Anda di halaman 1dari 6

Nama Buku: Jujun S.

Sumantri, Ilmu Dalam Perspektif,


(Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2009).
Soal:
1. Berpikir merupakan sifat yang menonjol dari manusia.
Jelaskan,

bagaimana

Jujun

mengaitkan

antara

berpikir, filsafat dan ilmu!


Jawab:
Berpikir adalah dasar dalam mendapatkan pengetahuan.
Dengan pengetahuanlah manusia menemukan jati dirinya dan
menjalani hidup dengan lebih sempurna. Upaya manusia dalam
memperoleh pengetahuan didasari atas tiga masalah pokok,
yaitu:
a. Apakah yang ingin diketahui?
b. Bagaimana cara memperoleh pengetahuan?
c. Apa nilai dari pengetahuan tersebut?
Ilmu merupakan salah satu dari buah pemikiran manusia
dalam

menjawab

pertanyaan-pertanyaan

tersebut.

Ilmu

merupakan salah satu dari pengetahuan manusia. Ilmu juga


berupa kumpulan pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu
yang membedakannya dengan pengetahuan yang lain. Ciri-ciri
tersebut berdasarkan pada jawaban terhadap ketiga pertanyaan
di atas. Hingga pada akhrnya filsafat mempelajari masalah ini
sedalam-dalamnya dan hasilnya merupakan masalah tentang
apa

yang

ingin

diketahui?

(Ontologi),

bagaimana

cara

mendapatkan pengetahuan tersebut? (Epistemologi) dan apa


nilainya

bagi

kita?

(Axiologi).

Analisis

filsafat

dari

ketiga

pertanyaan tadi akan mengantarkan kita kepada hakikat buah


pemikiran tersebut. Demikian halnya kita akan mempelajari ilmu
ditinjau dari titik tolak yang sama untuk mendapatkan gambaran
yang sedalam-dalamnya. (h. 1-5)
Soal:

2. Jujun membedakan pengetahuan (knowledge) dan


ilmu (science). Jelaskan perbedaan keduanya!

Jawab:
Ilmu membatasi diri hanya pada hal-hal yang bersifat
empiris (sesuai pengalaman yang dapat ditangkap panca indera).
Seperti mempelajari batu-batuan, binatang, tumbuh-tumbuhan
dan manusia. Berbeda dengan agama dan pengetahuan pada
umunya yang ruang lingkup kajiannya adalah hal-hal yang di luar
pengalaman manusia, seperti pengalaman sesudah mati yang
tidak pernah ada sampain sekarang orang yang sudah mati
menceritakan kembali pengalamannya selama di dalam kubur.
Maka dari itu hal tersebut bukan bersifat empiris, sehingga
membedakan antara ilmu dan pengetahuan yang lain. (h. 5-6)
Soal:
3.Apa yang menjadi objek kajian ilmu?
Jawab:
Objek kajian ilmu adalah seluruh aspek kehidupan yang
dapat diuji oleh pancaindra manusia. Yaitu objek-objek empiris
seperti manusia, hewan, dan segala yang dapat di indra. Dan
didasarkan oleh objek telaahannya, maka ilmu dapat disebut
dengan

pengetahuan

empiris.

Karena

ciri

ilmu

sendiri

berorientasi pada dunia empiris. (h. 6)


Soal:
4. Apa asumsi-asumsi yang mendasari pandangan ilmu
terhadap objek yang dikajinya?
Jawab:
a. "Asumsi pertama menganggap

objek-objek

tertentu

mempunyai keserupan satu sama lain, misalkan dalam hal


bentuk, struktur, sifat dan sebagainya." Asumsi pertama ini
membuat kita dapat mengelompokkan objek-objek yang
serupa kedalam satu golongan. Seperti manusia yang
2

memiliki ciri yang sama, dalam suatu kelompok tertentu,


maka kita tidak berbicara tentang individu tertentu, tetapi
tentang kelompok tertentu.
b. "Asumsi kedua beranggapan bahwa suatu benda tidak
mengalami perubahan dalam

jangka

waktu tertentu."

Asumsi kedua ini karena ilmu itu sendiri mempelajari


tentang tingkah laku dalam suatu objek, dan tidak akan
mungkin mempelajarinya apabila objek selalu berubahubah tiap waktu. Akan tetapi, di akui bahwa benda-benda
akan berubah dalam jangka waktu panjang dan perubahan
itu berbeda-beda, tetapi sifat-sifat pokok suatu benda tidak
berubah dalam waktu tertentu.
c. Asumsi ketiga ialah determinasi, yaitu beranggapan bahwa
setiap

gejala

bukan

merupakan

suatu

yang

bersifat

kebetulan. (h. 7-8)


Soal:
5. Ilmu merupakan hasil gabungan metode rasional dan
empiris. Jelaskan, apa maksudnya?
Jawab:
Ilmu merupakan gabungan antara metode rasional dan
empiris. Gabungan antara dua metode ini disebut dengan
metode keilmuan. Dengan adanya penggabungan dua metode ini
maka

tersusunlah

metode

yang

dapat

diandalkan

dalam

menemukan pengetahuan yang benar. Rasionalisme memberikan


kerangka pemikiran yang bersifat koheren dan logis. Sedangkan
empiris adalah kerangka pengujian dalam memastikan suatu
kebenaran. Kedua metode ini menghasilkan pengetahuan yang
konsisten

dan

sistematis

serta

dapat

diandalkan,

karena

pengetahuan tersebut didukung secara empiris.


