Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 75
Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat, menyatakan
bahwa sebuah Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah suatu tempat
yang

digunakan

untuk

menyelenggarakan

upaya

pelayanan

kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif yang


dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan atau masyarakat.
Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas
adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya
kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat
pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif,
untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya
di wilayah kerjanya.
Dalam melaksanakan tugas tersebut Puskesmas menyelenggarakan
fungsi:
a. penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya; dan
b. penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya.
Upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama

meliputi upaya

kesehatan masyarakat esensial dan upaya kesehatan masyarakat


pengembangan. Upaya kesehatan masyarakat esensial meliputi:
a. pelayanan promosi kesehatan;
b. pelayanan kesehatan lingkungan;
c. pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana;
d. pelayanan gizi; dan
e. pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit.

Upaya kesehatan masyarakat esensial harus diselenggarakan oleh


setiap Puskesmas untuk mendukung pencapaian standar pelayanan
minimal kabupaten/kota bidang kesehatan.
Salah satu program pokok puskesmas adalah pelayanan gizi, dimana
pelayanan gizi yang diberikan meliputi peningkatan pendidikan gizi,
penanggulangan Kurang Energi Protein, Anemia Gizi Besi, Gangguan
Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), Kurang Vitamin A, Keadaan zat
gizi lebih, Peningkatan Survailans Gizi, dan Usaha Perbaikan Gizi
Keluarga/Masyarakat.
B. TUJUAN
Tujuan Umum
Laporan tahunan dibuat dengan tujuan sebagai evaluasi akhir dari
serangkaian kegiatan gizi yang telah dilakukan sepanjang tahun 2015
sehingga

diperoleh

gambaran

dan

informasi

tentang

hasil

pembangunan kesehatan yang telah dicapai oleh Puskesmas


Sukaluyu terutama program gizi. Laporan tahunan gizi ini disusun
berdasarkan data-data laporan kegiatan yang didapat dari masingmasing desa yang ada diwilayah Kecamatan Sukaluyu.
Tujuan Khusus
a) Memberikan gambaran pelaksanaan program gizi di
Puskesmas Sukaluyu selama tahun 2015
b) Sebagai alat monitoring keberhasilan program gizi Puskesmas
Sukaluyu dalam melaksanakan program perbaikan gizi untuk
masyarakat selama tahun 2015
c) Sebagai acuan dalam perencanaan program kegiatan
perbaikan gizi di Puskesmas tahun 2016

BAB II
ANALISIS SITUASI
A. GEOGRAFIS
Puskesmas Sukaluyu adalah puskesmas rawat jalan yang terletak di
Jalan Raya Bojongsari Desa Sukamulya Kecamatan Sukaluyu
Kabupaten Cianjur. Berjarak kurang lebih 16 km dari ibukota
Kabupaten Cianjur.
Tabel 1
Daftar 10 Desa beserta jarak dari Puskesmas
di Wilayah Kerja Puskesmas Sukaluyu
No

Desa

Jarak dari

Ket

Puskesmas
5 KM

Mekarjaya

Panyusuhan

4 KM

Sukaluyu

2 KM

Sukamulya

200 M

Babakansari

3 KM

Tanjungsari

4 KM

Selajambe

5 KM

Hegarmanah

6 KM

Sukasirna

7 KM

10

Sindangraja

9 KM

Baik
menggunaka
n roda dua
maupun roda
empat

Kecamatan Sukaluyu terdiri dari 48 RW (Rukun Warga) dan 207 RT


(Rukun Tetangga), serta berbatasan dengan :
Sebelah Utara
: KecamatanMande
Sebelah Selatan
: KecamatanCilaku
Sebelah Barat
: KecamatanKarangtengah
SebelahTimur
: KecamatanCiranjang

Wilayah Kerja Puskesmas Sukaluyu merupakan dataran rendah


dengan suhu udara rata-rata sekitar 18

C - 29

C dan dilalui oleh

anak sungai dengan debet air dibawah 200 l/dt. Jalan-jalan di wilayah
kerja Puskesmas Sukaluyu sebagian sudah beraspal namun sebagian
masih banyak jalanan rusak dan berlubang, meskipun demikian masih
dapat dilalui dengan kendaraan roda dua dan empat.

B. DEMOGRAFI
Wilayah kerja Puskesmas Sukaluyu terdiri dari 21.445 KK (Kepala
Keluarga) dengan jumlah penduduk per Desember 2015 sekitar
72.990 jiwa

( sumber data : Kecamatan Sukaluyu, 2015 ) dengan

laju pertumbuhan penduduk sebesar + 1,98 % dibanding tahun


sebelumnya.
Tabel 2
Distribusi Penduduk Menurut Jenis Kelamin
di Wilayah Kerja Puskesmas Sukaluyu
Tahun 2015
Penduduk
N
O

Desa

KK

JML
L

Luas
wilyah
kerja

Mekarjaya

1752

2649

2648

5297

Panyusuhan

1124

2061

1680

3741

Sukaluyu

2560

4629

4292

8922

Sukamulya

3142

5249

5111

10360

Babakansari

2278

2821

3299

6120

Tanjungsari

1898

3354

3308

6662

Selajambe

1953

3771

3814

7585

Hegarmanah

2356

4138

3867

8005

Sukasirna

2170

4395

3957

8352

10

Sindangraja
2212
4067
3880
7947
Jumlah
21445
37134
35856
72990
Puskesmas Sukaluyu yang meliputi 48 RW dan 207 RT di lingkup Kec.
Sukaluyu adalah 4.524,49 Ha dengan jumlah penduduk 72.990 jiwa.
Tingkat kepadatan penduduk di wilyah kerja Puskesmas Sukaluyu adalah
16 jiwa / Ha.

