Anda di halaman 1dari 37

Laporan Hasil Wawancara Tentang Euthanasia

dari Sudut Pandang berbagai Agama


Ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah agama

Anugrah Swarna M
Dea Indriani
Lely Khoirul I
Suci Primadita A

P17324113033
JALUM 1-B

PROGRAM STUDI KEBIDANAN POLTEKKES KEMENKES


BANDUNG
Jl. Sederhana no 2, Bandung
TAHUN AJARAN 2013/2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat
dan karuniaNya yang melimpah penulis dapat menyelesaikan salah satu tugas mata
kuliah Pendidikan agama.
Penulis menyadari kiranya dalam penulisan tugas ini yang belum sempurna, penulis
mohon maaf karena adanya kekurangan kemampuan atau penyampaian dari penulis
atas tugas ini.Karena itu diharapkan kritik dan saran yang membangun guna
melengkapi hal yang belum sempurna dalam penulisan tugas ini.Dan tak lupa
terimakasih kepada semua pihak yang membantu penyusunan tugas ini.
Akhir kata dengan segala kerendahan hati, semoga tugas ini dapat bermanfaat.

Bandung, oktober 2013

Penyusun

2 | Mata Kuliah Pendidikan Agama

Daftar Isi

KATA PENGANTAR .........................................................................................................


2
DAFTAR ISI........................................................................................................................
3
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................
4
1

Latar
Belakang
Masalah
.............................................................................................................................

4
Rumusan
Masalah
.............................................................................................................................

4
Tujuan
Penelitian
.............................................................................................................................

5
Manfaat
Penelitian
.............................................................................................................................

5
5 Identitas
Narasumber
.............................................................................................................................
5

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................................


6
1

Pengertian midwifery menurut WHO

3 | Mata Kuliah Pendidikan Agama

.............................................................................................................................
6
.............................................................................................................................
2 Midwifery Profesi
.............................................................................................................................
6
3 Karakteristik profesi
.............................................................................................................................
10
4 Responbility dan akunbilitas
.............................................................................................................................
5

11
Sejarah Perkembangan Praktik Kebidanan
.............................................................................................................................
16

6
BAB III KESIMPULAN.....................................................................................................
29
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................
31

4 | Mata Kuliah Pendidikan Agama

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Beberapa waktu yang lalu masalah euthanasia mulai sering dibicarakan oleh
masyarakat di Indonesia atau pun dunia. Eithanasia secara sederhana dapat
diartikan sebagai bentuk pengakhiran hidup kepada seseorang yang mengalami
sakit berat atau parah dengan kematian tenang dan mudah atas nama
perikemanusiaan. Berkembangnya polemik di masyarakat antara masalah hak
asasi manusia dengan kepercayaan bahwa awal dan akhir hidup manusia ada
ditangan Tuhan menyebabkan kasus euthanasia menjadi hal yang cukup menarik
dibahas.
Secara yuridis manusia telah diberi perlindungan hukum sejak ia masih dalam
kandungan yakni dalam keadaan janin. Janin dari nidasi hingga dilahirkan dinama
kan sebagai status nascendi, jadi manusia sejak masih dalam status nascendi
sudah dilindungi oleh hukum, akan tetapi bukan berarti status nascendi ini
mempunyai hak perorangan. Ia belum mempunyai hak perorangan karena ia
sendiri belum menjadi subjek hukum, yaitu ia (janin) yang dianggap telah lahir
jika kepentingannya memang menuntutnya misalnya dalam hal pewarisan, akan
tetapi apabila bayi tersebut pada saat dilahirkan meninggal dunia maka ia
dianggap tidak pernah ada.
Kehadiran euthanasia sebagai suatu hak asasi manusia berupa hak untuk mati,
dianggap sebagai konsekuensi logis dari adanya hak untuk hidup. Oleh karena
setiap orang mempunyai hak untuk hidup, maka setiap orang juga mempunyai
hak untuk memilih kematian yang dianggap menyenangkan bagi dirinya. Inilah
yang kemudian memunculkan istilah euthanasia. Dalam euthanasia untuk
mendapat kematian yang menyenangkan, seseorang yang menginginkan atau

5 | Mata Kuliah Pendidikan Agama

dianggap menginginkan kematian memerlukan bantuan untuk orang lain untuk


mendapatkan kematian tersebut. Peranan orang lain itulah yang membedakan
euthanasia dari bunuh diri.
Masalah euthanasia sudah ada sejak kalangan kesehatan menghadapi penyakit
yang sulit untuk disembuhkan. Di sisi lain, pasien sudah dalam keadaan kritis
sehingga takjarang pasien atau keluarganya meminta dokter untuk menghentikan
pengobatan terhadap yang bersangkutan. Dari sinilah dilema muncul dan
menempatkan dokter atau perawat pada posisi yang serba sulit. Dokter dan
perawat merupakan suatu profesi yang mempunyai kode etik sendiri sehingga
mereka dituntut untuk bertindak secara profesional. Pada satu pihak ilmu dan
teknologi kedokteran telah sedemikian maju sehingga mampu mempertahankan
hidup seseorang (walaupun istilahnya hidup secara vegetatif).
Aturan hukum mengenai masalah ini berbeda-beda di tiap negara dan seringkali
berubah seiring dengan perubahan norma-norma budaya maupun ketersediaan
perawatan atau tindakan medis. Di beberapa negara, eutanasia dianggap legal,
sedangkan di negara-negara lainnya dianggap melanggar hukum. Oleh karena
sensitifnya isu ini, pembatasan dan prosedur yang ketat selalu diterapkan tanpa
memandang status hukumnya.
Setiap agama di dunia memiliki pandangan yang berbeda tentang euthanasia
walaupun dalam intinya tetap mengajarkan kebaikan.
1.2 Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.

Apa definisi Euthanasia ?


Bagaimana sejarah euthanasia ?
Apa saja tindakan euthanasia di berbagai Negara ?
Apa saja contoh kasus euthanasia ?
Apa pandangan agama mengenai euthanasia ?

1.3 Tujuan

6 | Mata Kuliah Pendidikan Agama

1.
2.
3.
4.
5.

Definisi Euthanasia
Sejarah euthanasia
Tindakan euthanasia di berbagai Negara
Contoh kasus Euthanasia
Pandangan agama mengenai euthanasia

1.4 Manfaat
Hasil

wawancara

ini

menginformasikan

tentang

Definisi

Euthanasia,Sejarah

euthanasia,Tindakan euthanasia di berbagai Negara,Contoh kasus Euthanasia,Pandangan


agama mengenai euthanasia

1.5 Nara Sumber


1 Islam
Narasumber 1 (Lembaga Dakwah Islam Indonesia):
Nama
: Muhammad Soleh
Jabatan
: Pengajar di mesjid
Alamat
: Jl. Juran RT/RW 08/05
TTL
: Jakarta, 18 Maret 1983
Pendidikan : Pondok pesantren Walibarokah Kediri
Narasumber 2 (Majlis Ulama Indonesia Kecamatan):
Nama
: DR. HC. Mochtar, S.Pd.I
Jabatan
: Ketua MUI Kecamatan Cigugur, Kabupaten

Pangandaran
Alamat
: Jl. Jurago No.131 Dusun Ciwangkal RT/RW
002/001 Desa Cimindi Kecamatan Cigugur kabupaten
Pangandaran.

Kristen

Nama
Jabatan
Alamat
Pendidikan
No Telp.

Katolik
Nama

: Pendeta Ciri Aruan


: Pendeta diperbantukan
: Jl. Griya Cakra, Blok BD 15, Ancamanik.
: Sekolah Tinggi Biologi Jakarta 96
: 082138851119

: Pdt. Wee Willyanto,STH,M.Min.

