Anda di halaman 1dari 6

BAB V

HAKEKAT RUH

A. Mukadimmah
Roh, nyawa, sukma yang dalam jasad makhluk mempunyai tali petanda berupa nafas dimana apabila
penglihatan roh jika mewakili Dzat Yang Maha Suci menjadikan penguasaan sempurna.
Seperti dijelaskan dalam Al Quran di surat An Najm, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula
keliru. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu
tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An Najm 53 : 2-4)
Wahyu yang diwahyukan adalah tentang ke-ESA-an Allah. dan Allah mengambil kesaksian terhadap
jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan
kami)," (QS : Al A'raaf 7 : 172)
Energi itu kekal, di mana setiap energi tidak bisa hilang, akan tetapi berubah menjadi bentuk energi lain",
kurang lebih begitulah bunyi hukum kekekalan energi. Energi bagi setiap makhluk hidup adalah RUH.
Apabila ruh telah meninggalkan makhluk hidup maka DIA akan dikatakan mati dan raga yang
ditinggalkannya disebut sebagai bangkai.
Maka apabila Aku sempurnakan dia dan Aku tiupkan padanya Ruh dari Ku, hendaklah kamu tunduk
sujud akan dia (QS. AL-HIJR 15 : 29)
Lalu Ia sempurnakan kejadiannya, Ia tiupkan pada sebagian dari RuhNya dan Ia jadikan bagi kamu
pendengaran dan penglihatan dan hati tetapi sedikit sekali kamu bersyukur. (QS. As Sajdah 32 : 9)
Setiap ciptaan memiliki ruh. Manusia (ruh insani), tanaman (ruh nabati), hewan (ruh hewani), bahkan
benda mati pun memilikinya. Atom-atom dalam benda mati sebenarnya hidup dan terus berputar, dan
ruh bendawi inilah yang menjadikannya hidup. Karena itu pula, benda, tumbuhan, hewan, bahkan
anggota tubuh kita kelak akan bersaksi mengenai perbuatan kita di dunia ini.

B. Hukum Wajib Untuk Mempelajari Ruh


Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan
tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. AL-Isra 17 : 85 )
Ayat diatas sepertinya adalah pelarangan bagi manusia untuk Tahu akan banyak hal tentang Ruh.
Namun makna yang tersembunyi apabila kita gunakan fikiran yang tenang adalah Tuhan ingin
menyampaikan pesan kepada manusia Agar berhati-hati dalam penafsiran terkait RUH. Untuk itu kami,
mencoba menelaah terkait ruh ini dari berbagai nara sumber.
Ruh adalah Energi Tuhan, yang mewakili Tuhan atas diri manusia, didalamnya terkandung sifat-sifat
Tuhan demikian dikatakan bahwa manusia adalah makhluk Ruhaniah.
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ru-Ku, maka
tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (QS. Al Hijr 15 : 29)
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. As Sajdah 32 : 9 )

Ingatlah bahwa manusia sudah dibekali dengan kesempurnaan penciptaan. Dibekali dengan sarana dan
prasarana, baik fisik dan metafisik untuk manunggal kembali dengan iradat-Nya. Bukankah KAWULO
SESUNGGUHNYA ADALAH GUSTI???? Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ruh-Nya
ke dalamnya. Dia menjadikan bagimu pendengaran, pengelihatan dan perabaan. Tapi sedikit sekali kamu
yang bisa bersyukur!
Kalimat bersyukur pada QS. As Sajdah 32 : 9 mengandung arti bahwa manusia harus mempelajari,
mengetahui dan memahami (HUKUM WAJIB) dengan esensi penyusunnya. Bagaimana manusia akan
bersyukur kalau dia sendiri tidak tau apa yang sedang berlaku pada dirinya.
Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar
sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil
pelajaran, . (QS. Ar Ra'd 13 : 19 )
Dalam kitab suci kata ruh itu selalu dinyatakan dalam bentuk tunggal, bukan jamak. Juga dinyatakan
sebagai ruh-Nya. Tidak ada satupun ayat di dalam Al Quran yang menyatakan bahwa ruh itu diciptakan
oleh Tuhan. Sebab Ruh-Nya hanya satu yang kemudian nitis kepada manusia agar manusia dapat
membangkitkan kesadaran dirinya sendiri bahwa dia adalah citra-Nya. Maka, apabila Aku telah
menyempurnakannya, dan Aku tiupkan ruh-Ku ke dalamnya, tunduklah kamu kepadanya dengan
bersujud
Saat kondisi bayi (baru lahir kedunia) tidak memahami akan dirinya, ketika beranjak remaja menganggap
diri sebatas fisik (jasmaniah) banyak sekali dari manusia sampai usia tua menganggap dirinya fisik
(jasmaniah).
Kondisi ini terjadi ketika manusia terjebak oleh hawa nafsunya, karena cintanya pada dunia yang
demikian besar menyebabkan tertutup kesadarannya akan jati dirinya yang sesungguhnya, dalam
kehidupannya didunia akal dan fikirannya hanya tertuju pada gemerlapnya dunia dengan sendirinya
akhirat terabaikan.
Kondisi ini di ceritakan Tuhan dalam firman-NYA maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu
mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan
itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah
hati yang di dalam dada. (QS. Al Hajj 22 : 46 )
Apakah kita akan atau telah masuk dalam golongan ini ?
Nabi SAW. bersabda yang bermaksud, "Dunia adalah tanaman untuk hari akhirat."
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung
akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?. (QS. AlAnaam 6:32)

