Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Setiap bagian dari saluran gastrointestinal bawah rentan terhadap
inflamasi akut yang disebabkan oleh infeksi akibat bekteri, virus, atau jamur.
Salah satu gambaran dari situasi ini adalah Perforasi Tumor Rectosigmoid
yang dapat menimbulkan peritonitis akibat terjadinya perporasi.
Peritonitis merupakan suatu kejadian mengancam nyawa yang
umumnya disertai adanya Bacteremia dan sindrom sepsis. Peritonitis sendiri
di definisikan sebagai adanya peradangan pada peritonium baik lokal maupun
difus (generalisata) dari lokasinya, akut atau kronik, infeksius ataupun aseptik
dari patogenesisnya. Peritonitis akut umum nya bersifat infeksius dan
berhubungan dengan perforasi holoviskus (disebut dengan peritonitis
sekunder). Etiologi umum dari peritonitis sekunder, antaralain apendisitis
perforasi, perforasi ulkus peptikum (gaster atau duodenum), perforasi kolon
(sigmoid) karena divertikulitis, volvulus, kanker, dan strangulasi.
Peritonitis merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat
penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen, ruptura saluran cerna atau dari
luka tembus abdomen. Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri
adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Gejala berbeda-beda tergantung luas
peritonitis, beratnya peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab.
1

Gejala-gajala utama adalah sakit perut, muntah, abdomen tegang, kaku, nyeri,
dan tanpa bunyi, demam dan leukositosis yang sering terjadi.
Kejadian Peritonitis Difuse tersebut dapat memberikan dampak yang
sangat kompleks bagi tubuh, Adanya penyakit peritonitis menjadikan kasus
ini menjadi prognosis yang buruk.
Atas dasar karakteristik itulah penulis tertarik untuk melakukan asuhan
keperawatan pada klien Peritonitis Difuse yang dibuat dalam bentuk makalah
dengan judul Asuhan Keperwatan Pada Ny. W ( 57 tahun) dengan
Gangguan Sistem Pencernaan (Post Laparatomi Eksplorasi + Colostomy
Double Barrel a.i Peritonitis Difuse e.c. Perforasi Tumor Rectosigmoid +
Syok Septic) di Ruang General Intensive Care Unit Rumah Sakit Dr. Hasan
Sadikin Bandung

BAB ll
KONSEP DASAR PENYAKIT

A. TUMOR RECTOSIGMOID
1. Pengertian
Neoplasma / Kanker adalah pertumbuhan baru (atau tumor) massa
yang tidak normal akibat proliferasi sel-sel yang beradaptasi tanpa
memiliki keuntungan dan tujuan. Neoplasma terbagi atas jinak atau ganas.
Neoplasma ganas disebut juga sebagai kanker (cancer). (SylviaA Price,
2005).
Kanker kolorektal adalah kanker yang berasal dalam permukaan
usus besar (kolon) atau rektum/rektal, umumnya kanker kolorektal berawal
dari pertumbuhan sel yang tidak ganas terdapat adenoma atau berbentuk
polip. Kanker kolon adalah suatu bentuk keganasan dari masa
abnormal/neoplasma yang muncul dari jaringan epithelial dari colon .
Kanker kolon/usus besar adalah tumbuhnya sel kanker yang ganas di dalam
permukaan usus besar atau rektum.
Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
kanker kolon adalah suatu pertumbuhan tumor yang bersifat ganas dan
merusak sel DNA dan jaringan sehat disekitar kolon (usus besar).Adenoma
atau polip pada kolorektal dapat diangkat dengan mudah hanya saja jarang
menimbulkan gejala apapun, sehingga tidak terdeteksi dalam waktu cukup
lama hingga berkembang menjadi kanker kolorektal. Kanker kolorektal
adalah suatu bentuk keganasan yang terjadi pada kolon, rektum, dan
appendix.Distribusi kanker pada kolon adalah 20% terdapat di sepanjang
3

kolon asenden, 10% di kolon transversum, 15% di kolon desenden, dan 50


% di rektosigmoideus.
Kanker kolorektal adalah kanker ketiga yang paling sering
didiagnosis pada pria dan wanita dan tertinggi kedua penyebab kematian
akibat kanker di Amerika Serikat. Namun, bila ditemukan lebih awal,
sangat dapat disembuhkan. Jenis kanker ini terjadi ketika sel abnormal
tumbuh di lapisan usus besar (kolon) atau dubur.
2. Anatomi dan Fisiologi
Usus besar adalah bagian dari sistem pencernaan.Sebagaimana
diketahui sistem pencernaan dimulai dari mulut, lalu kerongkongan
(esofagus), lambung, usus halus (duodenum, yeyunum, ileum), usus besar
(kolon), rektum dan berakhir di dubur.Usus besar terdiri dari kolon dan
rektum.Kolon atau usus besar adalah bagian usus sesudah usus halus,
terdiri dari kolon sebelah kanan (kolon asenden), kolon sebelah tengah atas
(kolon transversum) dan kolon sebelah kiri (kolon desenden).Setelah kolon,
barulah rektum yang merupakan saluran diatas dubur.Bagian kolon yang
berhubungan dengan usus halus disebut caecum, sedangkan bagian kolon
yang berhubungan dengan rektum disebut kolon sigmoid.
Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara
usus buntu dan rektum. Usus besar berbentuk tabung muscular beongga
dengan panjang 1,5 meter dan diameter sekitar 6,5 cm yang terbentang dari
sekum hingga kanalis ani Usus besar di bagi menjadi 3 bagian yaitu sekum,
kolon, dan rectum. Kolon terdiri dari kolon menanjak (ascending), kolon
melintang (transverse), kolon menurun (descending), kolon sigmoid.Bagian
kolon dari usus buntu hingga pertengahan kolon melintang sering disebut
4

