Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

CA MAMMAE
DI RUANG 28 RSUD SAIFUL ANWAR
MALANG

Oleh :
Dien Isnaini
NIM. 150070300113028

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

LAPORAN PENDAHULUAN CA MAMMAE


1. DEFINISI CA MAMMAE
Kanker payudara atau disebut juga ca mammae adalah neoplasma
ganas dengan pertumbuhan jaringan mammae abnormal yang tidak
memandang jaringan sekitarnya, tumbuh infiltrasi dan destruktif dapat
bermetastase ( Soeharto Resko Prodjo, 1995)

Carsinoma mammae merupakan gangguan dalam pertumbuhan sel


normal mammae dimana sel abnormal timbul dari sel sel normal,
berkembang biak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah
(Lynda Juall Carpenito, 1995).

Ca mammae adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang


terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk
bejolan di payudara. Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau
terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar (metastase) pada bagianbagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah bening
(limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker
bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. (Erik T,
2005)

Ca mammae adalah kanker yang relatif sering dijumpai pada wanita dan
merupakan penyebab kematian utama pada wanita berusia antara 45
dan 64 tahun. Kanker payudara mungkin ditemukan

in situ

(masih

lokal) atau ditemukan sebagai neoplasma maligna (telah menyebar).


Kanker

payudara

hampir

selalu

merupakan

adenokarsinoma

dan

biasanya timbul di duktus (Corwin, 2008)


2. KLASIFIKASI CA MAMMAE

Berdasarkan The World Health Organization (WHO) tahun 2003, Ca


mammae dibagi atas karsinoma non invasif dan invasif.
Karsinoma Non-invasif
Karsinoma non-infasif sering disebut juga dengan in situ breast
cancer.In situ breast cancer adalah type kanker yang mana sel kanker
tetap berada dalam selubung tempat asalnya. Jadi sel kanker tidak
menyerang jaringan disekitar saluran air susu atau kelenjar air susu.
Jenisnya antara lain :

a. Ductal Carsinoma In Situ ( DCIS )


Suatu sel abnormal di sepanjang saluran air susu yang tidak
menyerang jaringan sekitar payudara. Ini adalah Ca mammae
stadium awal.Beberapa ahli menganggap DCIS adalah kondisi sangat
awal dari kanker.Hampir semua wanita dengan DCIS ini bisa
disembuhkan.Tapi ada juga yang berkembang menjadi Ca mammae
yang invasife.Karsinoma duktus in situ dapat terjadi baik pada
wanita pre-menopause maupun pasca-menopause, biasanya pada
kelompok umur 40-60 tahun.
b. Lobular Carsinoma In Situ ( LCIS )
Bahwa suatu sel abnormal masih berada dalam kelenjar air susu, dan
tidak menyerang jaringan disekitarnya. LCIS terjadi terutama pada
wanita

pre-menopause.Apabila

setelah

menopause,

biasanya

dihubungkan dengan adanya karsinoma infiltratif.LCIS ditemukan


pada 6% dari seluruh karsinoma mamae.Masalah utamanya, tumor
ini secara klinis tidak teraba, dan ditemukan pada hasil biopsi yang
dilakukan atas indikasi adanya kista atau lesi palpabel jinak lainnya.
Masih menjadi kontroversi diantara ahli-ahli kanker bahwa apakah
LCIS merupakan suatu stadium sangat awal dari kanker ataukah
hanya merupakan penanda bahwa itu dimasa datang akan berubah
menjadi kanker. Tetapi para ahli juga sepakat bahwa apabila
seseorang mempunyai LCIS, berarti di kemudian hari dia mempunyai
resiko untuk mempunyai kanker pada salah satu payudaranya.Pada
payudara yang terdapat LCIS bisa berubah menjadi invasive lobular
breast cancer. Bila kanker berkembang pada payudara yang lain,
maka bisa jadi menjadi Invasife Lobular atau Invasife Ductal
Carsinoma.
Invasive breast cancer ( Ca mammae yang invasive )
Invasive ( infiltrating ) breast cancer adalah jenis kanker yang sel
kankernya telah keluar/lepas dari mana dia berasal, menyerang jaringan
sekitar yang mendukung saluran dan kelenjar- kelenjar payudara. Selsel kanker ini bisa menyebar keberbagai bagian tubuh, seperti ke
kelenjar getah bening. Jenisnya antara lain :
a. Invasive Ductal Carsinoma ( IDC )

Dianggap sebagai penyebab terbesar Ca mammae yang invasive


(85%). Jika seorang wanita mempunyai IDC, maka sel kanker yang
berada di sepanjang saluran air susu akan keluar dari dinding saluran
tersebut dan menyerang jaringan disekitar payudara. Sel kanker bisa
saja tetap terlokalisir, berada didekat tempat asalnya atau menyebar
( metastasis ) kebagian tubuh yang lain, terbawa oleh peredaran
darah atau system kelenjar getah bening. Untuk jenis IDC solid
tubular, meskipun invasive tapi masih lumayan terkendali dibanding
jenis invasive lain.
b. Invasive Lobular Carsinoma ( ILC )
Meskipun tidak sebanyak IDC (10%), type ini juga mempunyai sifat
yang mirip. ILC, berkembang dari kelenjar yang memproduksi susu
dan kemudian menyerang jaringan payudara disekitarnya. Juga
bahkan ke tempat yang lebih jauh dari asalnya. Dengan ILC,
penderita mungkin tidak akan merasakan suatu benjolan, yang
dirasakan hanyalah adanya semacam gumpalan atau suatu sensasi
bahwa ada yang berbeda pada payudara. ILC, bisa diditeksi hanya
dengan menyentuh, dan kadang juga bisa tidak terlihat dalam
mammogram.ILC ini bersifat seperti cermin, kalau payudara kanan
ada benjolan, biasanya sebelah kiri juga ada.
Tipe tipe yang tidak biasa / Jarang pada Ca mammae:
Tidak semua tipe Ca mammae berasal dari saluran air susu atau kelenjar
air susu. Beberapa jenis yang tidak umum adalah :
a.

Inflammatory Breast Cancer


Jenis ini jarang, tapi termasuk type Ca mammae yang agresive.Kulit
pada payudara menjadi merah dan bengkak.Atau menjadi tebal /
besar.Berbintik-bintik menyerupai jeruk yang terkelupas.Ini dikarenakan
oleh sel kanker yang memblock pembuluh getah bening yang letaknya
dekat permukaan payudara.

b. Medullary Carcinoma.
Tipe spesifik pada invasive breast cancer.Dimana batas tumor jelas
terlihat.Sel kanker lebar dan sel system imun terlihat disekitar batas
tumor.
c.

Tubular carcinoma

Jenis kanker yang jarang ini dinamaidemikian karena bentuk sel kanker
ketika dilihat dibawah microscope.Meskipun merupakan invasive breast
cancer tapi tampilannya lebih baik dari Invasive Ductal Carcinoma dan
Invasive Lobular Carcinoma.
d. Metaplastic carcinoma
Mewakili kurang dari 1% dari seluruh pasien yang baru didiagnosis
mempunyai

Ca

mammae.

Perubahan

bentuk

jaringan

biasanya

terlokalisir/terbatas dan berisi beberapa sel yang berbeda, yang secara


typical tidak ditemui pada Ca mammae yang lain.Harapan kesembuhan
dan

cara

penanganannya

sama

dengan

Invasive

Ductal

Carcinoma.Sarcoma
Tumor yang tumbuh pada sambungan antara jaringan di payudara. Jenis
tumor ini biasanya kemudian menjadi kanker ( malignant).
e.

Micropapillary carcinoma
Type ini cenderung untuk menjadi agresive, sering menyebarnya ke
kelenjar getah bening, meskipun ukurannya kecil.

f.