7 | Mata Kuliah Pendidikan Agama

Umur
: 47 tahun
TTL
: Cirebon,22 Februari 1966
Alamat
: Jl. Jakarta, Komp kota kembang permai 12
Hindu
Nama
: Drs. I Nyoman Suarnama. NPd.H
Umur
: 53 Tahun
Tempat Tanggal Lahir : Bali, 1 Januari 1960
Jabatan:
a. Jabatan di Militer: Kepala Sekretariat Umum (Kasetum)

Secapa AD Bandung
b. Jabatan di Umat:
Wakil Ketua I PHDI Kota Bandung
Ketua Pasraman Vidya Dharma Secapa AD
Pinandita/Pemangku
Budha
Nama : Biksu Nyana Damo Beliau
Alamat : Vihara vimala dharma jl.ir.h juanda no 5,Bandung

8 | Mata Kuliah Pendidikan Agama

BAB II
PANDANGAN AGAMA-AGAMA DI INDONESIA TENTANG EUTHANASIA
2.1 Euthanasia dalam Pandangan Medis
2.1.1 Definisi Euthanasia
a.
Secara Bahasa
Eutanasia (Bahasa Yunani: -, eu yang artinya "baik", dan
, thanatos yang berarti kematian) adalah praktik pencabutan
kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak
menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya
dilakukan dengan cara memberikan suntikan yang mematikan.
Aturan hukum mengenai masalah ini berbeda-beda di tiap negara dan
seringkali berubah seiring dengan perubahan norma-norma budaya maupun
ketersediaan perawatan atau tindakan medis. Di beberapa negara, eutanasia
dianggap legal, sedangkan di negara-negara lainnya dianggap melanggar
hukum. Oleh karena sensitifnya isu ini, pembatasan dan prosedur yang ketat
selalu diterapkan tanpa memandang status hukumnya.

b.

Menurut Ahli

Menurut Hilman (2001), euthanasia berarti pembunuhan tanpa penderitaan


(mercy killing)
Di dunia etik kedokteran kata euthanasia diartikan secara harfiah akan
memiliki arti mati baik. Di dalam bukunya seorang penulis Yunani bernama
Suetonius menjelaskan arti euthanasia sebagai mati cepat tanpa derita.
Euthanasia Studi Grup dari KNMG Holland (Ikatan Dokter Belanda)
9 | Mata Kuliah Pendidikan Agama

menyatakan: Euthanasia adalah perbuatan dengan sengaja untuk tidak


melakukan sesuatu untuk memperpanjang hidup seorang pasien atau sengaja
melakukan sesuatu untuk memperpendek atau mengakhiri hidup seorang
pasien, dan semua ini dilakukan khusus untuk kepentingan pasien itu sendiri

2.1.2

Sejarah Euthanasia

Asal-usul kata eutanasia


Kata eutanasia berasal dari bahasa Yunani yaitu "eu" (= baik) and "thanatos" (maut,
kematian) yang apabila digabungkan berarti "kematian yang baik". Hippokrates
pertama kali menggunakan istilah "eutanasia" ini pada "sumpah Hippokrates" yang
ditulis pada masa 400-300 SM.
Sumpah tersebut berbunyi: "Saya tidak akan menyarankan dan atau memberikan obat
yang mematikan kepada siapapun meskipun telah dimintakan untuk itu".
Dalam sejarah hukum Inggris yaitu common law sejak tahun 1300 hingga saat "bunuh
diri" ataupun "membantu pelaksanaan bunuh diri" tidak diperbolehkan.
Eutanasia dalam dunia modern
Sejak abad ke-19, eutanasia telah memicu timbulnya perdebatan dan pergerakan di
wilayah Amerika Utara dan di Eropa Pada tahun 1828 undang-undang anti eutanasia
mulai diberlakukan di negara bagian New York, yang pada beberapa tahun kemudian
diberlakukan pula oleh beberapa negara bagian.
Setelah masa Perang Saudara, beberapa advokat dan beberapa dokter mendukung
dilakukannya eutanasia secara sukarela.

10 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

Kelompok-kelompok pendukung eutanasia mulanya terbentuk di Inggris pada tahun


1935 dan di Amerika pada tahun 1938 yang memberikan dukungannya pada
pelaksanaan eutanasia agresif, walaupun demikian perjuangan untuk melegalkan
eutanasia tidak berhasil digolkan di Amerika maupun Inggris.
Pada tahun 1937, eutanasia atas anjuran dokter dilegalkan di Swiss sepanjang pasien
yang bersangkutan tidak memperoleh keuntungan daripadanya.
Pada era yang sama, pengadilan Amerika menolak beberapa permohonan dari pasien
yang sakit parah dan beberapa orang tua yang memiliki anak cacat yang mengajukan
permohonan eutanasia kepada dokter sebagai bentuk "pembunuhan berdasarkan belas
kasihan".
Pada tahun 1939, pasukan Nazi Jerman melakukan suatu tindakan kontroversial
dalam suatu "program" eutanasia terhadap anak-anak di bawah umur 3 tahun yang
menderita keterbelakangan mental, cacat tubuh, ataupun gangguan lainnya yang
menjadikan hidup mereka tak berguna. Program ini dikenal dengan nama Aksi T4
("Action T4") yang kelak diberlakukan juga terhadap anak-anak usia di atas 3 tahun
dan para jompo / lansia.
Eutanasia pada masa setelah perang dunia
Setelah dunia menyaksikan kekejaman Nazi dalam melakukan kejahatan eutanasia,
pada era tahun 1940 dan 1950 maka berkuranglah dukungan terhadap eutanasia,
terlebih-lebih lagi terhadap tindakan eutanasia yang dilakukan secara tidak sukarela
ataupun karena disebabkan oleh cacat genetika.
Praktik-praktik eutanasia di dunia
Praktik-praktik eutanasia pernah yang dilaporkan dalam berbagai tindakan
masyarakat:
11 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

Di India pernah dipraktikkan suatu kebiasaan untuk melemparkan orang-

orang tua ke dalam sungai Gangga.

Di Sardinia, orang tua dipukul hingga mati oleh anak laki-laki tertuanya.

Uruguay mencantumkan kebebasan praktik eutanasia dalam undang-undang

yang telah berlaku sejak tahun 1933.

Di beberapa negara Eropa, praktik eutanasia bukan lagi kejahatan kecuali di

Norwegia yang sejak 1902 memperlakukannya sebagai kejahatan khusus.

Di Amerika Serikat, khususnya di semua negara bagian, eutanasia

dikategorikan sebagai kejahatan. Bunuh diri atau membiarkan dirinya dibunuh adalah
melanggar hukum di Amerika Serikat.

Satu-satunya negara yang dapat melakukan tindakan eutanasia bagi para

anggotanya adalah Belanda. Anggota yang telah diterima dengan persyaratan tertentu
dapat meminta tindakan eutanasia atas dirinya. Ada beberapa warga Amerika Serikat
yang menjadi anggotanya. Dalam praktik medis, biasanya tidak pernah dilakukan
eutanasia aktif, namun mungkin ada praktik-praktik medis yang dapat digolongkan
eutanasia pasif.

2.1.3

Eutanasia Menurut Hukum di Berbagai Negara

Sejauh ini eutanasia diperkenankan yaitu dinegara Belanda, Belgia serta


ditoleransi di negara bagian Oregon di Amerika, Kolombia dan Swiss dan
dibeberapa negara dinyatakan sebagai kejahatan seperti di Spanyol, Jerman dan
Denmark
a.

