiliki prosessus motil menyerupai jarring (fimbria) yang merentang di atas

permukaan ovarium untuk membantu menyapu oosit terovulasi ke dalam tuba.


Dinding tuba uterin terdiri serabut otot polos, jaringan ikat, dan sebuah lapisan otot
bersilia yang sirkular, tersusun secara longitudinal.

Fertilisasi biasanya terjadi di 1/3 bagian atas tuba fallopi.


3. UTERUS
Organ tunggal muskular berongga. Oosit yang telah dibuahi akan tertanam dalam
lapisan endometrium uterus dan dopenuhi kebutuhan nutisinya untuk tumbuh dan
berkembang sampai lahir.
Ukuran dan Lokasi
-

Uterus berbentuk seperti buah pir terbalik dan dalam keadaan tidak hamil memiliki

panjang 7 cm, lebar 5 cm, dan diameter 2,3 cm.


Organ ini terletak di dalam rongga pelvis diantara rektum dan kandung kemih
Uterus umumnya terfleksi ke depan (terantefleksi) dan teranteversi

Penopang
-

Ditopang oleh lipatan peritoneal,ligamen besar yang melekatkan uterus pada dinding

pelvis.
Ligamen bundar melentang dari sudut lateral uterus, melewati kanal inguinal menuju

labia mayora.
Uterus juga diikat oleh ligamen kardinal dan uterosakral

Struktur
Dinding uterus terdiri dari bagian terluar serosa (perimetrum), bagian tengah
(meometrium), dan bagian terdalam (endometrium). Endometrium menjalani perubahan
siklus selama menstruasi dan membentuk lokasi implantasi untuk ovum yang dibuahi
Endometrium tersusun dari 2 lapisan:
Lapisan supefisial (stratum fungsionalis): endometrium berukuran lebih tebal. Lapisan
ini mengandung kelnjar yang merespons hormon steroid, dan biasanya hampir secara
keseluruhan runtuh saat menstruasi
Lapisan Basal (stratum basalis): tidak berubah selama siklus berlangsung
-

Fundus : bagian bundar yang letaknya superior terhadap mulut tuba uterina
Badan Uterus : bagian luas berdinding tebal yang membungkus rongga uterus
Serviks : bagian leher bawah uterus yang terkontriksi.
Os eksternal: mulut serviks ke dalam vagina
Os internal: mulut uterus dalam rongga uterus

Kanal endosrvikal: malapisi jalur diantara 2 mulut


Portio Vaginalis: bagian serviks yang menonjol ke dalam ujung bagian atas vagina

Suplai darah
-

Darah arteri memperdarahi uterus melalui arteri-arteri uterus (berasal dari arteri iliaka

interna) dan bercabang menjadi arteri ovarian dan vagina


Dalam dinding uterus arteri menjadi arteri arkuata kemudian bercabang menembus
miometrium menjadi arteri radial kemudian memanjang menuju ke endometrium

menjdi arteriol spiral (terpilin)


Darah kembali ke uterus melalui vena uterus yang pararel dengan jalur arteri

4. VAGINA
Organ jalan lahir bayi dan aliran menstruasi, fungsinya adalah sebagai organ kopulasi
perempuan.
Ukuran dan Lokasi
-

Panjangnya sekitar 8 cm sampai 10 cm


Menghadap uterus dengan sudut sekitar 45o dari vestibula genitalia eksternal dan
terletak antara kandung kemih dan uretra di sisi anterior dan rectum di sisi posterior

Struktur
-

Dinding vagina tersusun atas satu lapisan otot polos dan epithelium skuamosa

bertingkat terkeratinisasi yang dikenal sebagai lapisan vaginal


Cairan dan Haluaran Vagina
Vagina dilembabkan dan dilumasi oleh cairan yang berasal dari kapilar pada dinding

vaginal dan sekresi dari kielenjar serviks


pH cairan vagina bergantung pada kadar estrogen

ANATOMI JALAN LAHIR


PELVIS (Panggul)
Panggul dibentuk oleh 4 (empat) buah tulang:
-

os coxae kiri dan kanan, membentuk dinding lateral dan anterior rongga panggul. Os
coxae sendiri masing-masing sebenarnya terdiri dari 3 tulang kecil yang bersatu, yaitu

os ilium, os ischium dan os pubis.


os coccygis dan os sacrum, bagian dari columna vertebralis, membentuk dinding
posterior rongga panggul.Rongga Panggul

Rongga panggul dibagi atas dan bawah oleh bidang apertura pelvis superior (dalam
obstetri sering disebut sebagai pintu atas panggul, PAP) yang dibentuk oleh :

promontorium os sacrum di bagian posterior linea iliopectinea (linea terminalis dan pecten
ossis pubis) dibagian lateral symphisis os pubis di bagian anterior
Inklinasi panggul adalah sudut yang terbentuk antara bidang yang melalui apertura
pelvis superior dengan bidang horisontal (pada keadaan normal sebesar 60o). Bagian di atas /
kranial terhadap apertura pelvis superior disebut sebagai pelvis spurium (pelvis major),
merupakan bagian bawah / kaudal daripada rongga abdomen.
Makna obstetriknya adalah untuk menahan alat-alat dalam rongga perut dan menahan
uterus yang berisi fetus yang terus bertambah besar secara bermakna mulai usia kehamilan
bulan ketiga.
Bagian di bawah / kaudal terhadap apertura pelvis superior disebut sebagai pelvis vera
(pelvis minor), merupakan rongga panggul yang sangat menentukan kapasitas untuk jalan
lahir bayi pada waktu persalinan.
Dinding-dinding rongga panggul
-

Dinding anterior : pendek, dibentuk oleh corpus, rami dan symphisis ossium pubis
Dinding posterior : dibentuk oleh permukaan ventral os sacrum dan os coccygis serta
muskulus pyriformis yang membentang pada permukaan ventral os sacrum dan
diliputi oleh fascie pelvis.

Dinding lateral, dibentuk oleh:


-

bagian os coxae di bawah apertura pelvis superior


membrana obturatoria
ligamentum sacrotuberosum
ligamentum sacrospinosum
muskulus obturator internus dengan fascia obturatoria.
Dinding inferior / dasar panggul dibentuk oleh diaphragma pelvis (mm.levator ani,

mm coccygei, fascia diaphragmatis pelvis, trigonum urogenitale) yang berfungsi menahan


alat-alat rongga panggul. Diaphragma pelvis membagi lagi rongga panggul bagian bawah
menjadi bagian rongga panggul utama (bagian atas diaphragma pelvis) dan bagian perineum
(bagian bawah diaphragma pelvis).
Pelvis Vera mempunyai pintu masuk yaitu apertura pelvis superior, dan pintu keluar
apertura pelvis inferior (dalam obstetric disebut sebagai pintu bawah panggul, PBP).
Apertura pelvis inferior merupakan dua segitiga yang bersekutu pada alasnya (pada garis
yang menghubungkan kedua tuber ischiadica), dibentuk oleh 2 bentukan segitiga (trigonum):
-

Trigonum Anale

Di bagian dorsal, dibentuk oleh kedua ligamentum sacrotuberosum dan puncaknya


-

terletak pada os coccygis.


Trigonum Urogenitale
Ventral, dibentuk oleh ramus inferior os pubis dan ramus inferior os ischium kiri dan
kanan, dan puncaknya terletak pada symphisis os pubis.
Cavum pelvis (rongga panggul) yang mempunyai kepentingan obstetrik pada proses

persalinan adalah rongga yang terletak antara pintu masuk dan pintu keluar panggul tersebut,
berupa saluran pendek yang melengkung dengan bagian cekung menghadap ke depan.
2. Fisiologi Siklus Haid
Siklus menstruasi adalah perubahan ritmis tiap bulan pada perubahan sekresi hormon wanita
dan perubahan fisiologi pada ovarium dan organ seksual lainnya yang mengikuti perubahan
hormon tersebut. Durasi dari siklus ini rata-rata 28 hari dengan batas minimal 20 hari dan
maksimal 45 hari.
Perubahan yang signifikan yang dihasilkan oleh siklus menstruasi. Pertama, hanya
satu ovum secara normal dilepaskan oleh ovarium tiap bulannya, sehingga hanya satu fetus
yang dapat hidup pada sekali pembuahan. Kedua, endometrium uteri disiapkan untuk
implantasi dari ovum yang sudah difertilisasi.

Hormon Gonadotropic dan Pengaruhnya Pada Ovarium


Perubahan fisiologis ovarium yang terjadi pada siklus menstruasi sepenuhnya
bergantung pada hormon gonadotropic FSH dan LH, yang disekresikan oleh kelenjar
pituitary anterior. Apabila hormon-hormon tersebut tidak ada, ovarium tetap tidak aktif,
contohnya pada saat anak-anak. Pada usia sekitar 0-12 tahun, kelenjar pituitary mulai
mensekresikan FSH dan LH lebih banyak, yang mengarah ke siklus menstruasi yang dimulai
saat 11-15 tahun. Periode ini disebut pubertas, dan siklus menstruasi pertama disebut
menarche.

10

Pada awal siklus menstruasi konsentrasi dari FSH dan LH yang disekresikan oleh
kelenjar pituitary anterior meningkat. Hormon-hormon ini mempercepat pertumbuhan 6-12
folikel primer setiap bulannya. Perubahan awal berupa proliferasi cepat dari sel granulosa, di
sisi lain terdapat sel-sel yang berasal dari sel interstitial ovarium yang melapisi di luar sel
granulosa membentuk seperti lapisan massa sel di luar yang disebut theca. Lapisan sel theca
ini terbagi menjadi 2 yaitu, theca interna yang menghasilkan hormon sex steroid (estrogen
dan progesteron) dan theca interna yang berkembang menjadi jaringan ikat dengan
vaskularisasi yang banyak yang akan menjadi kapsul dari folikel yang berkembang nanti.
Ovulasi adalah keluarnya ovum dari ovarium. Pada wanita yang memiliki durasi
siklus menstruasi 28 hari, ovulasi terjadi pada hari ke-14 setelah onset menstruasi. Ovulasi
sepenuhnya bergantung pada hormon LH, meskipun FSH banyak, folikel tidak akan masuk
tahap ovulasi. Sekitar 2 hari sebelum ovulasi sekresi LH meningkat, LH juga mengubah
secara spesifik pada sel granulosa dan sel theca menjadi sel yang mensekresi progesteron.
Setelah ovulasi, sel sekretoris dari folikel berkembang menjadi corpus luteum yang
mensekresi 2 hormon utama dari wanita yaitu progesteron dan esterogen dalam jumlah yang
besar. Setelah 2 minggu, corpus luteum berdegenerasi (apabila tidak ada fertilisasi) yang
diikuti oleh menurunnya konsentrasi progesteron dan esterogen, dan menstruasi dimulai.
Siklus menstruasi yang baru akan mengikuti.
Perubahan endometrium dipengaruh ioleh esterogen dan progesteron. Esterogen lebih
mengarah untuk penebalan endometrium dan progesteron untuk mempertahankan
endometrium. Saat degenerasi corpus luteum, progesteron dan esterogen mengalami
penurunan jumlah, penurunan dari hormon-hormon inilah yang menyebabkan esterogen luruh
memberikan manifestasi dari menstruasi tersebut.
3. Pembuahan, Nidasi dan Plasentasi
Plasentasi
Proses pembentukan struktur dan jenis plasenta. Dimulai setelah nidasi embrio kedalam
endometrium. Berlangsung sampai 12-18 minggu setelah fertilisasi. 2 minggu pertama :
trofoblas invasive penetrasi ke pembuluh darah endometriumsinus intertrofoblastik
ruangan-ruangan interviler (vili korialis seakn terapung diantara ruangan-ruangan tersebut
sampai terbentuknya plasenta)

11

3 minggu pascafertilisasi : sirkulasi darah janin dini dapat diidentifikasi & dimulai
pembentukan vili korialis.
Berakhir di capillary loops di dalam vili korialis yg ruang intervilinya dipenuhi dengan darah
maternal yang dipasok oleh A. Spiralis dan dikeluarkan melalui V. Uterina.
Akan bertumbuh menjadi plasenta
Desidua kapsularis : lapisan desidua yang meliputi hasil konsepsi ke arh kavum uteri
Desidua basalis

: yang terletak antara hasil konsepsi dan dinding uterus


(disini plasenta dibentuk)

Desidua parietalis : yang meliputi dinding uterus yang lain


Vili korialis

: jonjot-jonjot penyelubung hasil konsepsi yang berpangkal pada korion

Korion

: lanjutan perkembangan dari chorionic membrane yang dibentuk dari selsel fibroblast mesodermal yang tumbuh di sekitar embrio dan melapisi
pulas sebelah dalam trofoblas.

Korion frondosum : vili korialis yang berhubungan dengn desidua basalis yang tumbuh dan
bercabang-cabang dengan baik.
Korion laeve

: korion yang berhubungan dengan desidua kapsularis yang kurang


mendapat makanan, karena hasil konsepsi bertumbuh ke arh kavum
uteri, sehingga lambat laun menghilang.\

Plasenta hemokorial : lapisan korion yang bersama dinding pembuluh darah janin
memisahkan antar darah ibu dan darah janin sehingga tidak ada
percampuran darah keduanya.
Lapisan Nitabuch : sel-sel desidua yang tidak dapat dihanncurkan oleh trofoblas dan
akhirnya membentuk lpisn fibrinoid. (ketika proses melahirkan,
plasenta terlepas dari endometrium pada lapisan Nitabuch ini)
4. Perubahan Anatomi Dan Fisiologi Wanita Hamil
Perubahan yang terdapat pada wanita hamil ialah antara lain sebagai berikut:

12

Uterus
Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah pengaruh estrogen dan
progesterone yang kadarnya meningkat. Pembesaran ini pada dasarnya disebabkan oleh
hipertrofi otot polos uterus; disamping itu, serabut-serabut kolagen yang adapun menjadi
higroskopik akibat meningkatnya kadar estrogen sehingga uterus dapat mengikuti
pertumbuhan janin. Bila ada kehamilan ektopik, uterus akan membesar pula, karena pengaruh
hormone-hormon itu. Begitu pula endometrium menjadi desidua.
Pembesaran uterus pada wanita tidak hamil kira2 kira sebesar telur ayam.

Pada kehamilan 8 minggu uterus membesar sebesar telur bebek


Pada kehamilan 12 minggu
uterus membesar kira2 sebesar telur angsa. Pada saat ini fubdus uteri telah dapat
diraba dari luar, di atas simfisis. Pada pemeriksaan ini wanita harus mengosongkan

kandung kencingnya dahulu.


Pada kehamilan 16 minggu
kavum uteri sama sekali diisi oleh ruang amnion yang berisi janin, dan ismus menjadi
bagian dari korpus uteri. Tanda tersebut dikenal dengan nama tanda hegar. Besar
uterus pada kehamilan 16 minggu ini sebesar kepala bayi atau sebesar tinju orang
dewasa. Dari luar fundus uteri kira-kira terletak diantara setengah jarah pusat ke

simfisis.
Pada kehamilan 20 minggu, fundus uteri kira-kira di pinggir bawah pusat
Pada kehamilan 24 minggu, fundus uteri berada tepat di pinggir atas pusat
Pada kehamilan 28 minggu, fundus uteri terletak kira-kira 3 jari di atas pusat atau

sepertiga jarak antara pusat ke prosessus xifoideus.


Pada kehamilan 32 minggu, fundus uteri terletak di antara setengah jarak pusat dan

prosessus xifoideus.
Pada kehamilan 36 minggu
fundus uteri terletak kira-kira 1 jari di bawah prosessus xifoideus. Dalam hal ini,
kepala bayi masih berada di atas pintu atas panggu\l. Pemeriksaan tinggi fundus uteri
dikaitkan dengan umur kehamilan perlu pula dikaitkan dengan besarnya dan beratnya
janin.

Pada triwulan terakhir ismus lebih nyata menjadi bagian korpus uteri, dan
berkembang menjadi segmen bawah uterus. Pada kehamilan tua karena kontraksi otot-otot
bagian atas uterus, segmen bawah uterus menjadi lebih lebar dan tipis; tampak batas yang

13

nyata antara bagian yang lebih tebal dan segmen bawah yang lebih tipis;. Batas itu dikenal
dengan sebagi lingkaran retraksi fisiologik. Dinding uterus di atas lingkaran ini jauh lebih
tebal daripada dinding segmen bawah uterus.
Serviks uteri
Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormone estrogen.
Jika korpus uteri mengandung lebih banyak jaringan otot, maka

serviks lebih banyak

mengandung jaringan ikat, hanya 10% jaringan otot. Jaringan ikat pada serviks ini banyak
mengandung

kolagen.

Akibat

kadar

estrogen

meningkat,

dan

dengan

adanya

hipervaskularisasi maka konsistensi serviks menjadi lunak. Karena serviks hanya terdiri atas
jaringan ikat dan hanya sedikit mengandung jaringan otot, maka serviks tidak punya fungsi
sebagi sfingter.
Pada multipara dengan portio yang bundar, portio tersebut mengalami cedera berupa
lecet dan robekan, sehingga post-partum tampak adanya portio yang terbelah dua dan
menganga. Perubahan-perubahan pada serviks perlu diketahui sedini mungkin pada
kehamilan, akan tetapi yang memeriksa hendaknya hati-hati dan tidak dibenarkan
melaksanakan secara kasar sehingga dapat mengganggu kehamilan.
Kelenjar-kelenjar di serviks akan berfungsi lebih dan akan mengeluaran sekresi lebih
banyak. Kadang2 wanita yang sedang hamil mengeluh mengeluarkan cairan per vaginam
yang lebih banyak. Keadaan ini sampai batas tertentu masih merupakan keadaan yang
fisiologik.
Vagina dan vulva
Vagina dan vulva akibat hormone estrogen mengalami perubahan pula. Adanya
hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih merah, agak kebiru-biruan
(livide). Tanda ini disebut tanda Chadwick. Warna portio pun tampak livide.
Hipervaskularisasi disebabkan karena pembuluh-pembuluh darah alat genetalia interna
membesar. Hal ini dapat dimengerti karena oksigenasi dan nutrisi pada alat-alat genetalia
tersebut meningkat.
Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatis sampai
terbentuknya plasenta pada kira-kira kehamilan 16 minggu. Korpus luteum graviditatis

14

berdiameter 3 cm. Kemudian, ia mengecil setelah plasenta terbentuk. Seperti telah


dikemukakan, korpus luteum ini mengeluarkan hormone estrogen dan progesterone. Lambatlaun fungsi ini diambil oleh plasenta.
Mamma
Mamma akan membesar dan tegang akibat hormone somatomammotropin, estrogen,
dan progesterone, akan tetapi belum mengeluarkan air susu.
Estrogen efeknya pada kelenjar mamma adalah menimbulkan hipertrofi system saluran
Progesterone Menambah sel-sel asinus pada mamma.
Somatomammotropin

mempengaruhi

pertumbuhan

sel-sel

asinus

pula

dan

menimbulkan perubahan dalam sel-sel, sehngga terjadi pembuatan kasei, laktalbumin, dan
laktoglobulin. Dengan demikian, mamma dipersiapkan untuk laktasi.
Dibawah pengaruh progesteron dan somatomammotropin, terbentuk lemak di sekitar
kelompok-kelompok alveolus, sehingga mamma tampak lebih besar. papilla mamma akan
membesar, lebih tegak dan tampak lebih hitam, seperti seluruh areola mamma karena
hiperpigmentasi. Glandula Montgomery tamapk lebih jelas menonjol dipermukaan areola
mamma.
Pada kehamilan 12 minggu ke atas dari puting susu dapat keluar cairan berwarna
putih agak jernih, disebut kolostrum. Kolostrum ini berasal dari kelenjar-kelenjar asinus yang
mulai bersekresi. Setelah partus, kolostrum ini agak kental dan berwarna agak kuning.
Sirkulasi darah
Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke plasenta.
Volume darah ibu dalam kehamilan bertambah secara fisiologik dengan adanya pencairan
darah yang disebut hidremia. Vollume darah akan bertambah banyakn kira-kira 25%, dangan
puncak kehamilan 32 minggu, diikuti dangan cardiac output yang meninggi sebanyak kirakira 30%. Akibat hemodilusi tersebut, yang mulai jelas timbul pada kehamilan 16 minggu,
ibu yang mempunyai penyakit jantung dapat jatuh dalam keadaan dekompensasi kordis.
Eritropoiesis juga meningkat untuk memenuhi kebutuhan transport asam yang
dibutuhkan sekali dalam kehamilan.Jumlah leukosit meningkat sampai 10.000 per ml, dan
produksi trombositpun meningkat pula.

15

Sistem respirasi
Seorang wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang mengeluh tentang
rasa sesak dan pendek napas. Hal ini terutama ditemukan pada kehamilan 8 bulan atau 32
minggu, oleh karena usus-usus tertekan oleh uterus yang membesar ke arah diafragma,
sehingga diafragma kurang leluasa bergerak. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang
meningkat kira-kira 20%, seorang wanita hamil selalu bernapas lebih dalam, dan bagian
bawah toraksnya juga melebar ke sisi, yang sesudah partus kadang-kadang menetap jika tidak
dirawat dengan baik.
Traktus Digestivus
Pada awal kehamilan terdapat perasaan enek (nausea). Mungkin ini akibat kadar
hormon estrogen yang meningka. Tonus otot-otot traktus digestivus menurun, sehingga
motilitas seluruh traktus digestivus juga berkurang. Sehingga mudah timbul obstipasi. Tidak
jarang juga dijumpai pada bulan-bulan pertama kehamilan disertai gejala muntah (emesis).
Biasanya terjadi pada pagi hari sehingga dinamakan morning sickness. Emesis, bila telampau
banyak dan sering disebut hiperemis gravidarum, keadaan ini patologik.
Hipersalivasi adalah pengeluaran air liur berlebihan daripada biasa. Bila terlampau
banyak, ini pun patologik.
Traktus urinarius
Gejala yang sering terjadi berkenaan dengan traktus urinarius adalah sering kencing
akibat penekanan kandung kemih oleh uterus yang membesar.keadaan ini hilang
denganmakin tuanya kehamilan bila uterus gravidus keluar dari rongga panggul. Pada akhir
kehamilan, bila kepala janin mulai turun ke bawah pintu atas panggul, keluhan sering kencing
akan timbul lagi karena kandung kemih tertekan kembali.Ureter kanan dan kiri juga kan
membesar karena pengaruh progesteron.Dapat juga disertai poliuria karena peningkatan
sirkulasi darah di ginjal pada waktu kehamilan.

Kulit
Pada kulit terdapat deposit pigmen dan hiperpigmentasi alat-alat tertentu. Pigmentasi
ini disebabkan oleh pengaruh MSH (Melanosite Stimulating Hormone) yang meningkat.