dengan "kolon kanan", sedangkan bagian sisanya sering disebut dengan


"kolon kiri".
Sekum terdiri dari katup ileosekal dan apendik. Ileosekal
mengendalikan aliran kimus dari ileum ke sekum dan mencegah terjadinya
aliran balik bahan fekal dari usus besar ke usus halus.Kolon ascendant
panjangnya 13 cm, terletak di bawah abdomen sebelah kanan membujur ke
atas dari ileum di bawah hati melengkung ke kiri, lengkungan ini di sebut
fleksura hepatica. Kolon transversum panjangnya kurang lebih 38 cm,
membujur dari kolon ascendant sampai kolon descenden, berada di bawah
abdomen, sebelah kanan terdapat fleksura hepatica dan sebelah kiri terdapat
fleksura lienalis. Kolon descenden panjangnya kurang lebih 25 cm, terletak
di bawah abdomen bagian kiri membujur dari atas ke bawah dan fleksura
lienalis sampai ke depan ileum kiri bersambung dengan sigmoid. Kolon
sigmoid merupakan lanjutan dari kolon descenden terletak miring dalam
rongga pelvis sebelah kiri, bentuknya menyerupai huruf S, dn ujung
bawahnya berhubungan dengan rectum. Rectum terletak di bawah kolon
sigmoid yang menghubungkan interstinum mayor dengan anus.
Dalam keadaan normal kolon menerima sekitar 500 ml kimus dari
usus halus setiap hari. Karena sebagian besar pencernaan dan penyerapan
telah selesai di usus halus, isi usus disalurkan ke kolon terdiri dari residu
makanan yang tidak dapat dicerna ( misalnya selulosa ), komponen empedu
yang tidak dapat diserap dan sisa cairan. Kolon mengekstraksi H2O dan
garam dari isi lumennya.Apa yang tersisa untuk dieliminasi di kenal
sebagai feses. Fungsi utama usus besar adalah untuk menyimpan bahan ini

sebelum defekasi.Selulosa dan bahan-bahan lain dalam makanan yang tidak


dapat

dicerna

membentuk

sebagian

besar

feses

dan

membantu

mempertahankan pengeluaran tinja secara teratur karena berperan


menentukan volume isi kolon.
Usus besar memiliki berbagai fungsi yang semuanya berkaitan
dengan proses akhir isi usus. Fungsi usus besar yang paling penting adalah
absorbsi air dan elektrolit, yang sudah hampir selesai dalam kolon
dekstra.Kolon sigmoid berfungsi sebagai reservoir yang menampung masa
feses yang sudah terhidrasi hingga berlangsungnya defekasi.
Pada umumnya usus besar bergerak secara lambat.Gerakan usus
besar yang khas adalah pengadukan haustral. Kantong atau haustra
meregang dari waktu ke waktu otot sirkular akan berkontraksi untuk
mengososngkannya. Gerakan ini menyebabkan gerakan usus bolak-balik
dan meremas-remas sehingga member cukup waktu untuk terjadinya
absorpsi.
3. Etiologi
Terdapat empat etiologi utama kanker, yaitu :
a.

Diet : kebiasaan mengkonsumsi makanan yang rendah serat (sayursayuran, buah-buahan), kebiasaanmakan makanan berlemak tinggi dan

sumber protein hewani.


b. Kelainan kolon : Adenoma di kolon yaitu degenerasi maligna menjadi
adenokarsinoma.
c.
Familial poliposis : Polip di usus mengalami degenerasi maligna
menjadi karsinoma.Kondisi ulserative Penderita colitis ulserativa
menahun mempunyai risiko terkena karsinoma kolon.

d. Genetik Anak yang berasal dari orangtua yang menderita karsinoma


kolon mempunyai frekuensi 3 kali lebih banyak daripada anak anak
yang orangtuanya sehat.
Penyebab nyata dari kanker kolon dan rektal tidak diketahui,
tetapi faktor risiko telah teridentifikasi termasuk riwayat kanker kolon
atau polip pada keluarga, riwayat penyakit usus inflamasi kronis dan diet
tinggi lemak protein dan daging serta rendah serat. Kanker kolon dapat
timbul melalui interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan.
Polip kolon dapat berdegenerasi menjadi maligna sehingga polip kolon
harus dicurigai. Selain itu, radangkronik kolon seperti kolitis ulserosa
atau

kolitis

amuba

kronik

dapat

beresiko

tinggi

menjadi

kankerkolorektal. Faktor risiko lainnya antara lain:


a. Peradangan (inflamasi) usus dalam periode lama, seperti : kolitis
ulseratif.
b. Riwayat keluarga.
c. Hereditary nonpolyposis colorectal cancer (HNPCC) merupakan
penyakit keturunan dengan risiko terjadi kanker kolorektal pada usia
muda, ditemukan polip dalam jumlah sedikit.
d. Familial adenomatous polyposis (FAP) merupakan penyakit
keturunan yang jarang ditemukan dapat ditemukan ratusan polip
pada kolon dan rektum.
e. Pola makan dan gaya hidup, makanan rendah serat, makanan dengan
kadar lemak tinggi dan lamanya waktu transit sisa hasil pencernaan
dalam kolon dan rektal meningkatkan risiko kanker kolorektal.
f. Diabetes, meningkatkan 40 % berkembangnya kanker kolorektal
g. Rokok dan alkohol
h. Riwayat polip atau kanker kolorektal
4. Manifestasi klinis

Gejala dan tanda dini carcinoma colorectal tidak ada. Umumnya


gejala pertama timbul karena penyulit, yaitu gangguan faal usus, obstruksi,
perdarahan atau akibat metastasis.
a. Carcinoma colon kanan:
Jarang terjadi stenosis dan faeces masih cair sehingga tidak ada
faktor obstruksi. Gambaran klinis tumor caecum dan colon ascendens
tidah khas, gejala umumnya nerupa dyspepsia, kelemahan umum,
penurunan berat badan, dan anemia. Oleh karena itu pasien sering
datang dalam keadaan terlambat. Nyeri pada carcinoma colon kanan
bermula di epigastrium.
b. Carcinoma colon kiri dan rectum:
Sering bersifat skirotik sehingga banyak menimbulkan stenosis dan
obstruksi, terlebih karena faeces sudah padat. Menyebabkan perubahan
pola defekasi, seperti konstipasi atau defekasi dengan tenesmus. Makin
ke distal letak tumor, faeces makin menipis, atau seperti kotoran
kambing, atau lebih cair disertai darah atau lendir. Tenesmus
merupakan gejala yang biasa didapat pada carcinoma rectum. Nyeri
pada colon kiri bermula di bawah umbilicus. Pada pemerikasaan fisik,
bila tumor kecil maka tidak teraba pada palpasi abdomen, bila sudah
terba berarti sudah menunjukkan keadaan lanjut. Massa di colon
sigmoideum lebih jelas teraba daripada massa di bagian lain colon.
Pemeriksaan colok dubur merupakan keharusan.
5. Patofisiologi
8

