Anda di halaman 1dari 9

Menyingkap Tabir Profit Equalization Reserve pada Akad Mudharabah dalam Pelaksanaannya di Bank Syariah

Disusun untuk memenuhi Ujian Akhir Semester Genap Matakuliah Manajemen Keuangan Syariah

Akhir Semester Genap Matakuliah Manajemen Keuangan Syariah Dosen: Achmad Zaky, MSA., Ak., SAS., CMA., CA Disusun

Dosen:

Achmad Zaky, MSA., Ak., SAS., CMA., CA

Disusun oleh:

Rizky Aditya Nugraha (135020307111074)

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Juni 2015

Menyingkap Tabir Profit Equalization Reserve pada Akad Mudharabah dalam

Pelaksanaannya di Bank Syariah

Rizky Aditya Nugraha (135020307111074) Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya Jln. Veteran, Malang, 65145. Telp/Fax: (0341) 551611 Email: rizkynugraha17@yahoo.co.id

Abstrak Keuntungan pada uncertainty contract seperti mudharabah pada dasarnya tidak dapat ditentukan besarannya. Untuk menghindari ketidakpastian tersebut perbankan melakukan serangkaian strategi agar keuntungan bisa menjadi pasti. Salah satu strategi yang dilakukan perbankan adalah PER (Profit Equalization Reserve). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan PER dan apakah PER dapat dijadikan strategi yang baik bagi Bank Syariah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Kata Kunci: PER, Mudharabah, Bank Syariah

Abstract Profits on uncertainty contract as mudharaba basically can not be determined. To avoid the uncertainty, Islamic Banks conducted a series of strategies that the profits can be sure. One of the strategy is PER (Profit Equalization Reserve). This study aims to know how the application of PER and whether PER can serve as a good strategyfor Islamic Banks. This study uses a qualitative method with descriptive research. Keyword: PER, Mudharabaa, Islamic Bank

Pendahuluan Pada akhir akhir ini perkembangan perbankan syariah semakin pesat. Terbukti dengan meningkatnya total aset perbankan syariah mencapai Rp149,3 triliun (BUS & UUS Rp145,6 triliun dan BPRS Rp3,7 triliun) atau tumbuh sebesar 51,1% (yoy) dari posisi tahun sebelumnya. Industri perbankan syariah mampu

menunjukkan akselerasi pertumbuhan yang tinggi dengan rata-rata sebesar 40,2%

pertahun dalam lima tahun terakhir (2007-2011), sementara rata-rata pertumbuhan

perbankan nasional hanya sebesar 16,7% pertahun. Oleh karena itu, industri

perbankan syariah dijuluki sebagai ‘the fastest growing industry’. 1

Pertumbuhan perbankan syariah diiringi dengan berbagai strategi untuk

menarik para nasabah. Salah satu strategi yang dilakukan adalah PER (Profit

Equalization Reserve). PER merupakan langkah yang dilakukan Bank Syariah untuk

mitigasi risiko atas ketidakpastian keuntungan masa depan. Dengan PER Bank

Syariah dapat meminimalkan risiko terjadinya kerugian dalam usaha yang dilakukan.

Sehingga akan diperoleh imbal hasil yang selalu ada dan tetap selama periode

berjalannya usaha.

Akan tetapi, langkah ini menimbulkan pro kontra di masyarakat. Pihak pro

menyatakan bahwa PER diperlukan bagi Bank Syariah agar dapat kompetitif dengan

Bank Konvensional, menjadi alternatif strategi mitigasi risiko, serta membantu

mengelola Displaced Commercial Risk.

Sundararajam dalam Hidayat (2012) mengatakan bahwa:

“Pada dasarnya PER (Profit Equalization Reserve) dan IRR (Investment Risk Reserve) adalah sebuah Instrumen yang di gunakan untuk mengantisipasi kerugian dari asset yang diinvestasikan, baik dari sisi Bank maupun dari pemilik rekening simpanan/shaibul maal Dalam bahasa ekonomisnya adalah bahwa implementasi dari PER dan IRR ditujukan untuk membantu mengelola tingkat Displaced Commercial Risk (DCR) yang didefinisikan sebagai sebuah resiko yang muncul ketika Bank Syariah berada dalam tekanan untuk memberikan hasil (return) yang lebih tinggi kepada Investor/deposannya melebihi yang seharusnya diberikan berdasarkan kontrak investasi sebelumnya.”