16

Kadang-kadang terdapat deposit pigmen pada dahi, pipi, dan hidung, dikenal sebagai kloasma
gravidarum. Terdapat juga di leher, di areola mamma.
Linea alba pada kehamilan menjadi hitam, dikenal sebagai linea grisea. Tidak jarang
dijumpai kulit perut seolah-olah retak-retak, warnanya berubah agak hiperemik dan kebirubiruan disebut striae livide. Setelah partus, striae livide ini berubah warnanya menjadi dan
disebut striae albikantes.
5. Fisiologi Janin
1. masa embrional
Meliputi masa pertumbuhan intrauterin sampai dengan usia kehamilan 8 minggu, di
mana ovum yang dibuahi (zygote) mengadakan pembelahan dan diferensiasi sel-sel menjadi
organ-organ yang hampir lengkap sampai terbentuk struktur yang akan berkembang menjadi
bentuk manusia. Proses pembentukan organ "dari tidak ada menjadi ada" ini (organogenesis)
pada beberapa sistem organ, misalnya sistem sirkulasi, berlanjut terus sampai minggu ke-12,
sehingga beberapa sumber mengklasifikasikan pertumbuhan masa embrional sampai dengan
minggu ke-12 (trimester pertama kehamilan).
2. masa fetal
Meliputi masa pertumbuhan intrauterin antara usia kehamilan minggu ke 8-12 sampai
dengan sekitar minggu ke-40 (pada kehamilan normal / aterm), di mana organisme yang telah
memiliki struktur lengkap tersebut melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang pesat,
sampai pada keadaan yang memungkinkan untuk hidup dan berfungsi di dunia luar
(ekstrauterin).
DAFTAR PUSTAKA

Richard L. Drake , Wayne Vogl; Adam W M Mitchell. 2014. Grays Anatomy: Anatomy of the
Human Body . Elsevier : 2014
Netter, Frank H. ATLAS OF HUMAN ANATOMY 25th Edition. Jakarta: EGC 2014

2. RAHMAD ADI P-HISTOLOGI

Histologi Bagian-Bagian Dari Sistem Genitalia Wanita

17

1. Ovarium
Ovarium atau indung telur berfungsi menghasilkan gamet betina
(sel telur). Selain itu juga menghasilkah

hormone-hormon kelamin

seperti progesterone dan estrogen. Ovarium terletak di rongga pelvis dan


diikatkan pada dinding bagian tubuh bagian dorsal oleh selaput jaringan
ikat yang disebut mesovarium. Ovarium pada mamalia terutama pada
manusia memiliki ukuran yang relative kecil dan diselaputi oleh selapis
sel berasal dari peritoneum disebut epitel germinal. Di sebelah dalam
terdapat tunika albugenia (jaringan ikat penyebab ovarium berwarna
putih). Jaringan dasar ovarium disebut stroma.

Struktur histologi ovarium, terdiri atas dua daerah :


a. Daerah korteks : mengandung banyak folikel telur yang masingmasing terdiri dari sebuah oosit yang diselaputi oleh sel-sel folikel.
Sel-sel folikel adalah oosit beserta sel granulose yang
1.

mengelilinginya. Terdapat 3 macam folikel yaitu :


Folikel primordial : terdiri atas oosit primer yang berinti agak ke tepi
yang dialapisi sel folikel berbentuk pipih.

18

2.

Folikel primer : terdiri oosit primer yang dilapisi sel folikel (sel
granulose) berbentuk kubus dan terjadi pembentukan zona pelusida.
Adalah suatu lapisan glikoprotein yang terdapat diantara oosit dan sel-

3.

sel granulose.
Folikel sekunder : terdiri oosit primer yang dilapisi sel granulose

4.

berbentuk kubus berlapis banyak atau disebut staratum granulose.


Folikel tersier : terdiri dari oosit primer, volume stratum granulosanya
bertambah besar. Terdapat beberapa celah antrum diantara sel-sel
granulose. Dan jaringan ikat stroma di luar stratum granulose
membentuk theca intern (mengandung banyak pembuluh darah) dan

5.

theca extern (banyak mengandung serat kolagen).


Folikel Graff : disebut juga folikel matang. Pada folikel ini, oosit
sudah siap diovulasikan dari ovarium. Oosit sekunder dilapisi oleh
beberapa lapis sel granulose berada dalam suatu jorokan ke dalam
stratum disebut cumulus ooforus. Sel-sel granulose yang mengelilingi
oosit disebut korona radiate. Antrum berisi liquor follicul yang
mengandung hormone esterogen.

19

b. Oviduk (Tuba Fallopii)


Berdasar struktur histology terdiri dari lapisan mukosa, lapisan
otot, dan lapisan peritoneum.
o Lapisan mukosa : tersusun atas epitel kolumnar tinggi bersilia dan
sel-sel kelenjar
o Lapisan otot : tersusun atas
-

lapisan otot intrinsic yang tebal mukosa

- Berkas otot menyerupai darah


- Lapisan sub peritoneal adalah serabut seperti kisis-kisi dan
pita.

20

o Lapisan peritoneum :memungkinkan tuba uterine bergerak


terhadap sekitarnya.

Epitel
kolumna
r bersilia
Lamina
Propria

Mukos
a

Lapisan
otot

vascular
Lapisan
Serosa

2. Uterus
Saluran berdinding tebal, berfungsi untuk menyalurkan sperma ke
tempat fertilisasi, sebagai tempat terjadinya implantasi dan
perkembangan embrio.
Dindingnya terdiri atas 3 lapis :
1.

Endometrium (Mukosa) : bagian dalam dilapisi epitel


selapis silindris bersilia dan terdapat pula kelenjar uterus
yang bermukosa dari permukaan.

2.

Miometrium (dinding otot): terdapat 3 lapisan otot yang


batas-batasnya kurang jelas. Tiga lapisan otot tersebut
adalah

21

Lapisan Sub vascular : serat-serat otot tersusun


memanjang
Lapisan Vaskular : lapisan otot tengah tebal, serat
tersusun melingkar dan serong dengan banyak
pembuluh darah.
Lapisan Supravaskular : lapisan otot luar memanjang
tipis.
3.

Peritoneum : adalah serosa khas khas terdiri selapis sel


mesotel yang ditunjang oleh jaringan ikat tipis.

3.

Vagina

Merupakan bagian terakhir dari saluran reproduksi betina.


Berbentuk pipa panjang,untuk menerima penis terdiri dari 3 lapis
yaitu :
1.

Lapisan Mukosa : mempunyai lipatan mendatar dan tersusun


atas epitel berlapis pipih tanpa lapisan tanduk. Dan terdapat
lamina propria yang tersusun atas jaringan ikat padat dengan

22

banyak serat elastin, leukosit, limfosit dan nodulus


limfatikus (jarang terlihat).
2.

Lapisan otot : terdiri dari berkas-berkas otot polos yang


tersusun berjalinan.

3.

Lapisan Adventisia/ Serosa: berupa lapisan tipis yang


tersusun dari jaringan ikat yang berbaur dengan adventisia
organ sekitarnya.

3
3b
3a

1
1b

1 tunika mukosa
a. epitel
b. lamina propria
1a2 tunika submukosa
3 tunika muskularis
a. otot sirkuler
b. otot longitudinal
4 tunika adventitia

23

4.
1.

Kelenjar Tambahan, terdiri dari :


Kelenjar Bartholin (kelenjar vestibules mayor) : adalah kelenjar
tubuloalveolar terletak di dalam dinding lateral vestibulum, yang
sekretnya berupa lendir, bermuara di dekat pangkal hymen.

2.

Kelenjar Vestibular Minor : bermuara di sekitar uretra dan klitoris

3.

Kelenjar susu/ mamae : kelenjar kulit khusus yang terletak di dalam


jaringan di bawah kulit(subkutan), modifikasi dari kelenjar keringat,
dan bergetah tipe apokrin. Terdiri dari 15-20 lobus yang mandiri,
salurannya bermuara di puncak nipel/putting susu.
Kelenjar susu yang aktif tersusun atas lobules-lobulus yang masinmasing terdiri dari sejumlah alveoli, yaitu kumpulan dari sel-sel
sekretori. Dari alveoli keluar saluran kecil yang bermuara ke saluran
yang lebih besar. Saluran dari duktus laktiferus (lobulus-lobulus)
bermuara pada putting susu (nipple). Di dekat nipple duktus laktiferus
menggembung atau disebut ampula. Diantara duktus laktiferus
terdapat jaringan ikat dan jaringan lemak yang berperan penting
dalam menentukan besar kelenjar susu.

Daftar Pustaka
Victor P.Eroschenko, ATLAS HISTOLOGI DIFIORE, Edisi 11
Anthony Mescher, Junqueira's Basic Histology: Text and Atlas, 13th
Edition
3. FERRY FITRIA AYU - SIKLUS MENSTRUASI
DEFINISI
Dalam pengertian klinik, menstruasi mencakup 3 hal:
1. Siklus haid
Jarak antara hari pertama haid dengan hari pertama haid berikutnya. Normalnya tidak
kurang dari 24 hari dan tidak lebih dari 35 hari.
2. Lama haid

24

Jarak dari hari pertama haid sampai perdarahan haid berhenti. Normalnya 3 sampai
dengan 7 hari.
3. Jumlah darah yang keluar selama satu kali haid
Normalnya tidak lebihdari 80ml. Untuk pergantian pembalut normalnya 2 sampai 6 kali
per hari.
Istilah yang terkait
Menarke
Haid pertama kali yang dialami wanita yang umumnya terjadi pada usia 14 tahun.
Menarke ini pertanda berakhirnya masa pubertas dan peralihan dari masa anak menuju
dewasa.
Menopause
Merupakan haid terakhir yang dikenali bila setelah haid terakhir tersebut minimal 1 tahun
tidak haid lagi.
Pascamenopause
Merupakan masa sesudah 1 tahun dari menopause.
FISIOLOGI SIKLUS MENSTRUASI
Menstruasi merupakan hasil kerja sama yang sangat rapi dan baku dari sumbu
Hipotalamus-Hiposfisis-Ovarium (H-H-O).

25

1. Siklus fungsi ovarium dengan pematangan folikel-folikel, ovulasi, formasi corpus


luteum diatur oleh sistem kelenjar hypothalamo-hipofise seperti halnya dengan
mekanisme intraovarial.
2. Hypothalamus memproduksi gonadotropin-releasing hormones (GnRH)
3. GnRH dibawa melalui sistem vena portal menuju kelenjar hipofise anterior
4. GnRH menyatu pada reseptor spesifik yang menginduksi sekresi luteotropic hormone
(LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH)
5. Pelepasan FSH dan LH bergantung pada GnRH dan terjadi setiap 90 menit (berkala)
6. Estradiol dan progestin mengatur transmisi neuro-kimia ke hypothalamus untuk
memproduksi GnRH (umpan balik negatif)
7. Endogen, opioid, katecholamin dan lain-lain memodulasi fungsi dari neuron-neuron
GnRH.

PERUBAHAN OVARIUM DALAM SIKLUS MENSTRUASI

Terdapat 3 fase dalam perubahan ovarium saat siklus menstruasi, yaitu:


1. FASE FOLIKULER

26

Terdapat 4 pertumbuhan folikel saat fase folikuler, yaitu:


1). Folikel Primordial

Ciri :
o Dibentuk sejak pertengahan kehamilan sampai dengan beberapa saat
pasca persalinan
o Merupakan folikel yang sedang tidak tumbuh.
o Isinya adalah oosit dalam fase pembelahan meiosis profase yang terhenti
pada tahap diplotene.
o Dikelilingi oleh 1 lapis sel granulosa yang kurus dan panjang (spindle
shape).
o Jumlahnya:
Usia kehamilan 16-20 minggu
Kelahiran
Menarke
2). Folikel Preantral

: 6-7 juta
: 1-2 juta
: 300 500 ribu

Ciri :
o Merupakan oosit yang membesar
o Dikelilingi oleh zona pellucida
o Sel granulosa proliferasi sehingga menjadi berlapis-lapis
o Terdapat sel teka yang berasal dari jaringan sekitar
3). Folikel Antral

Ciri :

27

o Terdapat ruangan yang dibentuk olehcairan yang disebut antrum.


Ruangan tersebut memisahkan sel granulosa menjadi 2 yakni yang
menempel di dinding folikel dan yang mengelilingi oosit yang disebut
kumulus ooforus yang fungsinya menangkap sinyal yang berasal dari
oosit sehingga ada komunikasi antara oosit dan sel granulosa.
4). Folikel Praovulasi

Ciri:
o Folikel terus tumbuh membesar (folikel dominan)
o Tampak sel granulosa membesar, perlemakan, dan sel teka terdapat
vakuol.
Teori dua sel :
Pada awal siklus (awal fase folikuler) reseptor LH hanya ada di sel teka dan reseptor
FSH ada di sel granulosa. LH memicu sel teka untuk sintesis androgen. Androgen sel teka
melintasi membran basalis masuk ke sel granulosa dan oleh FSH diubah jadi estrogen
(aromatisasi).

Awal siklus (awal fase folikuler)

28

o LH di sel teka dan FSH di sel granulosa.


o FSH lebih dominan daripada LH
o Stimulus FSH menyebabkan folikel antral menjadi lebih besar dan sekresi
estrogen meingkat.
Hari ke 5 7 siklus
o Kadar estrogen dan inhibin B sudah cukup tinggi, menekan sekresi FSH
sehingga FSH turun
o Folikel dominan terus tumbuh dan folikel yang tidak dominan atresia
2. FASE OVULASI
Hari ke 12 siklus
Kadar estrogen 200 pg/ml dan bertahan lebih dari 50 jam yang memacu
sekresi LH
Lonjakan LH (sekresi LH lebih dominan daripada FSH) yang menyebabkan
1. Hambat sekresi OMI (Oocyte Maturation Inhibitor) yang diproduksi oleh sel
granulosa sehingga dapat terjadi meiosis II
2. Memicu sel granulosa untuk produksi Prostaglandin yang dapat membantu dinding
folikel utuk pecah agar oosit keluar dengan mengaktifkan enzim proteolitik
3. Memicu sekresi LH dan FSH meningkat kembali dan terjadi lonjakan gonadotropin
3. FASE LUTEAL
Sekresi prostaglandin meningkat tajam, memasuki fase luteal
Dikerenakan meningkatnya prostaglandin menyebabkan penghambatan sekresi
gonadotropin, FSH dan LH mrnurun.
Progesteron dan estrogen meningkat, puncaknya pada hari ke-7 pascaovulasi
*Progesteron lebih dominan daripada estrogen
Perlahan progesteron dan estrogen turun, terendah pada hari ke-14 pascaovulasi
dikarenakan korpus luteum atresia efeknya gonadotropin kembali meningkat
(FSH lebih dominan daripada LH) masuk kembali ke siklus baru
PERUBAHAN ENDOMETRIUM DALAM SIKLUS MENSTRUASI

29

Terdapat 3 fase dalam perubahan endometrium dalam siklus menstruasi, yaitu:


1. FASE PROLIFERASI
Estradiol menyebabkan proliferasi luas endometrium akibat meningkatnya
mitosis seluler.
2. FASE SEKRESI
Estradiol melekat ke reseptor estrogen yang akan merangsang reseptor
progesteron. Endometrium akan menjadi sensitif terhadap progesteron pada
fase sekresi dalam siklus
3. FASE MENSTRUASI
Bila tidak terjadi kehamilan, corpus luteum akan mengalami luteolysis dan
endometrium akan meluruh.
Sumber:
Prawirohardjo, Sarwono. 2011. Ilmu Kandungan. Jakarta: PT Bina Pustaka
4. BILLY JK-PROSES KEHAMILAN
Fertilisasi
Menurut Sri Sudarwati (1990) fertilisasi merupakan proses peleburan dua macam
gamet sehingga terbentuk suatu individu baru dengan sifat genetic yang berasal dari
kedua parentalnya. Sedangkan menurut Wildan Yatim (1990) fertilisasi merupakan
masuknya spermatozoa kedalam ovum. Setelah spermatozoa masuk, ovum dapat tumbuh
menjadi individu baru. Fertilisasi atau pembuahan adalah proses penyatuan gamet pria
dan wanita yang terjadi di daerah ampula tuba falopii. Bagian ini adalah bagian terluas
pada saluran telur dan teretak dengan ovarium. Spermatozoa dapat bertahan hidup di
dalam saluran reproduksi wanita selama kira-kira 24 jam. Spermatozoa bergerak dengan
cepat dari vagina ke rahim dan selanjutnya masuk ke dalam saluran telur. Pergerakan naik
ini disebabkan oleh kontraksi otot-otot uterus dan tuba. Perlu diingat bahwa pada saat
sampai di saluran kelamin wanita, spermatozoa belum mampu membuahi osit. Mereka
harus mengalami proses kapasitasi dan reaksi akrosom.
Kapasitasi adalah suatu masa penyesuaian di dalam saluran reproduksi wanita yang
pada manusia berlangsung kira-kira 7 jam. Selama waktu itu, suatu gelembung
glikoprotein dari protein-protein plasma semen dibuang dari selaput plasma yang
membungkus daerah akrosom spermatozoa. Hanya sperma yang menjalani kapasitasi
yang dapat melewati sel korona dan mengalami reaksi akrosom.
Reaksi akrosom terjadi setelah penempelan zona pelusida dan diinduksi oleh proteinprotein zona. Reaksi ini berpuncak pada pelepasan enzim-enzim yang diperlukan untuk

30

menembus zona pelusida antara lain akrosin dan zat serupa tripsin. Fase fertilisasi
mencakup fase 1 (penembusan korona radiata), fase 2 (penembusan zona pelusida) dan
fase 3 (fusi oosit dan membran plasma)
Tahap 1 Penembusan Korona Radiata
Dari 200 300 juta sperma yang dicurahkan ke dalam saluran kelamin wanita hanya
300 sampai 500 yang mencapai tempat pembuahan. Hanya satu diantaranya yang
diperlukan untuk pembuahan, dan diduga bahwa sperma-sperma lainnya membantu
sperma yang akan dibuahi untuk menembus sawar-sawar yang melindungi gamet wanita.
Sperma yang mengalami kapasitasi dengan bebas menembus sel korona.
Tahap 2 Penembusan Zona Pelusida
Zona pelusida adalah sebuah perisai glikoprotein disekeliling telur yang
mempermudah dan mempertahankan pengikatan sperma dan menginduksi reaksi
akrosom. Pelepasan enzim-enzim akrosom memungkinkan sperma menembus zona
pelusida sehingga akan bertemu dengan membran plasma oosit. Permeabilitas zona
pelusida berubah ketika kepala sperma menyentuh permukaan oosit. Hal ini
mengakibatkan pembebasan enzim-enzim lisosom dari granul-granul korteks yang
melapisi membran plasma oosit. Pada gilirannya enzim-enzim ini menyebabkan
perubahan sifat zona pelusida (reaksi zona) untuk menghambat penetrasi sperma dan
membuat tak aktif tempat-tempat reseptor bagi spermatozoa pada permukaan zona yang
spesifik spesies. Spermatozoa lain ternyata bisa menempel di zona pelusida tetapi hanya
satu yang terlihat mampu menembus oosit.
Tahap 3 Penyatuan Oosit dan membran sel sperma
Segera setelah spermatozoa menyentuh membran sel oosit, kedua selput plasma sel
tersebut menyatu. Karena selaput plasma yang membungkus kepala akrosom telah hilang
pada saat reaksi akrosom, penyatuan yang sebenarnya terjadi adalah antara selaput oosit
dan selaput yang meliputi bagian belakang kepala sperma. Pada manusia, baik kepala dan
ekor spermatozoa memasuki sitoplasma oosit, tetapi selaput plasma tertinggal di
permukaan oosit.
Segera setelah spermatozoa memasuki oosit, sel telur menanggapinya dengan cara
yang berbeda.
1. Reksi kortikal dan zona. Sebagai akibat terlepasnya butir-butir kortikal oosit (a)
selaput oosit tidak dapat ditembus lagi oleh spermatozoa lainnya dan (b) zona pelusida
mengubah struktur dan komposisinya untuk mencegah penambatan dan penetrasi sperma.
Dengan cara ii terjadinya polispermi dicegah.
2. Melanjutkan pembelahan mitosis kedua. Oosit menyelesaikan pembelahan meiosis
keduanya segera setelah ada spermatozoa yang masuk. Salah satu dari sel anaknya hampir
tidak mendapatkan sitoplasma dan dikenal sebagai badan kutub kedua, sel anak lainnya

31

adalah oosit definitif. Kromosomnya (22+X) tersusun didalam sebuah inti vesikuler yang
dikenal sebagai pronukleus wanita
3. Penggiatan metabolik sel telur. Faktor penggiat diperkirakan dibawa oleh
spermatozoa. Penggiatan setelah penyatuan diperkirakan untuk mengulangi kembali
peristiwa

permulaan

seluler

dan

molekuler

yang

berhubungan

dengan

awal

embriogenesis.
Sementara itu spermatozoa bergerak terus maju hingga dekat sekali dengan
pronukleus wanita. Intinya embengkak dan membentuk pronukleus pria sedangkan
ekornya terlepas dan berdegenerasi. Secara morfologis, pronukleus wanita dan pria tidak
dapat dibedakan dan sesudah itu mereka saling rapat erat dan kehilangan selaput inti
mereka. Selama masa pertumbuhan, baik pronukleus pria maupun wanita (keduanya
haploid), masing-masing pronukleus harus menggandakan DNA-nya. Jika tidak, masingmasing sel dalam zigot tahap dua sel tersebut akan mempunyai separuh dari jumlah DNA
normal. Segera setelah sintesis DNA, kromosom tersusun dalam gelendong untuk
mempersiapkan pembelahan mitosis yang normal. 23 kromosom ibu dan 23 kromosam
ayah (rangkap) membelah memanjang pada sentromer dan kromatid-kromatid yang
berpasangan tersebut saling bergerak ke arah kutub yang berlawanan, sehingga
menyiapkan sel zigot yang masing-masing mempunyai jumlah kromosom dan DNA yang
normal. Sementara kromatid-kromatid berpasangan bergerak ke arah kutub yang
berlawanan, munculah satu alur yang dalam pada permukaan sel yang berangsur-angsur
membagi sitoplasma menjadi 2 bagaian.
Hasil utama pembuahan adalah :
1. Pengembalian menjadi jumlah kromosom diploid lagi, separuh dari ayah dan
separuhnya dari ibu. Oleh karena itu, zigot mengandung kombinasi kromosom baru yang
berbeda dari kedua orang tuanya.
2. Penentuan jenis kelamin individu baru. Spermatozoa pembawea X akan
menghasilkan satu mudigah wanita (XX), dan spermatozoa pembawa Y menghasilkan
satu mudigah pria (XY). Oleh karena itu, jenis kelamin kromosom mudigah tersebut
ditentukan saat pembuahan
3. Dimulainya pembelahan. Tanpa pembuahan, oosit biasanya akan berdegenerasi 24
jam setelah ovulasi.
Setelah zigot mencapai tingkat dua sel, ia menjalani serangkaian pembelahan mitosis,
mengakibatkan bertambahnya jumlah sel dengan cepat. Sel yang menjadi semakin kecil
pada setiap pembelahan ini dikenal sebagai blastomer. Sampai pada tingkat delapan sel,
sel-selnya membentuk sebuah gumpalan bersusun longgar. Tetapi, setelah pembelahan

