Anda di halaman 1dari 16

ASPEK KINESIOLOGI PADA PELARI SPRINT

Akhmad Alfajri Amin


Dari Magister Fisiologi Olahraga Konsentrasi Fisioterapi, Program Pasca Sarjana,
Universtitas Udayana, Denpasar, Indonesia, 2014.

PENDAHULUAN
Kinesiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang gerak, secara khusus mempelajari
gerakan saat individu melakukan aktifitas fisik (Newell, 1990). Kinesiologi meliputi tiga aspek
keilmuan yakni fisiologi, biomekanik dan anatomi. Secara fisiologis tubuh akan merespon ketika
individu beraktifitas fisik. Respon tersebut terjadi pada sistem musculoskeletal, kardiorespirasi,
thermolegulasi,

serta

sistem

metabolisme.

Ketiga

sistem

tersebut

akan

berusaha

menyeimbangkan tubuh saat melakukan aktifitas fisik. Aktifitas fisik atau olahraga akan
meningkatkan frekuensi gerak pada musculoskeletal salah satu contohnya adalah pelari sprint.
Sprint merupakan olahraga yang sifatnya membutuhkan kekuatan, kelincahan, dan kecepatan.
Lari sprint juga merupakan salah satu cabang olahraga atletik yang terdiri dari jarak lari 60 meter
sampai 400 meter (Sidik, 2013). Kekuatan, kelincahan dan kecepatan pada pelari sprint di
dominasi oleh anggota gerak tubuh bagian bawah (AGB). Gerakan yang terjadi pada AGB saat
sprint sangatlah kompleks, meliputi dua komponen yakni, besar panjang langkah serta frekuensi
langkah yang dilakukan oleh pelari tersebut. Kedua komponen tersebut akan menjadi faktor
penentu dari kecepatan yang dihasilkan pada saat berlari. Untuk meningkatkan hasil yang
maksimal dari kecepatan pada pelari sprint maka perlu adanya pembahasan tentang analisa lebih
mendalam mengenai aspek fisiologi, anatomi, kinesiologi, serta biomekanik.

PEMBAHASAN
1. Fisiologi Otot, Jenis Serabut Otot, mekanisme kontraksi otot dan Tipe Kontraksi pada Otot
Rangka.
Otot adalah sebuah jaringan dalam tubuh manusia yang berfungsi sebagai alat
penggerak suatu organisme maupun pergerakan dari organ dalam organisme tersebut. Pada
otot rangka (musculoskeletal), otot berfungsi sebagai penggerak tulang yang membentuk

komponen persendian. Struktur otot rangka berbeda dengan otot-otot yang ada pada jaringan
lain di dalam tubuh. Hampir seluruh Otot rangka ber-origo dan ber-insertio di tendon, serta
serabut otot tersusun sejajar diantara ujung tendon sehingga daya kontraksi di setiap unit akan
saling menguatkan. Setiap serabut otot merupakan sel tunggal yang berinti banyak,
memanjang, silindrik dan diliputi oleh membran sel yang dimanakan sarkolema. Diantara selselnya tidak memiliki jembatan sinistium berbeda dengan otot jantung dan otot polos yang
memiliki jembatan sinistium diantara sel-selnya. Serabut otot tersusun atas miofibril yang
terbagi menjadi filamen. Filamen-filamen ini tersusun dari protein-protein kontraktil.
Otot rangka sendiri merupakan Voluntary Muscle memiliki desain yang efektif
untuk pergerakan yang spontan dan membutuhkan tenaga besar. Otot ini mudah lelah, yang
disebabkan oleh penumpukan asam laktat pada sel-selnya. Pergerakan otot rangka berasal
dari sinyal motorik yang berasal dari otak dan bersifat sadar (bukan refleks). Otot ini terdapat
pada hampir keseluruhan tubuh bagian manusia. Pada manusia sebagian besar otot
mengandung campuran dari ketiga jenis serabut (Gambar.1.), persentase masing-masing tipe
ditentukan oleh jenis aktifitas yang dilakukan oleh otot yang bersangkutan. Karena itu di otot
- otot yang khusus untuk melakukan kontraksi intensitas rendah jangka panjang tanpa
mengalami kelelahan. Misalnya otot di punggung dan tungkai yang menopang berat tubuh
terhadap gravitasi, ditemukan banyak serabut otot yang beroksidatif lambat. Sedangkan serat
glikolitik cepat banyak ditemukan di otot-otot lengan, yang beradaptasi untuk melakukan
gerak cepat dan kuat, misalnya mengangkat benda berat.

