Anda di halaman 1dari 18

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Pengertian Jalan
Jalan merupakan prasarana transportasi darat yang mencakup segala bagian
jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapan jalan yang diperuntukkan
bagi lalu lintas yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah,
bawah permukaan tanah dan atau yang berada di air, kecuali jalan kereta api, jalan
lori dan jalan kabel (UU-RI Tentang Jalan No.38 Tahun 2004 Bab I Pasal 1).
Bangunan yang tidak dapat dipisahkan dari jalan, seperti: jembatan, tempat
parkir, gorong-gorong, tembok penahan, saluran air, dan lain sebagainya disebut
bangunan pelengkap jalan, sedangkan perlengkapan jalan adalah sarana untuk
mengatur kelancaran, keamanan dan ketertiban lalu lintas seperti rambu-rambu
lalu lintas, alat pemberi isyarat lalu lintas, alat pengendali dan pengaman pemakai
jalan serta marka jalan. Penempatan semua fasilitas dan perangkat pengatur lalu
lintas ini harus tepat dan pada tempat yang semestinya, sehingga dapat berfungsi
sebagaimana yang diharapkan. Komponen jalan yang berguna untuk lalu lintas
yaitu bahu jalan, trotoar dan median (Sukirman, 1999).
1. Bahu jalan adalah jalur yang terletak berdampingan dengan jalur lalu lintas
yang berfungsi sebagai ruangan tempat berhenti sementara
kendaraan,meningkatkan kapasitas jalan yang bersangkutan, memberikan
sokongan konstruksi perkerasan jalan dari arah samping.
2. Trotoar adalah jalur yang terletak berdampingan dengan jalur lalu lintas yang
khusus dipergunakan untuk pejalan kaki (pedestrian).
3. Median adalah jalur yang terletak ditengah jalan untuk membagi jalan dalam
masing-masing arah.
3.2 Konstruksi Perkerasan
Berdasarkan bahan pengikatnya, konstruksi perkerasan jalan dapat dibedakan
menjadi :
1.

Konstruksi perkerasan lentur (flexible pavement),

2.

Konstruksi perkerasan kaku (rigid pavement),

3.

Konstruksi perkerasan komposit (composite pavement).


III - 29

3.2.1 Konstruksi Perkerasan Lentur (Flexible Pavement)


Konstruksi perkerasan lentur dipandang dari keamanan dan kenyamanan
berlalu lintas haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Permukaan yang rata, tidak bergelombang, tidak melendut dan tidak
berlubang.
2. Permukaan cukup kaku, sehingga tidak mudah berubah bentuk akibat beban
yang bekerja di atasnya.
3. Permukaan cukup kesat, sehingga dapat memberikan gesekan yang baik antara
ban dan permukaan jalan sehingga tidak mudah selip.
4. Permukaan tidak mengkilap, tidak silau jika kena sinar matahari.
Konstruksi perkerasan jalan dipandang dari segi kemampuan memikul beban,
haruslah memenuhi syarat-syarat :
1. Memiliki ketebalan yang cukup sehingga mampu menyebarkan beban/muatan
lalu lintas ke tanah dasar.
2. Kedap terhadap air, sehingga air tidak mudah meresap ke lapisan dibawahnya.
3. Permukaan mudah mengalirkan air, sehingga air hujan yang jatuh di atasnya
dapat cepat dialirkan.
4. Memiliki kekakuan untuk memikul beban yang bekerja tanpa menimbulkan
deformasi yang berarti.
Secara umum konstruksi perkerasan lentur terdiri dari lapisan-lapisan yang
diletakkan pada tanah dasar. Konstruksi perkerasan lentur yaitu perkerasan yang
menggunakan aspal sebagai bahan pengikatnya. Lapisan-lapisan perkerasannya
bersifat memikul dan menyebarkan beban lalu lintas ke tanah dasar di bawahnya
yang telah dipadatkan. Lapisan-lapisan tersebut berfungsi untuk menerima beban
lalu lintas dan menyebarkannya ke lapisan di bawahnya (Sukirman, 1999).
Konstruksi perkerasan lentur terdiri dari empat lapisan, seperti yang ditunjukkan
pada Gambar 3.1.
1. Lapisan permukaan (Surface Course)
2. Lapisan pondasi atas (Base Course)
3. Lapisan pondasi bawah (Sub Base Course)
4. Lapisan dasar (Sub Grade Course)

III - 30

Sumber : Sukirman (1999)

Gambar 3.1. Lapisan Perkerasan Lentur


Lapisan perkerasan lentur bersifat menyebarkan beban lalu lintas ke sub grade
yang telah dipadatkan. Arah penyebaran gaya pada lapisan perkerasan lentur dapat
dilihat pada Gambar 3.2.