Kanker kolon dan rektum terutama ( 95 % ) adenokarsinoma ( muncul


dari lapisan epitel usus ). Dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi
ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal serta meluas ke dalam
sturktur sekitarnya. Sel kanker dapat terlepas dari tumor primer dan
menyebar ke bagian tubuh yang lain ( paling sering ke hati ). Kebanyakan
kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas atau
disebut adenoma, yang dalam stadium awal membentuk polip (sel yang
tumbuh sangat cepat). Pada stadium awal, polip dapat diangkat dengan
mudah. Tetapi, seringkali pada stadium awal adenoma tidak menampakkan
gejala apapun sehingga tidak terdeteksi dalam waktu yang relatif lama dan
pada kondisi tertentu berpotensi menjadi kanker yang dapat terjadi pada
semua bagian dari usus besar .
Kanker usus besar awalnya berasal dari polip jinak. Polip dapat
berupa massa polipoid, besar, tumbuh dengan cepat, ganas dan menyusup
serta merusak jaringan normal serta meluas ke dalam sturktur sekitarnya.
Lesi anular lebih sering terjadi pada bagian rektosigmoid, sedangkan lesi
polipoid yang datar lebih sering terjadi pada sekum dan kolon ascenden.
Secara

histologist

95%

kanker

kolon

dan

rektum

adalah

adenokarsinoma(tumor ganas yang tumbuh di jaringan epitel usus) yang


dapat menyekresi mucus yang jumlah yang berbeda-beda. Sel kanker
dapat terlepas dari tumor primer dan menyebar ke bagian tubuh yang lain (
paling sering ke hati). Kanker kolon dapat menyebar melalui beberapa cara
yaitu :

a. Secara infiltratif langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke


dalam kandung kemih.
b. Melalui pembuluh limfe ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon.
c. Melalui aliran darah, biasanya ke hati karena kolon mengalirakan
darah ke system portal.
d. Penyebaran secara transperitoneal
e. Penyebaran ke luka jahitan, insisi abdomen atau lokasi drain.
Pertumbuhan

kanker

menghasilkan

efek

sekunder,

meliputi

penyumbatan lumen usus dengan obstruksi dan ulserasi pada dinding


usus serta perdarahan. Penetrasi kanker dapat menyebabkan perforasi
dan abses, serta timbulnya metastase pada jaringan lain .
6. Pemeriksaan diagnostic
a. Endoskopi
Pemeriksaan endoskopi perlu dilakukan baik sigmoidoskopi
maupun kolonoskopi. Pemeriksaan kolonoskopi atau teropong usus ini
dianjurkan segera dilakukan bagi mereka yang sudah mencapai usia 50
tahun. Pemeriksaan kolonoskopi relatif aman, tidak berbahaya, namun
pemeriksaan ini tidak menyenangkan.Kolonoskopi dilakukan untuk
menemukan kanker kolorektal sekaligus mendapatkan jaringan untuk
diperiksa di laboratorium patologi. Pada pemeriksaan ini diperlukan
alat endoskopi fiberoptik yang

digunakan untuk pemeriksaan

kolonoskopi.Alat tersebut dapat melihat sepanjang usus besar,


memotretnya,
kolonoskopi

sekaligus
dapat

biopsi

dilihat

tumor

kelainan

bila

ditemukan.Dengan

berdasarkan

gambaran

makroskopik.Bila tidak ada penonjolan atau ulkus, pengamatan


kolonoskopi ditujukan pada kelainan warna, bentuk permukaan, dan
gambaran pembuluh darahnya.
10

b. Pencitraan
1) X-ray foto polos dan colon in loop
X-ray foto polos dan colon in loop memiliki peranan
penting dalam mengevaluasi pasien yang diduga menderita
carcinoma colorectal. Foto polos abdomen (supine, tegak, dan
LLD) berguna untuk mendeteksi pola gas usus yang menunjukkan
adanya obstruksi. Colon in loop berguna untuk mengevaluasi
gejala obstruktif. Colon in loop dengan double contrast sensitif
untuk mendeteksi massa yang berdiameter lebih besar dari 1 cm.
Deteksi massa yang kecil sangat sulit, sehingga colonoscopy lebih
disukai untuk mengevaluasi massa colon yang nonobstruksi.
2) CT scan
Computed Tomography (CT) digunakan untuk staging
carcinoma colorectal, karena kesensitivitasnya dalam mendeteksi
metastasis.
3) CT Colonografi (Virtual colonoscopy)
Virtual

colonoscopy

menggunakan

CT

helical

dan

rekonstruksi 3 dimensi untuk mendeteksi lesi colon intralumen.


Untuk memaksimalkan kesensitivitasan maka dilakukan persiapan
usus per oral, pemberian kontras per oral dan rectal, pendistensian
colon. Alat ini sensitif untuk melihat carcinoma colorectal yang
berukuran lebih dari 1 cm. colonoskopi tetap dibutuhkan jika
terdapat lesi. Alat ini berguna sebagai pencitraan pada obstruksi

11

colon proximal. Keterbatasannya adalah terjadinya false positif


akibat faeces, penyakit divertikula, lipatan haustrae, artefak, dan
ketidakmampuan mendeteksi adenoma yang datar.
4) MRI
Magnetic Resonance Imaging (MRI) lebih sensitif daripada
CT scan dalam mendeteksi keterlibatan tulang atau dinding pelvis
akibat perluasan carcinoma colorectal. Penggunaan endorectal coil
akan menambah sensitivitas.
5) PET
Positron Emmision Tomography (PET) digunakan untuk
pencitraan jaringan dengan kadar glikolisis anaerob yang tinggi
seperti pada tumor ganas. PET digunakan sebagai tambahan
pemeriksaan CT scan dalam staging carcinoma colorectal dan
dapat digunakan untuk membedakan kanker rekuren dengan
fibrosis.
6) Endorectal ultrasound
Endorectal ultrasound digunakan untuk mengevaluasi
kedalaman invasi carcinoma recti. Dinding rectum yang normal
terdiri atas 5 lapisan. Ultrasound dapat membedakan tumor jinak
dari tumor invasif berdasarkan integritas lapiasan submukosa.
Ultrasound dapat membedakan tumor superficial T1-T2 dengan
tumor yang lebih dalam T3-T4. Keakurasian ultrasound dalam
mendeteksi kedalamam invasi tumor intramural berkisar antara 81-