Belanda

12 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

Pada tanggal 10 April 2001 Belanda menerbitkan undang-undang yang


mengizinkan eutanasia. Undang-undang ini dinyatakan efektif berlaku sejak
tanggal 1 April 2002

[6]

, yang menjadikan Belanda menjadi negara pertama di

dunia yang melegalisasi praktik eutanasia. Pasien-pasien yang mengalami sakit


menahun dan tak tersembuhkan, diberi hak untuk mengakhiri penderitaannya.
Tetapi perlu ditekankan, bahwa dalam Kitab Hukum Pidana Belanda secara
formal euthanasia dan bunuh diri berbantuan masih dipertahankan sebagai
perbuatan kriminal.
Sebuah karangan berjudul "The Slippery Slope of Dutch Euthanasia" dalam
majalah Human Life International Special Report Nomor 67, November 1998,
halaman 3 melaporkan bahwa sejak tahun 1994 setiap dokter di Belanda
dimungkinkan melakukan eutanasia dan tidak akan dituntut di pengadilan asalkan
mengikuti beberapa prosedur yang telah ditetapkan. Prosedur tersebut adalah
mengadakan konsultasi dengan rekan sejawat (tidak harus seorang spesialis) dan
membuat laporan dengan menjawab sekitar 50 pertanyaan.
Sejak akhir tahun 1993, Belanda secara hukum mengatur kewajiban para dokter
untuk melapor semua kasus eutanasia dan bunuh diri berbantuan. Instansi
kehakiman selalu akan menilai betul tidaknya prosedurnya. Pada tahun 2002,
sebuah konvensi yang berusia 20 tahun telah dikodifikasi oleh undang-undang
belanda, dimana seorang dokter yang melakukan eutanasia pada suatu kasus
tertentu tidak akan dihukum.
b.

Australia

Negara bagian Australia, Northern Territory, menjadi tempat pertama di dunia


dengan UU yang mengizinkan euthanasia dan bunuh diri berbantuan, meski
reputasi ini tidak bertahan lama. Pada tahun 1995 Northern Territory menerima

13 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

UU yang disebut "Right of the terminally ill bill" (UU tentang hak pasien
terminal). Undang-undang baru ini beberapa kali dipraktikkan, tetapi bulan Maret
1997 ditiadakan oleh keputusan Senat Australia, sehingga harus ditarik kembali.
c.

Belgia

Parlemen Belgia telah melegalisasi tindakan eutanasia pada akhir September


2002. Para pendukung eutanasia menyatakan bahwa ribuan tindakan eutanasia
setiap tahunnya telah dilakukan sejak dilegalisasikannya tindakan eutanasia di
negara ini, namun mereka juga mengkritik sulitnya prosedur pelaksanaan
eutanasia ini sehingga timbul suatu kesan adaya upaya untuk menciptakan
"birokrasi kematian".
Belgia kini menjadi negara ketiga yang melegalisasi eutanasia (setelah Belanda
dan negara bagian Oregon di Amerika).
Senator Philippe Mahoux, dari partai sosialis yang merupakan salah satu
penyusun rancangan undang-undang tersebut menyatakan bahwa seorang pasien
yang menderita secara jasmani dan psikologis adalah merupakan orang yang
memiliki hak penuh untuk memutuskan kelangsungan hidupnya dan penentuan
saat-saat akhir hidupnya.[7]
d.

Amerika

Eutanasia agresif dinyatakan ilegal di banyak negara bagian di Amerika. Saat ini
satu-satunya negara bagian di Amerika yang hukumnya secara eksplisit
mengizinkan pasien terminal ( pasien yang tidak mungkin lagi disembuhkan)
mengakhiri hidupnya adalah negara bagian Oregon, yang pada tahun 1997
melegalisasikan kemungkinan dilakukannya eutanasia dengan memberlakukan
UU tentang kematian yang pantas (Oregon Death with Dignity Act)[8]. Tetapi

14 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

undang-undang ini hanya menyangkut bunuh diri berbantuan, bukan euthanasia.


Syarat-syarat yang diwajibkan cukup ketat, dimana pasien terminal berusia 18
tahun ke atas boleh minta bantuan untuk bunuh diri, jika mereka diperkirakan
akan meninggal dalam enam bulan dan keinginan ini harus diajukan sampai tiga
kali pasien, dimana dua kali secara lisan (dengan tenggang waktu 15 hari di
antaranya) dan sekali secara tertulis (dihadiri dua saksi dimana salah satu saksi
tidak boleh memiliki hubungan keluarga dengan pasien). Dokter kedua harus
mengkonfirmasikan diagnosis penyakit dan prognosis serta memastikan bahwa
pasien dalam mengambil keputusan itu tidak berada dalam keadaan gangguan
mental.Hukum juga mengatur secara tegas bahwa keputusan pasien untuk
mengakhiri hidupnya tersebut tidak boleh berpengaruh terhadap asuransi yang
dimilikinya baik asuransi kesehatan, jiwa maupun kecelakaan ataupun juga
simpanan hari tuanya.
Belum jelas apakah undang-undang Oregon ini bisa dipertahankan di masa depan,
sebab dalam Senat AS pun ada usaha untuk meniadakan UU negara bagian ini.
Mungkin saja nanti nasibnya sama dengan UU Northern Territory di Australia.
Bulan Februari lalu sebuah studi terbit tentang pelaksanaan UU Oregon selama
tahun 1999.[9][10]
Sebuah lembaga jajak pendapat terkenal yaitu Poling Gallup (Gallup Poll)
menunjukkan bahwa 60% orang Amerika mendukung dilakukannya eutanasia [11]
e.

Indonesia

Berdasarkan hukum di Indonesia maka eutanasia adalah sesuatu perbuatan yang


melawan hukum, hal ini dapat dilihat pada peraturan perundang-undangan yang
ada yaitu pada Pasal 344 Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang menyatakan
bahwa "Barang siapa menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu
sendiri, yang disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum
15 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

penjara selama-lamanya 12 tahun". Juga demikian halnya nampak pada


pengaturan pasal-pasal 338, 340, 345, dan 359 KUHP yang juga dapat dikatakan
memenuhi unsur-unsur delik dalam perbuatan eutanasia. Dengan demikian, secara
formal hukum yang berlaku di negara kita memang tidak mengizinkan tindakan
eutanasia oleh siapa pun.
Ketua umum pengurus besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Farid Anfasal
Moeloek dalam suatu pernyataannya yang dimuat oleh majalah Tempo Selasa 5
Oktober 2004

[12]

menyatakan bahwa : Eutanasia atau "pembunuhan tanpa

penderitaan" hingga saat ini belum dapat diterima dalam nilai dan norma yang
berkembang dalam masyarakat Indonesia. "Euthanasia hingga saat ini tidak sesuai
dengan etika yang dianut oleh bangsa dan melanggar hukum positif yang masih
berlaku yakni KUHP.
f.

Swiss

Di Swiss, obat yang mematikan dapat diberikan baik kepada warga negara Swiss
ataupun orang asing apabila yang bersangkutan memintanya sendiri. Secara
umum, pasal 115 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana Swiss yang ditulis
pada tahun 1937 dan dipergunakan sejak tahun 1942, yang pada intinya
menyatakan bahwa "membantu suatu pelaksanaan bunuh diri adalah merupakan
suatu perbuatan melawan hukum apabila motivasinya semata untuk kepentingan
diri sendiri."
Pasal 115 tersebut hanyalah menginterpretasikan suatu izin untuk melakukan
pengelompokan terhadap obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengakhiri
kehidupan seseorang.
g.

