Anda di halaman 1dari 9

MULTIFIKASI TUNAS DARI TUNAS IN VITRO

5 April 2016
A. Tujuan
Melatih ketrampilan mahasiswa dalam melakukan penggandaan tunas yang efektif dan
efisien.
B. Landasan Teori
Anggrek merupakan salah satu anggota family Orchidaceae yang dapat dijumpai
hampir diseluruh belahan dunia terutama daerah tropis mulai dari dataran rendah hingga
tinggi, bahkan sampai ke daerah perbatasan pegunungan bersalju. Bermacam variasi
bentuk, warna, bau,dan ukuran dengan ciri-ciri yang unik menjadi daya tarik anggrek
yang dikenal sebagai tanaman hias berbunga indah. Anggrek merupakan salah satu
tanaman yang mempunyai kecepatan tumbuh lambat dan berbeda-beda. Hal ini sangat
berpengaruh jika yang menjadi tujuan pemeliharaan dalah memproduksi bunga. Tanaman
anggrek mempunyai pola pertumbuhan yang berbeda dengan tanaman hias lainnya.
Pertumbuhan anggrek, baik vegetatif (pertumbuhan tunas, batang, daun, dan akar) serta
pertumbuhan generatif (pertumbuhan primordial bunga, buah, dan biji) tidak hanya
ditentukan oleh faktor genetic, tetapi juga oleh faktor iklim dan faktor pemeliharaan
(Widiastoety, 2007).
Pada dasarnya tanaman anggrek merupakan tanaman yang sulit untuk melakukan
penyerbukan sendiri, sehingga perkembangbiakannya pun cukup sulit. Selain itu, biji
yang kecil, tidak mengandung cadangan makanan dan kulit yang sangat keras serta tebal
membuat tanaman anggrek sulit ditumbuhkan tanpa bantuan manusia, kecuali anggrek
yang tumbuh liar di hutan. Untuk mengatasi hal tersebut dan menumbuhkan anggrek
secara masal, maka tindakan yang bisa dilakukan adalah dengan mengawinkan tanaman
anggrek (dapat sekaligus memperoleh varietas persilangan yang baru).
Perbanyakan anggrek pada umumnya dilakukan dengan cara perkecambahan biji
secara in-vitro, sehingga hasil yang diperoleh tidak seragam dan menghasilkan warna
bunga yang beragam. (Chatimatun, 2009). Setelah membentuk buah dan berbiji, maka
penumbuhan bijinya dilakukan secara in-vitro hingga menjadi tanaman yang siap ditanam
di area terbuka untuk berproduksi atau dipasarkan.
Anggrek merupakan tanaman yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Tanaman
anggrek biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai tanaman hias. Pada
zaman sekarang ini, perbanyakan anggrek lebih banyak dilakukan dengan kultur jaringan.
Teknik kultur
jaringan dapat untuk memperbanyak tanaman anggrek secara
cepat.Apabila ada anggrek yang bunganya bagus tetapi jumlahnya sedikit, maka anggrek
tersebut dapat diperbanyak dengan mengambil beberapa tunasnya. Dengan menggunakan
hormon yang tepat, tunas tersebut dapat digandakan (Hutami, 2003).
Menurut Harianto dan Wijayanti (2009), overplanting adalah pemindahan anggrek
yang masih sangat kecil dari medium lama ke dalam medium baru yang dilakukan secara