Sumber : Sukirman (1999)

Gambar 3.2. Arah Penyebaran Gaya pada Lapisan Perkerasan


3.2.1.1 Lapisan Permukaan (Surface Course)
Lapisan permukaan (surface course) adalah lapisan perkerasan yang paling
atas lapisan yang langsung menerima tekanan dan gesekan roda, serta
III - 31

berhubungan dengan cuaca. Bagian ini mempunyai lebar sesuai dengan yang telah
direncanakan. Lapisan ini berfungsi sebagai:
1. Bagian dari perkerasan yang berguna untuk menahan beban roda.
2. Lapisan kedap air, sehingga air hujan yang jatuh di atasnya tidak meresap ke
lapisan di bawahnya dan melemahkan lapisanlapisan tersebut.
3. Lapisan yang langsung menderita gesekan akibat rem kendaraan sehingga
mudah menjadi aus.
4. Lapisan yang menyebarkan beban ke lapisan bawah, sehingga dapat dipikul
oleh lapisan lain yang mempunyai daya dukung yang lebih jelek.
Jenisjenis lapis permukaan berdasarkan spesifikasi umum Bina Marga 2010
terdiri dari :
1. Lapisan bersifat non struktural, berfungsi sebagai lapisan aus dan kedap air,
antara lain :
a. Burtu (laburan aspal satu lapis), merupakan lapis penutup yang terdiri dari
lapisan aspal yang ditaburi dengan satu lapis agregat bergradasi seragam,
dengan tebal maksimum 2 cm.
b. Burda (laburan aspal dua lapis), merupakan lapis penutup yang terdiri dari
lapian aspal ditaburi agregat yang dikerjakan dua kali secara berurutan
dengan kepadatan maksimum 3,5 cm.
c. Latasir (lapis tipis aspal pasir), yang selanjutnya disebut SS ( Sand Sheet ),
terdiri dari dua jenis campuran, SS-A dan SS-B. Pemilihan SS-A dan SS-B
tergantung pada tebal nominal minimum. Merupakan lapis penutup yang
terdiri dari lapisan aspal dan pasir alam bergradasi menerus dicampur,
dihampar dan dipadatkan pada suhu tertentu dengan tebal padat 1-2 cm.
d. Buras (laburan aspal), merupakan lapis penutup terdiri dari lapisan aspal
taburan pasir dengan ukuran butiran maksimum 3/8 inchi.
e. Latasbum (lapis tipis asbuton murni), merupakan lapis penutup yang
terdiri dari campuran asbuton dan bahan pelunak dengan perbandingan
tertentu yang dicampur secara dingin dengan tebal padat maksimum 1 cm.
f. Lataston (lapis tipis aspal beton ), yang selanjutnya disebut HRS ( Hot
Rolled Sheet ), terdiri dari dua jenis campuran, HRS pondasi ( HRSBase )
dan HRS lapis aus ( HRS Wearing Course, HRS-WC) dan ukuran
maksimum agregat masing-masing campuran adalh 19 mm. HRSBase
mempunyai proporsi fraksi agregat kasar lebih besar dari pada HRSWC.
Merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran antara agregat

III - 32

bergradasi timpang, mineral pengisi (filler) dan aspal keras dengan


perbandingan tertentu, yang dicampur dan dipadatkan dalam keadaan
panas. Tebal padatnya antara 2,5-3cm.
2. Lapisan bersifat struktural, berfungsi sebagai lapisan yang menahan dan
menyebarkan beban roda, antara lain :
a. Lapen (penetrasi macadam), merupakan lapis perkerasan yang terdiri dari
agregat pokok dan agregat pengunci bergradasi terbuka dan seragam yang
diikat oleh aspal dengan cara disemprotkan di atasnya dan dipadatkan lapis
demi lapis. Di atas lapen ini biasanya diberi laburan aspal dengan agregat
penutup. Tebal lapisan satu lapis dapat bervariasi dari 4-10 cm.
b. Latasbug merupakan suatu lapisan pada konstruksi jalan yang terdiri dari
campuran antara agregat, asbuton dan bahan pelunak yang diaduk,
dihampar dan dipadatkan secara dingin. Tebal padat tiap lapisannya antara
3-5 cm.
c. Laston (lapis aspal beton ), yang selanjutnya disebut AC (Asphalt
Concrete), terdiri dari tiga jenis campuran yaitu : AC Lapis Aus ( ACWC
), AC Lapis Antara ( ACBinder Course, AC BC ) dan AC Lapis Pondasi
(ACBase). Ukuran maksimum agregat masingmasing campuran adalah
19 mm, 25,4 mm, 37,5 mm. Merupakan suatu lapisan pada konstruksi
jalan yang terdiri dari campuran aspal keras dan agregat yang mempunyai
gradasi menerus, dicampur, dihampar dan dipadatkan pada suhu tertentu.
3.2.1.2 Lapisan Pondasi Atas (Base Course)
Base course (lapis pondasi atas) adalah lapisan perkerasan yang terletak di
antara lapis pondasi bawah dan lapis permukaan. Fungsi dari lapis pondasi atas ini
antara :
1. Sebagai lapisan peresapan untuk lapisan pondasi bawah.
2. Sebagai bagian dari konstruksi perkerasan yang menahan gaya lintang dari
beban roda.
3. Memberikan bantalan terhadap lapisan permukan.
4. Bagian perkerasan yang menahan beban langsung dari lalu lintas dan
menyebarkannya untuk mengurangi tegangan pada lapisan bawah struktur
jalan tanpa terjadi deformasi
5. Tahan terhadap abrasi
III - 33