Inggris

16 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

Pada tanggal 5 November 2006, Kolese Kebidanan dan Kandungan Britania Raya
(Britain's Royal College of Obstetricians and Gynaecologists) mengajukan
sebuah proposal kepada Dewan Bioetik Nuffield (Nuffield Council on Bioethics)
agar dipertimbangkannya izin untuk melakukan eutanasia terhadap bayi-bayi
yang lahir cacat (disabled newborns). Proposal tersebut bukanlah ditujukan untuk
melegalisasi

eutanasia

di

Inggris

melainkan

semata

guna

memohon

dipertimbangkannya secara saksama dari sisi faktor "kemungkinan hidup si bayi"


sebagai suatu legitimasi praktik kedokteran.
Namun hingga saat ini eutanasia masih merupakan suatu tindakan melawan
hukum di kerajaan Inggris demikian juga di Eropa (selain daripada Belanda).
Demikian pula kebijakan resmi dari Asosiasi Kedokteran Inggris (British Medical
Association-BMA) yang secara tegas menentang eutanasia dalam bentuk apapun
juga.[13]
h.

Jepang

Jepang tidak memiliki suatu aturan hukum yang mengatur tentang eutanasia
demikian pula Pengadilan Tertinggi Jepang (supreme court of Japan) tidak pernah
mengatur mengenai eutanasia tersebut.
Ada 2 kasus eutanasia yang pernah terjadi di Jepang yaitu di Nagoya pada tahun
1962 yang dapat dikategorikan sebagai "eutanasia pasif" ( ,
shkyokuteki anrakushi)
Kasus yang satunya lagi terjadi setelah peristiwa insiden di Tokai university pada
tahun 1995[14] yang dikategorikan sebagai "eutanasia aktif " ( ,
sekkyokuteki anrakushi)

17 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

Keputusan hakim dalam kedua kasus tersebut telah membentuk suatu kerangka
hukum dan suatu alasan pembenar dimana eutanasia secara aktif dan pasif boleh
dilakukan secara legal. Meskipun demikian eutanasia yang dilakukan selain pada
kedua kasus tersebut adalah tetap dinyatakan melawan hukum, dimana dokter
yang melakukannya akan dianggap bersalah oleh karena merampas kehidupan
pasiennya. Oleh karena keputusan pengadilan ini masih diajukan banding ke
tingkat federal maka keputusan tersebut belum mempunyai kekuatan hukum
sebagai sebuah yurisprudensi, namun meskipun demikian saat ini Jepang
memiliki suatu kerangka hukum sementara guna melaksanakan eutanasia.
i.

Republik Ceko

Di Republik Ceko eutanisia dinyatakan sebagai suatu tindakan pembunuhan


berdasarkan peraturan setelah pasal mengenai eutanasia dikeluarkan dari
rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Sebelumnya pada rancangan
tersebut, Perdana Menteri Jiri Pospil bermaksud untuk memasukkan eutanasia
dalam rancangan KUHP tersebut sebagai suatu kejahatan dengan ancaman pidana
selama 6 tahun penjara, namun Dewan Perwakilan Konstitusional dan komite
hukum negara tersebut merekomendasikan agar pasal kontroversial tersebut
dihapus dari rancangan tersebut.[15]
j.

India

Di India eutanasia adalah suatu perbuatan melawan hukum. Aturan mengenai


larangan eutanasia terhadap dokter secara tegas dinyatakan dalam bab pertama
pasal 300 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana India (Indian penal codeIPC) tahun 1860. Namun berdasarkan aturan tersebut dokter yang melakukan
euthanasia hanya dinyatakan bersalah atas kelalaian yang mengakibatkan
kematian dan bukannya pembunuhan yang hukumannya didasarkan pada
ketentuan pasal 304 IPC, namun ini hanyalah diberlakukan terhadap kasus
18 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

eutanasia sukarela dimana sipasien sendirilah yang menginginkan kematian


dimana si dokter hanyalah membantu pelaksanaan eutanasia tersebut (bantuan
eutanasia). Pada kasus eutanasia secara tidak sukarela (atas keinginan orang lain)
ataupun eutanasia di luar kemauan pasien akan dikenakan hukuman berdasarkan
pasal 92 IPC.[16]
k.

China

Di China, eutanasia saat ini tidak diperkenankan secara hukum. Eutansia


diketahui terjadi pertama kalinya pada tahun 1986, dimana seorang yang bernama
"Wang Mingcheng" meminta seorang dokter untuk melakukan eutanasia terhadap
ibunya yang sakit. Akhirnya polisi menangkapnya juga si dokter yang
melaksanakan permintaannya, namun 6 tahun kemudian Pengadilan tertinggi
rakyat (Supreme People's Court) menyatakan mereka tidak bersalah. Pada tahun
2003, Wang Mingcheng menderita penyakit kanker perut yang tidak ada
kemungkinan untuk disembuhkan lagi dan ia meminta untuk dilakukannya
eutanasia atas dirinya namun ditolak oleh rumah sakit yang merawatnya.
Akhirnya ia meninggal dunia dalam kesakitan.[17]
l.

Afrika Selatan

Di Afrika Selatan belum ada suatu aturan hukum yang secara tegas mengatur
tentang eutanasia sehingga sangat memungkinkan bagi para pelaku eutanasia
untuk berkelit dari jerat hukum yang ada.[18]
m.

Korea

Belum ada suatu aturan hukum yang tegas yang mengatur tentang eutanasia di
Korea, namun telah ada sebuah preseden hukum (yurisprudensi)yang di Korea
dikenal dengan "Kasus rumah sakit Boramae" dimana dua orang dokter yang

19 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

didakwa mengizinkan dihentikannya penanganan medis pada seorang pasien yang


menderita sirosis hati (liver cirrhosis) atas desakan keluarganya. Polisi kemudian
menyerahkan berkas perkara tersebut kepada jaksa penuntut dengan diberi catatan
bahwa dokter tersebut seharusnya dinayatakan tidak bersalah. Namun kasus ini
tidak menunjukkan relevansi yang nyata dengan mercy killing dalam arti kata
eutanasia aktif.
Pada akhirnya pengadilan memutuskan bahwa " pada kasus tertentu dari
penghentian penanganan medis (hospital treatment) termasuk tindakan eutanasia
pasif, dapat diperkenankan apabila pasien terminal meminta penghentian dari
perawatan medis terhadap dirinya.[19]
2.1.4

Contoh-Contoh Kasus Euthanasia

Kasus Hasan Kusuma - Indonesia


Sebuah permohonan untuk melakukan eutanasia pada tanggal 22 Oktober 2004 telah
diajukan oleh seorang suami bernama Hassan Kusuma karena tidak tega menyaksikan
istrinya yang bernama Agian Isna Nauli, 33 tahun, tergolek koma selama 2 bulan dan
di samping itu ketidakmampuan untuk menanggung beban biaya perawatan
merupakan suatu alasan pula. Permohonan untuk melakukan eutanasia ini diajukan ke
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kasus ini merupakan salah satu contoh bentuk
eutanasia yang di luar keinginan pasien. Permohonan ini akhirnya ditolak oleh
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dan setelah menjalani perawatan intensif maka
kondisi terakhir pasien (7 Januari 2005) telah mengalami kemajuan dalam pemulihan
kesehatannya.[34]
Kasus seorang wanita New Jersey - Amerika Serikat

