Anda di halaman 1dari 5

Arsitektur Islam di Asia Tenggara

Masuknya Islam ke Asia Tenggara

Peta selat malaka dan asia tenggara-timur-barat


Dimulai sejak abad pertama, selat malaka yang terdapat di kawasan laut asia
tenggara merupakan area yang mempunyai kedudukan yang sangat penting
dibidang pelayaran dan perdagangan internasional yang menghubungkan negrinegeri di asia timur, asia tenggara dan asia barat. Pelayaran di selat malaka dari
persia hingga ke china memberi pengaruh besar terhadap perkembangan
kekuasaan di china (618-907), kerajaan sriwijaya (abad ke 7-14), dan dinasti
umayyah (660-749). Sejak abad ke-7 islam telah datang di daerah bagian Timur
Asia, yaitu di negeri China,hal tersebut menimbulkan pertanyaan tentang
kedatangan islam ke daerah Asia Tenggara, sebagaimana telah disampaikan
diatas, Selat Malaka menjadi area penting dimana tidak menutup kemungkinan
para pedagang dan munaligh Arab dan Persia yang sampai di china selatan juga
menempuh pelayaran menuju Asia tenggara.
Kedatangan Islam di Asia Tengara ditandai dengan adanya pemberitaan dari IChing, seorang musafir Budha, yang mengadakan perjalanan dengan kapal PoSse di Canton pada tahun 671. Ia kemudian berlayar menuju arah selatan ke
Bhoga (diduga daerah palembang di Sumatera Selatan). Selain itu terdapat juga
pemberitaan dari china (sekitar tahun 758)dimana berisi tentang pemberontakan

yang di lakukan oleh orang Ta-Shin dan Po-se hingga membakar kota Canton.
Setelah itu mereka menyingkir dengan kapal menuju palembang untuk meminta
perlindungan dari kerajaan sriwijaya. Berdasarkan berita ini terlihat bahwa orang
Arab dan Persia yang sudah merupakan komunitas muslim itu sudah masuk ke
Asia Tenggara. Penjelasan di atas hanya sebagai bukti masuknya islam ke Asia
Tenggara, namun

penyebaran Isalam di Asia Tenggara sendiri

kemungkinan

sudah dilakukan sejak abad ke -7melalui kegiatan kaum pedagang dan para sufi.
Hal ini berbeda dengan daerah islam di dunis lainnya yang disebarluaskan
melalui penaklukan Arab dan Turki. Islam masuk di Asia Tenggara dengan jalan
damai, terbuka dan tanpa pemaksaan sehingga Islam sangat mudah di terima
masyarakat Asia Tenggara.
Perkembangn Arsitektur Islam di Asia Tenggara

Negara di asia tenggara


Di asia tenggara, islam merupakan kekuatan soial yang patut di perhitungkan,
karena hampir seluruh negara yang ada di asia tenggara penduduknya
mayoritas beragama Islam. Seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darusslam,
Burma, Filipina, Muangthai,siangapura, dan masih banyak lagi.

Di Indonesia

sendiri khususnya di wilayah Jawa Barat terdapat peninggalan kota lama yang
menarik untuk dibahas, yaitu Banten Lama. Dari bukti-bukti sejarah yang
ditinggalkan, terungkap bahwa di tempat ini pernah menjadi kota pelabuhan
internasional dari sebuah kerajaan Islam yang makmur, yang amat ramai
dikunjungi pedagang-pedagang asing dan berbagai negara. Kota tersebut lahir
pada abad XVI. mengalami kejayaan yang kemudian runtuh pada abad XIX.

Peninggalan kola lama itu kini disebut Banten Lama. Dari peninggalan Banten
Lama, dapat diperoleh gambaran mengenai perkembangan kota tersebut yang
ditinjau dari obyek arsitektur yang senantiasa berubah.

Peta banten lama


Kerajaan Islam Banten Lahir pada abad XVI, mengalami jaman keemasan pada
masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, dan kemudian jatuh ke dalam
kekuasaan kompeni Belanda, akhirnya pada abad XIX Kerajaan Banten hancur.
Kini Banten berstatus sebagai sebuah desa.Pada saat mengakhiri penghujung
abad XVI Masehi, Banten telah berkembang menjadi suatu pusat budaya tinggi
Islam (tamaddun) yang berwibawa di Asia Tenggara. Salah satu unsur dominan
dalam tamaddun itu adalah kehadiran dan berkembangnya arsitektur.Kota
Banten sebagai sub-sistem pemukiman tumbuh merambat dengan istana tetap
sebagai orientasi, baik yang bersifat sakral maupun profan. Didukung oleh
teknologi yang semakin diperinci dan diperluas, untuk menghasilkan produk
arsitektural yang memenuhi kebutuhan, ekspresi seni, lambang status dan
kenyamanan penghuni atau pemakainya.

Istana kaibon

pasar

banten lama

Mesjid

agung
Desain arsitektur kota Banten khususnya pada bagian initi kota, dimana terdapat
istana, mesjid, alun-alun, pasar, tempat tinggal para pejabat kerajaan, jaringan
air dan sebagainya, masih memperlihatkan berbagai segi yang sinambung
dengan konsep kota, yang pernah dianut pada masa-masa sebelum Islam
berakar sebagai sistem norma. Disain arsitektur kota Banten, beserta komponenkomponen pembentuknya, sekaligus mencerminkan hubungan manusia dengan
Tuhan

(hablum

minallah),

interaksi

antar

manusia/masyarakat

(hablum

minannas), serta interaksi dengan lingkungan (hablum min nafsihi). Kota islam di
banten

juga

menerapkan

Sistem

normatif

Islami,

dimana

menempatkan

manusia-manusia penghuni kota Banten, secara diamentral. Hal tersebut


berbeda dengan konsep yang dianut sebelum Islam, dimana para penghuni kota
dibedakan dalam sistim hirarki yang didasarkan pada kastanya sejak manusia itu
dilahirkan (ascribed) dan bukan alas dasar usaha dan hasil-hasil yang
dilakukannya (achieved).
Kompleksitas produk arsitektural Banten Lama, memperlihat pula kompleksitas
kebutuhan dan kepentingan yang pernah berkembang pada masa puncak
keemasannya. Istana Surosowan, Istana Kaibon, Mesjid Agung. Gedung Tiamah,
Jembatan Rante, Mesjid Pecinan, Klenteng Cina, Benteng Speelwijk, Pelabuhan
Karangantu dengan sarana dok pergudangannya, Waduk Tasik Ardi dengan
saluran serta isntansi penyaringannya, keseluruhannya itu merupakan indikasi
bahwa kompleksitas produk arsitektural

memang merupakan

salah

satu

parameter tamaddun, sejak tumbuh, berkembang, memuncak dan akhirnya


surut.
Jika melihat

contoh yang di jelaskan sebelunya berupa

Banten Lama dapat

dikatakan , ciri utama kota-kota Islam di Asia Tenggata adalah kehadiran unsur-

unsur arsitektural mesjid, istana, pasar, dan tidak terkecuali tembok pertahanan,
pelabuhan, dan sebagainya. Etnisitas penduduk kota-kota Islam juga semakin
beragam,

akibat

meningkatnya

aktivitas

perdagangan

regional

maupun

internasional. Dimana perkembangan kota sangat dipengaruhi oleh seseorang


yang berkuasa di suatu wilayah dengan dukungan masyakat yang damai.