Anda di halaman 1dari 17

MMD / MUSYAWARAH MASYARAKAT DESA keperawatan komunitas

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Komunitas adalah kelompok sosial yang tinggal dalam suatu tempat, saling
berinteraksi satu sama lain, saling mengenal serta mempunyai minat dan interest
yang sama (WHO). Komunitas adalah kelompok dari masyarakat yang tinggal di
suatu lokasi yang sama dengan dibawah pemerintahan yang sama, area atau lokasi
yang sama dimana mereka tinggal, kelompok sosial yang mempunyai interest yang
sama (Riyadi, 2007). Dalam rangka mewujudkan kesehatan masyarakat yang
optimal maka dibutuhkan perawatan kesehatan masyarakat, dimana perawatan
kesehatan masyarakat itu sendiri adalah bidang keperawatan yang merupakan
perpaduan antara kesehatan masyarakat dan perawatan yang didukung peran serta
masyarakat dan mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara
berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara
menyeluruh, melalui proses keperawatan untuk meningkatkan fungsi kehidupan
manusia secara optimal sehingga mandiri dalam upaya kesehatan. Peningkatan
peran serta masyarakat bertujuan meningkatkan dukungan masyarakat dalam
berbagai upaya kesehatan serta mendorong kemandirian dalam memecahkan
masalah kesehatan.

Peran serta masyarakat diperlukan dalam hal perorangan. Komunitas sebagai


subyek dan obyek diharapkan masyarakat mampu mengenal, mengambil
keputusan dalam menjaga kesehatannya. Sebagian akhir tujuan pelayanan
kesehatan utama diharapkan masyarakat mampu secara mandiri menjaga dan
meningkatkan status kesehatan masyarakat (Mubarak, 2005).

B.

Rumusan Masalah

1.

Apa yang dimaksud dengan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)?

2.

Bagaimana intervensi pada asuhan keperawatan komunitas?

3.

Bagaimana implementasi pada asuhan keperawatan komunitas?

4.

C.

Bagaimana evaluasi tindakan keperawatan komunitas?

Tujuan

1.

Untuk mengetahui penjelasan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD).

2.

Untuk mengetahui intervensi pada asuhan keperawatan komunitas.

3.

Untuk mengetahui implementasi pada asuhan keperawatan komunitas.

4.

Untuk mengetahui evaluasi tindakan keperawatan komunitas

BAB II
PEMBAHASAN

A.

MUSYAWARAH MASYARAKAT DESA (MMD)

Musyawarah masyarakat desa (MMD) adalah pertemuan seluruh warga desa untuk
membahas hasil survey Mawas Diri dan merencanakan penanggulangan masalah
kesehatan yang diperoleh dari survey mawas diri (Depkes RI, 2007). Tujuan dari
MMD ini adalah sebagai berikut:
a.
b.

Masyarakat mengenal masalah kesehatan di wilayahnya.


Masyarakat sepakat untuk menanggulangi masalah kesehatan.

c.
Masyarakat menyusun rencana rencana kerja untuk menanggulangi masalah
kesehatan.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan MMD adalah sebagai
berikut :
a.
Musyawarah Masyarakat desa harus dihadiri oleh pemuka masyarakat desa,
petugas puskesmas, dan sector terkaitdi kecamatan, (seksi pemerintahan dan
pembangunan, BKKBN, pertanian, agama, dan lain-lain).

b.
Musyawarah Masyarakat desa dilaksanakan dibalai desa atau tempat
pertemuan lainnya yang ada didesa.
c.

Musyawarah Masyarakat desa dilaksanakan segera setelah SMD dilakukan.

Cara melakukan Musyawarah Masyarakat desa adalah sebagai berikut :


a.
Pembukaan dengan menguraikan maksud dan tujuan MMD dipimpin oleh
kepala Desa.
b.
Pengenalan maslah kesehatan oleh masyarakat sendiri melalui curah
pendapat dengan mempergunakan alat peraga, poster, dan lain-lain dengan
dipimpin oleh ibu desa.
c.

