Anda di halaman 1dari 16

BAB II

ASAL KEJADIAN & HAKIKAT NUR MUHAMMAD

1. Mukadimah
Untuk Memahami Hakekat dari peristiwa ISRA dan MIRAJ kita harus memahami dulu terkait Asal Mula
Kejadian . Karena Hal ini adalah dasar dan merupakan suatu kaitan yang kuat terkait peristiwa Isra
Miraj. Sehingga dalam penafsirannya baik itu dalam bahasa syariat khususnya pada makna Hakekat
akan tepat sasaran.
Dalam pembahasan terkait Asal Mula kejadian kita gunakan dua metode, Ilmu dan Akal (baca : Bab IX
Akal & Ilmu untuk memahami DiinNYA) yang digabungkan dengan pengalaman spiritual yang dialami
oleh para sepuh dan berbagai narasumber.
Beberapa Pedoman yang digunakan selain dari Al Quran dan Hadist kita gunakan juga kitab 'Sirrul Asrar
Fi Ma Yahtaju Ilayhil Abrar' oleh Ghawthul A'zham Shaikh Muhyiddin Abdul Qadir Jilani dan kitab Serat
Wirid Hidayat Jati yang ditulis oleh R.Ng. Ronggo Warsito (Kiyahi Ageng Burhan). Semoga Kita semua
selalu diberkahi hati dan jiwa yang bersih sehingga segala curahan ilmu-NYA mampu kita terima dan
aplikasikan untuk kepentingan alam semesta ini.

2. Wirid Hidayat Jati


Dalam Wirid Hidayat Jati, makrifat yang di diajarkan adalah wejangan yang berasal dari delapan wali dari
tanah Jawa, yang sudah dikumpulkan menjadi satu. Isinya bersumber dari intisari firman Allah SWT yang
dijelaskan dalan hadis Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Ali r.a melalui telinga kirinya.
2.1 Kata Pengantar
"Puniko babarang wirid ingkang mawi murat soho mangsud pisan,ngiras minongko bebukaning hikayat
ingkang dados bebukaning pitedah dunungipun ngelmu makripat (makrifat). Sedoyo wiyosipun kantuk
saking dalil, hadis, ijma' , lakiyat (Mungkin maksudnya : kiyas). Dalil nedahaken pangandikanipun Allah,
Hadis nedahaken piwulangipun Rasulullah, Ijma' ngempalaken wejanganipun poro wali, Kiyas
mencaraken wewarahipun poro pandito".
Terjemahan :
"Ini adalah pelajaran (ilmu) wirid yang menjadi bekal serta sekalian maksudnya, sebagai pembuka
Hikayat, yang menjadi pembuka petunjuk untuk memahami ilmu makrifat. Semua keterangan berasal dari
dalil, hadist, ijma dan qiyas. Dalil maksudnya penjelasan tentang firman Allah. Hadis berisi tentang
keteladanan Rasulullah. Ij'ma adalah kumpulan wejangan para wali. Qiyas adalah penyebaran ajaran
para pandhita/ulama. "
2.2 Dalil (Wejangan) Sapisan : Ananing Dat
"Sajatine ora ana apa-apa awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhingin iku
Ingsun, Ora ono Pangeran ananging Ingsun. Sajatine Dat kang maha suci anglimputi ing sipat- Ingsun,
amrandani ing asma lan apngal (af'al) Ingsun."
Dalil / Pelajaran ke-1 : Adanya Dzat
"Sesungguhnya tidak ada apa pun ketika masih sunyi hampa belum ada sesuatu, yang awal adanya
adalah AKU, Tiada Tuhan kecuali Aku, sesungguhnya yang Maha Suci meliputi sifat-KU, menyertai dan
menandai perbuatan-KU)."

Penjelasan
Dalam wejangan diatas menekankan bahwa Sang AKU (Tuhan - Dzat Mutlak) bersifat Qodim (Maha awal
tanpa ada awalnya) serta menyatakan kesucian-Nya yang meliputi segala sifat-Nya, nama -Nya dan juga
menandai (mewujud-nyata) dalam perbuatan-Nya.
2.3 Dalil (Wejangan) kapindo : Wahananing Dzat
"Sajatine Ingsun Dzat kang murba misesa nitahake sawiji-wiji, dadi podo sanalika, sampurna saka kodrat
Ingsun, ing kanyatan, pratandhane apngal Ingsun minangka bebukaniro Dzat Ingsun, kang dhingin Ingsun anitahake Kayu aran Sajaratulyakin tumuwuh ing sajroning alam Adam-makdum ajali abadi. Nuli
Cahya aran Nur Muhammad, nuli Kaca aran Mirhatul-kayai, nuli Nyawa aran Roh ilampi, nuli Damar
(lampu) aran Kandil, nuli Sesotya (berlian) aran Da-rah, nuli Dhindhing Jalal aran Kijab. kang minangka
wahananing Dzat-Ingsun."
Dalil / Pelajaran ke-2 : Wahana Dzat/Kejadian Dzat
"Sesungguhnya AKU (Allah) adalah Dzat yang maha kuasa menciptakan segala sesuatu, jadi seketika,
sempurna berasal karena kuasa-KU (Allah), menjadi nyata tanda perbuatan-KU, yang sebagai pembuka
(akan pengenalan) Dzat-KU. Yang pertama AKU menciptakan Kayu (pohon) bernama Sajaratul yakin
(pohon kehidupan) tumbuh di dalam alam Adam Makdum (kosong hampa) Ajalai Abadi (alam yang sejak
jaman azali /dahulu dan kekal adanya). Kemudian Cahya bernama Nur Muhammad (Cahaya Yang
Terpuji), berikutnya Cermin bernama Miratulhayai (Kaca Wirai), selanjutnya Nyawa bernama Roh Idhofi
(nyawa yang jernih), lalu Lentera / Lampu / pelita bernama Kandil (lampu tanpa api), lalu Permata
bernama Da-rah / dzarrah , lalu dinding agung bernama Hijab (dinding jalal atau penutup) yang
merupakan wahana / sekat bagi penampakan Dzat-KU (Allah)."
Penjelasan
2.3.1 Pertama, Dalam wejangan kedua ini diterangkan kemaha-kuasaan Sang AKU (Allah). Sekaligus
diterangkan tingkat-tingkat 'pengungkapan / penyingkapan' Dzat-Nya supaya dikenali, melalui af'al-Nya
(sifat-NYA) dalam penciptaan. Pertama diciptakanNyalah Kayu Sajaratul Yakin (pohon kehidupan) yang
hidup dalam alam keabadian. Tumbuh dari benih Kaf dan Nun. Hakekatnya ini adalah bukan penciptaan
dalam arti harfiah namun lebih kepada pengungkapan Dzat-Nya untuk dikenali sebagai Sang Hidup.
Kayu atau Hayu adalah Hidup atau Urip. Yaitu sebagai Dzat Yang Hidup Berdiri Sendiri. Sedang sifat-Nya
belumlah bisa disifati dengan segala macam (bahasa) sifat. Disinilah alam sonya-ruri, awang-uwung, tan
kinaya ngapa, laisa kamitslihi syai'un.
2.3.2 Kedua, diciptakan Cahaya yang diberi nama Nur Muhammad atau cahaya yang terpuji. Menurut
beberapa ahli, nur muhammad ini merupakan 'bibit' (wiji) alam semesta. Tercipta dari hasil penyaringan
benih Kun sampai murni dan ditambah sinar Hidayah-NYA lalu ditenggelamkan dalam lautan ar-Rahmah
Nur. Muhammad berarti cahaya yang terpuji, yang hakekatnya adalah Cahaya Keindahan-NYA sendiri.
(Hadis) seperti burung merak permata putih berada arah sajaratul yakin, hakikat cahaya, tajali Zat berada
dalam nukat gaib, merupakan sifat Atma (Wahdat).
2.3.3 Ketiga, Allah menciptakan Cermin bernama Miratulkhayai (Cermin Kehidupan /Cermin Malu),
dimana ada sebagian ahli yang mengatakan bahwa setelah diciptakannya Cermin ini, Nur Muhammad
akhirnya mengenali dirinya. Hakikatnya pramana yang diakui sebagai rahsanya Dzat, sebagai nama
Atma (Wahidiyat).
2.3.4 Keempat, diciptakan Nyawa yang diberi nama Roh Idhofi, artinya nyawa yang jernih. Hadist ; ia
berasal dari Nur Muhammad ; hakikat sukma yang diakui keadaan Dzat, merupakan perbuatan Atma
(alam Arwah).
2.3.5 Kelima, diciptakan Lentera yang diberi nama Kandil, artinya lampu tanpa api. Hadis; berupa
permata, cahaya berkilauan tanpa kaitan. Itulah keadaan Nur Muhammad dan tempat berkumpul semua
roh, hakikat angan angan diakui sebagai bayangan Dzat, bingkai Atma (alam Misal).

