Anda di halaman 1dari 6

diantarannya baik guru, kepala sekolah, bahkan sampai pada

TUGAS

masyarakat.

FAKTOR-FAKTOR KETIDAKHADIRAN GURU


DALAM BERTUGAS DI PEDALAMAN PAPUA

Fakta dilapangan menunjukkan bahwa pendidikan di


pedalaman dapat dikatakan kurang memadai atau bahkan
buruk dan memprihatinkan. Perlu dilakukan peninjauan
kembali kebijakan yang lebih melihat kepada masyarakat

Dosen Pengampu Mata Kuliah

pedalaman.
Menurut wawancara salah satu Inteleq asal suku Moni,

DR. LEONARD SAGISOLO, M.Pd

Linus Bagau pada Koran Papua Post Nabire (PPN)


menanggapi

dilematisasi

carut-marutnya

Pendidikan

dipedalaman Papua khususnnya di Sugapa (red, Intan Jaya):

Dibuat Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Mata Kuliah Manajemen Pendidikan

guru-guru yang telah menjadi pegawai negeri dan di


tempatkan oleh pemerintah Paniai di sugapa, pada umumnya
tidak punya hati untuk mengajar, dimana mereka hanya punya
hati untuk menerima uang, padahal ketika mereka melamar
untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sumpah janji
mereka keluarkan untuk tetap setia dan taat kepada tugas yang
pemerintah embani kepada mereka.
Hal ini dibuktikan dengan guru-guru yang bertugas di
Pedalaman lebih senang lalu lalang di kota-kota besar seperti
Kabupaten Paniai maupun Kabupaten Nabire bagai orang
yang tidak punya tugas dan tanggung jawab daripada tinggal
berlama-lama di tempat tugas untuk mengajar siswa yang
kadang jenuh dan membosankan karena sedikit ketidaktauan
mereka. Selain itu, banyak guru-guru yang lari ke Kabupaten
Paniai untuk menuntut jabatan politik yang lebih tinggi lagi
daripada hanya menjadi guru biasa.

Di buat Oleh:
AGUS YUDIAWAN
Nim. 0130160013

EDI HARYANTO
Nim. 0130160024

RASYID GAI
Nim. 0130160034

Tentu semua fakta dan realita tersebut sudah menjadi


rahasia umum. Namaun lebih dari pada itu, tidak elok jika

BAMBANG IRIANTORO
Nim. 0130160017

kita menyalahkan guru-guru atas ketidak hadirannya ditempat

NUMBERI
Nim.

tugasnnya.

Banyak

kendala

dan

faktor-faktor

yang

mempengaruhi hal tersebut. Sebagai pemerintah dan lapiasan


masyarakat

sebaiknnya

melihat

kebutuhan

guru-guru

dipedalaman sehingga mereka tetap eksis ditempat tugasnnya,

MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN


PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA PAPUA
2013

bukan terus menyalahkan mereka. Sebagai guru juga tidak


boleh lepas tangan untuk tidak bertugas di tempat kerjanya.
Harus memiliki komitmen dan ketegasan atas profesinnya dan
sumpahnnya ketika dilantaik.
Komitmen untuk mengabdi dalam upaya mencerdaskan

BAB I

dan pemerataan pendidikan masyarakat Indonesia sebainnya

PENDAHULUAN

tertanam bagi setiap guru dan pemerintah terkait dan


masyarakat mendukungnnya. Maka dari itu tentu masalah

1.1 Latar Belakang

ketidak hadiran guru dalam bertugas dapat diminimalisir.

Terciptanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal

Sehingga tujuan dari suatu lembaga pendidikan dapat tercapai

serta berkompoten disuatu daerah adalah kunci utama majunya

dan konstitusi dapat direalisasikan dimana setiap warga

daerah itu. Salah satu caraya yang dapat kita tempuh untuk

negara berhak mendapatkan pendidikan.