Adenoid cystic carcinoma


Jenis kanker ini

penggolongannya

dilihat dari

ukurannya,

tumor

local.Termasuk jenis invasive, tetapi lambat dalam pertumbuhan dan


penyebaran.
Klasifikasi Stadium Kanker Payudara
-

Stadium Klinik: (TNM oleh UICC)


T1

: Besar tumor kurang dari atau sama dengan 2 cm


a) Tanpa perlekatan (fiksasi) ke pembungkus otot (fasia)
b) Dengan fiksasi ke fasia/otot

T2

: Besar tumor lebih dari 2-5 cm

T3

: Besar tumor lebih dari 5 cm

T4

: Penjalaran tumor ke dinding dada/kulit


a) Penjalaran ke dinding dada
b) Timbul

pembengkakan

(edema)

kulit/peradangan

(infiltrasi)atau terbentuknya borok (ulserasi)


c) Kedua, a dan b
N0

: KGB (kelenjar getah bening) ketiak (aksiler) tidak teraba

N1

: KGB aksiler teraba tapi masih bebas digerakkan


a) Tidak diperhitungkan terinfiltrasi
b) Diperhitungkan terinfiltrasi

N2

: KGB aksiler teraba dan terfiksasi

N3

: KGB diatas tulang selangka (supraklavikula) teraba danedema

lengan
MO

: Tidak terdapat penyebaran (metastase) jauh

M1

: Terdapat metastase jauh

Stadium Kanker Payudara berdasarkan TMN


Stadium I

T1a, T1b

N0,

N1a, M0

N1b

Tumor terbatas pada


payudara dan dapat
digerakkan dari otot

Stadium II

T0, T1a, T1b

N1b

M0

dinding dada
Tumor terbatas pada

T2a, T2b

N0, N1a

M0

payudara, dapat

T2a, T2b

N1b

M0

digerakkan dari
muskulus
pektoralis dan teraba
kelenjar aksiler yang
masih dapat

Stadium

T3a, T3b

N0, N1

M0

digerakkan.
Tumor melekat pada

IIIa

T1a,b, T2a,b, T3

N2

M0

muskulus pektoralis

T2a,b, N3

M0

atau dinding dada.

T1a,b,
T3a, b

Setiap N

M0

Infiltrasi
kulit yang luas atau

T4a,b,c
Stadium

terdapat "Pear

IIIb

e'orange" (kulit
berkerut seperti
kulit jeruk). Kelenjar
aksiler tidak dapat
digerakkan atau teraba
kelenjar limfe
supraklavikuler atau
kelenjar limfa
aksileryangberlawanan

Stadium
IV

Setiap T

Setiap N

MI

(kontra-lateral).
Metastasis di tulang,
paru-paru, hati, otak,

dan lain-lain
Kanker payudara mempunyai 4 stadium, yaitu:
1) Stadium I
Tumor yang berdiameter kurang 2 cm tanpa keterlibatan limfonodus
(LN) dan tanpa penyebaran jauh. Tumor terbatas pada payudara dan
tidak terfiksasi pada kulit dan otot pektoralis.
2) Stadium IIa
Tumor yang berdiameter kurang 2 cm dengan keterlibatan limfonodus
(LN) dan tanpa penyebaran jauh atau tumor yang berdiameter kurang 5
cm tanpa keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh.
3) Stadium IIb
Tumor yang berdiameter kurang 5 cm dengan keterlibatan limfonodus
(LN) dan tanpa penyebaran jauh atau tumor yang berdiameter lebih 5
cm tanpa keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh.
4) Stadium IIIa
Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus
(LN) tanpa penyebaran jauh.
5) Stadium IIIb
Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus
(LN) dan terdapat penyebaran jauh berupa metastasis ke supraklavikula
dengan keterlibatan limfonodus (LN) supraklavikula atau metastasis ke
infraklavikula atau menginfiltrasi / menyebar ke kulit atau dinding toraks
atau tumor dengan edema pada tangan.
6) Stadium IV
Tumor yang mengalami metastasis jauh.
Status penampilan (performance status) kanker menurut WHO
(1979) :
0
1
2

: Baik, dapat bekerja normal.


: Cukup, tidak dapat bekerja berat namun bekerja ringan bisa.
: Lemah, tidak dapat bekerja namun dapat berjalan dan merawat diri
sendiri 50% dari waktu sadar.

: Jelek, tidak dapat berjalan, dapat bangun dan merawat diri sendiri,
perlu tiduran lebih 50% dari waktu sadar.

: Jelek sekali, tidak dapat bangun dan tidak dapat merawat diri sendiri,
hanya tiduran saja.

Status penampilan (performance status) kanker menurut Karnofsky :


100%

: Mampu melaksanakan aktivitas normal, keluhan / kelainan tidak

ada.
90%

: Tidak perlu perawatan khusus, keluhan gejala minimal.

80%

: Tidak perlu perawatan khusus dengan beberapa keluhan /

gejala.
70%

: Tidak mampu bekerja namun mampu merawat diri.

60%

: Kadang perlu bantuan tetapi umumnya dapat melakukan untuk


keperluan sendiri.

50%

: Perlu bantuan dan umumnya perlu obat-obatan.

40%

: Tidak mampu merawat diri, perlu bantuan dan perawatan

khusus.
30%

: Perlu pertimbangan perawatan rumah sakit.

20%

: Sakit berat, perlu perawatan rumah sakit.

10%

: Mendekati kematian.

0%

: Meninggal. "Rest in peace & no pain".

(Corwin, Elizabeth. 2009) (Dwi, Asti, dkk. 2010) (Mardiana, Lina. 2010)
(Mansjoer, dkk, 2000) (Purwastuti, Endang. 2012) (Supandiman, Iman.
1997) (Suzanne. 2002) (Wijayakusuma, H. 2008)
3. EPIDEMIOLOGI CA MAMMAE
Kanker payudara merupakan kanker dengan insiden tertinggi nomor 2
di Indonesia dan terdapat kecenderungan dari tahun ke tahun insiden ini
meningkat, seperti halnya di negara barat. Angka kejadian kanker
payudara di Amerika Serikat 92/100.000 wanita per tahun dengan
mortalitas uang cukup tinggi 27/100.000 atau 18% dari kematian yang
dijumpai pada wanita. Di Indonesia berdasarkan Pathological Based
Registration

kanker

payudara

mempunyai

insiden

relatif

11,5%.

Diperkirakan di Indonesia mempunyai insiden minimal 20.000 kasus baru


per tahun, dengan kenyataan bahwa lebih dari 50% kasus masih berada
dalam stadium lanjut.
Kurva insidens-usia bergerak naik sejak usia 30 tahun. Kanker ini jarang
sekali ditemukan pada wanita usia di bawah 20 tahun. Angka tertinggi

terdapat pada usia 45-66 tahun. Insidensi karsinoma mammae pada lakilaki hanya 1% dari kejadian pada perempuan. Insidensi tinggi di negara
Barat dan lebih banyak pada populasi kulit putih dibandingkan kulit hitam.
(Abdul. 2011) ,(Pramudya. 2011)

Grafik insiden Ca Mammae


4. PATOFISIOLOGI MAMMAE
Terlampir
5. FAKTOR RESIKO CA MAMMAE
Belum ada penyebab spesifik kanker payudara yang diketahui, para
peneliti telah mengidentifikasi sekelompok faktor resiko.Faktor ini penting
dalam membantu mengembangkan program-program pencegahan.Hal
yang harus selalu di ingat adalah bahwa hampir 60 % wanita yang
didiagnosa kanker payudara tidak mempunyai faktor-faktor resiko yang
teridentifikasi

kecuali

hanya

lingkungan

hormonal

mereka.Dengan

demikian, semua wanita dianggap beresiko untuk mengalami kanker


payudara

selama

masa

kehidupan

mereka.

Namun

demikian,

mengidentifikasi faktor resiko merupakan cara untuk mengidentifikasi


wanita yang mungkin diuntungkan dari kelangsungan hidup yang terus
meningkat dan pengobatan dini. Selain itu, riset lebih jauh tentang faktorfaktor resiko akanmembantu dalam mengembangkan strategi yang efektif
untuk mencegah atau memodifikasi kanker payudara dimasa mendatang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya ca mammae :
a. Usia dan jenis kelamin
Kurang dari 1% Ca mammae timbul pada pria, dengan demikian jenis
kelamin wanita memiliki faktor resiko yang lebih besar. Seperti

karsinoma lain, bertambahnya umur juga merupakan faktor resiko yang


bermakna. Sampai dengan umur 40-45 tahun, rata-rata peningkatan
tajam yang kemudian menurun perlahan-lahan, walaupun insiden Ca
mammae terus meningkat sampai usia tua.
b. Riwayat pribadi tentang kanker payudara
Resiko

mengalami

kanker

payudara

pada

payudara

sebelahnya

meningkat hamper 1% setiap tahun.