Penyajian hasil SMD oleh kelompok SMD

d.
Perumusan dan penentuan prioritas maslah kesehatan atas dasar pengenalan
masalah dan hasil SMD,dilanjutkan dengan rekomendasi teknis dari petugas
kesehatandi desa atau perawat komunitas.
e.
Penyusunan rencanapenanggulangan masalah kesehatan dengan dipimpin
oleh kepala desa.
f.

Penutup.

(Ferry Efendi, 2009)

B.

PERENCANAAN

Tahap kedua dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan apa yang
harus dilakukan untuk membantu sasaran dalam upaya promotif, preventif, kuratif,
rehabilitative. Langkah pertama dalam tahap perencanaan adalah menetapkan
tujuan dan sasaran kegiatan untuk mengatasi masalah yang telah ditetapkan sesuai
dengan diagnosis keperawatan . Dalam menentukan tahap berikutnya yaitu rencana
pelaksanaan kegiatan untuk mengatasi masalah yang telah ditetapkan sesuai
dengan diagnosis keperawatan . Dalam menentukan tahap berikutnya yaitu rencana
pelaksanaan kegiatan maka ada dua factor yang mempengaruhi dan
dipertimbangkan dalam menyusun rencana tersebut yaitu sifat masalah dan
sumber/potensi masyarakat seperti dana, sarana, tenaga yang tersedia. Dalam
pelaksanaan pengembangan masyarakat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut
:
a.

Tahap Persiapan

Dengan dilakukan pemilihan daerah yang menjadi prioritas menentukan cara untuk
berhubungan dengan masyarakat, mempelajari dan bekerjasama dengan
masyarakat
b.

Tahap Pengorganisasian

dengan persiapan pembentukan kelompok kerja kesehatan untuk menumbuhkan


kepedulian terhadap kesehatan dalam masyarakat . kelompok kerja kesehatam
(pokjakes) adalah suatu wadah kegiatan yang dibentuk oleh masyarakat secara
bergotong royong untuk menolong diri mereka sendiri dalam mengenal dan
memecahkan masalah atau kebutuhan kesehatan dan kesejahteraan, meningkatkan
kemampun masyarakat berperan serta dalam pembangunan kesehatan di
wilayahnya.
c.

Tahap Pendidikan Dan Pelatuhan

Kegiatan pertemuan teratur dengan kelompok masyarakat

Melakukan pengkajian

Membuat program berdasarkan masalah atau diagnose keperawatan

Melatih kader

Keperawatan langsung terhadap individu , keluarga dan masyarakat

d.
e.
f.

Tahap Formasi Kepemimpinan


Tahap Koordinasi Intersektoral
Tahap Akhir

Dengan melakukan supervise atau kunjungan bertahap untuk mengevaluasi serta


memberikan umpan balik untuk perbakan kegiatan kelompok kerja kesehatan lebih
lanjut
Untuk lebih singkatnya perencanaan dapat diperoleh dengan tahapan sebagai
berikut :

Pendidikan kesehatan tentang gangguan nutrisi

Demonstrasi pebgolahan dan pemilihan makanan yang baik

Melakukan deteksi dini tanda-anda gangguan kurang gizi melalui


pemeriksaan fisik dan laboratorium

Bekerjasama dengan aparat pemda setempat untuk mengamankan


lingkungan atau komunitas bila stressor dari lingkungan

Rujukan kerumah sakit bila diperlukan

(Fallen. R & R. Budi Dwi K, 2010)

Tahap setelah merumuskan diagnosis keperawatan komunitas adalah melakukan


perencanaan. Perencanaan diawali dengan merumuskan tujuan yang ingin dicapai
serta rencana tindakan untuk mengatasi masalah yang ada. Tujuan dirumuskan
untuk mengatasi atau meminimalkan stresor dan intervensi dirancang berdasarkan
tiga tingkat pencegahan. Pencegahan primer untuk memperkuat garis pertahanan
fleksibel, pencegahan sekunder untuk memperkuat pencegahan normal,
pencegahan tersier untuk memperkuat garis pertahanan resisten.

