Anda di halaman 1dari 10

AL-QURAN ANTARA SAKRALITAS DAN RASIONALITAS

AL-QURAN ANTARA SAKRALITAS DAN RASIONALITAS.


Oleh Ahsin Sakho Muhammad

Pendahuluan.
Al-Quran sebagai kitab suci umat islam diakui sebagai kitab yang telah berhasil mengubah
sejarah umat manusia. Hanya dalam hitungan kurang lebih 22 tahun, bangsa arab tampil
sebagai kekuatan baru yang mampu merubah sejarah umat manusia. Kehebatan Al-Quran
dalam merobah perilaku manusia telah diakui oleh masyarakat dunia. Pada saat ini kehebatan
Al-Quran masih terus dikaji dan ternyata Al-Quran masih tetap mempesona bersamaan
dengan bergulirnya waktu. Belum ada orang yang sanggup menemukan kelemahan AlQuran. yang ada justeru kekuatan. Semakin dikaji lebih mendalam, Al-Quran selalu
memberikan jawaban yang mengesankan bagi semua kalangan .
Harus diakui bahwa Al-Quran adalah sebuah kitab suci yang bukan saja berfungsi
sebagai hidayah atau petunjuk bagi umat manusia, tapi Al-Quran juga sebagai kitab mukjizat
terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Al-Quran akan terus menggelinding tidak
tertahankan dan akan selalu berkata akulah Al-Quran.
Dalam melihat kehebatan Al-Quran ini, masyarakat mempunyai pandangan yang berbeda
beda. Ada yang melihat Al-Quran sebagai kitab suci yang sangat sakral dan
memperlakukannya dengan perlakuan yang khusus dan ada pula yang sebaliknya yang
memandang Al-Quran dengan biasa biasa saja, tidak ada bedanya dengan kitab kitab suci
yang lain yaitu berupa pesan pesan kebaikan terhadap manusia agar supaya merekaselamat
di dunia sampai akhitrat. Dengan melihat keberhasilan Al-Quran merobah sejarah umat
manusia, jelas Al-Quran mempunyai potensi rasionalitas yang besar. Tidak gampang bagi
seorang seperti sahabat Umar bin Khaththab yang demikian cerdas untuk tunduk begitu saja
kepada ajaran Al-Quran kecuali dalam diri Al-Quran mempunyai kekuatan kebenaran yang
sanggup meluluhkan hatinya dan rasionya. Kalau bukan karena kekuatan kebenaran yang
dibawa oleh Al-Quran, semestinya agama islam sudah ditinggalkan oleh pengikutnya dengan
mundurnya umat islam. Keunikan Al-Quran adalah karena Al-Quran mempunyai dua
kekuatan yaitu sakralitas dan rasionalitas.

Bukti Sakralitas Al-Quran.


Diatas dijelaskan bahwa sebagian masyarakat ada yang melihat Al-Quran sebagai
kitab yang penuh dengan sakralitas yang berlebihan. Di beberapa daerah di Indonesia, ada
yang memperlakukan mushaf kuno dengan perlakuan yang istimewa. Mushaf kuno yang
merupakan peninggalan nenek moyang mereka disimpan di satu tempat khusus. Tidak boleh
di pertontonkan begitu saja kepada masyarakat kecuali jika telah diadakan selamatan terlebih
dahulu, baik dengan membaca wiridan sebanyak bilangan tertentu atau bahkan dengan
memotong kerbau atau sejenisnya. Sikap yang demikian jelas terlalu berlebihan, sebab