c. Anak

permpuan

atau

saudara

perempuan

(hubungan

keluarga

langsung) dari wanita dengan kanker payudara. Resikonya meningkat


dua kali jika ibunya terkena kanker sebelum berusia 60 tahun; resiko 4
sampai 6 kali jika kanker payudara terjadi pada dua orang saudara
langsung.
d. Genetik, Ada 2 jenis gen (BRCA1 dan BRCA2) yang sangat mungkin
sebagai resiko sampai dengan 85%.
e. Pemakaian obat-obatan dan bahan kimia
Seorang wanita yang menggunakan therapy obat hormon pengganti
{hormone replacement therapy (HRT)} seperti Hormon estrogen akan
bisa menyebabkan peningkatan resiko mendapat penyakit Ca mammae.
Termasuk

alat

kontrasepsi

yang

tinggi

estrogen

dan

DES

(dietilstilbestrol).Wanita yang mengkonsumsi DES untuk mencegah


keguguran memiliki risiko tinggi menderita Ca mammae.
f. Sering menghadapi kondisi stress (goncangan jiwa).
g. Menarke dini. Resiko kanker payudara meningkat pada wanita yang
mengalami menstruasi sebelum usia 12 tahun.
h. Nulipara dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak pertama
Wanita

yang

mempunyai

anak

pertama

setelah

usia

30

tahun

mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara


dibanding dengan wanita yang mempunyai anak pertama mereka pada
usia sebelum 20 tahun.
i. Menopause pada usia lanjut
Menopause

setelah

usia

50

tahun

meningkatkan

resiko

untuk

mengalami kanker payudara. Dalam perbandingan, wanita yang telah


menjalani ooforektomi bilateral sebelum usia 30 tahun mempunyai
resiko sepergtiganya.
j. Riwayat penyakit tumor payudara jinak

Wanita yang mempunyai tumor payudara disertai perubahan epitel


poliferasi mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker
payudara; wanita dengan hiperplasia tipikal mempunyai resiko empat
kali lipat untuk mengalami penyakit ini.
k. Pemajanan terhadap radiasi ionisasi setelah masa pubertas dan
sebelum usia 30 tahun beresiko hamper dua kali lipat.
l. Obesitas- resiko terendah diantara wanita pasca menopause
Wanita gemuk yang didiagnosa penyakit ini mempunyai angka kematian
lebih tinggi, yang paling sering berhubungan dengan diagnosis yang
lambat.
m.Kontraseptif oral
Wanita yang menggunakan kontraseptif oral berisiko tinggi untuk
mengalami kanker payudara.Bagaimanapun, risiko tinggi ini menurun
dengan cepat setelah penghentian medikasi.
n. Terapi penggantian hormon. Terdapat laporan yang membingungkan
tentang resiko kanker payudara pada terapi penggantian hormon.
Wanita yang berusia lebih tua yang menggunakan estrogen suplemen
dan menggunakannya untuk jangka panjang (lebih dari 10 sampai 15
tahun) dapat mengalami peningkatan risiko. Sementara penambahan
progesteron terhadap penggantian estrogen meningkat insidens kanker
endomentrium, hal ini tidak menurunkan resiko kanker payudara.
o. Konsumsi alcohol
Sedikit peningkatan risiko ditemukan pada wanita yang mengkonsumsi
alkohol bahkan dengan hanya sekali minum dalam sehari.Risikonya dua
kali lipat di antara wanita yang minum alkohol tiga kali sehari.Di Negara
dimana minuman anggur dikonsumsi secara teratur (mis Perancis dan
Itali), angkanya sedikit lebih tinggi.Beberapa temuan riset menunjukan
bahwa wanita muda yang minum alkohol lebih rentan untuk mengalami
kanker payudara pada tahun-tahun terakhirnya.
p. Diet tinggi lemak dahulu pernah diduga meningkatkan risiko kanker
payudara. Kajian epidemiologi pada wanita berkebangsaan Amerika dan
Jepang menunjukan perbedaaan lima kali lipat dalam angka kanker
payudara

antara

dua

kelompok,

dengan

wanita

Amerika

yang

mempunyai insidens yang lebih tinggi. Wanita Jepang yang bermigrasi


ke Amerika Serikat juga menunjukan angka kanker payudara yang
serupa dengan wanita-wanita Amerika lainnya. Studi kelompok terbaru

menunjukan hubungan yang lemah atau tidak menyeluruh antara diet


tinggi lemak dan kanker payudara. Namun, karena lemak mempunyai
dampak dalam kanker kolon dan penyakit jantung, pasien wanita
diuntungkan dari upaya penyuluhan yang difokuskan pada pengurangan
masukan kalori yang berasal dari lemak secara keseluruhan.
q. Implan payudara dengan silikon akhir-akhir ini telah dikaitkan dengan
kontraksi kapsular fibrosis dang gangguan imun tertentu. Namun, tidak
ada bukti yang menunjukan bahwa implant payudara berkaitan dengan
peningkatan resiko kanker payudara.
(Dixon M., dkk, 2005: Tapan, 2005: Pramudya. 2011: Purwastuti,
Endang. 2012: Suzanne, 2002: Wijayakusuma, H. 2008: Dwi, Asti, dkk.
2010)
6. MANIFESTASI KLINIS CA MAMMAE
Menurut Anita (2011) tanda dan gejala kanker payudara:
- Gejala awal
Sebuah benjolan yang biasanya dirasakan berbeda dari jaringan
payudara di sekitarnya, tidak menimbulkan nyeri, biasanya memiliki
pinggiran tidak teratur.
-

Stadium awal
Jika didorong oleh jari tangan , benjolan bisa digerakkan dengan mudah
di bawah kulit.

Stadium lanjut
Benjolan melekat pada dinding dada atau kulit sekitarnya, benjolan
dapat membengkak, ata borok di kulit payudara, kadang kulit di atas
benjolan mengkerut dan nampak seperti kulit jeruk.

Gejala lainnya
Ditemukan benjolan atau massa di ketiak, perubahan ukuran atau
bentuk payudara, keluar cairan abnormal dari puting

susu (biasanya

berdarah atau bernanah), perubahanpada warna atau tekstur kulit pada


payudara, puting susu, maupun aerola, payudara tampak kemerahan,
kulit di sekitar puting susu bersisik, puting susu tertarik ke dalam atau
terasa gatal, nyeri payudara, atau pembengkakan salah satu payudara.
Pada stadium lanjut, bisa timbul nyeri tulang, penurunan berat badan,
pembengkakan lengan, atau ulserasi kulit.

Menurut Dwi (2010) manifestasi klinis kanker payudara:


a. Penderita merasakan adanya perubahan pada payudara atau puting
susunya
-

Benjolan atau penebalan dalam atau sekitarpayudara atau di daerah


ketiak

Puting susu terasa mengeras

b. Penderitamelihat perubahan pada payudara atau puting susunya:


-

Perubahan ukuran maupun bentuk payudara

Puting susu tertarik ke dalam payudara

Kulit payudara, aerola, atau puting bersisik, merah atau bengkak,


kulit mungkin berkerut seperti kulit jeruk

c. Keluarnya sekret atau cairan dari puting susu


Secara umum, tanda dan gejala kanker payudara adalah:
a. Terdapat benjolan di payudara yang nyeri maupun tidak nyeri, dari
mulai ukuran kecil menjadi besar dan teraba seperti melekat pada kulit,
biasanya memiliki pinggiran yang tidak teratur
b. Keluar cairan abnormal dari puting susu
c. Perubahan warna dan tekstur kulit payudara
d. Payudara tampak kemerahan dan kulit sekitar puting susu bersisik
e. Retraksi puting
f.

