Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji

sukur

penulis

panjatkan

kepada

Allah

SWT

atas

limpahan taufik dan hidayahnya dan memberi kenikmatan yang


tiada henti, baik nikmat jasmani dan nikmat rohani, sehingga
penulis dapat menyusun makalah ini yang insyaalah sesuai
dengan yang diharapkan.
Dalam penuliasan makalah

ini,

penulis

mengucapkan

banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu,


guru-guru dan teman-teman yang sudah memberi dukungan dan
motivasi kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini.
Penyusunan
kekurangan

dan

makalah
kesalahan

ini
baik

tentunya
dalam

masih

banyak

pemahaman

atau

penulisan, sangat besar harapan penulis ada saran atau kritik


dari guru-guru di sekolah Mts. Negeri Pandeglang II, temanteman dan pembaca yang bersifat membangun demi perbaikan
penulisan makalah yang selanjutnya. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi pembaca, terutama bagi penulis, Amin.
Pati,

Maret

2016
Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar .........................................................................

Daftar Isi ...................................................................................


BAB I PENDAHULUAN ................................................................
A.
B.
C.
D.

Latar Belakang Masalah .................................................


Rumusan Masalah............................................................
Tujuan Penulisan Makalah ...............................................
Manfaat Penulisan Makalah .............................................

BAB II PEMBAHASAN .................................................................


A. Latar Belakang Tentang Materi ........................................
B. Isi Materi .........................................................................
1. Pengertian Hermeneutik .............................................
2. Asal Usul Cerita Legenda Sangkuriang .......................
3. Makna Legenda Gunung Tangkuban Parahu Dengan
Segala Aspek Yang Dikandungnya ..............................
C. Manfaat Materi ................................................................
D. Makna Bagi Siswa Tentang Materi ...................................
BAB III PENUTUP .......................................................................
A. Kesimpulan ......................................................................
B. Saran ...............................................................................
Daftar Pustaka ..........................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Mitos

sebagai

acuan

pandangan

hidup.

Berbincang

tentang mitos akan berkaitan erat dengan legenda, cerita,


dongeng semuanya termasuk kelompok folklore. Mengenai
mitos C.A.van Peursen mengatakan

sebagai

sebuah cerita

(lisan) yang memberikan pedoman dan arah tertentu kepada


sekelompok orang. Inti dari mitos adalah lambang-lambang

yang menginformasikan pengalaman manusia purba tentang


kebaikan-kejahatan, perkawinan dan kesuburan, dosa dan
proses katarsisnya. Sedangkan Rene Wellek & Austin Warren
menyebutnya sebagai cerita anonim mengenai penjelasan
tentang asal mula sesuatu, nasib manusia, tingkah laku dan
tujuan hidup manusia serta menjadi alat pendidikan moral
bagi masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.
Mengacu kepada pendapat di atas, ternyata mitos yang
dikandung dalam legenda

adalah sumber pengetahuan

mengenai kehidupan manusia pada masa lampau dalam


segala aspeknya. Disusun dalam bentuk cerita sastra (sastra
lisan) sebagai alat transformasinya; sebab bentuk cerita lisan
mempunyai pola struktur dan alur yang cukup ajeg. dalam
menuntun ingatan orang sehingga mudah untuk seseorang
menuturkannya kembali.
Kegiatan manusia tidak terlepas dari kemampuan untuk
menafsirkan terhadap apa pun yang dialaminya. Hasilnya
adalah

didapatkannya

arti

dan

makna

dari

yang

ditafsirkannya. Arti adalah hubungan antara sesuatu dengan


yang

melingkunginya,

hubungan

teks

dengan

konteks).

Adapun makna adalah hubungan arti dengan nilai esensial


yang dikandungnya.
1. Kemampuan mengartikan dan memaknai sesuatu, dalam
budaya Sunda disebut dengan kemampuan memanfaatkan
Panca Curiga (lima senjata/ilmu), yaitu kemampuan untuk
menafsirkan secara:

silib, yaitu memaknai sesuatu yang

dikatakan tidak langsung tetapi dikiaskan pada hal lain


(allude); sindir yaitu

penggunaan susunan kalimat yang

berbeda (allusion); simbul yaitu penggunaan dalam bentuk


lambang

(symbol,

penyampaian

icon,

heraldica);

