Anda di halaman 1dari 34

KONSEP PENDIDIKAN

IPS
Oleh
Prof. Dr. IDRUS AFFANDI, SH

PENGERTIAN IPS
Pendidikan ILmu Pengetahuan Sosial pada hakekatnya merupakan bidang yang
mempelajari kehidupan sosial di dalam suatu masyarakat. Bidang kajian itu bertumpu pada
kajian tentang manusia dan masyarakat.
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) diartikan sebagai pendidikan pengetahuan
sosial (PS) maupun dalam pengertian pendidikan ilmu-ilmu sosial (IS). IPS dalam pengertian
pendidikan pengetahuan sosial merujuk kepada organisasi materi kurikulum yang bertujuan
untuk mengembangkan kemampuan anak didik melalui pengetahuan sosial dan budaya.
Kurikulum yang demikian bertujuan untuk mendidik siswa mengembangkan kemampuan berfikir,
sikap, dan nilai untuk dirinya sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial dan budaya. IPS
dalam pengertian pendidikan disiplin ilmu sosial biasanya dikembangkan dalam kurikulum
akademik atau kurikulum yang demikian akan memakai nama disiplin ilmu sebagai label
programnya (mata pelajaran) dan juga tujuannya sangat erat berhubungan dengan tujuan disiplin
ilmu. Sedangkan menurut Numan Somantri, IPS adalah sebuah label untuk berbagai mata
pelajaran yang berasal dari disiplin-disiplin ilmu sosial, dan humaniti seperti sejarah, ekonomi,
antropologi, ilmu bumi pada tingkat Pendidikan Dasar dan Menengah.

Lebih lanjut dikatakan IPS (PIPS), masalahnya akan lain, karena pendidikan
IPS menyangkut pengertian social science education and social studies,
dan Pendidikan IPS dikatakannya sebagai sebuah synthetic disciplines
yang berusaha untuk mengorganisir dan mengembangkan substansi ilmuilmu sosial secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan, serta
nama fakultas dalam lingkungan LPTK, yaitu Fakultas Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Sosial (FPIPS). Selanjutnya dalam GBPP SD 1994,
Pendidikan IPS diartikan sebagai mata pelajaran yang mempelajari
kehidupan sosial di dalam masyarakat. Bidang kajian pendidikan IPS
bertumpu pada manusia dan masyarakat, seperti sosiologi, antropologi,
sejarah, ilmu politik, tata negara, geografi, ekonomi dll.
Berdasarkan pengertian diatas, maka PIPS merupakan salah satu
bidang kajian yang memberikan dalam pendidikan formal sejak siswa duduk
di Sekolah Dasar samapai Pendidikan Menengahdalam rangka mendukung
ketercapaian tujuan pendidikan nasional. Pada jenjang pendidikan dasar
IPS merujuk kepada label mata pelajaran, sedangkan pada jenjang
Pendidikan Dasar IPS merujuk pada label mata pelajaran, sedangkan pada
jenjang Pendidikan Menengah IPS digunakan dalam hal penjurusan bidang
studi, serta pada jenjang Pendidikan Tinggi (khususnya LPTK). PIPS
merupakan label untuk salah satu fakultas atau jurusan, yaitu Fakultas
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (di IKIP), dan jurusan pendidikan IPS
di FKIP.

TUJUAN PENDIDIKAN IPS

Menurut Schnuncke (1988) tujuan IPS didasarkan atas tiga


karakteristik, yaitu : manusia mampu berpengetahuan, manusia
mampu mengatur kehidupannya, dan manusia mampu memelihara
nilai-nilai. Atas dasar ketiga karakteristik tersebut tujuan
pengembangan mencakup tujuan : pengetahuan (knowing), proses
(doing), dan afektif (caring). Tiga tujuan IPS, yaitu meliputi aspek :
(1) pengertian (understanding) yang berkenaan dengan pemberian
latar pengetahuan dan informasi tentang dunia dan kehidupan, (2)
Sikap dan Nilai (attitudes and values), dimensi rasa (feeling) yang
berkenaan dengan pemberian bekal mengenai dasar-dasar etika
masyarakat yang nantinya menjadi orientasi nilai dalam kehidupan
dirinya, (3) Keterampilan (skills), khususnya yang berkenaan
dengan kemampuan dan keterampilan IPS, yaitu meliputi
keterampilan sosial, keterampilan belajar dan kebiasaan kerja,
keterampilan kelompok, dan intelektual.