Konsistensi payudara yang padat dan keras

g. Edema dengan peaud orange (keriput seperti kulit jeruk)


h. Pada stadium lanjut timbul nyeri tulang, penurunan berat badan,
pembengkakan lengan.
Proses jangka panjang terjadinya kanker ada 4 fase, yaitu:
a. Fase induksi ( 15 30 tahun )
Kontak dengan bahan karsinogen membutuhkan waktu bertahun-tahun
sampai dapat merubah jaringan displasia menjadi tumor ganas.
b. Fase insitu (5 10 tahun )
Terjadi perubahan jaringan menjadi lesi pre concerous yang bisa
ditemukan di serviks uteri, rongga mulut, paru, saluran cerna, kulit dn
akhirnya juga di payudara.
c. Fase invasi ( 1 5 tahun )

Sel menjadi ganas, berkembang biak dan menginfiltrasi melalui


membran sel ke jaringan sekitarnya dan ke pembuluh darah serta limfa
d. Fase desiminasi ( 1 - 5 tahun )
Terjadi penyebaran ke tempat lain

7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK CA MAMMAE


a. Mammografi
Mammografi adalah foto roentgen payudara yang menggunakan
peralatan khusus yang tidak menyebabkan rasa sakit dan tidak
memerlukan bahan kontras serta dapat menemukan benjolan yang kecil
sekalipun. Mammografi merupakan metode pilihan deteksi kanker pada
kasus kecurigaan ganas atau lesi samar. Tanda berupa makrokalsifikasi
tidak khas untuk karsinoma, bila secara klinis curiga terdapat tumor dan
pada mammografi tidak ditemukan apa-apa maka pemeriksaan dapat
dicoba dengan cara biopsi jaringan, demikian juga bila mammografi
positif tetapi secara klinis tidak dicuriga adanya tumor maka dapat
dilanjutkan dengan biopsi di tempat yang ditunjukkan oleh foto
tersebut. Mammogram pada masa pramenopause atau usia kurang dari
35 tahun kurang bermanfaat karena padatnya jaringan kelenjar
payudara sehingga menyulitkan nampaknya sel kanker.
b. USG
USG ini sangat menguntungkan karena memiliki keuntungan yaitu tidak
mempergunakan sinar pengion sehingga tidak ada bahaya radiasi dan
pemeriksaan bersifat non invasif, relatif mudah dikerjakan, serta dapat
dipakai berulang-ulang.USG biasanya dapat untuk membedakan tumor
padat dan kiste pada payudara serta untuk menentukan metastasis di
hati.USG ini berperan terutama untuk payudara yang padat pada wanita
muda,

jenis

payudara

ini

kadang-kadang

sulit

dinilai

dengan

mammografi.
c. Biopsy Aspirasi
Pemeriksaan sitologi biopsy aspirasi jarum sering dipergunakan sebagai
prosedur diagnosis berbagai tumor termasuk tumor payudara dengan
indikasi :
- Diagnosis preoperative tumor klinik diduga maligna.
- Diagnosis konfirmatif klinik tumor maligna ataupun tumor rekuren
- Diagnosis tumor nonneoplastik ataupun neoplastik
- Mengambil bahan aspirat untuk kultur ataupun bahan penelitian.

Teknik dan peralatan sangat sederhana, murah dan cepat serta tidak
ada komplikasi yang berarti.
d. FNAB
Dengan jarum halus sejumlah kecil jaringan dari tumor diaspirasi keluar
lalu diperiksa mikroskopis.Jika tumor dapat terpalpasi dengan mudah,
FNAB dapat dilakukan dengan mempalpasi tumor.Jika tumor tak
terpalpasi dengan jelas, kombinasi dengan USG dapat dilakukan.
Spesimen FNAB kadang tidak dapat menentukan grade tumor dan
kadang tidak member diagnosis yang jelas sehingga membutuhkan
biopsy lain.
e. Core Biopsi
Dilakukan dengan jarum yang cukup besar, dapat dilakukan sambil
fiksasi dengan palpasi, ataupun dipandu USG, mammografi atau
MRI.Core biopsy dapat membedakan tumor invasive dan tumor non
invasif, serta dapat menentukan grade tumor.Core biopsy membutuhkan
biopsy terbuka untuk memberi diagnosis.Juga dapat digunakan untuk
membiopsi kelainan yang tidak dapat dipalpasi, tapi terlihat pada
mammografi.
f. Biopsi terbuka
Dilakukan billa pada mammografi terlihat kelainan mengarah maligna,
namun pada FNAB atau core biopsy meragukan. Bila mammografi (+)
tetapi FNAB (-)perlu dilakukan biopsy terbuka. Namun bila mamografi
namun gejala klinis pasien mengarah kanker, wajib dilakukan biopsy
terbuka.
g. Sentinel Lobe Biopsi
Dilakukan untuk menentukan status keterlibatan kelenjar limfe aksila
dan parasternal.Prosedur ini menggunakan kombinasi pelacak radioaktif
dan pewarna biru. Apabila tidak dijumpai sentinel lobe, diseksi kelenjar
limfe tidak perlu dilakukan. Namun bila dijumpai sentinel lobe, harus
dilakukan diseksi kelenjar limfe.
h. Ca 15.3
Terutama untuk monitoring kanker payudara. Peningkatan kadar Ca 15-3
darah dijumpai pada kurang dari 10 % pasien dengan stadium awal dan
sekitar 70 % pasien dengan stadium lanjut. Kadar biasanya turun seiring
keberhasilan terapi. Kadar normal biasanya kurang dari 25 U/mL, tapi
kadar sampai 100 U/mL kadang dijumpai pada wanita sehat.
i. Imunohistokimia
Dilakukan untuk membantu terapi target, yaitu pemeriksaan ER
(esterogen

reseptor),

PR

(progesterone

reseptor),

HER-2.Kanker

payudara yang memiliki ER + dan PR + memiliki prognosis lebih baik

karena masih peka terhadap terapi hormonal.HER 2 merupakan sejenis


protein pemicu pertumbuhan. Pada pemeriksaan 1 dari 5 pasien
penderita kanker payudara memiliki gen HER 2.
j. MRI
MRI menggunakan magnetic, MRI biasanya lebih baik dalam melihat
suatu kumpulan massa yang kecil pada payudara yang mungkin tidak
terlihat pada saat USG atau mammogram. Khususnya pada wanita yang
mempunyai jaringan payudara yang padat. Kelemahan MRI juga ada,
kadang jaringan padat yang terlihat pada saat MRI bukan kanker, atau
bahkan MRI tidak bisa menunjukkan suatu jaringan yang padat itu
sebagai in situ breast cancer maka untuk memastikan lagi harus
dilakukan biopsy.
k. TESDARAH
Tes darah
diperlukan untuk lebih mendalami kondisi kanker. Testesyang dilakukan antara lain :
- Level Hemoglobin ( HB ) : untuk mengetahui jumlah oksigen yang
-

ada di dalam sel darah merah.


Level Hematocrit : untuk mengetahui prosentase dari darah

merah didalam seluruh badan


- Jumlah dari sel darah putih : untuk membantu melawan infeksi
- Jumlah trombosit ( untuk membantu pembekuan darah )
- Differential ( prosentase dari beberapa sel darah putih )
l. Jumlah Alkaline Phosphatase
Jumlah enzyme yang tinggi bisa mengindikasikan penyebaran kanker ke
liver, hati dan saluran empedu dan tulang.
m.
SGOT & SGPT
Test ini untuk mengevaluasi fungsi lever. Angka yang tinggi dari salah
satu test ini mengindikasikan adanya kerusakan pada liver, bisa jadi
suatu sinyal adanya penyebaran ke liver
n. Tes-Tes Lain
Tes tes lain yang biasa dilakukan untuk kanker payudara adalah :
-

Photo Thorax
Untuk mengetahui apakah sudah ada penyebaran keparu-paru

Bonescan
Untuk mengetahui apakah kanker sudah menyebar ke tulang.Pada
bonescan, pasien disuntikkan radioactive tracer pada pembuluh
vena. Yang natinya akan berkumpul pada tulang yang menunjukkan
kelainan karena kanker. Jarak antara suntikan dan pelaksanaan
bonescan kira-kira 3-4 jam.Selama itu pasien dianjurkan minum
sebanyak-banyaknya. Hasil yang terlihat adalah gambar penampang

tulang lengkap dari depan dan belakang. Tulang yang menunjukkan


kelainan akan terlihat warnanya lebih gelap dari tulang normal.
-

Computed Tomography ( CT atau CAT ) Scan


Untuk melihat secara detail letak tumor. Disini pasien juga disuntik
radioactive tracer pada pembuluh vena, tapi volumenya lebih
banyak sehingga sebenarnya samadengan infuse. Setelah disuntik
CT-scan bisa segera dilakukan. CT-scan akan membuat gambar tiga
dimensi bagian dalam tubuh yang diambil dari berbagai sudut.
Hasilnya akan terlihat gambar potongan melintang bagian dari tubuh
yang discan 3 dimensi.