C. SARANA KESEHATAN
1. Sumber Daya Fisik
Tabel 3
Sumber Daya Fisik Yang Ada
di Wilayah Kerja Puskesmas Sukaluyu
Tahun 2015
N

Sarana

Jumlah

Keadaan

o
1

Gedung Puskesmas Induk

1 buah

Baik

Puskesmas Pembantu

5 buah

Baik

1 buah

Rusak berat

Polindes

1 buah

Baik

Poskesdes

2 buah

Rusak ringan

Ambulance

1 buah

Baik

Sepeda Motor

16 buah

Baik

2. Sarana Kesehatan Lainnya


Tabel 4
Sarana Kesehatan Yang Ada
di Wilayah Kerja Puskesmas Sukaluyu
Tahun 2015
No

Sarana Kesehatan Yang Ada

Jumlah

Puskesmas

Rumah Bersalin

Balai Pengobatan Swasta

Praktek Dokter Swasta

Praktek Dokter Gigi

Praktek Bidan Swasta

Apotik

Toko Obat

Laboratorium Swasta

10

Pengobatan Tradisional ( salon, jamu, tukang

pijat, spiritual )

3. Peran Serta Masyarakat


Tabel 5
Jumlah Posyandu Dan Kader Serta Strata Posyandu
Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015
N
O

DESA

JML
POSYANDU

JUMLA

Strata Posyandu

Pratam

Mady

Purnam

Mandir

KADER

Mekarjaya

40

Panyusuhan

40

Sukaluyu

45

Sukamulya

10

50

Babakansari

45

Tanjungsari

10

50

Selajambe

45

40

Hegarmana
h

Sukasirna

12

60

10

Sindangraja

11

55

JUMLAH

94

470

50

38

D. VISI, MISI DAN STRATEGI PUSKESMAS


Agar pembangunan kesehatan yang dilakukan di Puskesmas
berjalan terarah dan terukur, maka puskesmas menyusun tujuan
yang tertuang dalam Visi misi Puskesmas, yaitu :
1. Visi Puskesmas
Meningkatkan Mutu dan Akses Pelayanan Kesehatan Dasar dan
Persalinan
2. Misi Puskesmas Sukaluyu
Meningkatkan mutu dan akses pelayanan kesehatan dasar
dan persalinan
Meningkatkan upaya-upaya kesehatan program preventif dan
promotif
Menjalin kerjasama dan kemitraan dengan lintas sektor terkait,
lembaga swasta dan masyarakat
Memberdayakan potensi internal dan masyarakat

E. KOMPOSISI PEGAWAI BERDASARKAN JABATAN


Tabel 5
Ketenagaan di Puskesmas Sukaluyu
Tahun 2015
No

Jenis Tenaga/ Pendidikan

Jumlah

Ket

KepalaPuskesmas

PNS

Kepala Tata Usaha

PNS

Dokter Umum
1

PNS

Sarjana Kedokteran
4

Dokter Gigi
Sarjana Kedokteran Gigi

Perawat
a. Sarjana Keperawatan/DIV
b. D III Keperawatan
c. SPK
Perawat Gigi

Tenaga Gizi

PNS

PNS 2, TKS 1

PNS

PNS 6, PTT :3

15

PTT

PNS

PNS

PNS

D III
SPag
Analis Kesehatan:

PNS

D IV Kebidanan
D III Kebidanan

SPrg
Bidan

1. D III ANALIS
Farmasi
D III

10

SMF
Rekam Medik

11

Sarjana Kes Masyarakat


Tenaga Administrasi

14

D III
Penyuluh Kesehatan

13

D III
Kesehatan Lingkungan

12

S-1
SLTA

PNS 3, TKS 3

4
JUMLAH

45

PNS 23, PTT 18, TKS 4

F. STRUKTUR ORGANISASI PUSKESMAS

G. KETENAGAAN PETUGAS GIZI


Ketenagaan Petugas Gizi di Puskesmas Sukaluyu berjumlah 2
orang, yaitu :
1. H. Tatang Sutardjo
Pelaksana gizi, lulusan D I SPAG, masa kerja 25 tahun
2. Dina Aulia Majid
Pelaksana gizi, lulusan D III POLTEKES KEMENKES
BANDUNG, masa kerja 5 tahun
H. SUMBER ANGGARAN PUSKESMAS
Dalam menjalankan fungsinya sebagai salah satu fasilitas pelayanan
kesehatan, puskesmas banyak mendapatkan sumber anggaran.
Anggaran tersebut diantaranya :
1. Operasional/PAD
2. Bantuan Operasional Kesehatan
3. JKN Murni
4. JKN Silva

: Rp. 90.358.400,00
: Rp. 131.587.000,00
: Rp. 2.226.383.000,00
: Rp. 491.892.000,00

BAB III
HASIL KEGIATAN
A. KEGIATAN RUTIN
1. Pemantauan Pertumbuhan di Posyandu
Hingga saat ini, Posyandu masih menjadi sarana penting di dalam
masyarakat yang mendukung upaya pencapaian keluarga sadar
gizi, membantu penurunan angka kematian bayi dan kelahiran,
serta mempercepat penerimaan norma keluarga kecil bahagia dan
sejahtera. Kegiatan didalamnya meliputi kegiatan pemantuan
pertumbuhan yang diintegrasikan dengan pelayanan seperti
imunisasi untuk pencegahan penyakit, penanggulangan diare,
pelayanan kesehatan ibu dan anak, pelayanan kontasepsi, hingga
penyuluhan dan konseling.
Dalam pemantuan pertumbuhan di posyandu terdapat beberapa
indikator yaitu S (Sasaran), K (KMS), D (Ditimbang),dan N (Naik).
Pengertiannya
S adalah jumlah balita yang ada diwilayah posyandu,
K adalah jumlah balita yang terdaftar dan yang memiliki KMS,
D adalah jumlah balita yang datang ditimbang bulan ini, dan,
N adalah jumlah balita yang naik berat badannya.
Jadi SKDN adalah data untuk memantau pertumbuhan balita.
Pencatatan dan pelaporan data SKDN untuk melihat cakupan
kegiatan

penimbangan

(K/S),

kesinambungan

kegiatan

penimbangan posyandu (D/K), tingkat partisipasi masyarakat dalam


kegiatan (D/S), kecenderungan status gizi (N/D), dan efektifitas
kegiatan (N/S). (Suhardjo. 1996).