mewujudkan SDM yang handal adalah melalui jalur

Dari hal diatas maka diperlukan koordinasi yang solid

pendidikan. Pendidikan perlu mendapatkan perhatian yang

antara pemerintah, dinas, guru dan masyarakat untuk

begitu serius dari setiap lembaga yang mengaturnya. Semua

menigkatkan

satuan pendidik yang mengurus itu perlu di pantau serius oleh

kualitas

pendidikan

didaerah

khususnya

pedalaman Papua. Kesemuannya itu demi kemajuan SDM

pemerintah daerah selain kebijakan dan pelaksana pendidikan

yang

pada

akhirnya

akan

membawa

perubahan

dan

membangun daerahnya, lebih terpenting bahwa tujuan

sekadar untuk mendidik anak-anak tetapi juga mendidik anak-

pendidikan nasional dapat tercapai.

anak supaya mau menjadi guru. Bayangkan, kalau tidak ada

1.2 Rumusan Masalah

lagi yang mau menjadi guru, akan jadi apa bangsa ini,

Darai latar belakang diatas maka yang menjadi latar belakang

katanya.

dalam peneulisan maklahan ini adalah : Apakah yang


menjadi faktor yang menyebabkan guru mangkir dari tugas

Kehidupan guru di pedalaman sangat sulit. Saya

dan solusi yang tepat untuk meminimalisir kemangkiran

sendiri merasakan bagaimana sulitnya jadi guru di pedalaman.

guru.

Gaji dan fasilitas sangat minim, bahkan tidak mencukupi

1.3 Tujuan

untuk hidup di pedalaman yang semuanya serba mahal.


Bayangkan, untuk beli beras saja setiap bulan saya harus
keluarkan Rp 300.000 untuk 40 kg beras. Padahal gaji saya
hanya Rp 2 juta. Belum lagi gaji sering terlambat. Uang lauk
pauk dan insentif sudah lama tidak kami terima. Karena gaji
tidak mencukupi, saya harus cari usaha lain. Salah satunya
adalah berkebun. Dengan berkebun, selain menghemat
pengeluaran juga menambah penghasilan. Dengan gaji yang
pas-pasan, saya dan keluarga hidup apa adanya, tidak
bermimpi yang muluk-muluk.

Adapaun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah:


1. untuk mengetahui realitas guru dipedalaman
2. mengetahui
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
ketidakhadiran guru dalam bertugas di Pedalaman Papua
3. untuk mengetahui
solusi yang
tepat
dalam
mengantisipasi ketidakhadiran guru dalam bertugas di
Pedalaman Papua
BAB II
FAKTOR KETIDAK HADIRAN GURU DI
PEDALAMAN PAPUA
2.1 Fakta dan Realita Guru Di Pedalaman

Antonia Korain di depan murid


Dipedalaman infrastruktur

Tidak menjalankan kewajibannya sebagai guru alias

listrik

sangat

sulit

libur panjang tidak mengajar itu sudah jamak terjadi di

ditemaukan bahkan tidak ada. Buku penunjang dalam proses

sekolah dasar di Papua. Tidak heran kalau banyak anak lulusan

pembalajaran sudah usang ketinggalan zaman bahkan nyaris

SD di Papua tidak tahu membaca, menulis dan berhitung

tidak mengalami perubahan dari beberapa puluh tahun lalau.

dengan baik. Di tengah fenomena guru mangkir, memang

Di pedalaman tidak ada listrik dan tidak ada buku. Ini


membuat guru kesulitan untuk menyiapkan bahan mengajar
ucap ibu Antonia.

tidak mudah menemukan sosok guru yang bisa jadi panutan.


Tapi bukan berarti di sana tidak ada lagi guru yang punya

a.

dedikasi terhadap profesinya. Meski sedikit jumlahnya, kita


masih bisa temukan guru yang punya motivasi kuat menjadi

Antara Pengajar Sekaligus Pendidik


Sebagai guru, saya benar-benar prihatin dengan
kondisi sekolah sekarang yang kualitasnya semakin

guru bukan sekadar untuk mendapatkan pekerjaan tetapi demi

merosot. Sekolah di jaman Belanda dulu mutunya

mendidik anak-anak.

justru lebih bagus dari sekolah di jaman sekarang.

Adapun beberapa guruyang merasakan ganasnya

Dulu

mengajar dipedalaman adalah:

di

jaman

berkewajiban

Ibu Antonia Korain, guru sekaligus kepala sekolah SD di


Kampung Mosun, Distrik Aifat Utara, Kabupaten Maybrat,
Papua Barat.

Belanda,

mengajar

guru

tetapi

tidak

juga

hanya

mendidik.