6. Tahan terhadap air


7. Tidak terjadi kapilarisasi
Persyaratan material untuk lapis pondasi atas berdasarkan spesifikasi umum
Bina Marga 2010 terdiri dari :
1. Material yang akan digunakan untuk lapis pondasi atas adalah material yang
cukup kuat. Untuk lapis pondasi atas tanpa bahan pengikat umumnya
menggunakan material dengan CBR >50 % dan Plastisitas Indeks (PI) < 4 %,
jika tidak memenuhi syarat tersebut maka lapisan pondasi itu tidak akan baik
hasilnya. Bahan-bahan alam seperti batu pecah, kerikil pecah, stabilitas tanah
dengan semen dan kapur dapat digunakan sebagai lapis pondasi atas.
2. Kualitas bahan harus baik. Bahan yang baik adalah batu pecah.
3. Gradasi/susunan butiran harus rapat. Hal tersebut dapat dicapai dengan ukuran
butiran yang bermacam macam sehingga rongga dapat terisi.
4. Kandungan filler harus cukup, tetapi tidak boleh melampaui batas max dan
min. Bila melampaui max ,jalan mudah bergelombang. Bila kurang dari batas
min maka jalan akan mudah rusak.
5. Homogenitas harus sempurna. Maksudnya butir-butir yang besar , sedang dan
halus harus tercampur menjadi satu dan merata.
Jenis lapis pondasi atas umumnya dipergunakan di Indonesia adalah agregat
bergradasi baik, yang terdiri dari :
1. Batu pecah kelas A (Base A dengan saringan no:1 1/2)
2. Batu pecah kelas B (Base B dengan saringan no:2)
3. Batu pecah kelas C (kerikil alam bulat dengan saringan no:4)
Batu pecah kelas A mempunyai gradasi yang lebih kasar dari batu pecah kelas
B, batu pecah kelas B lebih kasar dari pada batu pecah kelas C. Gradasi harus
memenuhi ketentuan seperti pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Persyaratan Gradasi Lapis Pondasi Agregat
Ukuran saringan
ASTM

(mm)

50

1,5
1

Persen berat lolos, % lolos


Agregat Kelas
Agregat Kelas
Agregat Kelas
A

B
100

37,5

100

88 95

100

25,0

79 85

70 85

89 100
III - 34

3,8

9,50

44 58

30 65

55 90

No. 4

4,75

29 44

25 55

40 75

No. 10

2,0

17 30

15 40

26 59

No. 40

0,425

7 17

8 20

12 33

No. 200

0,075

28

28

4 22

Sumber : Spesifikasi Umum , 2010

3.2.1.3 Lapisan Pondasi Bawah (Sub Base Course)


Sub base course (lapisan pondasi bawah) adalah lapisan perkerasan yang
terletak antara lapis pondasi atas dan tanah dasar. Lapisan ini berfungsi :
1. Menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
2. Bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah
dasar. Lapisan ini harus cukup kuat, mempunyai CBR min 10% dan
Plastisitas Indeks (PI) antara 0-6%.
3. Lapis peresapan agar air tanah tidak berkumpul di pondasi yang menyebabkan
lapisan menjadi lunak bahkan erosi.
4. Melindungi lapisan tanah dasar dari pengaruh sinar matahari yang dapat
mengakibatkan pengeringan permukaan.
5. Sebagai lapisan pertama agar pelaksanaan dapat berjalan lancar. Hal ini
sehubungan terlalu lemahnya daya dukung tanah dasar terhadap rodaroda alat
berat atau karena kondisi lapangan atau karena kondisi lapangan yang
memaksa harus segera menutup tanah dasar dari pengaruh cuaca.
6. Efisiensi penggunaan material. Material pondasi bawah relatif murah
dibandingkan dengan lapisan perkerasan di atasnya, sehingga dapat
mengurangi tebal lapisan di atasnya yang lebih mahal.
7. Lapisan yang berfungsi untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah
dasar naik ke lapis pondasi atas.
8. Untuk mencegah tanah dasar masuk kedalam lapis pondasi.
Jenis lapisan pondasi bawah umumnya dipergunakan di Indonesia adalah
agregat bergradasi baik, yang terdiri dari agregat sirtu kelas A, sirtu kelas B, dan
sirtu kelas C. Sirtu kelas A bergradasi lebih kasar dari sirtu kelas B, sirtu kelas B
lebih kasar dari pada sirtu kelas C.

