Anda di halaman 1dari 12

UJIAN TENGAH SEMESTER

MANAJEMEN PRODUKSI BENIH


Perancangan dan Pengelolaan Industri Benih
Komoditi Padi Hibrida

Oleh

Nama : Haryo Adi Cahyo Wibowo


NIM

: 135040101111052

Kelas : G

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

I.

Perancangan Dan Pengelolaan Industri Benih Komoditi Padi Hibrida


A. Perencanaan Produksi Benih Padi Hibrida
1. Pemilihan komoditas pertanian (padi hibrida), varietas, jumlah, mutu.
Pada tahap dilakukan riset pasar terlebih dahulu, sebelum melakukan penentuan
varietas yang akan diproduksi. Penentuannya berdasarkan tingkat keuntungan yang diperoleh
dari produksi benih. Dipertimbangkan pula bagaimana aspek pemasarannya.
2. Pemilihan lokasi produksi pertanian dan penempatan fasilitas.
Dalam skala menengah besar maka kita perlu untuk menentukan lokasi tempat
produksi benih, hal ini diperlukan untuk keberhasilan dan kesinambunagn usaha. Pemilihan
lokasi ditentukan dengan melihat factor-faktor yang strategis yang akan diperolah jika kita
menempati suatu kawasan.
Misalnya: ketersediaan tenaga kerja, ketersediaan sarana dan prasarana fisik
penunjang, lokasi pemasaran, dan ketersediaan insentif wilayah, proses penanganan dan
pengangkutan produk, dan keberadaan alat telekomunikasi.
3. Skala usaha pertanian.
Skala usaha sangat berkaitan erat dengan ketersediaan input dan pasar, Pada kasus ini,
ditentukan skala menengah besar. Dalam merencanakan usaha produksi pertanian, maka
keputusan mengenai skala usaha menjadi sangat penting, sehingga perlu diperhitungkan
dengan matang agar produksi yang dihasilkan tidak mengalami kelebihan pasokan atau
kelebihan permintaan.
4. Perencanaan proses produksi pertanian.
Pada tahap ini dilakukan pembuatan program yang sifatnya umum maupun spesifik,
baik jangka panjang maupun jangka pendek. Tujuan dari pembuatan program ini adalh agar
semua sasaran/ target dari bisnis produksi benih dapat tercapai secara tersturktur dan
sistematis.
B. Perencanaan Proses Produksi Benih Padi Hibrida
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan proses produksi pertanian
meliputi biaya produksi, penjadwalan proses produksi, pola produksi, dan sumber-sumber
input dan sistem pengadaannya. Pada tahap ini diidentifikasi bagaimana teknis yang akan
dilakukan berikut dengan sarana produksi yang akan digunakan.

C. Pengorganisasian Input dan Sarana Produksi Pertanian


Pengorganisasian sangat berguna dalam pencapaian efisiensi usaha dan waktu dan
menyangkut bagaimana mengalokasikan berbagai input dan fasilitas yang akan digunakan dalam
proses produksi secara tetap dalam suatu rangkaian proses baik dari segi jumlah maupun mutu dan
kapasitas.
Pencapaian efisiensi dalam pengorganisasian input-input dan fasilitas produksi lebih
mengarah kepada optimisasi penggunaan berbagai sumberdaya tersebut sehingga dapat dihasilkan
output maksimum dengan biaya tetap atau biaya minimum dengan output tetap.

D. Kegiatan Produksi Pertanian


Kegiatan produksi merupakan pelaksanaan rencana produksi yang telah dibuat dan
merupakan kegiatan yang mempunyai masa yang cukup lama serta terkait dengan bagaimana
mengelola proses produksi berdasarkan masukan, baik yang langsung maupun tidak langsung untuk
menghasilkan produk.
Efektifitas kegiatan produksi dapat dilihat dari alokasi sumberdaya yang benar, perencanaan
proses produksi yang benar, serta pelaksanaan yang benar.
E. Pengawasan Produksi Benih Padi Hibrida
Pengawasan dalam usaha produksi pertanian meliputi pengawasan anggaran, proses masukan,
jadwal kerja dan sebagainya dalam rangka upaya untuk memperoleh produksi yang maksimal.
Pengawasan dilakukan agar perencanaan yang telah disusun dapat berjalan sesuai dengan
yang diharapkan dan semua karyawan melakukan apa yang telah ditugaskan sesuai dengan tugas
masing-masing
F. Evaluasi Produksi Benih Padi Hibrida
Evaluasi dilakukan secara berkala dimulai dari tahap perencanaan sampai dengan kegiatan
produksi selesai untuk mengendalikan apabila terjadi penyimpangan dari rencana yang dianggap
merugikan kegiatan produksi
G. Uji Kendali Mutu Benih Padi Hibrida
Pada tahap ini benih di uji di instansi terkait (BPSB) untuk mengetahui seberapa baik kualitas
benih sehingga ketika disebar maka benih dapat diakui kualitasnya.
H. Pemasaran/menyabar Benih Padi Hibrida
Benih yang telah lulus uji mutu benih siap unutk di sebar ke petani. Proses ini dilakukan
dengan pemasaran pada took pertanian.