menjadikan Al-Quran tidak bisa tersentuh oleh masyarakat. Padahal Al-Quran adalah kitab
petunjuk bagi seluruh umat manusia yang semestinya akrab dan menjadi teman sepanjang
hayat, untuk seluruh kalangan. Namun demikian bukan berarti Al-Quran bisa diperlakukan
seenaknya saja sebagaimana buku buku yang lain. Ada beberapa hal yang menunjukkan
adanya sakralitas Al-Quran, namun dalam pengertian yang wajar dan tidak berlebihan.
Bukti tentang sakralitas dan kesucian Al-Quran cukup banyak antara lain adalah
sebagai berikut :
Pertama : Al-Quran sebagai Kalamullah.
Keberadaan Al-Quran sebagai Kalamullah ditandaskan dalam salah satu Firman
Allah :
( )
Artinya : Jika ada salah seorang musyrik meminta perlindungan kepadamu, lindungilah dia
sampai dia mendengarkan Kalamullah. (at-Taubah : 6)
Kalamullah ialah perkataan Allah. Sifat Kalam sendiri adalah salah satu sifat yang
melekat pada Zat Allah, sebagaimana juga sifat Qudrat, Iradat, dan lain lainnya. Dengan
demikian jika Allah adalah Zat Yang Maha Suci (Quddus), maka sifat yang melekat pada
diriNya juga mempunyai sifat kesucian tersebut. Jika sifat sifat lain dari Allah bisa dirasakan
melalui semua gerak hidup makhlukNya, maka Al-Quran sebagai sifat Kalam bisa kita
rasakan melalui pembacaan terhadap teks teksnya yang sangat berbeda dengan teks teks
lainnya. Dalam ayat lain disebutkan bahwa ayat ayat Al-Quran bisa menggugah
pembacanya, hatinya bergetar sebagaimana firman Allah :
( , ,
, , )
Artinya : Allah telah menurunkan sebaik baiknya perkataan, (yaitu) Al-Quran yang serupa
(mutu ayat ayatnya) lagi berulang ulang, gemetar karenanya kulit orang orang yang takut
kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah.
Itulah petunjuk Allah. Dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya. Dan
barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.
(az-Zumar/39: 23).
Kedua : Keberadaan Al-Quran di Lauh Mahfuzh.
Sebelum Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad, Al-Quran telah ada di Lauh
Mahfuzh yaitu sebuah tempat/ wadah yang didalamnya berisi segala sesuatu yang akan
terjadi di dunia ini sampai di akhirat nanti. Dalam Al-Quran disebutkan :
( )
Artinya : Bahkan (yang didustakan itu ) ialah Al-Quran yang mulia. Yang (tersimpan) dalam
(tempat) yang terjaga (Lauh Mahfuzh). (Al-Buruj/85: 21-22 ).

Keberadaan Al-Quran dalam Lauh Mahfuzh jelas merupakan kehormatan yang


tinggi dari Allah bagi KalamNya. Allah senantiasa
akan menjaganya agar jangan sampai
diketahui dan di jamah oleh siapapun kecuali mereka yang diizinkan olehNya seperti para
Malaikat. Dalam FirmanNya yang lain disebutkan :
( , )
Artinya : dan (ini) Sesungguhnya Al-Quran yang sangat mulia. Dalam kitab yang terpelihara
(Lauh Mahfuzh). Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba hamba yang disucikan.
Diturunkan dari Tuhan semesta alam. (Al-Waqiah/56:77-79).
Ketiga : Menyentuh Mushaf harus berwudlu.
Berkaitan dengan poin diatas, ada ketentuan yang dijelaskan oleh para ulama fikih
bahwa mereka yang menyentuh mushaf harus berwudlu. Mereka berdalil dengan hadis Nabi
yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan Ibn Mardawaih dan lainnya :
( : )
Nabi berkata : Tidak menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci. (Lih. Tafsir Ruh AlMaani : 14/155)
Alasan lain yang dikemukakan mereka adalah bahwa jika Al-Quran yang ada di Lauh
Mahfuzh saja tidak disentuh kecuali oleh para Malaikat yang disucikan, maka Mushaf AlQuran yang ada di bumi yang merupakan proto type dari Al-Quran yang diatas juga tidak
disentuh kecuali oleh mereka yang bersuci. Pada dasarnya Al-Quran harus dihormati. Salah
satu penghormatan terhada Al-Quran adalah tidak membuang kertas kertas yang ada tulisan
Al-Quran secara sembarangan. Meletakkannya di tempat yang terhormat. Bersiwakan
sebelum membaca. menghadap kiblat. Dan lain sebagainya. Adanya ketentuan ini yaitu
berwudlu sebelum menyentuh mushaf merupakan penghormatan terhadap Al-Quran dan
mengindikasikan akan kesucianya..
Keempat : Larangan Membawa Mushaf ke Daerah Musuh.
Dalam salah satu Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, dan
Abu Dawud dari Ibnu Umar Nabi Muhammad pernah melarang para sahabat membawa
Mushaf Al-Quran ke negeri musuh. Ibnu Umar berkata :
()
(Lihat. as-Sayuthi, Al-Jami al-Saghir 6/343)
Hal itu di karenakan kekhwatiran Nabi bahwa Mushaf tersebut akan dilecehkan dan
diperlakukan yang tidak senonoh oleh musuh, sebagaimana yang dinyatakan secara lebih
tegas lagi dalam riwayat Ibnu Majah. Dengan demikian jika tidak ada kekwatiran tersebut
maka hukumnya boleh membawa mushaf ke negeri musuh, sebagaimana pada saat sekarang.
Bahkan justeru dengan banyaknya Mushaf yang tersebar ke seluruh dunia, memungkinkan
Al-Quran bisa dipelajari oleh siapapun. Bahkan banyak yang masuk islam karena
mempelajari Al-Quran. Adanya larangan Nabi sebagaimana diatas menunjukkan bahwa AlQuran semestinya diperlakukan dengan baik dan terhormat sesuai dengan kesuciannya.