Grafik 1
Perbandingan Cakupan Liputan Program (K/S)
Puskesmas Sukaluyu Tahun 2014 & 2015
Perbandingan Cakupan Liputan Program (K/S)
Puskesmas Sukaluyu Tahun 2014 & 2015
120
100

112
99

100 100 100 100 97 96


100 97 100
97
90 87 9091 91
87 83 86 84 83

80
60
40
20
0

2014

2015

Tingkat Liputan Program Yaitu jumlah balita yang mempunyai KMS


dibagi dengan jumlah seluruh balita yang ada diwilayah Posyandu
atau dengan menggunakan rumus (K/S x 100%). Hasil yang
didapat harus 100%. Alasannya balitabalita yang telah mempunyai
KMS telah mempunyai alat instrument untuk memantau berat
badannya dan data pelayanan kesehatan lainnya. Apabila tidak
digunakan atau tidak dapat KMS maka pada dasarnya program
POSYANDU tersebut mempunyai liputan yang sangat rendah.
Berdasarkan grafik diatas, terlihat bahwa terdapat peningkatan
Cakupan Liputan Program dari tahun 2014 ke tahun 2015, namun
masih belum mencapai target, dimana target yang diharapkan
adalah 90%. Dari 10 Desa hanya 1 desa yang mengalami
penurunan,

yaitu

Desa

Mekarjaya,

sedangkan

desa

yang

kenaikannya kurang signifikan yaitu Desa Sukasirna. Diharapkan di


tahun 2016 Seluruh desa bisa mempertahankan trand kenaikan ini
dan bisa mencapai target yaitu 90%.

Grafik 2
Perbandingan Cakupan Partisipasi Masyarakat (D/S)
Puskesmas Sukaluyu Tahun 2014 & 2015
Perbandingan Cakupan Partisipasi Masyarakat (D/S)
Puskesmas Sukaluyu Tahun 2014 & 2015
120
100
80
60
Axis Title

40
20
0

Tingkat partisipasi Masyarakat dalam Penimbangan Balita Yaitu


jumlah balita yang ditimbang dibagi dengan jumlah balita yang ada
di wilayah kerja Posyandu atau dengan menggunakan rumus (D/Sx
100%), hasilnya minimal harus mencapai 80%, apabila dibawah
80% maka dikatakan partisipasi masyarakat untuk kegiatan
pemantauan

pertumbuhan

dan

perkembangan

berat

badan

sangatlah rendah. Hal ini akan berakibat pada balita tidak akan
terpantau oleh petugas kesehatan ataupun kader Posyandu akan
memungkinkan balita ini tidak diketahui pertumbuhan berat
badannya atau pola pertumbuhan baerat badannya.
Dari grafik diatas, dapat diinterpretasikan bahwa dari 10 Desa
sangat bervariasi, ada 7 desa yang mengalami penurunan, namun
terdapat 3 desa yang mengalami kenaikan. Desa yang mengalami
penurunan yaitu Desa Mekarjaya, Sukamulya, Babakansari,
Selajambe, Hegarmanah, Sukasirna, dan Sindangraja. Untuk desa
yang mengalami kenaikan yaitu Sukaluyu,

Tanjungsari, dan

Panyusuhan.

Grafik 3
Perbandingan Cakupan Pencapaian Program (N/S)
Puskesmas Sukaluyu Tahun 2014 & 2015

Perbandingan Cakupan Pencapaian Program (N/S)


Puskesmas Sukaluyu Tahun 2014 & 2015
100
90
80
70
60
50
Axis Title

40
30
20
10
0

Cakupan Hasil Penimbangan (N/S) adalah : Rata rata jumlah


Balita yang naik berat badan (BB) nya dibagi dengan jumlah balita
yang ada di Posyandu kemudian dikali 100%. Persentase N/S
disini, menggambarkan berapa besar hasil penimbangan didaerah
tersebut yang telah tercapai. Target yang harus dicapai adalah
40%.
Dari Grafik diatas terlihat bahwa seluruh desa telah mencapai
target, dimana desa tertinggi yaitu Desa Mekarjaya, dan Terrendah
adalah desa Sukasirna. Untuk porsentase puskesmas sendiri
berada di 61% yang turun dari tahun sebelumnya yang mencapai
angka 68%. Sedangkan untuk tren yang terjadi di desa juga
mengalami penurunan, terlihat dari 10 desa hanya satu desa yang
mengalami kenaikan yaitu desa Sukasirna.

Grafik 4
Perbandingan Cakupan Efektifitas Program (N/D)
Puskesmas Sukaluyu Tahun 2014 & 2015

Perbandingan Cakupan Efektifitas Program (N/D)


Puskesmas Sukaluyu Tahun 2014 & 2015
100
90
80
70
60
50
Axis Title

40
30
20
10
0

Indikator lainnya adalah (N/D x 100%) yaitu jumlah balita yang


naik berat badannya dibandingkan dengan jumlah seluruh balita
yang ditimbang. Sebaiknya semua balita yang ditimbang harus
mengalami peningkatan berat badan, karena bertambah umur
bertambah berat badan.
Persentase N/D merupakan indikator yang digunakan untuk
mengetahui keberhasilan program. N/D adalah jumlah balita yang
naik berat badannya sesuai dengan garis pertumbuhan dari jumlah
seluruh balita yang dating ke posyandu dan ditimbang. Target yang
ingin dicapai adalah 75%. Jika tercapai berarti sudah baik, namun
bila belum tercapai artinya perlu pembinaan.
Dari grafik diatas terlihat bahwa Terdapat penurunan cakupan dari
tahun 2014 dimana puskesmas mencapai angka 80,9% menjadi
62,1% di tahun 2015. Hal ini terjadi karena tren penurunan juga
terjadi di seluruh desa di kecamatan sukaluyu. Tingkat penurunan
yang paling tinggi terjadi di Desa Babakansari dan desa
Sindangraja.