Positron Emission Tomography ( PET ) scan


Untuk melihat apakah kanker sudah menyebar.Dalam PET scan
cairan glukosa yang mengandung radioaktif disuntikkan pada pasien.
Sel kanker akan menyerap lebih cepat cairan glukosa tersebut,
dibanding sel normal. Sehingga akan terlihat warna kontras pada PET
scan. PET scan biasanya digunakan sebagai pelengkap data dari
hasil CTscan, MRI dan pemeriksaan secara fisik
(Abdul. 2011)

(Corwin, Elizabeth. 2009) (Dwi, Asti, dkk. 2010)

(Mardiana, Lina. 2010) (Mansjoer, dkk, 2000) (Sjamsuhidajat R.,


1997) (Pramudya. 2011) (Purwastuti, Endang. 2012) (Supandiman,
Iman. 1997) (Suzanne. 2002)
8. PENATALAKSANAAN MEDIS CA MAMMAE
a. Terapi Kanker Payudara
Pengobatan untuk kanker payudara yang terlokalisir
Untuk kanker yang terbatas pada payudara, pengobatannya hampir
selalu meliputi pembedahan (yang dilakukan segera setelah diagnosis
ditegakkan) untuk mengangkat sebanyak mungkin tumor.
Terdapat

sejumlah

pilihan

pembedahan,

pilihan

utama

adalah

mastektomi (pengangkatan seluruh payudara) atau pembedahan


Breast Conserving Therapy (hanya mengangkat tumor dan jaringan
normal di sekitarnya).
Pembedahan Breast Conserving Therapy
a) Lumpektomi
Pengangkatan tumor dan sejumlah kecil jaringan normal di
sekitarnya.

b) Eksisi luas atau wide local excision


Pengangkatan tumor dan jaringan normal di sekitarnya yang lebih
banyak.
c) Tylektomi
d) Segmental mastektomi
Pengangkatan tumor dan beberapa jaringan normal di
sekitarnya

memberikan

peluang

terbaik

untuk

mencegah

kambuhnya kanker. Keuntungan utama dari pembedahan breastconserving

ditambah

terapi

penyinaran

adalah

kosmetik.

Biasanya efek samping dari penyinaran tidak menimbulkan nyeri


dan berlangsung tidak lama. Kulit tampak merah atau melepuh.
e) Mastektomi
- Mastektomi simplek: seluruh jaringan payudara diangkat tetapi
otot dibawah payudara dibiarkan utuh dan disisakan kulit yang
cukup

untuk

menutup

luka

bekas

operasi.

Rekonstruksi

payudara lebih mudah dilakukan jika otot dada dan jaringan


lain dibawah payudara dibiarkan utuh.
- Prosedur ini biasanya digunakan untuk mengobati kanker
invasif yang telah menyebar luar ke dalam saluran air susu,
karena jika dilakukan pembedahan breast-conserving, kanker
sering kambuh.
- Mastektomi simplek ditambah diseksi kelenjar getah bening
atau modified radical mastectomy: seluruh jaringan payudara
diangkat

dengan

menyisakan

otot

dan

kulit,

disertai

pengangkatan kelenjar getah bening ketiak.


- Mastektomi radikal: seluruh payudara, otot dada dan jaringan
lainnya diangkat.
f) Rekonstrusi payudara
Untuk rekonstruksi payudara bisa digunakan implan silikon atau
salin maupun jaringan yang diambil dari bagian tubuh lainnya.
Rekonstruksi bisa dilakukan bersamaan dengan mastektomi atau
bisa juga dilakukan di kemudian hari.
Akhir-akhir ini keamanan pemakaian silikon telah dipertanyakan.
Silikon kadang merembes dari kantongnya sehingga implan
menjadi keras, menimbulkan nyeri dan bentuknya berubah. Selain
itu, silikon kadang masuk ke dalam laliran darah.

Terapi Radiasi
Indikasi Terapi Radiasi Pada Kanker Payudara
Terapi radiasi pada kanker payudara diberikan apabila ditemukan
keadaan sebagai berikut:
a) Setelah tindakan operasi terbatas (BCS)
b) Tepi sayatan dekat (T T2)/ tidak bebas tumor
c) Tumor sentral/medial
d) KGB (+) dengan ekstensi ekstra kapsuler
Acuan pemberian radiasi adalah sebagai berikut:
Pada dasarnya diberikan radiasi lokoregional (payudara dan aksila
besertasupraklavikula, kecuali:
-

Pada keadaan T T2 bila cn = 0 dan pn, maka tidak


dilakukan radiasi pada KGB aksila supraklavikula

Pada keadaan tumor di medial/sentral diberikan tambahan


radiasi pada mamaria interna

Dosis lokoregional profilaksis adalah 50Gy, booster dilakukan


sbb:
- Pada potensial terjadi residif ditambahkan 10Gy (misalnya tepi
sayatan dekat tumor atau post BCS)
- Pada terdapat massa tumor atau residu post op (mikroskopik
atau makroskopik) maka diberikan boster dengan dosis 20Gy
kecuali pada aksila 15Gy.

Cara Terapi Radiasi


External beam radiation atau radiasi dari luar adalah tipe radiasi
paling

umum

bagi

penderita

dengan

kanker

payudara.Radiasi

tersebut diarahkan dari mesin ke tubuh bagian luar di area yang


terkena kanker.
Pada beberapa wanita, payudara menjadi lebih kecil dan keras
setelah

terapi

radiasi.Menjalani

radiasi,

juga

mempengaruhi

kesempatan penderita untuk melakukan rekonstruksi payudara.Terapi


radiasi pada kelenjar getah bening di daerah ketiak juga dapat,
menyebabkan timbulnya lympedema (pembengkakan kelenjar getah
bening).
Pada

beberapa

kasus

yang

jarang,

terapi

radiasi

dapat

melemahkan tulang rusuk, sehingga dapat menyebabkan patah

tulang.Di masa lalu, bagian dari paru dan jantung juga mendapatkan
sinar radiasi, yang pada jangka waktu yang lama dapat menyebabkan
kerusakan organ-organ tersebut pada penderita. Peralatan terapi
radiasi modern memungkinkan dokter untuk menfokuskan sinar
radiasi, sehingga maslah seperti di atas menjadi jarang
Pengobatan Sistemik.
a.

Kemoterapi
Efek samping dari kemoterapi bisa berupa mual, lelah, muntah,
luka terbuka di mulut yang menimbulkan nyeri atau kerontokan
rambut yang sifatnya sementara.
Pada saat ini muntah relatif jarang terjadi karena adanya obat

ondansetron.
Tanpa ondansetron, penderita akan muntah sebanyak 1-6 kali
selama 1-3 hari setelah kemoterapi. Berat dan lamanya muntah
bervariasi, tergantung kepada jenis kemoterapi yang digunakan
dan penderita. Selama beberapa bulan, penderita juga menjadi
lebih peka terhadap infeksi dan perdarahan. Tetapi pada akhirnya
efek samping tersebut akan menghilang.
b. Terapi hormonal
-

Tamoxifen
Awalnya

diindikasikan

untuk

mengobati

pasien

pasca

menopause dengan reseptor estrogen dan nodus aksilaris


positif. Efek samping: mual, muntah, panas, retensi cairan.
-

Diethylstillbestrol
Menghambat

pelepasan

FSH

dan

LH

dengan

demikian

menurunkan pembentukan estrogen dan ikatan estrogen.


Efek samping: penambahan berat badan,mual, retensi cairan
-

Megestrol
Menurunkan

jumlah

reseptor

estrogen.

Efek

samping:

penambahan BB
-

Fluksimesteron
Menekan estrogen dengan menekan LH dan FSH. Efek
samping:

peningkatan

rambut di wajah
-

Aminoglutetimid

libido,

peningkatan

pertumbuhan

Menghambat aromatase, enzim yang bertanggung jawab


terhadap perubahn androgen dan estrogen. Efek samping:
gatal, hipofungsi kortikal adrenal.
c.

Transplantasi sumsum tulang


Pengangkatan sumsum tulang dari pasien dan memberikan
kemoterapi dosis tinggi, sumsum tulang pasien yang dipisah kan
dari

efek

kemoterapi

kemudian

diinfuskan

kembali

secara

intravena
Protokol Pengobatan Kanker Payudara
a) Stadium I
-

MRM sebagai terapi utama.

Bila KGB axilla tidak metastase, maka tidak perlu radiology post
operasi

Bila yang dilakukan hanya mastektomi simpel/ BCT harus diikuti


radiasi tumor bed dandaerah KGB regional (radiasi local dan
regional)

b) Stadium II
-

MRM sebagai terapi utama.