12

94%. Ultrasound juga dapat mendeteksi pembesaran nodus


limfatikus perirectal, yang menunjukkan metastasis ke nodus
limfatikus, dimana keakurasiannnya adalah 58-83%. Ultrasound
juga dapat digunakan untuk mendeteksi rekurensi lokal setelah
pembedahan.
c. Laboratorium
1) Pemeriksaan darah samar pada faeces
Digunakan untuk tes skrining pada tumor colorectal yang
asimptomatik, pada individu dengan risiko sedang. Efikasi tes ini
berdeasarkan tes serial karena kebanyakan carcinoma colorectal
berdarah secara intermiten. Tes ini merupakan tes nonspesifik
untuk peroxidase yang terkandung dalam haemoglobin. Perdarahan
traktus gastrointestinal akan memberikan hasil positif. Beberapa
makanan (daging, beberapa buah dan sayuran, dan viamin C) dapat
memberikan false positif, sehingga pasien sebaiknya diet selama 23 hari sebelum tes. Tes ini dapat ditingkatkan spesifik dan
sensitivitasnya dengan menggunakan immunochemical. Hasil
positif pada tes ini sebaiknya dilanjutkan dengan pemeriksaan
colonoskopi.
2) Tumor marker
Tumor marker seperti CEA, CA 19-9, dan CA-50
digunakan untuk pasien carcinoma colorectal. Carcinoembrionic
antigen (CEA) yang paling umum digunakan, sedangkan CA 19-9

13

dan CA-50 tidak rutin digunakan. CEA dapat meningkat pada 6090% pasien dengan carcinoma colorectal. Namun CEA bukan
merupakan tes skrining yang efektif untuk keganasan. CEA tidak
spesifik karena dapat meningkat juga pada pasien dengan
carcinoma selain carcinoma colorectal.
3) Tes serum
Pemeriksaan fungsi hepar seperti alkali fosfatase, SGPT,
SGOT, SGGT, dan LDH dapat memprediksi kemungkinan
metastasis ke hepar.
d. Biopsi
Biopsi dilakukan melalui endoskopi. Hasil patologi dari biopsi
dapat mendeskripsikan tipe sel dan gradasi tumor. Tipe sel yang paling
sering didapat pada carcinoma colorectal adalah adenocarcinoma
(95%).
e. Radiologis
Pemeriksan radiologis yang dapat dilakukan antara lain adalah
foto dada dan foto kolon (barium enema). Foto dada dilakukan untuk
melihat apakah ada metastasis kanker ke paru.
7. Penatalaksanaan
Karsinoma pada colon menimbulkan perubahan pada kebiasaan
buang air besar. Karsinoma pada colon sebelah kanan menyebabkan
peningkatan gerakan colon, tetapi karsinoma pada colon sebelah kiri
menimbulkan konstipasi. Keduanya dapat menunjukkan gambaran klinis
berupa: darah dan lendir di dalam tinja, penurunan berat badan dan anemia,
palpasi dapat mengungkapkan adanya massa yang nyeri tekan, keadaan ini
14

dapat memberikan gambaran klinis berupa obstruksi intestinum. Pasien


dengan gejala obstruksi usus diobati dengan cairan IV dan pengisapan
nasogastrik. Apabila terdapat perdarahan yang cukup bermakna, terpai
komponen darah dapat diberikan. Pengobatan tergantung pada tahap
penyakit dan komplikasi yang berhubungan.Endoskopi, ultrasonografi dan
laparoskopi telah terbukti berhasil dalam pentahapan kanker kolorektal pada
periode praoperatif.
a. Bedah
Pembedahan adalah tindakan primer untuk kebanyakan kanker
kolon dan rektal. Pembedahan dapat bersifat kuratif atau paliatif. Kanker
yang terbatas pada satu sisi dapat diangkat dengan kolonoskop. Prosedur
pembedahan pilihan adalah sebagai berikut (Doughty & Jackson, 1993):
1) Reseksi abdominoperineal dengan kolostomi sigmoid permanen
(pengangkatan tumor dan porsi sigmoid dan semua rektum serta
sfingter anal)
2) Kolostomi sementara diikuti dengan reseksi segmental dan
anostomosis

serta

reanastomosis

lanjut

dari

kolostomi

(memungkinkan dekompresi usus awal dan persiapan usus sebelum


reseksi)
3) Reseksi segmental dengan anostomosis (pengangkatan tumor dan
porsi usus pada sisis pertumbuhan, pembuluh darah dan nodus
limfatik)
4) Kolostomi permanen atau ileostomi (untuk menyembuhkan lesi
obstruksi yang tidak dapat direseksi)
Berkenaan dengan teknik perbaikan melalui pembedahan,
kolostomi dilakukan pada kurang dari sepertiga pasien kanker
15

kolorektal. Kolostomi adalah pembuatan lubang (stoma) pada kolon


secara bedah.Stoma ini dapat berfungsisebagai diversi sementara atau
permanen.Ini memungkinkan drainase atau evakuasi isi kolon keluar
tubuh.Konsistensi drainase dihubungkan dengan penempatan kolostomi,
yang ditentukan oleh lokasi tumor dan luasnya invasi pada jaringan
sekitar.
Kolostomi laparoskopik dengan polipektomi, suatu prosedur
yang baru dikembangkan untuk meminimalkan luasnya pembedahan
pada beberapa kasus. Laparoskop digunakan sebagai pedoman dalam
menbuat keputusan di kolon; massa tumor kemudian di eksisi.
Kolostomi adalah suatu operasi untuk membentuk suatu
hubungan buatan antara colon dengan permukaan kulit pada dinding
perut.Hubungan ini dapat bersifat sementara atau menetap selamanya.
(llmu Bedah, Thiodorer Schrock, MD, 1983). Kolostomi dapat berupa
secostomy, colostomy transversum, colostomy sigmoid, sedangkan colon
accendens dan descendens sangat jarang dipergunakan untuk membuat
colostomy

karena

kedua

bagian

tersebut

terfixir

retroperitoneal.Kolostomi pada bayi dan anak hampir selalu merupakan


tindakan gawat darurat, sedang pada orang dewasa merupakan keadaan
yang pathologis.
Kolostomi dibuat berdasarkan indikasi dan tujuan tertentu,
sehingga jenisnya ada beberapa macam tergantung dari kebutuhan
pasien. Kolostomi dapat dibuat secara permanen maupun sementara.

