Anda di halaman 1dari 81

GAMBARAN POLA MAKAN DAN KEJADIAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO PRODI DIII KEBIDANAN

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Diploma III Kebidanan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Fakultas Ilmu Kesehatan Prodi D III Kebidanan

Oleh :

AGIL AMIASTRI

NIM 2010.1126

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO FAKULTAS KESEHATAN PRODI D III KEBIDANAN

2014

Karya Tulis Oleh

Judul

LEMBAR PERSETUJUAN

: AGIL AMIASTRI

: GAMBARAN POLA MAKAN DAN KEJADIAN ANEMIA

PADA

REMAJA

PUTRI

DI

UNIVERSITAS

MUHAMMADIYAH

SIDOARJO

PRODI

D

III

KEBIDANAN

Telah disetujui untuk diujikan di hadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah pada

tanggal : 19-09-2014

Menyetujui :

Pembimbing

SMF. HANUM, SST, MM, M.KES

LEMBAR PENGESAHAN

Telah diuji dan disahkan oleh tim Penguji pada Ujian Sidang Karya Tulis Ilmiah di

Universitas Muhammadiyah Fakultas Kesehtatan Prodi D III Kebidanan

Tanggal : 19-09-2014

Tim Penguji :

Penguji I

: TUTIK RUSDYATI A. PER.PEN

(

)

Penguji II

: SMF. HANUM , SST, MM, M.KES

(

)

Mengetahui :

Dekan

Universitas Muhammadiyah Prodi D III Kebidanan

H. Zainul Arifin, dr. M. Kes

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

Hidup terasa berarti bila kita yakin Allah menjawab semua doa yang kita panjatkan suatu hari nanti”

PERSEMBAHAN

Karya Tulis Ilmiah ini akan kupersembahkan kepada :

1. Bapak dan Ibu yang senantiasa memberikan dukungan, kasih sayang, serta doa yang tiada henti.

2. Suami dan anakku caky yang mau mendengarkan keluh kesahku dan selalu mendoakanku.

3. Seluruh dosen Universitas Muhammadiyah Prodi D III Kebidanan d/h Akbid Siti Khodijah yang telah membagi ilmunya terutama pembimbing akademik dan pembimbing KTI (Bu Hanum dan Bu Tutik).

4. Semua pihak yang telah membantu dalam keseharianku, erna. Mbak endah, ainin, emil, epok (geng kuplak) yang selalu memberiku semangat.

“ Alhamdulillah sampun mari… Terima Kasih Ya ALLaH “

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Alloh SWT, atas rahmat dan karunia-Nya

sehingga dapat terselesaikannya Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Gambaran Pola makan

dan Kejadian Anemia Pada

Remaja Putri di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Fakultas Ilmu Kesehatan Prodi D III Kebidanan ”, sebagai salah satu persyaratan

akademis

dalam

rangka

Sepanjang Sidoarjo.

menyelesaikan

kuliah

di

Akademi

Kebidanan

Siti

Khodijah

Dalam Karya Tulis Ilmiah ini dijabarkan bagaimana gambaran pola makan dan

kejadian anemia pada mahasiswa semester 2 Akademi Siti Khodijah Muhammadiyah

Sepanjang.

Pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada

Bapak Sugeng Rahanto MPH, MPHM selaku dosen penelitian yang telah memberikan

petunjuk, koreksi serta saran hingga terwujudnya Karya Tulis Ilmiah ini.

Pada kesempatan ini kami sampaikan pula kepada yang terhormat :

1. Ibu SMF Hanum M.kes, selaku dosen pembimbing Karya Tulis Ilmiah Universitas

Muhammadiyah Sidoarjo Fakultas Ilmu Kesehatan Prodi D III Kebidanan

2. Seluruh Mahasiswa semester 3 bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.

3. dr. Zainul Arifin, M. Kes selaku Dekan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Fakultas

Ilmu Kesehatan Prodi D III Kebidanan

4. Bapak dan ibu Dosen

Prodi D III Kebidanan

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Fakultas Ilmu Kesehatan

5. beserta staf yang telah banyak membantu penulis selama penyusunan Karya Tulis Ilmiah

ini.