Pihak Kontra menyatakan bahwa PER secara konsep islam tidak pernah

dilaksanakan dan PER sejatinya tidaklah diperlukan jika masyarakat sudah mengenal

konsep bagi hasil. Sundararajam dalam Hidayat (2008) mengatakan bahwa:

“Pengamat Ekonomi Syariah Agustianto mengatakan, sebenarnya

PER tidak pernah ada dalam sistem dan praktik fikih muamalah. Tetapi demi alasan bisnis dan guna merangkul masyarakat agar tetap setia di lembaga syariah, aturan PER kemudian diperkenalkan dan

bila masyarakat sudah

diterapkan di beberapa negara

Namun

1 Halim, Perkembangan dan Prospek Perbankan Syariah Indonesia: Tantangan Dalam Menyongsong MEA 2015. Hlmn. 1

memahami konsep bagi hasil dan risiko yang diusung perbankan syariah, aturan ini tidak diperlukan lagi. Jadi PER ini sifatnya sementara. Namun pertanyaannya sampai kapan dan apakah ada ukuran riilnya untuk menetapkan batasan waktu pemberlakuan PER.

Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk mengambil judul

Menyingkap Tabir Profit Equalization Reserve pada Akad Mudharabah dalam

Pelaksanaannya di Bank Syariah. Artikel ini akan memberikan gambaran lain

terkait dengan penerapan PER dalam akad mudharabah.

Hasil dan Pembahasan

Mudharabah

Mudharabah atau yang sering disebut juga trust financing merupakan akad

kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (pemilik dana/shohibul

maal) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua (pengelola dana/mudharib)

bertindak selaku pengelola, dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai

kesepakatan sedangkan kerugian finansial hanya ditanggung oleh pemilik dana. 2

Zaky (2014)
Zaky (2014)

Skema akad Mudharabah.

Keterangan :

1. Modal dana 100% dari shohibul maal

2. Modal tenaga 100% dari mudharib/pengelola

3. Keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan nisbah bagi hasil

4. Kerugian finansial 100% ditanggung oleh shohibul maal

(Nurhayati dan Wasilah, 2015;128) mengatakan bahwa :

Kepercayaan ini sangat penting dalam akad mudharabah karena pemilik dana tidak boleh ikut campur di dalam manajemen perusahaan atau proyek yang dibiayai dengan dana dari pemilik dana tersebut, kecuali sebatas memberikan saran saran dan melakukan pengawasan pada pengelola dana. Apabila usaha tersebut mengalami kegagalan dan terjadi kerugian yang mengakibatkan sebagian atau bahkan seluruh modal yang ditanamkan oleh pemilik dana habis, maka yang menanggung kerugian keuangan hanya pemilik dana. Sedangkan pengelola dana sama sekali tidak menanggung atau tidak harus mengganti kerugian atas modal yang hilang, kecuali kerugian tersebut terjadi sebagai akibat kesengajaan, kelalaian, atau pelanggaran akad yang dilakukan pengelola dana.

PER (Profit Equalization Reserve) Menurut Fatwa DSN No.87 Tahun 2012 Profit Equalization Reserve (PER)

adalah dana cadangan yang dibentuk oleh LKS yang berasal dari penyisihan selisih

laba LKS yang melebihi tingkat imbalan/hasil yang diproyeksikan untuk penyesuaian

bagi hasil dana mudharabah (muthlaqah); dan dalam hal simpanan dana Nasabah

menggunakan akad mudharabah muqayyadah, jika disepakati para pihak,

pembentukan cadangan penyesuaian bagi hasil dapat pula berasal dari penyisihan

keuntungan Nasabah yang melebihi tingkat bagi hasil yang diproyeksikan.

Menurut The Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial

Institutions (AAOIFI), Profit Equalization Reserve adalah sebagian dari pendapatan

kotor dari pendapatan murabahah yang dikeluarkan/disisihkan, sebelum

mengalokasikannya ke bagian Mudharib dengan tujuan untuk memberikan

return/hasil yang lebih merata kepada pemilik rekening dan pemegang saham.