siloka

adalah

2. Dalam bentuk pengandaian atau gambaran yang berbeda


(aphorisma) dan sasmita adalah berkaitan dengan suasana
dan perasaan hati (depth aporisma).
3. Dalam tulisan ini pun penulis menggunakan

konsep

hermeneutika (panca curiga) untuk mencoba menarik arti


dan makna yang dikandung dalam legenda
Tangkubanparahu
dikandungnya.
penulis

dengan

Kaidah

lain

memanfaatkan

segala
untuk

aspek

melakukan

Gunung
yang
analisis,

leksikografi (cara menuliskan

kata); etimologi (tentang asal-usul kata), semantik (tentang


arti kata) dan semiotika ( tentang arti dan makna
lambang).
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan hermeneutika ?
2. Bagaimanakah asal usul serita legenda sangkuriang ?
3. Bagaimanakah makna legenda gunung tangkuban parahu
dengan segala aspek yang dikandungnya ?
C. Tujuan Penulisan Makalah
1. Ingin mengetahui pengertian hermeneutika ?
2. Ingin mengetahui asal usul cerita legenda sangkuriang ?
3. Ingin mengetahui makna legenda gunung tangkuban
parahu dengan segala aspek yang dikandungnya ?
D. Manfaat Penulisan Makalah
Dalam penulisan makalah ini diharapkan manfaat yang
diperoleh adalah:
1. Bagi penulis, bisa menambah wawasan ilmu pengetahuan,
khususunya pengetahuan tentang legenda sangkuriang.
2. Bagi pembaca, memperoleh pengalaman dan pengetahuan
tentang cerita legenda sangkuriang.
3. Bagi guru, menembah wawasan

pengetahuan

dalam

pengajaran bahasa Indonesia terutama tentang cerita


legenda sangkuriang.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Tentang Materi
Dalam penulisan makalah ini akan dibahas tentang
bagaimana asal usulnya cerita legenda sangkuriang dan
bagaimana makna legenda gunung tangkuban parahu dengan
segala aspek yang dikandungnya. Pada dasarnya sebuah
cerita-cerita

seperti legenda adalah cerita yang berkaitan

dengan hal-hal bersifat mitos, akan tetapi pada jaman


sekarang kebanyakan orang tidak peduli terhadap cerita yang

bersifat mitos, mungkin hanya sebagian dari sekian bnyak


orang yang masih percaya akan hal tersebut.
Kalau dikaji lebih dalam, pada dasarnya sebuah
cerita akan mengajarkan kita arti kehidupan dan kita bisa
mengambil pesan moral yang ada dalam sebuah cerita
tersebut. Jadi, sebenarnya tidak usah mempedulikan cerita
tersebut bersifat mitos atau tidak, yang penting kita bisa tahu
apa makna dan pesan yang terkandung dalam sebuah cerita
tersebut

atau

dalam

jelasnya

penulis

akan

legenda

sangkuriang.

menguraikan

Untuk

beberapa

hal

lebih
yang

berkaitan denga legenda sangkuriang.


B. Isi Materi
1. Pengertian Hermeneutik
Seperti ditulis pada awal wacana, hermeunetika adalah
ilmu menafsirkan tentang sesuatu agar mempunyai arti
dan makna, sehingga dapat dipetik manfaatnya. Karena itu
sangat bersifat subyektif dan inklusif, tetap terbuka bagi
siapa pun untuk memasukkan tafsirannya secara pribadi.
Boleh-boleh saja dan itu akan besar manfaatnya dalam
membentuk

masyarakat

bermartabat

yang

madani

mardotillah. Mungkin perlu ada kesepakatan bersama yaitu


mengenai visi akhir yang ingin dicapai dari pemaknaan
heumanetika
menampakkan

tersebut,
kandungan

yaitu

kesadaran

moral

atau

untuk
ahklak

kemanusiaannya. Humisnis yang religius. Itulah dasar


kesepakatan para penafisr nilai moral budaya bangsa yang
terkandung dalam folkolor atau folkway.
2. Asal Usul Cerita Legenda Sangkuriang
Sangkuriang adalah legenda yang berasal dari tataran
Sunda. Legenda tersebut berkisah tentang terciptanya

danau

Bandung,

gunung

Tangkuban

Perahu,

gunung

Burangrang, dan gunung Bukit Tunggul.