Sekarang ini tanggung jawab guru hanya sebatas


mengajar.

Antonia Mengajar
Antonia Korain, 42 tahun, ibu tiga anak yang lahir
dan besar di kampung Mosun ini sejak kecil memang sudah

Antara Mengajar dan mendidik sangatlah berbeda.


Bagi saya mengajar itu menyampaikan
informasi atau pengetahuan, jadi siapa saja bisa
mengajar. Sedangkan mendidik tidak semua orang

bercita-cita menjadi guru. Alasannya, sekolah di kampungnya


kekurangan guru. Lebih dari itu, ia ingin menjadi guru bukan

bisa melakukannya. Sebab mendidik bukan hanya


menyampaikan pengetahuan tetapi juga membuat
anak bisa berkembang menjadi orang baik dan
berkembang sesuai potensi yang dimilikinya.
Banyak

sekolah

sekarang

yang

sertifikasi, nasib saya sebagai guru tidak akan ada


perubahan, baik dalam hal kesejahteraan maupun
dalam hal fasilitas.

guru-

gurunya hanya tahu mengajar. Guru tidak lagi mau


berpikir bagaimana membuat anak-anak tumbuh
berkembang sesuai potensinya dan memiliki karakter.
Tapi semua ini bukan semata kesalahan guru.
Kebijakan

pemerintah

sendiri

juga

cenderung

membatasi peran guru hanya sebatas mengajar.

Sekolah kayu

Pemerintah menghapus pendidikan untuk guru (SPG)


dan membuat program sertifikasi guru. Dengan

c.

Pengorbanan Guru Pedalaman

program sertifikasi ini tampaknya pemerintah hendak

b.

Cukup

banyak

pengorbanan

guru

SD

menggarisbawahi peran guru sebatas mengajar dan

pedalaman terhadap kelangsungan proses belajar

bukan mendidik. Padahal dengan sistem SPG dulu,

mengajar. Bahkan sebelum ada dana BOS kami para

guru-guru dididik untuk menjadi pengajar sekaligus

guru rela memotong gaji kami sendiri demi

pendidik.

membayar guru honorer. Karena tenaga guru kurang

Kebijakan Yang Tidak Menguntungkan Guru di

dan para guru kewalahan, maka saya bersama para

Pedalaman
Kebijakan pemerintah yang menghapus SPG dan

guru bersepakat untuk mempekerjakan guru honorer.

menerapkan

program

sertifikasi

Guru honorer itu kami bayar dengan cara memotong

tidak

gaji kami sendiri sebagai kepala sekolah dan guru

menguntungkan bagi sekolah di pedalaman. Dulu

sebesar Rp 50.000 100.000 per bulan selama

ketika masih ada SPG keadaan tidak separah seperti

setahun dan ditambah dengan sumbangan dari orang

sekarang. Sejak SPG ditutup, kondisi tenaga guru

tua murid. Dari itulah banyak guru yang meniggalkan

kian memprihatinkan. Dengan hilangnya SPG, hilang

tempat tugasnnya karena pemotongan-pemotongan

pula kesempatan bagi sekolah pedalaman untuk

gaji yang merugikan mereka.

memperoleh tenaga guru. Demikian juga dengan

d.

program sertifikasi, sangat sulit diakses oleh guru-

Kalau Bukan Kami Siapa Lagi


Program sertifikasi menambah alasan bagi guru untuk

guru di sekolah pedalaman. Guru di pedalaman sulit

pergi ke kota. Sekarang ini banyak guru yang

dapat kesempatan untuk sekolah lagi. Kalau mengajar

melanjutkan kuliah untuk mengejar titel.

di kota masih memungkinkan bagi guru untuk kuliah

sayangnya banyak guru kemudian tidak mau lagi

sambil mengajar. Tapi kalau di pedalaman jelas tidak

ditempatkan di pedalaman. Sementara guru yang

mungkin.

bertugas di pedalaman akhirnya juga lebih banyak

Saya

sendiri

ada

keinginan

untuk

pergi

melanjutkan kuliah. Harapan saya, dengan kuliah


saya

dapat

mengajar.

meningkatkan

Tapi

keinginan

kemampuan
ini

hanya

ke

kota

dan

meninggalkan

Tapi

kewajiban

mengajarnya.

untuk
sebatas

keinginan. Sebab saya tidak tega meninggalkan


sekolah untuk menempuh pendidikan di universitas.
Sekolah di kampung saya kurang guru. Kalau saya
tinggalkan, maka pendidikan anak-anak di kampung
akan terlantar. Saya tidak ingin kampung saya seperti
kampung-kampung lain yang pendidikan untuk anakanaknya mandeg karena guru tidak ada di sekolah.