20 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

Seorang perempuan berusia 21 tahun dari New Jersey, Amerika Serikat, pada tanggal
21 April 1975 dirawat di rumah sakit dengan menggunakan alat bantu pernapasan
karena kehilangan kesadaran akibat pemakaian alkohol dan zat psikotropika secara
berlebihan.Oleh karena tidak tega melihat penderitaan sang anak, maka orangtuanya
meminta agar dokter menghentikan pemakaian alat bantu pernapasan tersebut. Kasus
permohonan ini kemudian dibawa ke pengadilan, dan pada pengadilan tingkat
pertama permohonan orangtua pasien ditolak, namun pada pengadilan banding
permohonan dikabulkan sehingga alat bantu pun dilepaskan pada tanggal 31 Maret
1976. Pasca penghentian penggunaan alat bantu tersebut, pasien dapat bernapas
spontan walaupun masih dalam keadaan koma. Dan baru sembilan tahun kemudian,
tepatnya tanggal 12 Juni 1985, pasien tersebut meninggal akibat infeksi paru-paru
(pneumonia).
Kasus Terri Schiavo
Terri Schiavo (usia 41 tahun) meninggal dunia di negara bagian Florida, 13 hari
setelah Mahkamah Agung Amerika memberi izin mencabut pipa makanan (feeding
tube) yang selama ini memungkinkan pasien dalam koma ini masih dapat hidup.
Komanya mulai pada tahun 1990 saat Terri jatuh di rumahnya dan ditemukan oleh
suaminya, Michael Schiavo, dalam keadaan gagal jantung. Setelah ambulans tim
medis langsung dipanggil, Terri dapat diresusitasi lagi, tetapi karena cukup lama ia
tidak bernapas, ia mengalami kerusakan otak yang berat, akibat kekurangan oksigen.
Menurut kalangan medis, gagal jantung itu disebabkan oleh ketidakseimbangan unsur
potasium dalam tubuhnya. Oleh karena itu, dokternya kemudian dituduh malapraktik
dan harus membayar ganti rugi cukup besar karena dinilai lalai dalam tidak
menemukan kondisi yang membahayakan ini pada pasiennya.
Setelah Terri Schiavo selama 8 tahun berada dalam keadaan koma, maka pada bulan
Mei 1998 suaminya yang bernama Michael Schiavo mengajukan permohonan ke

21 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

pengadilan agar pipa alat bantu makanan pada istrinya bisa dicabut agar istrinya dapat
meninggal dengan tenang, namun orang tua Terri Schiavo yaitu Robert dan Mary
Schindler menyatakan keberatan dan menempuh langkah hukum guna menentang niat
menantu mereka tersebut. Dua kali pipa makanan Terri dilepaskan dengan izin
pengadilan, tetapi sesudah beberapa hari harus dipasang kembali atas perintah hakim
yang lebih tinggi. Ketika akhirnya hakim memutuskan bahwa pipa makanan boleh
dilepaskan, maka para pendukung keluarga Schindler melakukan upaya-upaya guna
menggerakkan Senat Amerika Serikat agar membuat undang-undang yang
memerintahkan pengadilan federal untuk meninjau kembali keputusan hakim
tersebut. Undang-undang ini langsung didukung oleh Dewan Perwakilan Amerika
Serikat dan ditandatangani oleh Presiden George Walker Bush. Tetapi, berdasarkan
hukum di Amerika kekuasaan kehakiman adalah independen, yang pada akhirnya
ternyata hakim federal membenarkan keputusan hakim terdahulu.
Kasus "Doctor Death"
Dr. Jack Kevorkian dijuluki "Doctor Death", seperti dilaporkan Lori A. Roscoe

[35]

Pada awal April 1998, di Pusat Medis Adven Glendale[36] , California diduga puluhan
pasien telah "ditolong" oleh Kevorkian untuk mengakhiri hidup. Kevorkian
berargumen apa yang dilakukannya semata demi "menolong" pasien-pasiennya.
Namun, para penentangnya menyebut apa yang dilakukannya adalah pembunuhan.
Kasus rumah sakit Boramae - Korea
Pada tahun 2002, ada seorang pasien wanita berusia 68 tahun yang terdiagnosa
menderita penyakit sirosis hati. Tiga bulan setelah dirawat, seorang dokter bermarga
Park umur 30 tahun, telah mencabut alat bantu pernapasan (respirator) atas
permintaan anak perempuan si pasien. Pada Desember 2002, anak lelaki almarhum
tersebut meminta polisi untuk memeriksa kakak perempuannya beserta dua orang
dokter atas tuduhan melakukan pembunuhan. Seorang dokter yang bernama dr. Park
22 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

mengatakan bahwa si pasien sebelumnya telah meminta untuk tidak dipasangi alat
bantu pernapasan tersebut. Satu minggu sebelum meninggalnya, si pasien amat
menderita oleh penyakit sirosis hati yang telah mencapai stadium akhir, dan dokter
mengatakan bahwa walaupun respirator tidak dicabutpun, kemungkinan hanya dapat
bertahan hidup selama 24 jam saja.[37]
Kasus BBC
Seorang warga Swiss bunuh diri dibantu medis atau euthanasia. Disaksikan
keluarganya, ia menenggak obat mematikan di satu klinik di Swiss. Proses menuju
kematian itu, disiarkan oleh televisi BBC. Kontroversi pun sontak merebak. Nama
pria itu adalah Peter Smedley berusia 71 tahun dan sedang sakit parah yang tak
mungkin disembuhkan lagi. Pemilik hotel ini pun memutuskan untuk mengakhiri
penderitaan itu dengan cara meminum obat mematikan. Niatnya itu bisa terlaksana
karena di negaranya, Swiss, euthanasia tidak terlarang. Ia pun meminta dokter di satu
klik bernama Dignitas memberikan obat mematikan, barbituates. Entah bagaimana
dia memberikan izin kepada Sir Terry Pratchett, pembawa acara Terry Pratchett:
Choosing To Die, untuk merekam momen terakhirnya saat meminum racun. Itu
terjadi sebelum Natal tahun lalu. Dalam gambar yang ditayangkan di BBC, sang
pasien, Smedley, didampingi dokter dari klinik dan istrinya Christine. Dalam
hitungan detik, ia meninggal di kursinya. Segera setelah tayangan itu, debat panas
muncul di Twitter, media sosial lainnya serta media cetak membuat BBC dijuluki
'pemandu sorak' euthanasia. Warga pun menulis pengaduannya pada Dirjen Mark
Thompson dan Kepala BBC Lord Patten mengenai acara itu. Warga menganggap
acara ini 'tak pantas'. Kelompok amal, politik dan agama bergabung menyatakan
acara ini 'propaganda' euthanasia. Dalam gugatan, tertulis, "Menayangkan kematian
pasien di acara demi hiburan, BBC harus punya alasan kuat". Baroness Campbell of
Surbiton, Baroness Finlay of Llandaff, Lord Alton of Liverpool dan Lord Charlie of
Berriew mengatakan, BBC menayangkan acara ini guna mendukung bunuh diri yang

23 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

dibantu. Alhasil, hampir 900 warga membuat pengaduan resmi pada BBC atas
program itu. Juru bicara BBC menambahkan, "Terkait acara ini, kami punya 82
apresiasi dan 162 pengaduan, total pengaduan pun menjadi 898". Regulator media
Ofcom sendiri mengakui seperti dikutip Dailymail, BBC mendapat 'banyak'
pengaduan
2.2 Pandangan Agama-Agama di Indonesia tentang Euthanasia

2.2.1

Pandangan Islam

Seperti dalam agama-agama Ibrahim lainnya (Yahudi dan Kristen), Islam mengakui
hak seseorang untuk hidup dan mati, namun hak tersebut merupakan anugerah Allah
kepada manusia. Hanya Allah yang dapat menentukan kapan seseorang lahir dan
kapan ia mati (QS 22: 66; 2: 243). Oleh karena itu, bunuh diri diharamkan dalam
hukum Islam meskipun tidak ada teks dalam Al Quran maupun Hadis yang secara
eksplisit melarang bunuh diri. Kendati demikian, ada sebuah ayat yang menyiratkan
hal tersebut, "Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS 2: 195), dan
dalam ayat lain disebutkan, "Janganlah engkau membunuh dirimu sendiri," (QS 4:
29), yang makna langsungnya adalah "Janganlah kamu saling berbunuhan." Dengan
demikian, seorang Muslim (dokter) yang membunuh seorang Muslim lainnya
(pasien) disetarakan dengan membunuh dirinya sendiri.
Eutanasia dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al-maut (eutanasia),
yaitu suatu tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa
merasakan sakit, karena kasih sayang, dengan tujuan meringankan penderitaan si
sakit, baik dengan cara positif maupun negatif.