2.3.6 Keenam, diciptakan Permata diberi nama Darah, Hadis ; ia mempunyai sinar yang beraneka warna
satu tempat dengan malaikat, hakikat budi, sebagai perhiasan Dzat, pintu atma (alam Ajsam).
2.3.7 Ketujuh, diciptakan dinding agung yang disebut hijab. Hijab adalah pembatas / tabir yang agung.
Namun hakekatnya bukan pembatas tetapi 'penyambung' antara yang dihijab dan Yang Menghijab.
Diciptakan dinding pembatas antara kehidupan fisik dan non fisik, antara yang kasar dan halus.
Hadis; ia timbul dari permata beraneka warna, pada waktu bergerak menimbulkan buih, asap dan air,
sebagai hakikat jasad, tempat Atma (insan kamil).
Buih
hijab kisma : jasad luar ; kulit, daging, ari
hijab rukmi : jasad dalam : otak, manik, hati, jantung
hijab retna : jasad lembut : mani, darah, sumsum
hijab pepeteng (kegelapan), napas
hijab guntur, panca indera
hijab api, nafsu
hijab air embun hidup ; perwujudan sukma
hijab nur rasa ; perwujudan rahsa
hijab nur cahya ; perwujudan Atma
Asap
air

2.4 Dalil (Wejangan) keping Telu : Kahananing Dat


"Sajatine Ingsun kang nitahake Adam asal saka anasir patang prakara, bumi, geni, angin, banyu. Iku dadi
kawujudaning sipat Ingsun, ing kono Ingsun panjang ngelmu daroh, limang prakoro : Nur, Roso, Roh,
Napsu, lan Budi. Iya iku minangka kawarnaning wajah Ingsun Kang Maha Suci."
Dalil / Pelajaran ke-3 : Keadaan Dzat / Uraian Tentang Dzat
Sebenarnya manusia itu adalah Rahsa-Ku dan Aku ini adalah rahsa manusia karena Aku menciptakan
Adam dari empat unsur yaitu : tanah, air, api, dan udara. Keempat unsur itu adalah perwujudan dan SifatKu. Kemudian Aku masukkan kedalam tubuh Adam lima macam mudzarrah, yaitu : nur, rahsa, ruh, nafsu
dan budi. Itulah sebagai gambaran-citra wajah-KU Yang Maha Suci".
Penjelasan
2.4.1 Bahwa manusia diciptakan sebagai rahsa (bukan rasa, sebab antara rasa dan rahsa dalam
keilmuan jawa berbeza) dari Allah, dan Allah itu sebagai rahsa dari manusia. Yang dimaksud adalah
bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambaranNya atau menurut citraNya.
2.4.2 Dalam pelajaran ini diterangkan bahwa manusia (jasmaninya) diciptakan berasal dari empat unsur
alam semesta (bumi, angin /udara, api dan air.) yang masing-masing unsur mempengaruhi (membawa
bawaan) dorongan nafsu manusia.
a. Bumi dalam tubuh kita terwujud pada hal-2 yang bersifat kedagingan, dan dibagi menjadi dua hal yaitu
yang merupakan unsur dari :
1) Bapa berupa tulang, otot, kulit dan otak, dan unsur.
2) Ibu berupa daging, darah, sungsum dan jerohan.
b. Api dalam tubuh menjadikan empat nafsu yaitu aluamah, amarah, supiyah dan mutmainah.
1) Aluamah berwatak suka terhadap makanan, sifatnya membangkitkan kekuatan badan.
2) Amarah berwatak suka marah, emosi, sifatnya membangkitkan kekuatan kehendak.
3) Supiyah berwatak keinginan, keterpesonaan, keinginan memiliki, bersifat membangkitkan kekuatan
pikir berupa akal.

4) Mutmainah berwatak kesucian dan ketenangan, bersifat membangkitkan kekuatan untuk berpantang
(bhs jawa : tarakbrata)
c. Angin dalam tubuh kita terwujud dalam empat hal yaitu napas, tannapas, anapas dan nupus.
1) Napas merupakan ikatan badan fisik, bertempat di hati suwedhi, yaitu jembatan hati, berpintu di lisan
2) Tannapas merupakan ikatan hati, bertempat di pusar, berpintu di hidung
3) Anapas merupakan ikatan roh, berpintu di telinga
4) Nupus merupakan ikatan rahsa, bertempat di hati fuad yang putih yaitu jembatan jantung, berpintu di
mata.
d. Air dalam tubuh menjadikan empat elemen roh yaitu roh hewani, roh nabati, roh rabbani dan roh
nurrani.
1) Roh hewani, menumbuhkan kekuatan badan.
2) Roh nabati menumbuhkan rambut, kuku, dan menghidupkan budi.
3) Roh rabbani menumbuhkan rahsa (dzat hamba)
4) Roh nurrani menumbuhkan cahaya.

2.4.3 Setelah empat unsur alam terbentuk dalam tubuh manusia, kemudian Allah menempatkan pula lima
hal sebagai gambaran wajah- Nya yaitu nur, rahsa, roh, nafsu dan budi.
a. Nur, merupakan terangnya cahya, jika 'menyambung' kembali kepada Dzat Yang Maha Suci dapat
menerangi manusia dalam mengenal-Nya dan menjalankan peran sebagai hamba dan wakil-Nya di bumi
(menerangi lahir batin).
b. Rahsa, roso jati, adalah kesadaran 'ar-ruh min-Ruhi', kesadaran manusia yang hakiki, al-bashiroh
manusia (menumbuhkan daya ketenteraman di lahir batin).
c. Roh, nyawa, sukma yang dalam jasad mempunyai tali petanda berupa nafas (penglihatan roh jika
mewakili Dzat Yang Maha Suci menjadikan penguasaan sempurna).
d. Nafsu, kekuatan nafsu menumbuhkan kekuatan kehendak / karep yang sentosa.
e. Budi, menumbuhkan daya pikir dan cipta yang sentosa .
Oleh karena itulah beberapa orang mengatakan bahwa manusia mempunyai sifat-sifat Tuhan dan juga
mempunyai kesucian wajah Tuhan.