aseptis di dalam entkas atau ruang penabur (laminar air flow). Istilah lain yang digunakan
adalah subkultur. Tujuan dilakukan overplanting adalah agar anggrek tetap
mendapatkan unsur hara untuk pertumbuhannya. Bila media agar lebih dari tiga bulan
tidak diganti, maka media akan tampak kecoklatan, menjadi semakin sedikit, dan
mengering. Untuk anggrek hasil silangan,keadaan demikian akan sangat merugikan. Oleh
karena itu, sebelum terlambat, anggrek botol harus segera disubkultur dengan media
segar yang baru.
Pada dasarnya subkultur merupakan tahap kegiatan yang relatif mudah
dibandingkan dengan kegiatan lain dalam kultur jaringan. Subkultur dilakukan karena
beberapa alasan berikut:
1. Tanaman sudah memenuhi atau sudah setinggi botol
2. Tanaman sudah berada lama didalam botol sehingga pertumbuhannya
berkurang
3. Tanaman mulai kekurangan hara
4. Media dalam botol sudah mengering
Kegiatan subkultur dilakukan sesuai dengan jenis tanaman yang dikulturkan.
Setiap tanaman memiliki karakteristik dan kecepatan tumbuh yang berbeda-beda.
Sehingga cara dan waktu subkultur juga berbeda-beda. Tanaman yang harus segera atau
relatif cepat disubkultur adalah jenis pisang-pisangan, alokasia, dan caladium.
(Hadipoenyanti, 2007) Tanaman yang relatif lama adalah aglaonema. Untuk tanaman
yang diperbanyak dengan kultur biji, kultur embrio, baik pada embrio somatik maupun
embrio mikrospora, serta multifikasi tunas, maka subkultur dapat dilakukan dengan
memisahkan anakan tanaman dari koloninya atau melakukan penjarangan. Contoh
tanamannya adalah anggrek, pisang, dan tanaman lain yang satu tipe pertumbuhan. Untuk
tanaman yang tipe pertumbuhannya dengan pemanjangan batang maka subkultur bisa
dilakukan dengan memotong tanaman perruas tanaman yang ada. Namun jika ada planlet
yang masih terlalu kecil dan beresiko tinggi untuk dipotong, maka subkulturnya cukup
dilakukan dengan dipisahkan dari induknya dan ditanam kembali secara terpisah. Contoh
tanamannya adalah jati, krisan, dan tanaman lain yang memiliki karakteristik
pertumbuhan yang sama. kita dapat menghitung kecepatan produksi tanaman dengan
mengetahui kecepatan tanaman melakukan multifikasi hingga siap disubkultur.
Eksplan atau kalus yang sudah waktunya dipindahkan ke dalam media kultur
yang baru harus segera dilaksanakan dan tidak boleh sampai terlambat. Sub kultur yang
terlambat dapat menyebabkan pertumbuhan eksplan atau kalus tersebut akan terhenti atau
mengalami pencoklatan atau bahkan terkontaminasi oleh jamur atau bakteri.

C. Rumusan Masalah
Bagaimana cara melakukan multifikasi tunas anggrek dan krisan serta bagaimana
hasilnya ?

D. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Enkas
b. Botol kultur (volume 100 ml dan penutup
c. Skalpel, pinset, dan cawan petri
d. Sprayer volume 500 ml
2. Bahan
a. Tunas in vitro anggrek dan krisan
b. Media MS mengandung BA dan NAA dengan perbandingan tertentu
c. Alkohol
E. Cara Kerja
1. Medium perkecambahan in vitro menggunakan formula MS padat dengan
penambahan ZPT dengan dua kombinasi, yaitu erlenmeyer A yang isinya BA (7,5
ppm)+ NAA (5,0 ppm) dan erlenmeyer B yang isinya BA (7,5 ppm) + NAA (7,5
ppm); masing-masing 2 botol untuk setiap mahasiswa.
2. Cara membuat medium MS:
Larutan Stok Makronutrien
Menimbang bahan-bahan kimia yang tersebut di bawah ini dengan timbangan
Stok A: NH4NO3
16,5 gram x 2,5 = 41,25 gr
Dalam 100 ml aquades
Stok B: KNO3
19 gram x 2,5 = 47,5 gr
Dalam 100 ml aquades
Stok C: CaCl2 . 2H2O
4,4 gram x 2,5 = 11 gr
Dalam 100 ml aquades
Stok D: KH2. PO4
1,7 gram x 2,5 = 4,25 gr
Dalam 100 ml aquades

Larutan Stok Mikronutrient


Menimbang bahan-bahan kimia yang tersebut di bawah ini dengan timbangan analitik:
Stok E
MnSO4 .4H2O
0,169 x 5 = 0,845 gr
ZnSO4.4H2O
0,086 x 5 = 0,43 gr
H3BO3
0,062 x 5 = 0,31 gr

KI
0,0083 x 5 = 0,0415 gr
Na2MoO4.2H2O
0,0025 x 5 = 0,0125 gr
CuSO4.5H2O
0,00025 x 5 = 0,00125 gr
MgSO4 . 7H2O
3,7 x 5 = 18,5 g
Seluruh bahan tersebut dilarutkan dalam akuades 25 ml sehingga ada 25 ml
larutan stok E. Untuk larutan stok F menimbang 37,3 gr Na2EDTA dan 27,8 gr
Fe2SO4.7H2O dilarutkan dalam 100 ml aquades.
Larutan stok hormon
BAP 7,5 ppm: 7,5 ml dari stok BAP 100%
NAA 5 ppm: 5 ml dari stok NAA 100%
NAA 7,5 ppm: 7,5 ml dari stok NAA 100%

a.

b.
c.
d.

