Anda di halaman 1dari 7

DESIGN NOTE

Perencanaan Penerapan Constructed Wetlands di Kota Pontianak untuk


Pengolahan Air Limbah Domestik Skala Perumahan
Perencanaan sistem lahan basah buatan (constructed wetlands) pada
sebuah pemukiman dengan jumlah 20 30 rumah menggunakan Konsep
Wastewater Garden. Dalam sebuah komplek perumahan terdapat lahan yang akan
dimanfaatkan bersama sebagai fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum)
direncanakan sebuah taman yang sekaligus mengolah limbah domestik seluruh
penghuni yang ada di komplek tersebut.
Constructed Wetlands dikenal merupakan suatu sistem pengolahan tahap
kedua (secondary treatment) artinya ada pengolahan yang dilakukan sebelumnya
sebelum air limbah masuk ke dalam wetland. Perencanaan ini akan disusun
sebagai perumahan dengan sistem IPAL Komunal dimana dalam kawasan tersebut
hanya terdapat 1 (satu) sistem tangki septik (septic tank) sebagai pengolahan
pertama (primary treatment) yang melayani sekitar 30 rumah terkoneksi dengan
sistem perpipaan. Pada pengolahan air limbah domestik kawasan perumahan
direncanakan terdapat pemisahan antara limbah kakus berupa feses dan urin
(black water) dengan limbah non kakus (grey water). Pemisahan tersebut dengan
sistem perpipaan yang dibuat terpisah dimana pada penampungan greywater
terdapat bak kontrol sebelum masuk ke wetland. Skema pengolahan dapat dilihat
pada Gambar 1.

Tangki Septic (Black Water)


Wastewater Garden
Badan Air (Sungai/Saluran)
Perumahan (20-30 Rumah)
Bak Grey Water

Bak Kontrol

Gambar 1. Skema Pengolahan Sistem Wastewater garden

Dengan pemisahan tersebut diharapkan hasil effluent dari pengolahan


dapat mencapai efisiensi yang tinggi sehingga air yang dilepaskan ke badan air
telah memenuhi baku mutu standar sesuai dengan peraturan yang berlaku. Secara
ringkas sistem pemisahan tersebut terlihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Skema Komponen Sistem Pengolahan


Sistem wetland yang digunakan adalah Sub-surface Flow (SSF) karena
mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan sistem Free Water
Surface (FWS) karena sistem SFS ditutup dengan pasir atau tanah, sehingga tidak
ada resiko langsung terhadap potensi timbulnya nyamuk itu karena air limbah
mengalir dibawah permukaan media serta sistem ini mampu memberikan transfer
oksigen yang lebih banyak daripada sistem FWS. Pengaliran air limbah dibawah
media juga memberikan proteksi thermal yang lebih baik pada suhu dingin.
Dengan input yang sama lahan yang dibutuhkan untuk sistem SSF lebih kecil
daripada FWS.
Untuk mengatasi kemungkinan clogging pada SSF dapat dilakukan dengan
mengatur media pada bagian inlet digunakan dengan diameter besar. Media
dengan diameter besar mempunyai konduktivitas hidraulik besar dan mampu
mengurangi terjadinya clogging di bagian awal reaktor. Setelah zona inlet yang

berdiameter besar digunakan media dengan diameter kecil. Media dengan


diameter kecil memberi manfaat berupa tersedianya area permukaan yang lebih
banyak yang dapat digunakan untuk membantu pengolahan. Rongga udara yang
lebih kecil lebih kompatibel bagi vegetasi akar dan rhizoma. Selain itu dengan
diameter yang lebih kecil konduktivitas hidrauliknya lebih rendah dan kondisi
aliran lebih mendekati linier.

Wastewater Garden

Gambar 2. Layout Plan Perumahan


Desain Subsurface Flow System (SFS)
Desain dari sistem SFS yang akan direncanakan didasarkan atas asumsi
data penggunaan air bersih dan kapasitas air limbah yang dihasilkan dari
perumahan tersebut seperti yang tercantum berikut ini :
1.

BOD influen = 132 mg/L

2.

BOD efluen = 2 mg/L

3.

Q = 22.225 m3/d = 785.33 ft3/d = 0.00587 Mgal/d

4.

Tipe vegetasi = bulrushes

5.

Temperatur air minimum = 16 0C

6.

Media basin = Gravelly sand

7.