32

ketiga, hubungan antara blastomer semkin rapat, sehingga membentuk sebuah bola sel
yang padat yang disatukan oleh persambungan yang kuat. Proses ini yang dikenal sebagai
pemadatan, memisahkan sel-sel bagian dalam yang saling berkomunikasi secara ekstensif
dengan gap junction dari sel-sel bagain luar. Kira-kira 3 hari setelah pembuahan, sel-sel
embrio yang termampatkan tersebut membelah lagi membentuk morula dengan 16 sel.
Sel-sel bagian dalam morula merupakan massa sel dalam, sedangkan sel-sel sekitar
membentuk massa sel luar. Massa sel dalam akan membentuk jaringan-jaringan embrio
sebenarnya, sementara massa sel luar membentuk trofoblas yang kemudian ikut
membentuk plasenta.
Kira-kira pada waktu morula memasuki rongga rahim, cairan mulai menembus zona
pelusida masuk ke dalam ruang antar sel yang ada di massa sel dalam. Berangsur-angsur
ruang antar sel menyat dan akhirnya terbentuklah sebuah rongga blastokel. Pada saat ini,
mudigah dikenal sebagai blastokista. Sel-sel di dalam massa sel dalam yang sekarang
disebut embrioblas terletak pada salah satu kutub, sedangkan selsel di massa sel luar ata
trofoblas, menipis membentuk dinding epitel untuk blastokista. Zona pelusida kini sudah
menghilang, sehingga implantasi bisa dimulai.
Dalam beberapa jam setelah pembuahan terjadi, mulailah pembelahan zigot. Hal ini
dapat berlangsung oleh karena sitoplasma ovum mengandung banyak zat asam amino dan
enzim. Segera setelah pembelahan ini terjadi, maka pembelahan-pembelahan selanjutnya
berjalan dengan lancar dan dalam 3 hari terbentuk sel-sel yang sama besarnya. Hasil
konsepsi berada dalam stadium morula. Energi untuk pembelahan ini diperoleh dari
vitellus, hingga volume vitelus makin berkurang dan terisi seluruhnya oleh morula.
Dengan demikian, zona pelusida tetap untuk atau dengan perkataan lain, besarnya hasil
konsepsi tetap sama. Dalam ukuran yang sama ini ahsil konsepsi disalurkan terus ke pars
istmika dan pars interstitialis tuba (bagian-bagian tuba yang mnyempit) dan terus ke arah
kavum uteri oleh arus serta getaran silia pada permukaan sel-sel tuba dan kontraksi tuba.
Dalam kavum uteri hasil konsepsi mencapai stadium blastula.
Pada stadium blastula ini sel-sel yang lebih kecil yang membentuk dinding blastula
akan mejadi trofoblas. Denga demikian, blastula diselubungi oleh suatu simpai yang
disebut trofobas. Trofoblas yang mempunyai kemampuan menghancurkan dan
mencairkan jaringan menemukan endometrium dalam masa sekresi dengan sel-sel
desidua. Sel-sel desidua ini besar-besar dan mengandung lebih banyak glikogen serta
mudah dihancurkan oleh trofoblas. Blastula dengan bagian yang mengandung inner cell
mass aktif mudah masuk ke dalam lapisan desidua dan luka pada desidua kemudian

33

menutup kembali. Kadang-kadang pada saat nidasi yakni masuknya ovum ke dalam
endometrium terjadi perdarahan pada luka desidua.
Spermatozoa yang mengelilingi ovum akan menghasilkan enzim hialuronidase, yaitu
enzim yang memecah protoplasma pelindung ovum agar dapat menembus ovum dengan
sedikit lebih mudah. Enzim tersebut merusak korona radiata dan memudahkan
penembusan zona pellucida hanya untuk satu sperma saja. Badan dan ekor sperma
terpisah dari kepala segera setelah masuk ke dalam ovum. Segera setelah kedua sel
bersatu, kumparan kutub kedua dalam inti (nukleus) ovum mengalami pembelahan
meiosis kedua dan mampu bersatu dengan inti sperma, sehingga terbentuk kromosom
diploid (2n).
Perkembangan Janin di Rahim
1. Pembelahan
Menurut yatim (1990:155) pada manusia pembelahan terjadi secara holoblastik tidak
teratur. Dimana bidang dan waktu tahap-tahap pembelahan tidak sama dan tidak serentak
pada berbagai daerah zigot. Awalnya zigot membelah menjadi 2 sel, kemudian terjadi
tingkat 3 sel, kemudian tingkat 4 sel, diteruskan tingkat 5 sel, 6 sel, 7 sel, 8 sel, dan terus
menerus hingga terbentuk balstomer yang terdiri dari 60-70 sel, berupa gumpalan massif
yang disebut morula.
Pembelahan atau segmentasi terjadi setelah pembelahan. Zigot membelah berulang
kali sampai terdiri dari berpuluh sel kecil yang disebut blastomer. Pembelahan itu bias
meliputi seluruh bagian, bias pula hanya sebagian kecil zigot. Pembelahan ini terjadi
secara mitosis. Bidang yang ditempuh oleh arah pembelahan ketika zigot mengalami
mitosis terus-menerus menjadi banyak sel, disebut bidang pembelahan. Ada 4 macam
bidang pembelahan yaitu meridian, vertical, ekuator dan latitudinal
2. Blastulasi dan Nidasi
Setelah sel-sel morula mengalami pembelahan terus-menerus maka akan terbentuk
rongga di tengah. Rongga ini makin lama makin besar dan berisi cairan. Embrio yang
memiliki rongga disebut blastula, rongganya disebut blastocoel, proses pembentukan
blastula disebut blastulasi.
Pembelahan hingga terbentuk blastula ini terjadi di oviduk dan berlangsung selama 5
hari. Selanjutnya blastula akan mengalir ke dalam uterus. Setelah memasuki uterus, mulamula blastosis terapung-apung di dalam lumen uteus. Kemudian, 6-7 hari setelah
fertilisasi embryo akan mengadakan pertautan dengan dinding uterus untuk dapat
berkembang ke tahap selanjutnya. Peristiwa terpautnya antara embryo pada endometrium
uterus disebut implantasi atau nidasi. Implantasi ini telah lengkap pada 12 hari setelah
fertilisasi (Yatim, 1990: 136)

34

3. Gastrulasi
Menurut Tenzer (2000:212) Setelah tahap blastula selesai dilanjutkan dengan tahap
gastrulasi. Gastrula berlangsung pada hari ke 15. Tahap gastrula ini merupakan tahap atau
stadium paling kritis bagi embryo. Pada gastrulasi terjadi perkembangan embryo yang
dinamis karena terjadi perpindahan sel, perubahan bentuk sel dan pengorganisasian
embryo dalam suatu sistem sumbu. Kumpulan sel yang semula terletak berjauhan,
sekarang terletak cukup dekat untuk melakukan interkasi yang bersifat merangsang dalam
pembentukan sistem organ-organ tbuh. Gastrulasi ini menghasilkan 3 lapisan lembaga
yaitu laisan endoderm di sebelah dalam, mesoderm disebelah tengah dan ectoderm di
sebelah luar.
Dalam proses gastrulasi disamping terus menerus terjadi pembelahan dan
perbanyakan sel, terjadi pula berbagai macam gerakan sel di dalam usaha mengatur dan
menyusun sesuai dengan bentuk dan susunan tubuh individu dari spesies yang
bersangkutan.
4. Tubulasi
Tubulasi adalah pertumbuhan yang mengiringi pembentukan gastrula atau disebut
juga dengan pembumbungan. Daerah-daerah bakal pembentuk alat atau ketiga lapis benih
ectoderm, mesoderm dan endoderm, menyusun diri sehingga berupa bumbung, berongga.
Yang tidak mengalami pembumbungan yaitu notochord, tetapi masif. Mengiringi proses
tubulasi terjadi proses differensiasi setempat pada tiap bumbung ketiga lapis benih, yang
pada pertumbuhan berikutnya akan menumbuhkan alat (organ) bentuk definitif. Ketika
tubulasi ectoderm saraf berlangsung, terjadi pula differensiasi awal pada daerah-daerah
bumbung itu, bagian depan tubuh menjadi encephalon (otak) dan bagian belakang
menjadi medulla spinalis bagi bumbung neural (saraf). Pada bumbung endoderm terjadi
diferensiasi awal saluran atas bagian depan, tengah dan belakang. Pada bumbung
mesoderm terjadi diferensiasi awal untuk menumbuhkan otot rangka, bagian dermis kulit
dan jaringan pengikat lain, otot visera, rangka dan alat urogenitalia.
5. Organogenesis
Organogenesis atau morfogenesis adalah embryo bentuk primitif yang berubah
menjadi bentuk yang lebih definitif dan memiliki bentuk dan rupa yang spesifik dalam
suatu spesies. Organogensisi dimulai akhir minggu ke 3 dan berakhir pada akhir minggu
ke 8. Dengan berakhirnya organogenesis maka ciri-ciri eksternal dan sistem organ utama
sudah terbentuk yang selanjutnya embrio disebut fetus (Amy Tenzer,dkk, 2000)
Pada periode pertumbuhan antara atau transisi terjadi transformasi dan differensiasi
bagian-bagian tubuh embrio dari bentuk primitif sehingga menjadi bentuk definitif. Pada
periode ini embryo akan memiliki bentuk yang khusus bagi suatu spesies. Pada periode

35

pertumbuhan akhir, penyelesaian secara halus bentuk definitif sehingga menjadi ciri suatu
individu. Pada periode ini embrio mengalami penyelesaian pertumbuhan jenis kelamin,
watak (karakter fisik dan psikis) serta wajah yang khusus bagi setiap individu.
Organogenesis pada bumbung-bumbung:
Eksoderm terbagi atas epidermis dan neural
Epidermis
1. Lapisan epidermis kulit, dengan derivatnya yang bertekstur (susunan kimia)
tanduk: sisik, bulu, kuku, tanduk, cula, taji.
2. Kelenjar-kelenjar kulit: kelenjar minyak bulu, kelenjar peluh, kelenjar ludah,
kelenjar lender, kelenjar air mata.
3. Lensa mata, alat telinga dalam, indra bau dan indra peraba.
4. Stomodeum menumbuhkan mulut, dengan derivatnya seperti lapisan email gigi,
kelenjar ludah dan indra pengecap.
5. Proctodeum menumbuhkan dubur bersama kelenjarnya yang menghasilkan bau
tajam.
6. Lapisan enamel gigi.
Neural (saraf)
1. Otak dan sumsum tulang belakang.
2. Saraf tepi otak dan punggung.
3. Bagian persyarafan indra, seperti mata, hidung dan kulit.
4. Chromatophore kulit dan alat-alat tubuh yang berpigment.
Mesoderm
1. Otot : lurik, polos dan jantung.
2. Mesenkim yang dapat berdifferensiasi menjadi berbagai macam sel dan jaringan.
3. Gonad, saluran serta kelenjar-kelenjarnya.
4. Ginjal dan ureter.
5. Lapisan otot dan jaringan pengikat (tunica muscularis, tunica adventitia, tunica
musclarismucosa dan serosa) berbagai saluran dalam tubh, seperti pencernaan, kelamin,
trakea, bronchi, dan pembuluh darah.
6. Lapisan rongga tubuh dan selaput-selaput berbagai alat: plera, pericardium,
peritoneum dan mesenterium.
7. Jaringan ikat dalam alat-alat seperti hati, pancreas, kelenjar buntu.
8. Lapisan dentin, cementum dan periodontum gigi, bersama pulpanya.
Endoderm
1. Lapisan epitel seluruh saluran pencernaan mulai faring sampai rectum.
2. Kelenjar-kelenjar pencernaan misalnya hepar, pancreas, serta kelenjar lender yang
mengandung enzim dlam esophagus, gaster dan intestium.
3. Lapisan epitel paru atau insang.
4. Kloaka yang menjadi muara ketiga saluran: pembuangan (ureter), makanan
(rectum), dan kelamin (ductus genitalis).
5. Lapisan epitel vagina, uretra, vesika urinaria dan kelenjar-kelenjarnya.
Pada minggu ke 5 embryo berukuran 8 mm. Pada saat ini otak berkembang sangat
cepat sehingga kepala terlihat sangat besar. Pada minggu ke 6 embrio berukuran 13 mm.

36

Kepala masih lebih besar daripada badan yang sudah mulai lurus, jari-jari mulai dibentuk.
Pada minggu ke 7 embryo berukuran 18 mm, jari tangan dan kaki mulai dibentuk, badan
mulai memanjang dan lurus, genetalia eksterna belum dapat dibedakan. Setelah tahap
organogenesis selesai yaitu pada akhir minggu ke 8 maka embrio akan disebut janin atau
fetus dengan ukuran 30 mm.
PEMBENTUKAN PLASENTA
Plasenta dibentuk dari sel mesenkim yang terdapat di dalam blastokista.sel tersebut
kemudian memadat menjadi body stalk dan berkembang menjadi plasenta seutuhnya yang
dimulai pada hari ke 7-8 pasca fertilisasi.Plasenta berkelanjutan akan mengalamj
perkembangan untuk membentuk berbagai lapisan dan sistem peredaran darah janin yaitu
korion,amnion dan sis tem peredaran darah fetus.
KORION
Lapisan ini terntuk dari hasil perkembangan lanjut interaksi vilus korionik dengan
desidua basalis yang ada dalam lapisan endometrium dengan membentuk korion
frondosum/korion daun di awal perkembangannya.Korion sendiri tersusun atas
sitotrofoblas dan mesenkim ,esodermal dengan kandungan oksigen yang relatif
rendah.Lapisan desidua yang menyusun plasenta sebenarnya memiliki dua tipe yaitu
desidua kapsularis dan desidua parietalis.Akan tetapi sebagian desidua kapsularis
menghilang oleh karena tekanan dan aliran darah yang menurun.Sedangkan desidua
kapsularis yang tidak menghilang akan bergabung dengan desidua parietalis menjadi
desidua vera.
AMNION
Pada hari ke-7 atau ke-8 dimulai pembentukan lapisan amnion dan cairannya.Amnion
merupakan membran avaskular berasal dari ektoderm janin pada diskus vitelinus yang
berarti tidak memiliki pembuluh darah didalamnya serta tidak terdapar limfe,saraf
maupaun otot polos didalamnya.Meskipun begitu lapisan ini memiliki peran penting
dalam memberikan daya regang pada kondisi janin apabila terjadi benturan pada
abdomen ibu.Secara histologis lapisan ini terdiri atas 5 lapisan dengan bagian dalamnya
yang berkontak dengan cairan amnion memiliki epitel kuboid sedangkan zona terluarnya
yakni zona spongiosa yang relatif aseluler.Amnion memang berdekatan dengan lapisan

37

korion tetapi bukan berarti kedua lapisan ini menyatu secara kuat.Kenyataannya aminon
dan korion dapat dipisah dengan mudah.Epitel aminon mampu mensekresi berbagai zat
yang dibutuhkan dalam masa-masa persalinan yakni IL-8 untuk iniasi masa
persalina,PGE2 sebagai final common pathway,endotelin berfungsi sebagai pengatur
tonus otot dan aliran darah,fibronektin sebagai lem trofoblas,protein terkait paratiroid dan
metaloproteinase.Sedangkan sel mesenkim amnion berfungsi mensekresi IL-6 dan 8 serta
MCP 1 atau monosit cemoatraktann1.Fungsi utama amnion penghasil daya regang hingga
2 kali ukuran normalnya dihasilkan oleh kandungan kolagen 1 dan 3 yang saling
berikatan silang serta kokagen 5 dan 6.Mekanisme peregangan tersebut diatur oleh
kokagen fibriler dan proteoglikan semacam dekorin.Cairan amnion yang ada pada lapisan
ini memiliki volume yangbbergantung usia kehamilan dimana akan meningkat sampai
1000 ml pada Usia kehamilan 28 minggu dan kemudian turun hingga hanya mencapai
200 ml saja dengan rata-rata volume pada kehamilan aterm sekitar 1L.Apabila volume
cairan ini kurang dari 1L disebut oligohidramnion sedangkan lebih dari 2L disebut
polihidramnion.
TALI PUSAT
Tali pusat juga berasal dari sel mesenkim dari blastokista dimana bagian ini terdiri atas 2
arteri dan 1 vena umbilikalis yang mengubungkan fetus dengan plasent a.tali pusat
memiliki panjang normal 55 cm denga diameter sekitar 0,8 - 2 c m.Apabila panjang tali
kurang dari 30 cm maka dinyatakan abnormal.Matriks ekstraselulernya merupakan
jaringan penyambung khusus yang disebut Wharton Jelly.Rute aliran darah yang melewati
talipusat berawal dari vena umbilikalis>bercabang menjadi 2 rute>duktus venosus atau
sirkulasi hepatik>vena cava inferior>jantung>arteri umbilikalis.Secara anatomis,Arteri
umbilikalis melingkari venanya dengan arah putaran paling banyak ditemukan dengan
berlawanan arah jarum jam.Tujuan dari hal tersebut untuk mencegah terpeluntirnya
pembuluh darah.Rata-rata dalam 1 talu pusat akan didapatkan jumlahsekitar 11
heliks.Vena umbilikalis membawa darah kaya oksigen sedangkan arteri sebaliknya.

Guyton, Arthur C. 2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.

38

Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran EGC.
Sadler, T.W. 2000. Embriologi Kedokteran Langman. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Llewellyn, Derek. 2002. Dasar-Dasar Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Penerbit
Hipokrates.
Siswosudarmo, Risanto. 2008. Obstetri Fisiologi. Yogyakarta: Pustaka Cendekia.
Wiknjosastro, Hanifa. 1991. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.

5. HASBI MAULANA ARSYAD - FISIOLOGI JANIN


1. masa embrional
Meliputi masa pertumbuhan intrauterin sampai dengan usia kehamilan 8 minggu, di
mana ovum yang dibuahi (zygote) mengadakan pembelahan dan diferensiasi sel-sel
menjadi organ-organ yang hampir lengkap sampai terbentuk struktur yang akan
berkembang menjadi bentuk manusia. Proses pembentukan organ "dari tidak ada menjadi
ada" ini (organogenesis) pada beberapa sistem organ, misalnya sistem sirkulasi, berlanjut
terus sampai minggu ke-12, sehingga beberapa sumber mengklasifikasikan pertumbuhan
masa embrional sampai dengan minggu ke-12 (trimester pertama kehamilan).
2. masa fetal
Meliputi masa pertumbuhan intrauterin antara usia kehamilan minggu ke 8-12 sampai
dengan sekitar minggu ke-40 (pada kehamilan normal / aterm), di mana organisme yang
telah memiliki struktur lengkap tersebut melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan
yang pesat, sampai pada keadaan yang memungkinkan untuk hidup dan berfungsi di
dunia luar (ekstrauterin).
Peristiwa Penting dalam Pertumbuhan Fisik
Pembagian periode : Trimester pertama - kedua ketiga TRIMESTER PERTAMA
Minggu pertama
Disebut sebagai masa germinal. Karakteristik utama masa germinal ini adalah
pembelahan sel. Sejak pembuahan / fertilisasi ovum oleh sperma, zigot yang terbentuk
membelah diri sampai fase morula - blastula. Menjelang akhir minggu pertama terjadi
implantasi di endometrium kavum uteri.
Minggu kedua

39

Terjadi diferensiasi massa selular embrio menjadi dua lapis (stadium bilaminer).
Kedua lapisan itu ialah lempeng epiblas (akan menjadi ektoderm) dan hipoblas (akan
menjadi endoderm). Akhir stadium bilaminer ditandai munculnya alur primitif / alur
sederhana (primitive streak).
Minggu ketiga
Terjadi pembentukan tiga lapis / lempeng yaitu ektoderm dan endoderm dengan
penyusupan lapisan mesoderm di antaranya, diawali dari daerah primitive streak. Embrio
disebut

berada

dalam

stadium

tiga

lapis

(stadium

trilaminer).

Dari perkembangan primitive streak terbentuk lempeng saraf (neural plate) dan menjadi
lipatan saraf (neural fold) di bagian kranial. Struktur ini kemudian berkembang menjadi
alur saraf (neural groove) dan nantinya akan menjadi tabung saraf (neural tube).
Minggu keempat
Pada akhir minggu ke-3 / awal minggu ke-4, mulai terbentuk ruas-ruas badan (somit)
sebagai karakteristik pertumbuhan periode ini.
Sampai minggu ke-8 -12 (akhir trimester pertama)
Pertumbuhan dan diferensiasi somit terjadi begitu cepat, sampai dengan akhir minggu
ke-8 terbentuk 30-35 somit, disertai dengan perkembangan berbagai karakteristik fisik
lainnya (tabel).

Beberapa sistem organ melanjutkan pembentukan awalnya sampai

dengan akhir minggu ke-12 (trimester pertama).


TRIMESTER KEDUA
Minggu ke-12 sampai minggu ke-28
Karakteristik utama perkembangan intrauterin pada trimester kedua adalah
penyempurnaan struktur organ umum dan mulai berfungsinya berbagai sistem organ.
Sistem sirkulasi
Janin mulai menunjukkan adanya aktifitas denyut jantung dan aliran darah. Dengan
alat fetal ekokardiografi, denyut jantung dapat ditemukan sejak minggu ke-12. Dengan
stetoskop Laennec denyut jantung baru dapat terdengar setelah kehamilan 20 minggu.
Ada beberapa struktur anatomik yang terdapat pada masa janin kemudian tertutup /
mengalami regresi sesudah lahir sampai dewasa, yaitu : foramen ovale, duktus arteriosus
Botalli,

arteria

dan

vena

umbilikalis,

dan

duktus

venosus

Arantii.

Sel darah janin terutama mengandung hemoglobin jenis fetal (HbF), yang memiliki
daya ikat oksigen jauh lebih tinggi dibandingkan daripada hemoglobin manusia dewasa
(HbA) pada suhu dan pH yang sama. Hemoglobin A sendiri baru diproduksi pada akhir
masa fetal, dan pada saat lahir, jumlahnya mencapai hanya sekitar 30% dari seluruh
hemoglobin yang terkandung dalam neonatus. Pada kehidupan ekstrauterin, berangsur-

40

angsur produksi HbF berkurang sampai akhirnya normal tidak terdapat lagi dalam tubuh
individu.
Sistem respirasi
Janin mulai menunjukkan gerak pernapasan sejak usia sekitar 18 minggu.
Perkembangan struktur alveoli paru sendiri baru sempurna pada usia 24-26 minggu.
Surfaktan mulai diproduksi sejak minggu ke-20, tetapi jumlah dan konsistensinya sangat
minimal dan baru adekuat untuk survival ekstrauterin pada akhir trimester ketiga.
Aliran keluar-masuk yang terjadi pada pernapasan janin intrauterin bukanlah aliran udara,
tetapi aliran cairan amnion. Seluruh struktur saluran napas janin sampai alveolus
terendam dalam cairan amnion tersebut.
Sistem gastrointestinal
Janin mulai menunjukkan aktifitas gerakan menelan sejak usia gestasi 14 minggu.
Gerakan menghisap aktif tampak pada 26-28 minggu. Cairan empedu mulai diproduksi
sejak akhir trimester pertama, diikuti dengan seluruh enzim-enzim pencernaan lainnya.
Mekonium, isi yang terutama pada saluran pencernaan janin, tampak mulai usia 16
minggu. Mekonium berasal dari : 1) sel-sel mukosa dinding saluran cerna yang
mengalami deskuamasi dan rontok, 2) cairan / enzim yang disekresi sepanjang saluran
cerna, mulai dari saliva sampai enzim-enzim pencernaan, dan 3) cairan amnion yang
"diminum" oleh janin, yang kadang-kadang mengandung juga lanugo (rambut-rambut
halus dari kulit janin yang rontok) dan sel-sel dari kulit janin / membran amnion yang
rontok.
Oksigenasi janin terutama tetap berasal dari sirkulasi maternal-fetal, melalui plasenta
dan

tali

pusat.