2.5 Dalil (Wejangan) kaping Papat : Pambukaning Tata Malige (Mahligai)


2.5.1 Ayat Kapisan : Ing Dalem Betal Makmur:
"sajatine Ingsun anata malige ana sajroning betalmakmur, iku omah sakjroning kerameyan-Ingsun,
jumeneng ana sirahing Adam. Kang ana sajroning sirah iku utek, kang ana antaraning utek iku manik,
sajroning manik iku bu-di, sajroning budi iku napsu, sajroning napsu iku suksma, sajroning suksma iku
rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran anging Ingsn, dat kang nglimputi ing kaanan jati."
Dalil / Pelajaran keempat : Pembukaan Tahta Mahligai / Singgasana
Ayat Pertama : Pembuka (susunan) tahta (Singgasana) dalam Baitul mukmur
"Sesungguhnya AKU bertahta dalam baitulmakmur, itu rumah tempat pesta-KU, berdiri di dalam kepala
Adam. Yang pertama dalam kepala itu otak, yang ada di antara otak itu manik di dalam manik itu budi, di

dalam budi itu nafsu, di dalam nafsu itu suksma, di dalam suksma itu rahsa, di dalam rahsa itu AKU, tidak
ada Tuhan selain hanya AKU, dzat yang meliputi keberadaan yang sejati / sesungguhnya"
Penjelasan
a. Dalil ini menyatakan bahwa Allah bertahta atau bersinggasana di dalam baitul makmur, yang berada di
dalam kepala manusia. Yang dimaksud dengan baitul makmur adalah cakra mahkota yang ada di puncak
kepala.
b. Di dalam kepala manusia terdapat otak. Di antara otak itu sendiri terdapat lapisan-lapisan sebagai
berikut :
1) Yang pertama manik
2) Di dalam manik terdapat budi
3) Dalam budi terdapat nafsu
4) Dalam nafsu terdapat suksma
5) Dalam suksma terdapat rahsa
6) Dalam rahsa terdapat AKU
Dan sesungguhnya tidak ada Tuhan selain hanya AKU, Dzat yang meliputi segalanya.
c)
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Kepala : Bentuk lahiriah Baitul Makmur


Otak : Keadaan kontha, narik kejelasan cahaya, merupakan pembuka Dzat.
Manik : Keadaan pramana, menjelaskan warna, menjadi pangkal penglihatan.
Budi : Keadaan pranawa, memperjelas kehendak, menjadi pangkal pembicaraan.
Nafsu : Keadaan hawa, memperjelas nyawa, menjadi
pangkal pendengaran.
Suksma : Keadaan nyawa, memperjelas cipta, menjadi pangkal penciuman.
Rahsa : Keadaan atma, memperjelas kuasa, menjadi pangkal perasaan.

2.5.2

Ayat Kapindo : Pambuka tata malige ing dalem betalmukarram

"sajatine Ingsun anata malige sajroning betalmukarram, iku omah enggoning lala-rangan Ingsun,
jumeneng ana ing dhadhaningg adam. Kang ana sajroning dhadha iku ati, kang ana antaraning ati iku
jantung, sajroning jantung iku budi, sakjroning budi iku jinem , yaiku angen-angen, sajroning angen-angen
iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana pangeran anging Ingsun dat
kang anglimputi ing kahanan jati"
Ayat kedua : Pembuka (susunan) tahta (Singgasana) dalam Baitul mukarram :
"Sesungguhnya AKU bertahta dalam baitulmukarram, itu rumah tempat larangan-KU (tempat pengingatKu), berdiri di dalam dada Adam. Yang ada di dalam dada itu hati, yang ada di antara hati itu jantung,
dalam jantung itu budi, dalam budi itu jinem, yaitu angan-angan, dalam angan- angan itu suksma, dalam
suksma itu rahsa, dalam rahsa itu AKU. Tidak ada Tuhan kecuali hanya AKU dzat yang meliputi
keberadaan yang sejati / Dzat yang meliputi semua keadaan.
Penjelasan
a. Dalam dalil ini Allah menyatakan bahwa diriNya bertahta di baitul muharram yang menjadi tempat
larangan, berada di dalam dada manusia. Mungkin yang dimaksud adalah cakra jantung.
b. Disebutkan bahwa di dalam dada manusia itu terdapat susunan sebagai berikut :
1) Pertama hati (kalbu)
2) Di antara hati terdapat jantung,
3) Di dalam jantung ada budi
4) Di dalam budi ada angan-2
5) Di dalam angan-2 ada suksma

6) Di dalam suksma ada rahsa


7) Di dalam rahsa ada AKU
c. Dada : Bentuk lahiriah Baitul Muharram.
d. Hati : Keadaan panca indera, memperjelas nafsu, menjadi pangkal timbulnya nafas.
e. Jantung : Keadaan panca maya, memperjelas birahi, menjadi pangkal timbulnya denyutan.
f. Budi : Keadaan pranawa, memperjelas kehendak, menjadi pangkal timbulnya pembicara.
g. jinem : Keadaan angan angan, memperjelas suara, menjadi pangkal timbulnya pendengaran.
h. Suksma : Keadaan nyawa, memperjelas cipta, menjadi pangkal timbulnya penciuman.
i. Rahsa : Keadaan atma, memperjelas kuasa, menjadi pangkal timbulnya perasaan.

2.5.3 Ayat Katelu : Pambuka Tata Malige Ing Dalem Betalmukadas


"sajatine Ingsun anata malige ana sajroning betalmukadas, iku omah enggoning pasucenIngsun,
jumeneng ana ing kontholing adam. Kang ana sajroning konthol iku prinsilan, kang ana ing antaraning
pringsilan ikku nutpah, yaiku mani, sa-jroning mani iku madi, sajroning madi iku wadi, sajroning wadi iku
manikem, sajroning manikem iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana pangeran anging Ingsun dat
kang anglimputi ing kaanan jati, jumeneng sajroning nukat gaib, tu-murun dadi johar awal, ing kono
wahananing alam akadiyat, wahdat, wakidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan kamil,
dadining manungsa sampurna yaiku sajatining sipat Ingsun."
Ayat Ketiga : Pembuka tahta dalam baitul muqaddas
"Sesungguhnya AKU bertahta di dalam baitul muqaddas, itu rumah tempat kesucian- KU, berdiri di alat
kelamin Adam. Yang ada di dalam alat kelamin itu buah pelir (pringsilan), di antara pelir itu nutfah yaitu
mani, di dalam mani itu madi, di dalam madi itu wadi, di dalam wadi itu manikem, di dalam manikem itu
rahsa, di dalam rahsa itu AKU. Tidak ada Tuhan kecuali AKU dzat yang meliputi keberadaan sejati
/sesungguhnya. Berdiri di dalam nukat gaib, turun menjadi jauhar awal, di situ keberadaan alam ahadiyat,
alam wahdat, alam wahidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insane kamil, jadinya manusia
sempurna yaitu sejatinya sifat-KU."
Penjelasan
a. Ayat ketiga ini menyatakan bahwa ALLAH bertahta di baitul muqadas atau baitul maqdis yang
merupakan tempat suciNYA yang berada di alat kelamin manusia yang tersusun atas hal hal sebagai
berikut :
1) Pertama pelir, yang berisi nutfah atau mani
2) Madi yang merupakan sari dari mani
3) Wadi sebagai sari dari madi
4) Manikem sebagai sari dari wadi
5) Di dalam manikem ada rahsa
6) Di dalam rahsa ada AKU.
Dan sesungguhnya tidak ada Tuhan selain hanya AKU, Dzat yang meliputi segalanya.
b. Bentuk fisik Baitul Mukaddas
1) kontol : Bentuk lahiriah Baitul Mukaddas.
2) Buah pelir : Keadaan purba, diresapi rasa birahi, menimbulkan asmaranala, yaitu tertariknya hati.
3) Mani
: Keadaan konta, diresapi hawa nafsu, menimbulkan asmaratura, yaitu tertariknya
penglihatan.
4) Madi
: Keadaan warna, diresapi kehendak, menimbulkan asmaraturida, yaitu tertariknya
pendengaran.