2. ASI Eksklusif
ASI Ekslusif adalah pemberian hanya Air Susu Ibu (ASI) saja
kepada bayi sejak lahir sampai berumur 6 bulan tanpa diberikan
makanan dan minuman lain, kecuali obat, vitamin dan mineral. Bayi
dikatakan mendapatkan ASI Ekslusif, jika pada saat survey
dilakukan masih diberi ASi secara Ekslusif.

Grafik 5
Cakupan ASI Eksklusif 6 bulan
Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015

Cakupan ASI Eksklusif 6 bulan


Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015
80.0
70.0
60.0
50.0
40.0
Axis Title

30.0
20.0
10.0
0.0

Berdasarkan grafik diatas, pencapaian cakupan pemberian ASI


Eksklusif bayi 6 bulan tahun 2015 Puskesmas Sukaluyu sebesar
61,8% angka ini masih jauh dari target yaitu 80%. Sedangkan untuk
desa yang menyumbang angka ASI Eksklusif terrendah adalah
Desa Hegarmanah. Dan desa dengan cakupan tertinggi adalah
Desa Selajambe.
Cakupan pemberian ASI eksklusif dipengaruhi beberapa hal,
terutama masih sangat terbatasnya tenaga konselor ASI, belum
adanya Peraturan Pemerintah tentang Pemberian ASI serta belum
maksimalnya
kampanye

kegiatan

terkait

edukasi,

pemberian

ASI

sosialisasi,
maupun

advokasi,
MP-ASI,

dan
masih

kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana KIE ASI dan MPASI.

3. Distribusi Tablet Tambah Darah Pada Ibu Hamil dan Bufas


Salah satu masalah gizi yang banyak terjadi pada ibu hamil adalah
anemia gizi, yang merupakan masalah gizi mikro terbesar dan
tersulit

diatasi

di

seluruh

dunia

(Soekirman,

2000).

WHO

melaporkan bahwa terdapat 52% ibu hamil mengalami anemia di


negara berkembang. Di Indonesia, prevalensi anemia pada
kehamilan masih tinggi yaitu sekitar 24,5% (Riskesdas, 2007).
Grafik 6
Cakupan Distribusi Tablet Tambah Darah
Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015

Cakupan Distribusi Tablet Tambah Darah


Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015
120
100
80
60
Axis Title

40
20
0

Dari grafik diatas, Cakupan Distribusi Tablet Tambah Darah


Puskesmas Sukaluyu untuk Distribusi Fe pertama kali (fe1) adalah
95%, sedangkan untuk Fe ke-tiga kali adalah 93%. Target yang
diharapkan adalah untuk Fe1 sebesar 95% dan Fe3 sebesar 93%.
Sehingga pada tahun ini cakupan Fe1 puskesmas tepat memenuhi
target

namun

untuk

cakupan

Fe3

tidak

mencapai

target.

Sedangkan untuk cakupan desa Setengahnya telah mencapai


target dan setengah lagi belum mencapai target. Lima desa yang
sudah

mencapai

target

yaitu

Desa

Mekarjaya,

Panyusuhan,Sukaluyu, Hegarmanah, dan Sindangraja. Sedangkan


lima desa yang belum mencapai target adalah Desa Sukamulya,
Babakansari, Tanjungsari, Selajambe, dan Sukasirna.

4. Distribusi Kapsul Vitamin A Bayi, Balita dan Bufas


Masalah gizi yang utama di Indonesia adalah kurang kalori protein
(KKP),dan kekurangan vitamin A yang dapat mengakibatkan
xeropthalmia (sakit mata karena kekurangan vitamin A) misalnya
rabun senja dan kebutaan. Disamping itu masalah kekurangan
vitamin A merupakan masalah terpenting kedua yang perlu diatasi,
karena hal ini melanda penderita yang luas jangkauan, terutama
anak-anak balita. (Winarno, 1995)
Penanggulangan masalah kurang vitamin A saat ini bukan hanya
untuk mencegah kebutaan, tetapi juga dikaitkan dengan upaya
memacu pertumbuhan dan kesehatan anak guna menunjang

penurunan

angka

kematian

bayi

dan

berpotensi

terhadap

peningkatan produktifitas kerja orang dewasa. (Depkes. RI., 2000)


Grafik 6
Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Bayi
Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015

Vit. A Bayi

Axis Title

160
140
120
100
80
60
40
20
0

Cakupan Vitamin A pada Bayi adalah jumlah bayi 6-11 bulan yang
mendapat Vitamin A biru di bulan Februari ditambah dengan jumlah
bayi 6-11 bulan yang mendapat Vitamin A biru di bulan Agustus
dibagi dengan jumlah bayi 0-11 bulan dikali 100. Hasilnya yang
diharapkan adalah 100%.

Dari grafik diatas, terlihat bahwa cakupan distribusi kapsul vitamin A


di Puskesmas Sukaluyu telah mencapai target, bahkan melebihi
target yaitu 116%. Hal ini terjadi karena masih ada sasaran dari luar
daerah yang ikut diberi vitamin A. Meskipun demikian terdapat dua
desa yang belum mencapai target, desa tersebut adalah Desa
Selajambe dan Desa Hegarmanah.
Grafik 7
Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Balita
Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015

Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Balita


Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015
120
100
80
60
Axis Title

40
20
0

Cakupan Vitamin A pada Balita adalah jumlah balita (12-59 bl) yang
mendapat kapsul vitamin A merah dibagi jumlah sasaran balita (1259 bl) dikali 100. Cakupan tersebut dipilih antara Februari atau
Agustus tergantung cakupan mana yang paling rendah diantara
dua bulan tersebut. Target yang ingin dicapai adalah 80%.
Untuk di puskesmas Sukaluyu cakupan terendah ada di bulan
februari sedangkan di bulan agustus lebih tinggi yaitu 100%, namun
demikian tetap diperlukan upaya agar setiap bulan februari dan
Agustus seluruh anak bayi balita mendapatkan kapsul Vitamin A.