Radiasi eksterna dan

kemoterapi maupun hormonal bila ada

metastase ke KGB axilla dapat diberikan sebagai terapi adjuvans.


c) Stadium IIIA
-

MRM sebagai terapi utama

Terapi adjuvans meliputi radiasi eksterna, kemoterapi dan terapi


hormonal.

d) Stadium IIIb
Operable
simple mastektomi dan axillary toilet. Terapi adjuvans meliputi
radiasi eksterna, hormonal dan kemoterapi.
Kemoterapi 3x kemudian MRM. Terapi adjuvans post op 3x dan
bila perlu dilakukan radiasi eksterna.
Inoperable
Radiasi eksterna pre operative, bila operable maka dilakukan
mastektomi simpel. Bila tetap inoperable, lanjutkan radiasi 50006000cGy. Terapi adjuvans dengan melanjutkan radiasi eksterna

2000-3000 cGy dan bila perlu terapi hormonal dan atau


kemoterapi
Kemoterapi neoajuvans 3x. Bila operablemastektomi simple.
Bila inoperableteruskan sampai 6 kali. Terapi adjuvans meliputi
radiasi eksterna dan hormonal terapi.
e) Stadium IV
-

Prinsip paliatif

Premenopause Oophorektomi dilanjutkan kemoterapi. Bila perlu


dilakukan mastektomi simple atau radioterapi paliatif.

PostmenopauseTerapi hormonal dengan atau tanpa kombinasi


kemoterapi.

Bila

perlu

dilakukan

mastektomi

simple

atau

radioterapi paliatif.
(Abdul. 2011: Dwi, Asti, dkk. 2010: Mardiana, Lina. 2010: Doenges
M., 2000: Dixon M., dkk, 2005: Sjamsuhidajat R., 1997: Tapan,
2005: Supandiman, Iman. 1997: Suzanne. 2002)
b. Pencegahan
SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri)
1. Berdiri di depan cermin, perhatikan payudara. Dalam keadaan
normal, ukuran payudara kiri dan kanan sedikit berbeda. Perhatikan
perubahan perbedaan ukuran antara payudara kiri dan kanan dan
perubahan pada puting susu (misalnya tertarik ke dalam) atau
keluarnya cairan dari puting susu. Perhatikan apakah kulit pada
puting susu berkerut.
2. Masih berdiri di depan cermin, kedua telapak tangan diletakkan di
belakang kepala dan kedua tangan ditarik ke belakang. Dengan
posisi seperti ini maka akan lebih mudah untuk menemukan
perubahan kecil akibat kanker. Perhatikan perubahan bentuk dan
kontur payudara, terutama pada payudara bagian bawah.
3. Kedua tangan di letakkan di pinggang dan badan agak condong ke
arah cermin, tekan bahu dan sikut ke arah depan. Perhatikan
perubahan ukuran dan kontur payudara.
4. Angkat lengan kiri. Dengan menggunakan 3 atau 4 jari tangan
kanan, telusuri payudara kiri. Gerakkan jari-jari tangan secara
memutar (membentuk lingkaran kecil) di sekeliling payudara, mulai
dari tepi luar payudara lalu bergerak ke arah dalam sampai ke

puting susu. Tekan secara perlahan, rasakan setiap benjolan atau


massa di bawah kulit. Lakukan hal yang sama terhadap payudara
kanan dengan cara mengangkat lengan kanan dan memeriksanya
dengan tangan kiri. Perhatikan juga daerah antara kedua payudara
dan ketiak.
5. Tekan puting susu secara perlahan dan perhatikan apakah keluar
cairan dari puting susu.Lakukan hal ini secara bergantian pada
payudara kiri dan kanan.
6. Berbaring terlentang dengan bantal yang diletakkan di bawah bahu
kiri dan lengan kiri ditarik ke atas. Telusuri payudara kiri dengan
menggunakan jari-jari tangan kanan. Dengan posisi seperti ini,
payudara akan mendatar dan memudahkan pemeriksaan. Lakukan
hal yang sama terhadap payudara kanan dengan meletakkan bantal
di bawah bahu kanan dan mengangkat lengan kanan, dan
penelusuran

payudara

dilakukan

oleh

jari-jari

tangan

kiri.

Pemeriksaan no. 4 dan 5 akan lebih mudah dilakukan ketika mandi


karena dalam keadaan basah tangan lebih mudah digerakkan dan
kulit lebih licin.

9. ASUHAN KEPERAWATAN CA MAMMAE


A. Pengkajian
Identitas klien
Nama, Umur, Suku/ Bangsa, Agama, Pendidikan, Pekerjaan, Alamat
Rumah, Telp. Rumah, No HP, Alamat tmp Kerja, Golongan Darah.
Keluhan utama
Data ini perlu dikaji untuk mengetahui keluhan utama ibu, sejak
kapan dirasakan, dimana dirasakan dan apa saja yang sudah
dilakukan untuk mengatasinya. Pada pasien Ca mammaae keluhan
umum

yang

dikeluhkan

pasien

adalah

adanya

benjolan

pada

payudara, kadang disertai kadang tidak nyeri, kadang disertai


bengkak, dan pada stadium lanjut disertai pengeluaran abnormal dan
perubahan dalam bentuk, dan penampakan payudara (tidak simetris,
kulit payudara seperti kulit jeruk peau dorange putting tertarik
kedalam)
Riwayat Menstruasi
Data ini perlu dikaji untuk mengetahui usia menarche, siklus haid,
lama haid, ganguan dalam haid, umur menopause. Pada pasien Ca

mammae umumnya menarche pada usia< 12 tahun dan menopause


> 50 tahun dan periode haid lebih lama
Riwayat Perkawinan
Data ini diperlukan untuk mengetahui usia saat menikah, berapa kali
menikah, lama pernikahan dan status pernikahan.
Riwayat Kehamilan, Persalinan, Nifas laktasi dan Pemakaian Metode
Kontrasepsi.
Data ini dikaji untuk mengetahui riwayat kehamilan, persalinan, nifas,
laktasi dan pemakaian kontrasepsi.Pada pasien Ca mammae biasanya
memiliki riwayat hamil pertama >35 tahun, hamil pertama < 20
tahun, tidak memiliki anak tidak pernah menyusui, penggunaan
kontrasepsi pil jangka panjang lebih dari 12 tahun.
Riwayat Kesehatan
Data ini dikaji untuk mengetahui status kesehatan ibu dan keluarga.
Pada pasien Ca mammae pada umumnya memiliki riwayat kesehatan
: pernah menderita Ca mammae pada satu payudara, ada keluarga
(ibu/saudara wanita) menderita penyakit ini dan dikuatkan bila 3
anggota keluarga terkena Ca. mamma, kelainan payudara lain
(benigna), pernah/ sedang menjalani terapi hormonal, infertil.
Keadaan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
- Pola Makan dan Minum
Data ini dikaji untuk mengetahui pola makan dan minum pasien.
Ca

mammae

cenderung

terjadi

pada

orang

yang

sering

mengkonsumsi makanan yang kurang sehat (fast food, dengan


bahan pengawet, penyedap rasa, asupan makanan berlemak
-

berlebih dan pewarna makanan)


Pola Eliminasi
Data ini dikaji untuk mengetahui pola eliminasi pasien.
Istirahat dan Tidur
Data ini dikaji untuk mengetahui pola istirahat dan gangguannya.
Personal Hygiene
Data ini dikaji untuk mengetahui personal hygiene pasien.
Prilaku Seksual
Data ini dikaji untuk mengetahui kapan umur pertama kontak

seksual, dan pola hubungan seksual (gonta ganti pasangan)


Respon Keluarga Terhadap Kesehatan pasien
Data ini untuk mengetahui bagaimana respon keluarga terhadap

kesehatan pasien terkait dengan keluhan yang dirasakan.


Dukungan Keluarga
Data ini perlu dikaji bagaimana dukungan keluarga dalam
memotivasi dan memberikan dorongan psikis pada pasien untuk
menghadapi
lanjut.

dan

menjalani

pemeriksaan/

pengobatan

lebih

Pengambilan Keputusan Dalam Keluarga


Hali ini diperlukan untuk mengetahui pola pemecahan dalam
keluarga dan siapa yang bertanggung jawab terhadap masalah

dalam keluarga.
Prilaku/ Kebiasaan yang Merugikan kesehatan
Data ini dikaji untuk mengetahui pola hidup pasien yang menjadi
faktor predisposisi terjadinya Ca mammae seperti merokok (pasif/

aktif) dan konsumsi minuman beralkohol dan kurang olahraga.