5) Wadi
: Keadaan rupa, diresapi daya pikir, menimbulkan asmaradana, yaitu tertariknya oleh
kesamaan pembicaraan.
6) Manikem : Keadaan suksma, diresapi perasaan, menimbulkan asmaratantra, yaitu tertarik lantaran
bersentuhan.
7) Rahsa
: Keadaan atma, diresapi kuasa, menimbulkan asmaragama, yaitu kesenangan
bersenggama.
c. Di sini juga disebutkan hal yang penting bahwa manusia sempurna (al -nsan kamil) adalah sebagai
perwujudan sifat-NYA (gambar citra-Nya) dan terbentuk melalui tujuh tahapan alam yang dilaluinya, biasa
dikenal dengan istilah martabat pitu atau martabat tujuh yaitu :
1. Alam ahadiyah
wujud Tuhan merupakan Zat Mutlak lagi mujarrad, tidak bernama dan tidak bersifat. Karena itu, Ia tidak
dapat dipahami ataupun dikhayalkan. Pada martabat ini Tuhansering diistilahkan al-Haq oleh Ibn Arabi
berada dalam keadaan murni bagaikan kabut yang gelap (fi al-am); tidak sesudah, tidak sebelum,
tidak terikat, tidak terpisah, tidak ada atas, tidak ada bawah, tidak mempunyai nama, tidak musamm
(dinamai). Pada martabat ini, al-Haq tidak dapat dikomunikasikan oleh siapa pun dan tidak dapat
diketahui.
Dalam memperkatakan Alam Qaibull-Quyyub iaitu pada martabat Ahdah di mana belum ada sifat, belum
ada ada asma', belum ada afaal dan belum ada apa-apa lagi iaitu pada Martabat LA TAKYIN, Zat UlHak
telah menegaskan untuk memperkenalkan DiriNya dan untuk diberi tanggungjawab ini kepada manusia
dan di tajallikanNya akan DiriNya dari satu peringkat ke peringkat sampai zahirnya manusia berbadan
rohani dan jasmani.
Adapun Martabat Ahdah ini terkandung di dalam Al-Ikhlas pada ayat pertama iaitu{QulhuwallahuAhad),
yaiitu Sa pada Zat semata-mata dan inilah dinamakan Martabat Zat. Pada martabat ini diri Empunya Diri
(Zat Ulhaki) Tuhan RabbulJalal adalah dengan dia semata-mata iaitu dinamakan juga Diri Sendiri. Tidak
ada permulaan dan tiada akhirnya iaitu Wujud Hakiki Lagi Khodim.
Pada masa ini tiada sifat, tiada Asma dan tiada Afa'al dan tiada apa-apa pun kecuali Zat Mutlak sematamata maka berdirilah Zat itu dengan Dia semata-mata di dalam keadaan ini dinamakan AINUL KAFFUR
dan diri zat dinamakan Ahdah jua atau di namakan KUNNAH ZAT.

2. Alam wahdat
Pada tahap wahdah ini mulailah individuasi. Inilah kenyataan Muhammad yang tersembunyi di dalam
rahasia Tuhan, didalam cara-cara berada dzatNya. Semua kenyataan belum terpisah antara yang satu
dengan yang lainnya, karena masih terikat satu sama lain dalam cara-cara berada itu. Antara ide yang
satu belum ada perbedaan dengan ide yang lain, karena masih tersembunyi di dalam wahdat. Mereka
masih terkumpul di dalam (kenyataan) Muhammad yang merupakan awal pemancaran cara-cara berada
hakikat sejati. Yang dinamakan wahdah ialah hakikat Muhammad, semua hakikat masih berkumpul
dalam martabat wahdah dan belum terpisah-pisah. Martabat wahdah ini dapat di ibaratkan dengan
sebutir biji; batang, cabang-cabang dan daun-daunnya masih tersembunyi di dalam biji itu dan belum
terpisah-pisah. Batang, cabang-cabang dan daun-daun melambangkan engkau, aku, mereka, sedangkan
bijinya tunggal (wahdat) Masih ada perumpamaan lain, yaitu tinta dalam wadahnya.
Semua huruf terkumpul di dalam tinta, huruf yang satu belum dibedakan dari huruf lain. demikian juga
dalam wahdah semua huruf, tuhan dan kita, sebelum terpisahkan Dari tinta inilah segala sesuatu itu
terjadi, gambar rumah, gambar gunung, gambar manusia , batu, angin dan bentuk-bentuk lainnya. Dan
Tinta itu bukanlah yang menulis, akan tetapi Dialah Yang menggerakkan, Yang hidup, Kuasa, Yang
Gagah, dengan demikian muncullah sifat-sifat siapa yang menggoreskan tinta itu.

Bisa ditarik kesimpulan bahwa sifat bukan hakikat ketuhanan akan tetapi sifat adalah yang bersandar
kepada Dzat Tuhan. Sesuatu yang bersandar kepada Dzat bukanlah Tuhan, kedudukannya sama halnya
dengan tanaman, pohonan, gunung, surga dan neraka, karena semua muncul karena adanya Dzat yang
Hidup, dzat-lah Yang menggerakkan semua ini.
Mengetahui Martabat ini disebut wahdat dan hakikat kemuhammadan atau Nur Muhammad artinya
cahaya yang penuh pujian Tuhan. Inilah permulaan segala sesuatu, sehingga Allah bisa disifati karena Ia
Yang Menciptakan (Al Khaliq), Yang Memelihara (Al hafidz), Yang Perkasa (Al Jabbar), Yang Maha Kuat
(Al qawwiyu), Yang Hidup (Al Hayyu) dst, sedangkan sifat itu sendiri bergantung kepada sang Dzat (tidak
berdiri sendiri ), oleh karena itu Islam melarang berhenti kepada sifat. Karena sifat itu bukan Dzat itu
sendiri. Dan untuk mengetahui Dzatullah harus meninggalkan sifat-Nya (mengembalikan kepada
martabat pertama, yaitu keadaaan hakikat Tuhan yang belum ada apa-apa ) karena sifat merupakan
sesuatu yang bergantung (membutuhkan sandaran) Dan sifat Allah itu masih bisa dirasakan oleh
makhluk-Nya seperti Ar Rahman (Pengasih) Ar Rahiem (Penyayang), Al Qawiyyu ( Kuat) sedangkan sifat
itu muncul karena persepsi sang hamba (inna dzanni abdi, Aku tergantung persepsi hamba-hamba-KU)
Hal ini digambarkan oleh kaum Hindu sebagai Trimurti (tiga sifat Tuhan yang tidak terpisahkan), yaitu sifat
Tuhan Hyang Widi Wasa, dimana ketiga sifat itu tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya
yaitu Dewa Brahma (Pencipta/ Al Khaliq), Wisnu ( Pemelihara/ Al Hafidz), Siwa ( Perusak atau pelebur/ Al
Jabbar).
Kaum Hindu menyadari bahwa Tuhan yang sebenarnya tidak bisa digambarkan dengan pikiran, tidak
bisa diserupakan dengan yang lainnya, Aku berada dimana-mana diseluruh alam semesta dalam bentukKu yang tidak terwujud (tidak bisa dibayangkan). Semua makhluk hidup berada didalam diri-Ku(liputanKu) tetapi Aku tidak berada di dalam mereka (Bhagavat Gita Sloka 9.0 ) dan tidak boleh menyembah
sifatnya seperti tercantum dalam kitab Bhagavat Gita sloka 9.25 : Yanti deva-vranta devan pitrn yanti pitrvantrah, bhutani yanti bhutejya , yanti mad- yajino pimam artinya : orang yang menyembah dewa-dewa
akan dilahirkan diatara para dewa , orang yang menyembah leluhur akan pergi ke leluhur, orang yang
menyembah hantu dan roh halus akan dilahirkan ditengah-tengah makhluk-makhluk seperti itu. Dan
orang yang menyembah-KU akan hidup bersama-Ku.
Begitu jelas ajaran hindu melarang menyembah dewa-dewa atau sifat-sifat seperti Brahmana, wisnu dan
siwa, akan tetapi mereka membatasi diri terhadap sifat-sifatnya saja, mereka menyadari manusia tidak
akan pernah sampai kepada Dzat Mutlak tersebut kecuali para Guru Suci, kaum Brahmana yang memiliki
kasta lebih tinggi dari pada kaum Sudra danVaisa
Islam menyempurnakannya dengan langsung kepada Dzatullah, tidak berhenti kepada sifat-Nya ,yaitu
dengan menafikan (mengabaikan) segala sesuatu kecuali Allah. Laa ilaaha illallah .atau laa syaiun illallah
( tiada sesuatu kecuali Allah) juga terdapat dalam Surat Thaha:14 innanii Ana Allah, laa ilaaha illa ANA,
fabudnii , sesungguhnya AKU ini Allah, tidak ada Tuhan selain AKU maka sembahlah AKU dan dirikanlah
Shalat untuk Menyembah AKU !!
Jelas dengan tegas bahwa Allah mengarahkan kita untuk menyembah DZAT-NYA bukan Nama-Nya
bukan Sifat-Nya. Islam tidak mengenal perantara, seperti tercantum dalam Surat Al; Anam 79 :
Sesungguhnya aku hadapkan diriku kepada wajah Dzat Yang Menciptakan langit dan bumi dengan lurus,
dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (aku tidak melalui perantara
siapapun).
Ditegaskan dalam Baghavat Gita sloka 2.61 : orang-orang yang mengekang dan mengendalikan indriyaindriya sepenuhnya dan memusatkan kesadarannya sepenuhnya Kepada-KU , dikenal sebagai orang
yang mempunyai kesadaran yang mantap !!
Alam Wahdah merupakan peringkat kedua dalam proses pentajalliannya diri Empunya Diri telah
mentajallikan diri ke suatu martabat sifat iaitu "La Tak Yin Sani" - sabit nyata yang pertama atau disebut
juga martabat noktah mutlak iaitu ada permulaannya.