Tujuan terdiri atas tujuan pendek dan tujuan panjang. Penetapan tujuan jangka
panjang (tujuan umum/TUM) mengacu pada bagaimana mengatasi
problem/masalah (P) dikomunitas, sedangkan penetapan tujuan jangka pendek
(tujuan khusus/TUK) mengacu pada bagaimana mengatasi etiologi (E). Tujuan
jangka pendek harus SMART ( S=Spesifik, M = Measurable/ dapat diukur, A=
Achievable/ dapat dicapai, R=Reality, T=Time limited/punya limit waktu). Contoh
penetapan tujuan tertera dalam contoh berikut :
Diagnosis
keperawatan
komunitas

TUM

TUK

Resiko meningkatnya
kejadian infertilitas pada
agregat remaja putri di
wilayah........
berhubungan dengan
tingginya kejadian
gangguan organ
reproduksi remaja dan
kurangnya kebiasaan
perawatan organ remaja

Tidak terjadi infertilitas


pada agregat remaja
putri di ....

1)
Pengetahuan
remaja terkait kesehatan
reproduksi meningkat
dari ...% menjadi ...%
2)
Menurunnya jumlah
siswi yang mengalami
keputihan dari ...%
menjadi ..%
3)
Terjadi peningkatan
perilaku remaja terkait
kebiasaan perawatan
organ reproduksi seharihari dari ...% menjadi ...%
4)
Remaja sudah
memanfaatkan layanan
UKS untuk membantu

mengatasi masalah
remaja
Tingginya angka TB di
wilayah ... yang
berhubungan dengan
tidak adekuatnya
pengunaan fasilitas
pelayanan kesehatan
untuk menanggulangan
TB dan keterbatasan
kualitas sarana
pelayanan TB

Meningkatnya
kemandirian masyarakat
di... dalam menolong
dirinya sendiri agar
terhindar dari
penyebaran TB

1)
Terjadi peningkat
pengetahuan keluarga
tentang penanggulangan
TB dari ...% menjadi ...%
2)
Peningkatan
kualitas sarana
kesehatan untuk
penanggulangan TB
3)
Penemuan kasus TB
secara mandiri oleh
masyarakat.

Rencana kegiatan yang akan dilakukan bersama masyarakat dijabarkan secara


operasional dalam planning of action (POA) yang disusun dan disepakati bersama
masyarakat saat MMD atau lokakarya mini masyarakat. POA disusun dalam bentuk
matrik.

Diagnosis
keperawatan
komunitas

TUM

TUK

Rencana kegiatan

Evaluasi

Tingginya angka
TB di wilayah ....
yang
berhubungan
dengan tidak
adekuatnya
penggunaan
fasilitas layanan
kesehatan untuk
penanggulangan
TB dan
keterbatasan
kualitas sarana
pelayanan Tb

Meningkatnya
kemandirian
masyarakat di....
dalam menolong
diri sendiri agar
terhindar dari
penyebaran TB

Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan
selama satu
bulan, diharapkan
:

1)
Beri
penyuluhan tentang
TB dan
perawatannya.

Kriteria
evaluasi :
pengetahuan
masyrakat
tentang TB
meningkat .

1)
Terjadi
peningkatan
pengetahuan
keluarga tentang
penanganan TB
dari ..%
menjadi ...%
2)
Terjadi
peningkatan

2)
Ajarkan
masyarakat
keterampilan dalam
menangani gejala
TB, melakukan
tindakan
pencegahan
penularan TB.
3)
Deteksi kasus
TB dimasyarakat

Standar Evaluas
:

1) 70% keluarga
mampu
menyebutkan
pengertian,
tanda/gejala.

kualitas sarana
kesehatan untuk
penanggulangan
TB
3)
Penemuan
kasus TB secara
mandiri oleh
masyarakat

melalui skrining.
4)
Bagikan leaflet
setelah penyuluhan
TB
5)
Lakukan
pebinaan kader
dalam kemampuan
penemuan kasus dan
penanganan TB
6)
Lakukan kerja
sama dengan
institusi pendidikan
formal dan informal
untuk melaksanakan
program terkait
pencegahan dan
penanggulangan TB

Dan penyebab
TB

2) 75% keluarga
mampu
melakukan
tindakan
pencegahan TB
3) 75% kadeer
mampu
menemukan
kasus Tb dan
melakukan
penanganan TB

Planning of action

Masalah
keperawatan

Tujuan

Resiko
meningkatnya
kejadian
infertilitas
pada agregat
remaja putri
di wilayah....