(lihat

kuliah

plasenta

dan

tali

pusat)

Sistem saraf dan neuromuskular


Ini merupakan sistem yang paling awal mulai menunjukkan aktifitasnya, yaitu sejak
usia 8-12 minggu (akhir trimester pertama), berupa kontraksi otot yang timbul jika terjadi
stimulasi lokal. Sejak usia 9 minggu, janin mampu mengadakan fleksi alat-alat gerak,
dengan refleks-refleks dasar yang sangat sederhana (fleksi satu sisi diikuti juga fleksi sisi
lainnya). Terjadi juga berbagai gerakan spontan (spontaneous movement). Namun ukuran
janin pada akhir trimester pertama ini masih kecil, sehingga gerakan-gerakan janin belum
dapat dirasakan oleh ibunya.
Sejak usia 13-14 minggu (awal trimester kedua), gerakan-gerakan janin baru mulai
dapat dirasakan ibunya. Terdapat HUBUNGAN antara keadaan emosional ibu dengan
tingkat aktifitas janin (misalnya, pada keadaan ibu marah atau gembira, gerak janin lebih
sering dan kuat, sebaliknya waktu ibu sedih atau depresi atau ketakutan, gerak janin lebih

41

sedikit dan lemah). Hal ini disebabkan oleh pengaruh variasi kadar hormon adrenalin ibu
yang juga ditransfer ke janin melalui sirkulasi plasenta.
Sistem saraf sensorik khusus / indera
Mata yang terdiri dari lengkung bakal lensa (lens placode) dan bakal bola mata /
mangkuk optik (optic cup) pada awalnya menghadap ke lateral, kemudian berubah
letaknya ke permukaan ventral wajah. Saraf penglihatan / nervus optikus merupakan
derivat

ektoderm,

memasuki

bola

mata

dari

bagian

posterior.

Telinga yang berasal dari vesikel otik (otic vesicles) bergeser ke sisi lateral kepala,
menempati tempatnya yang tetap. Telinga luar memperoleh inervasi sensorik dari nervus
facialis, telinga dalam (organ pendengaran dan keseimbangan) memperoleh inervasi dari
derivat ektoderm nervus vestibulokoklearis.
Hidung yang berasal dari bakal olfaktorik (olfactory placode) merupakan penebalan
ektoderm permukaan di daerah wajah, memperoleh inervasi sensorik dari nervus
olfaktorius. Lidah berasal dari lengkung faring dari endoderm, kemudian memperoleh
inervasi sensorik dari cabang nervus trigeminus dan nervus facialis, serta inervasi motorik
dari nervus hipoglosus dan nervus laryngeus superior.
Sistem urinarius
Glomerulus ginjal mulai terbentuk sejak umur 8 minggu. Pada kehamilan 20 minggu
jumlah glomerulus diperkirakan mencapai 300-400 ribu. Ginjal mulai berfungsi sejak
awal trimester kedua, dan di dalam vesica urinaria dapat ditemukan urine janin, yang
keluar melalui uretra dan bercampur dengan cairan amnion. Produksi urine kira-kira 0.050.10 cc/menit. Ginjal belum sepenuhnya berfungsi, baik fungsi filtrasi maupun ekskresi,
karena vaskularisasi juga relatif masih sedikit.
Sistem endokrin
Kortikotropin dan tirotropin mulai diproduksi di hipofisis janin sejak usia 10 minggu,
mulai berfungsi untuk merangsang perkembangan kelenjar suprarenal dan kelenjar tiroid.
Setelah kelenjar-kelenjar tersebut berkembang, produksi dan sekresi hormon-hormonnya
juga mulai berlangsung.
Hormon-hormon maternal maupun hormon-hormon plasenta juga didistribusikan
dalam jumlah besar ke dalam sirkulasi janin, dan aktifitasnya juga mempengaruhi
pertumbuhan janin, lebih daripada hormon yang diproduksi janin itu sendiri (contoh kasus
: pada janin anensefalus, pertumbuhan badan tetap berlangsung dengan baik, padahal
jaringan hipofisis bayi tersebut sangat kecil dan pembentukannya sendiri terganggu).
Kelenjar-kelenjar

reproduksi

pria

(testis)

juga

menghasilkan

testosteron

dan

androstenedion, namun pada wanita (ovarium) tidak ditemukan sekresi estrogen dan

42

progesteron, kemungkinan karena belum terjadi pematangan teka dan granulosa folikel
lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Sherwood, Lauralee. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem: Edisi 6. Jakarta: EGC, 2011

6. NIHAYAH LUKMAN -ENDORINOLOGI KEHAMILAN


ENDOKRINOLOGI KEHAMILAN DAN PERSALINAN

Endokrinologi kehamilan manusia melibatkan perubahan baik endokrin maupun


metabolik yang terjadi pada batas antara ibu dan jani n yang dikenal sebagai unit plasentajanin. Struktur ini adalah merupakan tempat utama produksi dan sekresi hormon steroid dan
protein (Gambar 1). Perubahan endokrin dan metabolik yang terjadi selama kehamilan
merupakan akibat langsung dari sinyal hormon yang dihasilkan unit plasenta-janin.
Permulaan dan perkemban gan kehamilan tergantung dari interaksi neuronal dan faktor
hormonal. Pengaturan neuro endokrin di dalam plasenta, pada janin dan kompartemen ibu
sangat penting dalam mengarahkan pertumbuhan janin dan perkembangannya sebagaimana
juga dalam mengkoordinasi awal suatu persalinan. Adaptasi materna l terhadap perubahan
hormonal yang terjadi selama kehamilan secara langsung menggambarkan perkembangan
plasenta dan janin. Adaptasi gestasional yang terjadi selama kehamilan meliputi implantasi
dan perawatan kehamilan dini, modifikasi sistem maternal dal am rangka mempersiapkan
dukungan nutrisi perkembangan janin; dan persiapan persalinan dan menyusui

.
Gambar 1. Interaksi antara ibu dan janin, dikenal sebagai fetoplasental unit, tempat
utama untuk produksi dan sekresi hormon protein dan steroid.

43

Protein-protein yang berhubungan dengan kehamilan dapat ditemukan dalam sirkulasi


maternal segera setelah konsepsi. Sebagai contoh, suatu platelet activating (PAF)-like
substance, yang dihasilkan oleh ovum yang dibuahi dapat terdeteksi segera. Setelah ovulasi
dan fertilisasi, embrio masih berada dalam ampula tuba sampai hari ke tiga. Konsepsi yang
sedang berkembang mengarah pada uterus, melalui bagian istmus tuba, selama 10 jam, dan
kemudian memasuki uterus sebagai suatu embrio 2-8 sel (5-6). Pada perkembangan
selanjutnya, antara 3-6 hari setelah konsepsi, embrio menjadi blastokist mengambang dalam
rongga endometrium. Skema fase preimplantasi digambarkan pada gambar 2. Sebelum
implantasi, blastokist juga mensekresikan substansi spesifik yang meningkatkan penerimaan
endometrium. Implantasi yang berhasil memerlukan sinkronisasi yang tepat antara
perkembangan blastokist dan pematangan endometrium.

Gambar 2. Siklus ovarium, fertilisasi dan perkembangan embrio yang terjadi selama
minggu pertama setelah konsepsi.
Sampai saat ini, sedikit infor masi yang diketahui mengenai peranan pengaturan
produksi hormon steroid pada janin. Embrio awal dan sel kumulus yang mengelilinginya
menghasilkan estradiol dan progesteron sebelum implantasi (8,9). Pengambilan secara
mekanis sel-sel ini menyebakan terhentinya sekresi hormon steroid, sementara pengembalian
sel melalui co-culture menghasilkan sekresi steroid seperti semula. Berdasarkan penemuan
ini, produksi steroid oleh konseptus diduga tidak berarti pada saat mencapai rongga
endometrium, yang pada akhirnya sel kumulus akan makin berkurang pada saat melintasi
tuba fallopi.
Progesteron yang dihasilkan konseptus berpengaruh pada motilitas tuba pada saat
konseptus dibawa kearah uterus. Progesteron, dengan pengaruh katekolamin dan
prostaglandin, dipercaya melemaskan otot utero-tuba. Lebih jauh lagi, progesteron diduga

44

memegang peranan penting pada saat transportasi embrio tuba uterus ke rongga uterus karena
ditemukan adanya reseptor progesteron dalam kadar yang tinggi pada mukosa 1/3 distal tuba
fallopi. Estradiol, juga dihasilkan oleh struktur ini, bisa menyei mbangkan pengaruh
progesteron pada keadaan motilitasi dan tonus tuba tert entu yang diharapkan. Progesteron
mengantagonis estrogen meningkatkan aliran darah pada uterus melalui penurunan reseptor
estrogen dalam sitoplasma. Seperti juga estrogen dan progesteron juga berada dalam
keseimbangan dalam pengaturan aliran darah pada tempat implantasi.
FASE IMPLANTASI
Messenger RNA hCG dapat dideteksi pada blastomer 6-8 sel embrio; dilain pihak, hal
tersebut tidak terdeteksi pada media kultur blastokist sampai hari ke 6. Segera setelah
implantasi dimulai, hCG dapat dideteksi pada serum ibu. Akan tetapi karena masih
terbatasnya aliran darah langsung, sekresi hCG ke dalam sirkulasi ibu masih terbatas. Jadi,
selama proses implantasi, embrio aktif menghasilkan hCG, yang dapat dideteksi pada serum
ibu pada saat hari ke 8 setelah ovulasi. Peranan utama hCG adalah memperlama aktifitas
biosintesis korpus luteum, yang memungkinkan produksi progesteron dan mempertahankan
endometrium

gestasional.

Sebagaimana

proses

implantasi

berlangsung,

konseptus

berkelanjutan mensekresi hCG d an protein-protein kehamilan yang memungkinkan deteksi


produksi steroid.
Blastomer melapisi blastokist dibagian luar dan akhirnya akan membentuk plasenta
yang dapat diidentifikasi pada hari ke 5 setelah konsepsi. Fase ini dikenal sebagai fase
trofektoderm. Struktur dan unit fungsional dari plasenta ini dibentuk oleh villi khorionik,
yang jumlahnya makin bertambah pada trimester pertama kehamilan. Gambar 3
menggambarkan villi khorionik ini. Struktur villi khorionik memungkinkan luas permukaan
re sapan yang besar yang memungki nkan 4 pertukaran sirkulasi antara ibu dan janin. Darah
ibu berasal dari arteri spiralis dan bersirkulasi didalam rongga intervilus, sehingga darah janin
dan ibu tidak pernah tercampur dalam sitem ini. Sel kunci utama di dalam villi kh orionik
adalah sitotrofoblas. Mereka mempunya kemampuan mengadakan proliferasi, invasi dan
migrasi atau untuk berdiferensiasi, melalui agregasi dan fusi, membentuk lapisan sinsitial dari
lapisan sel vil li plasenta berinti banyak, di kenal sebagai sinsitiotrofoblas.
Pada hari ke 10 pasca-konsepsi, 2 lapis sel berbeda dari trofoblast telah terbentuk.
Lapisan dalam, sitotrofoblast, terdiri dari sel-sel individual nyata yang cepat membelah.
Lapisan luar, sinsitiotrofoblast, adalah lapisan tebal yang terdiri dari gabungan sel yang sulit

45

dibedakan batas-batasnya. Sinsitiotrofoblast membatasi ruang intervilus dengan endometrium


ibu. Secara imunohistokimia, sitotrofoblas terwarnai untuk protein hypothalamus :
gonadotropin releasing hormone (GnRH), corticotrophin releasing hormone (CRH), dan
thyrotropin releasing hormone (TRH). Sambungan sinsitiotrofoblast terwarnai mengandung
hormon yang berhubungan dengan hormon-hormon hipofise : seperti human chorionic
gonadotropin ( hCG; analog dengan pituitary luteinizing hormone, LH), adrenocorticotropic
hormone (ACTH) and human chorionic thyrotropin (hCT). Secara anatomis, susunan ini
menunjukkan 2 lapis hubungan parakrin dari aksis hypothalamus-hipofise.
Sinsitiotrofoblas, tempat utama biosintesis hormon steroid dan protein plasenta,
mempunyai

luas

permukaan yang besar

dan membatasi

ruang intervilus

yang

memaparkannya langsung dengan aliran darah utama ibu tan pa endotel vaskuler dan
membran basal yang memisahkannya dari sirkulasi janin (gambar 3). Susunan anatomis ini
menjelaskan mengapa protein plasenta disekresikan secara eklusif kedalam sikulasi maternal
dengan konsentrasi yang lebih tinggi dibanding pada janin (18). Lapisan sinsitiotrofoblas
mengandung sejumlah besar sel yang bersifat menghasilkan sintesis hormon. Asam amino
yang berasal dari ibu disusun kedalam bentuk pro-hormon. Pro-hormon kemudian disusun ke
dalam bentuk granul sekretoris dini dan diangkut melintasi membran sel trofoblas 5 sebagai
granul yang matang. Granul matang dapat larut sebagai hormon sirkulasi dalam darah ibu
pada saat mereka menembus ruang intervilus .

46

Gambar 3.
A. Gambaran implantasi blastokist kedalam uterus.
B. Potongan longitudinal vilus khorionik pada hubungan fetomaternal umur 10
minggu kehamilan.Vilus membentuk jembatan antara kompartemen ibu dan janin.
C.Potongan plasenta manusia. Sinsitiotrofoblas membatasi permukaan fetal rongga
intervilus dan berintegrasi kedalam darah ibu untuk mensekresikan hormon plasenta
kedalam sirkulasi. Desidua membatasi permukaan maternal terhadap ruang intervilus
dan mensekresikan hormon protein.

PEMANJANGAN FUNGSI KORPUS LUTEUM


-Produksi steroid primer korpus luteum adalah progesteron, 17 progesteron,
estradiol and and rostenedion. Low-density lipoprotein (LDL) kholesterol adalah
prekursor utama yang bertanggung jawab terhadap produksi korpus luteum. Antara 6
dan 7 minggu kehamilan, fungsi korpus luteum mulai menurun. Selama fase transisi

47

luteal-plasental ini, produksi progesteron bergeser kearah plasenta (Gambar 4).


Pengambilan korpus lute um sebelum kehamilan 6 minggu meningkatkan resiko
abortus. Jadi , pada tahap awal kehamilan, progesteron merupakan produk steroid
yang paling utama karena progesteron sendiri dapat mempertahankan kehamilan .
Untuk alasan ini, pada pasien dengan disfungsi korpus luteum atau pada orang yang
telah mengalami pengangkatan korpus luetum, suplementasi dengan progesteron dari
luar segera dimulai dan dipertahankan sampai 10 minggu kehamilan yang merupakan
periode kritis pergeseran luteal plasenta.

Gambar 4. Pergeseran produksi progesteron dari korpus luteum ke plasenta terjadi


pada saat minggu ke 7-9 kehamilan. Daerah abu-abu menggambarkan perkiraan
fungsi transisi ini.
Pada wanita dengan ancaman abo rtus trimester pertama, konsen trasi
progesteron pada saat awal evaluasi mempunyai nilai prediktif atas hasil akhir.
Abortus akan terjadi sekitar 80% pada mereka dengan kadar progesteron dibawah 10
ng/ml; kehamilan yang viable tidak pernah terjadi pada konsentrasi kurang dari 5,0
ng/ml.
DESIDUA DAN HORMON DESIDUA
Desidua adalah endometrium dalam kehamilan. Desidua endometrium adalah
tempat biosintesis hormon steroid dan protein maternal yang berhubungan langsung
dengan kelangsungan dan proteksi kehamilan dari penolakan secara imunologis.
Sebagai contoh jaringan desidua mensekresikan kortisol, dan dengan kombinasi
dengan hCG dan progesteron yang dihasilkan konseptus, kortisol yang dihasilkan
desidua bekerja menekan respon imun maternal membuahkan keadaan imunologis
khas yang diperlukan untuk implantasi konseptus.

48

Prolactin Desidua
Prolaktin desidua adalah hormon peptida yang mempunyai aktifitas kimia dan
biologis identik dengan prolaktin hipofise. Prolaktin, dihasilkan oleh desidua
endomerium, pertama dideteksi dalam endometrium pada hari ke 23 setelah
implantasi. Progesteron diketahui menginduksi sekresi prolaktin desidua. Prolaktin
desidua masuk kedalam sirkulasi janin atau m aternal setelah mengalami transportasi
melintas membran fetal dari desidua dan dilepaskan kedalam cairan amnion. Tanpa
dipengaruhi oleh pemberian bromokriptin, produksi prolaktin desidua terjadi secara
independent, juga terhadap kontrol dopaminergik.
Sekresi prolaktin desidua meningkat secara paralel sejalan d engan
peningkatan bertahap prolaktin serum ibu yang terlihat sampai minggu ke 10
sehamilan, yang kemudian meningkat secara cepat sampai minggu ke 20, dan
kemudian turun sampai mendekati kehamilan aterm. Prolaktin desidua bekerja
mengatur cairan dan elektrolit yang melalui membran fetal dengan mengurangi
permeabilitas amnion dalam arah fetal-maternal. Tidak seperti prolaktin 8 desidua,
prolaktin dalam sirkulasi, pada janin, disekresikan oleh kelenjar hipofise janin,
sementara prolaktin dalam sirkulasi maternal disekresikan oleh hipofise maternal
dibawah pengaruh estr ogen. Kedua prolaktin dalam si rkulasi ini keduanya ditekan
oleh bromokriptin yang dimakan ibu.
Decidual Insulin-like Growth Factor Binding Protein-1 (IGFBP-1)
IGF binding protein-1 (IGFBP-1) adalah hormon peptida yang berasal dari sel
stroma desidua. Pada wanita yang tidak hamil, circulating IGFBP-1 tidak berubah
selama siklus endometrium. Selama kehamilan, terjadi peningkatan beberapa kali
lipat kadar IGFBP-1 yang dimulai selama trimester pertama, meningkat pada
trimester kedua, dan akhirnya turun sebelum aterm. IGFBP-1 menghambat ikatan
insulin-like growth factor (IGF) pada reseptor di desidua.
Decidual Pregnancy Protein-14 (PP14)
Pregnancy protein-14 adalah hormon glikoprotein yang disintesis oleh
endometrium sekretori dan desidua yang terdeteksi sekitar siklus hari ke 24. Pada
serum, kadarnya meningkat sekitar hari 22-24, mencapai puncak pada saat mulainya
menstruasi; jika kehamilan terjadi, kadarnya tetap tinggi. Dalam kehamilan, PP14

49

meningkat secara paralel dengan hCG. Seperti juga hCG, PP14 diduga mempunyai
aktifitas immunosupresan dalam kehamilan. Kadar PP14 yang rendah ditemukan pada
pasien dengan kehamilan ektopik, yang mempunyai sedikit jaringan desidua.

KOMPARTEMEN PLASENTA
Fungsi plasenta adalah memastikan komunikasi efektif antara ibu dengan janin
yang tengah berkembang sementara tetap memelihara keutuhan imun dan genetik dari
kedua individu. Pada awalnya plasenta berfungsi secara otonom. Namun pada akhir
kehamilan, sistem endokrin janin telah cukup berkembang untuk mempengaruhi
fungsi plas enta dan menyediakan prekursor -prekursor hormon untuk plasenta.

HORMON-HORMON POLIPEPTIDA PLASENTA


Gonadotropin Korion Manusia
Penanda pertama diferensiasi trofoblas dan produk plasenta pertama yang
dapat terukur adalah gonadotropin korion (hCG). hCG adalah suatu glikoprotein yang
terdiri

dari

237

asam

amino.

Strukturnya

hampir

serupa

dengan

glikoproteinglikoprotein hipofisis yaitu terdiri dari dua rantai; suatu rantai alfa yang
bersifat spesifik spesies; dan suatu rantai beta yang menentukan interaksi reseptor dan
efek biologik akhir. Rangkaian rantai alfa hampir identik dengan rangkaian rantai alfa
hormon glikoprotein TSH, FSH dan LH. Rantai beta memiliki homologi -hCG, 97
(67%)rangkaian dengan LH tetapi tidak identik; dari 145 asam amino -LH. Di
samping itu hormon plas entaadalah identik dengan asam amino memiliki suatu
segmen karboksil terminal yang terdiri dari 30 asam amino, yang tidak dijumpai
dalam molekul LH hipofisis. Karbohidrat menyusun 30% dari berat masing-masing
subunit. Asam sialat saja merupakan 10% dari berat molekul dan memiliki resistensi
yang tinggi terhadap degradasi.

50

Pada minggu-minggu pertama kehamilan, kadar hCG meningkat dua kali lipat
setiap 1,7-2 hari, dan pengukuran serial akan memberikan suatu indeks yang peka
untuk fungsi trofoblas. Kadar hCG plasma ibu akan memun cak sekitar 100.000
mIU/mL pada kehamilan sepuluh minggu dan kemudian lahan-lahan menurun hingga
10.000 mIU/mL pada trimester ketiga.
Semua sifat-sifat khas hCG ini memungkinka n diagnosis kehamilan beberapa
hari sebelum gejala pertama muncul atau menstruasi terlambat. Kadar hCG plasma
yang serendah 5 mIU/mL (1 ng/mL) dapat terdeteksi tanpa terganggu kadar LH, FSH,
dan TSH yang lebih tinggi.
Seperti juga LH, maka hCG bers ifat luteotropik, dan korpus l uteum memiliki
reseptor afinitas tinggi untuk hCG. Stimulasi produksi progesteron dalam jumlah
besar oleh sel-sel korpus luteum dipacu oleh kadar hCG yang makin meningkat. hCG
telah dibuktikan dapat meningkatkan konversi kolesterol lipid densitas rendah ibu
menjadi pregnenolon dan progesteron.
Kadar hCG dalam sirkulasi janin kurang dari 1%, yang dijumpai dalam
kompartemen ibu. Namun demikian, terdapat bukti bahwa kadar hCG janin
merupakan suatu regulator penting perkembangan adrenal dan gonad janin selama
trimester pertama. hCG juga diproduksi oleh neoplasma trofoblastik seperti mola
hidatidosa dan koriokarsinoma, dan kadar hCG atau pun subunit betanya
dimanfaatkan sebagai pertanda tumor untuk d iagnosis dan pemantauan berhasil
tidaknya kemoterapi.
Wanita-wanita dengan kadar hCG yang sangat tinggi akibat penyakit
trofoblastik dapat mengalami hipertiroid klinis namun kembali eutiroid bila hCG
berkurang selama kemoterapi.
Laktogen Plasenta Manusia
Hormon polipeptida plasenta kedua, yang juga homolog dengan suatu protein
hipofisis, disebut laktogen plasenta (hPL) atau somatomamotropin korion (hCS). hPL
terdeteksi pada trofoblas muda, namun kadar serum yang dapat dideteksi belum
tercapai hingga minggu kehamilan ke-4-5. hPL adalah suatu protein yang tersusun
dari sekitar 190 asam amino di mana st ruktur primer, sekunder dan tersier serupa

51

dengan hormon pertumbuhan (GH). Seperti GH, maka hPL bersifat diabetogenik. hPL
juga memiliki ciri-ciri struktural yang mirip dengan prolaktin (PRL).
Meskipun tidak jelas terbukti sebagai agen mamotropik, hPL ikut berperan
dalam perubahan metabolisme glukosa dan mobilisasi asam lemak bebas;
menyebabkan respons hiperinsulinemik terhadap beban glukosa; dan berperan dalam
14 terjadinya resistensi insulin perifer yang khas pada kehamilan. Produksi hPL
secara kasar sebanding dengan massa plasenta. Laju produksi sesungguhnya dapat
mencapai 1-1,5 g/hari dengan waktu paruh serum sekitar 15-30 menit. Pengukuran
hPL untuk menilai kesejahteraan janin telah banyak digantikan oleh profil biofisik
yang merupakan indikator yang lebih peka, akan adanya bahaya pada janin.