Martabat ini di namakan martabat noktah mutlak atau dipanggil juga Sifat Muhammadiah. Juga pada
menyatakan martabat ini dinamakan martabat ini Martabat Wahdah yang terkandung ia pada ayat
"Allahus Shomad" iaitu tempatnya Zat Allah tiada terselindung sedikit pun meliputi 7 petala langit dan 7
petala bumi.
Pada peringkat ini Zat Allah Taala mulai bersifat. SifatNya itu adalah sifat batin jauh dari Nyata dan boleh
diumpamakan sepohon pokok besar yang subur yang masih di dalam biji , tetapi ia telah wujud, tidak
nyata, tetapi nyata sebab itulah ia di namakan Sabit Nyata Pertama martabat La Takyin Awwal iaitu
keadaan nyata tetapi tidak nyata (wujud pada Allah) tetapi tidak zahir.
Maka pada peringkat ini tuan Empunya Diri tidak lagi Berasma' dan di peringkat ini terkumpul Zat Mutlak
dan Sifat Batin. Maka di saat ini tidaklah berbau, belum ada rasa, belum nyata di dalam nyata iaitu di
dalam keadaan apa yang di kenali ROH-DDHAFI. Pada peringkat ni sebenarnya pada Hakiki Sifat.
(Kesempurnaan Sifat) Zat Al Haq yang di tajallikannya itu telah sempurna cukup lengkap segala-gala.
Ianya terhimpun dan tersembunyi di samping telah zahir pada hakikinya.

3) Alam wahidiyah
Martabat wahidiyah adalah penampakan pertama (taayyun awwali) atau disebut juga martabat tajali zat
pada sifat atau faydh al-aqdas (emanasi paling suci). Dalam aras ini, zat yang mujarrad itu bermanifestasi
melalui sifat dan asma-Nya. Dengan manifestasi atau tajali ini, zat tersebut dinamakan Allah, Pengumpul
dan Pengikat Sifat dan Nama yang Mahasempurna (al-asma al-husna, Allah). Akan tetapi, sifat dan nama
itu sendiri identik dengan zat. Di sini kita berhadapan dengan zat Allah yang Esa, tetapi Ia mengandung di
dalam diri-Nya berbagai bentuk potensial dari hakikat alam semesta atau entitas permanen (al-ayan
tsabitah).
Pada peringkat ketiga setelah ditajalli akan dirinya pada peringkat "La takyin Awal", maka Empunya Diri
kepada Diri rahsia manusia ini, mentajallikan pula diriNya ke satu martabat As'ma iaitu pada martabat
segala Nama dan dinamakan martabat (Muhammad Munfasal) iaitu keadaan terhimpun lagi berceraicerai atau di namakan "Hakikat Insan." Martabat ini terkandung ia didalam "Lam yalidd" iaitu Sifat Khodim
lagi Baqa, tatkala menilik wujud Allah. Pada martabat ini keadaan tubuh diri rahsia pada masa ini telah
terhimpun pada hakikinya Zat, Sifat Batin dan Asma' Batin. Apa yang dikatakan berhimpun lagi berceraicerai kerana pada peringkat ini sudah dapat di tentukan bangsa masing - masing tetapi pada masa ini
ianya belum zahir lagi di dalam Ilmu Allah Iaitu dalam keadaan "Ainul Sabithaah". Ertinya sesuatu
keadaan yang tetap dalam rahsia Allah, belum terzahir, malah untuk mencium baunya pun belum dapat
lagi. Dinamakan juga martabat ini wujud Ardhofi dan martabat wujud Am kerana wujud di dalam sekelian
bangsa dan wujudnya bersandarkan Zat Allah Dan Ilmu Allah.
Pada peringkat ini juga telah terbentuk diri rahsia Allah dalam hakiki dalam batin iaitu bolehlah dikatakan
juga roh di dalam roh iaitu pada menyatakan Nyata tetapi Tetap Tidak Nyata.

4) Alam arwah
Martabat alam arwah adalah Nur Muhammad yang dijadikan Allah Swt dari nur-Nya, dan dari nur
Muhammad inilah muncullah ruh segala makhluk.
Pada peringkat ke empat di dalam Empunya Diri, Dia menyatakan, mengolahkan diriNya untuk
membentuk satu batang tubuh halus yang dinamaka roh. Jadi pada peringkat ini dinamakan Martabat
Roh pada Alam Roh.Tubuh ini merupakan tubuh batin hakiki manusia dimana batin ini sudah nyata
Zatnya, Sifatnya dan Afa'alnya. Ianya menjadi sempurna, cukup lengkap seluruh anggota-anggota
batinnya, tiada cacat, tiada cela dan keadaan ini dinamakan (Alam Khorijah) iaitu Nyata lagi zahir pada
hakiki daripada Ilmu Allah. Tubuh ini dinamakan ia "Jisim Latiff" iaitu satu batang tubuh yang liut lagi
halus. Ianya tidak akan mengalami cacat cela dan tidak mengalami suka, duka, sakit, menangis, asyik
dan hancur binasa dan inilah yang dinamakan "KholidTullah."

Pada martabat ini terkandung ia di dalam "Walam Yalidd". Dan berdirilah ia dengan diri tajalli Allah dan
hiduplah ia buat selama-lamanya. Inilah yang dinamakan keadaan Tubuh Hakikat Insan yang mempunyai
awal tiada kesudahannya, dialah yang sebenarnyanya dinamakan Diri Nyata Hakiki Rahsia Allah dalam
Diri Manusia.

5) Alam misal
Martabat alam mitsal adalah diferensiasi dari Nur Muhammad itu dalam ruh individual seperti laut
melahirkan dirinya dalam citra ombak.
Alam Misal adalah peringkat kelima dalam proses pentajallian Empunya Diri dalam menyatakan rahsia
diriNya untuk di tanggung oleh manusia. Untuk menyatakan dirinya Allah S.W.T., terus menyatakan
diriNya melalui diri rahsiaNya dengan lebih nyata dengan membawa diri rahsiaNya untuk di kandung pula
oleh bapa iaitu dinamakan Alam Mithal.
Untuk menjelaskan lagi Alam Mithal ini adalah dimana unsur rohani iaitu diri rahsia Allah belum
bercamtum dengan badan kebendaan. Alam mithal jenis ini berada di Alam Malakut. Ia merupakan
peralihan daripada alam Arwah (alam Roh) menuju ke alam Nasut maka itu dinamakan ia Alam Mithal di
mana proses peryataan ini, pengujudan Allah pada martabat ini belum zahir, tetapi Nyata dalam tidak
Nyata.
Diri rahsia Allah pada martabat Wujud Allah ini mulai di tajallikan kepada ubun-ubun bapa, iaitu
perpindahan dari alam roh ke alam Bapa (mithal).
Alam Mithal ini terkandung ia di dalam "Walam yakullahu" dalam surah Al-Ikhlas iaitu dalam keadaan
tidak boleh di bagaikan. Dan seterusnya menjadi "DI", "Wadi", "Mani" yang kemudiannya di salurkan ke
satu tempat yang bersekutu di antara diri rahsia batin (roh) dengan diri kasar Hakiki di dalam tempat yang
dinamakan rahim ibu. Maka terbentuklah apa yang di katakan "Maknikam" ketika berlakunya
bersetubuhan diantara laki-laki dengan perempuan (Ibu dan Bapa)
Perlu diingat tubuh rahsia pada masa ini tetap hidup sebagaimana awalnya tetapi di dalam keadaan rupa
yang elok dan tidak binasa dan belum lagi zahir. Dan ia tetap hidup tidak mengenal ia akan mati.