TUM :

kegiatan

sasaran

waktu

tempat

1)
Melakukan
pendidikan kesehatan
reproduksi kepada
remaja terkait materi
kesehatan reproduksi
dan pemeliharaannya

Remaja
di RW

Minggu
pertama

Balai
warga

Guru BP
sekolah

Minggu
kedua

Sekolah

Kader di

Minggu ke

RW ...

1)
Tidak terjadi
gangguan infertilitas
pada agregat remaja
putri di wilayah..

TUK :
1) Pengetahuan remaja
terkait kesehatan
reproduksi meningkat
dari ...% menjadi ...%
2) Jumlah siswa yang
mengalami keputihan
menurun dari ..%
menjadi ..%
3) Perilaku remaja
terkait kebiasaan
perawata organ
reproduksi sehari-hari
meningkat dari ...%
menjadi ...%

Resiko
meningkatnya
kasus TB di

2)
Bekerja sama
dengan guru BP dalam
memberikan materi
kesehatan reproduksi

TUK :
1)
Pengetahuan
kader tentang

Pelatihan dan

wilayah....

pengertian, penyebab,
tanda dan gejala,
akibat dan
penanggulangan TB
meningkat dari ...%
menjadi ...%

(Henny Achjar, Komang Ayu, 2012)

penyegaran kader

RW

empat

C.

IMPLEMENTASI

Perawat bertanggung jawab untuk melaksanakan tindakan yang telah direncanakan


yang sifatnya :
a.
Bantuan dalam upaya mengatasi masalah-masalah kurang nutrisi,
mempertahankan kondisi seimbang atau sehat dan meningkatkan kesehatan
b.

Mendidik komunitasi tentang perilaku sehat untuk mencegah kurang gizi

c.
Sebagai advocate komunitas, untuk sekaligus memfasilitasi terpenuhinya
kebutuhan komunitas.
Pada kegiatan praktik keperawatan komunitas focus pada tingkat pencegahan, yaitu
:
a.
Pencegahan primer, yaitu pencegahan sebelum sakit dan difokuskan pada
populasi sehat, mencakup pada kegiatan kesehatan secara umum serta
perlindungan khusus terhadap penyakit, contoh: imunisasi, penyuluhan, gizi,
simulasi dan bimbingan dini dalam kesehatan keluarga
b.
Pencegahan sekunder, yaitu kegiatan yang dilakukan pada saat terjadinya
perubahan derajat kesehatan masyarakat dan ditemukan masalah kesehatan.
Pencegahan sekunder ii menekankan pada diagnose dini dan tindakan untik
enghambat proses penyakit. Contoh : mengkaji keterbelakangan tumbuh kembang
anak, memotivasi keluarga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan seperti mata,
gigi, telinga, dan lain-lain.
c.
Pencegahan tertier yaitu kegiatan yang menekankan pengembalian individu
pada tingkat berfungsinya secara optimal dari ketidakmampuan keluarga. Contoh:
membantu keluarga yang mempunyai anak dengan resiko gangguan kurang gizi
untuk melakukan pemeriksaan secara teratur ke posyandu .
(Fallen. R & R. Budi Dwi K, 2010)

Implementasi merupakan langkah yang dilakukan setelah perencanaan program.


Program dibuat untuk menciptakan keinginan berubah masyarakat. Seringkali,
perencanaan program yang sudah dibuat baik tidak diikuti dengan waktu yang
cukup untuk merencanakan implementasi melibatkanaktivitas tertentu sehingga
program yang ada dapat dilaksanakan, diterima dan direvisi jika tidak berjalan.
Implementasi keperawatan dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan
komunitas menggunakan strategi proses kelompok, pendidikan kesehatan
kemitraan (partnership), dan pemberdayaan masyarakat (empowerment). Perawat

komunitas menggali dan meningkatkan potensi komunitas untuk dapat mandiri


dalam memelihara kesehatannya.