C. Ruh bukanlah Malaikat


Mengenai hakikat ruh yang terdapat pada ayat, Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh..., Allamah
Thabathabai mengatakan bahwa secara lahiriah, ruh adalah suatu ciptaan yang lebih luas [dan lebih
tinggi] dari Jibril dan selain Jibril.
Di bawah ini akan disebutkan sebagian hadis-hadis yang menunjuk bahwa ruh bukan malaikat dan bukan
Jibril:
1. Seorang datang menghampiri Imam Ali As dan bertanya, Apakah ruh adalah Jibril itu sendiri? beliau
bersabda, Jibril adalah dari malaikat dan ruh bukanlah Jibril. (Kulaini, Kf, jil. 1, hal. 274, Dar al-Kutub
al-Islamiyyah, Teheran, 1365)

2. Abu Bashir bertanya kepada Imam Shadiq As tentang firman Tuhan, Dan mereka bertanya kepadamu
tentang ruh. Katakanlah, ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, Imam Shadiq As bersabda, Ruh adalah
suatu ciptaan yang lebih agung [lebih luas, lebih besar, dan lebih tinggi] dari Jibril dan Mikail As. Ruh ini
bersama Rasulullah Saw dan para Imam Ahlulbait dan berasal dari alam malakut. (Ibid, jil. 1, hlm. 273)
3. Kendati demikian, kita menyaksikan dalam sebagian ayat-ayat al-Quran yang memperkenalkan Jibril
As sebagai Ruh al-Amin, namun bentuk penggabungan dari kedua tema ini adalah sebagaimana yang
ditegaskan oleh Allamah Thabathabai Qs, Dari ungkapan al-Quran dapat disimpulkan bahwa Jibril dan
para malaikat adalah pembawa dan penyampai ruh dan mereka akan senantiasa bersama dengannya
dalam [perjalanan] menurun dan menaik. Dan dari aspek inilah, ruh dari satu sisi adalah realitas yang tak
terpisah dari malaikat dan Jibril, dan dari sisi yang lain sebagai realitas yang terpisah dari mereka.
( Sayyid Muhammad Husain Thabathabai, Al-Mzn, Sayyid Muhammad Baqir Musawi Hamadani,)

D. RUH Manusia adalah Bagian Tuhan


Mari kita telaah ketiga ayat al quran dibawah ini agar kita memahami terkait salah satu unsur utama
penyusun manusia, sehingga iman kita akan semakin tebal.
Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (QS. Al Hijr 15 : 27)
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ru-Ku, maka
tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (QS. Al Hijr 15 : 29)
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. As Sajdah 32 : 9 )
Pada surat 15 (Al-Hijr) ayat 27 dikatakan bahwa jin itu dijadikan / diciptakan oleh Allah, sementara Ruh
yang berada pada manusia adalah ruh yang ditiupkan dan merupakan bagian dari Ruh Tuhan, itu
sebabnya Ruh itu kekal sebagaimana Tuhan.
Semua yang ada dialam semesta adalah ciptaan Tuhan akan tetapi Ruh yang ada dimanusia merupakan
bagian dari Tuhan itu sebabnya pada diri manusia terkandung sifat keTuhanan.
Hal ini ditegaskan dalam wirid Hidayat jati dalil ke 3 yang berbunyi Sebenarnya manusia itu adalah
Rahsa-Ku dan Aku ini adalah rahsa manusia karena Aku menciptakan Adam dari empat unsur yaitu :
tanah, air, api, dan udara. Keempat unsur itu adalah perwujudan dan Sifat-Ku. Kemudian Aku masukkan
kedalam tubuh Adam lima macam mudzarrah, yaitu : nur, rahsa, ruh, nafsu dan budi. Itulah sebagai
gambaran-citra wajah-KU Yang Maha Suci".
Karena manusia mengandung Rahasia sehingga rahasia itu wajib dikembalikan kepada-Nya. Yaitu
dengan jalan mempelajari dan memahami DIRI untuk mengenal DIA.