Dalam kurikulum IPS SD tahun 1994, pengajaran IPS yang


jenjang Sekolah Dasar bertujuan agar siswa mampu
mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang
berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari dan Pengajaran
Sejarah bertujuan agar siswa mampu mengembangkan
pemahaman tentang perkembangan masyarakat Indonesia sejak
masa lalu hingga masa kini sehingga siswa memiliki kebanggaan
sebagai bangsa Indonesia dan cinta tanah air. Dengan demikian
PIPS berfungsi mengembangkan pengetahuan dan keterampilan
dasar untuk melihat kenyataan sosial yang di hadapi dalam
kehidupan sehari-hari, berfungsi untuk membantu perkembangan
siswa memiliki konsep diri yang baik, membantu pengenalan dan
apresiasi tentang masyarakat global dan komposisi multi budaya,
sosialisasi proses sosial, ekonomi, politik, membantu siswa untuk
mengetahui waktu lampau dan sekarang sebagai dasar untuk
membuat/ pengambilan keputusan, mengembangkan kemampuan
untuk pemecahan masalah dan keterampilan menilai, membantu
perkembangan siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam
kehidupan masyarakat. Pendidikan IPS berupaya membentuk siswa
menjadi warga yang baik, maupun berprilaku sesuai dengan nilai
dan norma yang ada dalam masyarakatnya.

Prof. Dr. Said Hamid Hasan, M.A., guru besar Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Sosial (PIPS) UPI Bandung, mensinyalir + 60% guru
PIPS di Indonesia tidak berlatar belakang pendidikan IPS.
Sinyalemen ini dikemukakannya pada saat Seminar Nasional dan
Musyawaroh Daerah I HimpunanSarjana Pendidikan Ilmu-ilmu
Sosial Indonesia (HISPISI) Jawa Barat, di Bandung (31 Oktober
2002).
Atas dasar ini, tidaklah berlebihan kiranya apabila dalam
kenyataan hidup di masyarakat, mata pelajaran IPS dalam
pandangan orang tua siswa menempati kedudukan "kelas dua"
dibandingkan dengan posisi IPA, demikian penegasan Prof. Dr.
Nursid Sumaatmadja, dalam momentum seminar yang sama.
Sementara itu, pakar PIPS lainnya (seperti Prof. Nu`man
Somantri, M.Sc.Ed, Prof. Dr. Azis Wahab, M.A., dan Prof. Dr.
Suwarma Al Muchtar, S.H. M.Pd.) mengungkapkan, bahwa proses
pembelajaran IPS di tingkat persekolahan mengandung beberapa
kelemahan seperti digambarkan dalam tabel di bawah ini beserta
faktor-faktor yang menyebabkannya : Tabel 1 Analisis Kelemahan
Proses Pembelajaran PIPS di Tingkat Persekolahan dan FaktorFaktor yang Menyebabkannya.

No. Uraian Kelemahan Proses Pembelajaran Faktor Penyebab


1.
Kurang memperhatikan perubahan-perubahan dalam tujuan, fungsi ,
dan peran PIPS di sekolah Tujuan pembelajaran kurang jelas dan tidak
tegas (not purposeful)
2.
Posisi, peran, dan hubungan fungsional dengan bidang studi lainnya
terabaikan Informasi faktual lebih bertumpu pada buku paket yang out
of date dan kurang mendayagunakan sumber-sumber lainnya
3.
Lemahnya transfer informasi konsep ilmu-ilmu sosial Out put PIPS
tidak memberi tambahan daya dan tidak pula mengandung kekuatan
(not empowering and not powerful)
4.
Guru tidak dapat meyakinkan siswa untuk belajar PIPS lebih
bergairan dan bersungguh-sungguh Siswa tidak dibelajarkan untuk
membangun konseptualisasi yang mandiri
5.
Guru lebih mendominasi siswa (teacher centered) Kadar pembelajaran
yang rendah, kebutuhan belajar siswa tidak terlayani
6.
Belum membiasakan pengalaman nilai-nilai kehidupan demokrasi sosial
kemasyarakatan dengan melibatkan siswa dan seluruh komunitas sekolah
dalam berbagai aktivitas kelas dan sekolah. Dalam pertemuan kelas tidak
menggagendakan setting lokal, nasional, dan global, khususnya berkaitan
dengan struktur sistem sosial dan perilaku kemasyarakatan.

Menurut Numan Sumantri bahwa tujuan Pendidikan IPS pada


tingkat sekolah adalah :
1. Menekankan tumbuhnya nilai kewarganegaraan, moral,
ideologi negara dan agama.
2. Menekankan pada isi dan metode berfikir ilmuwan
3. Menekankan reflective inquiry
PIPS menurut NCCS mempunyai tujuan informasi dan
pengetahuan(knowledge and information), nilai dan tingkah laku
(attitude and values), dan tujuan ketrampilan (skill): sosial, bekerja
dan belajar, kerja kelompok, dan ketrampilan intelektual.
Berdasarkan pengertian dan tujuan pendidikan IPS tersebut, maka
kurikulum Pendidikan IPS harus memuat bahan pelajaran yang
sesuai dengan tujuan institusional dan tujuan pendidikan nasional.
Di dalamnya hendaknya berisikan bahan yang memungkinkan
siswa untuk berfikir kritis.