Tujuan akhir setiap program di masyarakat adalah melakukan perubahan


masyarakat. Program dibuat untuk menciptakan keinginan berubah dari anggota
masyarakat. Perubahan nilai dan norma dimasyarakat dapat disebabkan oleh faktor
eksternal, seperti adanya undang-undang, situasi politik, dan kejadian kritis
eksternal masyarakat. Dukungan eksternal ini juga dapat dijadikan daya pendorong
bagi tindakan kelompok untuk melakukan perubahan perilaku masyarakat.
Organisasi eksternal dapat menggunakan model social planning dan localing
development untuk melakukan perubahan, menggalakan kemitraan dengan
memanfaatkan sumber daya internal dan sumber daya eksternal.

Perawat komunitas harus memiliki pengetahuan yang memadai agar dpaat


memfasilitasi perubahan dengan baik, termasuk pengetahuan tentang teori dan
model berubah. Perubahan yang terjadi dimasyarakat sebaiknya dimulai dari
tingkat individu, keluarga, masyarakat, dan sistem di masyarakat. Ada beberapa
model berubah (Erwin, 2002) yaitu :

1.

Model berubah Kurt Lewin

Proses berubah terjadi pada saat individu, keluarga dan komunitas tidak lagi
nyaman dengan kondisi yang ada. Model ini terdiri dari :
a.
Unfreezing, bila ada perasaan butuh untuk berubah baru implementasi
dilakukan dnegan tujuan membantu komunitas menjadi siap untuk melakukan
perubahan.
b.

Change, yaitu intervensi mulai diperkenalkan kepada kelompok.

c.
Refreezing, meliputi bagaimana membuat suatu program menjadi stabil,
melalui pemantauan dan evalausi.
Contoh : pada kasus flu burung, saat unfreezing berubah menjadi refreezing,
perawat komunitas perlu mempertahankan kondisi yang ada dengan melakukan
kemitraan tentang bagaimana kebiasaan masyarakat yang sudah bagus dapat
dipertahankan dan kebiasaan masyarakat yang kurang mendukung kesehatan tidak
lagi terjadi, seperti kebiasaan tidak menuci tangan dan sebaginya.

2.

Strategi berubah Chin & Benne

Strategi berubab ini sangat cocok digunakan oleh perawat komunitas dalam
mengkaji status individu, kelompok, dan amsyarakat dalam membuat keputusan
untuk berubah. Strategi ini merupakan strategi untuk melakukan perubahan di
komunitas, bukan tahap proses berubah. Menurut model ini, untuk melakukan
perubahan diperlukan strategi perubahan, yaitu :
a.
Rational Empiris, dikatakan bahwa untuk melakukan perubahan di komunitas,
perlu terdapat fakta dan pertimbangan tentang seberapa bear keuntungan yang
diperoleh dengan adanyaperubahan tersebut. Contoh : adanya kebiasaan merokok
yang banyak terjadi di masyarakat, terutama remaja, diperlukan peran perawat
komunitas utnuk memfasilitasi perubahan dengan memberikan promosi kesehatan
bahaya merokok melalui media, seperti poster, leaflet, modul data kejadian
kesakitan dan kematian akibat merokok atau mengajak melihat langsung kondisi
korban akibat rokok. Dnegan adanya fakta, diharapkan terjadi perubahan pada
individu.
b.
Normative reedukatif, yaitu ertimbangan tentang keselarasan perubahan
dengan norma yang ada dimasyarakat.
c.
Power coercive yaitu strategi perubahan yang menggunakan sanksi baik
poltik maupun sanksi ekonomi. Misalnya sanksi terhadap perokok yang merokok
ditempat umum berupa denda atau kurungan.

3.