Kelima: Al-Quran Bisa Menjadi Penawar Penyakit dan Penjaga diri.


Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Said AlKhudry disebutkan bahwa ada sahabat Nabi yang membacakan surah Al-Fatihah kepada
salah seorang pemimpin suku yang terkena sengatan Kalajengking. Ternyata orang tersebut
bisa sembuh. Sewaktu hal tersebut dikabarkan kepada Nabi ternyata Nabi menyetujuinya dan
malah meminta bagian dari hadiah yang diterima oleh para sahabt tersebut yang berupa
kambing (Lih. Al-Qur'an-Syaukani, Tafsir Fathul Qadir 1/16.Dar Al-Fikr, Beirut).
Pada Hadis lainnya Nabi menyetujui apa yang dikatakan oleh Setan kepada Abu
Hurairah bahwa membaca Ayat Kursi sebelum tidur bisa menjaga diri kita dan harta kita (Lih.
al- Syaukani, Fathul Qadir, 1/274). Begitu juga Nabi selalu membaca surah al-Ikhlas, alFalaq dan an-Nas sebelum tidur, lalu menyemburkan nafasnya ke kedua telapak tangannya
dan mengusap sekujur tubuhnya sampai tiga kali. Hal itu dilakukan untuk menjaga diri dari
sihir dan semacamnya. (Lih. An-Nawawi, At-Tibyan, h. 138). Dalam menafsirkan ayat ke 82
surah Al-Isra yaitu :
( )
Para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan bahwa Syifa maksudnya adalah
penawar penyakit hati. Sementara yang lain berpendapat bahwa maksud Syifa disini adalah
penyakit lahir melalui jampi jampi dengan Al-Quran. (Lih. Asy-Syaukani, tafsir Fathul
Qadir, 3/253) . kedua duanya menurut pendapat penulis bisa dibenarkan. Pendapat pertama
sudah tentu yang lebih dikedepankan. Pendapat kedua juga bisa dipakai sebagaimana
penjelasan pada hadis hadis diatas.
Nabi menghimbau agar rumah diramaikan oleh Al-Quran dan jangan menjadikan
rumah seperti kuburan. Setan akan lari dari rumah yang dibacakan surah Al-Baqarah. Sabda
Nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan lain lain dari Abu Hurairah:
( )
.
(Lih. Asy-Syaukani, Tafsir Fathul Qadir, 1/27) Nabi juga menganjurkan membacakan surah
Yasin dihadapan orang yang akan meninggal. ( H.R. Abu Dawud, Lih. Tafsir Al-Khazin.
4/2).Tujuannya sudah tentu agar orang yang mau meninggal mendapat keberkahan dari surah
tersebut dengan mendapat husnul khatimah. Adanya keberkahan adalah indikasi adanya
sakralitas dan daya supra natural Al-Quran.
Keenam: Membacanya dapat Pahala.
Salah satu indikator adanya sakralitas Al-Quran adalah barangsiapa yang membaca
Al-Quran, dia akan mendapatkan pahala. Setiap huruf yang dia baca mempunyai satu
kebaikan. Dan setiap kebaikan akan dilipatgandakan secara otomatis menjadi sepuluh
kebaikan. Dalam sebuah hadis Nabi pernah berkata :
( , ,
) .

