Anda di halaman 1dari 5

Perkecambahan Secara In Vitro

Tanggal Praktikum:
A. Tujuan Praktikum
1. Mengecambahkan benih kacang tanah secara in vitro
2. Mengetahui teknik perkecambahan secara in vitro
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkecambahan secara in vitro
B. Landasan Teori
Menurut Alitalia (2008) Salah satu alternatif metode perbanyakan dalam kultur
jaringan yang dapat ditempuh adalah melalui kultur in vitro. Metode ini diharapkan
mampu menghasilkan tanaman dalam skala besar dengan waktu yang relatif cepat serta
kualitas tanaman yang dihasilkan menjadi lebih baik. Sudarmonowati et al. (2002) dalam
Alitalia (2008) juga menambahkan bahwa perbanyakan tanaman dengan teknik kultur
jaringan (in vitro) telah banyak dilakukan untuk tanaman yang bernilai ekonomi tinggi
atau tanaman yang tergolong langka dan sulit dipropagasi dengan cara konvensional.
Sejalan dengan Sudarmonowati et al. (2002) dalam Alitalia (2008), Rahayu (2016)
berpendapat perkecambahan secara in vitro dilakukan pada biji tumbuhan yang berukuran
sangat kecil atau secara alami sulit berkecambah sehingga memerlukan kondisi atau
perlakuan khusus antara lain suhu rendah, fotoperiodisme, tau penambahan zat pengatur
tumbuh.
Perbanyakan in vitro tanaman dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan
organogenesis dan embriogenesis somatic. Menurut Kosmiatin et al. (2005) Perbanyakan
melalui kultur in vitro dapat dilakukan melalui 3 cara, yaitu pembentukan tunas adventif,
proliferasi tunas lateral, dan embriogenesis somatik. Proliferasi tunas lateral dapat
dilakukan dengan cara mengkulturkan tunas aksilar atau tunas terminal ke dalam media
yang mempunyai komposisi yang sesuai untuk proliferasi tunas sehingga diperoleh
penggandaan tunas dengan cepat. Setiap tunas yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai
sumber untuk penggandaan tunas selanjutnya sehingga diperoleh tunas yang banyak
dalam waktu yang relatif lebih singkat. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara in
vitro baik melalui penggandaan tunas, organogenesis maupun embriogenesis somatik
sangat dipengaruhi oleh genotip dan eksplan, jenis media dasar, serta jenis dan
konsentrasi zat pengatur tumbuh yang digunakan.

Media perkecambahan in vitro dapat menggunakan formula MS padat dengan


penambahan ZPT dengan jenis dan konsentrasi tertentu (Rahayu, 2016) misalnya
penelitian perbanyakan dan perkecambahan gaharu secara in vitro yang dilakukan
Kosmiatin et al. (2005) menggunakan medium MS dan MS dengan ditambahkan ZPT
BA konsentrasi 1, 3, dan 5 mg/l dengan penambahan sukrosa 30 g/l. Contoh lainnya yaitu
penelitian yang dilakukan oleh

Kasli (2009) dengan perlakuan BAP ditambahkan

NAA(0,5 mg/1) sebagai ZPT pembantu bagi pertumbuhan kalus nodus batang krisan.
Menurut Srilestari (2005) perbanyakan tanaman secara in vitro diharapkan dapat
membantu mengatasi berbagai permasalahan produksi kacang tanah dan kesulitan
penyediaan bibit kacang tanah secara konvensional. Permasalahan terhadap produksi
kacang tanah antara lain Rendahnya produksi nasional kacang tanah, disamping karena luas
areal pertanaman yang masih terbatas, juga karena produktivitasnya per satuan luas masih rendah.
Hal ini diakibatkan oleh penggunaan benih yang bermutu rendah dan oleh adanya serangan
penyakit.