III - 35

3.2.1.4 Lapisan Tanah Dasar (Sub Grade Course)


Sub grade course (lapisan tanah dasar) adalah lapisan tanah setebal 50-100 cm
dimana akan diletakkan lapisan pondasi bawah atau merupakan permukaan dasar
untuk perletakan bagian-bagian perkerasan lainnya. Lapisan tanah dasar dapat
berupa tanah asli yang dipadatkan jika tanah aslinya baik, tanah yang didatangkan
dari tempat lain dan dipadatkan atau tanah yang distabilkan dengan kapur atau
bahan lainnya. Pemadatan yang baik diperoleh jika dilakukan kadar air optimum
dan diusahakan kadar air konstan selama umur rencana. Ditinjau dari muka tanah
asli, maka lapisan tanah dasar dibedakan atas :
1. Lapisan tanah dasar tanah galian.
2. Lapisan tanah dasar tanah timbunan.
3. Lapisan tanah dasar tanah asli.
3.3 Bangunan Pelengkap Jalan
3.3.1 Gorong-gorong
Gorong-gorong merupakan struktur yang dipasang di bawah jalan, sebagai
saluran air untuk irigasi atau drainase atau sebagian jalan untuk pejalan kaki atau
kendaraan (Panduan Geoteknik Jalan, 2006). Gorong-gorong memiliki banyak
jenis struktur, termasuk gorong-gorong pipa beton, kotak, pipa dan logam
bergelombang.
Gorong-gorong dibagi dalam dua golongan besar, yaitu gorong-gorong kaku
dan gorong-gorong lentur. Gorong-gorong kaku didesain untuk menggunakan
kekakuannya sendiri untuk menahan tekanan tanah. Jenis gorong-gorong kaku
adalah gorong-gorong pipa beton, kotak, lengkung busur dan pipa.
Gorong-gorong lentur memiliki dinding tipis dan lentur. Yang termasuk
gorong-gorong lentur adalah gorong-gorong logam bergelombang dan goronggorong pipa PVC.
Pemilihan jenis struktur gorong-gorong harus dengan menganalisis seluruh
faktor yang relevan, termasuk didalamnya dimensi sisi dalam, tofografi geologi,
kondisi tempat kerja dan struktur yang berkaitan dengan lokasi pekerjaan serta
biaya konstruksi.

III - 36

3.3.2

Dinding Penahan Tanah


Dinding penahan dibangun untuk menstabilkan tanah dan melindungi

permukaan lereng ketika penimbunan atau penggalian tidak dapat dilaksanakan


sesuai dengan penampang melintang standar karena keterbatasan ruang milik jalan
dan topografi. Oleh karena itu dinding penahan harus didesain sesuai struktur
yang memadai berdasarkan pertimbangan menyeluruh terhadap kondisi topografi,
geologi dan kondisi kerja.
3.3.3

Saluran Air / Drainase Jalan


Drainase merupakan masalah yang penting pada konstruksi jalan. Infiltrasi air

hujan dari permukaan ke dalam tanah dasar atau lapis pondasi dapat menjadi
faktor utama kerusakan perkerasan, sedangkan erosi lereng akibat aliran air hujan
atau keruntuhan lereng akibat air rembesan membuat urugan suatu timbunan
menjadi tidak stabil. Terdapat banyak jenis kerusakan baik secara langsung
maupun yang disebabkan oleh air termasuk keruntuhan lereng galian dan
kerusakan pada dinding penahan serta struktur lainnya akibat erosi oleh air hujan.
Sekalipun air tidak menyebabkan kerusakan struktural apapun pada jalan,
drainase yang buruk pada jalan membuat air menggenang sehingga dapat
menyebabkan gangguan arus lalu lintas atau kecelakaan akibat tergelincir dan
dapat membuat tidak nyaman pejalan kaki serta orang yang tinggal di sepanjang
jalan.
3.4 Aspal
3.4.1 Pengertian Aspal dan Bahan Penyusun Aspal
Aspal digambarkan sebagai material berwarna hitam atau cokelat tua yang
pada temperatur tertentu dapat berbentuk padat sampai agak padat, apabila
dipanaskan sampai suhu tertentu aspal dapat menjadi lunak/cair. Aspal yang
digunakan sebagai bahan campuran aspal dapat membungkus partikel agregat
karena aspal dapat masuk kedalam pori-pori agregat dan campuran aspal. Jika
temperatur mulai turun aspal akan mengeras dan mengikat agregat pada
tempatnya (Sukirman, 1999).