Dari grafik diatas Terlihat bahwa cakupan distribusi kapsul vitamin A


pada balita Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015 adalah 95,5%. Angka
ini sudah melampaui target. Meskipun demikian dari 10 Desa
binaan puskesmas Sukaluyu masih terdapat satu desa yang belum
mencapai target, yaitu Desa Babakansari. Diharapkan tahun depan
seluruh desa bisa mencapai target.
Grafik 8
Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Bufas
Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015

Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Bufas


Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015
140
120
100
80
60

Axis Title

40
20
0

Cakupan Vitamin A ibu nifas adalah Jumlah pemberian kapsul


Vitamin A merah kepada Ibu Nifas dibagi jumlah sasaran ibu nifas
dikali 100%. Target yang ingin dicapai adalah 100%.
Berdasrkan grafik diatas terlihat bahwa Distribusi kapsul vitamin A
untuk ibu nifas di Kecamatan Sukaluyu sudah melebihi target, yaitu
109%. Dimana dari 10 Desa hampir semua melebihi target kecuali
1 (satu) desa yaitu Desa Selajambe.

5. Bulan Penimbangan Balita


Bulan Penimbangan Balita
dilakukan

satu

tahun

satu

merupakan
kali

kegiatan

(Tahunan).

rutin yang

BPB

serentak

dilaksanakan pada bulan Agustus, bertepatan dengan pemberian


kapsul Vitamin A.
Tujuan diselenggarakannya BPB adalah untuk mendapatkan
gambaran status gizi seluruh balita, memperoleh data gizi buruk by
name

by

address,

serta

memperoleh

data

perencanaan program gizi.


Grafik 9
Prevalensi Balita Menurut Status Gizi BB/U
Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015

dasar

untuk

Prevalensi Balita Menurut Status Gizi BB/U


Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015
120
2
89
100
80
60
40
208
1
0

5
81

17
72

8
5

9
2

2
79

15
68

3
83

6
74

3
83

3
82

3
80

5.9
79.1

16
3

9
8

9
4

12
8

10
4

14
2

11
5

10.6
4.2

Sangat Kurang

Kurang

Normal

Gizi Lebih

Berdasarkan grafik diatas Prevalensi Balita sangat kurang menurut


indicator BB/U adalah 4,2%, sedangkan balita gizi kurang adalah
10,6%, Balita Normal 79,1% dan balita gizi lebih 5,9%.
Bila dibandingkan dengan batasan masalah yang diterbitkan oleh
WHO dimana bila balita gizi kurang lebih dari 10% maka daerah
tersebut masih memiliki masalah gizi. Dengan demikian kecamatan
Sukaluyu masih memiliki masalah gizi karena hasil BPB dengan
indicator BB/U pada balita gizi kurang mencapai 10,6%. Sedangkan
desa-desa yang menyumbang angka tinggi juga perlu dicermati
sungguh-sunguh, yaitu Desa Sukamulya, Selajambe, Hegarmanah,
Sukasirna dan Sindangraja.
Sedangkan Untuk Prevalensi Balita GIzi lebih justru terjadi bukan
pada daerah perkotaan, tapi terjadi pada daerah perkampungan,
yaitu Desa Sukaluyu dan Babakansari. Sehingga perlu evaluasi
lebih lanjut di tahun depan apakah benar balita-balita di Desa
tersebut kelebihan Gizi.
Grafik 10
Prevalensi Balita Menurut Status Gizi TB/U
Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015

Prevalensi Balita Menurut Status Gizi TB/U


Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015

71

20
9

20
20

Sangat Pendek

Pendek

70

66

62

69

18

16
22

18

16
15

15
8

14
24

16

Normal

13

79

13
8

69

69

16
15

16
15

Berdasarkan Batasan masalah WHO, Jika prevalensi balita pendek


lebih dari 20% artinya Wilayah tersebut masih memiliki masalah
gizi. Berdasrkan grafik diatas, Prevalensi Balita Pendek Puskesmas
Sukaluyu adalah 16%, ini artinya secara wilayah, puskesmas tidak
memiliki masalah gizi, namun jika dilihat pada tingkat desa,
terdapat beberapa desa yang masih memilikinya, yaitu Desa
Mekarjaya dan Panyusuhan. Dilihat dari segi tipe desa, kedua desa
tersebut termasuk pada desa Terpencil,(jauh dari kota) sehingga
dimungkinkan angka balita pendek lebih tinggi dibanding delapan
desa lainnya.

Ditahun 2015 ini ada upaya yang dilakukan untuk mencegah balita
pendek bertambah, yaitu pelatihan PMBA (Pemberian Makan Bayi
dan Anak) bagi kader dan bidan Desa. Dalam pelatihan ini
difokuskan pada 2 tahun pertama kehidupan anak,karena dari 2
tahun pertama ini menentukan tahun-tahun berikutnya. Pemberian
makan bayi dan Anak yang tepat selama dua tahun pertama
kehidupan akan mencegah terjadinya stunting( pendek ).
Perlu sosialisasi dan pelatihan bagi kader lainya agar angka
stunting dapat berkurang dan generasi penerus kita tumbuh bergizi
baik dan tinggi, sehingga produktivitasnya juga meningkat.
Grafik 11
Prevalensi Balita Menurut Status Gizi BB/TB
Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015

4
10092

91

3
90

5
0.1

6
0.3

86

90

93

4
91

5
88

4
87

6
87

4
89

4
0.0

4
0.0

4
0.3

7
0.3

9
0.0

7
0.1

6
0.1

80
60
40
20
4
0.0
0

11
0.2

Sangat Kurus

Kurus

Normal

Gemuk

Berdasrkan grafik diatas terlihat bahwa prevalensi balita kurus


berdasarkan indicator BB/TB Puskesmas Sukaluyu adalah 6% hal
ini sudah melebihi ambang batas maslah yang dibuat oleh WHO,
dimana WHO mennyebutkan bahwa jika Prevalensi balita kurus
lebih besar dari 5% maka wilayah tersebut masih memiliki masalah
gizi.