Murid
Seperti yang sudah saya sampaikan, tidak

Jadi sampai sekarang saya masih terpaku pada tugas,

mudah hidup sebagai guru di pedalaman. Itulah

tidak sanggup lagi memikirkan bagaimana bisa

mengapa banyak guru lebih suka tinggal di kota. Ada

melanjutkan sekolah. Padahal tanpa sekolah lagi,

alasan kuat yang membuat saya bisa bertahan

saya tidak bisa mendapatkan sertifikasi. Tanpa

mengajar di sekolah pedalaman. Salah satunya adalah


keberlangsungan pendidikan anak-anak di kampung.

Saya berpikir, kalau saya yang orang asli pedalaman


saja tidak mau berkorban untuk menjadi guru di
pedalaman, lalu siapa lagi yang mau mendidik anakanak kami.
Yah begitulah kisah hidup saya sebagai guru
SD di pedalaman. Semua serba terbatas. Saya sendiri
bermimpi suatu saat nanti nasib guru akan berubah

Sekolah di pedalaman Mamberamo

seperti yang terjadi di negara-negara lain. Konon


khabarnya,

di

negara

lain

guru

Saya mengajar di sekolah ini dengan metode kelas

mendapatkan

rangkap karena saya sendiri mengajar dari kelas satu sampai

perhatian penuh dari pemerintah, terutama guru SD.

kelas enam. Belum lagi tidak tersedia buku paket dan alat-alat

Konon katanya juga di negara lain peran guru SD

peraga lainnya ada tetapi bukunya menggunakan kurikulum

dianggap sangat penting dalam sistem pendidikan.

yang lama. Mencari solusi untuk sharing masalah dalam kelas

Peran penting guru SD bisa diibaratkan pandai besi

sering di pendam sendiri karena tidak ada teman guru baik di

yang dapat mengubah besi menjadi parang. Tapi di

sekolah sendiri maupun sekolah lain .

negara ini saya merasakan, guru terlebih guru SD

Gaji guru di terima di kabupaten kami juga

benar-benar tidak dihargai.

ketinggalan pengetahuan dan informasi bahkan urus nasib


kenaikan pangkat harus meninggalkan siswa berhari-hari.

Rasyid Gai, S.Pd, mantan guru di SD di Kampung Danau

Sebenarnya kami melihat guru di kota ada kecemburuan

Bira, Distrik Memberamo Tengah Kabupaten Jayapura yang

dengan kami di pedalaman, guru di kota pangkat sudah

sekarang sudah menjadi Kabupaten Mambramo, Papua.

melewati kami yang di pedalaman bahkan mereka sudah

Mengajar dan mendidik siswa adalah tugas dan

mengikuti pendidikan sarjanah dan sertifikasi. Bahkan lebih

pengabdian yang terpanggil dalam jiwa saya. Pada tahun 1998

memprihatinkan lagi kalau sudah berkeluarga tidak di

bulan Agustus saya dan teman-teman seprofesi di angkat dan

perhatikan anak dan keluarganya lagi karena jauh tempat

di tugasi di pedalaman yang tersebar di provinsi Papua yang di

tugasnya. Kami mengurus sesuatu di kota kabupaten

beri nama SATIGU yang artinya satuan bakti guru. Para guru

kadangkala harus mempunyai onkos yang tidak sedikit untuk

di bekali dengan berbagai alat sederhana penerang seperti

membayar uang pesawat, belum lagi kami sakit keluarga dan

senter dan kelambu atau kas nyamuk tapi kami sebagai putra

sebagainya tidak bias bayangkan kondisi kami yang hidup pas-

bangsa yang terpatri dalam memajukan bangsa kami senang

pasan atau bisa disebut guru pedalaman miskin dan di kelilingi

walaupun belum lihat bagaimana keadaan dan kondisi

oleh kesusahan.

kampung yang kami akan bertugas.