24 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

Pada konferensi pertama tentang kedokteran Islam di Kuwait tahun 1981, dinyatakan
bahwa tidak ada suatu alasan yang membenarkan dilakukannya eutanasia ataupun
pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) dalam alasan apapun juga .
Hasil wawancara :

2.2.2

Pandangan Kristen

Gereja Protestan terdiri dari berbagai denominasi yang mana memiliki pendekatan
yang berbeda-beda dalam pandangannya terhadap eutanasia dan orang yang
membantu pelaksanaan eutanasia.
Beberapa pandangan dari berbagai denominasi tersebut misalnya :[33]

Gereja Methodis (United Methodist church) dalam buku ajarannya

menyatakan bahwa : " penggunaan teknologi kedokteran untuk memperpanjang


kehidupan pasien terminal membutuhkan suatu keputusan yang dapat dipertanggung
jawabkan tentang hingga kapankah peralatan penyokong kehidupan tersebut benarbenar dapat mendukung kesempatan hidup pasien, dan kapankah batas akhir
kesempatan hidup tersebut".

Gereja Lutheran di Amerika menggolongkan nutrisi buatan dan hidrasi

sebagai suatu perawatan medis yang bukan merupakan suatu perawatan fundamental.
Dalam kasus dimana perawatan medis tersebut menjadi sia-sia dan memberatkan,
maka secara tanggung jawab moral dapat dihentikan atau dibatalkan dan membiarkan
kematian terjadi.
Seorang kristiani percaya bahwa mereka berada dalam suatu posisi yang unik untuk
melepaskan pemberian kehidupan dari Tuhan karena mereka percaya bahwa kematian
tubuh adalah merupakan suatu awal perjalanan menuju ke kehidupan yang lebih baik.

25 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

Lebih jauh lagi, pemimpin gereja Katolik dan Protestan mengakui bahwa apabila
tindakan mengakhiri kehidupan ini dilegalisasi maka berarti suatu pemaaf untuk
perbuatan dosa, juga dimasa depan merupakan suatu racun bagi dunia perawatan
kesehatan, memusnahkan harapan mereka atas pengobatan.
Sejak awalnya, cara pandang yang dilakukan kaum kristiani dalam menanggapi
masalah "bunuh diri" dan "pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing)
adalah dari sudut "kekudusan kehidupan" sebagai suatu pemberian Tuhan.
Mengakhiri hidup dengan alasan apapun juga adalah bertentangan dengan maksud
dan tujuan pemberian tersebut.

2.2.3

Pandangan Katolik

Sejak pertengahan abad ke-20, gereja Katolik telah berjuang untuk memberikan
pedoman sejelas mungkin mengenai penanganan terhadap mereka yang menderita
sakit tak tersembuhkan, sehubungan dengan ajaran moral gereja mengenai eutanasia
dan sistem penunjang hidup. Paus Pius XII, yang tak hanya menjadi saksi dan
mengutuk program-program egenetika dan eutanasia Nazi, melainkan juga menjadi
saksi atas dimulainya sistem-sistem modern penunjang hidup, adalah yang pertama
menguraikan secara jelas masalah moral ini dan menetapkan pedoman. Pada tanggal
5 Mei tahun 1980 , kongregasi untuk ajaran iman telah menerbitkan Dekalarasi
tentang eutanasia ("Declaratio de euthanasia")

[20]

yang menguraikan pedoman ini

lebih lanjut, khususnya dengan semakin meningkatnya kompleksitas sistem-sistem


penunjang hidup dan gencarnya promosi eutanasia sebagai sarana yang sah untuk
mengakhiri hidup. Paus Yohanes Paulus II, yang prihatin dengan semakin
meningkatnya praktik eutanasia, dalam ensiklik Injil Kehidupan (Evangelium Vitae)
nomor 64 yang memperingatkan kita agar melawan "gejala yang paling
mengkhawatirkan dari `budaya kematian' dimana jumlah orang-orang lanjut usia dan

26 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

lemah yang meningkat dianggap sebagai beban yang mengganggu." Paus Yohanes
Paulus II juga menegaskan bahwa eutanasia merupakan tindakan belas kasihan yang
keliru, belas kasihan yang semu: "Belas kasihan yang sejati mendorong untuk ikut
menanggung penderitaan sesama. Belas kasihan itu tidak membunuh orang, yang
penderitaannya tidak dapat kita tanggung" (Evangelium Vitae, nomor 66)
2.2.4

Pandangan Hindu

Pandangan agama Hindu terhadap euthanasia adalah didasarkan pada ajaran tentang
karma, moksa dan ahimsa.
Karma adalah merupakan suatu konsekwensi murni dari semua jenis kehendak dan
maksud perbuatan, yang baik maupun yang buruk, lahir atau bathin dengan pikiran
kata-kata atau tindakan. Sebagai akumulasi terus menerus dari "karma" yang buruk
adalah menjadi penghalang "moksa" yaitu suatu ialah kebebasan dari siklus
reinkarnasi yang menjadi suatu tujuan utama dari penganut ajaran Hindu.
Ahimsa adalah merupakan prinsip "anti kekerasan" atau pantang menyakiti siapapun
juga.
Bunuh diri adalah suatu perbuatan yang terlarang di dalam ajaran Hindu dengan
pemikiran bahwa perbuatan tersebut dapat menjadi suatu factor yang mengganggu
pada saat reinkarnasi oleh karena menghasilkan "karma" buruk. Kehidupan manusia
adalah merupakan suatu kesempatan yang sangat berharga untuk meraih tingkat yang
lebih baik dalam kehidupan kembali.
Berdasarkan kepercayaan umat Hindu, apabila seseorang melakukan bunuh diri,
maka rohnya tidak akan masuk neraka ataupun surga melainkan tetap berada didunia
fana sebagai roh jahat dan berkelana tanpa tujuan hingga ia mencapai masa waktu
dimana seharusnya ia menjalani kehidupan (Catatan : misalnya umurnya waktu

27 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

bunuh diri 17 tahun dan seharusnya ia ditakdirkan hidup hingga 60 tahun maka 43
tahun itulah rohnya berkelana tanpa arah tujuan), setelah itu maka rohnya masuk ke
neraka menerima hukuman lebih berat dan akhirnya ia akan kembali ke dunia dalam
kehidupan kembali (reinkarnasi) untuk menyelesaikan "karma" nya terdahulu yang
belum selesai dijalaninya kembali lagi dari awal.[23]
2.2.5

Pandangan Budha

Ajaran agama Buddha sangat menekankan kepada makna dari kehidupan dimana
penghindaran untuk melakukan pembunuhan makhluk hidup adalah merupakan salah
satu moral dalam ajaran Budha. Berdasarkan pada hal tersebut di atas maka nampak
jelas bahwa euthanasia adalah sesuatu perbuatan yang tidak dapat dibenarkan dalam
ajaran agama Budha. Selain daripada hal tersebut, ajaran Budha sangat menekankan
pada "welas asih" ("karuna")
Mempercepat kematian seseorang secara tidak alamiah adalah merupakan
pelanggaran terhadap perintah utama ajaran Budha yang dengan demikian dapat
menjadi "karma" negatif kepada siapapun yang terlibat dalam pengambilan keputusan
guna memusnahkan kehidupan seseorang tersebut.
2.3 Euthanasia dalam Hukum Di Indonesia
Menurut PP no.18/1981 pasal 1g menyebutkan bahwa: Meninggal dunia
adalah keadaan insani yang diyakini oleh ahli kedokteran yang berwenang,
bahwa fungsi otak, pernapasan, & atau denyut jantung seseorang telah berhenti.
Definisi

mati

ini

merupakan

definisi

yang

berlaku

di

Indonesia.