HORMON-HORMON STEROID PLASENTA


Sangat berbeda dengan kemampuan sintesis yang mengagumkan dalam
produksi protein plasenta, maka plasenta tidak terlih at memiliki kemampuan
mensintesis steroid secara mandiri. Semua steroid yang dihas ilkan plasenta berasal
dari prekursor steroid ibu atau janin.
Namun begitu, tidak ada jaringan yang dapat menyerupai sinsitiotrofoblas
dalam kapasitasnya mengubah steroid secara efisien. Aktivitas ini dapat terlihat
bahkan pada blastokista muda, dan pada minggu ketujuh kehamilan, yaitu saat korpus
luteum mengalami penuaan relatif , maka plasenta menjadi sumber hormon-hormon
steroid yang dominan.
Progesteron
Plasenta bergantung pada kolesterol ibu sebagai substratnya untuk produksi
progesteron. Enzim-enzim plasenta memisahkan rant ai samping kolesterol,
menghasilkan pregnenolon yang selanjutnya mengalami isomerisasi p arsial menjadi
progesteron; 250-350 mg progesteron diproduksi setiap harinya sebelum trimester

52

ketiga dan sebagian besar akan masuk ke dalam sirkulasi ibu. Kadar progesteron
plasma ibu meningkat progresif selama kehamilan dan tampaknya tidak tergantung
pada faktor-faktor yang normalnya mengatur sintesis dan sekresi steroid. Jika hCG
eksogen meningkatkan produksi progesteron pada kehamilan, maka hipofisektomi
tidak memiliki efek. Pemberian ACTH atau kortisol tidak mempengaruhi kadar
progesteron, demikian juga adrenalektomi atau ooforektomi setelah minggu ketujuh.
Progesteron perlu untuk pemeliharaan kehamilan. Produksi progesteron dari
korpus luteum yang tidak mencukupi turut berperan dalam kegagalan implantasi, 15
dan defisiensi fase luteal telah dikaitkan dengan beberapa kasus infertilitas dan
keguguran

berulang.

Lebih

jauh

progesteron

juga

berperanan

dalam

mempertahankan keadaan miometrium yang relatif tenang. Progesteron juga dapat


berperan sebagai obat imunosupresif pada beberapa sistem dan menghambat
penolakan jaringan perantara sel T. Jadi kadar progesteron lokal yang tinggi dapat
membantu toleransi imunologik uterus terhadap jaringan trofoblas embrio yang
menginvasinya.

Estrogen
Produksi estrogen oleh plasenta juga bergantung pada prekursor-prekursor
dalam sirkulasi, namun pada ke adaan ini baik steroid janin a taupun ibu merupakan
sumber-sumber yang penting. Kebanyakan estrogen berasal dari androgen janin,
terutama dehidroepiandrosteron sulfat (DHEA sulfat). DHEA sulfat janin terutama
dihasilkan oleh adrenal janin, kemudia n diubah oleh sulfatase plasenta menjadi
dehidroepiandrosteron bebas (DHEA), dan selanjutnya melalui jalur-jalur enzimatik
yang lazim untuk jaringan-jaringan penghasil steroid, menjadi androstenedion dan tes
tosteron. Androgen-androgen ini akhirnya mengalami aromatisasi dalam plasenta
menjadi berturut-turut estron dan estradiol.
Sebagian besar DHEA sulfat janin dimetabolisir membentuk suatu estrogen
-ketiga : estriol. Langkah kunci dalam si ntesis estriol adalah reaksi 1 6- hidroksilasi
molekul steroid. Bahan untuk reaksi ini terutama DHEA sulfat janin -hidroksi-DHEA
sulfat terjadi dalam hati dandan sebagian besar produksi 16- adrenal janin, tidak
pada plasenta ataupun jaringan ibu. Langkah-langkah akhir yaitu desulfasi dan

53

aromatisasi menjadi estriol berlangsung di plasenta. Tidak seperti pengukuran kadar


progesteron ataupun hPL, maka pengukuran kadar estriol serum atau kemih
mencerminkan tidak saja fungsi plasenta, namun juga fungsi janin. Dengan demikian,
produksi estriol normal mencerminkan keutuhan sirkulasi dan metabolisme janin serta
plasenta. Kadar estriol serum atau kemih yang meninggi merupakan petunjuk
biokimia terbaik dari kesejahteraan janin. Jika assay estriol dilakukan setiap hari,
maka suatu penurunan bermakna (> 50%) dapat menjadi suatu petunjuk dini yang
peka adanya gangguan pada janin.
Terdapat keadaan-keadaan di mana perubahan prod uksi estriol tidak menandai
gangguan pada janin, tetapi merupakan akibat kecacatan kongenital ataupun
intervensi iatrogenik. Estriol ibu tetap rendah pada kehamilan dengan defisiensi
sulfatase dan pada kasus-kasus janin anensefali. Pada kasus pertama, DHEA sulfat tak
dapat dihidrolisis; pada yang kedua, hanya sedikit DHEA yang diproduksi janin
karena tidak adanya rangsang adrenal janin oleh ACTH.
KOMPARTEMEN MATERNAL ADAPTASI IBU TERHADAP KEHAMILAN
Kelenjar Hipofisis Ibu
Hormon-hormon kelenjar hipofisis anterior ibu hanya sedikit berpengaruh
terhadap kehamilan setelah implantasi. Kelenjar ini sendiri bertambah besar kirakira
sepertiga di mana unsur utama pertambahan besar ini adalah hiperplasia laktotrof
sebagai respons terhadap kadar estrogen plasma yang tinggi. PRL yaitu produk dari
laktotrof, merupakan satu-satunya hormon hipofisis anterior yang meningkat progresif
selama keham ilan, yaitu dengan kontribusi dari hipofisis anterior dan desidua.
Tampaknya mekanisme pengatur neuroendokrin normal tetap utuh. Sekresi ACTH
dan TSH tidak berubah. Kadar FSH dan LH turun hingga batas bawah kadar yang
terdeteksi dan tidak responsif terhadap stimulasi GnRH. Kadar GH tidak berbeda
bermakna dengan kadar tak hamil, tetapi respons hipofisis terhadap hipoglikemia
meningkat pada awal kehamilan. Pada kasuskasus hiperfungsi hipofisis primer, janin
tidak terserang.
Kelenjar Tiroid Ibu
Tiroid teraba membesar selama trimester pertama dan dapat didengarkan
adanya bruit. Bersihan iodida dari tiroid dan ambilan 131I (secara klinis 17

54

merupakan kontra indikasi pada kehamilan) meningkat. Perubahan-perubahan ini


sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya bersihan iodida ginjal yang
menyebabkan suatu defisiensi iodium relatif. Sementara kadar tiroksin total dalam
serum meningkat akibat peningkatan globulin pengikat hormon tiroid (TBG), kadar
tiroksin bebas dan tri-iodotironin adalah normal (Gambar 1).
Kelenjar Paratiroid Ibu
Kebutuhan akan kalsium untuk perkembangan kerangka janin diperkirakan
sekitar 30 gr menjelang aterm. Kebutuhan ini dapat dipenuhi melalui hiperplasia
kelenjar paratiroid dan peningkatan kadar serum hormon paratiro id. Kadar kalsium
serum ibu menurun mencapai nadir pada kehamilan 28-32 minggu, terutama karena
hipoalbuminemia kehamilan. Kalsium ion dipertahankan dalam kadar normal selama
kehamilan.

Pankreas Ibu
Kebutuhan nutrisi janin memerl ukan beberapa perubahan dari k ontrol
homeostatik metabolik ibu, dengan akibat perubahan-perubahan baik struktural
maupun fungsional dari pankreas ibu. Ukuran pulau-pulau pankreas bertambah,
penghasil insulin mengalami hiperplasia. Kadar insulin basal lebihdan sel-sel
rendah atau tidak berubah pada awal kehamilan, namun meningkat pada trimester
kedua. Sesudahnya kehamilan merupakan keadaan hiperinsulinemik yang resisten
terhadap efek metabolik perifer dari insulin. Peningkatan kadar insulin telah
dibuktikan sebagai akibat dari peningkatan sekresi dan bukan karena berkurangnya
bersihan.
Produksi glukagon pankreas tetap responsif terhadap rangsang yang umum
dan dapat ditekan oleh beban glukosa, meskipun tingkat responsivitas belum
sungguh-sungguh dinilai.
Peranan utama insulin dan glukagon adalah transpor zat-zat gizi intraselular,
khususnya glukosa, asam amino, dan asam lemak. Insulin tidak dapat menembus
plasenta namun lebih memperlihatkan pengaruhnya terhadap metabolit-metabolit
yang ditranspor. Kadar glukosa puasa dipertahankan pada tingkat rendah normal.
Karbohidrat yang berlebih diubahkan menjadi lemak, dan lemak akan segera

55

dimobilisasi bila asupan kalori dikurangi. 18 Jadi pada kehamilan normal, kadar
glukosa dikurangi secukupnya namun mempertahankan glukosa untuk kebutuhan
janin sementara kebutuhan energi ibu dipenuhi dengan meningkatkan metabolisme
asam lemak perifer. Peru bahanperubahan metabolisme energi ini menguntungkan
janin dan tidak berbahaya bagi ibu dengan diet yang adekuat
Tabel 1. Dampak Kehamilan terhadap Berbagai Uji Fungsi Endokrin

Hipofisis FSH, LH

Uji
Stimulasi GnRH

Hasil
Tidak berespons mulai minggu

GH

Uji toleransi

ketiga kehamilan hingga nifas.


Respons mening kat selama paruh

insulin

pertama kehamilan dan kemudian

Stimulasi arginin Stimulasi berlebih an selama


TSH
Insulin pankreas

trimester pertama dan kedua,


Stimulasi TRH
Respons tidak berubah.
Toleransi glukosa Glukosa puncak meningkat dan
kadar glukosa tetap tinggi
Glucose

Kadar
insulin meningkat mencapai
lebih lama.

challenge
Infusi arginin

kadar puncak
Respons insulin menjadi tumpul
pada tengah kehamilan hingga

Adrenal Kortisol

Infusi ACTH

Metirapon
Mineralo- kortikoid Infusi ACTH
Supresi deksa

Respons
kehamilankortisol
lanjut:dan 17-hidroksi
Respons berkurang.
Tidak ada respons DOC.
Tidak ada respons DOC.

Korteks Adrenal Ibu


A. Glukokortikoid :
Kadar kortisol plasma meningkat hingga tiga kali kadar tidak-hamil saat
menjelang trimester ketiga. Peningkatan terutama akibat pertambahan globulin

56

pengikat kortikosteroid (CBG) hingga dua kali lip at. Peningkatan kadar estrogen
pada kehamilan adalah yang bertanggung jawab atas peningkatan CBG, yang pada
gilirannya mampu mengurangi katabolisme kortisol di hati. Akibatnya adalah
peningkatan waktu paruh kortisol plasma hingga dua 19 kalinya. Produksi kortisol
oleh zona fasikulata juga meningkat pada kehamilan. Dampak akhir dari perubahanperubahan ini adalah peningkatan kadar kortisol bebas dalam plasma, menjadi dua
kali lipat pada kehamilan lanjut. Kortisol plasma yang tinggi berperan dalam
terjadinya resistensi insulin pada kehamilan dan juga terhadap timbulnya striae,
namun tanda-tanda hiperkortisolisme lainnya tidak ditemukan pada kehamilan.
Adalah mungkin bahwa kadar progesteron yang tinggi berperan sebagai
suatuantagonis

glukokortikoid

dan

mencegah

efek-efek

kortisol

ini.

B. Mineralokortikoid dan Sistem Renin Angiotensin :


Aldosteron serum jelas meningkat pada kehamilan. Peningkatan disebabkan oleh
peningkatan delapan hingga sepuluh kali lipat dari produksi aldosteron zona
glomerulosa dan bukan karena meningkatnya pengikatan ataupun berkurangnya
bersihan. Substrat renin meningkat karena pengaruh estrogen terhadap sintesisnya di
hati, dan renin sendiri juga meningkat.
Peningkatan substrat renin dan renin sendiri akan menyebabkan peningkatan
aktivitas renin dan angiotensin. Akan tetapi di balik perubahan-perubahan dramatis
ini, wanita hamil hanya memperlihatkan sedikit tanda-tanda hiperaldosteronisme.
Tidak ada kecenderungan mengalami hipokalemia ataupun hipernatremia dan tekanan
darah pada pertengahan kehamilan di mana perubahan sistem aldosteronreninangiotensin paling maksimal dan cenderung lebih rendah dibandingkan keadaan tidak
hamil. Edema pada kehamilan lanjut mungkin merupakan akibat dari perubahanperubahan ini, tetapi hiperaldosteronisme pada wanita-wanita tak hamil menyebabkan
hipertensi dan bukan edema.
Meskipun secara kuantitatif paradoks yang nyata ini tidak se penuhnya
dimengerti, namun suatu penjelasan kualitatif masih dimungkinkan. Progesteron
merupakan suatu penghambat kompetitif efektif mineralokortikoid pada tubulus
distalis ginjal. Progesteron eksogen (tetapi tidak progestin sintetis) bersifat natriuretik
dan hemat kalium pada manusia, namun tidak akan berefek pada orang yang telah

57

menjalani adrenalektomi yang tidak mendapat miner alokortikoid. Progesteron juga


menyebabkan respons ginjal terha dap aldosteron eksogen menjadi tumpul; jadi,
peningkatan renin dan aldosteron dapat merupakan respons 20 terhadap kadar
progesteron kehamilan yang tinggi. Akibat aktivitas renin plasma yang meningkat,
pada saat yang sama terjadi peningkatan angiotensin II yang tampaknya tidak lazim
menyebab kan hipertensi karena terjadi penurunan kepekaan sistem vaskular ibu
terhadap angiotensin. Bahkan pada trimester pertama, angiotensin eksogen hanya
akan mencetuskan peningkatan tekanan darah yang lebih rendah dibandingkan pada
keadaan tidak hamil.
Jelas bahwa kadar renin, angiotensin, dan aldosteron yang tinggi pada wanita
hamil merupakan subjek dari kontrol umpan balik normal karena dapat mengalami
perubahan sesuai posisi tubuh, konsumsi natrium, dan beban air serta pembatasan
kualitatif seperti halnya pada wanita tak hamil. Pasien-pasien dengan preeklamsia
memperlihatkan bahwa kadar r enin, aldosteron, dan angiotensin serum lebih rendah
dari kehamilan normal, dengan demikian menyingkirkan peran utama sistem reninangiotensin pada gangguan ini.

C. Androgen :
Pada kehamilan normal, produksi androgen ibu sedikit meningkat. Namun
demikian penentu paling penting dari kadar androgen plasma spesifik tampaknya
adalah apakah androgen terikat pada globu lin pengikat hormon seks (SHBG).
Testosteron yang terikat kuat pada SHBG meningkat kadarnya mencapai batas-batas
kadar pria normal menjelang ak hir trimester pertama, namun kadar testoster on bebas
sebenarnya lebih rend ah daripada keadaan tidak hamil. Ikatan dehidroepiandrosteron
sulfat (DHEA sulfat) tidak begitu bermakna, dan kadar plasma DHEA sulfat
sesungguhnya menurun selama kehamilan. Desulfasi dari DHEA sulfat oleh plasenta
dan pengubahan DHEA sulfat menjadi estrogen oleh unit janin-plasenta juga
merupakan faktor-faktor penting dalam peningkatan bersihan metaboliknya.

KONTROL ENDOKRIN PADA PERSALINAN

58

Dalam minggu-minggu terakhir kehamilan, dua proses menandai mendekatnya


persalinan. Kontraksi uterus yang biasanya tidak nyeri dan menjadi semakin sering,
dan segmen bawah uterus dan serviks menjadi lebih lunak dan tipis, suatu proses yang
dikenal sebagai penipisan atau "pematangan". Meskipun tanda-tanda ini tidak jarang
palsu, permulaan persalinan biasanya akan segera terjadi bila kontraksi menjadi
teratur setiap 2-5 menit, dan persalinan dalam waktu kurang dari 24 jam. Kesulitan
mengidentifikasi peristiwa inisiasi tunggal pada persalinan manusia mengesankan
bahwa terdapat lebih dari satu faktor yang berperan.
Steroid-steroid Seks
Progesteron sangat penting unt uk pemeliharaan kehamilan dini, dan hilangnya
progesteron akan mengakibatkan berakhirnya kehamilan. Progesteron menyebabkan
hiperpolarisasi miometrium, mengurangi amplitudo potensial aksi 25 dan mencegah
kontraksi efektif. Progesteron mengurangi resep tor-reseptor adrenergik alfa,
menstimulasi produksi cAMP, dan menghambat sintesis reseptor oksitosin.
Progesteron juga menghambat sintesis reseptor estrogen, membantu penyimpanan
prekursor prostaglandin di desidua d an membran janin, dan menstabilkan lisosomlisosom yang mengandung enzim -enzim pembentuk prostaglandin. Estrogen
merupakan lawan progesteron untuk efek-efek ini dan mungkin memiliki peran
indepen den dalam pematangan serviks uteri dan membantu kontraktilitas uterus. Jadi
rasio estrogen : proges teron mungkin merupakan suatu parameter pent ing. Pada
sejumlah kecil pasie n, suatu peningkatan rasio estrogen : progesteron telah
dibuktikan mendahului persalinan. Jadi untuk sebagian individu, suatu penurunan
kadar progesteron ataupun peningkatan estrogen dapat memulai persalinan. Telah
dibuktikan bahwa suatu peningkatan rasio estrogen : progesteron meningkatkan
jumlah reseptor oksitosin dan celah batas miometrium; temuan ini dapat menjelaskan
kontraksi

efektif

terkoordinasi

yang

mencirikan

persalinan

sejati.

Oksitosin
Infus oksitosin sering diberikan untuk menginduksi ataupun membantu
persalinan. Kadar oksitosin ibu maupun janin keduanya meningkat spontan selama
persalinan, namun tidak satupun yang dengan yakin dapat dibuktikan meningkat
sebelum persalinan dimulai. Data-data pada hewan mengesankan bahwa peran

59

oksitosin dalam mengawali persalinan adalah akibat meningkatnya kepekaan uterus


terhadap oksitosin dan bukan karena peningkatan kadar hormon dalam plasma.
Bahkan wanita dengan diabetes insipidus masih sanggup melahirkan tanpa
penambahan oksitosin : jadi hormon yang berasal dari ibu bukan yang paling penting
di sini.
Prostaglandin
Prostaglandin F2 yang diberikan intra -amnion ataupun intravena merupakan
suatu abortifum yang efektif pada kehamilan sedini 14 minggu. Pemberian
prostaglandin E 2 pervagina akan merangsang pers alinan pada 26 kebanyakan wanita
hami trimester ketiga. Amnion dan korion mengandung asam arakidonat dalam kadar
tinggi, dan desidua mengandung sintetase prostaglandin yang aktif. Prostaglandin
hampir pasti terlibat dalam pemeliharaan proses setelah persalinan dimulai.
Prostaglandin agaknya juga penting dalam memulai persalinan pada beberapa
keadaan, misalnya pada amnionitis atau bila selaput k etuban "dipecahkan" oleh
dokter. Prostaglandin agaknya merupakan bagian dari jaras akhir bersama" dari
persalinan.

Katekolamin
Menyebabkan kontraksi uterus,Katekolamin dengan aktivitas adrenergik 2
menghambat persalinan. Progesteron meningkatkan rasiosementara adrenergik
reseptor beta terhadap reseptor alfa di miometrium, dengan demikian memudahkan
berlanjutnya kehamilan. Ti dak ada bukti bahwa perubahan -perubahan katekolamin
ataupun reseptornya mengawali persalinan, namun tampaknya perubahan-perubahan
seperti ini membantu mempertahankan persalinan bila sudah dimulai. Obat adrenergik
beta ritodrin telah dibuktikan bermanfaat dalam penatalaksanaan persalinan prematur.
Obat-obat adrenergik alfa tidak bermanfaat untuk induksi persalinan dikarena kan
efek samping kardiovaskula r yang ditimbulkannya.
ENDOKRINOLOGI MASA NIFAS
Kelahiran bayi dan plasenta me ngharuskan adanya penyesuaian segera
ataupun jangka panjang terhada p kehilangan hormon-hormon kehamilan. Terhentinya

60

tiba-tiba hormon-hormon dari unit plasenta-janin pada persalinan memungkinkan kita


menentukan waktu paruh dari hormon-hormon tersebut dan juga evaluasi dari
sebagian fungsinya selama kehamilan.

Perubahan-perubahan Endokrin
A. Steroid :
Dengan ekspulsi plasenta, kadar steroid akan turun mendadak dan waktu paruh
dapat terukur beberapa menit atau jam. Akibat produksi kontinu progesteron dalam
kadar rendah oleh korpus luteum, maka kadarnya dalam darah tidak segera mencapai
kadar basal pranatal, seperti halnya estradiol. Progesteron 27 plasma menurun
mencapai kadar fase luteal dalam 24 jam setel ah persalinan, namun baru mencapai
kadar folikular setelah beberapa hari. Pengangkatan korpus luteum berakibat
penurunan mencapai kadar fase folikular dalam 24 jam. Estradio mencapai kadar fase
folikular dalam 1-3 hari setelah persalinan.
B. Hormon-hormon Hipofisis :
Kelenjar hipofisis yang mengalami pembesaran selama kehamilan terutama akibat
peningkatan laktotrof, tidak akan mengecil sampai selesai menyusui. Sekresi FSH dan
LH terus ditekan pa da minggu-minggu pertama nifas, dan stimulus dengan bolus
GnRH menyebabkan pelepasan FSH dan LH subnormal. Dalam minggu-minggu
berikutnya, kepekaan terhadap GnRH

kembali pulih dan banyak wanita

memperlihatkan kadar LH, dan FSH serum fase folikular pada minggu ketiga atau
keempat postpartum.
C. Prolaktin :
Prolaktin (PRL) serum yang meningkat selama kehamilan akan menurun pada saat
persalinan dimulai dan kemudian memperlihatkan pola sekresi yang bervariasi
tergantung apakah ibu menyusui atau tidak. Persalinan dikaitkan dengan suatu
lonjakan PRL yang diikuti suatu penurunan cepat kadar serum dalam 7-14 hari pada
ibu-ibu yang tidak menyusui.