Rusydi mengatakan bahwa:

Dalam praktik, Bank Syariah akan membuat proyeksi bagi hasil yang akan disetujui oleh nasabah, atas usaha yang telah dilakukan oleh nasabah. Bank Syariah akan memberitahukan bahwa dalam kerja samanya akan menggunakan sisterm PER sehingga tidak perlu

khawatir jika bagi hasil dibawah proyeksi. Karena jika suatu saat terjadi bagi hasil lebih dari proyeksi maka kelebihan tersebut akan dicadangkan (tidak dibagikan). Apabila suatu saat bagi hasil yang diproyeksikan tidak sesuai maka untuk menutupi itu akan diambilkan dari bagi hasil yang telah dicadangkan tadi. Bahkan apabila dana yang dicadangkan kurang maka Bank Syariah akan mengambil sebagian pendapatannya untuk menutupi kekurangan tersebut.”

Ketika bagi hasil berada pada kondisi terus positif atau memiliki kondisi yang

selalu berlebih maka pada akhir periode pasti terdapat saldo lebih. Saldo lebih pada

dana cadangan ini harus didistribusikan kepada nasabah kembali 3 . Sehingga hak

milik nasabah tetap diberikan.

Income Smoothing

Perataan laba (Income Smoothing) adalah cara yang digunakan manajemen

untuk mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan agar sesuai dengan target yang

diinginkan baik secara artificial, melalui metode akuntansi maupun secara riil,

melalui transaksi 4 . Perataan ini akan menyebabkan laporan keuangan menjadi

distorsi karena apa yang dilaporkan dalam laporan keuangan tidak mencerminkan

kondisi sebenarnya. Hal ini juga bertujuan untuk menigkatkan share price

perusahaan agar semakin diminati oleh para investor.

Pendapat Penulis

Dari data di atas penulis berpendapat bahwa dalam konsep PER terdapat

beberapa hal yang perlu dicermati, di antaranya:

1. Apakah dengan menerapkan PER akan semakin mengedukasi masyarakat

akan praktik muamalah, khususnya pada akad mudharabah?

Edukasi kepada masyarakat sangat penting dilakukan. Karena hal ini

akan memberikan dampak yang signifikan terhadap pelaksanaan praktik

muamalah. Terlebih lagi dengan penerapan PER, tidak jarang masyarakat

yang menganggap bahwa praktik di Bank Syariah tidak ada bedanya dengan

Bank Konvensional. Mengapa? Karena imbal hasil, ketika menerapkan PER,

3 Rofi dan Rully. Kemungkinan Penerapan Profit Equalization Reserve (PER) Perbankan Syariah Dalam Tinjauan Fiqih Di Indonesia 4 Irwan dan Dadi. Perbandingan Pendapatan Tabungan Bank Konvensional dan Mudharabah Pada Bank Mandiri dan BNI.