Dari legenda tersebut, kita dapat menentukan sudah
berapa lama orang Sunda hidup di dataran tinggi Bandung.
Dari legenda tersebut yang didukung dengan fakta geologi,
diperkirakan bahwa orang Sunda telah hidup di dataran ini
sejak beribu tahun sebelum Masehi.
Legenda Sangkuriang awalnya merupakan tradisi lisan.
Rujukan tertulis mengenai legenda ini ada pada naskah
Bujangga Manik yang ditulis pada daun palem yang berasal
dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 Masehi. Dalam
naskah tersebut ditulis bahwa Pangeran Jaya Pakuan alias
Pangeran

Bujangga

Manik

atau

Ameng

Layaran

mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di pulau


Jawa dan pulau Bali pada akhir abad ke-15.
Setelah melakukan perjalanan panjang, Bujangga Manik
tiba di tempat yang sekarang menjadi kota Bandung. Dia
menjadi saksi mata yang pertama kali menuliskan nama
tempa legendanya. Laporannya adalah sebagai berikut:
1. Leumpang aing ka baratkeun (Aku berjalan ke arah
barat)
2. Datang ka Bukit Patenggeng (kemudian datang ke
gunung Patenggeng)
3. Sakakala Sang Kuriang (tempat legenda Sang Kuriang)
4. Masa dek nyitu Ci tarum (Waktu akan membendung
Citarum)
5. Burung
tembey

kasiangan

(tapi

gagal

karena

kesiangan).
a. Ringkasan Cerita
Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi
berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni
yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan).
Seekor babi hutan betina bernama Wayung yang tengah

bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi.


Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik.
Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan
diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati. Banyak para
raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada
yang diterima.
Akhirnya para

raja

saling

berperang

di

antara

sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permitaannya


sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani
seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang
asyik bertenun, toropong (torak) yang tengah digunakan
bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena
merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia
berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang
terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan
suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan
kepada

Dayang

Sumbi.

Dayang

Sumbi

akhirnya

melahirkan bayi laki-laki diberi nama Sangkuriang.


Ketika Sangkuriang berburu di dalam hutan
disuruhnya si Tumang untuk mengejar babi betina
Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu
dibunuhnya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan
kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya.
Setelah

Dayang

Sumbi

mengetahui

bahwa

yang

dimakannya adalah hati si Tumang, kemarahannya pun


memuncak serta merta kepala Sangkuriang dipukul
dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa
sehingga luka.
Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia.
Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya
sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba

kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya


berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik
yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi - ibunya.
Terminological kisah kasih di antara kedua insan itu.
Tanpa

sengaja

Dayang

Sumbi

mengetahui

bahwa

Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di


kepalanya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa
untuk

menikahinya.

Dayang

Sumbi

meminta

agar

Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau)


dalam waktu semalam dengan membendung sungai
Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.
Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang
tumbuh di arah timur, tunggul atau pokok pohon itu
berubah menjadi gunung ukit Tanggul. Rantingnya
ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi gunung
Burangrang. Dengan bantuan para guriang, bendungan
pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi
bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud
Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan
irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), ketika
itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang
menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan
yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat
aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan
menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga
Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang
dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke
arah

utara

dan

berubah

wujud

menjadi

gunung

Tangkuban Perahu.
Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang
mendadak menghilang di gunung Putri dan berubah

menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang


setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan
Ujung Berung akhirnya

menghilang ke alam gaib

(ngahiyang).
b. Kesesuaian Dengan Fakta Geologi
Legenda Sangkuriang sesuai dengan fakta geologi
terciptanya danau Bandung dan gunung Tangkuban
Perahu.

Penelitian

geologis

mutakhir

menunjukkan

bahwa sisa-sisa danau purba sudah berumur 125 ribu


tahun. Danau tersebut mengering 16.000 tahun yang
lalu.
Telah terjadi dua letusan gunung Sunda purba
dengan tipe letusan Plinian masing-masing 105.000 dan
55.000-50.000 tahun yang lalu. Letusan plinian kedua
telah

meruntuhkan

sehingga

kaldera

menciptakan

gunung

gunung

Sunda

Tangkuban

purba
Perahu,

gunung Burangrang (disebut juga gunung Sunda), dan


gunung bukit Tunggul.
Sangat mungkin bahwa orang Sunda purba telah
menempati dataran tinggi Bandung dan menyaksikan
letusan