16

a. Kolostomi Permanen
Pembuatan kolostomi permanen biasanya dilakukan apabila
pasien sudah tidak memungkinkan untuk defekasi secara normal
karena adanya keganasan, perlengketan, atau pengangkatan kolon
sigmoid atau rectum sehingga tidak memungkinkan feses melalui
anus. Kolostomi permanen biasanya berupa kolostomi single barrel
( dengan satu ujung lubang)
b. Kolostomi Temporer/ sementara
lostomi biasanya untuk tujuan dekompresi kolon atau untuk
mengalirkan feses sementara dan kemudian kolon akan dikembalikan
seperti semula dan abdomen ditutup kembali. Kolostomi temporer ini
mempunyai dua ujung lubang yang dikeluarkan melalui abdomen
yang disebut kolostomi double barrel.
c. Tipe kolostomi inkontinen
a) Loop colostomy
Lokasi di colon transversum, bersifat sementara, dilakukan
pada kondisi darurat medis dengan membuat 2 lubang usus yang
dihubungkan.
b) Endostomy
Terdiri dari satu hubungan yang bagian usus berikutnya
dibuang/dijahit tetapi masih ada/tetap dalam rongga abdomen.
Dilakukan untuk klien dengan terapi kolorektal.

17

c) Single barrel/ end stoma, hanya 1 stoma: dilakukan permanen;


bagian distal ditutup dan bagian proksimal yang terbuka
d) Double barrel colostomy
Terdapat 2 hubungan di bagian proximal dan distal. Bagian
proximal untuk drain feses dan distal untuk drain mucus.
e) Mukospicetel
Pada kasus Ca kolorektal yang tidak bisa diangkat sama
sekali, dilakukan pada bagian kolon descenden, bagian proksimal
untuk mengeluarkan feses, bagian distal untuk mengeluarkan
mukus yang dihasilkan Ca
b. Medis
Pasien dengan gejala obstruksi usus diobati dengan cairan IV dan
pengisapan nasogastrik. Apabila terdapat perdarahan yang cukup
bermakna, terapi komponen darah dapat diberikan. Pengobatan
tergantung

pada

tahap

penyakit

dan

komplikasi

yang

berhubungan.Pengobatan medis untuk kanker kolorektal paling sering


dalam bentuk pendukung atau terapi anjuran. Terapi anjuran biasanya
diberikan selain pengobatan bedah yang mencakup kemoterapi, terapi
radiasi, dan imunoterapi.
1) Terapi radiasi: sering digunakan sebelum pembedahan untuk
menurunkan ukuran tumor dan membuat mudah untuk direseksi.
Intervensi lokal pada area tumor setelah pembedahan termasuk
implantasi isotop radioaktif ke dalam area tumor. Isotop yang
digunakan termasuk radium, sesium, dan kobalt. Iridium digunakan
pada rektum.

18

2) Kemoterapi: kemoterapi dilakukan untuk menurunkan metastasis


dan mengontrol manifestasi yang timbul. Kemoterapi adalah
penggunaan obat-obatan (5-flourauracil (5-FU)) untuk membunuh
sel-sel kanker. Ia adalah suatu terapi sistemik, yang berarti bahwa
pengobatan berjalan melalui seluruh tubuh untuk menghancurkan
sel-sel kaker. Setelah operasi kanker usus besar, beberapa pasien
mungkin mengandung microscopic metastasis (foci yang kecil dari
sel-sel kanker yang tidak dapat dideteksi). Kemoterapi diberikan
segera setelah operasi untuk menghancurkan sel-sel mikroskopik
(adjuvant chemotherapy).
8. Metastasis
Carcinoma colorectal mulai berkembang pada mukosa dan
bertumbuh sambil menembus dinding dan meluas secara sirkuler ke arah
oral dan aboral ke jaringan dan organ visceral lainnya. Penyebaran
perkontinuitatum menembus jaringan sekitar atau organ sekitarnya seperti
ureter, vesica urinaria, uterus, vagina, atau prostat.
Keterkaitan nodus limfatikus regional merupakan bentuk yang
paling sering pada penyebaran carcinoma colorectal dan biasanya
mendahului

metastasis

jauh

atau

menyebabkan

carcinomatosis.

Penyebaraan ke nodus limfatikus meningkat dengan pertambahan ukuran


tumor, diferensiasi histologis yang buruk, invasi limfovaskular dan
kedalaman invasi.
Pada carcinoma colon, penyebaran limfatik biasanya mengikuti
aliran vena besar dari segmen colon yang terkait. Penyebaran limfatik dari
rectum mengikuti 2 jalur. Pada rectum bagian atas, pengaliran ascendens

19

sepanjang pembuluh rectalis superior ke kelenjar mesenterica inferior.