Dengan demikian, bahwa kurikulum pendidikan IPS harus


memperhatikan pengembangan akal siswa. Pendidikan IPS harus
membuat struktur keilmuan yang kuat, menyesuaikan tingkat
keberadaan siswa. Walaupun demikian, kurikulum harus tetap
terbuka untuk masuknya bahan kenyataan hidup seperti model
perilaku manusia yang dialami lewat ;
a) proses keyakinan agama,
b) keyakinakan pada dasar negara ,
c) proses pengaruh produksi estetika,
d) proses pengalaman sejarah,
e) proses pengalaman logika,
f) proses pengalaman dari tantangan ekonomi, sains, dan teknologi.
Pasal 37 UU SISDIKNAS tahun 2003 mengamanatkan bahwa
kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat IPS yang
merupakan ilmu bumi, sejarah, ekonomi, kesehatan dan
sebagainya, yang dimaksud untuk mengembangkan pengetahuan,
pemahaman, dan kemampuan analisis peserta didik terhadap
kondisi sosial masyarakat.

Sebagai implikasi dari maksud dan tujuan PIPS, maka kurikulum


Pendidikan IPS hendaknya berisikan garis-garis besar struktur disiplin ilmu
dan model perilaku manusia yang tumbuh dalam masyarakat, sehingga isi
kurikulumnya akan terdiri atas :
1.
Model inquiry, masing-masing disipliln ilmu yang terdiri atas
pertanyaan-pertanyaan pokok dan metode research setiap disipliln ilmuilmu sosial, psikologi dan agama.
2.
Batang tubuh pengetahuan (body of knowledge) yang terdiri atas
beberapa konsep. Konsep-konsep psikologi, fulsafat dan agama akan
sangat berguna untuk menghidupkan dan memperkuan kurikulum
PIPS.
3.
Generalisasi, dari konsep-konsep dalam butir 2 tersebut, hendaknya
meningkat kesukarannya dalam bentuk generalisasi.
Martorella (1994) menekankan 9 kategori yang harus dimasukan
dalam kurikulum IPS pendidikan dasar , yakni ; expressing, producing,
transform, communicating, educating, recreating, protecting, governing, dan
creating. Di Amerika kurikulum PIPS untuk pendidikan dasar dan menengah
telah memasukan beberapa permasalahan yang sederhana mulai dari
rumah, komunitas, hingga negara dan dunia. Pendidikan IPS bukan sekedar
bertujuan membuat siswa berperilaku atau menjadi warga negara yang
baik, tetapi sekaligus menjadi warga negara yang mampu menyelesaikan
berbagai permasalahan yang ada, sesuai dengan tingkatannya.

Implimentasi kurikulum dalam pendidikan dasar, bahwa secara ideal


PIPS mampu membentuk siswa yang baik dan mampu berfikir
secara cerdas, Maksudnya bahwasiswa mampu menyeleksi,
mengadaptasi, mengabsorbsi, dan mengaplikasikan nilai-nilai yang
ada dalam agama, kebudayaan, negara, dan negara-negara lain.
Selain itu bahwa siswa mampu menyelesaikan permalasahanpermasalahan sosial sederhana yang mereka hadapi, disamping
permasalahan-permasalahan akademis. Dalam pembelajaran,
bukan meletakkan kemampuan kognitif sebagai tujuan
pembelajaran, tetapi melakukan keseimbangan dengan afektif dan
psikomotorik. Konsekuensinya, bahwa dalam pembelajaran guru
harus mampu mengajak siswa memasuki berbagai pengalaman baik
nyata maupun imajinasi (melalui media).
Pendidikan IPS dapat berorientasi pada pendekatan monodisipliner
serta inter- dan trans-disipliner, Pendidikan Ekonomi, Geografi, dan
Pendidikan Sejarah merupakan contoh pendekatan monodisipliner,
sedangkan Pendidikan Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan
sebagai contoh Pendekatan trans-disipliner. Kurikulum Pendidikan
IPS pada pendidikan dasar jauh dari orientasi pendekatan monodisipliner

Beberapa Permasalahan PIPS pada


Pendidikan Dasar dan Menengah
a.

