Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Wilayah indonesia dikepung oleh lempeng eurasia, lempeng IndoAustralia dan lempeng Pasifik. Lempeng ini sewaktu-waktu akan bergeser
patah menimbulkan gempa bumi. Gempa bumi adalah getaran atau
guncangan yang terjadi dan dirasakan dipermukaan bumi yang berasal dari
dalam struktur bumi.
Indonesia juga merupakan jalur The Pasific Ring Of Fire (Cincin Api
Pasifik) yang sangat terkenal, yang merupakan jalur rangkaian gunung api
aktif di dunia. Cincin api pasifik membentang diantara subduksi maupun
pemisahan lempeng pasifik dengan lempeng Indo-Australia, lempeng
Eurasia,Lempeng Amerika Utara dan lempeng Nasca yang bertabrakan
dengan lempeng amerika selatan.
Indonesia memiliki

gunung api dengan jumlah kurang lebih 240

buah, di mana hampir 70 diantaranya masih aktif. Zona kegempaan dan


gunung api aktif Circum Pasifik amat terkenal, karena setiap gempa hebat
atau tsunami dahsyat di kawasan itu, dipastikan menelan korban jiwa yang
banyak yang bisa disebabkan dari gempa tektonik ataupun dari gempa
vulkanik. Gempa vulkanik yaitu gempa yang terjadi sebelum atau saat
gunung berapi meletus. Gempa ini hanya terjadi di daerah sekitar gunung
berapi, sehingga tidak begitu kuat dibandingan dengan gempa tektonik.
Konsekuensi terhadap letak/posisi geografisnya menempati zona
tektonik yang sangat aktif maka indonesia termasuk dalam wilayah yang
sangat rawan bencana alam termasuk diantaranya rawan bencana yang
diakibatkan oleh gempa bumi.
Berdasarkan uraian di atas pada kesempatan kali ini penulis akan
menyajikan makalah yang berjudul Gempa Vulkanik, Jalur Gempa dan
Proses Fisis Gempa.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1. Apa yang dimaksud dengan Gempa Vulkanik ?
1.2.2. Bagaimana Gempa Vulkanik dapat terjadi ?
1.2.3. Apa dampak gempa vulkanik untuk lingkungan ?
1.2.4. Bagaimana jalur-jalur dari gempa ?
1.2.5. Bagaimana proses fisis gempa ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1. Menjelaskan pengertian dari gempa vulkanik.
1.3.2. Menjelaskan proses terjadinya gempa vulkanik.
1.3.3. Mengetahui dampak gempa vulkanik untuk lingkungan.
1.3.4. Menjelaskan tentang jalur-jalur dari gempa.
1.3.5. Menjelaskan proses fisis dari gempa.
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1. Menjadi bahan bacaan bagi pembaca.
1.4.2. Menambah wawasan pengetahuan bagi pembaca
dalam mengetahui hal-hal tentang gempa dan proses
fisis gempa.
1.4.3. Memenuhi tugas Mata Kuliah Fisika Lingkungan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Gempa Vulkanik
Gempa vulkanik adalah gempa Bumi yang terjadi karena adanya
aktivitas vulkanisme, baik sebelum, pada saat, atau sesudah letusan. Magma
yang keluar melalui gunung api bergerak bersama

dengan batuan

penyusun tubuh gunung api. Getaran akibat


pergerakan tersebut diteruskan ke segala
arah melalui materi penyusun kerak
Bumi. Gempa ini tergolong gempa yang cukup intensif terjadi di kepulauan
Indonesia yang memiliki banyak gunung berapi. Setiap adanya letusan
gunung berapi pasti sebelumnya terjadi getaran yang dirasakan oleh
masyarakat sekitar gunung tersebut. Gempa inilah yang dimaksud dengan
gempa vulkanik.
Ada dua katagori gempa yang terjadi pada gunung api, yaitu :
a. Gempa vulkano-tektonik, terjadi akibat perubahan tekanan pada batuan
padat yang oleh injeksi atau tarikan magma. Gempa jenis ini dapat
menimbulkan tanah longsor dan retakan tanah yang luas. Gempa ini
dapat terjadi karena batuan bergerak untuk mengisi ruang-ruang dimana
magma sudah kosong. Gempa vulkano-tektonik bukan merupakan gejala
gunung api akan meletus tapi dapat terjadi sewaktu-waktu.
b.