Mati itu sendiri sebetulnya dapat didefinisikan secara sederhana sebagai


berhentinya kehidupan secara permanen (permanent cessation of life). Hanya
saja, untuk memahaminya terlebih dahulu perlu memahami apa yang disebut
hidup.

28 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

Para ahli sependapat jika definisi hidup adalah berfungsinya berbagai organ
vital (paru-paru,jantung, & otak) sebagai satu kesatuan yang utuh, ditandai oleh
adanya konsumsi oksigen. Dengan demikian definisi mati dapat diperjelas lagi
menjadi berhentinya secara permanen fungsi organ-organ vital sebagai satu
kesatuan

yang

utuh,

ditandai

oleh

berhentinya

konsumsi

oksigen.

Meskipun euthanasia bukan merupakan istilah yuridis, namun mempunyai


implikasi hukum yang sangat luas, baik pidana maupun perdata. Pasal-pasal
dalam KUHP menegaskan bahwa euthanasia baik aktif maupun pasif tanpa
permintaan adalah dilarang. Demikian pula dengan euthanasia aktif dengan
permintaan. Berikut adalah bunyi pasal-pasal dalam KUHP tersebut:
Pasal 338: Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain karena
pembunuhan biasa, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya lima
belas tahun.
Pasal 340: Barangsiapa dengan sengaja & direncanakan lebih dahulu
menghilangkan jiwa orang lain, karena bersalah melakukan pembunuhan
berencana, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau penjara
sementara selama-lamanya duapuluh tahun.
Pasal 344: Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang
itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata & sungguh-sungguh dihukum
penjara selama-lamanya duabelas tahun.
Pasal 345: Barangsiapa dengan sengaja membujuk orang lain untuk bunuh diri,
menolongnya dalam perbuatan itu atau memberi sarana kepadanya untuk itu,
diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun, kalau orang itu jadi
bunuh diri.
Pasal 359: Menyebabkan matinya seseorang karena kesalahan atau kelalaian,

29 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun atau pidana


kurungan

selama-lamanya

satu

tahun

Pada dewasa ini, para dokter & petugas kesehatan lain menghadapi sejumlah
masalah dalam bidang kesehatan yang cukup berat ditinjau dari sudut medis-etisyuridis Dari semua masalah yang ada itu. Euthanasia merupakan salah satu
permasalahan yang menyulitkan bagi para dokter & tenaga kesehatan. Mereka
seringkali dihadapkan pada kasus di mana seorang pasien menderita penyakit
yang tidak dapat diobati lagi, misalnya kanker stadium lanjut, yang seringkali
menimbulkan penderitaan berat pada penderitanya. Pasien tersebut berulangkali
memohon dokter untuk mengakhiri hidupnya. Di sini yang dihadapi adalah kasus
yang dapat disebut euthanasia.
Beberapa ahli hukum berpendapat bahwa tindakan perawatan medis yang
tidak ada gunanya seperti misalnya pada kasus pasien ini, secara yuridis dapat
dianggap sebagai penganiayaan. Tindakan di luar batas ilmu kedokteran dapat
dikatakan di luar kompetensi dokter tersebut untuk melakukan perawatan medis.
Dengan kata lain, apabila suatu tindakan medis dianggap tidak ada manfaatnya,
maka dokter tidak lagi berkompeten melakukan perawatan medis, & dapat dijerat
hukum sesuai KUHP pasal 351 tentang penganiayaan,yang berbunyi:
(1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan
bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
(4)

Dengan

penganiayaan

disamakan

sengaja

merusak

kesehatan.

Hubungan hukum dokter-pasien juga dapat ditinjau dari sudut perdata, yaitu
pasal 1313, 1314, 1315, & 1319 KUHPer tentang perikatan-perikatan yang
dilahirkan dari kontrak atau perjanjian. Pasal 1320 KUHPer menyebutkan bahwa
untuk mengadakan perjanjian dituntut izin berdasarkan kemauan bebas dari
kedua belah pihak. Sehingga bila seorang dokter melakukan tindakan medis
tanpa persetujuan pasien, secara hukum dapat dijerat Pasal 351 KUHP tentang
penganiayaan.
30 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

Tindakan menghentikan perawatan medis yang dianggap tidak ada gunanya lagi,
sebaiknya dimaksudkan untuk mencegah tindakan medis yang tidak lagi
merupakan kompetensinya, & bukan maksud untuk memperpendek atau
mengakhiri

hidup

pasien.

Dengan kata lain, dasar etik moral untuk melakukan euthanasia adalah
memperpendek atau mengakhiri penderitaan pasien & bukan mengakhiri hidup
pasien. Ini sesuai dengan pendapat Prof.Olga Lelacic yang mengatakan: Dalam
kenyataan yang meminta dokter untuk mengakhiri hidupnya, sebenarnya tidak
ingin mati, tetapi ingin mengakhiri atau ingin lepas dari penderitaan karena
penyakitnya.

BAB III
HASIL WAWANCARA
3.1 Islam
Menurut pandangan agama islam, euthanasia jelas dilarang, karena tindakan
itu sama saja dengan tindakan pembunuhan. Yang sakit tidak boleh di suntik
mati dan yang sehat pun tidak boleh disuntik mati. Karena sakit adalah suatu
ujian dan cobaan yang diberikan Allah SWT kepada hambanya. (Menurut Bpk
Soleh dari LDII Bandung)
Euthanasia itu hukumnya haram apapun jenisnya. Karena euthanasia termasul
tindakan pembunuhan.
Ada sebuah kisah dari Para Sohabat Nabi; seorang sohabat yang terbunuh di
medan perang kemudian di beri gelar Ahli Jahannam. Kenapa di beri gelar
Ahli Jahannam? Karena dia merasa putus asa di medan perang yang akhirnya
pedangnya bukan di hnus ke arah musuh tetapi malah di tusukkan ke
badannya sendiri.

31 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

Dalam Ayat AlQuran Surah An- Nisa ayat 93, Allah SWT berfirman:
Barang siapa yang membunuh orang mukmin dengan sengaja maka dibalas
dengan neraka jahannam.
Dalam Hadis dikatakan bahwa:
Tidak halal darah seorang muslim yan sudah mengucapkan dua kalimat
syahadat (Syahadatain) kecuali adalah salah satu di antara yang tiga:
1.
2.
3.
Maka

Assaebu Zani (janda yang berzinah)


Annafsu bin Nafsi (orang yang membunuh)
Tarikulidinihi (orang yang keluar dari agama)
selain dari yang tiga diatas hukumnya haram, termasuk tindakan

Euthanasia.
3.2 Pandangan Agama Kristen
Euthanasia adalah suatu tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai
ketuhanan dan nilai-nilai keimanan. Ada 2 jenis euthanasia:
1.
Euthanasia halus
2.
Euthanasia kasar
Ke-2 nya adalah suatu hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Karena
masalah hidup dan mati manusia itu Tuhan yang punya kuasa, bukan manusia.
Lalu persoalannya adalah bagaimana seseorang yang sakit parah tetap bisa
menikmati hidupnya. Kenapa harus di bunuh!
Contoh persoalannya adalah kebersamaan itu ada di tengah masyarakat kita?
Manusia bunuh diri dengan euthanasia secara halus bisa saja disebabkan
karena faktor ekonomi dan keluarga yang sudah tidak sanggup. Itulah yang
disebut masalah kebersamaan.