Permasalahan PIPS Pendidikan Dasar


Pengembangan kurikulum PIPS untuk sekolah dasar telah
cukup lama dikembangkan. Format sistemnya lebih matang
dibandingkan kurikulum PIPS untuk tingkat SMP. Hanya saja
masih terdapat beberapa permasalahan kurikulum PIPS di SD,
diantaranya adalah; Pertama, bahwa pendekatan proses yang
menjadi salah satu acuan kurikulum PIPS di SD masih kering.
Terutama untuk SD-SD yang sangat jauh komunikasinya dengan
sekolah-sekolah lainnya, pelaksanaan kurikulum kadang stagnan
(jalan di tempat). Hal ini mengingat besarnya jumlah SD yang jauh
dari jangkauan komunikasi ideal.Kedua, bahwa persepsi PIPS
sebagai pelajaran yang tidak terlalu penting, atau kadang
disepelekan karena terlalu mudah, menggiring pembelajaran IPS
hanya menekankan aspek kognitif. Aspek afektif dan psikomotorik
jarang dibuat parameter secara lebih tegas. Ketiga, bahwa
pembelajaran IPS pada tingkat SD belum begitu besar
peranannya secara realita sebagai problem solving dalam
kehidupan sehari-hari.

b. Permasalahan Kurikulum PIPS pada PendidikanMenengah


Untuk waktu ke depan, terdapat karakteristik yang
membedakan PIPS pada siswa SMP dan SMA. Pada masa
sebelumnya, bahwa di SMP mata pelajaran IPS masih bersifat
mono-disipliner, di mana terdapat mata pelajaran Sejarah, Geografi,
dan Ekonomi, seperti halnya di SMA, maka untuk waktu ke depan
kurikulum PIPS untuk SMP telah menyatukan seluruh ilmu-ilmu
sosial dalam mata pelajaran IPS. Kurikulum Berbasis Kompetensi
telah menyusun mata pelajaran IPS SMP dalam satu bidang studi.

Namun demikian masih terdapat beberapa permasalahan


berkaitan dengan konsep dan implementasi kurikulum IPS untuk
SMP. Pertama, bahwa walaupun kurikulum IPS tersusun secara
integral, tetapi belum menonjolkan sebagai sebuah pendekatan
inter- dan transdisiplin. Fenomena ini kadang terjadi penerjemahan
yang berbeda antar guru. Kedua, sulitnya membuat kelas
berkolaborasi, terutama koordinasi waktu dan tenaga, sehingga
guru akan memilih pembelajaran separated, sesuai dengan bidang
studinya sendiri-sendiri. Ketiga, bahwa pendekatan trans- dan interdisiplin PIPS di SMP dikhawatirkan hanya sebagai formalitas
kurikulum, yang hanya terlihat dalam pelaporan dan penilaian akhir
yang menggabungkan tiga bidang studi. Keempat, rendahnya
motovasi guru untuk melakukan perubahan dan pembaharuan
dalam pengajaran, sehingga mereka cenderung monoton
melakukan yang biasanya mereka lakukan.
Implikasinya bahwa IPS menjadi mata pelajaran yang kurang
diminati, atau disukai karena terkesan sebagai mata pelajaran
hapalan.

Kurikulum PIPS di SMA telah menerapkan konsep kurikulum


monodisiplin, kecuali PKN. Untuk sekolah yang melakukan
penjurusan IPA dan IPS, bahkan telah memasukkan beberapa mata
pelajaran seperti Ilmu Politik, Hukum, dan Tata Negara. Kurikulum
IPS untuk SMA memang sudah mempersiapkan siswa untuk
menjadi akademisi. Namun demikian, masih terdapat beberapa
permasalahan berkaitan dengan kurikulum PIPS di SMA. Pertama,
terjadinya perbedaan antara SMA-SMA umum dan SMK, sementara
belum terdapat konsep PIPS yang mantap. Kedua, bahwa PIPS di
SMA/SMK masih mengedepankan aspek kognitif, fenomena ini
berangkat dari munculnya pragmatisme pendidikan.Ketiga, bahwa
munculnya penjurusan IPA dan IPS di SMA ternyata tidak
berpengaruh signifikan dalam pembelajaran IPS di perguruan tinggi.
Bahkan sering lulusan IPA mempunyai kelebihan-kelebihan di PT
ketika mereka masuk jurusan ilmu-ilmu sosial. Keempat, bahwa
PIPS di SMA/SMK belum mampu secara signifikan menjadi
pegangan problem solver para siswa.