First order and second order change

Menurut model ini, first order bertujuan mengubah substansi atau isi di dalam
sistem, sedangkan pada second order, perubahan ditujukan pada sistemnya.
Contoh :
Adanya risiko pergaulan bebas yang saat ini marak di kalangan remaja, perawat
komunitas perlu mengubah substansi yang ada dalam system (first order), seperti
membentuk dan melatih kader kesehatan remaja (KKR) di sekolah dan di
masyarakat, melakukan promosi kesehatan kepada sisa, guru, orang tua, dan
masyarakat, melakukan dukungan lintas-sektor dan lintas-program kepada aparat
terkait program melalui jaringan kemitraan, dsb. Selain itu, diperlukan juga
perubahan pada sistem (second order) termasuk fasilitas yang ada, seperti
penyediaan klinik remaja, revitalisasi UKS di sekolah , kebijakan pemerintah terkait
remaja, dan sebaganya.
Mengukur adanya perubahan masyarakat pada tingkat individu, dapat diketahui
dari tingkat kesadaran individu terhadap perubahan, bagaimana individu mengerti
tentang masalah yang dihadapi, tingkat partisipasi individu, dan adanya perubahan
dalam bentuk tingkah laku yang ditampilkan. Adanya role model yang ada di

masyarakat dapat dijadikan pendorong untuk mengubah norma dan praktik individu
dalam perubahan masyarakat.
Pada tingkat masyarakat, perubahan lebih difokuskan pada kelompok dan
organisasi, termasuk adanya perubahan kebijakan yang berhubungan dengan
masalah yang terjadi di masyarakat, adanya dukungan dan partisipasi dalam
kegiatan masyarakat serta aktivitas lain yang dapat dievaluasi melalui
perkembangan koalisi, partisipasi masyarakat dalam dukungan untuk mencapai
tujuan, dan perubahan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
Setiap akan melakukan kegiatan di masyarakat/implementasi program, sebaiknya
dibuat dahulu laporan pendahuluan (LP) kegiatan asuhan keperawatan komunitas,
yang meliputi :
1.
Latar belakang, yang berisikriteria komunitas, data yang perlu dikaji lebih
lanjut terkait implementasi yang akan dilakukan, dan masalah keperawatan
komunitas yang terkait dengan implementasi saat ini.
2.
Proses keperawatan komunitas, yang berisii diagnosis keperawatan
komunitas, tujuan umum, dan tujuan khusus
3.
Implementasi tindakan keperawatan yang berisi, metode, strategi kegiatan,
metode, dan alat bantu yang dipergunakan, waktu dan tempat pelaksanaan
kegiatan, pengorganisasian petugas kesehatan beserta tugas, susunan acara,
setting tempat acara.
4.
Kriteria evaluasi, yang berisi evaluasi struktur, evaluasi proses, dan evaluasi
hasil dengan menyebutkan target presentase pencapaian hasil yang diinginkan.

Pelaksanaan kegiatan puskesmas, dilakukan berdasarkan POA perkesmas yang


telah disusun. Pemantauan kegiatan perkesmas secara berkala dilaksanakan oleh
Kepala Puskesmas dan koordinator perkesmasdengan melakukan diskusi tentang
permasalahan yang dihadapi terkait pelaksanaan perkesmas serta melakukan
penilaian setiap akhir tahun dengan membandingkan hasil pelaksanaan kegiatan
dengan rencana yang telah disusun. Pembahasan masalah perkesmas dapat
dilakukan dengan cara mengadakan :
1.

Lokakarya Mini Bulanan

Lokakarya mini bulanan dilakukan setiap bulan di puskesmas, dihadiri oleh staf
puskesmas dan unit penunjangnya untuk membahas kinerja internal puskesmas
termasuk cakupan, mutu, pembiayaan, masalah, dan hambatan yang ditemui
termasuk pelaksanaan perkesmas dan kaitannya dengan masalah lintas program
lainnya.

2.

Lokakarya Mini Tribulanan

Lokakarya Mini Tribulanan dilakukan setiap 3 bulan sekali, dipimpin oleh camat dan
dihadiri oleh staf puskesmas dan unit penunjangnya, instansi lintas-sector tingkat
kecamatan untuk membahas masalah dalam pelaksanaan puskesmas termasuk
perkesmas terkait dengan lintas-sektor dan permasalahan yang terjadi untuk
mendapatkan penyelesaiannya.
3.