Gempa periode panjang ditimbulkan oleh injeksi magma ke dalam


batuan di sekitarnya, sehingga timbul tekanan terhadap batuan yang pada
akhirnya timbul gempa. Keaktifan gempa tipe ini menandakan bahwa
gunung api akan meletus. Para ahli menggunakan seismograf untuk
mencatat signal dari gempa-gempa yang disebut dengan tremor (getaran
frekuensi tinggi ).
Gempa vulkanik biasanya terjadi di daerah sekitar gunung api dan

magnitudenya pada umumnya kecil rata rata kurang dari 5 Skala Richter.

Gempa vulkanik dengan magnitude 5-6 sangat jarang terjadi. Kedalaman


gempa vulkanik berkisar antara 0-40 km.
Gempa vulkanik sebenarnya terdiri atas beberapa tipe seperti pada tabel di
bawah ini :
Tipe Gempa

Keterangan

Frekuensi

Frekuensi dominant berkisar antara 5-15 Hz.

Tinggi

Disebabkan oleh sesar atau mendatar

Frekuensi

Frekuensi dominant antara 1-5 Hz. Penyebab

Rendah

karena proses tekanan cairan (fluida)

Multifase

Mengandung frekuensi rendah dan tinggi yang


merupakan proses kombinasi

Ledakan

Disebabkan oleh letusan yang sifatnya explosive.


Sinyal mengandung gelombang udara juga
gelombang tanah.

Tremor

Tremor adalah sinyal yang kontinyu dengan


durasi menit sampai beberapa hari. Frekuensi
dominant 1-5 Hz

Periode Sangat Periodenya dari 3 sampai 20 detik yang disertai


Panjang

dengan letusan gas belerang

Dangkal

Proses bukan vulkanik yang dapat menimbulkan

gelombang gempa. Contoh, gerakan salju,.

2.2. Proses Terjadinya Gempa Vulkanik


Gempa bumi vulkanik adalah
gempa bumi yang terjadi akibat
adanya

aktivitas

vulkanisme.

Aktivitas vulkanisme dan gempa


bumi

sering

terjadi

secara

bersama-sama sepanjang batas


lempeng

di

seluruh

dunia,

disamping itu ada pula sebagian yang terjadi pada wilayah lempeng
vulkanik dalam. Gempa bumi vulkanik merupakan gempa bumi yang terjadi
sebagai akibat adanya aktivitas gunung api. Gempa bumi vulkanik tersebut
biasanya terjadi sebelum, pada saat menjelang terjadinya pada saat letusan
dan sesudah/erupsi gunung api. Penyebab terjadinya gempa bumi vulkanik
ini adalah adanya pergerakan magma dari dalam bumi menuju permukaan
bumi melalui lubang vulkanisme. Gempa bumi vulkanik adalah gempa bumi
yang disebabkan oleh aktivitas gunung api atau letusan gunung api. Pada
saat dapur magma bergejolak, ada energi yang mendesak lapisan bumi.
Energi yang mendesak lapisan bumi ada yang mampu mengangkat lapisan
bumi sampai permukaan disertai dengan getaran. Apabila keaktifannya
semakin tinggi maka akan menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan
menimbulkan terjadinya gempa bumi.

2.3. Dampak Gempa Vulkanik


Gempa
diakibatkan

adanya

yang
gunung

meletus dapat menimbulkan dua


jenis bahaya, yaitu bahaya primer
dan bahaya sekunder. Kedua

jenis bahaya

ini sama akan berdampak buruk


bagi kehidupan. Berikut beberapa
dampak yang mungkin terjadi
setelah adanya gunung meletus.
1. Dampak adanya lava, lahar dan lontaran material
a. Banyak korban jiwa karena terkena lava atau terseret lahar.
b. Adanya kerusakan areal sawah di sekitar gunung.
c. Desa di sekitar gunung terendam lahar.
d. Adanya kebakaran hutan di sekitar gunung.
2. Dampak adanya abu letusan
a. Timbulnya permasalahan pernapasan.
b. Timbulnyakesulitanpenglihatan.
c. Adanya pencemaran sumber air bersih.
d. Adanya gangguan kerja mesin dan kendaraan bermotor.
e. Terjadi kerusakan pada atap-atap rumah .
f. Rusaknya lingkungan sekitar gunung.
g. Adanya kerusakan infrastruktur, seperti jalan dan aktivitas bandar
udara terganggung.