Pada rectum bagian bawah, pengaliran limfatik terjadi sepanjang
pembuluh rectalis media. Penyebaran sepanjang pembuluh rectalis inferior
ke kelenjar iliaca interna atau inguinal jarang terjadi kecuali jika tumor
mengenai canalis analis atau aliran limfatik proximal diblok oleh tumor.
Tempat yang paling sering terkena pada metastasis jauh carcinoma
colorectal adalah hepar. Metastasis ini timbul dari penyebaran hematogen
melalui system vena portal. Seperti pada penyebaran ke nodus limfatikus,
risiko metastasis ke hepar meningkat dengan peningkatan ukuran tumor
dan grade tumor, namun tumor yang kecil pun dapat menyebabkan
metastasis jauh. Paru-paru juga merupakan tempat penyebaran hematogen
carcinoma colorectal, namun jarang terjadi. Penyebaran ke peritoneal
mengakibatkan carcinomatosis (metastasis peritoneal difus) dengan atau
tanpa ascites.
9. Komplikasi Ca colorectal
a) Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau
lengkap.
b) Metastase ke organ sekitar, melalui hematogen, limfogen dan
penyebaran langsung.
c) Pertumbuhan dan ulserasi dapat juga menyerang pembuluh darah
sekitar kolon yang menyebabkan hemorragi.
d) Perforasi usus dapat terjadi dan mengakibatkan pembentukan abses.
e) Peritonitis dan atau sepsis dapat menimbulkan syok.
B. PERITONITIS
1. Pengertian

20

Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa


rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang
dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis atau kumpulan tanda dan
gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans
muscular, dan tanda-tanda umum inflamasi.
Peritonitis merupakan sebuah proses peradangan pada membrane
serosa yang melingkupi kavitas abdomen dan organ yang terletak di
dalamnya. Peritonitis sering disebabkan oleh infeksi peradangan
lingkungan sekitar melalui perforasi usus seperti rupture appendiks atau
divertikulum karena awalnya peritonitis merupakan lingkungan yang
steril. Selain itu juga dapat diakibatkan oleh materi kimia yang irritan
seperti asam lambung dari perforasi ulkus atau empedu dari perforasi
kantung empedu atau laserasi hepar. Pada wanita sangat dimungkinkan
peritonitis terlokalisasi pada rongga pelvis dari infeksi tuba falopi atau
rupturnya kista ovari. Kasus peritonitis akut yang tidak tertangani dapat
berakibat fatal.
2. Etiologi
Penyebab utama peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis
(SBP) akibat penyakit hati yang kronik. SBP (Spontaneous Bacterial
Peritonitis) terjadi bukan karena infeksi intraabdomen, namun biasanya
terjadi pada pasien dengan asites akibat penyakit hati kronik. Akibat asites
akan terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga menjadi
translokasi

bakteri

menuju

dinding

perut

atau

pembuluh

limfe

21

mesenterium, kadang-kadang terjadi pula penyebaran hematogen jika telah


terjadi bakteremia.
Peritonitis juga biasanya disebabkan oleh :
a. Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi. Yang sering
menyebabkan peritonitis adalah perforasi lambung, usus, kandung
empedu atau usus buntu. Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap
infeksi. Jika pemaparan tidak berlangsung terus menerus, tidak akan
terjadi peritonitis, dan peritoneum cenderung mengalami penyembuhan
bila diobati.
b. Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan
kegiatan seksual
c. Infeksi dari rahim dan saluran telur, yang mungkin disebabkan oleh
beberapa jenis kuman (termasuk yang menyebabkan gonore dan infeksi
chlamidia)
d. Kelainan hati atau gagal jantung, dimana cairan bisa berkumpul di perut
(asites) dan mengalami infeksi
e. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. Cedera pada
kandung empedu, ureter, kandung kemih atau usus selama pembedahan
dapat memindahkan bakteri ke dalam perut. Kebocoran juga dapat
terjadi selama pembedahan untuk menyambungkan bagian usus.
f. Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan
peritonitis.

22

Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang


ditempatkan di dalam perut.
g. Iritasi tanpa infeksi. Misalnya peradangan pankreas (pankreatitis akut)
atau bubuk bedak pada sarung tangan dokter bedah juga dapat
menyebabkan peritonitis tanpa infeksi.
3. Epidemologi
Meskipun jarang ditemui bentuk infeksi peritoneal tanpa
komplikasi, insiden terjadi peritonitis tersier yang membutuhkan IVU
akibat infeksi abdomen berat tergolong tinggi di USA, yakni 50-74%.
Lebih dari 95% pasien peritonitis didahului dengan asite, dan lebih dari
stengah pasien mengalami gejala klinis yang sangat mirip asites.
Sindrom dari peritonitis bakterial spontan umumnya terjadi pada
peritonitis akut pada pasien dengan dasar sirosis. Sirosis mempengaruhi
3,6 dari 1000 orang dewasa di Amerika Serikat dan bertanggungjawab
terhadap 26000 kematian per tahun. Perdarahan variseal akut dan
peritonitis bakterial spontan merupakan beberapa komplikasi dari sirosis
yang mengancam jiwa. Kondisi yang berkaitan yang menyebabkan
abnormalitas yang signifikan mencakup ascites dan enselofati hepatik.
Sekitar 50% pasien dengan sirosis yang menimbulkan ascites meninggal
dalam 2 tahun setelah diagnosis.
4. Patofisiologi
Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah
keluarnya eksudat fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan
permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Bila bahan-bahan
infeksi tersebar luas pada pemukaan peritoneum atau bila infeksi

23

menyebar, dapat timbul peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang


sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan meregang.
Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus, mengakibatkan
dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oliguri. Peritonitis menyebabkan
penurunan aktivitas fibrinolitik intraabdomen (meningkatkan aktivitas
inhibitor aktivator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya
pembentukan jejaring pengikat. Produksi eksudat fibrin merupakan
mekanisme terpenting dari sistem pertahanan tubuh, dengan cara ini akan
terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak di antara matriks fibrin.
Pembentukan abses pada peritonitis

pada prinsipnya

merupakan

mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kumankuman itu sendiri untuk menciptakan kondisi abdomen yang steril. Pada
keadaan jumlah kuman yang sangat banyak, tubuh sudah tidak mampu
mengeliminasi kuman dan berusaha mengendalikan penyebaran kuman
dengan membentuk kompartemen-kompartemen yang kita kenal sebagai
abses. Masuknya bakteri dalam jumlah besar ini bisa berasal dari berbagai
sumber. Yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat
penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen.
Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di dalam rongga
abdomen, peritonitis terjadi juga memang karena virulensi kuman yang
tinggi hingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri
dengan neutrofil. Keadaan makin buruk jika infeksinya dibarengi dengan
pertumbuhan bakteri lain atau jamur, misalnya pada peritonitis akibat

24

koinfeksi Bacteroides fragilis dan bakteri gram negatif, terutama E. coli.