Orientasi Kurikulum PIPS


Berkaitan dengan berbagai permasalahan kurikulum PIPS
pada Dikdasmen, maka perlu diperhatikan beberapa rekomendaso
untuk penyempurnaan kurikulum. Pertama, bahwa kurikulum PIPS
Dikdasmen harus mengacu pada kebutuhan saat ini dan jauh yang
akan datang. Siswa harus diajak untuk menjadi problem solver
masalah-masalah masa kini, dan antisipatif pada permasalahanpermasalahan mendatang. Seperti dalam bukunya Jamus A Beane
(1986) Curriculum Planing and Development, yang menekankan
perlunya membuat estimasi fenomena yang akan datang, dengan
berpijak pada fenomena masa lalu dan saat ini.Kedua, bahwa
eksistensi PIPS Dikdasmen tidak terlepas dari PTK, pemerintah,
dan masyarakat. Untuk itu perlu membuat jaringan yang sinergis
guna membangun kurikulum yang fleksibel. Optimalisasi kurikulum
IPS Berbasis Sekolah perlu dikembangkan sebagai salah satu
jawaban fenomena ini. Ketiga, perubahan kurikulum IPS tidak
dilakukan secara tambal sulam, melainkan lebih bersifat holistik
interdisipliner, dan berorientasi pada functional knowledge dan
aspirasi kebudayaan Indonesia dan nilai-nilai agama.

Kesimpulan
Pengembangan kurikulum PIPS untuk Dikdasmen
masaih menghadapi berbagai kendala, baik berkaitan
dengan jati diri PIPS maupun dalam tahap implementasi.
Secara intern, bahwa bangunan PIPS sebagai synthetic
discipline yang berusaha mengorganisasikan dan
mengembangkan sumbstansi ilmu-ilmu sosial secara
ilmiah dan psikologis masih menghadapi kendala
pengintegrasiannya. Secara ekstern, bahwa muncul
masalah-masalah di lapangan entah berkaitan dengan
pelaksana, sarana dan prasarana, maupun subjek
pembelajaran. Dengan demikian, perlu dilakukan
kerjasama secara sinergis dari berbagai komponen
pendidikan, pemerintah dan masyarakat untuk
mewujudkan idealita tujuan PIPS.

SUMBER PEMBELAJARAN PENDIDIKAN


IPS DI TINGKAT PERSEKOLAHAN
Pendidikan IPS dalam proses pembelajarannya di tingkat
persekolahan tidak dapat dilepaskan dari museum, karena misi dari
pendidikan IPS adalah "Menanamkan pendidikan nilai, moral, etika
dan sikap berbudi luhur serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa kepada siswa agar mereka dapat menjadi Warga negara yang
baik, serta mampu memecahkan masalah-masalah sosial yang
dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan Pancasila
dan UUD 1945". Misi pendidikan IPS tersebut salah satunya dapat
dicapai melalui kegiatan edukasi di museum, karena menurut
Hunter (1988), tujuan pendidikan dengan pendekatan warisan
budaya adalah untuk memperkuat pengertian siswa tentang konsep
dan hasil seni, kecerdasan dalam bidang teknologi, serta kontribusi
perbedaan kelompok sosial ekonomi pria dan wanita.

Sebagai suatu institusi yang menyajikan


berbagai hasil karya dan cipta serta karsa
manusia sepanjang zaman, Museum
merupakan tempat yang tepat sebagai sumber
pembelajaran IPS; karena melalui benda yang
dipamerkannya, pengunjung dapat belajar
tentang nilai dan perhatian serta kehidupan
generasi pendahulu sebagai bekal di masa kini
dan gambaran untuk kehidupan di masa
mendatang. Sehingga tujuan dari pendidikan
IPS, yakni mendidik siswa untuk menjadi warga
negara yang baik yang mampu melestarikan
budaya bangsa dapat terwujud.

Merancang Model Pembelajaran IPS Terpadu


dengan Menggunakan Pendekatan Pemecahan
Masalah
Dalam merancang model pembelajaran IPS terpadu dengan
menggunakan pendekatan pemecahan masalah; seyogyanya
mendasarkan pada pemikiran kritis dan reflektif yang-mengikuti
proses kerja sebagai berikut:
1. menyadari adanya masalah
2. mencari petunjuk untuk pemecahannya
a. pikiran kemungkinan pemecahannya dan pendekatannya
b. ujiiah kemungkinan-kemungkinan pemecahan tersebut dengan
kriteria tertentu
3. pergunakan suatu pemecahan yang cocok dengan kriteria
tertentu dan tanggalkan kemungkinan pemecahan yang lain.