Pembuatan Media MS
Semua larutan stok makronutrien dan mikronutrien A, B, C, D, E dan F masing-masing
10 ml, ditambah vitamin 10 ml, gula 30 gram, agar MS 8 gram dilarutkan dalam aquades
sampai volume mencapai 1000 ml dalam setiap erlenmeyer (ada 4 erlenmeyer).
Kombinasi medium A dengan penambahan ZPT berupa BAP 7,5 ml+ NAA 5 ml,
kombinasi medium B dengan penambahan ZPT berupa BAP 7,5 ml + NAA 7,5 ml
pH diukur kisaran 6-7 dengan tambahan HCl untuk BAP 15 tetes dan NaOH untuk NAA
15 tetes
tiap medium A ada 2 erlenmeyer dan medium B juga ada 2 erlenmeyer.
3. Persiapan
Membersihkan seluruh dinding dalam Enkas dengan alcohol 70%
Membersihkan alat-alat penanaman dengan alcohol 70% dan dilap dengan tisu
Memasukkan alat tanam steril untuk subkultur anggrek dan krisan (pinset, skalpel,
cawan petri, botol steril) dan bahan (medium, air steril, alkohol 70%)
Melakukan penanaman subkultur anggrek dan krisan in vitro
4. Penanaman Multiplikasi Tunas Dari Tunas In vitro
Membersihkan telapak tangan dengan alcohol 70%
Menyalakan lampu bunsen kemudian memanaskan pinset
Mengambil planlet anggrek dan krisan dengan pinset. Meletakkan plantlet di
petridish

Memotong bagian plantlet dengan skalpel untuk mencari bagian yang terbaik untuk
ditanam (eksplan), untuk krisan dipotong pada nodusnya, disisakan satu atau dua
daun pada satu nodus. Untuk anggrek dipotong daunnya dan akarnya, dibuang,
disisakan bonggol akarnya dan batang utuhnya.

Mengambil eksplan kemudian menanamnya di medium dengan cara sedikit


membenamkan bagian pangkalnya yang telah dipotong, botol kemudian ditutup rapat
Meletakkan hasil penanaman di rak kultur pada ruang inkubasi suhu 24-25 C
Membersihkan semua alat dan bahan dalam enkas

F. Hasil Pengamatan
Jenis
ZPT

Tunas yang
digunakan

Kondisi

Keterangan

Foto

BAP 7,5
ppm +
NAA 0,5
ppm

Tunas
Anggrek

1. Daun tidak
tumbuh
2. Kultur tidak
mengalami
pertumbuhan
3. Kultur tetap
hidup

Subkultur
mengalami
kontam

BAP 7,5
ppm +
NAA 7,5
ppm

Tunas
Krisan

1. Tunas tidak
mengalami
pertumbuhan
2. Tidak ada
pertambahan
daun, akar
serta ukuran
3. Kultur
berwarna
coklat

Subkultur
mengalami
kontam

G. Pembahasan
Pada praktikum ini, subkultur dilakukan pada tanamananggrek yang sudah
tersedia di lab kultur (planlet) untuk diperbanyak dalam medium baru. Keberhasilan
penanaman atau perbanyakan pada praktikum ini dilihat dari kesterilan media dan
eksplan serta pertumbuhan eksplan itu sendiri. Berdasarkan hasil percobaan menunjukkan
bahwa dari minggu ke-1 media terkontaminasi oleh mikroorganimse, terlihat dari media
yang ditumbuhi jamur dan berubah menjadi keruh. Namun eksplan anggrek masih hidup
yang ditandain dengan daunnya masih hijau. Akan tetapi pada batang krisan terlihat
mengering.
Adanya perubahan warna dan volume pada media tersebut disebabkan karena
nutrien pada media mulai berkurang akibat digunakan untuk pertumbuhan ekplan.
Berkurangnya nutrien pada media juga memberikan dampak pada ekplan yaitu daun
ekplan menjadi mengering. Pada umumnya ekplan anggrek akan memperlihatkan bahwa
ekplan membutuhkan media baru adalah sekitar 2 bulan. Namun pada praktikum ini
ekplan anggrek yang disubkultur merupakan eksplan yang berukuran relatif besar