Artinya : barang siapa membaca satu huruf dari Al-Quran, dia akan mendapatkan satu
kebaikan. Setiap kebaikan dilipat gandakan sampai sepuluh kali. Aku tidak mengatakan
bahwa Alif Lam Mim adalah satu huruf. Tapi alif adalah satu huruf, lam satu huruf dan mim
satu huruf. H.R Tirmidzi ,( Lih. An-Nawawi, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran, hal 14)

Ketujuh: Al-Quran Pemberi Syafaat pada hari Kiamat.


Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad pernah berkata :
( ,
Artinya : Bacalah Al-Quran, karena sesungguhnya Al-Quran akan memberi syafaat bagi
para pembaca setianya.( H.R. Muslim, lih. An-Nawawi, At-Tibyan, h 13).
Dari hadis diatas kita bisa melihat betapa Al-Quran telah memberikan yang terbaik
kepada para pembacanya yang setia bagi mereka selalu berkhidmat terhadap Al-Quran.
Bukan saja di dunia tapi sampai di akhirat. Di akhirat Al-Quran masih terus memberikan
syafaatnya. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Quran bukan kitab biasa, tapi kitab yang
mempunyai keistimewaan yang luar biasa.
Dari pemaparan diatas, nyatalah bahwa Al-Quran mempunyai keistimewaan dan
mempunyai nilai nilai kesucian yang tidak dipunyai oleh kitab kitab lainnya. Kesucian AlQuran karena memang Al-Quran adalah Kalamullah yang inhern dengan ke Mahasucian
Allah itu sendiri. Jika ada ayat ayat Al-Quran yang mempunyai daya yang mampu
menyembuhkan penyakit atau menjaga sesorang, karena memang ayat ayat tersebut identik
dengan ke Mahakuasaan Allah yang Maha Perkasa dan Maha kuat. Jika demikian halnya
maka Al-Quran harus dijaga kesuciannya dan kehormatannya.
Rasionalitas Al-Quran.
Sebagaimana dijelaskan dimuka Al-Quran adalah kitab hidayah bagi semua manusia.
Agar paparan Al-Quran bisa diterima oleh semua kalangan, maka Al-Quran menggunakan
alasan alasan yang rasional pada seluruh aspek ajarannya, baik yang terkait dengan akidah
atau syariah. Oleh karena itu tidak mengherankan jika dalam Al-Quran kita disuruh
menggunakan akal, berfikir dan merenung seperti kata : ( ( ) ( ) ( )
) ( ) ( )
. Dari ungkapan ungkapan yang bersifat
menghimbau ini jelas bahwa Al-Quran mengajak pembacanya menggunakan rasionya dalam
memahami kandungan Al-Quran. Sebaliknya Al-Quran mengeritik dan bahkan mengecam
mereka yang tidak mau merenungkan apa apa yang terkandung di dalamnya.
Bidang Akidah.
Dasar dasar akidah dalam Al-Quran dan begitu juga kitab samawi adalah tiga hal
yaitu kepercayaan kepada ke Esaan Allah, adanya hari akhir dan kenabian. Kepercayaan
kepada ke Esaan Allah adalah suatu yang sudah menjadi tugas para Nabi Nabi terdahulu,
sebelum nabi Muhammad. Banyak ayat ayat yang menjelaskan tentang itu seperti ajakan nabi
nabi kepada kaumnya.