Kita perlu menyeleksi dalam memilih pendekatan


pemecahan masalah di kelas bagi kepentingan proses
belajar mengajar. Oleh Karena itu harus memperhatikan
kriteria pemilihan masalah. Sebagai acuannya adalah
kriteria pemilihan masalah seperti yang dikemukakan
Qirillen dan Hannn, yakni:
a. masalah itu bersifat umum dan berulang-ulang
sehingga cukup dikenaldan menarik perhatian siswa
b. masalah itu cukup penting dibahas di kelas
c. masalab itu dapat mengembangkan kelas ke arah
tujuan yang dikebendaki
d. melihat kemungkinan tersedianya bahan-bahan yang
diperlukan untuk pemecahan masalah
e. masalah itu dapat menjamin kelanjutan pengalaman
belajar siswa.

Setelah masalah kita ketemukan, maka langkah selanjutnya adalah


pemecahan masalah. Ada tiga model pemecahan masalah yang dikemukakan oleh
para ahli antara lain John Dewey, Brian Larkin, Lawrence Senesh David Johnson dan
Frank Johnson. Untuk lebih jelasnya marilah kita perhatikan uraian berikut:
1. Langkah-langkah dan gambaran pemecahan masalah yang dikemukakan oleh
John Dewey, yaitu:
a. merumuskan permasalahan.
Mengetahui dan merumuskan permasalahan secara jelas,
b. menelaah permasalahan.
Menggunakan pengetahuan untuk merinci dan menganalisis masalah tersebut
dari berbagai sudut,
c. membuat/merumuskan hipotesis.
Menghayati secara luas dan lengkap sebab akibat serta alh pemecahan
masalah tersebut,
d. menghimpun, mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis.
Kecakapan mencari dnn meyusun data dan menvisualisasikan data dalam
bentuk bagan, gambar, grafik dan lain-lain,
e. pembuktian hipotesis.
Kecakapan menelaah dan membahas data, menghubung-hubungkan; atau
menghitung data terhadap hipotesis dan keterampilan mengambil keputusan
dan kesimpulan dari hal-hal di atas,
f. menentukan pilihan pemecahan/keputusan.
Kecakapan membuat, memilih dan menilaibeserta perhitungan akibat kelak.

Dr. Brian Larkin, konsultan kelompok bidang IPS-P3G di Malang 1978


mengemukakan langkah-langkah pemecahan masalah sebagai berikut
a. definisi masalah
b. identifikasi masalah
c. analisis akibat
d. penerapan kriteria
e. pengambilan keputusan.
Lawrence Senesh, Guru Besar Ekonomi pada Purdue University
mengemukakan langkah-langkah pemecahan masalah, terdiri tiga fase
a. fase motivasi
b. fase pengembangan,
c. fase kulminasi.
Pada fase pengembangan dengan menggunakan langkah-langkah
pemecahan masalah sebagai berikut:
a. menemukan gejala dati pennasalahannya,
b. mempelajari aspek-aspek pennasalahannya,
c. definisi permasalahannya,
d. menentukan ruang lingkup pennasalahannya,
e. menganalisis sebab-sebab pennasalahannya,
f. pemecahan masalah.

Hal ini didasarkan pada teori belajar spiral, di mana guru mulai
dari hal yang sudah diketahui ke hal yang belum diketahui, dari
yang sederhana ke yang kompleks, dari yang mudah ke yang sulit
dan dari yang konkret ke yang abstrak.
Model Pemecahan Masalah secara Kelompok
Model ini dikemukakan oleh David Johnson dan Frank Johnson, di
mana model ini menirikberatkan pada pemecahan masalah secara
kelompok yaitu pada kemampuan mengambil keputusan.
Kemampuan pemecahan masalah secara kelompok meliputi
beberapa unsur sebagai berikut:
a. dapat menghasilkan kesepakatan tentang sesuatu keadaan yang
dikehendaki
b. sepakat menetapkan struktur dan prosedur untuk menghasilkan,
memahami dan memakai informasi yang relevan dengan
keadaan yang aktual
c. sepakat untuk menetapkan struktur dan prosedur untuk
menemukan kemungkinan pemecahan masalah, memutuskan
dan mempergunakan cara pemecahan yang terbaik dan efektif.

Langkah-langkah pemecahan masalah secara kelompok yang


dikemukakan oleh Johnson dan Johnson sebagai berikut:
1. Definisi Masalah
Definisi masalah merupakan langkah yang paling sulit. Apabila mz
marumuskan dengan baik maka langkah selanjutnya akan lebih mi
Untuk perumusan masalah ini dianjurkan menggunakan langkah-lar
sebagai berikut:
a. tampunglah secara terbuka semua pernyataan masalah
b. rumuskan kembali setiap pernyataan sehingga dapat
memperoleh gambaran yang ideal dan aktual. Pilihlah salah satu
definisi yang penting dan dapat dipecahkan.
2. Diagnosis Masalah
Langkah kcdua ini kita ingin mengetahui dimensi dan sebab sebab
timbulnya masalah. Tujuannya adalah untuk mengetahui sifat dan
besarnya kekuatan yang mendorong ke arah situasi yang ideal dan
kekuatan-kekuatan ynng menghambat ke arah tersebut.