Alangkah terkejutnya bahwa tempat tugas bukan

2.2 Faktor-Faktor Penyebab Guru Mangkir Dari Tugas

main jauhnya sampai berhari-hari itupun baru menuju

Adapun dari paparan dan testimoni bebarapa guru diatas maka

kecamatannya kata pak camat atau guru yang berada di kota

dapat dikatakan bahwa dapat diambil kesimpulan bawasanya

kecamatan. Menuju ke sekolah kami butuh jalan kaki sampai

faktor penyebab ketidak hadiran guru dalam bertugas di

dua hari dua malam itupun melalu hutan belantara dan banyak

Pedalaman adalah :

rintangan seperti lintah di sepanjang sungai belum lagi ada

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

binatang buas seperi buaya, serta lapar dan haus yang


dirasakan. Melihat kondisi sekolah rasa prihatin dari diri saya
karena begitu antusias siswa ingin bersekolah tapi gurunya
tidak ada di tempat hanya saya dan kepala sekolah. Memang
saya sadar bahwa setiap guru bertugas di tempat ini harus kuat
fisik dan jiwanya karena bisa membuat seteres kalau tidak
kuat dan sabar.

Keadaan Alam yang sulit


Belum adanya panggilan menjadi guru
Akses transportasi dan komunikasi yan sulit
Pemenuhan kebutuhan
Gaji sering telat
Kebutuhan keamanan
Fasilitas rumah & air
Kebijakan pemerintah
Keterlambatan makanan pokok (beras)
Jarak ke kota kecamatan sangat jauh
Tidak ada kelompok kerja guru karena keadaan kondisi

2.3 Solusi Dalam Meminimalsir Ketidakhadiran Guru di


Pedalaman
Pendidikan yang berkualitas adalah hak semua anak
Indonesia. Mau tinggal di kota besar, mau tinggal di
pedalaman semua punya hak yang sama. Mendapatkan
pendidikan yang berkualitas demi masa depan yang lebih baik.

Hanya saja, bagi masyarakat yang tinggal di pedalaman susah

merasa

untuk memenuhi haknya. Bagaimana tidak guru sering

pendidikannya.

mangkir dari tugas. Berikut solusi yang ditawarkan agar guru

d.

terbantu

dalam

menigkatkan

kualitas

Kesejahteraan Guru Yang Cukup

tidak mangkir dari tugasnnya diantarannya:

Gaji guru merupakan aspek yang penting dalam

a.

Pemenuhan rumah dinas bagi guru

melaksanakan tugasnnya. Jika gaji guru baik maka

Untuk mengatasi masalah minkirnnya guru, Dinas

indikasinya etos kerja guru pun baik seharusnya. Jadi hal

Pendidikan

ini menjadi penting dalam mengoptimalkan kinerja guru

Kabupaten

Jayapura,

Papua

berencana

membangun rumah dinas bagi guru yang berada di

dalam bertugas khususnnya dipedalaman.

pedalaman. Rumah tersebut akan di bangun sebanyak 90

e.

unit selama empat tahun ke depan. Kepala Dinas

persyaratan dan sebagainya.

Pendidikan

Toam

Banyak guru yang turun ke kota hanya karena mengurusi

mengatakan, pembangunan rumah dinas dilakukan agar

kenaikan gaji dan pangkat mereka. Dengan persyaratan

para guru yang bertugas tidak lagi mangkir.

yang rumit tentu diperlukan waktu yang lama, hal ini

Kita berharap dengan pengadaan rumah guru ini


meminimalisir terutama untuk bagaimana agar proses
belajar mengajar itu bisa jalan guru out harus tetap berada
di tempat. Kalau ada rumah tidak ada alasan untuk
kemudian guru bilang saya tidak mau tinggal di sana,
tidak itu wajib ketika rumah itu ada guru di sana wajib
untuk menempati rumah. Dengan demikian proses belajar
mengajar bisa berjalan maksimal, ucap Alpius Toam.

yang menjadi salah satu maslah guru kenapa lebih sering

Kabupaten

Jayapura,

Alpius

meniggalkan tugasnya, karena kesejahteraanya belum


tercukupi. Diperlukan kenaikan pangkat dan gaji secara
otomatis secara bertahap sehingga guru hanya fokus
untuk mengajar bukan mengurusi pangkat dan gajinya.
f.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura,

b.