Gambar.1. Jenis Serabut pada Otot Rangka (Sherwood, 2009)

Individu atlet yang memiliki serabut otot tipe glikolitik cepat dari genetik sangat tepat
diarahkan untuk mengikuti cabang olahraga atletik yang diharuskan kecepatan, dan power
yang kuat seperti sprint, lompat jauh, dan lainnya. Sebaliknya individu atlet yang secara
genetik memiliki serabut otot oksidatif lambat, akan lebih berhasil jika diarahkan dalam
aktifitas yang memerlukan daya tahan (endurance) misalnya marathon. Walaupun secara
genetik memiliki perbedaan dalam serabut otot namun dengan perubahan aktifitas latihan
mempengaruhi perubahan serabut otot. Pada tahun 1972 Gollnick et al, meneliti tentang
aktifitas dan komposisi serat dalam otot rangka laki-laki yang terlatih dan yang tak terlatih
dengan cara mengambil sample inti sel dari otot vastus lateralis dan deltoid menggunakan
metode pengambilan inti sel tersebut dengan needle biopsy technique. Dan ditemukan bahwa
komposisi serabut otot pada laki-laki yang tidak terlatih lebih banyak mengandung serabut
otot berserat putih / fast twitch (FT) dibandingkan otot berserat merah / slow twitch (ST),
sedangkan pada laki-laki yang terlatih / atlet memiliki kandungan serabut otot merah / slow
twitch (ST) lebih banyak dibandingkan kandungan serabut otot putihnya / fast twitch (FT)
lihat pada gambar.2 di bawah ini.

Gambar.2. Sample jenis serabut otot dari otot vastus lateralis. Bagian atas
menerangkan gambar mikroskopis dari PAS (

Periodic

Acid-Schiff)

stain

untuk glycogen dan bagian bawah merupakan gambar mikroskopis dari Myosin
ATPase. (A)&(B) merupakan sample dari subject laki2 yang tidak terlatih usia
setengah baya.(C)&(D) Merupakan sample dari atlet pelari jarak sedang. (E)&(F)

merupakan sample dari subject laki2 yang tidak terlatih usia muda. Terakhir
(G)&(H) sample dari pelari marathon (Gollnick, 1972).
Menurut Morgan et al (1971) Serabut otot tipe glikolitik cepat dapat diubah menjadi
serabut tipe oksidatif cepat bergantung dari jenis latihan dan intensitas selama aktifitas
latihan, Hal tersebut akan berubah secara bertahap. Namun kecepatan kontraksi serabut
lambat dan cepat tidak dapat berubah meskipun latihan dapat memicu perubahan metabolik
(merubah daya tahan) karena kecepatan kontraksi itu dihasilkan dari neuron motorik yg
menginervasi serabut otot tersebut (Sherwood, 2009). Pada serabut otot tipe kontraksi lambat
neuron mototrik yang menginervasi serabut ototnya memperlihatkan pola aktifitas listrik
frekuensi yang rendah. Sebaliknya pada tipe kontraksi cepat neuron motoriknya berkerja
secara cepat dengan memperlihatkan letupan-letupan listrik yang cepat intermiten.
Berkontraksinya serabut otot pada otot rangka merupakan suatu akibat dari adanya
potensial aksi / daya rangsangan motorik dari saraf yang menginervasi serabut otot tersebut.
Ganong (2003) menjelaskan mekanisme terjadinya suatu kontraksi pada otot rangka secara
ringkas dan mudah, penjelasannya dibagi 6 proses yakni ;
a. Aksi pontensial pada neuron sehingga terjadi pelepasan Ach.
b. Terbentuknya Potensial end Plate
c. Tercetusnya potensial aksi pada serabut otot
d. Pelepasan Ca 2+ dari sisterna terminal reticulum sarkoplasmik serta difusi Ca 2+
ke filament tebal dan filament tipis
e. Peningkatan Ca 2+ oleh topomin C, membuka tempat pengikatan myosin actin
f. Pembentukan cross link antara actin dan myosin dan pergeseran filament tipis
pada filament tebal (pemendekan otot).
Ganong (2003) juga membagi menjadi 3 proses mekanisme relaksasi otot rangka, 3
proses tersebut yakni ;
a. Ca2+ dipompa kembali ke dalam retikulum sarkoplasma.
b. Pelepasan Ca2+ dari troponin.
c. Penghetian interaksi antara aktin dan miosin.
Dari mekanisme kontraksi dan relaksasi pada otot rangka, secara singkat dapat
disimpulkan bahwa aksi tersebut terjadi pada actin dan myosin. Terjadinya aksi tersebut tidak

luput dari peran energi yang digunakan myosin untuk menarik actin dan melepas actin,
Adenosin Trifosfat (ATP) merupakan sejenis gula yang telah diproses secara kimia didalam
tubuh yang menjadi sumber energi utama pada proses mekanisme kontraksi otot. Namun dari
penjelasan mekanisme kontraksi otot tersebut belum dapat diketahui seperti apa tipe kerja
otot yang ada pada otot rangka. Tipe kerja / kontraksi otot rangka terbagi dalam beberapa tipe
yakni ;
a. Concentric adalah kontraksi dimana otot memendek dan tonus otot meningkat.
b. Eccentric adalah kontraksi dimana otot memanjang dan tonus otot meningkat.
c. Isotonic adalah dimana otot memendek namun tonus dalam otot masih sama.
Misalnya gerakan fleksi-ekstensi elbow joint.
d. Isometric adalah dimana panjang otot tidak megalami perubahan namun
ketegangan dalam otot meningkat. Misalnya seperti gerakan mendorong
tembok.
e. Isodynamic merupakan bagian dari concentric, adalah otot menjadi memendek
(sebagian) dan tegangan / beban kerja dalam tonus otot masih sama. Misalnya
memegang dumbbell 2kg dengan posisi fleksi shoulder dan menggerakan
dumbbell sejajar dengan garis horizontal.
f. Allodynamic merupakan bagian dari concentric, adalah otot berkontraksi
memendek dan tonus otot mengalami perbedaan sejak awalan sampai dengan
akhir gerakan. Misalnya mengangkat dumbbell 2kg dengan tangan degan cara
melawan gravitasi.

2. Anatomi Dasar Anggota Gerak Bawah (AGB).


Anatomi pada anggota gerak tubuh bagian bawah meliputi otot dan tulang. Otot-otot
yang berkerja pada olahraga sprint yakni; pada area hip bagian anterior terdapat otot iliacus,
otot psoas major dan otot sartorius. Pada bagian posterior hip terdapat otot gluteal terdiri
dari dua otot yakni gluteus maximus, dan gluteus minimus. Sedangkan pada area knee bagian
anteriornya terdapat otot quardiceps yang terdiri dari rectus femoris, vastus lateralis,
medialis, dan intermedius. Dan bagian posteriornya ada otot hamstring yang terdiri dari
biceps femoris, semimembranosus, dan semitendinosus. Serta yang terakhir pada area ankle,
terdapat dua bagian otot pada area ankle yakni area posterior yang terdiri dari otot
gastrocnemius dan soleus. Dan pada bagian anteriornya terdapat otot tibialis anterior. Lebih
jelasnya terlihat pada gambar dibawah ini.

Gambar.3. (A) Otot-otot pada area hip bagian anterior dan posterior. (B) Otot-otot area knee pada
bagian anterior dan posterior. (C) otot-otot area ankle pada bagian anterior dan posterior
(Putz dan Pabst, 2007).
Sedangkan pada sistem skeletal, AGB terbentuk dari tulang Coxae, Femur, Tibia,
Fibula, Patella, serta talus, calcaneus, tarsal, dan metatarsal. Tulang tersebut membentuk satu
kesatuan yang melibatkan semuanya pada saat berlari. Agar lebih jelas lihat pada gambar
berikut ini.

Gambar.4. komponen skeletal pada Anggota Gerak Bawah AGB (Putz dan Pabst, 2007).
3. Gerakan pada saat berlari pada perlari sprint.
Lari sprint merupakan jenis lari yang dilakukan dengan kecepatan tinggi dan
menempuh jarak pendek (Sidik, 2013). Untuk mencapai kecepatan tinggi saat berlari dalam
jarak yang pendek haruslah mengikuti teknik atau tatacara lari cepat yang baik. Teknik berlari
cepat pada sprint terdapat dua komponen yang mendukung kecepatan rata-ratanya (average
velocity) yakni panjang langkah (stride length) dan frekuensi langkah (stride frequency).
a. Panjang Langkah (Stride length)

Stride length atau panjang langkah merupakan kemampuan kecepatan


individu yang dapat diukur dari seberapa besar jarak yang dihasilkan dalam satu
kali melangkah. Fletcher (2009) membagi tiga fase pada stride length (gambar.3.)
saat berlari pada pelari sprint yang menjadi pendukung hasil average velocity, tiga
fase tersebut yakni : driving phase, support phase, dan flight phase.
1

Gambar.5.Komponen Stride length (1) Support Phase (2) Flight phase dan (3) Drive Phase
(Fletcher, 2009).
Driving phase (gambar.5.3) adalah fase dimana jarak horizontal Center of
Gravity (CoG) tubuh berada didepan kaki saat kaki akan take off. Flight phase
(gambar.5.2) adalah fase dimana jarak horizontal CoG tubuh berada dalam posisi
di udara. Dan yang terakhir support phase (gambar.5.1) adalah fase dimana ujung
kaki yang menapak/menjadi support berada didepan dari jarak horizontal CoG
tubuh (Blazevich, 2007). Kecepatan waktu dalam berlari pada pelari sprint
bergantung dari gerakan proyektil yang dihasilkan saat flight phase atau fase
melayang di udara saat kaki tidak menyentuh tanah, karena hal tersebut
mempengaruhi sebarapa besar jarak yang dihasilkan sehingga efisiensi waktu
lebih sedikit dan menghasilkan jarak yang maksimum. Namun untuk
menghasilkan jarak flight phase yang maksimum maka bergantung dari tiga faktor
penting, yang pertama yakni pengaturan sudut saat take off waktu drive phase,
kedua tahanan udara (air resistance), dan ketiga adalah ketinggian yang

dilepaskan saat take off (height release), sehingga akan menghasilkan momentum
langkah yang panjang. Ketiga faktor tersebut melibatkan komponen flexibility
serta kekuaatan dari otot dan persendian. Pada drive phase di tungkai kanan
(gambar.5.3), area hip terjadi gerakan extension bahkan hyperextension pada
beberapa atlet. Otot yang bekerja pada gerakan hip extension adalah otot Gluteal
(Gluteus Maximus, dan Gluteus Minimus). Dan pada area knee juga dalam posisi
extension otot yang berkerja untuk gerakan extension pada knee adalah Otot
Quardiceps (Rectus Femoris, Vastus Lateralis, Medialis, dan Intermedius).
Sedangkan pada ankle terjadi gerakan plantar flexi yang digerakan oleh otot
Gastrocnemius sehingga menghasilkan CoG tubuh berpindah kedepan menjauhi
ujung kaki saat take off.
Kontraksi otot gastrocnemius pada gerakan plantar flexi mendorong tubuh
ke atas sehingga tungkai tidak menyentuh permukaan tanah (flight phase) lihat
gambar.5.2. dan terjadi fase landing / kaki menyentuh permukaan tanah (support
phase) pada tungkai kirinya (gambar.5.1). Lalu tungkai kanan khususnya pada hip
joint akan terjadi gerakan rotasi kearah depan sampai terjadinya gerakan hip
flexion yang digerakan oleh otot iliacus, otot psoas major dan otot sartorius, dan
pada knee joint akan terjadi gerakan flexi yang digerakan oleh otot hamstring
(biceps femoris, semimembranosus, dan semitendinosus), serta ankle terjadi
gerakan dorsi flexi yang digerakan oleh otot tibialis anterior. Perubahan gerakan
pada tungkai kanan tersebut dinamai recovery phase. Gerakan melangkah yang
berulang-ulang secara bergantian antara tungkai kanan dan kiri saat menumpu
(stance) dan melayang (swing) terjadi dalam hitungan millisecond (ms) saja dan
disebut siklus melangkah (gait cycle), dan hal tersebut merupakan pemeriksaan
mendasar dalam menganalisa pada gerakan melangkah pada tungkai / gait
analysis.
Pada saat sprint, posisi tinggi derajat pada persedian, serta variasi waktu
saat tungkai dalam kondisi menyentuh permukaan tanah (stance) dan melayang di
udara (swing) sangatlah berbeda dengan aktifitas berjalan dan lari biasa.
Novacheck (1998) melakukan review paper untuk meganalisa gerakan melangkah
pada manusia dalam keadaan berjalan, berlari dan sprint. Hasil review paper dari
Novacheck dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar.6. Siklus Melangkah ( gait cycle). (a) gerakan dasar saat berjalan (b) siklus
melangkah saat berjalan : *IC, Initial Contac; LR, Loading Response; *TO, Toe off; MS,
Mid Stance; TS, Terminal Stance; PS, Pre Swing; IS, Initial Sw ing; MS, Mid Swing;
TS, Terminal Swing. (c) Gerakan dasar saat berlari : 1) Stance Phase Absorption, 2)
Stance Phase Generation, 3) Swing Phase Generation, 4) Swing Phase Reversal, dan 5)
Swing
Phase Absorption (d) siklus melangkah saat berlari : *untuk be rlari dan sprint ; IC,
Initial Contac; TO, Toe off; StR, Stance phase Reversal; SwR, Swing Phase Reversal;
Absorption, from SwR Trough IC to StR; Generation, from StR Trough TO to SwR.
(Novacheck, 1998).

Terlihat pada gambar.6.a. IC merupakan gerakan dimana tumit kaki kanan


dan ujung jari kaki kiri menyentuh permukaan tanah. LR merupakan gerakan
dimana telapak kaki kanan menyentuh semua dasar permukaan tanah dan ujung
jari kaki kiri bersiap untuk menjauh dari permukaan tanah. MST merupakan
gerakan dimana telapak kaki kanan masih menyentuh semua dasar permukaan
tanah dan sejajar dengan garis tengah tubuh (CoG) namun ujung jari kaki kiri
tidak menyentuh permukaan tanah. TST merupakan gerakan akhir dari kaki kanan

yang menjadi tumpuan (stance) tubuh, dan bersiap kaki kiri yang menjadi
tumpuan tubuh, yang sebelumnya pada kaki kiri tidak menyentuh permukaan
tanah (swing). PS merupakan gerakan dimana kaki kanan (ujung jari kaki kanan)
bersiap untuk menjauh dari permukaan tanah dan kaki kiri (tumit) menyentuh
permukaan tanah (stance). ISW merupakan gerakan dimana kaki kanan (ujung jari
kaki kanan) sudah tidak menyentuh permukaan tanah dan kaki kiri berada dalm
posisi menumpu sejajar dengan CoG. MSW merupakan gerakan dimana kaki
kanan berada ditengah-tengah antara akan menumpu dan tidak menumpu. Dan
TSW merupakan gerakan terakhir dari kaki kanan dalam keadaan swing lalu
terjadi gerakan IC lagi, dan seterusnya akan begitu sehingga menjadi sebuah
siklus melangkah / gait cycle.
Sedangkan pada berlari dan sprint gerakannya lebih efisien, karena hanya
terdapat 5 gerakan saja (gambar.6.b) sehingga mampu lebih cepat dalam
menempuh jarak yang sama. Hal tersebut dapat dihitung dengan cara berapa lama
waktu yang dibutuhkan saat kaki menumpu permukaan tanah (stance) dan berapa
lama waktu yang dibutuhkan saat kaki tidak menumpu dengan permukaan tanah
(swing) lihat pada gambar.7 dibawah ini.

Gambar.7. Tolak ukur kecepatan dari gerakan antara berjalan, berlari


dan sprint dalam Gait Cycle (Novacheck, 1998).
Gambar.7. menjelaskan bahwa dalam waktu 2.0 detik berjalan hanya
mampu menghasilkan 1.2 meter, berlari menghasilkan 3.2 meter dalam 1.3 detik,

sprint menghasilkan jarak tempuh sekitar 3.9 meter dalam waktu 1.2 detik bahkan
pelari sprint yang sudah terlatih mampu menghasilkan jarak tempuh sekitar 9.0
meter dalam waktu 1.1 detik saja. Hal tersebut dikarenakan proses gait cycle pada
berjalan membutuhkan proses yang lebih lama pada saat menumpu (stance) yaitu
sekitar 62% untuk kaki kanan dan kirinya. Dan saat swing nya relative lebih cepat
yakni sekitar 38% dari gait cycle. berbeda pada berlari dan sprint yang hanya
membutuhkan proses stance pada gait cycle nya sekitar 39%, 36% dan 20% dan
proses swing pada gait cycle nya lebih lama yakni sekitar 61%, 64% dan 80%.
Sehingga demikian untuk meningkatkan jarak tempuh yang lebih jauh proses
stance pada gait cycle dapat dipercepat.
Selain perbedaan jarak tempuh dan waktu antara berjalan, berlari dan
sprint terdapat perbedaan posisi tinggi derajat pada persedian hip, knee, dan ankle
joint. Perbedaan posisi tinggi terjadi pada gerakan flexion dan extension pada hip,
knee, dan ankle. Pada saat berjalan tinggi derajat hip flexion sekitar 35 dan hip
extension sekitar 5-7. Pada berlari derajat hip flexion sekitar 55 dan hip
extension sekitar 7-10. Sedangkan pada sprint derajat pada hip flexion sekitar
65 dan hip extension sekitar 10 bahkan cendrung hyperextension (gambar.8) dan
pada area knee joint, pada saat berjalan tingkat derajat yang di hasilkan pada knee
flexion sekitar 60 dan saat extension sekitar 15. Pada saat berlari meningkat
menjadi 90 pada knee flexion dan knee extension sekitar 25. Sedangkan pada
saat sprint terjadi peningkatan lagi sekitar 110 pada knee flexion dan extension
lebih rendah dibandingkan saat berlari yakni sekitar 20 (gambar.8). Lain hal pada
area ankle joint yang terjadi gerakan dorsi flexion dan plantar flexion, terdapat
nilai 10 pada saat dorsi flexion dan plantar flexion sekitar -10 pada saat
berjalan. dan terjadi perubahan saat dalam kondisi berlari pada dorsi flexion
terdapat nilai 30 dan plantar flexion -20. Dan yang terakhir pada saat kondisi
sprint dorsi flexion mengalami efisiensi gerakan yakni sekitar 20 saja.
Dan saat plantar flexion juga terjadi efisiensi gerakan dengan hasil 15
(gambar.8).

Gambar.8. Perbedaan tinggi derajat saat berjalan, berlari, dan

sprint

pada hip joint, knee joint, dan ankle joint movement. (Novacheck, 1998).
b. Frekuensi langkah (stride frequency).
Selain panjang langkah (stride length) pada pelari sprint, frekuensi
langkah (stride frequency) dari pelari sprint juga mempengaruhi faktor kecepatan
rata-rata (velocity average). Frekuensi langkah adalah jumlah langkah yang dibuat
pelari dalam waktu tertentu, yang ditentukan oleh seberapa lama waktu tempuh
untuk menyelesaikan satu langkah, semakin lama waktu perputaran kaki untuk
menghasilkan langkah maka semakin sedikit langkah yang dibuat dalam waktu
tertentu, dan sebaliknya. Kecepatan berlari yang efisien, memerlukan gerakan
yang lebih efisien juga. Perputaran langkah tungkai (gait cycle) sangat berkaitan
dengan frekuensi langkah (stride frequency) saat berlari pada pelari sprint, karena
keduanya berpatokan dengan waktu. Semakin pelari tersebut melangkah dengan
cepat maka proses stance dan proses swing juga akan menjadi lebih cepat (lihat
gambar.7). Mudahnya akan saya jelaskan dalam contoh terkait stride length dan
stride frequency sebagai berikut :

Rumus :V= SL x SF

V = Velocity / kecepatan.
SL = Stride Length.
SF = Stride Frequency.
Gambar.9. Rumus Kecepatan Rata-Rata / Velocity Average.
Jika panjang langkah (stride length) pada pelari sprint A dapat
menghasilkan 2,5 meter dalam sekali langkah dan dia mampu melakukan 2 kali
melangkah (stride frequency) dalam 1 detiknya maka akan menghasilkan 5 meter.
Dan pelari sprint B dapat menghasilkan 2 meter dalam sekali langkah dan dia
hanya mampu 2 kali melangkah persatu detiknya, maka jika ditotal pelari sprint B
hanya bisa menghasilkan 4 meter dalam 1 detiknya. Dari perumpamaan tersebut
pelari sprint B mendapat selisih 1 meter dari pelari sprint A maka untuk
menyamakan atau untuk mengalahkan pelari sprint A, pelari sprint B harus
meningkatkan frekuensi langkahnya sekitar 3 kali atau 4 kali melangkah dalam 1
detiknya agar mampu meningkatkan jarak tempuh dalam waktu yang sama.
Sehingga pelari sprint B menghasilkan kecepatan 6m/d bahkan 8m/d dan jauh
lebih cepat dibandingkan pelari sprint A.
4. Analisis Jenis Kontraksi otot pada gerakan pelari sprint.
Setelah beberapa penjelasan dari paragraph sebelumnya mengenai fisiologi otot,
beberapa fase dalam sprint, perbandingan pelari sprint dengan aktifitas berlari biasa dan
berjalan, serta membahas bagaimana cara meningkatkan kecepatan rata-rata dengan cara
meningkatkan frekuensi langkah dalam sprint, maka perlu kita ketahui jenis kontraksi otot
yang seperti apa yang dipakai pada tiap fase atau gerakan pada pelari sprint saat berlari.
Karena sudah tentu dari perbedaan gerakan yang dihasilkan akan menghasilkan jenis
kontraksi otot yang berbeda pula. Nanti disini akan dijelaskan jenis kontraksi otot tiap
gerakan yang dianalisa dari beberapa bagian komponen tubuh yakni Anggota Gerak Atas
(AGA) dan Anggota Gerak Bawah (AGB).
Pada gambar.5 yakni support phase, flight phase dan drive phase merupakan gerakan
pada pelari sprint maka bisa terlihat jelas otot-otot yang berkerja mulai dari leher yang
mempertahankan posisi kepala, otot perut, dan punggung yang mempertahankan badan dan
otot-otot lengan dan tungkai yang terus bergerak secara bergantian antara kanan dan kiri.

Tipe kontraksi otot dapat dikelompokan dan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel.1. Analisa Jenis Kontraksi Otot pada Gerakan Pelari Sprinter.
Bagian Tubuh

Jenis Kontraksi
Iso
tonik

Iso
Metric

Konse
ntrik

eksen
trik

Kepala

Badan

AGA

Lengan

Isoki
netik

Isodi
namik

Alodi
namik

Atas
Lengan
Bawah
Tangan

Jari

Tangan
AGB

Tungkai

Kaki

Jari Kaki

Atas
Tungkai
Bawah

Terlihat pada tabel.1 diatas terlihat banyak terjadi kontraksi otot pada jenis kontraksi
isotonic, konsentrik, dan eksentrik pada tungkai atas, bawah, kaki dan jari kaki merupakan
yang terbanyak dari jenis kontraksi otot tersebut. Kemudian jenis kontraksi alodinamik pada
otot-otot yang berada di tungkai atas, bawah sampai dengan jari kaki menjadi dominan di
AGB, hal tersebut dikarenakan effort pada AGB untuk menghasilkan gerakan dan gaya lebih
besar dibandingkan AGA yang hanya dominan terjadi jenis kontraksi isodinamik pada
otototot lengan atas, bawah, tangan serta jari-jari.

RINGKASAN
Pada pelari sprinter terlihat bahwa terdapat semua jenis kontraksi otot pada tiap
gerakannya, baik kontraksi otot secara group maupun individu otot. Analisa ini diharapkan
mampu menjadi sumber bahasan tentang dasar fisiologis otot yang terdiri dari jenis serabut otot,
mekanisme kontraksi otot, tipe kontraksi pada otot rangka dan mengetahui dasar dari struktur
anatomi serta perbandingan kecepatan yang dihasilkan dari berjalan, berlari dan sprint. Dan juga
menjadi gambaran umum untuk memberikan teknik latihan yang baik bagi pelari sprint untuk
meningkatkan performa kecepatannya. Teknik latihan yang baik untuk pelari sprint dapat dilihat
di video ini. Dengan demikian para pelatih ataupun fisioterapis mampu menganalisis dan
memberikan dosis latihan yang baik pada atlet, calon atlet pelari sprint.

DAFTAR PUSTAKA
Blazevich, Anthony. 2007. Sports Biomechanics The Basics Optimising Human
Performance. A&C Black Publishers Ltd. London.
Fletcher, Iain. 2009. Biomechanical aspects of sprint running. UKSCA, Issue 16
Ganong, William F. 2003. Review Medial Physiology edition twenty-first. Mc Graw Hill.
United State of America.
Gollnick, P. D., et al. "Enzyme activity and fiber composition in skeletal muscle of
untrained and trained men." Enzyme (1972).
Morgan, T.E., et al. Effect long-term exercise on human muscle mitochondria. In
muscle Metabolism During Exercise. New York : Plenum, 1971, p. 87-95.
Newell, KM. 1990. Kinesiology: The Label for the Sudy of Physical Activity in Higher
Education. Quest, 1990, 42, 269-278
Novacheck, Tom F. 1998. Review Paper The Biomechanics of Running. Gait and Posture
7 (1998) 77-95
Putz, Reindhard dan Pabst, Reinhard. 2006. Atlas Anatomi Manusia Sobota. Edisi 22.
Penerbit Buku Kedokteran, ECG,Jakarta.
Sherwood, Lauralee. 2009. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem edisi 6. EGC. Jakarta.
Sidik, Dikdik Zafar. 2013. Mengajar dan Melatih Atletik. Rosda. Bandung