Grafik 11
Analisis Kombinasi Tiga (3) Indikator
Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015

Analisis Kombinasi Tiga (3) Indikator


Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015
Kurang Gizi

Pendek

Kurus

11

20

20

16

15

14

18

16

18

13

16

16

16

12

10

14

11 10.6

Apabila dilihat dari 3 (tiga) indicator, maka maslah gizi dapat dibagi
menjadi 4 Kelompok yaitu Bukan Masalah Gizi, Masalah Gizi Akut,

Masalah Gizi Kronik, dan Masalah gizi Akut-kronik. Seperti terlihat


pada gambar dibawah ini :

Sehingga Terdapat 4 Kelopok di wilayah kecamatan Sukaluyu yaitu


Bukan Masalah

Waspada

Masalah Gizi

Masalah Gizi

Akut

Akut-Kronik

Hegarmanah
Sukasirna
Sindangraja

Sukamulya

Gizi
Babakansari
Tanjungsari

Mekarjaya
Panyusuhan
Sukaluyu
Selajambe

6. Pemantauan Garam Tingkat Masyarakat


Pemantauan garam beryodium dilakukan satu tahun satu kali
(Tahunan) yaitu di bulan Agustus. Ditahun 2015 ini pemantauan
garam di tingkat masyarakat dilakukan langsung ke rumah-rumah
(Door to Door), dengan sistim random, dan prinsip Obat nyamuk,
dimulai dari tingkat RW, dipilih sampel RW berdasrkan random,
satu RW diambil 10 rumah tangga.
Grafik 12
Kategori Desa berdasarkan Kadar Iodium Hasil Uji Garam
Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015

Kategori Desa berdasarkan Kadar Iodium Hasil Uji Garam


Puskesmas Sukaluyu Tahun 2015
Cukup

0
3

0
11
0
3

0
19

37

Rendah

39

0
7

Tidak ada

1
4
0
0

30

30

11

36
23

30

0
16

Terdapat satu desa yang tidak di lakukan sampling, yaitu Desa


Mekarjaya karena memang desa tersebut tidak masuk saat
dilakukan random sampling.
Dari 292 rumah tangga yang uji garam dengan test kit, sebanyak
252 rumah tangga cukup kadar iodiumnya (86%), 47 rumah tangga
rendah kadar iodiumnya, (16%) dan 1 rumah tangga tidak ada
kadar iodiumnya.

7. Sosialisasi Bulan Penimbangan Balita


Sosialisasi Bulan penimbangan balita dilakukan di akhir bulan juli
sebelum pelaksanaan BPB dibulan Agustus. Sosialisasi didanai
dari anggaran BOK. Dihadiri oleh seluruh bidan yang bertugas di
Puskesmas Sukaluyu.
Dalam Acara tersebut dibuka oleh Kepala Puskesmas Sukaluyu,
dan diisi dengan agenda :
Persiapan data sasaran
Sosialisasi Lintas Program (Bidan desa dan Petugas
Promkes)
Persiapan Alat (Dacin, Microtoice, Panjang Badan)
Persiapan Format ( BPB, Vitamin A, ASI Eksklusif,
Penemuan Gizi buruk)
Pembagian Vitamin A merah dan Biru
Kesepakatan BPB
B. KEGIATAN DARI SUMBER DANA BOK
1. Monitoring Posyandu
Dalam pelaksanaan monitoring posyandu dilaksanakan oleh Tim
Puskesmas, jadi tidak hanya petugas gizi puskesmas, tetapi juga
dilaksanakan oleh bidan koordinator, petugas promkes, perawat
desa dan lain-lain.
Tujuannya adalah peningkatan kinerja posyandu, serta pembinaan
kepada kader posyandu.

Dalam kegiatanya ada beberapa hal

yang diperhatikan :
1. Waktu mulai posyandu
2. Sistim 5 Meja
3. Pengukuran BB dan TB
4. Pencatatan dan Pelaporan
5. Sarana dan prasarana, serta
6. Konseling Gizi

2. Refreshing Kader Posyandu


Di tahun 2015 ini juga dilaksanakan Refreshing kader posyandu,
dilakukan di dua tempat mengingat wilayah Kecamatan Sukaluyu
yang luas, yang pertama bertempat di aula Desa Hegarmanah,
dan yang kedua di

Aula Desa Sukaluyu. Pada acara ini juga

dihadiri oleh Kepala Puskesmas yang berkenan memberikan


sambutan. Kemudian disusul dengan agenda :
Strategi Peningkatan Penimbangan Balita di Posyandu
Strata Posyandu
Tertib dan Rapi Tentang Pencatatan dan Pelaporan
Kemitraan dengan dunia usaha.
3. Monitoring BPB
Monitoring BPB adalah kegiatan dimana petugas puskesmas turun
ke posyandu untuk memantau kegiatan bulan penimbangan balita.
Monitoring BPB dilakukan ke semua desa, satu desa satu
posyandu, yang dimonitor adalah :
persiapan kader posyandu,
jumlah hadir balita,
Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan
Pemberian Kapsul vitamin A merah dan Biru
Pencatatan dan Pelaporan
4. Validasi Data Bulan Penimbangan Balita
Setelah kegiatan Bulan Penimbangan Balita (BPB) dilaksanakan,
yaitu bulan Agustus kemudian dilakukan entry data yang

baru

selesai pada minggu ke3 bulan September kemudian baru


dilakukan validasi data.
Saat entry data selesai ternyata ditemukan 100 balita gizi buruk,
hal ini sangat tidak wajar, sehingga dilakukan pengukuran ulang
oleh bidan desa, dan hasilnya dari 100 balita tersebut hanya 10
orang, 4 orang kasus lama dan 6 orang kasus baru. 6 orang
tersebut terdiri dari 3 orang laki-laki dan 3 orang perempuan.

5. PMT Pemulihan
Setelah ditemukan

balita

gizi

buruk,

kemudian

dilakukan

kunjungan rumah, untuk memberikan PMT Pemulihan . PMT yang


diberikan berupa makanan dan minuman pabrikan berupa :
susu infant (0-6bl) 11 dus (350gr)
bubur susu instan 90 sachet (20gr) dan
biscuit 40 roll (80gr)
diberikan selama 90 hari.
Untuk tahun 2015 jumlah balita gizi buruk yang mendapat PMT
pemulihan ada 11 orang.
6. PMT Bumil KEK
Berdasarkan laporan lb3 yang di kumpulkan bidan desa ke
petugas gizi puskesmas, jumlah bumil KEK Puskesmas Sukaluyu
tahun 2015 adalah 24 orang, namun puskesmas hanya bisa
memberikan PMT bumil KEK sebanyak 13 orang. PMT yang
diberikan berupa susu ibu hamil sebanyak 36 dus (150 gr).
Diasumsikan ibu hamil kek yang mendapat PMT pemulihan berupa
Susu ibu hamil mendapat tambahan energy sebanyak 160 kkal per
hari.

BAB IV

MASALAH DAN PEMECAHAN MASALAH


A. MASALAH
1. Identifikasi Masalah
Tabel 6
Identifikasi Masalah Gizi
Di Wilayah Puskesmas Sukaluyu
Tahun 2015
No

Data

Capaian

Target

Kesenjangan

* Penimbangan Bulanan
1

Cakupan Liputan Program (K/S)

97

90

Cakupan Partisipasi Masyarakat(D/S)

81

80

Cakupan Pencapaian Program (N/S)

61

40

21

Cakupan Efektifitas Program (N/D)

62

75

-12,9

Prevalensi Gizi Buruk

0,1

<1

Prevalensi Gizi Kurang

116

100

16

96

80

15,5

109

100

97

95

87

93

-6,3

* Distribusi Vitamin A
8
9
10

Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Bagi


Bayi (6-11 Bulan)
Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Bagi
Anak Balita (12-59 Bulan)
Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Bagi
Ibu Nifas
* Distribusi Tablet Tambah Darah

11
12

Cakupan Distribusi Tablet Fe-1 Tablet Pada


Ibu Hamil
Cakupan Distribusi Tablet Fe-3 Tablet Pada
Ibu Hamil

* Cakupan PMT
13

MP-ASI Bayi (6-11bl) Gakin

100

-100

14

MP-ASI Bayi (12-23bl) Gakin

100

-100

15

Bumil KEK

54

100

-46

16

Bulan Penimbangan Balita

100

100

17

Gizi Buruk Mendapat Perawatan

100

100

18

Cakupan ASI Eksklusif

62

80

-18,2

2. Prioritas Maslah
Tabel 7
Prioritas Masalah Gizi
Di Wilayah Puskesmas Sukaluyu
Tahun 2015
N
o

Peringka

Kriteria
Prioritas Masalah

Keseriusan

Perkemban

(S)

gan (G)

27

18

Urgensi (U)
Cakupan Efektifitas
Program

t
UxSxG

Cakupan Distribusi
2

Tablet Tambah darah


(fe3)

Cakupa MP-ASI
Baduta Gakin
Cakupan Bumil KEK
dapat PMT
Cakupan ASI
Eksklusif

3. Analisis Masalah
Tabel 8
Analisis Masalah Gizi
Di Wilayah Puskesmas Sukaluyu
Tahun 2015
No

Masalah

Manusia
Pola pikir ibu
dan kader yang

Cakupan
1

Efektifitas
Program (N/D)

menganggap N=
naik dr bulan
lalu
Kurang tertib
pencatatan dan
pelaporan

Penyebab
Metode
Alat
Kurangnya
Kuranngnya
Penyuluhan dan
KMS, dan
Pembinaan dari
banyak KMS
pembina
yang hilang
posyandu
Pengisian SIP

SIP belum

terlewatkan

merata

Kurangnya

sarana umum

pencatatan dan

yang

pelaporan ASI

mendukung ibu

Dana
Pembelian MPASI baduta
yang terbatas
Pemilihan MPASI yang masih
pabrikan

Jumlah kader
aktif bertugas di
posyandu
kurang dan
belum merata di
tiap posyandu
sehingga

Kurangnya

menyusui

pencatatan ASI

Eksklusif

terlewatkan
Kurangnya
pengetahuan
dan
keterampilan ibu
untuk menyusui
Jumlah kader
terlatih PMBA
baru sedikit

Media
penyuluhan ASI

Eksklusif sering
Cakupan ASI

Kurangnya

Eksklusif
Pemberian MPASI yang dimulai
lebih awal (sejak
usia 5 bulan)

Belum
optimalnya
fungsionalisasi
klinik konseling
Laktasi
Kurangnya
kegiatan yang
mendukung ibu
menyusui

Konseling
PMBA masih
sebatas
pelaksanaan(be
lum dievaluasi)

Kurangnya

Cakupan
3

Distribusi
Tablet Tambah

Pengetahuan

Pencatatan

Stok TTD

dan kepatuhan

pemberian Fe

garatis yang

ibu meminum

hanya untuk Pil

kosong,

TTD sehingga

tambah darah

sehingga

hanya Pertama

yang diberikan

masyarakat

kali saja ibu mau

oleh Puskesmas

harus membeli

Distribusi Fe
Rasa tablet Fe
kurang dapat
diterima oleh ibu
hamil

hamil yang

pada pasien

memeriksakan

yang kontrol ke

ke paraji, BPS,

dokter

atau dokter

kandungan dan

Kurangnya

Pemantauan

pengetahuan

bumil KEK di

dan pola pikir

Posyandu belum

ibu hamil

berfungsi di

tentang gizi dan

semua

Bumil KEK

kesehatan
Kurangnya

posyandu
Fungsi

dapat PMT

motivasi kader

posyandu masih

untuk membina

terfokuskan

ibu hamil KEK,

pada bayi dan

karena

balita sehingga

menganggap itu

pemantauan ibu

tugas ibu bidan

hamil kurang.

Pendistribusian

kandungan

hanya
mengandalkan
petugas gizi dan

ASI Baduta
Gakin

kader, belum
melibatkan
pembina
posyandu

Masih
terbatasnya
Keberadaan
kelas ibu
hamil/KP-ASI

Minimnya PMT
bumil KEK/PMT
Penyuluhan
bumil KEK

Pemberian MP-

MP-ASI masih

Cakupan MP-

membeli TTD

Tidak sedikit ibu

tidak tercatat

BPS

Cakupan

enggan

membeli TTD

darah (fe3)

Masyarakat

ASI kurang dari


Pendistribusian

90 hari

MP-ASI masih

sehingga tidak

belum tercatat

dapat

dengan baik

dimasukan
sebagai
cakupan
Jumlah kuota
PMT untuk
baduta GAKIN
masih jauh dari
sasaran

Dana MP-ASI
baduta GAKIN
terbatas

B. PEMECAHAN MASALAH

Tabel 9
Alternatif Pemecahan Masalah Gizi
Di Wilayah Puskesmas Sukaluyu
Tahun 2015
No

Masalah

Penyebab Masalah

Alternatif Pemecahan Masalah


Mengupayakan kader untuk

Balita tidan rutin ditimbang ke


posyandu sehingga banyak status

memotivasi ibu untuk membawa


balitanya rutin di timbang.

pertumbuhan yang tidak dapat

Mengupayakan kader untuk

dinilai (O)

memberikan penyuluhan pentingnya


menimbang anak secara teratur
setiap bulan

Cakupan
1

Efektifitas
Program (N/D)

Ketidaktepatan dalam teknik

Penyegaran kader secara berkala

menimbang dan membaca hasil

mengenai teknik menimbang dan

penimbangan

membaca hasil penimbangan

Kesalahan ploting dan interpretasi


pada KMS

Penyegaran kader secara berkala


mengenai Cara ploting dan
interpretasi pada KMS
Mengupayakan kader untuk

Balita yang tidak naik berat


badannya

memberikan konseling/penyuluhan
sesuai penyebab masalah
Pemberian makanan tambahan

Rendahnya Pengetahuan Ibu


tentang ASI Eksklusif

Cakupan ASI
Eksklusif

Memotivasi kader untuk memberikan


penyuluhan/konseling tentang
pentingnya IMD dan ASI Eksklusif

Jumlah kader aktif bertugas di


posyandu kurang dan belum

Memastikan kader selalu mengisi

merata di tiap posyandu

kolom ASI eksklusif di KMS dan

sehingga pencatatan ASI

Register ASI

Eksklusif sering terlewatkan

Belum terbentuk kelompok


Pendukung ASI

Membentuk Kelompok Pendukung


ASI, Serta menggiring ibu hamil
untuk ikut kelas ibu hamil

Belum ada kader yang memantau


proses pemberian ASI pasca

Perlu pembentukan kader neonatus

melahirkan
Melakukan pendataan sasaran ibu
Tidak diketahui jumlah sasaran
ibu hamil

hamil

Kunjungan rumah untuk memastikan


ibu hamil dapat TTD

Cakupan
3

Distribusi
Tablet Tambah
Darah

Ibu hamil yang memeriksakan

Bekerjasama dengan bidan desa dan

kehamilan ke BPS/dr swasta

BPS untuk memberikan TTD

Menyediakan swadaya, dengan tanpa


Persediaan TTD tidak ada

mengambil keuntungan

Melapor ke tingkat Kabupaten

BAB V
KESIMPULAN DAN PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari paparan evaluasi program gizi Puskesmas Sukaluyu selama
tahun 2015 terdapat beberapa masalah yang perlu didukung dari
beberapa pihak diantaranya :
1. Cakupan Efektifitas Program (N/D) yang rendah yaitu 62,1%
2. Cakupan ASI Eksklusif yang rendah yaitu 61,8%
3. Cakupan Distribusi Tablet Tambah Darah (Fe3) sebesar 86,7%
4. Cakupan PMT Bumil KEK rendah yaitu 54%
5. Cakupan MP-ASI Baduta Gakin yang belum mencapai target.
Dari kelima masalah diatas perlu diupayakan agar di tahun 2016
masalah tersebut dapat diatasi atau setidaknya dikurangi
jarak kesenjangannya. Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan
segala upaya baik dari segi tenaga, dana, kebijakan, dan
dukungan berbagai lintas terkait agar masalah diatas dapat diatasi.
B. PENUTUP
Keberhasilan pengelolaan program gizi memerlukan dukungan yang
kuat dari berbagai pihak, baik moril, materil maupun finansial. Selain
itu diperlukan adanya kerjasama dengan berbagai sektor terkait,
disamping ketekunan dan pengabdian pengelolanya, yang semuanya
mempunyai peranan strategis demi keberhasilan penyelenggaraan
program gizi di Puskesmas Sukaluyu
Demikian laporan tahunan gizi tahun 2015 yang disampaikan sebagai
bahan masukan untuk evaluasi dan penyusunan kebijakan dan
pengambilan keputusan dalam peningkatan upaya perbaikan gizi di
tahun2016.