Refleksi Diskusi Kasus (RDK)

Refleksi Diskusi Kasus (RDK) merupakan metode yang digunakan dalam


merefleksikan pengalaman dalam satu kelompok diskusi untuk berbagai
pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan atas standar yang berlaku. Proses
diskusi ini memberikan ruang dan waktu bagi peserta diskusi untuk merefleksikan
pengalaman masing-masing serta kemampuannya tanpa tekanan kelompok,
terkondisi, setiap peserta saling mendukung, memberi kesempatan belajar
terutama bagi peserta yang tidak terbiasa dan kurang percaya diri dalam
menyampaikan pendapat (WHO, 2003). RDK dilakuakan minimal seminggu sekali,
dihadiri oleh perawat perkesmas di puskesmas untuk membahas masalah teknis
perkesmas dalam pemberian asuhan keperawatan komunitas kepada
individu/keluarga / kelompok dan masyarakat agar pemahaman dan keterampilan
perawat komunitas lebih meningkat. Adapun persyaratan metode RDK adalah :
a.

Kelompok terdiri atas 5-8 orang

b.
Salah satu anggota kelompok berperan sebagai penyaji, dan sisanya sebagai
peserta
c.

Posisi fasilitator, penyaji , dan peserta lain dalam diskusi setara (equal)

d.
KAsus yangdisajikan oleh penyaji merupakan pengalaman yang terkait asuhan
keperawatan di komunitas yang menarik untuk dibahas dan didiskusikan, perlu
penanganan dan pemecahan masalah.
e.
Posisi duduk sebaiknya melngkar tanpa dibatasi oleh meja atau benda lainnya
agar setiap peserta dapat saling bertatapan dan berkomunikasi secara bebas
f.
Tidak boleh ada interupsi dan hanya satu orang saja yang berbicara dalam
satu saat, pesrta lainnya memperhatikan dan mendengarkan.
g.
Tidak diperkenankan ada dominasi, kritik yang dapat mmojokkan peserta
lainnya.
h.
Peserta berbagi (sharing ) pengalaman selama 1 jam dan dilakukan secara
rutin.
i.
Setiap anggota secara bergiliran mendapatkan kesempatann sebagai
fasilitator, penyaji, dan anggota peserta diskusi.

j.
Selama diskusi diusahakan agar tidak ada peserta yang tertekan / terpojok.
Yang diharapkan justru dorongan dan dukungan dari setiap peserta agar terbiasa
menyampaikan pendapat mereka masing-masing.
(Henny Achjar, Komang Ayu, 2012)
D.