Isolasi peritoneum pada pasien peritonitis menunjukkan jumlah Candida
albicans yang relatif tinggi, sehingga dengan menggunakan skor APACHE
II (acute physiology and cronic health evaluation) diperoleh mortalitas
tinggi, 52%, akibat kandidosis tersebut. Saat ini peritonitis juga diteliti
lebih lanjut karena melibatkan mediasi respon imun tubuh hingga
mengaktifkan systemic inflammatory response syndrome (SIRS) dan
multiple organ failure (MOF).
5. Klasifikasi
Bila ditinjau dari penyebabnya, infeksi peritonitis terbagi menjadi :
a. Penyebab primer (peritonitis spontan)
Peritonitis primer biasanya disebabkan oleh penyakit hati. Cairan
menumpuk di perut, menciptakan lingkungan yang utama untuk
pertumbuhan bakteri.
Peritonitis bakterial primer dibagi menjadi dua, yaitu: Spesifik :
misalnya Tuberculosis . Non spesifik: misalnya pneumonia non
tuberculosis an Tonsilitis.
Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya
malnutrisi, keganasan intraabdomen, imunosupresi dan splenektomi.
Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik, gagal
ginjal kronik, lupus eritematosus sistemik, dan sirosis hepatis dengan
asites.

25

b. Penyebab sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ


visceral)
Peritonitis sekunder, bentuk peritonitis yang paling sering terjadi,
disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organorgan dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal. Spektrum
patogen infeksius tergantung penyebab asalnya. Berbeda dengan SBP,
peritonitis sekunder lebih banyak disebabkan bakteri gram positif yang
berasal dari saluran cerna bagian atas.
c. Penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal
yang adekuat).
Peritonitis tersier dapat terjadi karena infeksi peritoneal berulang
setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat,
sering bukan berasal dari kelainan organ. Pasien dengan peritonitis
tersier biasanya timbul abses atau flegmon, dengan atau tanpa fistula.
Peritonitis tersier timbul lebih sering ada pasien dengan kondisi
komorbid sebelumnya dan pada pasien yang imunokompromais.
Secara umum, infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi
peritonitis infektif (umum) dan abses abdomen (lokal).
6. Manifestasi klinis
Diagnosis peritonitis biasanya ditegakkan secara klinis dengan
adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan
tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum viseral) kemudian lama kelamaan
menjadi jelas lokasinya (peritoneum parietal). Pada keadaan peritonitis
akibat penyakit tertentu, misalnya perforasi lambung, duodenum,
26

pankreatitis akut yang berat, atau iskemia usus, nyeri abdomennya


berlangsung luas di berbagai lokasi.
Tanda-tanda peritonitis relatif sama dengan infeksi berat lainnya,
yakni demam tinggi, kulit dingin, pucat, regiditas, atau pasien yang sepsis
bisa menjadi hipotermia, takikardi, dehidrasi, hingga menjadi hipotensi.
Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum di
tempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa tegang,
biasanya karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk
menghindari palpasi yang menyakitkan, atau bisa juga memang tegang
karena iritasi peritoneum. Nyeri ini kadang samar dengan nyeri akibat
apendisitis yang biasanya di bagian kanan perut, atau kadang samar juga
dengan nyeri akibat abses yang terlokalisasi dengan baik. Pada penderita
wanita diperlukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri
akibat pelvic inflammatory disease, namun pemeriksaan ini jarang
dilakukan pada keadaan peritonitis yang akut.
Anoreksia dan nausea sering muncul dan dapat mendahului
perkembangan nyeri abdomen. Vomit dapat muncul akibat proses ptologis
organ visceral (seperti obstruksi) atau secara sekunder akibat iritasi
peritoneal.
Pada pemeriksan fisik, pasien dengan peritonitis sering tampak
tidak sehat dan pada keadaan berbahaya. Demam dengan temperatur
melebihi 38C dapat ditemukan, tapi pasien dengan sepsis berat dapat
ditemukan dalam keadaan hipotermia. Takikardi muncul akibat mediator
inflamasi dan hipovelemia vaskular karena anoreksia dan vomit, demam
serta hilangnya sepertiga ruang peritoneal. Dengan dehidrasi yang
27

progresif, pasien akan menjadi hipotensi, yang menunjukan penurunan


output urin dan dengan peritonitis berat.
Pada pemeriksaan abdomen,

pada

dasarnyasemua

pasien

menunjukan adanya tenderness pada palpasi, (pada saat pemeriksaan


pasien dengan suspect peritonitis sebaiknya pasien sebaiknya berbaring
dengan posisi lutut lebih tinggi agar pasien dapat lebih relaksasi pada
dinding abdomennya). Pada banyak pasien (baik pada peritonitis dan nyeri
abdomen difus yang berat) titik tenderness maksimal atau ataureferred
rebound tenderness terletak pada tempat proses patologis.
Pada banyak pasien menunjukan adanya peningkatan rigiditas
dinding abdomen. Peningkatan tonus otot dinding abdomen dapat secara
volunter akibat respon atau antisipasi pada pemeriksaan abdomen atau
secara involunter karena iritasi peritoneal. Pasien dengan peritonitis berat
sering menghindari banyak gerak dan memfleksikan pinggulnya untuk
mengurangi tekanan dinding abdomen. Abdomen terkadang distensi,
dengan suara usus hipoaktif hingga tidak terdengar.
Pemeriksaan rektal kerap mengakibatkan nyeri abdomen. Massa
peradangan

lunak

yang

terletak

pada

anterion

kanan

mungkin

mengindikasikan appendisitis dan anterio fullness dan fluktuasi dapat


mengindikasikan sebuah abses cul de sac.
Pada pasien wanita, pemeriksaan bimanual

dan

vaginal

dapat

mengarahkan pada differential diagnosis penyakit inflamasi pelvis (seperti


endometritis, salfingo-oovoritis, abses tuba ovarii). Tapi temuannya kerap
sulit untuk diinterpretasikan sebagai peritonitis berat.
Pada saat mengevaluasi pasien dengan dugaan infeksi peritoneal,
melakukan pemeriksaan fisik yang lengkap adalah hal yang sangat
28