E. Urgensi untuk memahami Ruh


Bahwa dalam konsep kembali kepada Tuhan dalam pandangan hakekat adalah yang kembali pada
Tuhan adalah Ruh bukan raga. Karena raga tidaklah akan mampu menghadapi zaman. Semua ada
batasannya, kecuali RUH, karena ia kekal.
Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kamu kepada tuhanmu dengan perasaan rela dan direlakan (QS Al
Fajr 89: 27-28)
Dalam sepenggal riwayat Asal Mula kejadian (Baca : HAKIKAT NUR MUHAMMAD) diceritakan Allah
menurunkan ruh atau makhluk-makhluk itu ke derajat yang paling rendah, yaitu Alam Ajsam (Alam

Kebendaan) yang konkret dan nyata. Allah Swt berfirman, Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat
yang serendah-rendahnya.(QS. At-Tin 95: 5)
Allah Swt menurunkan Nur itu dari tempat asal kejadiannya, yaitu Alam Lahut (Alam Ketuhanan) ke Alam
Asma` Allah. Dari Alam Asma Allah itulah, ruh-ruh itu turun ke Alam Malakut. Di situ ruh-ruh itu dipakaikan
dengan pakaian kemalaikatan yang gemerlap. Kemudian mereka diturunkan ke Alam Ajsam yang tercipta
dari unsur api, air, angin (udara), dan tanah. Maka ruh itu dibentuk dengan diberi badah yang terjadi dari
darah, daging, tulang, urat, dan sebagainya.
Demikianlah, sudah menjadi takdir dan ketetapan Allah Swt, bahwa manusia harus diciptakan sedemikian
rupa, untuk menghuni alam dunia ini. Kemudian sesudah selesai waktu atau sampai ajal yang ditetapkan
untuk ia hidup di dalamnya, ia akan kembali kepada asalnya sesuai dengan kehendak Penciptanya,
sebagaimana yang ditunjukkan dalam firman Allah Swt, Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu
dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada
kali yang lain,.(QS. Thaha20 : 55)
Kemudian Allah Swt memerintahkan ruh-ruh itu untuk menduduki badan-badan yang dikhususkan bagi
mereka masing-masing, sehingga lengkaplah suatu penciptaan yang amat sempurna. Kemudian disuruh
pula para malaikat dan jin untuk memberikan penghormatan (Karena Kesempurnaan) kepada makhluk
ciptaan-Nya itu, sebagaimana firman Allah Swt,Maka apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan
Aku tiupkan kepadanya ruh-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.(QS.
Shad 38: 72)
Setelah ruh itu dimasukkan ke dalam badan, maka lupalah ia asalnya dan perjanjiannya dengan Allah
Swt. Lupalah ruh itu yang datang dari Alam Ruh. Lupalah ia perjanjiannya dengan Allah, tatkala di Alam
Ruh. Lupalah ia ketika dahulu pernah ditanya, Bukankah Aku (Allah) adalah Tuhan kamu? Mereka
menjawab, Benar dan kami menyaksikan ..(QS. Al-Araf 7 : 172)
Lupalah ruh-ruh itu akan asal-usulnya dan perjanjiannya dengan Allah Swt. Lupalah ia bahwa ia akan
kembali kepada Allah Swt, seperti sedia kala setelah selesai ketetapan ajalnya untuk hidup di muka alam
yang fana ini. .Dan mereka mengira bahwa yang mereka tidak akan kembali lagi kepada Kami.(QS.
Al-Qashash 28 : 39)
Demikianlah sikap manusia yang melupakan dirinya, sehingga tidak mengenali Tuhan yang
menciptakannya!
Karena kita merupakan bagian dari Tuhan dan akan kembali kepada-NYA, maka merupakan hukum wajib
kita untuk mengenali Dzat-nya Kemballi. Seperti dalam hadist nabi Siapa menanam didunia maka dia
akan menuai di akherat. Siapa yang buta di dunia maka di akhirat akan buta.
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan .
(QS. Al 'Ankabuut 29 : 57)
Dari sepenggal ayat dalam Al-Quran tersebut dapat disimpulkan bahwa jiwalah (RUH) yang kelak
menerima hisab dan azab di hari akhir nanti.