Plinian

kedua

yang

menyapu

pemukiman

sebelah barat citarum (utara dan barat laut Bandung)


selama periode letusan pada 55.000-50.000 tahun yang
lalu saat gunung Tangkuban Perahu tercipta dari sisasisa gunung Sunda Purba. Masa ini adalah masanya
homo sapiens, mereka telah teridentifikasi hidup di
Australia selatan pada 62.000 tahun yang lalu, semasa
dengan Manusia Jawa (Wajak) sekitar 50.000 tahun yang
lalu.
c. Sangkuriang dan Falsafah Sunda

Menurut Hidayat Suryalaga, legenda atau sasakala


Sangkuriang dimaksudkan sebagai cahaya pencerahan
(Sungging Perbangkara) bagi siapa pun manusianya
(tumbuhan

cariang)

keberadaan

dirinya

jatidiri

yang
dan

kemanusiannya

masih

bimbang

berkeinginan

akan

menemukan

(Wayungyang).

Hasil

yang

diperoleh dari pencariannya ini akan melahirkan kata


hati (nurani) sebagai kebenaran sejati (Dayang Sumbi,
Rarasati). Tetapi bila tidak disertai dengan kehati-hatian
dan kesadaran penuh atau eling (teropong), maka
dirinya

akan

dikuasai

dan

digagahi

oleh

rasa

kebimbangan yang terus menerus (digagahi si Tumang)


yang akan melahirkan ego-ego yang egoistis, yaitu jiwa
yang belum tercerahkan (Sangkuriang). Ketika sang
nurani termakan lagi oleh kewaswasan (Dayang Sumbi
memakan hati si Tumang) maka hilanglah kesadaran
yang hakiki. Rasa menyesal yang dialami sang nurani
dilampiaskan dengan dipukulnya kesombongan rasio
sang

ego

(kepala

Sangkuriang

dipukul).

Kesombongannya pula yang memengaruhi sang ego


rasio untuk menjauhi dan meninggalkan sang nurani.
Ternyata keangkuhan sang ego rasio yang berlelah-lelah
mencari

ilmu

(kecerdasan

intelektual)

selama

pengembaraannya di dunia (menuju ke arah Timur).


Pada akhirnya kembali ke barat yang secara sadar
maupun tidak sadar selalu dicari dan dirindukannya
yaitu sang nurani (pertemuan Sangkuriang dengan
Dayang Sumbi).
Walau demikian ternyata penyatuan antara sang ego
rasio

(Sangkuriang)

dengan

sang

nurani

yang

tercerahkan (Dayang Sumbi), tidak semudah yang

diperkirakan. Berbekal ilmu pengetahuan yang telah


dikuasainya

Sang

Ego

Rasio

(Sangkuriang)

harus

mampu membuat suatu kehidupan sosial yang dilandasi


kasih sayang, interdependency silih asih-asah dan silih
asuh

yang

humanis

harmonis,

yaitu

satu

telaga

kehidupan sosial (membuat Talaga Bandung) yang


dihuni berbagai kumpulan manusia dengan bermacam
ragam perangainya (Citarum). Sementara itu keutuhan
jatidirinya pun harus dibentuk pula oleh sang ego rasio
sendiri (pembuatan perahu). Keberadaan sang ego rasio
itu pun tidak terlepas dari sejarah dirinya, ada pokok
yang menjadi asal muasalnya (bukit Tunggul, pohon
sajaratun)

sejak

dari

awal

keberada-annya

(timur,

tempat awal terbit kehidupan). sang ego rasio pun harus


pula

menunjukkan

penada

diri)

dan

keberadaan
pada

dirinya

akhirnya

dia

(tutunggul,
pun

akan

mempunyai keturunan yang terwujud dalam masyarakat


yang akan datangd dan suatu waktu semuanya berakhir
ditelan

masa

menjadi

setumpuk

tulang-belulang

(gunung Burangrang)
Betapa mengenaskan, bila ternyata harapan untuk
bersatunya sang ego rasio dengan sang nurani yang
tercerahkan hampir terjadi perkawinan Sangkuriang
dengan Dayang Sumbi, gagal karena keburu hadir sang
titik akhir, akhir hayat dikandung badan (boeh rarang
atau kain kafan). Akhirnya suratan takdir yang menimpa
sang ego rasio hanyalah rasa menyesal yang teramat
sangat dan marah kepada dirinya. Maka ditendangnya
keegoisan rasio dirinya, jadilah seonggok manusia
transendental tertelungkup meratapi kemalangan yang
menimpa dirinya (gunung Tangkuban Perahu).