3. Merumuskan Altematif Strategi


Dalam kelompok ketiga ini kelompok harus mencari dan menemukan berbagai
altematif cara pemecahan masalah, di mana kelompok harus kreatif berpikir
divergen, memahami pertentangan antaridea dan punya daya temu yang tinggi.
4. Penentuan dan Penerapan suatu Strategi
Setelah berbagai altematif strategi pemecahan masalah diperoleh, maka kelompok
pada tahap ini memutuskan untuk memilih altematif mana yang akan dipakai. Tahap
ini mengandung dua aspek utama pemecahan masalah yaitu:
a. pengambilan keputusan yaitu suatu proses mengambil suatu pilihan dari berbagai
altematif tindakan
b. keputusan penerapan yaitu suatu proses untuk mengambil tindakan yang
diperlukan sehingga menghasilkan pelaksanaan tersebut
Dalam tahap ini kelompok harus menggunakan pertimbangan yang kritis, berpikir
kovergen dalam membitat perencanaan yang nyata mengenai pelaksanaan.
5. Evaluasi Keberhasilan Strategi
Dalam langkah kelima ini kelompok mempelajari: apakah strategi itu berhasil
diterapkan (evaluasi proses), apakah akibat pcnerapan strategi itu (evaluasi hasil)
dan apakah keadaan akKial sudah lebih mendekati keadaan yang ideal daripada
sebelum penerapan.
Hasil akhir dari evaluasi harus monunjukkan: masalah apa yang sudah dipecahkan,
seberapa jauh pemea.hannya, masalah apa yang belum terpecahkan dan masalah
baru apa yang timbul sebagai akibat pemecahan ini.

Menerapkan Model Pembelajaran IPS Terpadu


dengan Menggunakan Pendekatan Pemecahan
Masalah
Dalam menerapkan model pembelajaran IPS terpadu dengan
menggunakan pendekatan masalah Anda dapat memilih model yang
dikemukakan oleh para ahli di atas. Karena pada prinsipnya model
pemecahan masalah tersebut adalah sama yakni dari merumuskan
masalah sampai pada pemecahan masalah dengan menggunakan suatu
strategi yang cocok.
Sebagai contoh, seorang guru akan menerapkan model pembelajaran IPS
terpadu dengan menggunakan pendekatan pcmecahan masalah dalam
kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Ambil contoh kurikulum Sekolah
Dasar kelas V catur wulan 2. Langkah-langkah guru adalah sebagai
berikut:
1. menentukan tujuan pembelajaran
Siswa mengenai sumber daya manusia dan ciri khas kebudayaan
Indonesia,
2. menentukan pokok bahasan.
Jumlah penduduk
3. menentukan dan memahami materi pelajaian yang akan disampaikan
Membahas cara-cara pengendalian pertambahan jumlah penduduk
Indonesia.

4. Setelah guru melakukun persiapan di atas maka


langkah selanjutnya adalah menyampaikan materi
pelajaran dalam kegiatan belajar mengajar di kelas dengan
menggunakan pendekatan pemecahan masalah secara
kelompok dengan prosedur guru membagi kelas menjadi
kelompok-kelompok kecil. Kemudian kelompok tersebut
atas bimbingan dan pengarahan guru mengikuti proses kerja
sebagai berikut:
a. Mendefinisikan Masalah
Langkah yang ditempuh adalah: menampung seluruh pernyataan
masalah yang berkaitan dengan cara-cara untuk mengendalikan
pertambahan pendrduk Indonesia; merumuskan kembali
pernyataan masalah dan memilih beberapa definisi masalah yang
dapat diselcsaikan oleh setiap kelompok yang disesuaikan dengan
kemampuan siswa dan fasilitas yang ada,

b. Mendiagnosis Masalah
Tahap ini bertujuan untuk mengetahui dimensi dan sebab-sebab.
timbulnya masaiah. Adapun sebab-sebab timbulnya masalah
tersebut antara lain:
1) tingginya angka kawin muda, hal ini menyebabkan kesempatan
unruk melahirkan menjadi besar dan dalam jangka waktu yang
panjang memungkinkan untuk melahirkan dalam frekuensi yang
banyak
2)adanya anggapan bahwa banyak anak banyak rejeki, hal ini yang
mendasari keluarga besar dalam satu lumah tangga
3)adanya anggapan bahwa mengendalikan kelahiran dengan
kontrasepsi merupakan perbuatan haram
4)rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan tentang keluarga
berencana, sehingga mereka tidak mengetahui cara-cara untuk
mengendalikan kelahiran dan hal ini ditunjang dengan sarana dan
prasarana praktik KB yang belum merata ke seluruh lapisan
masyarakat,