Prilaku Spiritual
Data ini dikaji untuk mengetahui bagaimana penerimaan ibu

terhadap suatu keadaan berhubungan dengan spiritual (berdoa)


Pengetahuan
Data ini dikaji untuk mengetahui seberapa pengetahuan ibu tentang
kesehatan terutama yang terkait dengan keluhan yang dialami.
Data Obyektif
a) Keadaan Umum
Pasien Ca mammae stadium dini pada umumnya terlihat sehat,
akan tetapi keadaannya akan bertambah buruk seiring dengan
makin parahnya penyakit.
b) Keadaan Emosi
Tergantung dari tingkat penerimaan pasien dan tingkat dukungan
dari keluarga
c) Postur
Postur tubuh pasien pada umumnya terlihat baik
d) Tanda Tanda Vital
- Tekanan Darah
- Nadi
- Suhu
- Respirasi
e) Antropometri
- Berat Badan
Ca mammae pada umumnya terjadi pasien obesitas (hal ini
berhubungan dengan kadar estrogen)
Tinggi Badan
LILA
Untuk mengetahui status gizi pasien
Pemeriksaan fisik
Payudara dan Aksila
a) Bentuk
Pada Ca mammae pada umumnya bentuknya tidak simetris
b) Putting Susu
Pada Ca mammae dapat disertai dengan penarikan putting susu,
f)

adanya sel-sel pagets, merah dan menebal)


c) Pengeluaran
Pada Ca mammae dapat disertai pengeluaran abnormal (cairan
seperti nanah)
d) Kelainan

Pada Ca mammae pada umumnya terdapat benjolan abnormal,


yang keras, padat, mobile/ tidak, kulit seperti kulit jeruk (peau
dorange), kulit terlihat lebih gelap)
e) Aksila
Ada kemungkinan terjadi pembesaran,

pembengkakan

dan

benjolan pada aksila sehingga nyeri saat perabaan.


B. ANALISA DATA
Data
DO:
DS:

Etiologi
Faktor predisposisi/faktor risiko

Masalah Keperawatan
Ansietas

Terpapar zat karsinogenik


terusmenerus
proliferasi abnormal pada sel
normal
neoplasia sel payudara
Kanker payudara
Merusak sel/jaringan
Peningkatan konsistensi
mammae
Kurang pengetahuan
Ansietas

DO:
DS:

Faktor predisposisi/faktor risiko


Terpapar zat karsinogenik terus
menerus
Proliferasi abnormal pada sel
normal
Neoplasia selpayudara
Kanker payudara
Merusak sel/jaringan
Peningkatan konsistensi
mammae
Tidak memahami perjalanan
penyakit

Defisiensi
pengetahuan

Defisiensi pengetahuan
DO:
DS:

Faktor predisposisi/faktor risiko

Nyeri akut/ kronis

Terpapar zat karsinogenik terus


menerus
Proliferasi abnormal pada sel
normal
Neoplasia sel payudara
Kanker payudara
Merusak sel/jaringan
Mendesak sel saraf
Interupsi sel saraf
Nyeri

DO:
DS:

Faktor predisposisi/faktor risiko

Gangguan citra tubuh

Terpapar zat karsinogenik terus


menerus
Proliferasi abnormal pada sel
normal
Neoplasia sel payudara
Kanker payudara
Merusak sel/jaringan
Peningkatan konsistensi
mammae
Mammmae asimetrik
Gangguan citra tubuh

DO:
DS:

Faktor predisposisi/faktor risiko


Terpapar zat karsinogenik terus
menerus
Proliferasi abnormal pada sel
normal
Neoplasia sel payudara
Kanker payudara

Gangguan
nutrisi
(kurang
dari
kebutuhan tubuh)

Suplai nutrisi ke jar.Ca meningkat


Hipermetabolisme jaringan
Suplai nutrisi jar.lain
BB turun
Gangguan nutrisi (kurang dari
kebutuhan tubuh)
DO:
DS:

Faktor predisposisi/faktor risiko

Resiko infeksi

Terpapar zat karsinogenik terus


menerus
Proliferasi abnormal pada sel
normal
Neoplasia sel payudara
Kanker payudara
Infiltrasi pemb.darah
Aliran darah terhambat
Hipoksia
Nekrosa jaringan
Bakteri patogen

DO:
DS:

Resiko infeksi
Faktor predisposisi/faktor risiko
Terpapar zat karsinogenik terus
menerus
Proliferasi abnormal pada sel
normal
Neoplasia sel payudara
Kanker payudara
Infiltrasi pemb.limfe
Bendungan limfe lokal
Edema sekitar kanker
Peau dorange

Resiko
kerusakan
integritas kulit

Resiko kerusakan integritas kulit

Prioritas Diagnosa Keperawatan


PRA OPERASI
1. Ansietas

berhubungan

dengan

situasi

krisis

(kanker),

perubahan

kesehatan, sosio ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan


kematian, pemisahan dengan keluarga ditandai dengan peningkatan
tegangan, kelelahan, mengekspresikan kecanggungan peran, perasaan
tergantung,

tidak

adekuat

kemampuan

menolong

diri,

stimulasi

simpatetik.
2. Defisiensi pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan
berhubungan

dengan

kurangnya

informasi,

misinterpretasi,

keterbatasan kognitif ditandai dengan sering bertanya, menyatakan


masalahnya, pernyataan miskonsepsi, tidak akurat dalam mengikiuti
intruksi/pencegahan komplikasi.
POST OPERASI
1. Nyeri akut/ kronis berhubungan dengan prosedur pembedahan, trauma
jaringan, interupsi saraf, diseksi otot.
2. Gangguan citra tubuh b.d perubahan dalam penampilan sekunder
terhadap pemberian sitostatika.
3. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan
hipermetabolik

yang

khemotherapi,

radiasi,

kurangnya

rasa

berhubungan
pembedahan

kecap,

nausea),

dengan

kanker,

(anoreksia,
emotional

konsekwensi

iritasi
distress,

lambung,
fatigue,

ketidakmampuan mengontrol nyeri ditandai dengan klien mengatakan


intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, berat
badan turun sampai 20% atau lebih dibawah ideal, penurunan massa
otot dan lemak subkutan, konstipasi, abdominal cramping.
4. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh
sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi,
prosedur invasive pembedahan
5. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pembedahan,
efek radiasi dan kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake
nutrisi dan anemia.

C. PLANNING
1. Ansietas b.d.situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan.
Tujuan : setelah asuhan keperawatan 2x24 jam ansietas berkurang
KH :
-

Klien dapat mengurangi rasa cemasnya

Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif.

Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi


dalam pengobatan.

Intervensi
1. Tentukan pengalaman klien sebelumnya terhadap penyakit yang
dideritanya.
2. Berikan informasi tentang prognosis secara akurat.
3. Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah,
takut, konfrontasi. Beri informasi dengan emosi wajar dan ekspresi
yang sesuai.
4. Jelaskan pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu klien
mempersiapkan diri dalam pengobatan.
5. Catat koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, dan
ketidak berdayaan.
6. Anjurkan

untuk

mengembangkan

interaksi

dengan

support

system.
7. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman.
8. Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan
wajar.

2. Defisiensi

pengetahuantentang

pengobatan

berhubungan

penyakit,

dengan

prognosis

kurangnya

dan

informasi,

keterbatasan kognitif ditandai dengan sering bertanya.


Tujuan

setelah

dilakukan

asuhan

keperawatan

2x24

jam

pengetahuan klien meningkat


KH:
- Klien dapat mengatakan secara akurat tentang diagnosis dan
pengobatan pada tingkatan siap.
- Mengikuti prosedur dengan baik dan menjelaskan tentang alasan
mengikuti prosedur tersebut.
- Mempunyai

inisiatif

dalam

perubahan

gaya

hidup

dan

berpartisipasi dalam pengobatan.


- Bekerjasama dengan pemberi informasi.
Intervensi
1. Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang diagnosa, pengobatan
dan akibatnya.
2. Tentukan persepsi klien tentang kanker dan pengobatannya,
ceritakan pada klien tentang pengalaman klien lain yang menderita
kanker.
3. Beri informasi yang akurat dan faktual. Jawab pertanyaan secara
spesifik, hindarkan informasi yang tidak diperlukan.
4. Berikan

bimbingan

kepada

klien/keluarga

sebelum

mengikuti

prosedur pengobatan, therapy yang lama, komplikasi. Jujurlah pada


klien.
5. Anjurkan

klien

untuk

memberikan

umpan

balik

verbal

dan

mengkoreksi miskonsepsi tentang penyakitnya.


6. Review klien /keluarga tentang pentingnya status nutrisi yang
optimal.
7. Anjurkan klien untuk mengkaji membran mukosa mulutnya secara
rutin, perhatikan adanya eritema, ulcerasi.
8. Anjurkan klien memelihara kebersihan kulit dan rambut.