6. Sahabat, teman-teman dan semua pihak yang telah membantu hingga Karya Tulis Ilmiah

ini dapat terselesaikan.

Semoga Alloh SWT memberikan balasan pahala atas segala amal yang telah diberikan

dan semoga Karya Tulis Ilmiah ini berguna bagi diri kami sendiri maupun pihak lain

yang memanfaatkan.

Wonoayu, Juli 2014

Agil Amiastri

ABSTRAK

Anemia pada remaja adalah keadaan dimana kadar Hb < 12 gr/dl yang dialami remaja. Penyebab anemia pada remaja antara lain kurangnya asupan zat besi dari pola makan yang tidak sehat. Data dari buku menyatakan anemia pada remaja putri di Indonesia sebanyak 30-40% %.Sedangkan data awal mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III Kebidanan yang mengalami anemia sebanyak

Artinya sebagian besar remaja mengalami anemia Penelitian ini bertujuan

untuk menggambarkan pola makan dan kejadian anemia pada remaja.

61,1 %

Desain penelitian adalah deskriptif. Seluruh populasi adalah Mahasiswa Semester III dan sampel adalah salah satu kelas di Semester III. Pengambilan data menggunakan data primer melalui kuesioner dan cek Hb. Data disajikan dalam tabel rekuensi dan tabel silang, dianalisis secara deskriptif tanpa uji statistik.

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang pola makannya kurang sehat sebanyak 47,2%, sedangkan remaja yang mengalami anemia sebanyak 61,1 %. Dan remaja yang pola makannya kurang sehat dan mengalami anemia sebanyak

47,2%.

Simpulan penelitian adalah sebagian besar pola makan remaja yang tidak sehat mengalami anemia. Oleh karena itu diperlukan peran petugas untuk memberikan KIE tentang pentingnya pola makan sehat untuk mencegah anemia.

Kata Kunci : Pola Makan,Anemia

ABSTRACT

Anemia in adolescents is a condition in which the hemoglobin concentration <12 g /dl. Cause of anemia in adolescent includes a lack of iron intake from unhealthydiet. Data from book showed that anemic teens in Indonesia 30-40%. Preliminary data showed students of Muhammadiyah University of Sidoarjo Prodi D IIIKebidananare anemic as much as 61,1%. Many teens have an anemic’s disease. The research conducted to describe the diet and phenomenon of anemia in adolescents.

The research used descriptive research design. The whole population is the third semester students and the sample is one of the classes in the third semester. The data were collected by using primary data through questionnaires and Hbchecking. The data presented in frequency tables and cross tables, analyzed descriptively without statistical tests.

The results showed that the teens had unhealthy diet is 47,2% and the teens had anemic is 61,1 %. And the teens anemic is 47,2 %.

The Conclusion of this research is that most of the teens had unhealthy diet and most of the teens are anemic. Therefore the role of the officer is needed to give CIE (Communication, Information and Education) on the importance of a healthy diet to prevent anemia.

Keywords: Diet, Anemia

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

LEMBAR PERSETUJUAN

ii

LEMBAR PENGESAHAN

iii

LEMBAR PENGESAHAN

iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

iv

KATA PENGANTAR

v

ABSTRAK

vii

DAFTAR ISI

ix

DAFTAR BAGAN

xii

DAFTAR TABEL

xiii

DAFTAR GAMBAR

xv

DAFTAR LAMPIRAN

xvi

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.2 Identifikasi Masalah

5

1.3 Pembatasan Masalah

8

1.4 Perumusan Masalah

8

1.5 Tujuan Penelitian

9

1.5.1 Tujuan Umum

9

1.5.2 Tujuan Khusus

9

1.6 Manfaat Penelitian

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep pola makan remaja putri

11

2.1.1 Definisi Pola makan

23

2.1.2 klasifikasi

24

2.1.3 faktor yang mempengaruhi pola

24

2.2 Konsep Dasar Anemi

,

25

2.2.1 definisi anemia

,.25

2.2.2 klasifikasi anemia

,.26

2.2.3 tanda gejala anemia

2.2.4 faktor yang mempengaruhi anemia

, 26

27

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

40

3.2 Populasi

40

3.3 Identifikasi Variabel

41

3.4 Kerangka Kerja

41

3.5 Definisi Operasional

42

3.6 Pengumpulan Data Dan Analisa Data

44

 