Keberadaan Allah sendiri telah dinyatakan berulang kali dalam Al-Quran, begitu juga
tentang ke EsaanNya dan sifat sifatNya yang agung. Salah satu ayat yang berbicara tentang
keberadaan Allah adalah ayat berikut ini :
( , ( ) 58: )
Ayat ini secara garis besar menegaskan bahwa Allah adalah pencipta. Manusia tidak bisa
menciptakan dirinya sendiri. Allah jugalah yang menentukan kematian manusia.
( , ( ) 35-36 : )
Ayat ini mempertanyakan kepada manusia, apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun, atau
mereka yang menciptakan diri mereka sendiri. Apakah mereka juga yang menciptakan langit
dan bumi ? jawabannya jelas bahwa Allah lah yang menciptakan semua itu.
( ( ) 22 )
Ayat ini mengajak pembacanya memikirkan bahwa jika di alam semesta ini ada beberapa
Tuhan, maka pasti akan binasa. Sebab jika semuanya berkuasa, akan terjadi saling adu
kekuatan. Yang satu membangun dan yang lain merusak. Jika hal itu terjadi maka alam
semesta ini tidak akan bisa berjalan sebagaimana mestinya dan akan rusak. Namun ternyata
alam berjalan secara teratur dan lancar. Berarti ala mini ada yang mengatur , dan tidak ada
gangguan dari pengatur lainnya. Yang mengatur itu harus sendirian. Dan jika ada banyak
tuhan dan semuanya saling bahu membahu dalam mengatur ala mini, maka berarti Tuhan
tersebut tidak kuasa, karena masih membutuhkan yang lain. Alasan ini rasional sekali.
Sehingga memberikan inspirasi kepada para filosuf islam untuk mengembangkan teori ini
lebih lanjut dalam kajian ilmu mantik.
Keharusan menyembah hanya kepada Allah bukan kepada yang lainnya bisa dijelaskan
melalui alasan alasan yang rasional yaitu bahwa kehidupan manusia sangat tergantung
dengan Allah. Oleh karena itu mereka yang menyekutukan Allah telah bertindak zalim.
Diantara firman Allah tentang hal ini ialah :
( () 71 : )
( , , ) -67 :
66
Kedua ayat diatas ini menjelaskan bahwa nabi Muhammad diminta mengatakan kepada
kaumnya bahwa tidak sepantasnya seseorang menyembah sesuatu yang tidak mempunyai
kontribusi apapun dalam kehidupan, baik kemanfaatan maupun menolak kemudaratan. Nabi
Ibrahim juga mencerca mereka yang menyembah selain Allah. Karena selain Allah karena
alsan diatas. Jadi sangat naf sekali jika hal itu dilakukan oleh manusia.
Dalam persoalan adanya hari akhir, Al-Quran memberikan kepada para pembacanya
bahwa hari akhir adalah satu keniscayaan dengan alas an alasan sebagai berikut : jika tidak
ada hari pembalasan berarti penciptaan manusia itu hanya main main belaka, sebab antara
mereka yang berbuat baik dan buruk tidak ada bedanya. Toh semuanya berakhir dengan
kematian. Dari sinilah seorang penyair berkata :

Artinya : Jika kami setelah mati kami ditinggalkan begitu saja, maka kematian adalah
peristirahatan bagi setiap makhluk hidup. Namun setelah mati kami akan dibangkitkan
kembali. Dan kami semua akan ditanya tentang segala sesuatu. (Lih. Al-Maraghi, Tafsir:
.

Untuk membuktikan adanya kebangkitan manusia di hari kiamat, Al-Quran


memberikan ilustrasi tentang adanya kebangkitan di dunia ini baik pada tumbuhnya
tetumbuhan pada bumi yang tadinya kelihatan kering kerontang (al-Hajj:5), lalu hidup
kembalinya empat burung yang bisa hidup kembali setelah keempat burung tersebut di
potong potong oleh nabi Ibrahim (al-Baqarah:260), kemudian kisah seorang yang hidup
kembali setelah dimatikan oleh Allah selama seratus tahun (al-Baqarah:259) , lalu kisah
bangkit kembalinya kaumbani Israel yang mati karena disambar halilintar (Al-Baqarah:55).
Dan lain sebagainya.
Berkaitan dengan diutusnya utusan utusan Allah, Al-Quran memberikan alasan dalam
firmanNya:
(
)
()
Dari ayat pertama diambil pengertian bahwa para rasul Allah diutus untuk membacakan ayat
ayatNya kepada kaum mukminin, membersihkan mereka dari segala kekotoran, kemusyrikan,
dosa dosa dan mengajarkan kepada mereka Al-Quran, hikmah (sunnah nabi). Sementara
mereka sebelum itu adalah berada di jalan yang sesat. Pada ayat kedua Allah menjelaskan
bahwa diutusnya para rasul agar tidak ada klaim dari manusia pada saat mereka di hari akhir
bahwa mereka tidak dikirimi para utusan Allah yang menyampaikan pesan pesanNya.
Dalam persoalan Qadla dan Qadar, Al-Quran menjelaskan bahwa adanya ketentuan ini agar
manusia tidak berputus asa terhadap apa yang mereka tidak dapatkan dan tidak begitu
bergembira terhadap apa yang mereka dapatkan, sesuai dengan firmanNya (al-Hadid 22-23 ):
( , ,
, )