Slope basin = 0.01

Parameter Desain Constructed Wetlands :


Tipe sistem
Paramater desain
Hydraulic detention time
Water depth
BOD5 loading rate
Hyraulic loading rate
Specific area

Unit
day

ft
lb/acre
Mgal/acre.d
Acre/(Mgal/d)
Sumber : Metcalf & Eddy, 2001

FWS

SFS

4 15

4 15

0.3 2.0
< 60
0.015 0.050
67 20

1.0 2.5
< 60
0.015 0.05
67 20

a. Kedalaman basin (d)


Kedalaman basin ditentukan berdasarkan jenis vegetasi yang akan digunakan
pada sistem wetland yang direncanakan. Dalam hal ini, vegetasi yang akan
digunakan adalah bulrushes (lidi air) yang mempunyai kemampuan penetrasi
rizoma hingga sedalam 30 in (0.76 m). Oleh karena itu, kedalaman basin
untuk perencanaan adalah sedalam 30 in (0,762 m) maka d = 0,762 m
b. Nilai , ks, dan K20
Nilai , ks, dan K20 tergantung dari media yang digunakan, yaitu gravelly
sand.
= 0.35
ks = 1,640 ft3/ft2.d
K20 = 0.86
c. KT
Nilai KT pada temperatur air minimal sebesar 16
berdasarkan persamaan, yaitu :
KT = K20 (1.1)(T-20), T dalam oC
K16 = 0.86 (1.1)(16-20)
K16 = 0.5874 d-1
d. Waktu detensi pore-space (t)

C dapat dihitung

Nilai t diperoleh berdasarkan persamaan, yaitu :


t = - ln (Ce/Co) / KT
t = - ln (2/132) / 0.5874
t = 7.13 day
e. Cross sectional area (Ac)
Ac diperoleh berdasarkan persamaan, yaitu :
Ac = Q / ks . S
Ac = 785.33 ft3/d
1,640 ft3/ft2.d (0.01)
Ac = 47.88 ft2 = 4,45 m2
f. Lebar basin (W)
Lebar basin (W), yaitu :
W = Ac/d
W = 4,45 m2 / 0,762 m2
W = 5,84 m
g. Panjang basin (L)
Panjang basin (L), yaitu :
L = t Q / W d
L = (7.13 d) (22,225 m3/d) / (5,86 m)(0,762 m)(0.35)
L = 101,84 m
h. Luas permukaan basin (As)
As = L x W
As = 101,84 m x 5,86 m
As = 596.9 m2
i. Pengecekan hydraulic-loading rate (Lw)
Lw =

Q / As

Lw = 22.225 m3/d / 596.9 m2

Lw = 0.037 m3/m2/d

OK

0.014 < Lw < 0.046

j. Pengecekan BOD5 loading rate


LBOD5 = (0.00587 Mgal/d)(132 mg/L)[8.34 lb/Mgal.(mg/L)]
LBOD5 = 6.462 lb/d
LBOD5 = 47.169 lb/acre.d

OK

LBOD5 < 60

k. Penyisihan suspended solid (SS) untuk sistem SFS dapat dihitung


menggunakan persamaan di bawah ini :
Ce = Co [ 0.1058 + 0.0011 (HLR) ]
Dimana : Ce = efluen TSS, mg/L
Co = influen TSS, mg/L
HLR = hydraulic-loading rate, cm/d
Ce = Co [ 0.1058 + 0.0011 (HLR) ]
Ce = 102 [ 0.1058 + 0.0011 (3.7) ]
Ce = 11.20 mg/L
Nilai Ce TSS sebesar 11.20 mg/L memenuhi syarat baku mutu kelas satu yang
ditetapkan, yaitu 50 mg/L.
Tabel 1. Hasil Perhitungan Sistem SFS
Parameter
BOD Influen

Satuan
Mg/L

SFS
132

BOD Efluen

Mg/L

TSS Influen

Mg/L

102

TSS Efluen

Mg/L

11.20

Waktu Detensi

Hari

7.13

Kedalaman basin

0.75

Luas permukaan basin

m2

597

m3/m2/h

0.037

Hydraulic-loading
Sumber : Hasil perhitungan

Karena keterbatasan luas lahan untuk sistem wetland serta aspek pengontrolan
vektor yang lebih mudah maka tipe constructed wetland yang dipilih adalah
tipe SFS. Jumlah basin paralel yang direncanakan adalah sejumlah 4 buah
ditambah dengan 1 basin cadangan yang ditujukan untuk difungsikan pada
saat resting. Panjang masing-masing basin (Lb) ditentukan dari :
Lb = L / 4
Lb = 334.11 ft / 4
Lb = 83.52 ft = 25.46 m
Lebar masing-masing basin (Wb) adalah 5.86 m (Wb = W)
Wetland tipe SFS ini dirancang dengan bagian depan dan belakang (inlet dan
outlet) diberi tambahan tembok yang berlubang-lubang agar distribusi
masukan limbah lebih merata. Seluruhnya membentuk gang (gallery) pada
bagian pemasukan dan pengeluaran, dengan batu kali (d = 12-15 cm) dan
gravel (d = 3-6 cm) mengapit pasir gravel. Susunan tersebut berfungsi sebagai
distributor hingga aliran yang masuk ke media diharapkan merata dan dapat
menahan pasir gravel.
Dari desain lahan basah buatan dengan tipe SFS tersebut apabila berjalan
dengan baik pada setiap komplek perumahan maka akan menimbulkan dampak
baik pula bagi kondisi lingkungan sekitar perumahan. Perumahan tersebut akan
terlihat bersih, rapi dan asri dengan taman yang dikelola sekaligus dimanfaatkan
sebagai fasilitas pengolahan air limbah.