2.4. Jalur Gempa


Di dunia ini, berdasarkan hasil pencatatan tentang gempa-gempa tektonik
yang terjadi, terdapat 3 (tiga) jalur gempa bumi, dimana Indonesia dilalui oleh
2 (dua) jalur tersebut.

1. Jalur Sirkum Pasific (Circum Pacific Belt)


Sirkum Pasifik
berawal

dari

dari

Pegunungan Andes di
Amerika Selatan, lalu
bersambung

ke

pegunugan Rocky di
Amerika Utara, lalu ke
Jepang,

Filipina,

sampai akhirnya sampai ke Indonesia melalui Sulawesi. Sirkum Pasifik


juga bercabang ke Pulau Halmahera dan akhirnya sampai di Papua.

2. Jalur Trans Asia (Trans Asiatic Belt)


Antara lain melalui daerah-daerah Azores, Mediterania, Maroko, Portugal,
Italia, Rumania, Turki, Irak, Iran, Afganistan, Himalaya, Myanmar,
Indonesia (Bukit Barisan, Lepas pantai selatan Pulau Jawa, Kepulauan
Sunda Kecil, Maluku).

3. Jalur Laut Atlantic (Mid-Atlantic Oceanic Belt)


Antara lain melalui Splitbergen, Iceland dan Atlantik Selatan.

Indonesia merupakan daerah rawan gempabumi karena dilalui oleh


jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu: Lempeng Indo-Australia, lempeng
Eurasia, dan lempeng Pasifik.

Gambar Jalur Gempa Bumi Dunia


Lempeng Indo-Australia bergerak relatip ke arah utara dan menyusup
kedalam lempeng Eurasia, sementara lempeng Pasifik bergerak relatip ke
arah barat. Jalur pertemuan lempeng berada di laut sehingga apabila terjadi
gempabumi besar dengan kedalaman dangkal maka akan berpotensi
menimbulkan tsunami sehingga Indonesia juga rawan tsunami. Secara umum
zona sumber kejadian gempa bumi di Indonesia berdasarkan mekanisme fisik
dapat di bagi menjadi :

Zona Subduksi yaitu zona kejadian gempa bumi yang terjadi di sekitar
pertemuan antar lempeng. Sumber penunjaman lempeng kerak bumi dapat di
bagi menjadi dua model yaitu pada lajur mega thrust atau gempa bumi
interplate maupun dalam lajur Beniof/gempa intraplate. Lajur megathrust
adalah bagian dangkal suatu lajur subduksi yang mempunyai sudut tukik yang
landai sedangkan zona Benioff adalah bagian dalam suatu lajur subduksi yang
mempunyai sudut tukik yang curam.

Zona transform adalah sesar geser pada batas antara dua lempeng dimana
pada daerah ini terjadi gesekan atau translasi dan tidak terjadi penelanan

kerak bumi, akan tetapi terjadi gerak horizontal dan menyebabkan gempa
bumi besar .

Zona sumber-sumber sesar kerak bumi dangkal (shallow crustal fault)


adalah patahan kerak bumi dangkal dan aktif.

