Anda di halaman 1dari 4

Salah satu masalah yang dihadapi obyek wisata yang berupa pantai di selatan DIY dan

Bantul khususnya adalah kondisi alam yang kurang menguntungkan. Karakteristik pantai selatan
di Pulau Jawa secara umum yang didominasi oleh gelombang besar dan arus angin yang kuat
dapat berdampak buruk pada berkurangnya areal daratan akibat abrasi (erosi pantai). Terdapat
banyak pantai yang berderet memanjang dari timur ke barat hingga muara Sungai Progo yang
berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Mulai dari Pantai Parangtritis, Pantai
Parangkusumo, Pantai Depok, Pantai Goa Cemara, Pantai Kuwaru, dan Pantai Pandansimo Baru.
Selama ini pantai-pantai tersebut menjadi penyumbang retribusi paling besar ke Kabupaten
Bantul. Mulai tahun 1998 digalakkan besar-besaran penanaman pohon Cemara Udang
(Casuarina Equessetifolia) di sepanjang pesisir pantai mulai Pantai Depok ke barat hingga Pantai
Pandansimo di tepi muara Sungai Progo (Windyanti, 2013:4). Penanaman pohon cemara udang
tersebut bertujuan untuk menahan abrasi pantai yang semakin mengkhawatirkan serta menahan
arus angin (wind barrier) yang menuju ke daratan. Deretan pohon cemara udang tersebut selain
bermanfaat untuk ekosistem pantai ternyata bermanfaat juga bagi sektor pariwisata.
Berbagai proses biotik dan abiotik dalam ekosistem pesisir mempengaruhi siklus
hidrologi dan geomorfologi pesisir. Biota yang memiliki pengaruh besar pada persediaan
sedimen (karbonat), pada proses pertumbuhan dan biogeokimia antara air laut, atmosfer dan
sedimen laut.
Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki sekitar 17.000 ha areal hutan yang 8.000 ha
diantaranya merupakan areal bukit berpasir (pantai). Areal tersebut merupakan sumber daya alam
yang potensial sebagai kawasan wisata, pendukung pertanian dan kehutanan (Suhardi dan
Sutikno, 2002). Kawasan pantai yang selama ini kurang mendapatkan perhatian merupakan salah
satu kawasan yang rawan bahaya erosi khususnya erosi oleh angin (abrasi) yang dapat
menyebabkan terjadinya lahan sand dune. Untuk menghambat perluasan lahan kritis atau erosi
pasir oleh angin dan mengubah lahan kritis menjadi lahan produktif perlu dilakukan rehabilitasi
lahan pantai. Dalam upaya tersebut, tanaman cemara udang (Casuarina equisetifolia Linn.)
merupakan salah satu jenis tanaman yang saat ini secara luas ditanam di kawasan pantai. Cemara
udang dipilih karena mampu beradaptasi dengan baik pada lahan pasir yang memiliki kadar
garam tinggi. Akar tanaman ini mampu membentuk asosiasi dengan Frankia dan mikorisa yang
membantu akar dalam menyerap unsur hara dari dalam tanah. Lahan pantai memiliki kelemahan
antara lain salinitas yang tinggi, kandungan hara rendah, evaporasi tinggi, serta kandungan air

tanah yang rendah. Kelemahan yang lain adalah, aliran permukaan yang terlalu besar seringkali
terjadi di wilayah pantai terutama pada musim penghujan sehingga dapat mengakibatkan
hilangnya sebagian unsur hara yang terdapat di dalam tanah dan mengganggu pertumbuhan
tanaman.
Wilayah pesisir adalah wilayah peralihan antara ekosistem darat dan ekosistem laut yang
saling bertemu dalam suatu keseimbangan yang rentan (Beatly dkk. 2002 dalam Bappenas,
2004). Wilayah pesisir terdapat berbagai habitat dan ekosistem seperti estuaria, terumbu karang,
padang lamun, dan hutan mangrove yang berfungsi sebagai penyedia berbagai bahan kebutuhan
hidup manusia dan penyedia jasa bagi komunitas yang tinggal di wilayah pesisir.
Ekosistem pantai mempunyai sebuah interaksi antar makhluk yang hidup pada sebuah
rantai makanan, umumnya sebuah rantai makanan (food chain) memiliki produsen, konsumen,
serta decomposer (pengurai). Pada rantai makanan (food chain) di ekosistem terumbu karang
terdapat produsen (penghasil/pembuat makanan) yaitu produsen utama, atau tumbuhan
autotrof(penghasil makanan sendiri), produsen merupakan dasar dari semua rantai makanan
(Ambalika, 2012).