6) Alam ajsam
Martabat alam ajsam adalah alam material yang terdiri dari empat unsur, yaitu api, angin, tanah, dan air.
Keempat unsur material ini menjelma dalam wujud lahiriah dari alam ini dan keempat unsur tersebut
saling menyatu dan suatu waktu terpisah.
Pada peringkat keenam, selepas sahaja rahsia diri Allah pada Alam Mithal yang di kandung oleh bapa ,
maka berpindah pula diri rahsia ini melalui "Mani" Bapa ke dalam Rahim Ibu dan inilah dinamakan Alam
Ijsan. Pada martabat ini dinamakan ia pada martabat "InssanulKamil" iaitu batang diri rahsia Allah
telahpun diKamilkan dengan kata diri manusia, dan akhirnya ia menjadi "KamilulKamil". Iaitu menjadi satu
pada zahirnya kedua-dua badan rohani dan jasmani dan kemudian lahirlah seoarang insan melalui faraj
ibu dan sesungguhnya martabat kanak-kanak yang baru dilahirkan itu adalah yang paling suci yang
dinamakan "InnsanulKamil". Pada martabat ini terkandung ia di dalam "Kuffuan" iaitu bersekutu dalam
keadaan "KamilulKamil dan nyawa pun di masukkan dalam tubuh manusia.
Selepas cukup tempuhnya dan ketikanya maka diri rahsia Allah yang menjadi "KamilulKamil" itu
dilahirkan dari perut ibunya, maka di saat ini sampailah ia Martabat Alam Insan.

7) Insan kamil (manusia sempurna)

Martabat insan kamil atau alam paripurna merupakan himpunan segala martabat sebelumnya. Pada alam
ke tujuh iaitu alam Insan ini terkandung ia di dalam "Ahad" iaitu sa (satu). Di dalam keadaan ini, maka
berkumpullah seluruh proses pengujudan dan peryataan diri rahsia Allah S.W.T. di dalam tubuh badan
Insan yang mulai bernafas dan di lahirkan ke Alam Maya yang Fana ini. Maka pada alam Insan ini
dapatlah di katakan satu alam yang mengumpul seluruh proses pentajallian diri rahsia Allah dan
pengumpulan seluruh alam-alam yang di tempuhi dari satu peringkat ke satu peringkat dan dari satu
martbat ke satu martabat.
Oleh kerana ia merupakan satu perkumpulan seluruh alam - alam lain, maka mulai alam maya yang fana
ini, bermulalah tugas manusia untuk mengembalikan diri rahsia Allah itu kepada Tuan Empunya Diri dan
proses penyerahan kembali rahsia Allah ini hendaklah bermula dari alam Maya ini lantaran itu persiapan
untuk balik kembali asalnya mula kembali hendaklah disegerakan tanpa berlengah-lengah lagi.
d. Pada wejangan keempat terkait singgasana ini, dari ketiga ayatnya menegaskan bahwa tidak ada
Tuhan selain AKU (Allah), dzat yang meliputi keberadaan sesungguhnya (kahanan jati=keadaan sejati).
Mengapa itu perlu ditegaskan, karena untuk menghindari salah pengertian bagi mereka yang telah
mendapatkan wejangan ini, jangan sampai karena merasa bahwa AKU (Allah) 'bertahta' di kepala, di
dada dan kelamin manusia (konthol Adam), lalu manusia tersebut mengaku dirinya sebagai Tuhan, atau
menjadi bagian dari Tuhan. Jika itu yang terjadi, maka manusia tsb. telah jauh tersesat. Ingat, bahwa
semua wejangan tersebut adalah dalam makna kiasan semata. Intinya adalah bahwa Sang AKU
MUTLAK (Allah Swt) adalah amat dekat dengan manusia, bahkan lebih dekat dari pada urat leher si
manusia itu sendiri.

2.6 Dalil (Wejangan) Kaping Limo : Panetep Santosaning Iman


"Ingsun anekseni satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun lan anekseni Ingsun satuhune muhammad
iku utusan Ingsun"
Dalil / Pelajaran Kelima : Peneguh Iman :
"AKU menyaksikan bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali hanya AKU dan AKU menyaksikan
sesungguhnya muhammad itu adalah utusan-KU"
Penjelasan
Dalam dalil kelima ini Allah menyatakan kesaksianNya yang ditujukan kepada makhluk ciptaanNya,
bahwa tidak ada Tuhan lain kecuali hanya Dia semata, dan Muhammad adalah benar-benar rasul atau
utusanNya.
Ini adalah wirid rahasia, yang hanya boleh diamalkan oleh orang yang sudah mengetahui hakikat diriNya,
yang telah mengerti sangkan paraning dumadi (asal muasal kejadian ). Wirid ini dibaca dalam rasa
terdalam, dalam sirr yang hanya dapat di dengar oleh dirinya dan Tuhannya dalam keadaan hening
dengan menempatkan diri dalam martabat Ahadiyat, merasa dirinya lenyap tak berwujud yang ada hanya
wujud Dzat Allah yang tak teridentifikasikan oleh panca indera.
Dalam khasanah makrifat :
Aku menyaksikan (dengan mata hatiku) bahwa tidak ada apa apa (hampa) selain hanya (wujud) Allah
saja. Dan Aku menyaksikan (dengan mata kepalaku) bahwa sesungguhnya alam semesta ini (yang
diciptakan dari Nur Muhammad) hakikatnya adalah utusan (yang bertugas memperlihatkan sifat, nama,
afal) Allah.

2.7. Dalil (Wejangan) kaping Nem : Sasahidan

"Ingsun anekseni ing Dzat Ingsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun, lan anekseni
Ingsun satuhune Muhammad iku utusan Ingsun. Iya sejatine kan aran Allah iku badan Ingsun, rasul iku
rahsa-Ningsun, Muhammad iku Cahaya-Ningsun. Iya Ingsun kang urip tan kena ing pati, iya Ingsun kang
eling tan kena ing lali, iya Ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kaanan jati, iya Ing-sun kang
waskitha, ora kasamaran ing sawiji- wiji. Iya Ingsun kang amurba ami-sesa, kang kawasa wicaksana ora
kekurangan ing pakerthi, byar sampurna padhang terawangan, ora karasa apa-apa, ora ana katon apaapa, amung Ingsun kang anglimputi ing alam kabeh kalawan kodratIngsun"
Dalil / Pelajaran Keenam : Sahadat / kesaksian
"AKU bersaksi dalam Diri-Ku sendiri, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali AKU, dan menyaksikan AKU
sesungguhnya Muhammad itu utusan-KU. Sesungguhnya yang bernama Allah itu badan-KU (mungkin
maksudnya : Nama-Nya), rasul itu rahsa-KU, Muhammad itu cahaya-KU. AKU lah Yang Hidup tidak bisa
mati, AKU lah yang Ingat tidak bisa lupa, AKU lah Yang Kekal tidak bisa berubah dalam keberadaan yang
sesungguhnya, AKU lah waskita, tidak ada tersamar pada sesuatu pun. AKU lah yang Berkuasa
Berkehendak, Yang Kuasa Bijaksana tidak kurang dalam tindakan, Terang Sempurna jelas terlihat, tidak
terasa apa pun, tidak kelihatan apa pun, kecuali hanya AKU yang meliputi alam semua dengan kuasa
(kodrat)- KU."
Penjelasan
a. Wejangan ini adalah wejangan penutup, yang merupakan Penyaksian Dzat (Allah) terhadap Diri-Nya
sendiri dan terhadap Muhammad, utusan-nya, rahasia-Nya, Cahaya-Nya dan juga terhadap sifat-sifat
kesempurnaan-Nya. Dalil pertama hingga dalil ke-enam merupakan satu rangkaian yang tidak boleh
diputus, sebab jika terputus maka pemahamannya akan berkurang.
b. Mengawinkan badan dan nyawa; Allah yang mengawinkan, Rasul sebagai walinya, Muhammad
penghulunya, dan saksi empat orang malaikat. Yakni Aku yang mengawini badanKu sendiri, sepertemuan
dengan suksmaKu, dengan rahsaKu, sebagai wali, disyatikan oleh cahayaKu, disaksikan malaikat empat;
Jibril ialah pengucapKu, Mikail penciumanKu. Israfil penglihatanKu, dan Izrail pendengaranKu, serta mas
kawinnya sempurna karena kodratKu.