yang didapatkan akan cenderung tetap selama kontrak kerja sama. Sehingga hal ini menimbulkan persepsi masyarakat bahwa Bank Syariah tetap saja melakukan praktik ribawi. 2. Dengan menerapkan PER maka sifat alami dari akad mudharabah akan terdistorsi/tidak terlihat. Sifat alami pada akad mudharabah yang akan terdistorsi adalah pengakuan kerugian, di mana kerugian finansial seharusnya menjadi tanggung jawab pemilik dana (Shahibul maal). Akan tetapi, pada penerapan PER, ketika terjadi kerugian usaha pada periode berjalan Bank Syariah (pengelola dana) akan berusaha untuk menutup kerugian tersebut. Hal ini tidak sesuai dengan prinsip mudharabah itu sendiri. Sehingga tidak tepat jika dikatakan bahwa PER merupakan strategi untuk menarik nasabah agar semakin paham dengan praktik muamalah maaliyah. Bahkan dari adanya PER ini adalah bertujuan agar Bank Syariah semakin kompetitif menghadapi Bank Konvensional. 3. PER merupakan langkah yang dilakukan Bank Syariah ditengah ketakutannya dari kehilangan aset Perbankan itu sendiri yaitu nasabah (misalnya beralihnya nasabah kepada Bank Konvensional). Hal ini kurang tepat jika Bank Syariah harus khawatir akan hal ini, karena seharusnya yang khawatir adalah nasabah itu sendiri dengan maraknya praktik ribawi. Sehingga ketika nasabah sendiri yang sudah takut dengan praktik ribawi maka nasabah akan memilih praktik muamalah yang sesuai syariah, beralih kepada Bank Syariah. Dengan beralihnya nasabah karena kesadaran mereka sendiri maka akan memudahkan Bank Syariah dalam melaksanakan praktik muamalah yang sesuai dengan prinsip islam. Bank Syariah tidak perlu melakukan berbagai macam strategi agar nasabah tetap mau berhubungan dengan Bank Syariah. Sebagai contoh ketika dalam akad mudharabah jika terjadi kerugian usaha maka yang menanggung kerugian adalah pemilik dana (nasabah). Ketika nasabah sudah mengetahui konsekuensi akan hal tersebut maka nasabah akan rela jika dana yang dimiliki berkurang. Hal ini juga yang menjadi latar belakang diberlakukannya PER, yaitu karena Bank Syariah khawatir jika nasabah mengalami kerugian,

mereka akan berhenti bekerja sama dengan Bank Syariah dan beralih kepada

Bank Konvensional yang memberikan keuntungan pasti dan tidak akan

pernah mengalami kerugian.

Kesimpulan

1. PER sejatinya tidak perlu dilakukan karena akan menimbulkan perspektif

yang berbeda terhadap sifat alami dalam pelaksanaan akad mudharabah.

2. Penerapan PER membuat masyarakat semakin uneducated karena dalam

praktik semakin tidak sesuai dengan kaidah islam.

3. Bank Syariah masih berfokus kepada target target kuantitatif seperti market

share,tingkat perputaran dana,dll dibandingkan dengan target kualitatif

seperti edukasi masyarakat, kepatuhan syariah, dll.

Saran

1. Bank Syariah seharusnya membiarkan risiko yang sifatnya inhern dalam

sebuah akad terlebih lagi jika itu memang risiko yang harus ditanggung oleh

nasabah. Karena hal ini juga akan mendidik masyarakat tentang bagaimana

praktik muamalah maaliyah yang sesuai kaidah islam.

2. Bank Syariah perlu mengedukasi nasabah tentang bagaimana praktik

muamalah yang sesuai dengan kaidah islam agar Bank Syariah tidak terlalu

repot memikirkan strategi maupun mencari fatwa untuk mendukung praktik

yang akan dilakukan.

3. Perlu memperbanyak penelitian empiris kepada Bank Syariah terhadap

pelaksanaan strategi PER, karena dari data survei masih sekitar 30% Bank

Syariah yang mau membeberkan pelaksanaan strategi PER nya.

Sumber

Fatwa Dewan Syariah Nasional No: 87/DSN-MUIIXII/2012 Tentang Metode Perataan Penghasilan (Income Smoothing) Dana Pihak Ketiga

Rofi dan Rolly. 2015. Kemungkinan Penerapan Profit Equalization Reserve (PER) Perbankan Syariah Dalam Tinjauan Fiqih di Indonesia. Nisbah: Jurnal Perbankan Syariah Vol.1 Nomor 1.

Irwan dan Dadi. 2009. Perbandingan Pendapatan Tabungan Bank Konvensional dan Mudharabah Pada Bank Mandiri dan BNI. Artikel. Universitas Gunadarma

Alamsyah, Halim. 2012. Perkembangan dan Prospek Perbankan Syariah Indonesia:

Tantangan Dalam Menyongsong MEA 2015. Makalah disampaikan dalam Ceramah Ilmiah Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Milad ke-8 IAEI, 13 April 2012

Hidayat,

Wahyu.

2012.

Rusydi, Muhammad. 2014. Misteri Profit Equalization Reserve (PER), Penguat Ekonomi Syariah Ataukah Haram Berbulu Syariah?. Artikel. Universitas Brawijaya