II.

Rasionale

Perencanaan
Produksi Benih Padi
Hibrida

Perencanaan Proses
Produksi Benih Padi
Hibrida

Pengorganisasian
Input dan Sarana
Produksi Padi
Hibrida

Evaluasi Produksi
Padi Hibrida

Pengawasan Produksi
Padi Hibrida

Kegiatan Produksi
Padi Hibrida

Uji Kendali Mutu


Benih Padi Hibrida

Pemasaran/sebar
Padi Hibrida ke
petani

III.

Tujuan
Menyediakan benih padi hibrida dengan kualitas terbaik dan memberikan produktivitas
optimal.

IV.

Target yang Ingin Dicapai

Membuat dan memberlakukan standar mutu benih yang tinggi.

Mengadopsi teknologi terbaru pada proses produksi pembenihan termasuk alatalatnya.

V.

Metodologi Produksi Benih Padi Hibrida


Padi hibrida yang merupakan tanaman F1 hasil persilangan antara GMJ (A) dengan

galur pemulih kesuburan (R) hanya dapat ditanam satu kali, karena bila hasil panen hibrida
ditanam lagi akan mengalami perubahan yang signifikan sebagai akibat adanya segregasi
pada generasi F2 sehingga pertanaman tidak seragam dan tidak baik. Oleh karena itu benih F1
harus diproduksi dan petani juga harus selalu menggunakan benih F1.

Produksi benih padi hibrida mencakup dua kegiatan utama yaitu : produksi benih
galur tetua dan produksi benih hibrida. Galur tetua meliputi GMJ, B dan R. GMJ bersifat
mandul jantan, produksi benihnya dilakukan melalui persilangan GMJ x B. Galur B dan R
bersifat normal (fertil), produksi benihnya dilakukan seperti pada varietas padi konvensional
(inbrida). Benih hibrida diproduksi melalui persilangan GMJ dan R.
Beberapa faktor yang mutlak harus diperhatikan dalam produksi benih padi hibrida adalah :
1. Pemilihan lokasi yang tepat, yaitu bersih dari benih-benih tanaman lain, bukan daerah
endemik hama dan penyakit utama, tanah subur, cukup air, mempunyai sistem irigasi dan
drainasi yang baik, dan tingkat keseragaman (homogenitas) tanah yang tinggi.
2. Kondisi cuaca yang optimum, yaitu :
a. Suhu harian 20-30 C
b. Kelembaban relatif 80%
c. Sinar matahari cukup (cerah) dan kecepatan angin sedang
d. Tidak ada hujan selama masa berbunga (penyerbukan)
3. Isolasi dari pertanaman padi lainnya.
Untuk menghindari terjadinya kontaminasi penyerbukan dari polen yang tidak diinginkan,
areal pertanaman produksi benih harus diisolasi dari pertanaman padi lainnya. Ada tiga
macam isolasi yaitu: isolasi jarak, isolasi waktu, dan isolasi penghalang fisik.
a. Isolasi jarak. Pada produksi benih F1 hibrida, isolasi jarak dengan pertanaman padi
lainnya minimal 100 m, sedangkan pada produksi benih galur A minimal 500 m.
b. Isolasi waktu. Pada isolasi ini perbedaan waktu berbunga antara pertanaman produksi
benih dengan tanaman padi disekitarnya minimal 21 hari.
c. Isolasi penghalang fisik. Pada isolasi ini dapat digunakan plastik sebagai penghalang
dengan ketinggian 3 m.
4. Perbandingan jumlah baris antara tanaman A dan B pada perbanyakan galur A dan antara
tanaman A dan R pada produksi benih F1.
a. Benih A, digunakan perbandingan baris tanaman 2B :

4-6A, dengan jarak tanam 20

cm x 20 cm. Jarak tanam antar baris tanaman A terluar dengan baris tanaman B terluar
adalah 30 cm. Jarak tanam di dalam baris B adalah 20 cm.
b. Pada produksi benih F1 hibrida, digunakan perbandingan baris tanaman 2R : 8-12A,
dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Jarak tanaman A terluar dengan baris tanaman R
terluar adalah 30 cm. Jarak tanam didalam baris R adalah 20 cm.
5. Arah barisan tanaman. Untuk meningkatkan penyebaran polen, arah barisan tanaman
galur A dan B atau R dibuat tegak lurus arah angin pada waktu pembungaan

Teknis Pembenihan Padi Hibrida


1. Pemilihan Lokasi
Lahan produksi benih adalah lahan bera atau bekas pertanaman varietas yang sama. Kondisi
lahan subur, drainase baik, bebas dari sisa-sisa tanaman. Isolasi jarak minimal antara 2
varietas berbeda adalah 3 meter, bila tanpa isolasi jarak perlu dilakukan isolasi waktu tanam
sekitar 4 minggu
2. Persemaian Padi

Tanah diolah dicangkul dan di bajak, dibiarkan dalam kondisi macak-macak selama
minimal 2 hari, biarkan mengering sampai 7 hari. Kemudian tanah diolah untuk kedua
kalinya.

Buat bedengan dengan tinggi 5-10 cm, lebar 110 cm, dan panjang disesuaikan ukuran
petak.

Luas lahan persemaian 4% dari luas areal pertanaman atau sekitar 400 m 2 untuk tiap
hektar

Pupuk yang digunakan di lahan persemaian adalah Urea, TSP, dan KCL masingmasing dengan takaran 15 g/m2. Sebelum disebar, benih direndam terlebih dahulu
selama 24 jam, kemudian diperam selama 24 jam.

Benih yang mulai berkecambah ditabur di persemaian dengan kerapatan 25-50 g/m2
atau 0,5-1 kg per 20 m2.

Kebutuhan benih untuk 1 ha adalah 10-20 Kg.

3. Persiapan Lahan Pertanaman

Persiapan lahan pertanaman padi mirip dengan persemaian namun tanpa pembuatan
bedengan.

Tanah diolah secara sempurna, yaitu dibajak (pertama dan kedua), kemudian tanah
digaru untuk melumpurkan dan meratakan.

Menekan gulma, lahan yang telah diratakan disemprot herbisida pratumbuh dan
dibiarkan selama 7-10 hari atau sesuai dengan anjuran.

4. Pananaman Padi

Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 15-21 hari, satu bibit per lubang.

Bibit yang ditanam sebaiknya memiliki jumlah daun yang sama, misalnya 2-3 daun
per batang.

Jarak tanam 20 x 20 cm atau 25 x 25 cm.

Bibit ditanam pada kedalaman 1-2 cm.

Sisa bibit yang telah dicabut di persemaian diletakkan di pinggir petakan, digunakan
untuk menyulam dan dilakukan 7 hari setelah tanam.

Setelah penanaman air dibiarkan macak-macam (1-3 cm) selama 7-10 hari.

Sumber : dok. Balitbangtan


5. Pemupukan
Anjuran umum untuk pemupukan, yaitu: 150-200 kg Urea, 100-150 kg SP36, dan 100 kg
KCl per hektar, dengan waktu pemberian:

Pupuk dasar (saat tanam): 50% Urea (75-100 kg/ha) + 100% SP36 + 100% KCl.

Pupuk susulan (pemberian urea) disesuaikan kondisi tanaman atau dengan Bagan
Warna Daun.

6. Pengendalian hama penyakit dilakukan terpadu


Pengendalian HPT dilakukan secara terpadu dengan pendekatan prinsip PHT.
7. Seleksi/Rouging

Salah satu syarat dari benih bermutu adalah memiliki tingkat kemurnian yang tinggi, karena
itu seleksi/rouging perlu dilakukan dengan benar mulai

persemaian benih sampai akhir

pertumbuhan. Rouging adalah kegiatan membuang rumpun-rumpun tanaman yang ciri-ciri


fisik/morfologis menyimpang dari ciri-ciri varietas tanaman yang benihnya diproduksi.
Rouging dilakukan umur: 35-45 HST, 50-60 HST, 85-90 HST dan 100-115 HST.
8. Panen
Saat panen adalah waktu biji telah masak atau 90-95% malai telah menguning. Proses panen:

Dua baris tanaman yang paling pinggir sebaiknya dipanen terpisah dan gabah dari
tanaman tersebut tidak digunakan sebagai calon benih.

Panen dilakukan dengan memotong batang tanaman dibagian tengah, kemudian


dirontok dengan mesin thresher, atau memotong batang tanaman dibagian bawah dan
bagian tanaman yang dipanen digebot.

Lakukan pengukuran kadar air biji atau benih saat tanaman dipanen menggunakan
moisture meter.

Calon benih kemudian dimasukkan ke dalam karung dan diberi label: nama varietas,
tanggal panen, asal pertanaman, dan berat calon benih, lalu diangkut ke ruang
pengolahan benih.

9. Pengeringan Benih
Kadar air benih perlu segera diturunkan dengan cara menjemur atau menggunakan alat
pengering karena calon benih umumnya mempunyai kadar air yang tinggi. Pada tingkat
kadar air tinggi, calon benih bisa diangin-anginkan sebelum dikeringkan.
Pengeringan dengan cara penjemuran

Pastikan lantai jemur bersih dan beri jarak yang cukup antar benih dari varietas yang
berbeda.

Gunakan alas di bagian bawah untuk mencegah suhu penjemuran yang terlalu tinggi.

Lakukan pembalikan benih secara berkala.

Lakukan pengukuran suhu pada hamparan benih yang dijemur dan kadar air setiap 2-3
jam sekali, serta catat suhu hamparan dan kadar air benih.

Bila pengeringan menggunakan sinar matahari, penjemuran umumnya memerlukan


waktu 4-5 jam. Penjemuran sebaiknya dihentikan apabila suhu hamparan benih lebih
dari 43oC.

Pengeringan dilakukan hingga kadar air telah mencapai atau telah memenuhi standar
mutu benih bersertifikat (13% atau lebih rendah).

Pengeringan dengan alat pengering (Dryer)

Bersihkan mesin pengering, pastikan tidak ada benih yang tertinggal, dan mesin
berfungsi baik.

Suhu udara dibagian dalam alat pengering sebaiknya disesuaikan dengan kadar air
awal benih.

Benih dengan kadar air panen yang tinggi jangan langsung dipanaskan tetapi dianginanginkan terlebih dahulu (gunakan hembusan angin/blower).

Bila kadar air benih sudah aman untuk menggunakan pemanasan, atur suhu
pengeringan benih dan tidak lebih dari 43oC.

Lakukan pengecekan suhu hamparanbenih dan kadar air benih setiap 2-3 jam dan
dicatat.

Pengeringan dihentikan bila kadar air telah mencapai atau telah memenuhi standar
mutu benih bersertifikat (13% atau lebih rendah).

10. Pengolahan Benih


Pengolahan meliputi pembersihan dan pemilihan benih untuk menghindari benih tercampur
dengan varietas lain. Pembersihan bertujuan membersihkan benih dari kotoran (tanah, jerami,
dan daun padi yang terikut) juga untuk membuang benih hampa. Pemilihan benih bertujuan
untuk mendapatkan benih yang lebih seragam dalam ukuran (panjang, lebar, ketebalan),
bentuk, dan bobotnya. Alat-alat seperti indent cylinder machine, indent desk separator,
gravity table separator dan lainnya dapat digunakan dalam pemilihan benih.
11. Pengemasan Benih
Pengemasan bertujuan untuk melindungi benih selama penyimpanan, terutama dalam
mempertahankan mutu benih dan menghindari serangan hama dan penyakit. Benih dapat
dikemas dalam karung plastik yang dilapisi dengan kantong plastik dibagian dalamnya.
Pengemasan dilakukan setelah contoh benih dinyatakan lulus oleh BPSB melalui uji
laboratorium.
12. Penyimpanan Benih

Kondisi penyimpanan yang baik adalah kondisi yang mampu mempertahankan mutu benih.
Daya simpan benih dipengaruhi oleh mutu benih awal disimpan dan kondisi ruang simpan.
Kondisi ruang simpan yang baik untuk benih adalah pada kondisi kering dan dingin.
Persyaratan gudang penyimpanan:

Tidak bocor

Lantai harus padat (terbuat dari semen/beton)

Mempunyai ventilasi yang cukup dan sirkulasi udara berjalan lancar agar gudang
penyimpanan tidak lembab.

Bebas dari gangguan hama dan penyakit (ruangan bersih, lubang ventilasi ditutup
kawat kasa).

VI.

Peralatan dalam Produksi Benih Padi Hibrida


a) Grain Analize
Fungsi: untuk menghitung jumlah benih

b) Refrigerator
Fungsi: sebagai alat penyimpan benih

VII.

Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Benih Padi Hibrida


Tabel 1. Rata-rata biaya eksplisit pada usahatani penangkaran benih padi hibrida

Tabel 2 Rata-rata biaya implisit pada usahatani penangkaran benih padi hibrida

Tabel 3. Total biaya pada usahatani penangkaran benih padi hibrida

Tabel 4. Rata-rata penerimaan pada usahatani penangkaran benih padi hibrida

Tabel 5. Rata-rata pendapatan pada usahatani penangkaran benih padi hibrida

Tabel 6. Rata-rata keuntungan pada usahatani penangkaran benih padi

Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai RCR untuk usahatani penangkaran benih padi
unggul ini sebesar 1,37, yang menunjukan bahwa setiap Rp 1 biaya yang dikeluarkan akan
memberikan penerimaan sebesar Rp 1,37. Nilai RCR >1, sehingga usaha penangkaran benih padi
hibrida ini bisa dikatakan layak untuk diusahakan atau menguntungkan.