2.5. Proses Fisis Gempa


Bumi terdiri dari beberapa lapisan pembentuk bumi, yaitu terdiri atas
kerak bumi dan inti bumi. Sementara diantara keduanya terdapat Lithosfer,
dimana benua dan lautan terdapat di atas lithosfer. Arus-arus konveksi dalam
lapisan mantel teratas merupakan gaya-gaya utama yang mengontrol
terjadinya gerakan-gerakan lempeng dan oleh karena itu merupakan latar
belakang terjadinya gempa bumi. Pada bagian dalam lithosfer terdapat cairan
yang begitu panas dimana sifat panas itu merambat. Maka cairan tersebut
merambat ke bagian atas lithosfer hingga mengalami pendinginan di
permukaan kulit bumi yaitu di lautan maka akan membentuk kerak lautan
muda yang nantinya akan menggeser kerak lautan sebelumnya kedalam benua
dan mengakibatkan menunjam ke dalam mantel. Akibat daripada itu
terjadilah perputaran lapisan mantel yang sangat lambat dikarenakan
konveksi.
Pergerakan yang lambat akan mengakibatkan gerakan yang sangat besar
antar lempengan-lempengan di bumi. Karena pada saat kedua lempeng saling
bertumbukan, lempeng kulit bumi lautan akan menembus lempeng benua
yang lain. Lempeng-lempeng yang menembus ke dalam mantel maka disebut
sebagai zona subduksi. Komponen-komponen pada zona subduksi yaitu
palung, cekung busur muka, struktur tinggian, jalur busur gunung api dan
cekungan busur belakang. Ketika lempeng samudra dan lempeng samudra
saling bertemu akan menghasilkan suatu rangkaian busur gunung api
(volcanic arc) yang arahnya sejajar dengan palung (trench).
Gempa bumi yang terjadi ada banyak jenisnya, secara umum ada gempa
bumi tektonik dan vulkanik, namun gempa bumi tektonik mendominasi

10

kejadian gempa yang terjadi. Proses terjadinya gempa bumi tektonik


dikelompokkan kedalam teori pergeseran sesar dan teori kekenyalan
elastisitas.
Teori pergeseran sesar dimulai pada pergerakan interior bumi saat gaya
konveksi mantel yang menekan kerak bumi. Karena kerak sifatnya rapuh,
maka mengakibatkan pergeseran pada sesar. Dari pergeseran sesar, muncullah
gempa bumi berupa aliran energi yang merambat ke permukaan. Sedangkan
pada teori kekenyalan elastisitas terjadi pada saat gempa yang disebabkan
oleh pergeseran atau patahan pada sesar baik itu sesar naik atau sesar turun.
Patahan terjadi karena batuan mengalami tekanan terus-menerus. Apabila
batuan sudah mulai jenuh, maka batuan akan patah untuk melepaskan energi
dari tekanan dan tarikan tersebut. Pada saat menerima tekanan maka akan
terbengkok tapi saat mendapat tarikan akan kembali seperti semula. Hal itu
yang disebut dengan teori kekenyalan elatisitas.
Dinamika bumi memungkinkan terjadinya Gempa bumi. Di seluruh
dunia tidak kurangdari 8000 kejadian Gempa Bumi terjadi tiap hari, dengan
skala kecil yaitu kurangdari Magnitud 2 sampai skala besar dengan kekuatan
sekitar Magnitud 9.5 yang secara statistik hanya terjadi satu kali dalam 20
tahun di dunia. Dari kejadian Gempa Bumi dunia, kurang lebih 10% nya
terjadi di Indonesia. Dinamika bumi digambarkan dengan pergerakan
lempeng-lempeng yang menyusun kerak bumi. Pergerakan lempeng
samudera terjadi karena ada proses naiknyamagma ke permukaan (sea-floor
spreading) secara terus menerus dari dalam kulit bumi di zona pemekaran
samudera. Proses ini mendorong lempeng samudera yang mengapung pada
lapisan yang bersifat padat tetapi sangat panas dan dapat mengalir secara
perlahan. Pada saat lempeng samudera menyusup ke bawah lempeng benua
terjadi gesekan yang menghambat proses penyusupan.