III - 37

Hydrocarbon adalah bahan dasar utama dari aspal yang umum disebut
bitumen. Aspal umumnya berasal dari distilasi minyak bumi, namun aspal juga
ada yang berasal dari alam yaitu aspal dari Pulau Buton (Sukirman, 1999).
Aspal minyak yang digunakan untuk konstruksi perkerasan lentur merupakan
proses hasil residu dari destilasi minyak bumi, disebut sebagai aspal semen. Aspal
semen bersifat mengikat agregat pada campuran aspal beton dan memberikan
lapisan kedap air, serta tahan terhadap pengaruh asam, basa, dan garam
(Sukirman, 1999).
3.4.2 Jenis Aspal
Jenis-jenis aspal berdasarkan cara diperolehnya dapat dibedakan menjadi aspal
minyak dan tar.
1. Aspal minyak, merupakan hasil penyulingan minyak bumi. Aspal minyak
dengan bahan dasar aspal dapat dibedakan atas:
a. Aspal keras/panas (asphalt cemen, AC) adalah aspal yang digunakan
dalam keadaan cair dan panas. Aspal ini berbentuk padat pada suhu
ruangan.
b. Aspal dingin/cair, adalah aspal yang digunakan dalam keadaan dingin dan
cair. Aspal cair adalah campuran antara aspal semen dengan bahan pencair
dari hasil penyulingan minyak bumi. Berdasarkan bahan pencairnya dan
kemudian menguap bahan pelarutnya, aspal cair dapat dibedakan atas: RC
(Rapid Curing cut back) merupakan aspal semen yang dilarutkan dengan
bensin/premium, MC (Medium Curing cut back) merupakan aspal semen
yang dilarutkan dengan minyak tanah, SC (slow curing cut back)
merupakan aspal semen yang dilarutkan dengan solar.
c. Aspal emulsi, adalah aspal yang disediakan dalam bentuk emulsi. Aspal ini
dapat digunakan dalam keadaan dingin ataupun panas.
2. Tar, merupakan hasil penyulingan batu bara.
3.4.3 Fungsi dan Sifat Aspal
Aspal yang digunakan pada konstruksi perkerasan jalan sesuai dengan
spesifikasi umum Bina Marga 2010, berfungsi sebagai :
1. Bahan pengikat
Bahan pengikat artinya dapat memberikan ikatan yang kuat antara aspal, antar
agregat serta ikatan antar aspal itu sendiri.
2. Bahan pengisi
III - 38

Aspal dapat berfungsi sebagai bahan pengisi karena dapat mengisi rongga
kosong antara butir-butir agregat dan pori-pori yang ada dari agregat itu
sendiri.
Jenis aspal yang biasa digunakan dilapangan juga memiliki beberapa sifat
antara lain:
1.

Daya tahan (durability)


Daya tahan aspal adalah kemampuan aspal untuk mempertahankan sifat
asalnya akibat pengaruh cuaca selama masa pelayanan jalan. Sifat aspal

tergantung dari sifat agregat, campuran dengan aspal, dan faktor pelaksanaan.
2.
Adhesi dan kohesi
Adhesi adalah kemampuan aspal untuk mengikat agregat sehingga dihasilkan
ikatan yang baik antar agregat dengan aspal. Sedangkan kohesi adalah
kemampuan aspal untuk tetap mempertahankan agregat tetap berada
3.

ditempatnya setelah terjadi pengikatan.


Kepekaan terhadap temperatur
Aspal adalah material yang thermoplastic, berarti akan menjadi keras atau
lebih kental jika temperatur berkurang, dan akan menjadi lebih lunak dan cair
jika temperatur bertambah. Sifat ini disebut dengan kepekaan aspal terhadap

temperatur.
4.
Kekerasan aspal
Aspal pada proses pencampuran dipanaskan dan dicampurkan dengan agregat
sehingga agregat dilapisi aspal atau aspal panas disiramkan dipermukaan
agregat yang telah disiapkan pada proses pelaburan. Selama poses
pelaksanaan, terjadi oksidasi yang menyebabkan aspal menjadi getas.
Peristiwa perapuhan terus berlangsung hingga pekerjaan selesai.Semakin
tipis lapisan aspal semakin besar tingkat perapuhan yang terjadi.
3.4.4 Proses Penghamparan Campuran Aspal
Proses-proses penghamparan campuran aspal yang sesuai dengan spesifikasi
umum Bina Marga 2010, meliputi beberapa tahap yaitu :
1. Penyiapan permukaan yang akan dilapisi
a. Permukaan jalan yang akan diberi lapisan diatasnya merupakan lapisan
yang sudah diperbaiki dari kerusakan, seperi jalan yang berlubang,
bergelombang, permukaan yang tidak rata. Permukaan jalan yang sudah
rusak harus dibuang dan tidak bisa digunakan lagi.
III - 39