61

Pada wanita yang tidak menyusui, kembalinya fungsi dan ovulasi siklik normal
dapat diharapkan sesegera timbul pada bulan kedua postpartum, di mana ovulasi
pertama rata-rata terjadi 9-10 minggu postpartum. Pada wanita menyusui, PRL
biasanya, menyebabkan anovulasi yang menetap. Lonjakan PRL dipercaya bekerja
pada hipotalamus untuk menekan sekresi GnRH. Pemberian GnRH eksogen pada saat
ini menginduksi respons normal dari hipofisis, dan terkadang ovulasi dapat timbul
spontan bahkan pada masa laktasi. Waktu rata-rata terjadinya ovulasi pada wanita
yang menyusui sedikitnya 3 bulan adalah sekitar 17 minggu. Persentase wanita tak
menyusui kembali mengalami menstruasi rneningkat linear hingga minggu ke-12,
pada saat ini 70%-nya sudah akan kembali mengalami menstruasi. Sangat berbeda
pada wanita menyusui, di mana peningkatan linear ini jauh lebih landai dan 70%
wanita menyusui baru akan kembali mengalami menstruasi setelah sekitar 36 minggu.

Laktasi
Lobulus-lobulus alveolar payudara berkembang selama kehamilan. Periode
mamogenesis memerlukan partisipasi terpadu dari estrogen, progesteron, PRL, GH
dan glukokortikoid. hPL mungkin pula berperan tetapi tidak mutlak. Sekresi ASI pada
masa nifas telah dihubungkan dengan pembesaran lobulus lebih lanjut, diikuti sintesis
unsur-unsur ASI seperti laktosa dan kasein.
Laktasi memerlukan PRL, insulin dan steroid-steroid adrenal. Laktasi tidak
akan terjadi sampai kadar estrogen tak terkonjugasi jatuh di bawah kadar tak hamil
sekitar 36-48 jam postpartum.
PRL sangat penting untuk produ ksi ASI. Kerjanya melibatkan sintesis
reseptor PRL dalam jumlah besar; sintesis ini tampaknya berjalan di bawah
otoregulasi PRL karena PRL meningkatkan jumlah reseptor pada biakan sel, dan
karena bromokriptin (suatu penghambat PRL) dapat menyebabkan penurunan kadar
PRL maupun reseptornya. Jika tidak ada PRL, sekresi ASI tidak terjadi; tetapi bahkan

62

pada trimester ketiga di mana kadar PRL tinggi; sekresi ASI juga tidak terjadi sampai
setelah persalinan karena terhambat oleh estrogen dalam kadar tinggi.
Sekresi ASI memerlukan rangsangan tambahan untuk mengosongkan
payudara. Suatu busur saraf perlu diaktifkan agar sekresi ASI dapat kontinu. Ejeksi
ASI terjadi sebagai res pons terhadap suatu lonjakan o ksitosin yang merangsang
suatu respons kontr aktil otot polos yang mengelil ingi duktuli kelenjar. Pelepasan
oksitosin terkadang timbul dari rangsang yang bersifat visual, psikologis, atau alamiah
yang menyiapkan ibu untuk dihisap.
DAFTAR PUSTAKA
Guyton AC, Hall John E: Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, edisi 11, EGC, Jakarta,
2007.
Sherwood, Lauralee: Fisiologi manusia, edisi 6, EGC, Jakarta, 2011.

7. TRIA YUDINIA-FISIOLOGI LAKTASI


Sistem reproduksi wanita menunjang kehidupan bayi sejak konsepsi, semasa
gestasi, hingga tahap awal kehidupan di luar rahim. Susu merupakan nutrien yang
esensial bagi kelangsungan hidup neonatus. Karena itu, selama gestasi, kelenjar
mamaria payudara, dipersiapkan untuk laktasi (pembentukan susu).
Payudara pada wanita tak-hamil terutama terdiri dari jaringan lemak dan
sistem duktus rudimenter. Ukuran payudara ditentukan oleh jumlah jaringan lemak,
yang tidak ada kaitannya dengan kemampuan menghasilkan air susu.
A Persiapan Payudara untuk Laktasi
Di bawah pengaruh lingkungan hormonal yang ada selama kehamilan,
kelenjar mamaria mengembangkan struktur dan fungsi kelenjar internal yang
diperlukan untuk menghasilkan susu. Payudara yang mampu menghasilkan susu
memiliki anyaman duktus yang semakin kecil, bercabang dari puting payudara yang
berakhir di lobulus. Setiap lobulus terdiri dari sekelompok kelenjar mirip-kantong
yang dinamai alveolus. Susu dibentuk oleh sel epitel dan kemudian disekresikan ke

63

dalam lumen alveolus, lalu dialirkan oleh duktus pengumpul susu membawa susu ke
permukaan puting payudara.
Selama kehamilan, estrogen kadar tinggi mendorong perkembangan ekstensif
duktus, sementara progesteron kadar tinggi merangsang pembentukan alveoluslobulus. Peningkatan konsentrasi prolaktin (suatu hormon hipofisis anterior yang
dirangsang

oleh

peningkatan

kadar

estrogen)

dan

human

chorionic

somatomammotropin (hCS, suatu hormon plasenta yang memiliki struktur serupa


dengan hormon pertumbuhan dan prolaktin) juga ikut berperan dalam perkembangan
kelenjar mamaria dengan menginduksi sintesis enzim-enzim yang dibutuhkan untuk
memproduksi susu. Komitmen untuk mempersiapkan payudara bagi nutrisi janin
sangat besar sehingga ukuran kelenjar hipofisis selama kehamilan meningkat dua
hingga tiga kali lipat akibat peningkatan jumlah sel penyekresi prolaktin yang
diinduksi oleh estrogen.
B Pencegahan Laktasi selama Kehamilan
Sebagian besar perubahan di

payudara terjadi selama paruh pertama

kehamilan sehingga pada pertengahan kehamilan kelenjar mamaria telah mampu


penuh menghasilkan susu. Namun, sekresi susu tidak terjadi hingga persalinan.
Konsentrasi estrogen dan progesteron yang tinggi selama paruh terakhir kehamilan
mencegah laktasi dengan menghambat efek stimulatorik prolaktin pada sekresi susu.
Prolaktin adalah perangsang utama sekresi susu. Karena itu, meskipun steroidsteroid plasenta berkadar tinggi tersebut merangsang perkembangan perangkat
penghasil susu di payudara, hormon-hormon ini juga mencegah kelenjar mamaria
beroperasi hingga bayi lahir dan susu dibutuhkan. Penurunan mendadak estrogen dan
progesteron yang terjadi dengan keluarnya plasenta saat persalinan memicu laktasi.
C Stimulasi Laktasi oleh Pengisapan
Setelah produksi susu dimulai sesudah kelahiran, dua hormon berperan
penting untuk mempertahankan laktasi: (1) prolaktin, yang meningkatkan sekresi
susu, dan (2) oksitosin, yang menyebabkan ejeksi susu (milk letdown). Ejeksi susu
merupakan ekspulsi kuat dari lumen alveolus keluar melalui duktus. Pelepasan kedua

hormon ini dirangsang oleh refleks neuroendokrin yang dipicu oleh pengisapan.
Pelepasan oksitosin dan ejeksi susu
Bayi tidak dapat secara langsung menghisap susu keluar dari lumen alveolus.
Susu harus secara aktif diperas keluar alveolus dan masuk ke duktus, dan, karenanya,
ke arah puting payudara, oleh kontraksi sel-sel mioepitel khusus yang mengelilingi
alveolus. Penghisapan payudara oleh bayi merangsang ujung saraf sensorik di puting,
menimbulkan potensial aksi yang merambat naik melalui korda spinalis ke

64

hipotalamus yang selanjutnya memicu pengeluaran oksitosin oleh hipofisis posterior.


Oksitosin kemudian merangsang kontraksi sel mioepitel di payudara untuk
menyebabkan ejeksi susu. Ejeksi susu ini hanya berlangsung selama bayi menyusu.
Dengan cara ini, refleks ejeksi susu menjamin bahwa payudara mengeluarkan susu
hanya ketika diperlukan dan dalam jumlah yang dibutuhkan oleh bayi. Meskipun
alveolus penuh susu, susu tidak dapat dikeluarkan tanpa oksitosin. Namun, refleks ini
dapat terkondisi oleh beberapa rangsangan di luar isapan. Sebagai contoh, tangisan
bayi dapat memicu ejeksi susu, menyebabkan susu keluar dari puting. Sebaliknya,

stress dapat dengan mudah menghambat ejeksi susu.


Pelepasan prolaktin dan sekresi susu
Pengisapan juga merangsang produksi prolaktin. Pengeluaran prolaktin oleh
hipofisis anterior dikontrol oleh dua sekresi hipotalamus: prolactin-inhibiting
hormone (PIH) dan prolactin-releasing hormone (PRH). Sepanjang kehidupan
seorang wanita, PIH memiliki pengaruh dominan sehingga konsentrasi prolaktin
normalnya tetap rendah. Selama laktasi, setiap kali bayi mengisap terjadi letupan
sekresi prolaktin. Prolaktin kemudia bekerja pada epitel alveolus untuk mendorong
sekresi susu untuk menggantikan susu yang keluar.

Stimulasi secara bersamaan ejeksi dan produksi susu oleh isapan memastikan
bahwa kecepatan produksi susu seimbang dengan kebutuhan bayi terhadap susu.
Semakin sering bayi menyusu, semakin banyak susu yang keluar melalui ejeksi dan
semakin banyak susu yang diproduksi untuk pemberian berikutnya.
Selain prolaktin, yaitu faktor terpenting yang mengontrol sintesis susu, paling
tidak terdapat empat hormon lain yang esensial atas peran permisif mereka dalam
produksi susu: kortisol, insulin, hormon paratiroid, dan hormon pertumbuhan.
D Penghentian Produksi Susu saat Penyapihan

65

Ketika bayi disapih, terjadi dua mekanisme yang berperan menghentikan susu.
Pertama, tanpa pengisapan, sekresi prolaktin tidak terangsang sehingga stimulus
utama untuk sintesis dan sekresi susu yang berkelanjutan lenyap. Tidak adanya
pengisapan juga menyebabkan tidak terjadinya pelepasan oksitosin dan ejeksi susu.
Karena produksi susu tidak langsung berhenti, terjadi akumulasi susu di alveolus dan
menyebabkan payudara membengkak. Tekanan yang terbentuk kemudian bekerja
lambat pada sel epitel alveolus untuk menekan produksi susu lebih lanjut. Karena itu,
berhentinya laktasi saat penyapihan terjadi karena tidak adanya rangsangan terhadap
sekresi prolaktin dan oksitosin oleh pengisapan bayi.
DAFTAR PUSTAKA
Sherwood, Lauralee. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem: Edisi 6. Jakarta: EGC, 2011
8. ABDULROZZAQ-PERSALINAN

BAB I
LANDASAN TEORI

A. Definisi Persalinan
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya servik dan janin turun ke dalam
jalan lahir. Kelahiran adalah proses di ma na janin dan

ketuban didorong keluar

melalui jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin
yang terjadi pada kehamilan cukup bulan yang berlangsung selama 18 jam, tanpa
komplikasi

baik

pada

Neonatal:Sarwono:2002)

B. Pengelompokan Persalinan :

ibu

maupun

pada

janin.

(Maternal

dan

66

Menurut tuanya kehamilan:


1. Abortus
Adalah penghentian kehamilan sebelum usia kehamilan sebelum usia kehamilan
28 minggu, dengan BB < 1000 gr
2. Partus Prematurus
Adalah umur kehamilan 28-36 minggu, janin dapat hidup tapi prematur, BB
1000-2500 gr
3. Partus Maturus/Aterm
Adalah usia kehamilan 37-40 minggu,janin matur,BB > 2500 gr
4. Partus Post Matur
Adalah persalinan terjadi 2 minggu atau lebih dari taksiran partus. (Sinopsis
Obstetri Fisiologi: 1998)
C. Persalinan dibagi dalam 4 kal
1. Kala I (kala Pembuakaan)
a. Kala pembukaan servik dimulai dari his persalinan yang pertama (nol) sampai
pembukaan lengkap.
Lama kala I pada primi gravid 1 cm/jam, multi 2 cm/jam.

Kala I (pembukaan) dibagi atas 2 fase


1. Fase laten
a. Pembukaan berlangsung lambat yang dimulai sejak awal kontraksi yang
menyebabkan penipisan dan pembukaan servik secra bertahap.
b. Pembukaan servik kurang dari 4 cm.
c. Biasanya berlangsung di bawah 8 jam.

67

2. Fase aktif persalinan berlangsung selama 6 jam, terbagi ats


a. Periode akselerasi

: berlangsung 2 jam pembukaan


menjadi 4 cm

b. Periode dilatasi maksimal

: Pembukaan berlangsung cepat


menjadi 9 cm.

c. Periode deselerasi

: Berlangsung lambat pembukaan


menjadi lengkap (10 cm).

2. Kala II (Kala pengeluaran janin)


a. His semakin kuat, terkoordinir, cepat dan lebih lama dengan interval kira kira 2 3
menit sekali dengan durasi 50 100 detik
b. Ketuban pecah ditandai dengan pengeluaran cairan secara mendadak dan diikuti
dengan keinginan mengejan.
c. Lamanya kala II untuk primi 50 menit, multi 30 menit.
3. Kala III (pelepasan uri)
a. Berlangsung 10 -30 menit
b. Setelah bayi lahir, kontraksi rahim berhenti sekitar 5 -10 menit.
c. Tanda tanda pelepasan plasenta :
1.

Uterus menjadi bundar


2. Uteri terdorong ke atas, karena plasenta dilepas ke segemn bawah cairan.
3. Tali pusat bertambah panjang
4. terjadi perdarahan 100 200 cc

4. Kala IV (observasi)
Pengawasan yang dilakukan selama 2 jam pertama post partum yaitu :
a. Tingkat Kesadaran

68

b. TTV
c. Kontraksi Uterus
d. Perdarahan
(Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan, Manuaba: 1998)

B. Sebab sebab mulainya Persalinan


1. Teori penurunan hormon
Estrogen dan Progesteron menurun 1-2 minggu sebelum partus dimulai.
Bila progesteron turun maka akan menimbulkan his
2. Teori plasenta menjadi tua
Menyebabkan turunnya estrogen dan progesteron
3. Teori peregangan otot-otot
Seiring besarnya kehamilan menyebabkan otot-otot terus meregang
4. Teori berkurangnya nutrisi pada janin (Hipocrates)
Bila nutrisi pada janin berkurang maka hasil konsepsi akan segera
dikeluarkan.
5. Teori Prostaglandin
Prostaglandin menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi
dikeluarkan.
6. Teori Oksitosin
Seiring tuanya kehamilan maka akan terjadi peningkatan hormon oksitosin
Yang menyebabkan persalinan
(Ilmu Kebidanan: Sarwono:2002 dan Manuaba:1992)

69

C. Tanda-tanda persalinan
1. His semakin sering dan teratur dengan jarak kontraksi yang semakin pendek
1. Terdapat pengeluaran lendir campur darah
2. Dapat disertai ketuban pecah
3. Pada pemeriksaan dalam dijumpai perlunakan servik, pendataran servik dan terjadi
pembukaan servik

D. Faktor faktor yang Berperan dalam Persalinan


1. Power
a. His (kontraksi otot rahim)
b. Kontraksi otot dinding rahim
c. Kontraksi diagfragma
d. Ligmentous sction terutama ligamentum Rotundum
2. Passanger, janin dan plasenta
3. Passage, jalan lahir lunak dan jalan rahim tulang
(Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan: Manuaba:
1998)

E. Lima Benang Merah dalam Asuhan Persalinan dan Keasuhan Bayi


1. Membuat keputusan Klinik
a. Pengumpulan data (obyektif dan subyektif)
b. Diagnosis

70

c. Pelaksanaan asuhan (membuat rencana dan melaksanakan rencana)


d. Evaluasi
2. Asuhan sayang ibu dan sayang bayi
Asuhan dengan prinsip saling menghargai kebudayaan, kepercayaan dan
keinginan sang ibu
3. Pencegahan infeksi
4. Pencatatan/dokumentasi
5. Rujukan
Bidan, alat, kendaraan, surat, obat, keluarga, dan uang

Tanda bahaya persalinan:


Bayi tidak lahir dalam 12 jam sejak terasa mulas
Perdarahan lewat jalan lahir
Tali pusat atau tangan bayi keluar dari jalan lahir
Ibu tidak kuat mengejan atau kejang
Air ketuban keruh dan berbau
Setelah bayi lahir, ari-ari tidak keluar
Ibu gelisah atau mengalami kesakitan yang hebat

F. Asuhan Persalinan
1. Kala I (pembukaan)
Waktu pembukaan servik sampai menjadi pembukaan lengkap 10 cm
Dibagi atas 2 fase :
1. Fase laten
a. Pembukaan berlangsung lambat yang dimulai sejak awal kontraksi

71

yangmenyebabkan penipisan dan pembukaan servik secara bertahap.


b. Pembukaan servik kurang dari 4 cm.
c. Biasanya berlangsung di bawah 8 jam.
2. Fase aktif : persalinan berlangsung selama 6 jam,
a. Periode akselerasi

: 3-4 cm berlangsung 2 jam

b. Periode dilatasi maksimal

: 4-9 cm berlangsung 2 jam

c. Periode deselerasi

: 9-10 cm berlangsung 2 jam

Pada primigravida berlangsung 13-14 jam


Pada multigravida berlangsung 6-7 jam
Untuk memantau kemajuan persalinan pada kala I digunakan partograf
Yang dicatat dalam partograf adalah:
a. DJJ, dicatat tiap 30 menit
b. Air ketuban
U

: selaput ketuban utuh

: selaput pecah

: air ketuban bercampur mekoneum

: air ketuban bernoda darah

: tidak ada air ketuban/kering

c. Perubahan bentuk kepala janin


0

: sutura terpisah

: sutura bersesuaian

: sutura tumpang tindih tetapi dapat diperbaiki

: sutura tumpang tindih tetapi tidak dapat diperbaiki

72

d. Pembukaan servik diperiksa tiap 4 jam


e. Penurunan kepala
f. Waktu
g. Jam
h. Kontraksi dicatat tiap 30 menit
i. Oksitosin
j. Obat yang diberikan
k. Nadi dicatat tiap 30-60 menit
l. Tekanan darah dicatat tiap 4 jam
m. Suhu badan dicatat tiap 2 jam
n. Protein, aseton, dan volume urin dicatat setiap ibu berkemih

2. kala II
Pemantauan pada kala II
a. Tenaga atau usaha mengejan dan kontraksi uterus
b. Janin yaitu penurunan presentasi janin dan kembali normalnya detak jantung bayi
setelah kontraksi
c. Kondisi ibu
Diagnosa persalinan kala II dilakukan dengan melakukan pemeriksaan
dalam untuk memastikan pembukaan sudah lengkap atau kepala janin
sudah tampak di vulva dengan diameter 5-6 cm

73

3. Kala III
Penatalaksanaan kala III persalinan
Manajemen aktif kala III :
a. Pemberian suntikan oksitosin 10 unit IM 2 menit setelah bayi lahir
b.

Peregangan tali pusat terkendali

c. Rangsangan taktil (pemijatan fundus uteri)

4. Kala IV
Dilakukan pemantauan terhadap ibu setiap 15 menit pada 1 jam pertama
setelah kelahiran plasenta dan setiap 30 menit pada 1 jam berikutnya. Hal
pokok yang harus diperhatikan pada kala IV :
a. Kontraksi uterus
b. Perdarahan pervaginam
c. Kesadaran
d. TTV
( APN:2004)

DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, Ida bagus Gde, Ilmu Kebidanan, Penyakit kandungan dan Keluarga
Berencana untuk pendidikan bidan, EGC jakarta, 1998

74

Komalasari, Kokom, Kematian Bayi Ttragedi yang Terlupakan, Pikiran Rakyat


Cyber, 2007
Prawirohardjo, Sarwono, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta,
YPB, 2008
Syaifuddin, AB, Angka Kematian Ibu Dan Perinatal, Jakarta, 2008
Maryunani, Buku Saku Asuhan Bayi Baru Lahir Normal, 2008
Ikatan Bidan Indonesia, Asuhan Persalinan Normal, Jakarta, 2004
Prawirohardjo, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta,
YPB, 2002

9. DESSY W-NIFAS
Masa Nifas (Puerperium) adalah suatu periode yang dimulai setelah kelahiran bayi
dan berakhir ketika alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil serta terjadi
kurang lebih 6 minggu. Masa nifas merupakan masa yang relatif tidak kompleks
dibandingkan masa kehamilan tetapi masa nifas juga ditandai dengan perubahan-perubahan
fisiologis. Beberapa perubahan tersebut mungkin hanya sedikit yang mengganggu ibu baru,
walaupun komplikasi serius juga dapat terjadi. Berikut ini adalah perubahan dari aspek
anatomi, fisiologi, dan klinis.
Vagina dan Ostium Vagina
Pada awal masa nifas, vagina dan ostiumnya membentu saluran berdinding halus
dan lebar yang ukurannya berkurang secara perlahan namun jarang kembali seperti saat
nulipara. Rugae mulai muncul kembali pada minggu ke tiga namun tidak semenonjol
sebelumnya. Hymen hanya tinggal potongan-potongan kecil sisa jaringan yang membentuk
jaringan parut disebut carunculae myrtiformes. Epitel vagina mulai berproliferasi pada
minggu ke empat hingga ke enam dan biasanya diikuti dengan peningkatan eterogen di
ovarium.
Uterus

75

Pembuluh darah
Terdapat peningkatan aliran darah uterus yang masif untuk mempertahankan

kehamilan, dimungkinkan karena adanya hipertrofi dan remodeling yang terjadi pada
pembuluh darah pelvis. Setelah persalinan, diameternya berkurang kira-kira ke ukuran
sebelum kehamilan.

Segmen serviks dan uterus bagian bawah


Selama persalinan, batas serviks bagian luar yang berhubungan dengan ostium

externa biasanya mengalami laserasi, teruatama di lateral. Pembukaan serviks berkontraksi


secara perlahan dan selama beberapa hari setelah persalinan masih sebesar dua jari. Di akhir
minggu pertama, pembukaan ini menyempit, serviks menebal dan kanalis endoservikal
kembali terbentuk. Ostium externum tidak dapat kembali sempurna. Bagian tersebut tetap
agak lebar dan secara khas cekungan di kedua sisi pada tempat laserasi menjadi permanen.