c. merumuskan alternatif strategi


Tahap ini kelompok hanjs kreatif dan berusaha untuk merumuskan
alternatif strategi untuk memecahkan masalah serta dituntut
mempunyai daya nalar yang tinggi. Setelah mengetahui sebabsebab timbulnya masalah yang ditinjau dari berbngai sudut
pandang, maka kita dapat merumuskan strategi pemecahan
masalah dengan jalan:
1) menggalakkan Keluarga Berencana secara nasional, karena
strategi ini dapat menekan angka kelahiran,
2) meningkatkan pendidikan kependudukan di seluruh masyarakat
Indonesia,
3) membuat undang-undang yang mengatur tentang batas usia
kawin pertama bagi penduduk Indonesia baik pria maupun
wanita,
4) membudayakan dan melembagakannorma keluarga kecil
bahagia dan sejahtera. penentuan dan penerapan strategi.

d. Tahap ini kelompok-kelompok memutuskan untuk memilih


alternatif strategi yang akan dipakai. Tentunya alternatif yang dipilih
sudah melalui pertimbangan yang matang, sehingga diharapkan
strategi tersebut dapat menjadi obat mujarab bagi pemecahan
masalah. Adapun alternatif strategi yang dipilih antara lain:
1) meningkatkan gerakan Keluarga Berencana secara nasional
dengan menggunakan alat kontrasepsi, Strategi ini untuk
memecahkan masalah tingginya angka kelahiran,
2) melembagakan dan membudayakan norma keluarga kecil
bahagia dan sejahtera. Strategi ini untuk memberikan penjelasan
tentang arti penting dan hakikat keluargn kecil bahr.gia sejahtera
bagi masyarakat yang masih mempunyai anggapan keluarga
besar dalam satu rumah tangga,
3) membuat undang-undang perkawinan yang mengatur batas
minimal usia kawin pertama bagi penduduk Indonesia. Strategi ini
untuk memecahkan masalah rendahnya usia kawin pertama yang
dilakukan penduduk Indonesia khususnya di pedesaan,

e. evaluasi keberhasilan strategi


Tahap ini kelompok mempelajari: apakah strategi itu bi
diterapkan; apakah akibat dari penerapan strategi itu;
apakah keadaaan akrual sudah mendekah keadaan
yang kita kehendakisetelah kelompok sampai kepada
tahap evaluasi, maka langkal selanjutnya mengadakan
tanya jawab mengenai hasil pemecahan masalah yang
diputuskan masing-masing kelompok yang bertujuan
mendapatkan keputusan bersama mengenai strategi
pemecahan masalah cara-cara mengendalikan
pertambahan penduduk Indonesia.
Demikian langkah-langkah pendekatan pemecahan
masalah dalam belajar mengajar secara sederhana.
Anda dapat memodif ikasi langkah-langkah yang
disampaikan oleh para ahli dengan tetap memperhatikan
pi prinsip yang baku sesuai dengan gaya mengajar Anda
serta fasilitas yang ada.

Daftar Pustaka

Adiwikarta, S. (1988). Sosiologi Pendidikan : Isyu dan Hipotesis tentang Hubungan Pendidikan
dengan Masyarakat. Jakarta : P2LPTK-Ditjen Dikti Depdikbud.
Clark, L.H. (1965). Social Studies and Mass Media. Plainfield, N.J. : New Jersey Secondary
School Teachers Association).
Clark, L.H. (1973). Teaching Social Studies in Schools : A Handbook. New York : MacMillan
Publishing Co., Inc.
Cobine, G.R. (1997). Studying with the Computer. ERIC Digest. [Online]. Tersedia :
http://www.ericfacility.net/ericdigests/ed450069.html. [28 April 2003].
Dominguez and Rincon. (1992). The Influence of Television. Dalam Buckingham, et.al.
(Eds.). New Direction of Media Education. London : British Film Institute.
Gordin, D.L. et.al. (1995). Using the WorldWideWeb to Build Learning Communities.
Northwestern University Magazine, April, 1-17.
McLuhan, M. (1964). Understanding Media : The Extensive of Man. New York : McGraw-Hill.
Nielsen Media Research. (1998). Report on Television. New York : A.C. Nielsen Company.
Prinsloo, J. and Criticos, C. (1994). Media Matters. New York : St. Martin Press.
Purbo, O.W. (2000). Perkembangan Teknologi Informasi dan Internet di Indonesia. Kompas
(28 Juni 2000).
Toffler, A. (1981). The Third Wave. New York : Bantam Books.

TERIMA KASIH