b. Sesaat sebelum penghamparan, permukaan yang akan dihampar harus


dibersihkan dari bahan yang lepas dan yang tidak diperlukan dengan
menggunakan compressor atau dengan menggunakan sapu lidi.
c. Pemberian lapis perekat (tack coat) atau lapis resap pengikat (prime coat)
dilakukan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan.
2. Acuan Tepi
Acuan tepi merupakan suatu acuan yang digunakan untuk mengetahui batas
daerah yang akan dikerjakan.
3. Penghamparan dan Pembentukan
a. Campuran aspal dihampar menggunakan alat penghampar campuran aspal
dan diratakan sesuai dengan kelandaian, elevasi, serta bentuk penampang
melintang yang disyaratkan.
b. Penghamparan dimulai dari lajur yang lebih rendah menuju lajur yang
lebih tinggi apabila pekerjaan yang dilaksanakan lebih dari satu lajur.
c. Mesin vibrasi pada alat penghampar harus dijalankan selama
penghamparan dan pembentukan.
d. Alat penghampar dioperasikan dengan suatu kecepatan yang tidak
menyebabkan retak permukaan, koyakan, atau bentuk ketidakrataan
lainnya pada permukaan penghamparan.
e. Apabila terjadi segregasi, koyakan atau alur pada permukaan
penghamparan, maka alat penghampar harus dihentikan dan tidak boleh
dijalankan lagi sampai penyebabnya telah ditemukan dan diperbaiki.
f. Campuran aspal yang digunakan tidak terkumpul dan mendingin pada
tepitepi penampung alat penghampar atau tempat lainnya, hal ini
bertujuan untuk menghasilkan permukaan penghamparan yang rata.
g. Apabila penghamparan dilakukan pada setengah lebar jalan atau hanya
satu lajur untuk setiap kali pengoperasian, maka urutan penghamparan
diatur sehingga perbedaan akhir antara panjang penghamparan lajur yang
satu dengan yang bersebelahan pada setiap hari produksi dibuat seminimal
mungkin.
3.4.5 Pemadatan Campuran Aspal
Proses pemadatan campuran aspal menurut spesifikasi umum Bina Marga
2010 yaitu:

III - 40

1. Segera setelah campuran aspal dihampar dan diratakan, permukaan


penghamparan diperiksa dan setiap ketidaksempurnaan yang terjadi harus
diperbaiki.
2. Temperatur campuran aspal yang terhampar dalam keadaan gembur harus
dipantau dan penggilasan harus dimulai dalam rentang viskositas aspal yang
diisyaratkan. Campuran aspal dipadatkan pada temperatur dibawah 1250C dan
3.
a.
b.
c.
4.

sudah selesai dipadatkan pada suhu 800C.


Pemadatan campuran aspal terdiri dari tiga operasi yang terpisah, yaitu:
Pemadatan awal
Pemadatan antara
Pemadatan akhir
Pemadatan awal atau breakdown rolling dilakukan dengan menggunakan alat
pemadat roda baja. Pemadatan awal dilakukan dengan roda penggerak berada
di dekat alat penghampar. Setiap titik perkerasan harus menerima minimum
dua lintasan penggilasan awal. Pemadatan kedua dilaksanakan dengan alat
pemadat roda karet dan pemadatan akhir atau penyelesaian dilaksanakan

dengan alat pemadat roda baja tanpa penggetar (vibrasi).


5. Pemadatan dilakukan pada sambungan melintang jalan dengan ketebalan
yang telah ditenukan. Bila sambungan melintang dibuat untuk menyambung
lajur yang dikerjakan sebelumnya, maka lintasan awal dilakukan sepanjang
sambungan memanjang untuk suatu jarak yang pendek.
6. Pemadatan dimulai dari tempat sambungan memanjang jalan dan kemudian
dari tepi luar. Selanjutnya, penggilasan dilakukan sejajar dengan sumbu jalan
berurutan menuju ke arah sumbu jalan, kecuali untuk superelevasi pada
tikungan harus dimulai dari tempat yang terendah dan bergerak kearah yang
lebih tinggi. Lintasan yang berurutan harus saling tumpang tindih (overlap)
minimum setengah lebar roda dan lintasan-lintasan tersebut tidak boleh
berakhir pada titik yang kurang dari satu meter dari lintasan sebelumnya.
7. Apabila penggilasan dilakukan pada sambungan memanjang jalan, alat
pemadat untuk pemadatan awal terlebih dahulu memadatkan lajur yang telah
dihampar sebelumnya sehingga tidak lebih dari 15 cm dari lebar roda
pemadat yang memadatkan tepi sambungan yang belum dipadatkan.
Pemadatan dengan lintasan yang berurutan dilanjutkan dengan menggeser
posisi alat pemadat sedikit demi sedikit melewati sambungan, sampai
tercapainya sambungan yang dipadatkan dengan rapi.
III - 41