C. Alat dan Bahan


1. Alat:
a. Laminar Air Flow
b. Cawan petri, pinset, dan scalpel steril
c. Lampu Bunsen
d. Botol steril
e. Penutup botol steril
f. Sprayer volume 500 ml
2. Bahan:
a. Benih kacang tanah
b. Medium kultur
c. Bahan sterilan: pemutih pakaian 20%, fungisida dan bakterisida dengan dosis
50% dari dosis anjuran
d. Tween-20
e. Akuades steril

D. Cara Kerja
Membuat medium tanam dengan cara seperti dijelaskan sebelumnya
Menyiapkan
mediaketanam
sterilan dan
alat steril
tanamyang
Menanam benih
dalamdalam
mediabotol,
kulturbahan
menggunakan
pinset
Mensterilkan
benih
seperti
yangkemudian
telah dijelaskan
pada
praktikum
steril
di
dalam
laminar
Air
flow;
menyalakan
lampu
UVpada
disteril ulang
denganAir
cara
mencelupkan
alcohol
Mensterilkan
laminar
flow
dengan caradalam
seperti
yang lalu
telahdibakar
dijelaskan
sebelumnya
Meletakkan
Benih
Menanam
dipelihara
4
botol
benih
kultur
hingga
pada
di
setiap
berkecambah
dalam
botol,
rak
kemudian
inkubasi
dengan
yang
mendekatkan
daun
diberi
3-4
cahaya
helai
mulut
lamp
yang
botol
selama
1 jam
api bunsen
sebelumnya
uterus
membuka
pada menerus
api Bunsen
sempurna
lalu menutup kembali dengan tutup semula

E. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Tahap-tahap perkecambahan secara kronologis
Hari
Ke3 (8
April
2016)
7 (12
April
2016)

Tahap perkecambahan

Jumlah biji
berkecambah
2 dari 3 biji

Jumlah botol
terkontaminasi
-

2 dari 3 biji

3 botol

Foto

F. Pembahasan
Dalam praktikum perkecambahan kacang tanah (Arachis hypogea) secara in vitro
ini digunakan media MS tanpa ZPT.
Secara umum prosedur kerja dalam penelitian ini adalah: sterilisasi alat dan media
dengan menggunakan autoklaf pada suhu 1210C, tekanan 15 psi selama 15-20 menit.
Eksplan diperoleh dari benih kacang tanah. Benih kacang tanah yang akan ditanam dalam
media dikupas dan dipotong. Sterilisasi biji dilakukan tiga tahap, yakni: 1) disterilkan
dengan alkohol 70% selama 2-3 menit; 2) disterilkan 2 kali dengan 50 : 50 bayclin
(sodium hipoklorit 5.25%) + Tween-20 selama minimal 5 menit; 3) dibilas dengan
aquadest steril sebanyak tiga kali. Setelah itu, benih kacang merah ditanam di media
secara aseptis. Selanjutnya botol yang telah berisi benih kacang tanah diletakkan di dalam
rak di ruang inkubasi dengan cahaya lampu terus menerus.
Pada perkecambahan kacang tanah (Arachis hypogea) secara in vitro ini tidak
terjadi kontaminasi hingga hari ke-3 setelah penanaman. Namun, terjadi kontaminasi di
semua botol (3 botol) pada semua botol di hari ke-7 berupa munculnya jamur pada media

ada yang berwarna putih maupun hitam. Hal ini dapat diakibatkan oleh beberapa faktor
seperti serangga atau hewan kecil yang berhasil masuk ke dalam botol kultur setelah
diletakkan di ruang kultur yang diakibatkan kurang rapatnya tutup pada botol steril yang
telah diisi kacang tanah, serta kurangnya intensitas cahaya karena botol diletakkan di
pinggir dari rak di ruang inkubasi. Suhu di ruang kultur diusahakan 25 C dan dijaga
kebersihannya agar terhindar dari kontaminasi.
Pada

percobaan

ini

tidak

semua

biji

dapat

berkecambah.

