Anda di halaman 1dari 4

BAB I

HAKEKAT DAN ETIKA ILMU


1. Pengertian Ilmu
Moh. Nazir, Ph.D (1983( mengemukakan bahwa ilmu tidak lain dari suatu pengetahuan,
baik natura maupun sosial, yang sudah terorganisir serta tersusun secara sistematik menurut
kaidah umum.
Obyek ilmu pengetahuan ialah dunia fenomenal, dan metode pendekatannya berdasarkan
pengalaman (experience) dengan menggunakan berbagai cara seperti observasi, eksperimen,
survei, study kasus dan sebagainya. Pengalaman-pengalaman itu di olah oleh pikiran atas dasar
hukum

logika yang tertib. Data yang dikumpulkan diolah dengan cara analitis, induktif,

kemudian ditentukan relasi antara data-data diantaranya realisasi kausalitas. Konsepsi-konsepsi


dan relasi-relasi disusun menurut suatu sistem tertentu yang merupakan suatu keseluruhan yang
terintergratif. Keseluruhan intergratif itu kita sebut ilmu pengetahuan.
1). Nilai sepenuhnya berhakikat subjektif, Di tinjau dari pandang ini nilai-nilai
merupakan reaksi-reaksi yang diberikan oleh manusia sebagai pelaku dan kebenaran nya
tergantung pada pengalaman-pengalaman mereka. Yang demikian ini dapat dinamakan
subjektifitas.
2). Nilain merupakan unsur-unsur objektif yang menyususn kenyataan dan demikian ini
disebut Objektivisme Metafisik

2. Syarat-Syarat Ilmu
1). Adanya objek yang diteliti
2). Adanya metode tertentu

3. Karakteristik Ilmu
Randall dan Buchler :
1). Hasil ilmu bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama
2). Hasil ilmu kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan
3). Obyektif tidak bergantung pada pemahaman secara pribadi

4. Kegunaan Ilmu
1). Ilmu sebagai alat eksplansi
2). Ilmu sebagai alat peramal
3). Ilmu sebagai alat pengontrol

5. Pengertian Etika,Moral
Dalam bahasa yunani, etika berarti ethikos yang mengandung arti karakter,
kebiasaan, kecenderungan, dan sikap yang mengandung analisis konsep-konsep seperti
harus, benar salah, mengandung pencarian watak ke dalam watak moralitas atau
tindakan-tindakan moral atau mengandung pencarian kehidupan yang baik secara moral.
Moral berasal dari bahasa latin moralis (kata dasar mos, moris) yang berarti adat
istiadat, kebiasaan, cara dan tingkah laku. Moral berarti sesuatu yang menyangkut
prinsip benar salah, dan salah satu dari suatu prilaku yang menjadi standar prilaku
manusia.

6. Hubungan Antara Ilmu Pengetahuan dan Etika

Etika adalah sebuah ilmu dan bukan sebuah ajaran yang mengatakan bagaimana
seharusnya hidup, tetapi itu adalah ajaran moral. Ilmu pengetahuan dan etika sebagai
suatu pengetahuan yang diharapkan dapat meminimalkan dan menghentikan perilaku
penyimpangan dan kejahatan di kalangan masyarakat. Imlu pengetahuan dan etika
diharapkan mampu mengembangkan kesadaran moral di lingkungan masyarakat sekitar
agar dapat menjadi ilmuan yang memiliki moral dan akhlak yang baik dan mulia.

7. Apakah Ilmu Bebas Nilai atau Tidak Bebas Nilai?


Untuk membedakan apakah ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai kita perlu
membedakan antara penyelenggaraan ilmu itu sendiri dan penerapan ilmu, antara
mengusahakan ilmu dan menggunakan ilmu. Ilmu memang mewakili nilai tertentu, ilmu
bernilai karena menghasilkan pengetahuan dan dapat dipercaya, yang objektif dan dikaji
secara kritis. Bebas nilai adalah tuntutan bagi ilmu tuntutan bagi ilmu pengetahuan agar
ilmu pengetahuan dikembangkan demi ilmu pengetahuan dan tidak didasarkan pada
berbagai pertimbangan di luar ilmu pengetahuan seperti politik, religius, dan moral, ilmu
tidak akan berkembang secara otonom, karena ilmu menjadi tidak murni. Di sini ada
bahaya kebenaran yang harus dikorbankan demi nilai-nilai lain. Dengan demikian kita
tidak akan pernah mencapai kebenaran ilmiah dan rasional-obyektif.

8. Persoalan Etika Ilmu Pengetahuan


Beberapa problem yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti
dicontohkan oleh Amsal Bakhtiar (2010) pada perkembangan ilmu bioteknologi,
perkembangan

yang

dicapai

sangat

maju

seperti

rekayasa

genetika

yang

mengkhawatirkan banyak kalangan. Tidak saja para agamawan dan pemerhati hak-hak
asasi manusia tetapi para ahli bioteknologi pun juga semakin khawatir karena jika
akibatnya tidak bisa dikendalikan maka akan terjadi bencana besar bagi kehidupan
manusia. Sebagai contoh adalah untuk menciptakan manusia-manusia baru yang sama
sekali berbeda baik secara fisik maupun sifat-sifatnya. Dengan rekayasa tersebut manusia
tidak memiliki hak yang bebas lagi. Meskipun teori ini belum tentu terwujud dalam
waktu singkat tetapi telah menimbulkan persoalan dan kekhawatiran di kalangan ahli
etika dan para agamawan, apalagi jika jatuh pada penguasa yang lain pasti dampaknya
akan sangat membahayakan karena bisa menghancurkan eksistensi manusia.