penting. Prosesus thoracic dengan iritasi diafragma (seperti empiema),


proses ekstraperitoneal (seperti pyelonephritis, cystitis, retensi urin akut),
dan proses dinding abdomen (seperti infeksi, hematoma recti) dapat
terlihat seperti tanda-tanda maupun gejala peritonitis.
Sering kali hasil dan temuan pemeriksaan klinis sama sekali
tidak reliable pada pasien dengan immunosupresi yang berarti (seperti
pasien diabetes berat, pengguna steroid, status post-transplantasi, HIV),
pada pasien dengan perubahan status mental (seperti cedera kepala,
ensepalopati toksik, shock sepsis, agen analgesik), pada pasien paraplegi
dan apda pasien usia lanjut. Dengan infeksi peritoneal dalam yang
terlokalisasi, demam dengan atau tanpa peningkatan hitung WBC mungkin
satu-satunya tanda yang ditemukan. Kebanyakan pasien dengan TP
menunjukan hanya gejala vagal dan mungkin afebril..
7. Pemeriksaan penunjang
a. Tes darah - untuk melihat apakah ada bakteri yang ada dalam darah
Anda
b. Sampel cairan dari perut - identifikasi bakteri yang menyebabkan
infeksi
c. CT scan - mengidentifikasi fluida di perut, atau organ yang terinfeksi
d. Pemeriksaan laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekositosis,
hematokrit yang meningkat dan asidosis metabolik. Pada peritonitis
tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3
gram/100 ml) dan banyak limfosit; basil tuberkel diidentifikasi dengan
kultur. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi
memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan merupakan
dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat.
29

e. Pemeriksaan X-Ray
Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis; usus
halus dan usus besar berdilatasi. Udara bebas dapat terlihat pada kasuskasus perforasi.
f. Gambaran Radiologis
Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk
pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut.
8. KOMPLIKASI
Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder,
dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan
lanjut, yaitu : (chushieri)
a. Komplikasi dini
1) Septikemia dan syok septic
2) Syok hipovolemik
3) Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan
kegagalan multi system
4) Abses residual intraperitoneal
5) Portal Pyemia (misal abses hepar)
b. Komplikasi lanjut
1) Adhesi
2) Obstruksi intestinal rekuren
Komplikasi pasca operasi paling umum adalah eviserasi luka dan
pembentukan abses. Secara bedah dapat terjadi trauma di peritoneum,
fistula enterokutan, kematian di meja operasi, atau peritonitis berulang jika
pembersihan kuman tidak adekuat. Namun secara medis, penderita yang
mengalami pembedahan laparotomi eksplorasi membutuhkan narkose dan
30

perawatan intensif yang lebih lama. Perawatan inilah yang sering


menimbulkan komplikasi, bisa berupa pneumonia akibat pemasangan
ventilator, sepsis, hingga kegagalan reanimasi dari status narkose penderita
pascaoperasi.
9. Penatalaksanaan
Dalam istilah peritonitis meliputi kumpulan tanda dan gejala, di
antaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans muskular, dan
tanda-tanda umum inflamasi. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami
gejala akut, penyakit ringan dan terbatas, atau penyakit berat dan sistemik
dengan syok sepsis. Peritoneum bereaksi terhadap stimulus patologik
dengan

respon

inflamasi

bervariasi,

tergantung

penyakit

yang

mendasarinya.
Prinsip umum pengobatan adalah mengistirahatkan saluran cerna
dengan memuasakan pasien, pemberian antibiotik yang sesuai, dekompresi
saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau intestinal, penggantian
cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena,
pembuangan fokus septik (apendiks) atau penyebab radang lainnya, bila
mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan
menghilangkan nyeri.
Prinsip umum pengobatan adalah pemberian antibiotik yang sesuai,
dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau intestinal,
penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara
intravena, pembuangan fokus septik atau penyebab radang lainnya, bila

31

mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan tindakan


menghilangkan nyeri. Penggantian cairan, koloid dan elektrolit adalah
fokus utama dari penatalaksanaan medis. Beberapa liter larutan isotonik
diberikan. Hipovolemi terjadi karena sejumlah besar cairan dan elektrolit
bergerak dari lumen usus ke dalam rongga peritoneal dan menurunkan
caran ke dalam ruang vaskuler.
Analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri. Antiemetik dapat
diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. Intubasi usus dan
pengisapan membantu dalam menghilangkan distensi abdomen dan
meningkatkan fungsi usus. Cairan dalam rongga abdomen dapat
menyebabkan tekanan yang membatasi ekspansi paru dan menyebabkan
distress pernapasan. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan
meningkatkan oksigenasi secara adekuat, tetapi kadang-kadang intubasi
jalan napas dan bantuan ventilasi diperlukan.
a. Bedah dan Lain Prosedur
Orang dengan peritonitis sering memerlukan pembedahan untuk
menghilangkan jaringan yang terinfeksi dan memperbaiki organ yang
rusak. Pembedahan yang dapat dilakukan adalah eksplorasi darurat,
terutama bila disertai appendisitis, ulkus peptikum yang mengalami
perforasi atau divertikulitis. Pada peradangan pankreas (pankreatitis
akut) atau penyakit radang panggul pada wanita, pembedahan darurat
biasanya tidak dilakukan. Diberikan antibiotik yang tepat, bila perlu

32

beberapa macam antibiotik diberikan bersamaan. Cairan dan elektrolit


bisa diberikan melalui infuse.
b. Nutrisi dan Suplemen Diet
Peritonitis adalah darurat medis dan harus ditangani oleh seorang
dokter medis. Jangan mencoba untuk mengobati peritonitis dengan
herbal atau suplemen. Namun, rencana perawatan yang komprehensif
untuk memulihkan dari peritonitis dapat mencakup berbagai terapi
komplementer dan alternatif. Selalu mengkoordinasi dngan tim medis
lainya seperti dokter, ahli gizi dan yang lainnya dalam pemberian diet
ataupun suplemen.

33