B. Syariat.
Dalam persoalan syariat, Al-Quran memberikan banyak alasan kenapa sesuatu
kebijakan Allah diberlakukan. Sebagai contoh adalah sebagai berikut :

1.kewajiban salat adalah agar supaya manusia selalu ingat kepada Allah. Dan jika hal itu
betul betul dihayati akan bisa mecegah pelakunya dari mengerjakan pekerjaan yang keji dan
mungkar, sebagaimana firmanNya :


2.Pada persoalan tayamum dan bersuci. Al-Quran memberikan penjelasan bahwa hal
tersebut diberlakukan agar kaum mukminin tidak merasa berat dan agar Allah membersihkan
mereka dan menyempurnakan nikmat nikmatNya kepada mereka, sebagaimana dalam
firmanNya dalam surah al-Maidah:6 :

( )

3.Pembagian harta kekayaan kepada fakir miskin adalah agar supaya kekayaan tidak bergulir
diantara orang orang kaya saja sebagaimana dirmanNya :
( )
4.Kewajiban puasa adalah dalam rangka menciptakan pribadi yang bertakwa. Dengan puasa
manusia akan mengetahui hakikat dirinya sendiri bahwa ada Zat yang selalu menyertai
sesorang baik dikala sendirian maupun bersama orang banyak. Firman Allah dalam hal ini :
( )
5.kewajiban haji adalah agar manusia bisa melihat sendiri hal hal yang bisa bermanfaat dalam
kehidupan mereka. Baik duniawi maupun ukhrawi, seperti solidaritas kaum muslimin,
melihat peninggalan sejarah masa lalu, saling kenal mengenal sesama kaum muslimin baik
dalamnegeri maupun luar negeri, dan lain sebagainya. Firman Allah dalam hal ini adalah :
( ,
, )

6. Dalam bidang muamalah secara keseluruhan, intinya Al-Quran mencegah perlakuan


zalim dari sebagian manusia kepada manusia yang lain, tidak boleh merugikan orang lain
dalam bentuk apapun, dan hendaknya keadilan adalah merupakan visi yang paling utama
dalam setiap keputusan hukum. sebagaimana firman Allah dibawah ini :
( ( ) 279 :
( ( ) 280 : )
( ( ) 233 : )

( ( ) 8 : )
(
7.Dalam hal hukum pidana Al-Quran menjelaskan bahwa adanya hukum qisas (membunuh
pembunuh) adalah dalam rangka menyedikitkan angka kematian sesuai dengan firmanNya
(al-Baqarah :179)
( )
dan pembalasan terhadap tersalah harus sepadan, tidak boleh melebihi batas, akan lebih bagus
lagi jika mau memaafkan kepada tersalah, sebagaimana dalam firman Allah (an-Nahl: 126) :
( , )
Adanya hukum potong tangan adalah dalam sebagai hukuman dari Allah kepada pencuri,
baik lelaki maupun perempuan sebagaimana dalam firmanNya (al-Maidah:38):
( , )
Selanjutnya Al-Quran menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan hukuman tidak boleh ada
nepotisme, tapi semua pihak harus diletakkan pada posisi yang sama, walaupun pihak yang
tersalah itu adalah keluarga sendiri sebagaimana dalam firman Allah ( an-Nisa:135)