Walau demikian lantaran sang ego rasio masih


merasa penasaran, dikejarnya terus sang nurani yang
tercerahkan dambaan dirinya (Dayang Sumbi) dengan
harapan dapat luluh bersatu antara sang ego rasio
dengan Sang Nurani. Tetapi ternyata sang nurani yang
tercerahkan hanya menampakkan diri menjadi saksi
atas perilaku yang pernah terjadi dan dialami sang ego
rasio (bunga Jaksi).
Akhir kisah yaitu
berakhirnya
Dengan

ketika

kepongahan

datangnya

rasionya

kesadarannya

pula,

(Ujung

kesadaran
berung).

dicabut

dan

dilemparkannya sumbat dominasi keangkuhan rasio


(gunung Manglayang). Maka kini terbukalah saluran
proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun
(Sanghyang Tikoro atau tenggorokan; bahasa Sunda:
Hade ku omong goreng ku omong) dan dengan cermat
dijaga benar makanan yang masuk ke dalam mulutnya
agar selalu yang halal bersih dan bermanfaat.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam mengakaji legenda sangkuriang penulis akhirnya
menarik kesimpulan tentang apa yang ada dalam materi
tersebut. Adapun kesimpulannya sebagai berikut :
1. Hermeunetika adalah ilmu menafsirkan tentang sesuatu
agar mempunyai arti dan makna, sehingga dapat dipetik
manfaatnya. Karena itu

sangat bersifat subyektif dan

inklusif, tetap terbuka bagi siapa pun untuk memasukkan


tafsirannya secara pribadi.
2. Bila kita runut seluruh informasi di atas, maka akan
ditemukan alur kearifan pandangan hidup masyarakat
Sunda yang terkandung dalam legenda Gunung Tangkuban
parahu. Kearifan yang dibungkus dengan cerita legenda ini
dapat menjadi acuan hidup bagi siapa pun dalam menjalani
keberadaannya baik secara manusia lahiriah (fisik) maupun
manusia transendental (ruhi).
3. Setelah mengkaji legenda sangkuriang didapatkan nama
dan tempat serta aspek lainnya yang terdapat dalam
legenda tersebut

ialah; Sungging Perbangkara,

cariang,

babi hutan Si Wayungyang, Dayang Sumbi atau Rarasati,


anjing Si Tumang, Sangkuriang, taropong (torak), Wetan
(Timur),

Kulon

(Barat),

Citarum,

Sanghyang

Tikoro,

Guriang, Gunung Putri, Gunung Manglayang, Ujungberung,


kembang Jaksi, boeh rarang, Gunung Bukit Tungggul,
Gunung Burangrang, Gunung Tangkuban Parahu, dan
Talaga Bandung.
B. Saran
Dengan

adanya

makalah

ini

penulis

hanya

bisa

menyarankan kepada pembaca, khususunya bagi siswa Mts.


Negeri Pandeglang II dapat membangun kehidupan bersama,

yaitu kehidupan yang saling memperhatikan, silih asih, silih


asah dan silih asuh, kemudian ciptakan suasana hidup yang
harmonis, damai, aman dan tentram. Tidak lupa untuk terus
menggali ilmu pengetahuan di berbagai mata pelajaran,
khususunya dalam mata pelajaran bahasa Indonesia dan bisa
mengkaji lebih dalam lagi sebuah cerita legenda Sangkuriang.

DAFTAR PUSTAKA
Danandjaja, James. 1986. Folkor Indonesia. Jakarta: Pustaka
Grafitipress.
Ekadjati, Edi S. 2001. Kamus Bahasa Naskah dan Prasasti Sunda
Abad.
Ekajati, Edi S. 1983. Naskah Sunda Lama Kelompok Babad.
Bandung:

Depdikbud.

Hidayat, Suryalaga. 1996. Racikan Budaya Sunda. Jabar :


Depdikbud Prop.
Http://www.sundaNet.com.
LBSS. 1975. Kamus Umum Basa Sunda: Tarate.
Satjadibrata, R.1946. Dongeng-dongeng Sasakala. Jakarta: Balai
Pustaka.
Wahyu Wibisana. 1992. Sangkuriang Kabeurangan. Bandung:
Mangle No. 1373.
Wellek, Rene. Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta :
Gramedia.
Woyowasito, S. 1977. Kamus Kawi- Indonesia: CV. Pengarang.