3. MAKRIFATULLAH
Mari kita coba menghayati Firman Allah dalam Qur'an Surah ke-20 Thaahaa : ayat 14, yang artinya
demikian : "Sesungguhnya AKU ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain AKU, maka
sembahlah AKU dan dirikanlah shalat untuk mengingat-KU".
Bagaimana kita beriman, sementara kita belum bersaksi
Bagaimana kita bersaksi, sementara kita belum melihat
Bagaimana kita mengingat Allah, sementara kita belum kenal
Bagaimana kita kenal, sementara kita belum melihat
Bagaimana kita melihat, sementara kita tidak tahu

MAKRIFATULLAH: Mengenal Allah SWT, pada Zat-nya, pada Sifat-nya, pada Asma-nya dan pada Afalnya.
AWALUDIN MARIFATULLAH Artinya :
Awal agama mengenal Allah.

LAYASUL SHALAT ILLA BIN MARIFAT Artinya:


Tidak sah shalat tanpa mengenal Allah.
MAN ARAFA NAFSAHU FAKAT ARAFA RABBAHU Artinya:
Barang siapa mengenal dirinya dia mengenal Tuhannya.
ALASTU BIRAB BIKUM QOLU BALA SYAHIDNA Artinya:
Bukankah aku ini Tuhanmu ? Betul engkau Tuhan kami,kami menjadi saksi.(QS.AL-ARAF 7:172)
AL INSANNU SIRRI WA ANNA SIRRUHU Artinya:
Manusia itu RahasiaKu dan akulah Rahasianya.
WAFI AMFUSIKUM AFALA TUBSIRUUN Artinya:
Di dalam dirimu mengapa kamu tidak melihat.
ANAHNU AKRABI MIN HABIL WARIZ Artinya:
Aku lebih dekat dari urat nadi lehermu.
LAA TAK BUDU RABBANA LAM YARAH Artinya:
Aku tidak akan menyembah Allah apabila aku tidak melihatnya terlebih dahulu.

4. HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALLAH


Pada malam Ghaibul Ghaib yaitu dalam keadaan antah-berantah hanya Dzat semata. Belum ada awal
dan belum ada akhir, belum ada bulan dan belum ada matahari, belum ada bintang belum ada
sesuatupun. Malahan belum ada Tuhan yang bernama Allah, maka dalam keadaan ini, Diri yang punya
Dzat tersebut telah mentajalikan diri-Nya untuk memuji diri-Nya.
Lantas tajalilah Nur Allah dan kemudian tajali pula Nur Muhammad (Insan Kamil), yang pada peringkat ini
dinamakan Anta Ana, (Kamu, Aku) , (Aku,Kamu),Ana Anta. Maka yang punya Dzat bertanya kepada Nur
Muhammad dan sekalian Roh untuk menentukan kedudukan dan taraf hamba.
Lantas ditanyakan kepada Nur Muhammad, Aku ini Tuhanmu? Maka dijawablah Nur Muhammad yang
mewakili seluruh Roh, YaEngkau Tuhanku.
Persaksian ini dengan jelas diterangkan dalam Al-Quran surat Al-Araf 7:172: ALASTU BIRAB BIKUM,
QOOLU BALA SYAHIDNA.
Artinya : Bukan aku ini Tuhanmu? Betul engkau Tuhan kami, Kami menjadi Saksi.
Selepas pengakuan atau persumpahan Roh itu dilaksankan, maka bermulalah era baru di dalam
perwujudan Allah SWT. Seperti firman Allah dalam Hadits Qudsi yang artinya :Aku suka mengenal diriku,
lalu aku jadikan mahkluk ini dan aku perkenalkan diriku.
Apa yang dimaksud dengan mahkluk ini ialah : Nur Muhammad sebab seluruh kejadian alam maya ini
dijadikan daripada Nur Muhammad tujuan yang punya Dzat mentajalikan Nur Muhammad adalah untuk
memperkenalkan diri-nya sendiri dengan diri Rahasianya sendiri.
Maka diri Rahasianya itu adalah ditanggung dan diakui amanahnya oleh suatu kejadian yang bernama :
Insan yang bertubuh diri bathin (Roh) dan diri bathin itulah diri manusia, atau Rohani.
Firman Allah dalam hadis Qudsi:
AL-INSAANU SIRRI WA-ANA SIRRUHU
Artinya : Manusia itu RahasiaKu dan Akulah yang menjadi Rahasianya.

Jadi yang dinamakan manusia itu ialah karena ia mengenal Rahsia.


Dengan perkataan lain manusia itu mengandung Rahasia Allah.
Karena manusia menanggung Rahasia Allah maka manusia harus berusaha mengenal dirinya, dan
dengan mengenal dirinya manusia akan dapat mengenal Tuhannya, sehingga lebih mudah kembali
menyerahkan dirinya kepada Yang Punya Diri pada waktu dipanggil oleh Allah SWT. Iaitu tatkala berpisah
Roh dengan jasad. (Tambahan Hajrikhusyuk: kembali kepada Allah harus selalu dilakukan semasa hidup,
masih berjasad, contohnya dengan solat, kerana solat adalah mikraj oang mukmin atau dengan mati
sebelum mati).
Firman Allah An-Nisa 4:58: INNALLAHA YAK MARUKUM ANTU ABDUL AMANATI ILAAHLIHA. Artinya:
Sesunggunya Allah memerintahkan kamu supaya memulangkan amanah kepada yang berhak
menerimanya. (Allah).
Hal tersebut di atas dipertegas lagi oleh Allah dalam Hadits Qudsi :
MAN ARAFA NAFSAHU,FAQAT ARAFA RABAHU.
Artinya : Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya.
Dalam menawarkan tugas yang sangat berat ini, pernah ditawarkan Rahasia-nya itu kepada Langit, Bumi
dan Gunung-gunung tetapi semuanya tidak sanggup menerimanya.
Seperti firman Allah SWT Al Ahzab 33:72.
INNA ARAT NAL AMATA, ALAS SAMAWATI WAL ARDI WAL JIBAL FA ABAINA ANYAH MILNAHA WA AS
FAKNA MINHA,WAHAMA LAHAL INSANNU.
Artinya : Sesungguhnya kami telah menawarkan suatu amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung
tetapi mereka enggan memikulnya dan merasa tidak akan sanggup, lantas hanya manusia yang sanggup
menerimanya.
Oleh karena amanat (Rahasia Allah) telah diterima, maka adalah menjadi tanggung jawab manusia untuk
menunaikan janjinya. Dengan kata lain tugas manusia adalah menjaga hubungannya dengan yang punya
Rahasia.
Setelah amanat (Rahasia Allah) diterima oleh manusia (diri Batin/Roh) untuk tujan inilah maka Adam
dilahirkan untuk bagi memperbanyak diri, diri penanggung Rahasia dan berkembang dari satu abad ke
satu abad, diri satu generasi ke satu generasi yang lain sampai alam ini mengalami KIAMAT DAN
RAHASIA ITU KEMBALI KEPADA ALLAH.
INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJIUN.
Artinya : Kita berasal dari Allah, dan kembali kepada Allah.