8. Dalam hubungan antar manusia, Al-Quran menjelaskan bahwa seluruh komunitas


manusia dari ras apapun, dari agama apapun adalah merupakan hamba Allah yang harus
dihormati. Adanya puak puak dan kabilah adalah agar saling mengenal diantara mereka,
sebagaimana dalam firmanNya ( al-Hujurat:13):
( )
Hubungan antar anak dan bapak tetaplah harus dikukuhkan dan diperkuat tanpa memandang
agama masing masing. Keduanya mempunyai hubungan biologis, sebagaimana dalam firman
Allah (Luqman/31: 15):
( , )

Masih banyak lagi contoh contoh lain dimana Al-Quran memberikan penjelasan
tentang penyebab dan latar belakang diberlakukannya satu hokum seperti pengharaman
minuman keras, judi, perzinaan, riba, pengharaman memakan bangkai dan lain sebagainya.
Dari pemaparan diatas nyatalah bahwa Al-Quran membawa pesan pesan moralitas baik yang
bersifat pribadi maupun kemasyarakatan, baik akidah maupun syariat. Semuanya
dikemukakan dengan alasan alasan yang rasional dan bisa diterima oleh seluruh kalangan dan
mereka yang mempunyai pikiran jernih. Jika pada akhirnya ide ide Al-Quran bisa diterima
oleh masyarakat luas dan banyak orang yang masuk islam,itu karena Al-Quran adalah
Kalamullah yang sangat tahu tenang seluk beluk jiwa manusia. Jika saja ide ide Al-Quran ini

tidak rasionalitas maka sudah tentu banyak yang menolaknya dan Al-Quran pada akhirnya
menjadi kitab kuno yang teronggok lesu di pojokpojok perpustakaan.
Antara Taabbudi dan Taaqquli.
Disamping Al-Quran selalu mengemukakan rasionalitas, Al-Quran juga
mengemukakan hal hal yang melulu hanya kepatuhan kepada Allah saja. Sangat sulit bagi
manusia untuk menemukan benang merah menuju rasionalitas. Seperti jumlah salat yang lima
waktu. Jarak berpuasa dari pagi hingga petang. Thawaf mengelilingi Kabah dan SaI antara
bukit Shafa dan Marwah dalam pelaksanaan ibadah Haji dan Umrah dan lain sebagainya. Hal
hal tersebut jelas masuk wilayah taabbudi, dimana manusia hanya bersifat pasrah saja
terhadap ritual peribadatan ini. Namun banyak keputusan hukum yang menuntut manusia
merenungkan tentang maksud dan tujuan dari keputusan hukum tersebut. Contohnya adalah
ketentuan kedua orang saksi dalam transaksi perdagangan, apakah harus lelaki atau bisa juga
perempuan ? atau apakah kepemimpinan suami dalam rumah tangga adalah bersifat mutlak
atau ada ketentuannya ? pembagianharta warisan yang membedakan antara anak lelaki dan
perempuan, apakah bersifat mutlak atau bisa di kompromikan ? lalu beberapa hokum pidana
dalam islam, apakah masuk dalam kelompok taabbudi atau taaqquli ? dan masih banyak
lagi pertanyaan yang berkaitan dengan persoalan ini. Tidak gampang memang memilah milah
mana yang taabbudi dan mana yang taaqquli secara ketat. Ada hal hal yang tadinya
dinyatakan sebagai taabbudi, tapi masih dimungkinkan dimasukkannnya kedalam taaqquli.
Pengkaji tafsir Al-Quran dituntut untuk selalu mencari titik temu antara hidayah Al-Quran
dengan kondisi masyarakat dewasa ini.
Penutup.
Dari pemaparan diatas nyatalah bagi kita bahwa Al-Quran adalah kiab yang sangat
unik. Dari satu sisi Al-Quran bisa bermanfaat dalam persoalan yang non rasionalis. Tapi
pada sisi lain Al-Quran adalah kitab yang sangat rasional. Keunikan Al-Quran yang lain
adalah Al-Quran menggunakan term ekonomi dalam hal hal yang bersifat akidah. Padahal
keduanya kelihatan bertentangan. Yang satu bersifat transenden dan yang satunya bersifat
material. Dari sinilah banyak kalangan tergugah dengan pernyataan Al-Quran, sehingga
mereka terus mengadakan kajian terhadap Al-Quran dalam seluruh aspek kehidupan.