Rantai makanan adalah perpindahan energi makanan dari sumberdaya

tumbuhan melalui seri organisme atau melalui jenjang makan (tumbuhan- herbivora- karnivora).
Pada setiap tahap pemindahan energi, 80%90% energi potensial hilang sebagai panas, karena
itu langkah-langkah dalam rantai makanan terbatas 4-5 langkah saja. Dengan perkataan lain,
semakin pendek rantai makanan semakin besar pula energi yang tersedia ( Sukarno, 1983).
Pada konsumen tingkat pertama merupakan hewan herbivora yakni pemakan tumbuhtumbuhan yang berasal dari produsen seperti alga, rumput laut (sea weed), fitoplankton, serta
zooxanthalae. Organisme pada konsumen tingkat pertama yaitu: Zooplankton, larva
inverterbarta, bivalves, gastropods, tunicita, spons, ikan kecil, serta landak laut. Para organisme
ini memanfaatkan dari tumbuh-tumbuhan yang hidup di laut maupun zooxanthalae untuk
menjadi bahan-bahan makanannya. Pada konsumen tingkat kedua merupakan hewan karnivora
yakni pemakan hewan atau daging, biasanya memangsa konsumen tingkat pertama seperti
zooplankton, larva invertebrate (larva udang), dll. Organisme pada konsumen tingkat kedua
yaitu: Moluska, krustacea, (Wibisono, 2005).
Pada konsumen tingkat ketiga merupakan hewan tingkat tertinggi dalam rantai makanan,
biasanya memangsa konsumen tingkat kedua. Pada konsumen tingkat ketiga terdapat organisme
seperti : Ikan Hiu, dan ikan ikan karnivor lainnya. Semua organisme baik itu produsen,

konsumen tingkat pertama, kedua, dan ketiga apabila mati akan terurai oleh decomposer ( bakteri
dan fungi). Serta decomposer akan menghasilkan nutrient yang diperlukan oleh produsen dan
akan membentuk rantai makanan kembali (Victoryus,2008 dalam Jayansyah dkk., 2014).
Lahan areal pantai diyakini mempunyai kondisi lingkungan yang cukup ekstrim seperti
kandungan hara rendah, hembusan angin kencang, serta salinitas dan suhu yang terlalu tinggi,
sehingga lahan di areal pantai sangat sulit untuk ditanami. Karakteristik lahan disertai dengan
suhu permukaan yang tinggi dan hembusan angin yang cukup kencang dapat merusak tanaman.
Cemara udang (Casuarina equisetifolia var. incana) termasuk jenis tanaman yang mampu hidup
pada daerah miskin hara dan merupakan salah satu jenis pioner di kawasan pesisir yang rawan
terhadap abrasi (Dommergues, 1990). Keberadaan tanaman cemara udang yang berfungsi
sebagai penahan angin dan uap air bergaram , menyebabkan tanaman tersebut sebagai kawasan
di belakangnya dapat terlindung dari terpaan angin laut dan dapat memberikan manfaat untuk
perkembangan tanaman pertanian di daerah tersebut. Selain itu, cemara udang merupakan
tanaman serba guna dengan nilai ekonomi tinggi, dapat dimanfaatkan untuk kayu bakar, kayu
kontruksi, penahan gerakan pasir, penghijauan, peneduh, dan tanaman hias sehingga
keberadaannya di areal pesisir pantai sangat bermanfaat baik bagi masyarakat sekitar maupun
bagi ekosistem areal pesisir tersebut (Winarni, 2002).
Struktur tajuk pada lapisan bagian bawah hutan, biasanya ditumbuhi oleh komunitas
tumbuhan yang sering disebut dengan tumbuhan bawah. Kehadiran tumbuhan bawah diharapkan
mampu memberikan stabilitas ekosistem, menjaga kelembaban tanah, mencegah erosi dan
memelihara kesuburan tanah. Tumbuhan bawah dalam suatu ekosistem memiliki peran ekologis
yang cukup penting, sebagai komponen ekosistem yang memiliki peran positif dan peran negatif.
Adapun peran positif antara lain : menghambat run-off, memperbaiki sifat fisik tanah seperti
pembentukan struktur dan meningkatkan kemantapan agregat tanah (Kusumandari, 2003).
Beberapa jenis tumbuhan bawah dapat meningkatkan unsur nitrogen, sebagai tumbuhan obat
tradisional, sebagai pakan ternak, sebagai sumber bahan makanan dsb. Peran negatif tumbuhan
bawah adalah dapat berperan sebagai pesaing untuk mendapatkan unsur hara dan sebagian
berpotensi sebagai agen kebakaran.
Tumbuhan yang dipilih untuk rehabilitasi kawasan pantai yaitu Casuarina equisetifolia (cemara
udang). C. equisetifolia dipilih karena memiliki banyak kelebihan dibandingkan tumbuhan yang
lain. Beberapa kelebihan C. equisetifolia antara lain toleran terhadap tutupan garam pada daun

dan batang karena sel-sel stomatanya terlindungi sehingga tidak mengganggu proses fotosintesis.
Perakaran C. equisetifolia mampu bersimbiosis dengan bakteri Frankia sp. yang meningkatkan
penambatan nitrogen yang meningkatkan kesuburan tanah. Perakarannya juga mampu tumbuh
jauh ke dalam tanah dan sehingga mampu hidup sekalipun pada tanah yang memiliki salinitas
tinggi (Whistler dan Elevitch, 2006). Bentuk tanaman yang memiliki tajuk yang besar dan
rimbun juga daun yang berbentuk jarum mampu menahan laju angin laut yang melewatinya dan
menghambat butiran pasir untuk menjauhi bibir pantai sehingga cocok dijadikan tanaman
pemecah angin (windbreak).