Involusi uterus
Setelah pengeluaran plasenta, fundus uteri yang berkontraksi tersebut terletak sedikit

di bawah umbilkus. Bagian tersebut sebagian besar terdiri dari miometrium yang ditutupi
oleh serosa dan dilapisi desidua basalis. Segera setelah melahirkan, berat uterus menjadi kirakira 1000 gram. Karena pembuluh darah ditekan oleh miometrium yang berkontraksi maka
uterus pada bagian tersebut tampak iskemik dibandingkan dengan uterus hamil yang
hiperemis ungu kemerahan.
Selama nifas, dekonstruksi uterus dimulai. Dua hari pascapartum uterus mulai
berinvolusi dan pada minggu pertama berat uterus mencapai 500 gram. Pada minggu kedua
berat uterus mencapai 300 gram dan telah turun ke pelvis sejati. Sekitar empat minggu
pascapartum, uterus kembali ke ukuran sebelum hamil yaitu 100 gram atau kurang.

Nyeri setelah melahirkan


Pada primipara, uterus cenderung tetap berkontraksi secara tonik pasca persalinan.

Akan tetapi, pada multipara, uterus sering berkontraksi dengan kuat pada interval tertentu dan
menimbulkan nyeri setelah melahirkan, yang mirip dengan nyeri saat persalinan tetapi
sifatnya lebih ringan. Nyeri ini semakin berat sesuai dengan meningkatnya paritas dan
menajdi lebih buruk saat bayi menyusui. Hal tersebut dimungkinkan karena pelepasan
oksitosin. Biasanya, nyeri setelah melahirkan berkurang intensitasnya dan menjadi lebih
ringan pada hari ketiga.

Lokia

76

Lokia adalah duh vagina dari peluruhan jaringan desidua pada awal nifas. Lokia
terdiri dari eritrosit, potongan ajringan desidua, sel epitel, dan bakteri. Lokia dapat bertahan
selama empat minggu hingga delapan minggu. Lokia memiliki tiga tipe, yaitu
Tipe lokia

Lokia rubra

Lokia serosa

Keterangan
-

Pada hari-hari pertama


Berwarna merah (ada darah)
Jumlah cukup banyak

3-4 hari p.p (pasca partum)


Warna lebih pucat diabndingkan
lokia rubra

Hari ke 10 pasca partum


Campuran
leukosit

penurunan kandungan cairan


Berwarna putih atau putih

Lokia alba

dan

kekuningan

Regenerasi endometrium
Dalam dua-tiga hari pasca persalinan, desidua yang tersisa berdiferensiasi menajdi

dua lapisan, yaitu lapisan superfisial dan lapisan basal. Lapisan superfisial akan menajdi
nekrotik dan meluruh masuk ke dalam lokia. Sementara, lapisan basal yang berdekatan
dengan miometrium tetap utuh dan merupakan sumber endometrium yang baru.
Endometrium tumbuh dari proliferasi sisa kelenjar endometrium dan stroma jaringan ikat
interglandular. Regenerasi endometrium berlangsung cepat, kecuali pada bagian perlekatan
plasenta.

Involusi tempat perlekatan plasenta


Penegluaran lengkap tempat perlekatan plasenta memerlukan waktu hingga 6

minggu. Jika terjadi gangguan pada proses tersebut, dapat terjadi perdarah puerperal awitan
lambat. Segera setlah melahirkan, tempat perlekatan plasenta kira-kira seukuran telapak
tangan, namun kemudian ukurannya mengecil secara cepat. Dalam waktu satu jam setelah
melahirkan, tempat perlekatan plasenta normalnya terdiri dari banyak pembuluh darah yang
mengalami trombosis yang akhirnya mengalami organisasi. Pada akhir minggu ke dua,
diamternya mencapai 3-4 cm.

77

Saluran Kemih
Trauma kandung kemih sangat berhubungan dengan lamanya persalinan dan pada
tahap tertentu merupakan akibat normal dari pelahiran per vagina. Setelah persalinan,
kandung kemih mengalami peningkatan kapasitas dan relatif tidak sensitif terhadap tekanan
intravesika. Jadi, overdistensi, pengosongan yang tidak sempurna dan residu urine yang
berlebihan terjadi.
Payudara dan Laktasi
Setelah persalinan, payudara ibu siap untuk memebrikan ASI kepada bayinya.
Fisiologis laktasi dimulai dari masa kehamilan hingga pasca persalinan. Pembentukan
kelenjar-kelenjar mammae menyebabkan bertambahnya volume payudara. Pada hari pertama
pasca persalinan, payudara ibu mengeluarkan kolstrum, yaitu cairan berwarna kuning lemon
tua. Kolostrum akan keluar hingga lima hari pasca persalinan dan secara pelahan menjadi
ASI.
Masa nifas juga merupakan masa-masa krisis bagi ibu dan bayinya. Oleh karena itu,
perlu adanya asuhan masa nifas untuk keperluan ibu dan bayinya. Asuhan masa nifas
bertujuan untuk :
1 Menjaga kesehatan ibu dan bayi (fisik maupun psikologik).
2 Melakukan screening yang komperhensif.
3 Memberikan edukasi kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga
4

berencana, menyusui, pemberian imunisasi untuk bayi dan perawatan bayi sehat.
Memberikan pelayanan keluarga kesehatan.

Hal berikut ini yang perlu disampaikan saat asuhan masa nifas :
Menjaga kebersihan tubuh
Memebersihkan alat kelamin dengan air dan sabun. Dimulai dari sekitar vulva (dari depan

kebelakang) kemudian sekitar anus.


Sarankan ibu untuk mengganti pembalut minimal 2 kali sehari.
Beristirahat yang cukup. Kurang istirahat menyebabkan menurunkan produksi ASI,

memperlambat involusi uterus, gangguan psikologi (stress).


ibu menyusui harus mengonsumsi tambahan kalori 500 kalori/hari
Makan dan diet yang berimbang
Minum sedikitnya 3 liter / hari
Menjaga payudara tetap bersih dan kering
Menggunakan bra yang menyokong payudara
Bila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar ke sekitar puting setelah

menyusui.
Koitus dapat dilakukan setelah darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan dua cari
ke dalam vagina tanpa nyeri

78

Memberikan edukasi tentang KB


Menjelaskan imunisasi yang dibutuhkan oleh Bayinya
Merawat tali pusat bayi

Daftar Pustaka
Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2010, Yayasan
Bina Pustaka,Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
Cunningham FG, et al, William Obstetrics, 23rd ed, London, Prentice-Hall
International, 2013

10. NIKMATUL MAULA - MANAJEMEN BAYI BARU LAHIR


MANAJEMEN BAYI BARU LAHIR

79

80

PERSIAPAN
1 Persiapan Diri
Sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi, cuci tangan dengan sabun
kemudian keringkan.
Memakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum
dimandikan.
2 Persiapan Alat
Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama klem, gunting, alat-alat
resusitasi dan benang tali pusat telah di desinfeksi tingkat tinggi (DTT) atau sterilisasi.
Gunakan bola karet pengisap yang baru dan bersih jika akan melakukan pengisapan lendir
dengan alat tersebut. Jangan menggunakan bola karet pengisap yang sama untuk lebih
dari satu bayi. Bila menggunakan bola karet pengisap yang dapat digunakan kembali,
pastikan alat tersebut dalam keadaan bersih dan steril. Pastikan semua pakaian, handuk,
selimut dan kain yang digunakan untuk bayi sudah dalam keadaan bersih dan hangat.
Demikian pula halnya timbangan, pita pengukur, termometer, stetoskop dan benda-benda
lain yang akan bersentuhan dengan bayi, juga bersih dan hangat. Dekontaminasi dan cuci
semua alat setiap kali setelah digunakan.
3 Persiapan Tempat
Gunakan ruangan yang hangat dan terang, siapkan tempat resusitasi yang bersih, kering,
hangat, datar, rata dan cukup keras, misalnya meja atau dipan. Letakkan tempat resustasi
dekat pemancar panas dan tidak berangin, tutup jendela dan pintu. Gunakan lampu pijar
60 watt dengan jarak 60 cm dari bayi sebagai alternatif bila pemancar panas tidak
tersedia.
PENILAIAN AWAL
1 Sebelum bayi lahir:
Apakah kehamilan cukup bulan?
Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium?
2 Segera setelah bayi lahir, sambil meletakkan bayi di atas kain bersih dan kering yang
telah disiapkan pada perut bawah ibu, segera lakukan penilaian berikut:
Apakah bayi menangis atau bernapas/tidak megap-megap?
Apakah tonus otot bayi baik/bayi bergerak aktif?
3 APGAR SCORE
APGAR score adalah metode penilaian untuk mengkaji kesehatan neonatus pada 1 menit
dan 5 menit setelah lahir.

81

Masing-masing skor dijumlah sehingga didapatkan skor total. Total skor :


- 7-10 : bayi normal
- 4-6 : asfiksia ringan-sedang
- 1-3 : asfiksia berat
Penilaian awal ini menentukan langkah selanjutnya dalam menangani bayi baru lahir.
Untuk BBL cukup bulan dengan air ketuban jernih yang langsung menangis atau
bernapas spontan dan bergerak aktif cukup dilakukan manajemen BBL normal. Jika bayi
kurang bulan (< 37 minggu/259 hari) atau bayi lebih bulan ( 42 minggu/283 hari) dan
atau air ketuban bercampur mekonium dan atau tidak bernapas atau megap-megap dan
atau tonus otot tidak baik lakukan manajemen BBL dengan Asfiksia.

MANAJEMEN BAYI BARU LAHIR NORMAL

82

1 Pengaturan Suhu (Pencegahan Kehilangan Panas)


Bayi baru lahir bisa kehilangan panas melalui empat cara, yaitu :
- Konduksi : melalui benda-benda padat yang kontak dengan kulit bayi
- Konveksi : pendinginan melalui aliran udara di sekitar bayi
- Evaporasi : kehilangan panas melalui penguapan air pada kulit bayi yang basah

83

Radiasi : melalui benda padat dekat bayi yang tidak berkontak secara langsung
dengan kulit bayi benda menyerap panas bayi

Upaya mencegah kehilangan panas pada BBL :


- Ruang Bersalin yang hangat. Suhu ruangan minimal 25C. Tutup semua pintu dan
-

jendela.
Keringkan tubuh bayi tanpa membersihkan verniks. Keringkan bayi mulai dari muka,
kepala dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks.
Verniks akan membantu menghangatkan tubuh bayi. Segera ganti handuk basah

dengan handuk atau kain yang kering.


Letakkan bayi di dada atau perut ibu agar ada kontak kulit ibu ke kulit bayi. Setelah
tali pusat dipotong, letakkan bayi tengkurap di dada atau perut ibu. Luruskan dan
usahakan ke dua bahu bayi menempel di dada atau perut ibu. Usahakan kepala bayi
berada di antara payudara ibu dengan posisi sedikit lebih rendah dari puting payudara

ibu.
Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Gunakan pakaian yang sesuai untuk mencegah kehilangan panas. Selimuti tubuh ibu
dan bayi dengan kain hangat yang sama dan pasang topi di kepala bayi. Bagian kepala
bayi memiliki permukaan yang relatif luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan

panas jika bagian tersebut tidak tertutup.


Jangan segera menimbang atau memandikan BBL. Lakukan penimbangan setelah
satu jam kontak kulit ibu ke kulit bayi dan bayi selesai menyusu. Karena BBL cepat
dan mudah kehilangan panas tubuhnya (terutama jika tidak berpakaian), sebelum
melakukan penimbangan, terlebih dulu selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih
dan kering. Berat bayi dapat dinilai dari selisih berat bayi pada saat berpakaian atau
diselimuti dikurangi dengan berat pakaian atau selimut. Bayi sebaiknya dimandikan
pada waktu yang tepat yaitu tidak kurang dari enam jam setelah lahir dan setelah

84

kondisi stabil. Memandikan bayi dalam beberapa jam pertama setelah lahir dapat
-

menyebabkan hipotermia yang sangat membahayakan kesehatan BBL.


Rawat gabung. Ibu dan bayi harus tidur dalam satu ruangan selama 24 jam. Idealnya
BBL ditempatkan di tempat tidur yang sama dengan ibunya. Ini adalah cara yang
paling mudah untuk menjaga agar bayi tetap hangat, mendorong ibu segera menyusui

bayinya dan mencegah paparan infeksi pada bayi.


Resusitasi dalam lingkungan hangat. Apabila bayi baru lahir memerlukan resusitasi

harus dilakukan dalam lingkungan yang hangat.


Transportasi hangat. Bayi yang perlu dirujuk, harus dijaga agar tetap hangat selama

dalam perjalanan.
Pelatihan untuk petugas kesehatan dan konseling untuk keluarga. Meningkatkan
pengetahuan petugas kesehatan dan keluarga tentang hipotermia meliputi tanda-tanda

dan bahayanya.
2 Pemotongan dan Perawatan Tali Pusat
Pemotongan dan pengikatan tali pusat sebaiknya dilakukan sekitar 2 menit setelah lahir
(atau setelah menyuntikkan oksitosin kepada ibu) untuk memberi waktu tali pusat untuk
mengalirkan darah (beserta zat besi) kepada bayi dan bisa mencegah anemia pada bayi.
Penanganan tali pusat harus dilakukan secara asepsis untuk mencegah infeksi tali pusat
dan tetanus neonatorum. Merawat tali pusat dilakukan dengan cara :

3
-

Inisiasi Menyusu Dini (IMD)


Langkah 1 : Lahirkan, lakukan penilaian pada bayi, keringkan
Langkah 2 : Lakukan kontak kulit ibu dengan kulit bayi selama paling sedikit 1 jam
Langkah 3 : Biarkan bayi mencari dan menemukan puting ibu dan mulai menyusu

85

4 Pencegahan Perdarahan (Pemberian Vitamin K)


Suntikan vitamin K1 (Phytomenadione) sebanyak 1 mg dosis tunggal IM pada
anterolateral paha kiri untuk mencegah terjadinya perdarahan karena sistem pembekuan
darah yang belum sempurna.
5 Pencegahan Infeksi Mata (Profilaksis Mata)
- Salep atau tetes mata diberikan segera setelah proses IMD dan bayi selesai menyusu,
-

sebaiknya 1 jam setelah lahir


Dianjurkan menggunakan salep mata antibiotik tetrasiklin 1%

6 Pemberian Imunisasi
Imunisasi Hepatitis B pertama (HB 0) diberikan 1-2 jam setelah pemberian vit K secara
IM.

86

7
-

Pemberian Identitas
Tanda pengenal berupa gelang yang dikenakan bayi dan ibunya, bisa di pergelangan

kaki atau tangan.


Yang ditulis pada gelang : identitas nama ibu atau ayah, tanggal dan jam lahir, jenis

kelamin.
Apabila fasilitas memungkinkan juga dilakukan cap telapak kaki bayi pada rekam

medis kelahiran
8 Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Hari pertama kelahiran bayi sangat penting. Banyak perubahan yang terjadi pada bayi
dalam menyesuaikan diri dari kehidupan di dalam rahim ke kehidupan di luar rahim.
Pemeriksaan BBL bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin jika terdapat kelainan
pada bayi. Risiko terbesar kematian BBL terjadi pada 24 jam pertama kehidupan,
sehingga jika bayi lahir di fasilitas kesehatan sangat dianjurkan untuk tetap tinggal di
fasilitas kesehatan selama 24 jam pertama.Tanyakan pada Ibu dan atau keluarga tentang
masalah kesehatan pada ibu :
- Keluhan tentang bayinya
- Penyakit ibu yang mungkin berdampak pada bayi
- Cara, waktu, tempat bersalin, kondisi saat lahir
- Warna air ketuban
- Riwayat bayi buang air kecil dan besar
- Frekuensi bayi menyusu dan kemampuan menghisap

87

88

89

9
-

Pemulangan Bayi Lahir Normal


Bayi yang lahir di fasilitas kesehatan seharusnya dipulangkan minimal 24 jam setelah

lahir bila selama pengawasan tidak dijumpai kelainan.


Petugas harus melakukan pemeriksaan lengkap untuk memastikan bayi dalam
keadaan baik, konseling tanda bahaya dan perawatan bayi baru lahir, dan jadwal
kunjungan nenonatus 1, 2, 3.

MANAJEMEN BAYI BARU LAHIR DENGAN ASFIKSIA

90

91

Resusitasi neonatus merupakan suatu prosedur yang diaplikasikan untuk neonatus yang
tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah
lahir.

Sumber :
Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta : P.T Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Kementerian Kesehatan RI. 2010. Pedoman Kesehatan Neonatal Esensial. Jakarta :
Kementerian Kesehatan.

92

11. AMALIA NUR ZAHRA -ASI dan PASI


ASI EKSLUSIF DAN Pendaming ASI
1. ASI
Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan
garam-garam anorganik yang di sekresi oleh kelenjar mamae ibu, yang berguna sebagai
makanan bagi bayinya (WHO, 2004).
ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain
pada bayi berumur nol sampai enam bulan. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI
eksklusif ini (Depkes RI, 2004)
ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. Dengan
demikian, ketentuan sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak
berlaku lagi (WHO, 2001)
a. Kandungan Asi
Asi mengandung komposisi yang berbeda berdasarkan stadium laktasi, yaitu :
- Kolostrum
Kolostrum mengandung zat kekebalan, vitamin A yang tinggi, lebih
kental dan berwarna kekuning-kuningan. Oleh karena itu, kolostrum harus
diberikan kepada bayi. Sekalipun produksi ASI pada hari-hari pertama baru
sedikit, namun mencukupi kebutuhan bayi. Pemberian air gula, air tajin dan
masakan pralaktal (sebelum ASI lancar diproduksi) lain harus dihindari
(Depkes RI, 2005).
Kolostrum merupakan sekresi payudara yang bersifat alkali, yang mungkin
mulai dihasilkan selama bulan-bulan terakhir kehamilan dan pada 2- 4 hari
pertama setelah melahirkan. Mempunyai berat jenis yang lebih besar (1,040 1,060), kandungan protein yang lebih tinggi, vitamin larut lemak, mineral,
kandungan karbohidrat, dan lemak yang lebih rendah daripada ASI biasa.
Kolostrum mengandung IgA sekretori, leukosit, dan zat-zat imun
lainnya yang berperan dalam mekanisme pertahanan neonatus (Merenstein,
2001).

93

Kolostrum

berfungsi

untuk

membersihkan

mekonium

dan

mempersiapkan kematangan saluran cerna . Kandungan protein (gamma


globulin), antibodi, mineral (Na, K, dan, Cl) kolostrum lenih banyak jika
dibandingkan dengan asi matur. Karbohidrat dan lemak dalam kolostrum lebih
rendah jika dibandingkan asi mature sedangkan vitamin yang larut lemak lebih
tinggi jika dibanding asi mature
-

Asi Transisi
Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi) Merupakan ASI peralihan
dari colostrum menjadi ASI Mature. Disekresi dari hari ke 4 hari ke 10 dari
masa laktasi, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa ASI Mature baru akan
terjadi pada minggu ke 3 ke 5. Kadar protein semakin rendah, sedangkan
kadar lemak dan karbohidrat semakin tinggi serta volume semakin meningkat.
Kandungan protein lebih rendah sedangkan kandungan karbohidrat lebih
tinggi dan volumenya makin meningkat .

Asi Matur
Kadar dalam
satuan
gram/100
ml ASIASI yang disekresi pada hari ke 10 dan
Air Susu
mature
merupakan
seterusnya, yang dikatakan komposisinya relatif konstan, tetapi ada juga yang
mengatakan bahwa minggu ke 3 sampai ke 5 ASI komposisinya baru konstan.
Merupakan cairan berwarna putih kekuningan (karena mengandung Cacaseinat, riboflavin, dan karoten) ASI matur ini juga merupakan makanan
yang dianggap aman bagi bayi, bahkan ada yang mengatakan pada ibu yang
sehat ASI merupakan makanan satu-satunya yang diberikan selama 6 bulan
pertamabagi bayi. Air susu matur merupakan cairan putih kekuning-kuningan,
karena mengandung casienat, riboflavin dan karotin.Tidak menggumpal bila
dipanaskan.Volume: 300 850 ml/24 jam. Terdapat anti microbaterial factor,
yaitu: Antibodi terhadap bakteri dan virus, Enzim (lysozime, lactoperoxidese),

94

Protein (lactoferrin, B12 Binding Protein), Faktor resisten terhadap


staphylococcus, Complecement ( C3 dan C4).
2. Manfaat Asi bagi Bayi dan Ibu
a. Manfaar Asi bagi Bayi
- Faktor imunitas
- Bersifat Non-alergik (serum albumin dan alpha-laktoglobulin)
- Mendukung pertumbuhan bayi
- Mengurangi risiko maloklusi dan karies gigi
Asi mengandung faktor imunitas spesifik dan non-spesifik.
Faktor Imunitas non-Spesifik
-

Laktobasilus Bifidus mengubah laktosa menjadi asam laktat dan asetat

sehingga suasana menjadi asam sehingga menghambat pertumbuhan bakteri


Laktoferin menghambat candida albicans dan bersama IgA menghambat E.

Coli patogen
Lisozim bersama IgA memecahkan dinding sel bakteri (bakteriolitik) kuman

enterobacteriaceae dan gram positif


Laktoperoksidase

Faktor Imunitas Spesifik :


-

Sistem komplemen
Seluler (makrofag, sel T, sel B)
Imunoglobulin
ASI merupakan makanan alamiah yang baik untuk bayi, praktis,
ekonomis, mudah dicerna untuk memiliki komposisi, zat gizi yang ideal sesuai
dengan kebutuhan dan kemampuan pencernaan bayi, dapat juga melindungi
infeksi gastrointestinal. ASI tidak mengandung beta-lactoglobulin yang dapat
menyebabkan alergi pada bayi. ASI juga mengandung zat pelindung (antibodi)
yang dapat melindungi bayi selama 5-6 bulan pertama, seperti: Immunoglobin,
Lysozyme, Complemen C3 dan C4, Antistapiloccocus, lactobacillus, Bifidus,
Lactoferrin. ASI dapat meningkatkan kesehatan dan kecerdasan bayi serta

meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dan anak (bonding) (Gupte, 2004).
b. Manfaat Asi bagi Ibu
- Menyusui menyebabkan uterus terus berkontraksi sehingga pengembalian
-

kondisi fisologis uterus setelah melahirkan berlangsung lebih cepat.


Memperkecil risiko perdarahan setelah melahirkan karena peningkatan

oksitosin yang mempercepat penutupan pembuluh darah


Mengurangi risiko kanker

95

Lebih praktis, ekonomis, dan higienis

3. Pemberian Makanan Bagi Bayi sesuai dengan Usia (ASI dan Pendamping ASI)

Usia Bayi 0-6 bulan


AsI
Usia Bayi 6-9 bulan
Asi
Bubur susu
Nasi tim lumat
Usia Bayi 10-12 bulan
Asi
Jus buah
Nasi Tim
Nasi
Bayi usia kurang dari 6 bulan sangat memerlukan asi ekslusif karena

100 persen kebutuhan gizi bayi usia 0-6 bulan dapat diperoleh dari asi.
Memasuki usia 6-9 bulan memerlukan makanan pendamping ASI, hal ini
dikarenakan ASI hanya mencukupi 70 persen kebutuhan gizi. Usia bayi lebih
dari 9 bulan membutuhkan asupan makanan pendamping lebih banyak karena
ASI bagi bayi usia lebih dari 9 bulan hanya mencukupi 30 persen kebutuhan
gizinya, oleh karena itu makanan pendamping ASI (PASI) sangat diperlukan.
Makanan pendamping Asi bagi bayi dapat berupa nasi lumat yang
dipadukan dengan sayur mayur seperti wortel, sawi, dan bayam. Jus buah
juga dapat diberikan pada bayi usia lebih dari 9 bulan. Makanan pendamping
yang bergizi sangat penting diberikan untuk mendukung pertumbuhan dan
perkembangan bayi.
Daftar Pustaka
1. ASI, Petunjuk Klinik Untuk Tenaga Kesehatan. EGC
2. Dr. Arisman. 2011. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta: EGC.
3. RepositoryUsu
4. Sulistyoningsih, Hariyani. 2010. Gizi untuk Kesehatan Ibu dan Anak.Yogyakarta:
Graha Ilmu.