EVALUASI

Evaluasi merupakan tahap akhir proses keperawatan. Evaluasi merupakan


sekumpulan informasi yang sistematik berkenaan dengan program kerja dan
efektifitas dari serangkaian program yang digunakan masyarakat terkait program
kegiatan, karakteristik, dan hasil yang telah dicapai ( Patton, 1986 dalam Helvie
1998). Program evaluasi dilakukan untuk memberikan informasi kepada perencana
program dan pengambil kebijakan entang efektivitas dan efisiensi program.
Evaluasi merupakan sekumpulan metode dan keterampilan untuk menentukan
apakah program sudah sesuai dengan rencana dan tuntutan masyarakat. Evaluasi
diguanakan untuk mengetahui seberapa tujuan yang ditetapkan telah tercapai dan
apakah intervensi yang dilakukan efektif untuk masyarakta setempat sesuai dengan
psiyuasi dan kondisi masyarakat, apakah sesuai dengan rencana atau apakah dapat
mengatasi masalah masyarakat. Evaluasi ditujukan untuk menjawab apa yang
menjadi kebutuhan masyarakat dan program apa yang dibutuhkan masyarakat,
apakah media yang digunakan tepat, ada tidaknya program perencanaan yang
dapat diimplementasikan, apakah program dapat menjangkau masyarakat , siapa
yang menjadi target sasaran program, apakah program yang dilakukan dapat
memenuhi kebutuhan masyarakat. Evaluasi juga bertujuan mnegidentifikasi
masalah dalam perkembangan program dan penyelesaiannya. Program evaliasi
dilaksanakan untuk memastikan apakah hasil program sudah sejalan dengan
sasaran dan tujuan, memastikan biaya program, sumber daya dan waktu
pelaksanaan program yang telah dilakukan. Evaluasi juga diperlukan untuk
memastikan apakah prioritas program yang disusun sudah memenuhi kebutuhan
masyarakat, dengan membandingkan perbedaan program terkait keefektifannya.
Evaluasi dapat berupa evaluasi struktur , proses dan hasil. Evaluasi program
merupakan proses mendapatkan dan menggunakan informasi sebagai dasar proses
pengambilan keputusan, dengan meningkatkn upaya pelayanan kesehatan.
Evaluasi proses, difokuskan pada urutan kegiatan yang dilakukan untuk
mendapatkan hasil. Evaluasi hasil dapat diukur melalui perubahan pengetahuan
(knowledge), sikap (attitude), dan perubahan perilaku masyarakat.
Evaluasi terdiri atas evaluasi formatif, menghasilkan informasi untuk umpan
balik selama program berlangsung. Sementara itu, evaluasi sumai dilakukan setelah
program selesai dan mendapatkan informasi tentang efektifitas pengambilan
keputusan. Pengukuran efektifitas program dapat silakukan dengan cara
mengevaluasi kesuksesan dalam pelaksanaan program . pengukuran efektivitas
program di komunitas dapat dilihat berdasarkan :

1.

Pengukuran komunitas sebagai klien

Pengukuran ini dilakukan dengan cara mengukur kesehatan ibu dan anak ,
mengukur kesehatan komunitas
2.

Pengukuran komunitas sebagai pengalaman mebina hubungan.

Pengukuran dilakukan dengan cara melakukan pengukuran social dari determinan


kesehatan
3.

Pengukuran komunitas sebagai sumber

Ini dilakukan dengan mengukur tingkat keberhasilan pada keluarga atau


masyarakat sebagai sumber informasi dan sumber intervensi kegiatan.
Evaluasi merpakan penilaian terhadap program yang telah dilaksanakan
dibandingkan dengan tujuan semula dan dijadikan dasar untuk memodifikasi
rencana berikutnya. Evaluasi proses dan evaluasi akhir. SEdangkan focus dari
evaluasi pelaksanaan asuhan keperawatan komunitas adalah :
a.
Relevansi atau hubungan antara kenyataan yang ada dengan target
pelaksanaan
b.
Perkembangan atau kemajuan proses : kesesuaian dengan perencanaan,
peran staf atau pelaksana tindakan, fasilitas dan jumlah peserta
c.
Efisiensi biaya. Bagaimanakah pencarian sumber dana dan penggunaannya
dan keuntungan program
d.
Efektivitas kerja. Apakah tujuan tercapai dan apakah klien atau masyarakat
puas terhadap tindakan yang dilaksanakan
e.
Dampak. Apakah status kesehatan meningkat setelah dilaksanakan tindakan,
apa perubahan yang terjadi dalam 6 bulan atau 1 tahun
(Henny Achjar, Komang Ayu, 2012)

DAFTAR PUSTAKA

Nursalam. 2001. Proses dan Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan


Praktik/Nursalam. Edisi pertama. Jakarta : Salemba Medika

Smith, Claudia and Maurer, Frances. 1995. Community Health Nursing : theory and
practice. USA : W.B Saunders Company

Anderson, Elizabeth T. 2006. Buku Ajar Keperawatan Komunitas : teori dan praktek.
Edisi 3. Jakarta : EGC

Stanhope, Marcia and Knollmueller RN. 1990. Buku Saku Keperawatan Komunitas
dan Kesehatan Rumah. Perangkat Pengkajian, Intervensi dan Penyuluhan. Jakarta :
EGC

Effendy, Nasrul. 1998. Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Edisi 2.


Jakarta : EGC

Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC
dan Kriteria Hasil NOC. Edisi 7. Jakarta : EGC