11

Gambar di atas menunjukkan Pergeseran lempeng di Bumi. Magma,


gunung berapi, dan gempa bumi yang dihasilkan pada zona subduksi (atas) di
mana lempeng samudera padat didorong di bewah lempeng benua yang lebih
ringan. Ketika benua pada dua lempeng bergerak memenuhi permukaan,
gunung baru yang dihasilkan (tengah). Dalam beberapa situasi, lempeng
depan dapat terganggu dan gerakan lempeng dapat berhenti. Kedua benua
kemudian menjadi satu bersama-sama membentuk lempeng yang lebih besar,
dan zona subduksi baru dapat dibentuk di tempat lain (bawah) .
Perlambatan gerak penyusupan tersebut menyebabkan adanya akumulasi
energi di zona subduksi dan zona patahan. Akibatnya, pada zona tersebut
akan terjadi tekanan, tarikan, dan geseran. Pergerakan lempeng-lempeng di
dunia memungkinkan adanya interaksi antara lempeng yang satu dengan
lainnya. Gempa terjadi bukan karena tumbukan dua lempeng, seperti

12

diibaratkan dua mobil saling bertabrakan yang asalnya saling jauh kemudian
bertabrakan (terjadi crash). Untuk zona subduksi, gempa terjadi karena
interaksi antar dua lempeng yang saling menekan sehingga terakumulasi
energi yang cukup besar. Gempa itu sendiri terjadi karena kondisi batuan
pada lempeng ataupun litosfer patah.
Batuan dapat patah, mekanisme patahan yang terjadi dapat dijelaskan
bahwa dikarenakan batuan tadi mengalami tekanan ataupun tarikan secara
terus menerus, apabila elastisitas batuan sudah jenuh, maka batuan akan patah
untuk melepaskan energi dari tekanan dan tarikan tersebut. Saat menerima
tekanan, batuan akan terbengkokkan dan setelah melepaskan tekanannya
batuan akan kembali ke bentuk semula, ini dikenal dengan Elastic Rebound
Theory. Pelepaskan energi tekanan yang sudah tertumpuk ini terjadi selama
kurun waktu tertentu. Gempa yang terjadi di zona subduksi akibat patahan
pada lapisan batuan ataulithosfer ini dapat berupa gempa dangkal (shallow
earthquake), menengah (intermediate earthquake), dan dalam (deep
earthquake).

Berdasarkan

disimpulkan bahwa

hasil

penelitian

para

peneliti

kebumian,

hampir 95 persen lebih Gempa Bumi alamiah yang

cukup besar terjadi di daerah batas pertemuan antar lempeng yang menyusun
kerak bumi dan di daerah patahan atau fault.
Secara tahapan dapat di jelaskan seperti berikut ini:
a. Tahap pertama dua lempeng saling bertumbukan di zona subduksi
terjadi tegangan geser
b. Tahap kedua lempeng yang berada diatas mulai mengalami tekukan
sehingga terbentuk bukit di atasnya sementara itu tegangan geser
terus bertambah. Pada tahap ini kecepatan gelombang seismik
c.

menurun.
Tahap ketiga terjadi retakan-retakan pada batuan dan mencapai batas

keseimbangan. Pada tahap ini gelombang seismik meningkat lagi.


d. Tahap keempat terjadilah gempa bumi akibat dari batuan yang pecah,
Slip atau batuan yang terkunci menjadi terlepas dan sejumlah energi
akan dilepaskan. Kemudian energi ini akan merambat ke segala arah
dalam bentuk gelombang longitudinal (gelombang P) dan gelombang

13

transversal (gelombang S) rambatan gelombang ini yang akan


menghancurkan bangunan-bangunan di atasnya
e. Tahap kelima terjadi keseimbangan baru pada saat selesai gempa
bumi.
Pada saat terjadi gempa bumi, energi gempa tersebut merambat dalam
bentuk gelombang seismik. Gelombang P dan S memberikan petunjuk untuk
interior bumi. Bahwa tidak ada gelombang S langsung mencapai sisi jauh
menunjukkan bahwa inti bumi cair. Ukuran gelombang bayangan S
memberitahu ukuran inti luar. Energi gelombang seismik akibat adanya
gempa bumi merambat dengan jangkauan tertentu. Gelombang seismik
sebagai bentuk rambatan energi gempa ini dapat direkam menggunakan alat
yang disebut seismograf.

Gambar Perambatan gelombang seismik melalui interior Bumi saat terjadi gempa bumi
.

Gambar
Sebuah seismograf di utara Kanada merekam gelombang seismik dari gempa bumi di
Meksiko. Getaran pertama, gelombang P, tiba 11 menit setelah gempa, tetapi
gelombang S butuh waktu 20 menit untuk melakukan perjalanan.