12. LUSI PADMA - ANC


Pengertian ANC

96

Menurut Manuaba (2008) dalam asuhan keperawatan (ASKEP), pemerikasaan


Antenatal Care (ANC) adalah pemerikasaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan
mental dan fisik ibu hamil, hingga mampu menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan
pemberian ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar.
Kunjungan ANC adalah kunjungan ibu hamil ke bidan atau dokter sedini mungkin
semanjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal. Pada
setiap kunjungan ANC, petugas mengumpulkan dan menganalisis data mengenai kondisi
ibu melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk mendapatkan diagnosisi kehamilan
intrauterine serta ada tidaknya masalah atau komplikasi (Syaifuddin, 2005 dalam
Harnany, 2006).
1. Tujuan ANC
Menurut Depkes RI (2004), tujuan ANC adalah untuk menjaga agar ibu hamil dapat
melalui masa kehamilannya, persalinan dan nifas dengan baik dan selamat, serta
menghasilkan bayi yang sehat. Adapun tujuan umum ANC menurut Muchtar (2005)
dalam Febriani (2010), adalah sebagai berikut:
1 Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh
kembang janin.
2 Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, maternal, dan sosial ibu
dan bayi.
3 Mengenal secara dini adanya komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil,
termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan, dan pembedahan.
4 Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu
maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
5 Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI
Eksklusif.
6 Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar
dapat tumbuh kembang secara optimal.
7 Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.
Menurut Wiknjosastro (2005), tujuan khusus ANC adalah menyiapkan wanita hamil
sebaik-baiknya fisik dan mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan,
persalinan dan masa nifas, sehingga keadaan mereka pada post partum sehat dan normal,
tidak hanya fisik tetapi juga mental.
2.
Jadwal Pemerikasaan Kehamilan
Kunjungan antenatal untuk pemantauan dan pengawasan kesejahteraan ibu dan anak
minimal empat kali selama kehamilan dalam waktu, yaitu sampai dengan kehamilan
trimester I (<14 minggu) satu kali kunjungan, dan kehamilan trimester II (14-28 minggu)
satu kali kunjungan, dan kehamilan trimester III (28-36 minggu dan sesudah minggu ke36) dua kali kunjungan (Hanafiah, 2006).

97

3.
Pelayanan Antenatal
Menurut Depkes (2009), pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh
profesional (dokter spesialis, kebidanan, dokter umum, bidan, pembantu bidan, dan
perawat bidan) untuk ibu selama masa kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan
antenatal yang meliputi 5T yaitu timbang berat badan, ukut tinggi badan, ukur tekanan
darah, pemberian imunisasi tetanus toxoid, ukur tinggi fundus uteri dan pemberian tablet
besi minimal 90 tablet selama masa kehamilan.
Konsep Pemeriksaan Antenatal
Menurut Depertemen Kesehatan RI (2002), pemeriksaan antenatal dilakukan dengan
standar pelayanan antenatal dimulai dengan:
1) Anemnese: meliputi identitas ibu hamil, riwayat KB, kehamilan sebelumnya dan
kehamilan sekarang.
2)
Pemeriksaan mum: meliputi pemeriksaan fisik, pemeriksaan khusus kedidanan.
3)
Pemerisaan laboratorium dilakukan hanya atas indikasi/diagnosa.
4)
Pemberian obat-obatan, imunisasi Tetanus Toxoid (TT) dan tablet besi (Fe).
5)
Penyuluhan tentang gizi, kebersihan, olah raga, pekerjaan dan perilaku seharihari, perawatan payu dara dan ASI, tanda-tanda risiko, pentingnya pemeriksaan
kehamilan dan imunisasi selanjutnya, persalinan oleh tenaga terlatih, KB setelah
melahirkan serta pentingnya kunjungan pemeriksaan kehamilan ulang.
Menurut Muchtar (2005), pelayanan Antenatal meliputi:
1) Trimester I: ibu memeriksakan kehamilan minimal 1 kali pada 3 bulan pertama
usia kehamilan dengan mendapatkan pelayanan 5T (timbang berat badan, mengukur
tekanan darah, mengukur tinggi fundus uteri, pemberian imunisasi TT, dan pemberian
tablet zat besi) disebut juga K1 (kunjungan pertama ibu hamil).
2) Trimester II: ibu memeriksakan kehamilan minimal 1 kali pada umur kehamilan
4-6 bulan dengan mendapatkan pelayanan 5T (timbang berat badan, mengukur tekanan
darah, mengukur tinggi fundus uteri, pemberian imunisasi TT, dan pemberian tablet zat
besi).
3)

Trimseter III: ibu memeriksakan kehamilannya minimal 2 kali pada umur

kehamilan 79 bulan dengan mendapatkan pelayanan 5T (timbang berat badan, mengukur


tekanan darah, mengukur tinggi fundus uteri, pemberian imunisasi TT, dan pemberian
tablet zat besi), disebut juga K4 (kunjungan ibu hamil ke empat).
1 Kunjungan Ibu Hamil
Menurut Depkes RI (2002) dalam Pasaribu (2005), kunjungan ibu hamil adalah
kontak antara ibu hamil dengan petugas kesehatan yang memberikan pelayanan antenatal
standar untuk mendapatkan pemeriksaan kehamilan. Istilah kunjungan kehamilan disini
dapat diartikan ibu hamil yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan atau sebaliknya

98

petugas kesehatan yang mengunjungi ibu hamil di rumahnya atau posyandu. Kunjungan
ibu hamil dlakukan secara berkala yang dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu:
1)
Kunjungan ibu hamil yang pertama (K1)
Kunjungan K1 adalah kontak ibu hamil yang pertama kali dengan petugas kesehatan
untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan pelayanan kesehatan trimester I dimana
usia kehamilan 1 sampai 12 minggu, meliputi identitas/ biodata, riwayat kehamilan,
riwayat kebidanan, riwayat kesehatan, riwayat sosial ekonomi, pemeriksaan kehamilan
dan pelayanan kesehatan, penyuluhan dan konsultasi.
2)
Kunjungan ibu hamil yang keempat (K4)
Kunjungan K4 adalah kontak ibu hamil yang keempat atau lebih dengan petugas
kesehatan untuk mendapatkan pemerisaan kehamilan dan pelayanan kesehatan pada
trimester III, usia kehamilan >32 minggu, meliputi anamnese, pemeriksaan kehamilan
dan pelayanan kesehatan, pemeriksaan psikologis, pemeriksaan laboratorium bila ada
indikasi/diperlukan, diagnosis akhir (kehamilan normal, terdapat penyakit, terjadi
komplikasi, atau tergolong kehamilan risiko tinggi), sikap dan rencana tindakan
(persiapan persalinan dan rujukan).
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kunjungan antenatal sebaiknya
dilakukan paling sedikit 4 kali selaman masa kehamilan dengan distribusi kontak sebagai
berikut:
1 Minimal 1 kali pada trimester I (K1), usia kehamilan 1-12minggu.
2 Minimal 1 kali pada trimester II (K2), usia kehamilan 13-24 minggu.
3 Minimal 2 kali pada trimester III, (K3-K4), usia kehamilan > 24 minggu.
Dengan pelayanan yang baik, dapat diidentifikasi kehamilan beresiko tinggi dan
dilanjutkan dengan perawatan khusus. Pelayanan antinatal yang berkualitas dan dilakukan
sedini mungkin secara teratur akan membantu pengurangan resiko terhadap kejadian
anemia. Secara ringkas pelayanan antinatal minimal 4 kali salama kehamilan, yaitu: 1 kali
pada trimester I, 1 kali pada trimester II. Dan 2 kali pada trimseter III untuk mendapatkan
pelayanan 5T (Depkes RI, 1994).
13. ANNISA SARFINA - PEMERIKSAAN FISIK dan PENUNJANG
DIAGNOSIS KEHAMILAN
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi (penyatuan sperma dan ovum) sampai lahir.
Lama kehamilan normal 40 minggu dihitung dari hari pertama haid terahir (HPHT) .
Kehamilan dapat di diagnosis dengan tanda tanda kehamilan melewati proses
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

99

Tandatanda
kehamilan

Tanda tidak
pasti
kehamilan

Presumtif

Tanda pasti
kehamilan

Objektif

TANDA TANDA TIDAK PASTI KEHAMILAN


Tanda tidak pasti kehamilan merupakan perubahan anatomis dan fisiologis ibu atau
seorang peremuan yang mengindikasi bahwa ia telah hamil. Tanda tidak pasti kehamilan
presumtif dan obyektif didapatkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang (plano test dan tes beta hCG dengan metode ELISA).
Tanda Tidak Pasti Kehamilan Presumtif
1. Mual dan muntah yang sering terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan dan
biasanya saat pagi (morning sickness).
2. Gangguan berkemih, yaitu peningkatan frekuensi berkemih saat trimester pertama
dan akan berkurang secara perlahan setelahnya. Hal ini disebabkan oleh penekanan uterus
pada vesika urinaria pada trimester pertama, sedangkan frekuensi yang berkurang setelah
di atas trimester ke 1 karena kenaikan posisi uterus ke dalam abdomen.
3. Mudah lelah. Hal ini disebabkan oleh menurunnya BMR dalam trimester pertama
kehamilan. Namun dengan meningkatnya aktivitas metabolik janin sesuai dengan usia
berlanjutnya kehamilan, maka rasa lelah yang terjadi pada trimester pertama berangsurangsur menghilang.
4. Adanya presepsi gerakan janin oleh ibu.
5. Mengidam (menginginkan makanan atau minuman tertentu).
6. Anoreksia (tidak nafsu makan).
Tanda Tidak Pasti Kehamilan Objektif
1. Terhentinya menstruasi mendadak pada wanita sehat usia subur yang sebelumnya
mengalami menstruasi, merupakan isyarat kuat adanya kehamilan.
2. Perubahan pada payudara yang membesar dan mengeras. Hal ini disebabkan oleh
aktivitas hormon hPL, estrogen, dan progesteron.
- hPL : merangsang pertumbuhan kelenjar susu

10
Estrogen : merangsang pertumbuhan sistem penyaluran air susu dari kelenjar susu0

- Progesteron : merangsang perkembangan sistem alveoli kelenjar susu


3. Perubahan organ dalam pelvik.
- Tanda Chadwick : Perubahan warna menjadi kebiruan atau keunguan pada vulva,
-

vagina, dan serviks.


Tanda Goodel : Perubahan konsistensi serviks (pada saat hamil konsistensi mirip

bibir, sedangkan pada saat tidak hamil konsistensi mirip ujung hidung).
Tanda Hegar : Pelunakan ismus serviks sehingga ujung-ujung jari seakan dapat

ditemukan apabila ismus ditekan dari arah yang berlawanan.


Tanda Piscaseck : Uterus membesar pada salah satu jurusan (biasanya pada minggu

ke 8-10)
- Tanda Braxton Hicks : Uterus berkontraksi bila dirangsang
4. Pigmentasi kulit. Terjadi kira-kira minggu ke -12 atau lebih. Timbul di pipi, hidung,
dan dahi, dikenal sebagai kloasma gravidarum. Terjadi karena pengaruh hormon
plasenta yang merangsang melanofor dan kulit.
5. Leukore. Peningkatan sekret serviks akibat peningkatan hormon progesteron.
6. Tes kehamilan dengan menggunakan tes hormon kehamilan hCG. Tes kehamilan ini
dapat digunakan dengan berbagai cara, antara lain:
a. Plano test
Tes ini menggunakan urin pagi wanita hamil dengan mereaksikan kit neo planotest
duoclon. Dengan melihat ada atau tidaknya aglutinasi saat pencampuran. Hasil positif
ditandai dengan adanya aglutinasi.
b. Tes beta hCG dengan metode ELISA
Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) adalah suatu teknik biokimia yang
terutama digunakan dalam bidang imunologi untuk mendeteksi kehadiran antibodi atau
antigen dalam suatu sampel.

Pada tes ini sampel yang digunakan bisa meggunakan urin pagi atau darah, namun pada
sampel darah, deteksi beta hCG dapat diketahui lebih dini.

10
1
Prinsip dari metode ini adalah dengan menjadikan hormon hCG sebagai antigen. Pertama

dmasukkan antibody 1 (AB1) yang sensitif terhadap reseptor hormon hCG disalah satu
sisi kedalam suatu wadah khusus, setelah itu hormon hCG menyusul dimasukkan ke
dalam wadah tersebut. Hormon hCG yang telah dimasukkan tadi akan terikat dengan
antibody yang telah dimasukkan sebelumnya. Setelah hormon hCG dimasukkan, maka
selanjutnya dimasukkan AB 2 dengan fungsi untuk mengikat reseptor hormon hCG di
salah satu sisinya, selain itu AB 2 tersebut juga digunakan untuk mengikat suatu AB 3
yang mana antibodi tersebut dapat mengikat suatu substrat. Pada akhirnya substrat
tersebut yang akan dihitung menggunakan kolorimetri. Pad metode ini, hasilnya akan
lebih akurat karena jumlah hCG yang berada pada suatu wadah tersebut akan sama
nilainya dengan substrat yang dihitung pada kolorimetri.
Tanda Pasti Kehamilan
- Pada palpasi didapatkan gerakan janin saat telah mencapai 12 minggu.
- Pada auskultasi dengan menggunakan fetoskop didapatakan denyut jantung mulai
dari usia kehamilan 20 minggu. Sedangkan dengan menggunakan teknik ultrasound
-

atau sistem Doppler bunyi jantung dapat didengar lebih awal (12-20 minggu).
Pada Pemeriksaan penunjang berupa Ultrasonografididapatkan adanya kantung
gestasi, dapat terlihat mulai usia 4-5 minggu setelah haid terakhir.

Guyton and Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi keduabelas. Alih bahasa oleh Dr,
Ilyas E. 2014. Jakarta: Saunders Elsevier.
Mansjoer, A. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Jakarta: Media Aesculapius.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang Panduan
Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer.
Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Edisi 4. Jakarta: PT Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo

14. HARYO KUNTO-OBSTETRI SOSIAL

10
2

AKI dan AKB


Kematian ibu menurut WHO, adalah kematian wanita selama kehamilan atau dalam
periode 42 hari setelah berakhir kehamilan terlepas dari berapa lama kehamilan berlangsung
dan atau dimana lokasinya. Di Negara berkembang, sekitar 12% hingga 15% wanita hamil
mengalami komplikasi serius yang mengancam jiwa. Kematian seorang ibu akan membawa
dampak besar bagi keluarganya, salah satunya adalah kemungkinan meningkatnya jumlah
kematian bayi dan anak balita yang ditinggalkannya.
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) bukan saja
merupakan indicator kesehatan ibu dan anak, namun juga dapat menggambarkan tingkat
akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, efisiensi dan efektifitas dalam pengelolaan
progam kesehatan. Pada saat ini AKI dan AKB di Indonesia tertinggi di Negara Asean.
Menurut SDKI tahun 2002/2003 AKI 307/100.000 kelahiran hidup dan AKB 35/1.000
kelahiran hidup. Target AKI dan AKB pada Millenium Development Goals (MDGs) tahun
2009, adalah AKI diharapkan turun menjadi 226/100.000 kelahiran hidup dan AKB
diharapkan turun menjadi 26/1.000 kelahiran hidup.
Penyebab Kematian Bayi terbesar di Indonesia adalah Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR), asfiksia, infeksi, masalah pemberian minum dan diare. Pada saat ini terdapat
kecenderungan penurunan pemberian ASI di beberapa tempat di Indonesia terutama di kotakota besar. Banyak hal yang berpengaruh terhadap penurunan tersebut, salah satunya promosi
dari produk susu formula yang hebat serta kesalahan dalam penatalaksanaan menyusui itu
sendiri. Upaya untuk menurunkan AKB yang sederhana dan mudah dilakukan adalah dengan
memberi ASI segera (inisiasi dini) pada bayi baru lahir, karena ASI mengandung zat imuno
yang dapat mencegah infeksi dan diare.
Praktek pemberian ASI secara optimal adalah kunci dalam upaya menurunkan angka
kematian bayi. Hasil studi ilmiah diberbagai Negara menunjukkan bahwa Inisiasi Menyusu
Dini dapat menurunkan kematian kematian bayi baru lahir hingga 22% dan pemberian ASI
secara eksklusif sejak lahir hingga 6 bulan dapat menurunkan angka kematian balita hingga
13%. Sayangnya praktek pemberian ASI di Indonesia menurun, angka cakupan ASI eksklusif
6 bulan di Indonesia menurundari 40% (SDKI 2002/2003) ke 32% (SDKI 2007), sedangkan
pemberian susu formula meningkat dari 17% (SDKI 2002/2003) ke 28% (SDKI 2007). Lebih

10
lanjut, SDKI 2007 menunjukkan bahwa bayi bayi yang lahir di fasilitas kesehatan 3lebih

cenderung untuk tidak mendapatkan ASI secara eksklusif.

PernikahanUsiaDini
Pernikahan usia dini adalah pernikahan yang dialksanakan pada usia yang melanggar
aturan undang undang perkawinanya itu perernpuan kurang dari 16 tahun dan laki-laki
kurang dari 19 tahun. Pernikahan pada usia dini merupakan bentuk kegiatan yang sudah
dilaksanakan oleh masyarakat. Dipengaruhi oleh banyak factor dan melibatkan berbagai
factor perilaku.
Hukum yang dilanggar dalam pernikahan usia dini adalah Pemilu No.10 tahun 2008
(pasal 19, ayat1), mengatakan bahwa umur anak itu hingga 17 tahun; UU Perkawinan No.1
Tahun 1974, menjelaskan batas usia minimal menikah bagi perempuan16 tahun dan lelaki 19
tahun; dan UU No. 23 tahun 2002, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun,
termasuk dalam anak yang masih berada dalam kandungan.
Faktor banyak nya pernikahan dini ,adanya dorongan rasa kemandirian dari
perempuan, melepaskan diri dari pengaruh orang tua, mengandung unsure perbaikan social
ekonomi keluarga, ingin membantu perekonomian keluarga, serta budaya yang sehubungan
dengan pernikahan usia dini yang contohnya Parampo Kampung dari Toraja, yang dimana
pernikahan sudah dilakukan sejak kecil yang bermula dengan dipasangkan dan akan terus
bersama hingga dewasa.
Dalam kehamilan di usia muda, dapat menyebabkan faktor risiko ketika sebelum
maupun sesudah persalinan. Ini dikarenakan banyak faktor keadaan tubuh, psikologi, social
serta ekonomi keluarga.
Bagi ibu, mengalami pendarahan, pendarahan pada saat melahirkan antara lain
disebabkan karena otot rahim yang terlalu lemah dalam proses involusi. Selain itu juga
disebabkan selaput ketuban stosel (bekuan darah yang tertinggal didalamrahim).kemudian
proses pembekuan darah yang lambat dan juga dipengaruhi oleh adanya sobekan pada jalan
lahir. Kemungkinan abortus, Pada saat hamil seorang ibu sangat memungkinkan terjadi
keguguran. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor alamiah dan juga abortus yang disengaja,
baik dengan obat-obatan maupun memakai alat. Persalinan yang lama dan sulit, penyebab

10
4
dari persalinan lama sendiri dipengaruhi oleh kelainan letak janin, kelainan panggul, kelainan

kekuatan his dan mengejan serta pimpinan persalinan yang salah. Kematian ibu, kematian
pada saat melahirkan yang disebabkan oleh perdarahan dan infeksi.
Bagi bayi, Kemungkinan lahir belum cukup usia kehamilan, kelahiran prematur yang
kurang dari 37 minggu (259 hari). Hal ini terjadi karena pada saat pertumbuhan janin zat
yang diperlukan kurang. Berat badan lahir rendah (BBLR), bayi yang lahir dengan berat
badan yang kurang dari 2.500 gram. Kebanyakan hal ini dipengaruhi kurangnya gizi saat
hamil, umur ibu saat hamil kurang dari 20 tahun, dapat juga dipengaruhi penyakit menahun
yang diderita oleh ibuhamil. Cacat bawaan, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantara
nya

kelainan

genetic

dan

kromosom,

infeksi,

virus

rubelasertafaktorgizidankelainanhormon.Kematianbayi, kematian bayi yang masih berumur


7 hari pertama hidupnya atau kematian perinatal yang disebabkan berat badan kurang dari
2.500 gram, kehamilan kurang dari 37 minggu (259 hari), kelahiran congenital serta lahir
dengan asfiksia (Manuaba,1998).
Untuk persalinan seharusnya dibantu dengan tenaga medis seperti dokter maupun
bidan. Semenjak tenaga medis masih rendah dalam perdesaan, dukun anak merupakan hal
yang menjadi solusi persalinan bagi orang pedesaan. Hal ini disebabkan karena
,menghubungi dukun dilakukan dengan mudah, tanpa prosedur seperti halnya menghubungi
seorang dokter, persalinan itu sendiri berlangsung di rumah pasien, dukun bayi tidak
menggunakan alat-alat modern yang serba asing bagi penderita, dukun merawat pasien itu
sampai 35 hari (selapan), serta biayanya murah
Sistem Rujukan Kehamilan
Dalam sistem rujukan kehamilan, dalam puskesmas digunakan dengan kartu skor
Poedji Rochjati. Kartu Skor Poedji Rochjati yang dicek setiap tribulan kehamilan, berisikan 3
kelompok faktor resiko yang dimana berisi faktor resiko dari ringan, sedang, dan berat. Dari
hasil skor dibagi menjadi 3 yakni kelompok resiko ringan (KRR) yang berisikan skor 2,
kelompok resikotinggi (KRT) yang berisikan skor antara 6 hingga 10, dan kelompok resiko
sangat tinggi (KRST) yang berisikan skor lebih dari 12.
Bedasarkan hasil dari kelompok resiko KRR, KRT, serta KRST berisi perawatan,
rujukan, tempat persalinan, serta penolong persalinan yang dianjurkan. Bila KRR, dalam hal
perawatan diharuskan untuk ditolong dengan bidan, tidak perlu dirujuk, dan dapat melakukan

10
5
persalinan dalam rumah polindes. Bila KRT, dalam hal perawatan diharuskan untuk ditolong

dengan bidan dokter, perlu dirujuk kebidan PKM, dan harus melakukan persalinan di
polindes PKM atau rumahsakit. Bila KRST, dalam hal perawatan diharuskan untuk ditolong
dengan dokter, perlu dirujuk ke rumahsakit, dan harus melakukan persalinan dirumah sakit.