sehingga eksplan akan menggunakan media kultur jauh lebih cepat dibandingkan dengan
ekplan yang berukuran kecil.
Selain itu, faktor pencahayaan juga dapat mempengaruhi kematian daun.
Kurangnya penyinaran akan menyebabkan daun menguning akibat kekurangan klorofil
dan bila keadaan ini dibiarkan terus menerus maka daun akan menngering/ mencoklat
dan mati. Pada praktikum ini media yang berisi ekplan diletakkan pada tempat yang tidak
menerima cahaya secara optimal sehingga daun kurang mendapatkan penyinaran.
Terjadinya kontaminasi kemungkinan disebabkan karena kurang aseptis dan
kurang steril saat penanaman subkultur ke media yang dilakukan di dalam enkas. Selain
itu, dpat pula karena eksplan awal merupakan sumber utama kontaminasi, tapi
kontaminasi kembali dapat terjadi selama proses kultur. Pertama tama, media dan semua
wadah dan alat harus disterilisasi. Semua kegiatan harus dilakukan pada kondisi higienis,
meskipun tidak selalu perlu pada laboratorium yang steril. Udara merupakan sumber
utama spora dan agen kontaminasi lainnya, termasuk badan dan pakaian si pelaksana.
H. Simpulan
Dari praktikum ini dapat ditarik kesimpulan bahwa subkultur dilakukan untuk
meningkatkan hasil budidaya atau untuk meningkatkan jumlah organisme yang
dihasilkan. Multifikasi subkultur tunas anggrek dan krisan yang telah dilakukan
dikatakan tidak berhasil karena terjadi kontaminasi dan planlet tidak tumbuh dengan baik
yang ditandai dengan medium menjadi keruh dan berjamur, tidak adanya pertambahan
jumlah akar dan daunnya serta pertambahan ukuran daun dan akarnya.

I. Daftar Pustaka

Chatimatun Nisa dan Rodinah.2005. Kultur Jaringan Beberapa Kultivar Buah


Pisang(Musa paradisiaca L.) dengan Pemberian Campuran NAA dan
Kinetin.
Biosacientiaae Vol.2 (2).
Hadipoentyanti, Endang dan Syahid, Sitti Fatimah.2007. Respon Temulawak (Curcuma
xanthorrhiza Roxb.) Hasil Rimpang Kultur Jaringan Generasi Kedua
Terhadap
Pemupukan. Jurnal Littri Vol.13 (3)
Harianto,Wijaya.2009. Pengenalan teknik in vitro. Jakarta:Bumi Aksara
Hutami,Sri dan Purnamaningsih,Ragapadmi.2003. Perbanyakan Klonal Temu Mangga
(Curcuma mangga) melalui Kultur In Vitro. Buletin Plasma Nutfah Vol.9
No.1
Widiastoety,Dewi. 2003. Pertanian Modern. Jakarta:Erlangga

LAMPIRAN JAWABAN PERTANYAAN


1. Mengapapa dalam percobaan ini tidak dilakukan sterilisasi eksplan?
Tidak dilakukan sterilisasi karena eksplan sebelumnya berasal dari planlet yg steril dari
ruang inkubasi. Selain itu planlet berukuran kecil jadi bila di sterilisasi dapat
menghancurkan planlet tersebut.
2. Mengapa dalam medium digunakan ZPT, BA dan NA?
ZPT NAA merupakan jenis hormo auksin yg berfungsi dalam proses pemanjangan sel
sehingga menghasilkan eksplan tumbuh tinggi sedangkan BA merupakan hormone

sitokinin yg membantu dalam proses pembelahan dan diferensiasi sel yg menjadikan


eksplan tumbuh dan dapat membentuk tunas.
3. Di antara kombinasi perlakuan ZPT, manakah yang menunjukkan hasil terbaik?
Dalam praktikum tidak menunjukkan secara spesifik. Keduanya tidak menunjukkan
perubahan yg signifikan
4. Mengapa perlu dilakukan sub kultur?
Mdium di kultur tersebut telah habis, dan tanaman terus menerus tumbuh dengan
memperbanyak cabang dan tunas, sehingga botol sudah tidak cukup untuk
pertumbuhannya. Sub kultur juga bertujuan untuk memperbanyak tanaman tersebut.
5. Adakah tunas abnormal yang terbentuk dalam percobaan anda? Analisislah fenomena
tersebut.
Tidak terbentuk tunas abnormal