BAB III

14

PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Gempa Vulkanik adalah suatu fenomena alam yang diakibatkan karena
adanya aktivitas vulkanis dari suatu gunung berapi. Gempa Vulkanik
ini terjadi sebelum atau saat gunung berapi melakukan aktivitas vulkanik
(meletus). Gempa vulkanik memiliki kekuatan gempa yang relatif kecil dari
pda gempa tektonik dan hanya wilayah di sekitar gunung saja yang
terdampak gempa. Adapun dampak dari gempa yang timbul dari kejadian
vulkanik gunung berapi adalah dampak adanya lava, lahar dan lontaran
material dan dampak adanya abu letusan yang secara langsung terasa pada
lingkungan sekitar gunung.
Jalur gempa di dunia memiliki tiga jalur utama sebagai berikut.
1. Jalur Sirkum Pasific (Cicrum Pacific Belt)
2. Jalur Trans Asia (Trans Asiatic Belt)
3. Jalur Laut Atlantic (Mid-Atlantic Oceanic Belt)
Secara fisis, proses terjadinya gempa bumi adalah sebagai berikut.
a. Tahap pertama dua lempeng saling bertumbukan di zona subduksi
terjadi tegangan geser
b. Tahap kedua lempeng yang berada diatas mulai mengalami tekukan
sehingga terbentuk bukit di atasnya sementara itu tegangan geser
terus bertambah. Pada tahap ini kecepatan gelombang seismik
c.

menurun.
Tahap ketiga terjadi retakan-retakan pada batuan dan mencapai batas

keseimbangan. Pada tahap ini gelombnag seismik meningkat lagi.


d. Tahap keempat terjadilah gempa bumi akibat dari batuan yang pecah,
Slip atau batuan yang terkunci menjadi terlepas dan sejumlah energi
akan dilepaskan. Kemudian energi ini akan merambat ke segala arah
dalam bentuk gelombang longitudinal (gelombang P) dan gelombang

15

transversal (gelombang S) rambatan gelombang ini yang akan


menghancurkan bangunan-bangunan di atasnya
e. Tahap kelima terjadi keseimbangan baru pada saat selesai gempa
bumi.
3.2. Saran
Adapun saran dari penulis dalam makalah ini adalah sebaiknya kita
sebagai masyarakat yang meninggali bumi ini supaya dapat selalu siaga dan
waspada dalam situasi kapanpun, karena bencana tidak dapat diprediksi
kedatangannya dan bisa sewaktu-waktu menimpa kita. Berikutnya tentang
gempa bumi, sebaiknya kita selalu memperhatikan peringatan-peringatan
tentang gempa bumi dan mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu terjebak
dalam situasi gempa.
Terakhir, Penulis mengharap jika ada pendapat-pendapat dari pembaca
mengenai makalah ini supaya dapat disampaikan secara lisan maupun
nonlisan, dengan catatan pendapat yang mampu membangun makalah ini
menjadi lebih baik lagi.

16

DAFTAR PUSTAKA

Christanto, J. 2011. Gempa Bumi, Kerusakan Lingkungan, Kebijakan dan Strategi


Pengelolaan. Yogyakarta : Liberty Yogyakarta
DiEdu. 2013. Gempa Bumi. http://di-edu.blogspot.co.id/2013/06/gempabumi.html. (Diakses pada 15 April 2016)
Evi, RH. 2009. Buku Pintar Gempa. Yogyakarta : Diva Press
Geo-Media. 2014. Gempa Bumi Seisme. http://geomedia.blogspot.co.id/2014/06/gempa-bumi-seisme.html. (Diakses pada 15
April 2016)
Pengertianilmu.com. 2015. Gempa Vulkanik.
http://www.pengertianilmu.com/2015/08/gempa-vulkanik.html. (Diakses
pada 15 April 2016)
Pratama, Fd. 2015. Proses Terjadinya Gempa Bumi.
http://fadhildanipratama.blogspot.co.id/2015/05/proses-terjadinya-gempabumi.html. (Diakses pada 15 April 2016)

17