Persentase

perkecambahan benih kacang tanah pada percobaan ini yaitu 66,67% (2 dari 3 benih ).
Menurut Lestiana (2015) faktor-faktor yang mempengaruhi persentase perkecambahan
antara lain tingkat kematangan benih, kesterilan ruang, alat, dan media yang digunakan
dalam kultur jaringan. Selain itu juga keadaan benih, benih yang belum masak juga akan
terhambat dalam pertumbuhannya, benih yang digunakan dalam pengkulturan juga harus
bersih dari lendir, dimana lendir ini akan mudah mengundang jamur/cendawan, sehingga
dapat menghentikan pertumbuhan benih tersebut. Kuswanto (2003) dalam Lestiana 2015
menambahkan Faktor-faktor yang mempengaruhi perkecambahan benih, antara lain:
1. Faktor Dalam, meliputi: tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi,
penghambat perkecambahan (larutan osmotik, bahan pengganggu lintasan
metabolisme, herbisida, coumarin, auxin, dan bahan yang terkandung dalam
buah.
2. Faktor Luar, meliputi: air, temperatur, oksigen, cahaya.

G. Simpulan
1. Dari perkecambahan benih kacang tanah secara in vitro yang telah dilakukan,
persentase perkecambahan benih kacang tanah yaitu 66,67% (2 dari 3 benih). Tidak
ada botol yang mengalami kontaminasi hingga hari ke-3. Namun, pada hari ke-7
semua botol mengalami kontaminasi berupa munculnya jamur pada media baik
berwarna hitam maupun putih.
2. Prosedur kerja perkecambahan benih kacang tanah secara in vitro meliputi sterilisasi
alat dan media, Sterilisasi biji, kultur biji dalam media secara aseptis, dan peletakan
botol kultur di rak ruang inkubasi.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkecambahan benih dibedakan menjadi
faktor luar dan faktor dalam. Faktor Dalam, meliputi: tingkat kemasakan benih,
ukuran benih, dormansi, penghambat perkecambahan (larutan osmotik, bahan

pengganggu lintasan metabolisme, herbisida, coumarin, auxin, dan bahan yang


terkandung dalam buah. Faktor Luar, meliputi: air, temperatur, oksigen, cahaya.
H. Daftar Pustaka
Alitalia, Yayu.2008.Pengaruh Pemberian BAP dan NAA terhadap Pertumbuhan dan
Perkembangan Tunas Mikro Kantong Semar (Nepenthes mirabilis) secara In
Vitro. Skripsi. Bogor: Fakultas pertanian IPB.

Kosmiatin, M., A. Husni, & I. Mariska. 2005. Perkecambahan dan


Perbanyakan Gaharu secara In Vitro.Jurnal AgroBiogen.1(2):62-67.
Kasli.2009.Upaya Perbanyakan Tanaman Krisan (Chrysathemum sp) secara In
Vitro.Jerami.2(3):121-124.ISSN 1979-0228.
Kuswanto, Hendarto. 2003. Teknologi Pemrosesan Pengemasan &
Penyimpanan Benih. Yogyakarta: Kanisius. Hal: 89.

Lestiana, Afif.2015.Pertumbuhan Biji Anthurium secara In Vitro pada Media Alternatif


Pupuk Daun dan Lama Pencahayaan yang Berbeda.Skripsi.Surakarta:Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Srilestari, Rina.2005.Induksi Embrio Somatik Kacang Tanah pada Berbagai Macam
Vitamin dan Sukrosa.Ilmu Pertanian.12(1): 43-50.
Sudarmonowati, E., R. Hartati dan T. Taryana. 2002. Produksi Tunas, Regenerasi dan
Evaluasi Hasil Ubi Kayu (Manihot Esculenta) Indonesia Asal Kultur Jaringan di
Lapang.
http://www.unri.ac.id/jurnal/jurnal_natur/vol4(2)/enny.pdf.
[14
November 2007].