Suatu penjelasan yang belum diuji secara

empiris

hanyalah berupa hipotesis atau dugaan.hipotesis inilah yang


kemudian kita uji kebenarannya secara empiris. Kalu ternyata

pengujia secara empiris mendukung hipotesis yang diajukan,


maka hipotesis tersebut adalah benar secara keilmuan.(h. 12)
Soal:
6. Jelaskan

keterbatasan

ilmu

untuk

memecahkan

problematika hidup manusia!


Jawab:

Persepsi kita yang mengandalkan panca indera jelas


mempunyai

kelemahan,

sebab

panca

indera

kita

tidaklah

sempurna. Keterbatasan ilmu bersumber pada asumsi landasan


epistemologi,

yang

mendapatkan

menyatakan

pengetahuan

yang

bahwa

kita

mampu

bertumpu

pada

persepsi,

ingatan dan penalaran. Demikian juga halnya ingatan yang


kurang bisa dipercaya dalam menemukan kebenaran, karena
suatu saat ingatan bisa hilang. Apalagi menalar untuk mencapai
sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan jelas sekali
mempunyai kelemahan-kelemahan.
Panca indera selain terbatas juga bisa menyesatkan.
Seperti halnya kita melihat pensil akan terlihat bengkok apabila
sebagiannya

terendam

merupakan

gabungan

terkadang

mempunyai

di
dari

air.

Maka

metode

kelemahan.

dari

itu

rasional
Semakin

ilmu

dan
jauh

yang

empiris
manusia

mengandalkan hidupnya kepada pemikirannya, maka makin


lemah kemampuan pancainderanya. (h. 17).
Soal:
7. Jujun menyebutkan cara berfikir deduktif dan induktif
sebagai bagian dari proses keilmuan. Buatkan contoh
(dari anda sendiri) tentang pola berfikir deduktif dan
induktif tersebut!
Jawab:
Deduksi adalah

proses

penarikan

kesimpulan

dari

pernyataan-pernyataan yang kebenarannya telah diketahui .

yakni dari hal-hal umum menuju kepada hal-hal khusus. Sebagai


contohnya

adalah
Apabila kita minum air kita tidak akan haus
X adalah air
Maka X apabila diminum, maka kita tidak akan haus.
Pernyataan semua X yang diminum membuat kita
tidak

haus

disebut

sebagai

premis

mayor,

pernyataan X adalah air disebut premis minor, dan


pernyataan X diminum akan membuat kita tidak
haus

adalah kesimpulan. Jadi kesimpulan adalah

konsekuensi dari dua premis itu.


Sedangkan

induktif

ialah

suatu

cara

pengambilan

keputusan di mana kita menarik kesimpulan yang bersifat umum


dari kasus-kasus individual.
Jika ada udara, manusia dan binatang akan hidup
Jika ada udara, tumbuhan akan hidup
Kesimpulannya, jika ada udara, makhluk hidup akan hidup.
. (h. 20-22)
Soal:
8. Filsafat

tidak

sekedar

mempertanyakan

bagaimana

proses berpikir keilmuan, tetapi juga mempersoalkan


untuk apa ilmu bagi manusia. Jelaskan pandangan Jujun
mengenai masalah ini!
Jawab:
Jujun mengakui bahwa ilmu sangat berperan penting
dalam kehidupan manusia. Baik itu berperan dalam hal-hal
yang baik, dan yang tidak. Prof. Mujiburrahman pernah
mengatakan karena ilu, orang menenukan mesin-mesin yang
saat ini sering digunakan untuk menghancurkan hutan, untuk
menambang, dan lain-lain. Ilmu tak selalu menjadi berkat bagi
manusia seperti obat, dan lain-lain.

Setelah

mengkaji

pernyataan

Einstein,

Jujun

berpendapat bahwa masalahnya terletak pada hakekat ilmu


itu sendiri. Jujun juga mengutip apa yang dicanangkan Francis
Bacon yang mengatakan: pengetahuan adalah kekuasaan.
Yang mana akhirnya kekuasaan itu menjadi berkat atau
malapetaka, itu semua tergantung pemegang kekuasaan.
Karena ilmu bersifat netral. Ilmu tidak mengenal baik atau
buruk, dan sipemilik pengetahuan itulah yang yang harus
mempunyai sikap.

Semoga hal ini disadari oleh kita semua,

terutama oleh para pendidik kita, bahwa tak cukup hanya


mendidik keilmuan yang berotak besar, tetapi juga harus
memiliki jiwa besar.(h. 35-36).