8. Kecepatan alat pemadat tidak boleh melebihi 4 km/jam untuk roda baja dan
10 km/jam untuk roda karet dan harus selalu dijaga rendah sehingga tidak
mengakibatkan bergesernya campuran panas tersebut. Garis, kecepatan dan
arah penggilasan tidak boleh diubah secara tiba-tiba atau dengan cara yang
menyebabkan terdorongnya campuran aspal.
9. Semua jenis operasi penggilasan dilaksanakan secara menerus untuk
memperoleh pemadatan yang merata saat campuran aspal masih dalam
kondisi mudah dikerjakan sehingga seluruh bekas jejak roda dan ketidakrataan dapat dihilangkan.
10. Roda alat pemadat dibasahi untuk mencegah pelekatan campuran aspal pada
roda alat pemadat, tetapi air yang berlebihan tidak diperkenankan. Roda karet
boleh sedikit diminyaki untuk menghindari lengketnya campuran aspal pada
roda.
11. Peralatan berat atau alat pemadat tidak diijinkan berada di atas permukaan
yang baru selesai dikerjakan, sampai seluruh permukaan tersebut dingin.
12. Permukaan yang telah dipadatkan harus halus dan sesuai dengan lereng
melintang dan kelandaian yang memenuhi toleransi yang disyaratkan. Setiap
campuran aspal padat yang menjadi lepas atau rusak, tercampur dengan
kotoran, atau rusak dalam bentuk apapun, harus dibongkar dan diganti dengan
campuran panas yang baru serta dipadatkan secepatnya agar sama dengan
lokasi sekitarnya.
Pemadatan dilakukan dalam beberapa tahap. Pertama, pemadatan yang
dilakukan pada permukaanlapisan aspal untuk meningkatkan densitas lapisan.
Selanjutnya, jika pada tahap pertama lapisan belum mencapai kepadatan yang
diinginkan maka lapisan dipadatkan kembali. Tahap akhir pemadatan berfungsi
untuk meratakan dan melicinkan permukaan.
Campuran aspal yang dihamparkan tidak boleh terlalu panas. Hal ini untuk
menghindari lapisan menjadi pecah. Akan tetapi campuran juga tidak boleh terlalu
dingin karena hal tersebut akan mempersulit pemadatan. Terdapat tiga macam alat
pemadat yang biasa digunakan sebagai alat pemadat aspal, yaitu smoothwheel
roller, pneumatic tired roller, dan vibrating steeldrum roller. Ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan pada saat pemadatan yaitu sebagai berikut :
1. Ada tidaknya kelebihan campuran aspal pada bagian depan roda. Kelebihan
campuran aspal dapat disebabkan oleh kepadatan campuran yang masih
III - 42

kurang, temperatur campuran yang terlalu panas, atau kapasitas alat yang
terlalu besar Gambar 3.3 menunjukan kelebihan aspal di depan roda.

Sumber: Fatena, 2008

Gambar 3.3. Kelebihan Campuran Aspal di Depan Roda


2. Apabila setelah aspal dipadatkan terjadi keretakan pada lapisan aspal, maka
kemungkinan yang terjadi adalah suhu campuran yang terlalu panas, atau
pemadatan yang terlalu berlebihan.
3. Menempel tidaknya aspal pada roda. Aspal yang lengket dapat disebabkan
karena suhu campuran yang terlalu tinggi. Aspal yang lengket pada
permukaan roda dapat dilihat pada Gambar 3.4

Sumber: Fatena, 2008

Gambar 3.4. Aspal yang Lengket pada Permukaan Roda


3.4.6 Pekerjaan Prime Coat dan Tack coat
Pekerjaan penyemprotan lapis resap pengikat berfungsi untuk mengikat
agregat sehingga agregat tidak lepas akibat lalu lintas. Lapis resap pengikat
(prime coat) disemprotkan di atas permukaan yang bukan beraspal, misalnya lapis
III - 43

pondasi agregat. Penyemprotan lapis resap pengikat dilakukan pada daerah yang
telah dibersihkan dari debu dan kotoran sera material yang dapat mengganggu
pelaksanaan pekerjaan. Lapis resap pengikat (prime coat) disemprot hanya pada
permukaan yang kering atau mendekati kering.
Lapis perekat (tack coat) merupakan pekerjaaan penyemprotan aspal cair di
atas permukaan yang beraspal, seperti lapis penetrasi macadam, laston dan
lataston. Lapis perekat (tack coat) harus disemprot hanya pada permukaan yang
benar-benar kering. Penyemprotan lapis resap pengikat maupun lapis perekat
tidak boleh dilaksanakan pada kondisi cuaca buruk, seperti: angin kencang
maupun saat hujan (Spesifikasi Umum Bina Marga, 2010).
Pekerjaan prime coat dan tack coat terdiri dari beberapa tahap. Tahapan
pelaksanaan pekerjaan menurut Spesifikasi Umum Bina Marga 2010 yaitu:
1. Penyiapan permukaan yang akan disemprot aspal
a. Penyemprotan dilakukan diaas permukaan yang telah diperbaiki dari
kerusakan perkerasan maupun bahu jalan harus diperbaiki menurut
spesifikasi.
b. Permukaan yang akan disemprot itu harus dipelihara sebelum pekerjaan
pelaburan dilaksanakan.
c. Sebelum penyemprotan aspal dimulai, permukaan harus dibersihkan
dengan memakai sikat mekanis atau compressor atau kombinasi keduanya.
Apabila permukaan yang akan dikerjakan belum memberikan permukaan
yang benar-benar bersih, penyapuan tambahan harus dikerjakan manual
dengan sikat yang kaku.
d. Pembersihan dilaksanakan melebihi 20 cm dari tepi bidang yang akan
disemprot.
e. Tidak diperbolehkan adanya maerial yang menonjol karena dapat
mempengaruhi hasil permukaan penyemprotan.
f. Penyemprotan dilakukan pada permukaan yang rata, komposisi agregat
kasar dan halus menunjukkan keadaar yang rapat antar agregat.