Kenaikan gaji dan pangkat secara otomatis tanpa melalui

Mengikutkan

pendidikan

setara

S1

kepada

guru

pedalaman secara bergantian.

Alpius Toam menambahkan, untuk biaya pembangunan

Banyak guru yang kekota untuk mengikuti pendidikan S-

akan menggunakan dana APBD kabupaten dan APBD

1 dalam menigkatkan profesionalismennya. Dengan ini

Provinsi Papua. Selain itu Alpius juga mengaku akan

kapasitas guru dipedalaman akan sedikit bahkan tidak

meminta bantuan dari Unit Percepatan Pembangunan

ada. Perlu dilakukan kerjasama dengan pemerintah

Papua dan Papua Barat (UP4B) agar mendapat tambahan

daerah terkait, sehingga guru tidak perlu turun kekota

dana. Menurut Alpius, mangkirnya sejumlah guru yang

untuk kuliah namun bisa berkuliah ditempat kerjannya.

bertugas di daerah pedalaman disebabkan tingginya biaya

g.

Transportasi ke pedalaman harus lancar, dan

hidup dan tidak adanya rumah dinas bagi para guru.

h.

Adanya pelayanan kesehatan guru di pedalaman terjamin

Pemberian Rasa Aman dan Nyaman


Selain kebutuhan ekonomis yang paling penting

BAB III

adalah pemenuhan kebutuhan akan keamanan dan

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

kenyamanan. Tentu sebagai manusia guru berkeinginan


agar kamanan diri dan keluargannya dapat dipenuhi.

3.1

KESIMPULAN

Indentik dengan pedalaman maka idetik juga dengan

Dari uraian diatas maka kesimpulan yang dapat diambil

ketidakamanan apalagi akhir-akhir ini banyak konflik

adalah yang menjadi alasan ketidakhadiran guru dalam

dipedalaman.

keamanan

bertugas di Pedalaman adalah : Keadaan Alam yang sulit,

disamping lembaga pendidikan (sekolah) sehingga guru

belum adanya panggilan menjadi guru, akses transportasi dan

merasa aman dalam melaksanakan tugasnya. Perlu

komunikasi yan sulit, pemenuhan kebutuhan, gaji sering telat,

kerjasama dan dukungan pemerintah dan masyarakat

kebutuhan akan keamanan, fasilitas rumah & air, kebijakan

dalam menjaga kondusivitas keamanan didaerah. Dari

pemerintah, keterlambatan makanan pokok (beras) dan

hal tersebut maka dapat dikatakan merpakan salah satu

lainnya.

solusi

Perlu

dibangun

pos-pos

dalam meinimalasir kemangkiran guru dalam

bertugas.
c.

Infrastruktur Yang Memadai terutama jalan ke kota

3.2

kecamatan dan ke kota kabupaten

REKOMENDASI
Berdasarkan dari uaraian diatas maka penulis

Perkembangan suatu derah akan maju jika fasilitas

merekomendasikan beberpa hal berikut sebagai bahan

jalannya

pertimbangan dan pembelajaran bersama dalam upaya

baik.

arusperyukaran

Sehingga

ha

informasi

dari

ini
desa

memungkinkan
kekota

dan

penigkatan kualitas dan kesadaran guru dalam bertugas

sebaliknnya akan lancar. Dari hal tersebut tentu guru

khususnya di Pedalaman. Adapun rekomnedasi tersebut


adalah:
a.

Perlu

adanya

pengkajian

lagi

atas

kebijakan

pemerintah dalam upaya mensejahterakan guru di


pedalaman.
b.

Adanya kerjasama dan dukungan antara pemerintah


dan instansi terkait

serta tokoh-tokoh masyarakat

untuk mencari solusi yang di hadapi oleh berbagai


guru di pedalaman.

DAFTAR PUSTAKA
Tim Kerja.Gerakan Peduli Guru dan Sekolah Dasar di
Pedalaman (PGSD Pedalaman).Institute for Ecosoc
Rights: Jakarta
Gai Rasyid.2013.Wawancara singkat dengan mantan guru di
SD di Kampung Danau Bira, Distrik Memberamo
Tengah Kabupaten Jayapura yang sekarang sudah
menjadi Kabupaten Mambramo, Papua.