5. Keberadaan Dzat Tuhan itu ibarat CERMIN YANG AMAT JERNIH atau KACAWIRANGI. Yaitu DIRI
yang diliputi kekosongan yang berisi TYAS CIPTA HENING. Cermin itu tidak ada bandingannya, tidak
punya rupa, warna, kosong tidak ada apa-apanya. Namun adalah kesalahan bahwa kekosongan Dzat
Tuhan adalah TIDAK ADA, sebab CERMIN itu TETAP ADA.
Wujud cermin sejati atau kacawirangi adalah wangwung, tidak ada apa-apa. Pantas bila orang lalu
menganggapnya tidak ada sebab cermin itu terlihat begitu jernih, seperti tidak adanya rupa apapun. Tapi
cermin itu tetap ada. CERMIN SEJATI ITU SATU TAPI TIDAK TERHINGGA JENIS DAN BILANGANNYA.
Di dalam Serat Dewa Ruci (Yasadipura) terdapat inti ajaran mengenai cermin tersebut di atas sebagai
berikut: Badan njaba wujud kita iki, badan njero mungguwing jroing kaca, ananging dudu pangilon,
pangilon jroning kalbu yaiku wujud kita pribadi, cumithak jro panyipta, ngeremken pandudu, luwih gedhe
barkahira, lamun janma wus gambuh ing badan batin, sasat srisa bathara

Akan lebih jelas lagi apabila kita membaca serat Dewa Ruci (Kisah Dewaruci). Dalam Kisah Dewa Ruci
ini adalah inti Sangkan Paraning Dumadi, sekaligus sebagai pengungkapan ajaran Kawulo Gusti sampai
kepada jarak yang sedekat-dekatnya yang dikenal sebagai PAMORING KAWULO GUSTI atau
JUMBUHING KAWULO GUSTI.
Ajaran tentang sangkan paraning dumadi yang dilaksanakan sebagai pedoman hidup praktis sehari-hari.

6. Dalam filsafat ketuhanan Jawa, hubungan Manusia dan Tuhan (Kawulo-Gusti) memiliki makna sangat
mendalam. Manusia harus merasakan benar-benar bahwa dirinya adalah hamba-Nya atau KUMAWULA
yang artinya dirinya merupakan cermin yang sejati, sehingga Tuhan dan bayangan-Nya sungguhsungguh tidak terhalang oleh kotoran sedikitpun. Hal ini ditandai oleh koreksi terus menerus atas diri
aku manusia sehingga mencapai kualitas PRAMANA.
Ketika rasa perasaan belum jernih, adalah rasa perasaan itu yang dianggap PRIBADI oleh si rasa
perasaan. Artinya si rasa perasaan mengaku aku supaya dianggap: AKU. Jadi rasa perasaan manusia itu
ternyata memang tidak bisa melihat yang meliputinya. Jadi dalam perbuatan MERASA, bahkan
menghalang halangi. Karenanya, dapatnya manusia melihat terhadap yang meliputinya, tidak ada jalan
lain kecuali TIDAK dengan MERASA, yaitu RASA PERASAAN KEMBALI KEPADA YANG MELIPUTI
(Pribadi/Rasa Sejati). Apabila sudah tidak terhalang daya rasa perasaan, maka hanya PRIBADI yang
ADA, disitulah baru mengetahui terhadapi DIA, yaitu yang MEMILIKI RASA PERASAAN, bukan RASA
PERASAAN YANG DIPUNYAI.

7. Perbedaan antara Kawulo Gusti dengan perantaraan 16 terminologi yang memperjelas hubungan
antara Gusti (YANG DISEMBAH) dan Kawulo (YANG MENYEMBAH) sebagai berikut: Dzat-sifat, Rasapangrasa, Cipta-ripta, Yang disembah-yang menyembah, Kodrat-iradat, Qadim-baru, Sastra-gendhing,
Yang Bercermin-bayangannya, Suara-gema, Lautan-ikan, Pradangga-gendhingnya, Papan Tulistulisannya, Manikmaya-Hyang Guru, Dalang-wayang, Busur-anak panah, Wisnu-kresna.
Dalam konteks pencapaian pribadi manusia tertinggi atau pamungkasing dumadi atau sampurnaning
patrap adalah LULUHING DIRI PRIBADI, LULUHING RAOS AKU. Itulah pamungkasing dumadi, di situ
lenyap tabir kenyataan yang sebenarnya.
Manusia yang sempurna dengan demikian adalah manusia yang luluhnya aku yang diengkaukan
(krodomongso) digantikan dengan aku yang tidak mungkin diengkaukan (dudu kowe).
Hubungan antara Kawulo-Gusti ini, akan ditutup dengan pernyataan Ranggawarsita: Sakamantyan
denira angudi, widadaning ingkang saniskara, karana tan kena mleset, surasaning kang ngelmu, nora
kena madayeng jangji, jangjine mung sapisan, purihen den kumpul, gusti kalawan kawula, supadine
dinadak bisa umanjing, satu munggwing rimbagan (Upaya untuk mencapai pemahaman haruslah terus
menerus sepanjang hidup, agar tercapai keselamatan lahir-batin, yaitu KESESUAIAN HUKUM TUHAN,
sebagai suatu janji, bahwa MANUSIA ITU WUJUD PERTEMUAN KAWULA GUSTI, artinya WAKIL
TUHAN, sedemikian rupa seperti cincin permata).

8. Sebagai Wakil Tuhan di alam semesta, manusia telah diberi berbagai perangkat lunak sehingga dia
bisa berhubungan secara langsung dan berkomunikasi dengan Tuhan sebagai GURU PALING SEJATI
MANUSIA.
9. Dalam Wirid Hidayat Jati dipaparkan ada tujuh unsur pokok penyusun diri manusia itu:
a. Hayyu (hidup) = disebut ATMA, terletak di luar DZAT
b. Nur (cahaya) = disebut PRANAWA terletak di luar Hayyu

c. Sir (Rahsa) = disebut PRAMANA terletak di luar Nur


d. Roh (Nyawa) = disebut Suksma, terletak diluar Rahsa
e. Nafs (Angkara) = letaknya di luar suksma
f. Akal (budi) = letaknya diluar nafsu
g. Jasad (badan) = letaknya di luar budi.
h. Keterangan: Ada keterpaduan antara unsur di atas yaitu:
1) Suksma wahya = patemoning jasad lan napas
2) Suksma dyatmika = patemoning napas lan budi
3) Suksma lana
= patemoning budi lan napsu
4) Suksma mulya = patemoning napsu lan nyawa
5) Suksma sajati = patemoning nyawa lan rahsa
6) Suksma wasesa = patemoning rahsa lan cahya
7 Suksma kawekas = patemoning cahya lan urip

10. Penutup
Terdapat kesulitan memahami hakekat hubungan antara Kawulo-Gusti dalam jagad filsafat ketuhanan
Jawa bila kita hanya membaca dengan kemampuan akal budi. Dalam ajaran Jawa, kita diajari untuk
melakukan praktik mistik dengan kepercayaan yang benar-benar penuh sehingga terwujud harmoni dan
kesatuan dengan tujuan kosmos. Ini akan membuahkan kondisi-kondisi fisik dan metafisik yang
bermanfaat bagi kita semua. Tuhan bersemayam di unsur terdalam pada diri manusia sehingga
Kenalilah diri sendiri, maka kau akan mengenal Tuhanmu.