2. Takaran dan temperatur pemakaian bahan aspal


a. Takaran penyemprotan dilakukan sesuai dengan tingkatan dan takaran
yang tepat. Takaran pemakaian lapis perekat yang digunakan berada dalam
batas-batas seperti pada Tabel 3.2. sebagai berikut :
III - 44

Tabel 3.2 Takaran Pemakaian Lapis Perekat


Takaran (liter per meter persegi) pada
Permukaan Baru
Permukan
Permukaan
Jenis Aspal

Aspal Cair
Aspal Emulsi
Aspal Emulsi

atau Aspal atau

Porous dan

Berbahan

Beton Lama Yang

Terekpos

Pengikat Semen

Licin
0,15
0,20
0,40

Cuaca
0,15 - 0,35
0,20 - 0,50
0,40 - 1,00

0,2 1,0
0,2 1,0
0,4 2,0

0,20

0,20 - 0,50

0,2 1,0

yang
diencerkan
(1:1)
Aspal Emulsi
Modifikasi
Sumber: Spesifikasi Umum, 2010

b. Suhu penyemprotan harus sesuai dengan Tabel 3.3. Suhu penyemprotan


untuk aspal cair yang kandungan minyak tanahnya berbeda dari yang
ditentukan dalam daftar ini, temperaturnya dapat diperoleh dengan cara
interpolasi.
Tabel 3.3 Suhu Penyemprotan Lapis Perekat
Jenis Aspal
Rentang Suhu Penyemprotan
Aspal cair, 25-30 pph minyak tanah

110 10 C

Aspal cair, 80-85 pph minyak tanah

45 10 C

(MC-30)
Aspal emulsi, emulsi modifikasi atau

Tidak dipanaskan

aspal emulsi yang diencerkan


Sumber: Spesifikasi Umum, 2010

c. Frekuensi pemanasan yang berlebihan atau pemanasan yang berulangulang pada temperatur tinggi haruslah dihindari. Bahan yang rusak akibat
pemanasan berlebihan harus ditolak dan harus diganti atas biaya
kontraktor.
3. Pelaksanaan penyemprotan
a. Penyemprotan bahan aspal dapat merata pada setiap titik maka bahan aspal
disemprotkan dengan batang penyemprot dengankadar aspal yang
diperintahkanatau menggunakan penyemprot aspal tangan (hand sprayer).

III - 45

b. Lokasi awal dan akhir penyemprotan dilindungi dengan bahan yang cukup
kedap. Penyemprotan harus dimulai dan dihentikan sampai seluruh batas
bahan pelindung tersemprot.
c. Dengan demikian seluruh nosel bekerja dengan benar pada sepanjang
bidang jalan yang akan disemprot. Distributor aspal harus mulai bergerak
kira-kira 5 meter sebelum daerah yang akan disemprot dengan demikian
kecepatan lajunya dapat dijaga konstan sesuai ketentuan, agar batang
semprot mencapai bahan pelindung tersebut dan kecepatan ini harus tetap
dipertahankan sampai melalui titik akhir.
d. Sisa aspal dalam tangki distributor harus dijaga tidak boleh kurang dari 10
persen dari kapasitas tangki untuk mencegah udara yang terperangkap
(masuk angin) dalam sistem penyemprotan.
e. Takaran pemakaian rata-rata bahan aspal pada setiap lintasan
penyemprotan, harus dihitung sebagai volume bahan aspal yang telah
dipakai dibagi luas bidang yang disemprot. Luas lintasan penyemprotan
didefinisikan sebagai hasil kali panjang lintasan penyemprotan dengan
jumlah nosel yang digunakan dan jarak antara nosel. Takaran pemakaian
rata-rata yang dicapai harus sesuai dengan yang diperintahkan.
f. Penyemprotan segera dihentikan apabila ada ketidaksempurnaan peralatan
semprot pada saat beroperasi.
g. Tempat-tempat yang disemprot dengan lapis resap pengikat yang
berlebihan harus ditutup dengan bahan penyerap (blotter material).
h. Bahan penyerap (blotter material) hanya boleh dihampar 4 jam setelah
penyemprotan lapis resap pengikat.

III - 46