F. Makna Hakekat dari mempelajari RUH


Allah Swt Maha Pengasih dan Penyayang. Allah Swt tidak membiarkan ruh-ruh berada dalam kesesatan
dan kejahilan. Disadarkanlah mereka seperti semula denan mengutus para rasul dan kitab-kitab agar
mereka tidak lupa dan lalai. Allah Swt berfirman, Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan
membawa ayat-ayat Kami (dan Kami perintahkan kepadanya), keluarkanlah kaummmu dari kegelapan
menuju cahaya yang terang benderang dan ingatkan mereka akan hari-hari Allah.(QS. Ibrahim 14 : 5)
Maksud ayat ini adalah mengingatkan kembali kepada ruh-ruh itu tentang asal kejadiannya dan
pertaliannya dengan Allah Swt sebagai Penciptanya.

AWAL BERAGAMA ADALAH MENGENAL TUHANNYA


KENALI DIRIMU NISCAYA KAMU AKAN MENGENALI TUHANMU

Para rasul telah diutus di bumi ini, seorang demi seorang, silih berganti, untuk menjalankan tugas dari
Allah Swt di bahu mereka, dan setelah tugas itu selesai, mereka pun kembali ke hadirat Ilahi.
Para rasul datang untuk menyadarkan setiap orang (ruh) tentang asal-usul mereka, siapa mereka yang
sebenarnya, dari mana mereka datang dan kemana mereka akan pergi. Hanya orang-orang yang ingat
kepada Allah Swt, yang menghadapkan wajah kepada-Nya, yang mau kembali ke asalnya, sedangkan
orang yang sampai ke tujuannya, semakin lama semakin berkurang.
Para rasul terus berdatangan silih berganti. Dan, risalah terus diturunkan hingga akhirnya sampai kepada
Nabi Muhammad Saw, yaitu Nabi dan Rasul terakhir. Allah Swt menurunkan para Rasul itu untuk
membuka mata hati insan supaya tersadar dari kealpaan dan kelalaiannya serta menarik mereka kembali
masuk ke dalam golongan manusia yang mengenal sifat-sifat Allah. Dari sanalah kemudian manusia
akan menjejakkan kakinya di titian Haqiqah, yakni ke derajat hakikat untuk mengenal Allah Swt yang
telah menciptakannya lalu bertaqarrub kepada-Nya. Allah Swt berfirman,Katakanlah, Inilah jalanku, aku
dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan hujjah yang nyata.(QS. Yusuf
12 : 108)

Ruh manusia adalah bagian dari Tuhan. Dan nanti yang akan kembali pada Tuhan adalah RUH.
Sehingga semasa di dunia saat kita masih menanam kita mulai diri untuk menanam Pengetahuan terkait
RUH sehingga saat kita panen (Akhirat) kita tidak buta, bisu dan tuli. Karena bahasa yang digunakan
saat menghadap Tuhan bukanlah bahasa arab yang selama ini di yakini oleh banyak orang. Hal ini
digambarkan oleh Nabi muhammad dalam peristiwa Isra ataupun Miraj dengan Nabi berkomunikasi
dengan malaikat, dengan para Nabi.
Bagaimana Nabi yang menggunakan RAGA bisa ngrobol dengan Malaikat yang tidak tampak, dengan
nabi yang sudah meninggal. Belum lagi terkait perbedaan bahasa. Apakah bahasa yang digunakan nabi
adam sama dengan bahasa yang digunakan nabi muhammad begitu juga dengan nabi nabi yang lain.
Sehingga hal ini jelaslah bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa RUH dan bukan bahasa Arab,
sekaligus menegaskan bahwa RUH yang kembali pada Tuhan, bukan RAGA.

Sependapat dengan hal diatas, banyak pengalaman dari kita sebagai manusia biasa yang pernah di
temui oleh Nabi Muhammad, Nabi Qidir, para wali dan masih banyak lagi. Apakah saat mereka ngobrol
bahasa arab yang digunakan???, dari pengalaman penulis sendiri dan berbagai banyak nara sumber
saat ditanya terkait hal tersebut jawabannya adalah saya menggunakan bahasa saya sendiri (bahasa
jawa, bahasa indonesia) dan mereka menggunakan bahas yang sama dengan yang kami gunakan.
Bagaimana pesan dari Beliau-beliau bisa kita resapi bila menggunkan bahasa yang kita sendiri tidak
fahami?!!.
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu
hidup[248] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (QS. Ali 'Imran 3 : 169)
Dibutuhkan sebuah proses penghancuran kesadaran secara massif alias proses laku utama: Mati dalam
Hidup sehingga manusia menemukan kembali jati dirinya. Inilah jalan makrifat tertinggi yang harusnya
ditempuh oleh kita semua: KAWULO DENGAN GUSTI SEBENARNYA MANUNGGAL DAN JUMBUH.

SEBAB SEMUANYA ASALNYA DARI YANG SATU DAN KESATUAN ITU KINI SUDAH DIHANCURKAN
DAN DIRUSAK OLEH MANUSIA.