3. Nyeri akut/ kronis berhubungan dengan prosedur pembedahan,


trauma jaringan, interupsi saraf, diseksi otot.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam nyeri
berkurang
KH:
-

Tampak rileks

Mampu tidur atau istirahat dengan tepat

Mengekspresikan penurunan nyeri


Intervensi
1. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya, dan intensitas
(skala 0-10)

2. Diskusikan sensasi masih adanya payudara normal


3. Bantu pasien menemukan posisi nyaman
4. Berikan tindakan kenyamanan dasar tehnik relaksasi
5. Sokong dada saat latihan nafas dalam
6. Berikan obat nyeri yang tepat pada jadwal teratur sebelum
nyeri berat dan sebelum aktivitas dijadwalkan
7. Berikan analgetik sesuai dengan indikasi

4. Dx :Gangguan citra tubuh b.d perubahan dalam penampilan


sekunder terhadap pemberian sitostatika.
Tujuan :Setelah diberikan tindakan perawatan, konsep diri dan
persepsi klien menjadi stabil
KH:
-

Klien mampu untuk mengeskpresikan perasaan tentang


kondisinya

Klien mampu membagi perasaan dengan perawat, keluarga


dan orang dekat.

-Klien mengkomunikasikan perasaan tentang perubahan dirinya


secara konstruktif.
-

Klien mampu berpartisipasi dalam perawatan diri.


Intervensi
1. Kontak dengan klien sering dan perlakukan klien dengan hangat
dan sikap positif.
2. Berikan dorongan pada klien untuk mengekpresikan perasaan
dan

pikiran

tentang

kondisi,

kemajuan,

prognose,

sisem

pendukung dan pengobatan.


3. Berikan informasi yang dapat dipercaya dan klarifikasi setiap
mispersepsi tentang penyakitnya.
4. Bantu klien mengidentifikasi potensial kesempatan untuk hidup
mandiri melewati hidup dengan kanker, meliputi hubungan
interpersonal, peningkatan pengetahuan, kekuatan pribadi dan
pengertian serta perkembangan spiritual dan moral.
5. Kaji

respon

negatif

terhadap

perubahan

penampilan

(menyangkal perubahan, penurunan kemampuan merawat diri,


isolasi sosial, penolakan untuk mendiskusikan masa depan.
6. Bantu

dalam

penatalaksanaan

alopesia

sesuai

dengan

kebutuhan.
Kolaborasi dengan tim kesehatan lain yang terkait untuk
tindakan konseling secara profesional.
5. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan
dengan

hipermetabolik

yang

berhubungan

dengan

kanker,

konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi


lambung, kurangnya rasa kecap, nausea).
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan pemenuhan
kebutuhan klien terpenuhi
KH:
- Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal dan
tidak ada tanda malnutrisi
-

Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang


adekuat

-Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan


dengan penyakitnya.
Intervensi
1. Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai
dengan kebutuhannya.
2. Timbang dan ukur berat badan, ukuran triceps serta amati
penurunan berat badan.
3. Kaji pucat, penyembuhan luka yang lambat dan pembesaran
kelenjar parotis.
4. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori
dengan intake cairan yang adekuat. Anjurkan pula makanan
kecil untuk klien.
5. Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising.
Hindarkan makanan yang terlalu manis, berlemak dan pedas.
6. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan
bersama teman atau keluarga.
7. Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan moderate sebelum
makan.
8. Anjurkan komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang
dialami klien.
Kolaboratif

9. Amati studi laboraturium seperti total limposit, serum transferin


dan albumin
10.Berikan pengobatan sesuai indikasi
Phenotiazine,

antidopaminergic,

corticosteroids,

vitamins

khususnya A,D,E dan B6, antacida


11.Pasang pipa nasogastrik untuk memberikan makanan secara
enteral, imbangi dengan infus.

6. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan


tubuh sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi),
malnutrisi, prosedur invasive pembedahan.
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan 2x24 jam tidak
terjadi resiko infeksi
KH :
-

TTV dalam batas normal


TD : 120/80 mmHg

N : 60-100x/menit

RR : 16 -20x/menit

S : 36-380C

Mampu mempertahankan lingkungan akseptik yang aman

Mampu

mengidentifikasi

faktor-faktor

resiko

individu

dan

intervensi untukmengurangi potensial infeksi.


Intervensi
1. Kaji balutan / luka untuk karakteristik drainage
2. Pantau vital sign
3. Perhatikan prinsip septik, antiseptik setiap tindakan.
4. Ganti balutan / rawat luka tiap hari
5. Kaji dolor, color, rubor (tanda-tanda infeksi)
6. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
7. Kolaborasi, pemberian antibiotik

7. Dx :Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan


pembedahan, efek radiasi dan kemotherapi, deficit imunologik,
penurunan intake nutrisi dan anemia.
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x24 jam tidak ada
resiko kerusakan integritas kulit

KH :
- Klien

dapat

mengidentifikasi

intervensi

yang

berhubungan

dengan kondisi spesifik


- Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi dan percepatan
penyembuhan
Intervensi
1. Kaji integritas kulit untuk melihat adanya efek samping therapi
kanker, amati penyembuhan luka.
2. Anjurkan klien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal.
3. Ubah posisi klien secara teratur.
4. Berikan advise pada klien untuk menghindari pemakaian cream
kulit, minyak, bedak tanpa rekomendasi dokter.

PATOFISIOLOGI CA MAMMAE

Faktor yang tidak dapat


dikontrol:
- Usia, Jenis kelamin
- Riwayat keluarga, Riwayat
penyakit
- Riwayat menstruasi
- Ras, genetic

Faktor yang dapat dikontrol:


- Riwayat melahirkan
- Alkohol
- Obesitas
- Radiasi
- Kontrasepsi

Terpapar zat
karsinogenik terus
menerus menerus
Karsinoma bereaksi
dengan DNA
Sel normal menjadi
promaligna (fase
Zat mutagen menaikkan
reaksi karsinogen (fase
promosi)
Aktivasi, mutasi,
danhilangnya gen
Promaligna
Maligna (fase progresi)
Neoplasma ganas
pada payudara
Kanker

Suplai
nutrisi ke
jaringan ca
Hipermetabolis
kejaringan

Mendesak

jaringan
sekitar

Menekan
jaringan pada
mammae

Suplai nutrisiPeningkatan
jaringan lainkonsistensi
mammae

infiltrasi

Pemb.limfe

Bendungan
limfe lokal
Edema
sekitar

Mendesak
Sel syaraf

Interupsi
sel saraf
MK: Nyeri
kronik

Mendesak

Pembuluh
darah
Aliran darah
terhambat
Hipoksi

Berat badan
turun
MK: Nutrisi
kurang dari
kebutuhan

Peau de
orange
Ukuran
mammae
abnormal
Mammae
asimetrik

Mammae
membengkak
Massa tumor
mendesak ke
jaringan luar

Infiltrasi pleura
parietale
Expansi paru
menurun

MK: Gg pola
nafas

Perfusi
jaringan
Ulkus
MK: Gg integritas
kulit/ jaringan

Nekrosis
jaringan
MK: Kurang
pengetahuan
MK:
ansietas

MK: Gg
body
image

Bakteri
Patogen
MK: Resiko
Infeksi

DAFTAR PUSTAKA
Abdul. 2011. Kaitan Gizi dengan Kanker Payudara pada Wanita. Jakarta :
Universitas Muhammadiyah
Corwin, Elizabeth. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC
Dixon M., dkk, 2005, Kelainan Payudara, Cetakan I, Dian Rakyat, Jakarta.
Doenges M., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta
Dwi, Asti, dkk. 2010.

Penyakit Genetika Kanker Payudara. Purwokerto:

Universitas Jendral Sudirman


Mansjoer, dkk, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jakarta: EGC
Mardiana, Lina. 2010. Kanker pada Wanita. Jakarta: Niaga Swadaya
Pramudya. 2011. Carsinoma Mammae. Bandung: Sartika
Purwastuti, Endang. 2012. Kanker Payudara. Yogyakarta. Kanisius
Sjamsuhidajat R., 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta
Supandiman, Iman. 1997. Pedoman Terapi Hematolog Onkologi. Bandung:
PT.Alumni
Suzanne. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Jakarta: EGC
Tapan, 2005, Kanker, Anti Oksidan dan Terapi Komplementer.Jakarta :Elex
Media Komputindo,.
Wijayakusuma,

H.

2008.Atasi

Puspaswara

Kanker

dengan

Tanaman

Obat.

Jakarta: