Anda di halaman 1dari 43

REFERAT

SKIZOFRENIA HEBEFRENIK
Pembimbing:
dr. Latifah, Sp.KJ, M.Kes
1
GETA VIRUCHA MEIVILA, S.KED
(71 2015 009)

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN JIWA


RUMAH SAKIT DR. ERNALDI BAHAR
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2016

BAB I
2

PENDAHU LU AN

Pendahuluan
3

Skizofrenia

merupakan suatu deskripsi sindrom dengan variasi


penyebab dan perjalanan penyakit yang luas, serta sejumlah akibat yang
tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial
budaya. Skizofrenia yang menyerang kurang lebih 1 persen populasi,
biasanya bermula di bawah usia 25 tahun karena tahap kehidupan ini
penuh stressor, berlangsung seumur hidup, dan mengenai orang dari
semua kelas sosial.

Pendahuluan
4

Data epidemiologis menunjukkan bahwa di Amerika Serikat prevalensi

skizofrenia sekitar 1% yang berarti bahwa kurang lebih 1 dari 100 orang
akan mengalami skizofrenia selama masa hidupnya. Menurut DSM-IVTR, insiden tahunan skizofrenia berkisar antara 0,5 sampai 5,0 per
10.000 dengan beberapa variasi geografik. Skizofrenia ditemukan pada
semua lapisan masyarakat dan area geografis, prevalensi maupun
insidensinya secara kasar sama di seluruh dunia.

Pendahuluan
5

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RisKesDa) 2007

disebutkan, rata-rata nasional gangguan mental emosional


ringan, seperti cemas dan depresi pada penduduk berusia
15 tahun ke atas mencapai 11,6%, dengan angka tertinggi
terjadi di Jawa Barat, sebesar 20%. Sedangkan yang
mengalami gangguan mental berat, seperti psikotik,
skizofrenia, dan gangguan depresi berat, sebesar 0,46%.

Pendahuluan
6

Berdasarkan

manifestasi klinisnya skizofrenia dibagi


menjadi beberapa subtipe bergantung pada acuan,
berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders IV, Text Revision (DSM-IV-TR) skizofrenia
dibagi menjadi skizofrenia paranoid, disorganized,
katatonik, undifferentiated dan residual.

Pendahuluan
7

Di

Indonesia sendiri pembagian subtipe skizofrenia


berdasarkan pada PPDGJ III juga dibagi menjadi sembilan
subtipe yaitu skizofrenia paranoid, hebefrenik, katatonik,
tak terinci (undifferentiated), residual, simpleks, lainnya,
depresi pasca-skizofrenia dan skizofrenia YTT.

Pendahuluan
8

Skizofrenia hebefrenik disebut juga disorganized type yang

ditandai dengan gangguan pikiran menonjol dan kontak


dengan realitas buruk. Pasien hebefrenik biasanya aktif namun
dalam sikap nonkonstruktif dan tak bertujuan. Penampilan
pribadi dan perilaku sosial berantakan, respon emosional tidak
sesuai dan tawa sering meledak tanpa alasan yang jelas.

Pendahuluan
9

Gangguan jiwa skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang

berat dan gawat yang dapat dialami manusia sejak muda


dan dapat berlanjut menjadi kronis. Oleh karena itu,
pembahasan mengenai subtipe skizofrenia sangatlah
diperlukan untuk pemberian terapi yang lebih efektif dan
efisien bagi penderita.

BAB II
10

TINJ AUAN PU STAKA

Definisi Skizofrenia
11

Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang bersifat kronis atau kambuh

ditandai dengan terdapatnya perpecahan antara pikiran, emosi dan


perilaku pasien yang terkena. Perpecahan pada pasien digambarkan
dengan adanya gejala fundamental (atau primer) spesifik, yaitu
gangguan pikiran yang ditandai dengan gangguan asosiasi, khususnya
kelonggaran asosiasi. Gejala fundamental lainnya adalah gangguan
afektif, autisme, dan ambivalensi. Sedangkan gejala sekundernya adalah
waham dan halusinasi. (Kaplan & Sadock, 2010)

Definisi skizofrenia hebefrenik


12

Skizofrenia hebefrenik adalah suatu bentuk skizofrenia

dengan perubahan prilaku yang tidak bertanggung jawab


dan tak dapat diramalkan, ada kecenderungan untuk selalu
menyendiri, dan prilaku menunjukkan hampa prilaku dan
hampa perasaan, dan ungkapan kata yang di ulang ulang,
proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak
menentu serta adanya penurunan perawatan diri pada
individu. (Maslim, 2013)

Etiologi Skizofrenia
13

Model diathesis-stress
Neurobiologi

Hipotesis dopamin
GABA
Glutamat
Neuropeptida
Sistem limbik
Ganglia Basalis

Faktor genetik
Faktor Psikososial

Gambaran klinis
14

- Gangguan proses pikiran


(inkoherensi, neologisme, sirkumstansial, tangensial, terhalang, tehambat)
- Gangguan afek dan emosi
(inappropriate, tumpul datar, terbatas, labil)
- Gangguan memori
(amnesia, paramnesia, letologika)
- Gangguan kemauan dan autisme
- Waham (erotomania, kebesaran, cemburu, kejar, bersalah)
- Halusinasi (auditorik, visual)
- Gejala katatonik / gangguan psikomotor lain
(posturing, fleksibilitas cerea, stupor)

Penegakan diagnosis
15

1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala
atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas)
a. Thought echo
Thought insertion or withdrawal
Thought broadcasting
b. Delusion of control
Delusion of influence
Delusion of passivity
Delusional perception
c. Halusinasi auditorik (mengomentari pasien, berdiskusi, suara dari bagian tubuh)
d. Waham waham menetap jenis lainnya

16

2. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus


selalu ada secara jelas
Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja
Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami

sisipan (interpolation)
Perilaku katatonik
Gejala gejala negatif

17

3. Adanya gejala gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama


kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase
nonpsikotik prodormal).
4. Harus ada suatu perbuatan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi
(personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak
bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self
absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.

Berdasarkan PPDGJ III, diagnosis skizofrenia hebefrenik dapat ditegakkan apabila


terdapat butir-butir berikut memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia:
18

Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia


Diagnosis hebefrenik biasanya ditegakkan pada usia remaja

atau dewasa muda (onset biasanya mulai 15-25 tahun)


Kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas: pemalu dan
senang menyendiri (solitary), namun tidak harus demikian
untuk menentukan diagnosis

19

Untuk

diagnosis hebefrenik yang menyakinkan


umumnya diperlukan pengamatan kontinu selama 2
atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa
gambaran yang khas berikut ini memang benar
bertahan :

Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan,


serta mannerisme; ada kecenderungan untuk selalu menyendiri
(solitary), dan perilaku menunjukkan hampa tujuan dan hampa
perasaan;

20

Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate),


sering disertai oleh cekikikan (giggling) atau perasaan puas diri (selfsatisfied), senyum sendiri (self-absorbed smiling), atau oleh sikap,
tinggi hati (lofty manner), tertawa menyeringai (grimaces),
mannerisme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan
hipokondrial, dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated
phrases);
Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu
(rambling) serta inkoheren.

21

Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir

umumnya menonjol.
Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol
(fleeting and fragmentary delusions and hallucinations). Dorongan
kehendak (drive) dan yang bertujuan (determination) hilang serta
sasaran ditinggalkan, sehingga perilaku penderita memperlihatkan ciri
khas, yaitu perilaku tanpa tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of
purpose).
Adanya suatu preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat-buat

Differential diagnosis
22

Gangguan Psikotik Lain

Gejala psikotik pada skizofrenia dapat identik dengan gangguan


skizofreniform, gangguan psikotik singkat, gangguan skizoafektif, dan
gangguan waham. Gangguan skizofreniform berbeda dari skizofrenia berupa
gejala yang berdurasi setidaknya 1 bulan tapi kurang dari 6 bulan. Gangguan
psikotik singkat merupakan diagnosis yang sesuai bila gejala berlangsung
setidaknya 1 hari tapi kurang dari 1 bulan dan bila pasien tidak kembali ke
keadaan fungsi pramorbidnya dalam waktu tersebut. Jika suatu sindrom
manik atau depresif terjadi bersamaan dengan gejala utama skizofrenia,
gangguan skizoafektif adalah diagnosis yang tepat. Waham nonbizar yang
timbul selama sekurangnya 1 bulan tanpa gejala skizofrenia lain atau
gangguan mood patut didiagnosis sebagai gangguan waham.

Differential diagnosis
23

Gangguan Kepribadian

Berbagai gangguan kepribadian mungkin memiliki sebagian


gambaran yang sama dengan skizofrenia. Gangguan kepribadian
skizotipal, skizoid, dan ambang adalah gangguan kepribadian
dengan gejala yang paling mirip. Gangguan kepribadian obsesifkompulsif yang parah dapat menyamarkan suatu proses
skizofrenik yang mendasari. Tak seperti skizofrenia, gangguan
kepribadian memiliki gejala ringan dan riwayat terjadi seumur
hidup pasien. Gangguan ini juga tidak memiliki tanggal awitan
yang dapat diidentifikasi.

Differential diagnosis
24

Gangguan Waham

Konsep utama mengenai penyebab gangguan waham


adalah perbedaanya dengan skizofrenia dan gangguan
mood. Gangguan waham lebih jarang daripada skizofrenia
maupun gangguan mood, onsetnya lebih lambat daripada
skizofrenia dan dominasi perempuan kurang nyata
daripada gangguan mood.

Tatalaksana
25

Farmakoterapi
Antagonis Reseptor Dopamin
Antagonis reseptor dopamin efektif dalam penanganan skizofrenia,
terutama terhadap gejala positif. Obat-obatan ini memiliki dua
kekurangan utama. Pertama, hanya presentase kecil pasien yang cukup
terbantu untuk dapat memulihkan fungsi mental normal secara
bermakna. Kedua, antagonis reseptor dopamin dikaitkan dengan efek
samping yang mengganggu dan serius. Efek yang paling sering
mengganggu adalah akatisia dan gejala parkinson berupa rigiditas dan
tremor. Efek potensial serius mencakup diskinesia tarda dan sindrom
neuroleptik maligna.

Tatalaksana
26
Antagonis Serotonin-Dopamin

SDA menimbulkan gejala ekstrapiramidal ayng minimal atau tidak ada, berinteraksi dengan
subtipe reseptor dopamin yang berbeda di banding antipsikotik standar, dan
mempengaruhi baik reseptor serotonin maupun glutamat. Obat ini juga menghasilkan efek
samping neurologis dan endokrinologis yang lebih sedikit serta lebih efektif dalam
menangani gejala negatif skizofrenia. Obat yang juga disebut sebagai obat antipsikotik
atipikal ini tampaknya efektif untuk pasien skizofrenia dalam kisaran yang lebih luas
dibanding agen antipsikotik antagonis reseptor dopamin yang tipikal. Golongan ini
setidaknya sama efektifnya dengan haloperidol untuk gejala positif skizofrenia, secara unik
efektif untuk gejala negatif, dan lebih sedikit, bila ada, menyebabkan gejala ekstrapiramidal.
Beberapa SDA yang telah disetujui di antaranya adalah klozapin, risperidon, olanzapin,
sertindol, kuetiapin, dan ziprasidon. Obat-obat ini tampaknya akan menggantikan
antagonis reseptor dopamin, sebagai obat lini pertama untuk penanganan skizofrenia.

Tatalaksana
27

Interaksi Obat
28
Antipsikosis + antidepresan trisiklik = efek samping antikolinergik meningkat (hati-

hati pada pasien dengan hipertrofi prostat, glaukoma, ileus, penyakit jantung).
Antipsikosis + antianxietas = efek sedasi meningkat, bermanfaat untuk kasus dengan

gejala dan gaduh gelisah yang sangat hebat.


Antipsikosis + antikonvulsan = ambang konvulsi menurun, kemungkinan serangan

kejang meningkat, oleh karena itu dosis antikonvulsan harus lebih besar. Yang paling
minimal menurunkan ambang kejang adalah antipsikosis Haloperidol.
Antipsikosis + antasida = efektivitas obat antipsikosis menurun disebabkan gangguan

absorpsi.

Psikoterapi
29

Ventilasi (katarsis)

Psikoterapi ventilasi adalah bentuk psikoterapi yang


memberi kesempatan seluas luasnya kepada penderita
untuk mengemukakan isi hatinya dan sebagai hasilnya ia
akan merasa lega serta keluhannya akan berkurang

Sikap terapis
Menjadi pendengar yang baik dan penuh pengertian
Topik pembicaraan
Permasalahan yang menjadi stress psikologik yang utama

Psikoterapi
30

Persuasi

Persuasi adalah psikoterapi suportif yang dilakukan dengan menerangkan


secara masuk akal tentang gejala gejala penyakitnya yang timbul sebagai
akibat cara berfikir, perasaan, dan sikapnya terhadap permasalahan yang
dihadapinya.

Sikap terapis
Terapis berusaha membangun, mengubah, dan menguatkan impuls tertentu serta
membebaskannya dari impuls yang mengganggu secara masuk akal dan sesuai dengan hati
nurani.
Berusaha meyakinkan pasien dengan alasan yang masuk akal bahwa gejalanya akan hilang.
Topik pembicaraan
Ide dan kebiasaan pasien yang mengarah pada terjadinya gejala.

Psikoterapi
31

Psikoterapi reassurance

Psikoterapi reassurance adalah psikoterapi yang berusaha


meyakinkan kembali kemampuan pasien, bahwa ia
sanggup mengatasi masalah yang dihadapinya.

Sikap terapis
Meyakinkan dengan tegas dengan menunjukkan hasil hasil yang
telah dicapai pasien.
Topik pembicaraan
Pengalaman pasien yang berhasil secara nyata

Psikoterapi
32

Psikoterapi sugesti

Psikoterapi sugesti adalah psikoterapi yang berusaha


menanamkan kepercayaan pada pasien bahwa gejala
gejala gangguannya akan hilang.

Sikap terapis
Meyakinkan dengan tegas bahwa gejala pasien pasti hilang
Topik pembicaraan
Gejala gejala bukan karena kerusakan organik/fisik. Timbulnya
gejala tersebut tidak logis.

Psikoterapi
33

Bimbingan

Bimbingan adalah psikoterapi yang memberi nasihat- nasihat


praktis dan khusus yang berhubungan dengan masalah kesehatan
jiwa pasien, agar ia lebih mampu mengatasi masalah tersebut.

Sikap terapis
Menyampaikan nasihat dengan penuh wibawa daan pengertian
Topik pembicaraan
Cara hubungan antar manusia
Cara berkomunikasi
Cara bekerja dan belajar dengan baik

Psikoterapi
34

Penyuluhan

Penyuluhan atau konseling adalah psikoterapi yang


membantu pasien mengerti dirinya sendiri secara lebih
baik, agar ia dapat menyesuaikan diri.

Sikap terapis
Menyampaikan secara halus dan penuh kearifan
Topik pembicaraan
Masalah pendidikan, pekerjaan, pernikahan, dan pribadi.

Prognosis
35

Sejumlah studi menunjukkan bahwa selama periode 5 sampai 10 tahun

setelah rawat inap psikiatrik yang pertama untuk skizofrenia, hanya sekitar
10-20% persen yang dapat dideskripsikan memiliki hasil akhir yang baik.
Lebih dari 50% pasien dapat digambarkan memiliki hasil akhir yang buruk,
dengan rawat inap berulang, eksaserbasi gejala, episode gangguan mood
mayor, dan percobaan bunuh diri. Namun, skizofrenia tidak selalu memiliki
perjalanan penyakit yang memburuk dan sejumlah faktor dikaitkan dengan
prognosis yang baik. Angka pemulihan yang dilaporkan berkisar dari 1060%, dan taksiran yang masuk akal adalah bahwa 20-30% pasien terus
mengalami gejala sedang, dan 40-60% pasien tetap mengalami hendaya
secara signifikan akibat gangguan tersebut selama hidup mereka.

Ciri untuk mempertimbangkan prognosis baik hingga buruk pada skizofrenia


36

BAB III
37

KESI MPU LAN

Kesimpulan
38

Skizofrenia adalah gangguan psikotik yng bersifat kronis atau kambuh

ditandai dengan terdapatnya perpecahan antara pikiran, emosi dan


perilaku pasien yang terkena. Perpecahan pada pasien digambarkan
dengan adanya gejala fundamental (atau primer) spesifik, yaitu
gangguan pikiran yang ditandai dengan gangguan asosiasi, khususnya
kelonggaran asosiasi. Gejala fundamental lainnya adalah gangguan
afektif, autisme, dan ambivalensi. Sedangkan gejala sekundernya adalah
waham dan halusinasi.

39

Skizofrenia hebefrenik adalah suatu bentuk skizofrenia dengan

perubahan prilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak


dapat diramalkan, ada kecenderungan untuk selalu
menyendiri, dan prilaku menunjukkan hampa prilaku dan
hampa perasaan, dan ungkapan kata yang di ulang ulang,
proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak
menentu serta adanya penurunan perawatan diri pada
individu.

40

Adapun beberapa faktor etiologi yang mendasari terjadinya

skizofrenia, antara lain: model diathesis-stress, neurobiologi,


faktor genetik, dan faktor psikososial.
Diagnosis skizofrenia hebefrenik dapat ditegakkan apabila

terpenuhinya butir-butir kriteria umum diagnosis skizofrenia


sebagaimana yang tertulis pada PPDGJ III.

41

Obat antipsikotik mencakup dua kelas utama: antagonis

reseptor dopamin, dan antagonis serotonin-dopamin.


Mengingat belum bisa diketahui penyebab pastinya, jadi
skizofrenia tidak bisa dicegah. Lantaran pencegahannya sulit,
maka deteksi dan pengendalian dini penting, terutama bila
sudah ditemukan adanya gejala. Dengan pengobatan dini, bila
telah didiagnosis dapat membuat penderita normal kembali,
serta mencegah terjadinya gejala skizofrenia berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA
42
American Psychological Association. 2012. Definition of Schizophrenia. (http://www.apa.org/topics/schiz/index.aspx Di akses

8 januari 2016).
Kaplan, H.I., Sadock, B.J., and Grebb, J.A., 2010. Sinopsis Psikiatri : Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Edisi 2.
EGC. Jakarta, Indonesia.
Maslim, Rusdi. 2013. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ III. Jakarta: Nuh Jaya.
Maslim, Rusdi. 2007. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. PT Nuh Jaya Jakarta.
Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ III), Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 1993.
Penuntun Praktis Pelayanan Kesehatan Jiwa. Metode Pendekatan Praktis. Tim Medis Rumah Sakit Jiwa Pusat Jakarta.
Depertemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Rumah Sakit Jiwa Pusat Jakarta, 2000.

TERIMAKASIH
43