32 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

Lalu seseorang yang sudah sakit parah, keluarga sudah merasa tidak sanggup
secara ekonomi maka tidak dikasih obat, dan matilah secara alami. Itu adalah
sesuatu yang tidak manusiawi karena kita sebagai manusia diberikan nikmat
oleh Tuhan untuk menjaga kehidupan. Kita harus mempertahankan, bukan
mempertahankan dalam artian memutuskan kehidupan. Ingat kita tidak punya
hak tetapi kita harus mempertahankan kehidupan yang telah Tuhan berikan
kepada kita. Jadi euthanasia baik secara kasar maupun halus itu sangat
bertentangan dengan nilai-nilai ke kristenan, nilai-nilai ketuhanan, dan nilainilai keimanan. Itu sama saja dengan pembunuhan.
Orang yang sudah di fonis dokter 2-3 hari lagi akan meninggal kalau Tuhan
sudah memilik rencana maka itu tidak akan terjadi. Separah apapun, manusia
tetap mengharapkan mukjizat dari Tuhan. Apabila kita temukan kasus yang
terjadi di dunia medis jika dokter telah lepas tagan maka itu adalah tindakan
yang wajar karena dokter adalah manusia yang hanya menggunakan akal
pikiran yang mereka miliki. Otak itu terbatas.
Manusia tugasnya berusaha masalah berhasil atau tidak itu Tuhan yang
tentukan. Memang pada hal ini ada mungkin diantaranya alasan keluarga yang
merasa kasihan kepada saudaranya yang sakit. Disini bisa saja terjadi bahwa
Tuhan tidak hanya sedang menguji yang sakit tetapi juga menguji keluarga
dan pihak medis yang menanganinya.
Okelah dokter atau pihak medis sudah lepas tangan, tapi keluarga masih bisa
mengupayakannya yaitu dengan pengobatan tradisional. Keluarga harus
berusaha sampai orang yang sakit menghembuskan nafas terakhirnya.
Intinya; Apapun caranya, dan apapun modelnya Euthanasia tetap tidak
diperbolehkan.

33 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

3.3 Katolik
Hasil wawancara :
Apa pandangan bapak tentang euthanasia :
Sebetulnya alasannya adalah faktor
1. nggak tega
2. mau sampai kapan ada di icu dengan ditompang alat
kedua dasar itu memperbolehkan mengambil nyawa manusia,sekarang dasar euthanasia
itu terutama di eropa dan barat.
ketika otak sudah tidak berfungsi sudah dianggap mati . Jadi batang otak itu dianggap
sebagai stop kontak untuk menyambungkan ke seluruh tubuh. kalo hidup pake alat itu
tetap hidup pakai alat tapi tidak memiliki jiwa. Dalam penelitian saya banyak orang
menganggap mati itu jantung berhenti.
Di indonesia dan di barat ada perbedaan. Di indonesia dokter tidak diberikan
kewenangan melakukan euthanasi,sedangkan di barat ketika otak sudah tidak berfungsi
maka euthanasia legal dilakukan, hanya perasaan saja yang menyatakan dia hidup. Jika
alat dicabut maka dia akan mati. Memang tidak mudah memutuskan euthanasia karena
mengingat dia keluarga atau apa pun. Di indonesia tidak ada dokter melakukan sendiri,
kebanyakan yang meminta adalah keluarga pasien langsung. Sekarang euthasia yang
lansung adalah dengan suntikan jadi langsung mati.
Adapun yang tidak langsung dengan mencabut alat alat. nah, yg disuntik itu tidak benar,
perkembangan medis dengan etika moral itu jauh lebih pesat. Di dunia barat ada
pandangan otaknya mati,lepas semua alat dan dinyatakan mati, atau dinyatakan
kemungkinan hidupnya kecil itu bukan euthasia.
Di indonesia belum ada dokter yang berani memutuska tentang euthanasia.

34 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

jadi boleh atau tidak,jika berhubungan dengan kematian batang otak dan dicabut alat alat
itu bukan euthasia, tapi kebanyakan setelah dilepas alat malah sehat. Dipengaruhi oleh
faktor ekonomi, lebih baik mengobati yang koma atau untuk pendidikan yang masih
hidup, maka sering merelakan yang koma. Memang akan ada terasa ada penyesalan
karena menghilangkan nyawa orang.

3.4 Hindu
Pandangan agama Hindu terhadap euthanasia adalah didasarkan pada ajaran tentang
karma, moksa dan ahimsa.
Karma adalah merupakan suatu konsekuensi murni dari semua jenis kehendak dan
maksud perbuatan, yang baik maupun yang buruk, lahir atau bathin dengan pikiran katakata atau tindakan. Sebagai akumulasi terus menerus dari karma yang buruk adalah
menjadi penghalang moksa yaitu suatu ialah kebebasan dari siklus reinkarnasi yang
menjadi suatu tujuan utama dari penganut ajaran Hindu.
Ahimsa adalah merupakan prinsip anti kekerasan atau pantang menyakiti siapapun
juga.
Bunuh diri adalah suatu perbuatan yang terlarang di dalam ajaran Hindu dengan
pemikiran bahwa perbuatan tersebut dapat menjadi suatu factor yang mengganggu pada
saat reinkarnasi oleh karena menghasilkan karma buruk. Kehidupan manusia adalah
merupakan suatu kesempatan yang sangat berharga untuk meraih tingkat yang lebih baik
dalam kehidupan kembali.
Berdasarkan kepercayaan umat Hindu, apabila seseorang melakukan bunuh diri, maka
rohnya tidak akan masuk neraka ataupun surge melainkan tetap berada didunia fana
sebagai roh jahat dan berkelana tanpa tujuan hingga ia mencapai masa waktu dimana
seharusnya ia menjalani kehidupan (Catatan: misalnya umurnya waktu bunuh diri 17
tahun dan seharusnya ia ditakdirkan hidup hingga 60 tahun maka 43 tahun itulah rohnya
berkelana tanpa arah tujuan), setelah itu maka rohnya masuk neraka menerima hukuman
lebih berat dan akhirnya ia akan kembali ke dunia dalam kehidupan kembali (reinkarnasi)

35 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

untuk menyelesaikan karmanya terdahulu yang belum selesai dijalaninya kembali dari
awal.

3.5 Budha
Menjelaskan bahwa dalamajaran agama budha praktrk euthanasia merupakan
suatu tindakan yang sama sekali tidak dibenarkan.beliau menjelaskan bahwa
setiap orang pasti memiliki hati nurani dan hati nurani seseorang tentu tidak akan
mungkin membenarkan perbuatan tersebut dengan alasanapapun. Karena
melakukan praktik euthanasia sama saja dengan melakukan pembunuhan. Adapun
jika alasannya karena sudah lama menderita suatu penyakit dan tidak tahan
dengan penyakit tersebut maka seseorang hendaknya berusaha dengan cara
bersabar dan berdoa. Dalamajaran budha semua orang yang terlibat dalam hal
tersebut akan mendapatkan karma buruk di kemudian hari karena telah melanggar
pancasila budhis dan hal tersebut termasuk pembunuhan dan perancanaan
pembunuhan.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

36 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia.

(2013).

Eutanasia

Diperoleh

19

Oktober

2013,

dari

http://id.wikipedia.org/wiki/Eutanasia
Hukumkes. (2013). Aspek hukum dalam pelaksanaan euthanasia di
indonesia

Diperoleh

19

Oktober

2013,

http://hukumkes.wordpress.com/2008/03/15/aspek-hukum-dalampelaksanaan-euthanasia-di-indonesia/

37 | M a t a K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a

dari