3.6.1 Pengumpulan Data

44

3.6.2 Teknik Analisa Data

44

3.7 Tempat Dan Waktu Penelitian

45

3.8 Etika Penelitian

45

3.9 Keterbatasan Penelitian

46

BAB IV METODE PENELITIAN

4.1 Hasil Penelitian

48

4.2 Pembahasan

53

BAB V PENUTUP

6.1

Kesimpulan

57

6.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

58

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

: Lembar Angket

Lampiran 2

: Jadwal Penelitian

Lampiran 3

: Surat Ijin Penelitian

Lampiran 4

: Surat Permohonan menjadi Responden

Lampiran 5

: Lembar Persetujuan Menjadi Responden

Lampiran 6

: Kegiatan Bimbingan KTI

Lampiran 7

: Rekapitulasi Data

Lampiran 8

: Surat pernyataan Keaslian Tulisan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anemia atau sering disebut kurang darah adalah keadaan dimana darah merah

kurang dari normal, dan biasanya yang digunakan sebagai dasar adalah kadar

hemoglobin (Hb). WHO menetapkan Hb normal pada remaja putri berkisar 12 gr %.

Remaja putri memiliki resiko lebih tinggi terkena anemia dari pada remaja putra

karena sering kali remaja putri menjaga penampilan, keinginan untuk tetap langsing

atau kurus sehingga berdiet dan mengurangi makan. Diet yang tidak seimbang

dengan kebutuhan zat gizi tubuh akan menyebabkan tubuh kekurangan zat gizi yang

penting seperti besi (Arisman,2004).

Anemia yang terjadi pada remaja putri merupakan risiko terjadinya gangguan

fungsi fisik dan mental, serta dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan pada

saat kehamilan nantinya.Status besi harus diperbaiki pada saat sebelum hamil yaitu

sejak

remaja

sehingga

(Akhmad,2011).

keadaan

anemia

pada

saat

kehamilan

dapat

dikurangi

Menurut Depkes (2008), terdapat tiga faktor yang mempengaruhi timbulnya

anemia pada remaja, yaitu : Sebab langsung, karena ketidakcukupan zat besi dan

infeksi penyakit

Infeksi penyakit yang umumnya memperbesar resiko anemia adalah

cacing dan malaria. Sebab tidak langsung, yaitu rendahnya perhatian keluarga

terhadap wanita, aktifitas wanita tinggi, pola distribusi makanan dalam keluarga

dimana ibu dan anak wanita tidak menjadi prioritas. Sebab mendasar yaitu masalah

ekonomi, antara lain rendahnya pendidikan, rendahnya pendapatan, status sosial yang

rendah dan lokasi geografis yang sulit.

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi terjadinya anemia Menurut Depkes

(2008) yaitu : Pada umumnya konsumsi makanan nabati pada remaja putri dan wanita

tinggi, dibanding makanan hewani, sehingga kebutuhan Fe tidak terpenuhi. Selain itu

sering

melakukan

diet

(pengurangan

makan)

karena

ingin

langsing

dan

mempertahankan berat badannya. Dan juga remaja putri dan wanita mengalami

menstruasi tiap bulan yang membutuhkan zat besi tiga kali lebih banyak dari pada

laki-laki.

Upaya

pencegahan

dan

penanggulangan

anemia

pada

dasarnya

adalah

mengatasi penyebab kekurangan zat besi yaitu meningkatkan konsumsi zat besi dari

sumber alami dan fortifikasi bahan makanan dan suplementasi besi-folat secara rutin

selama jangka waktu tertentu untuk meningkatkan kadar hemoglobin secara cepat.

Remaja

harus

terpantau

dengan

pola

makan

yang

benar,

yaitu

dengan

memperhatikan bermacam jenis makanan yang kaya protein,buah-buahan dan sayur-

sayuran, kaya vitamin dan mineral. Remaja hanya memerlukan jumlah kecil lemak

dan gula. Tapi bila makanan kita tidak cukup, akan lebih baik untuk makan-makanan

kaya gula dan lemak, dari pada terlalu sedikit makanan guna menjaga tubuh agar

tetap ideal (Almatsier, 2005).

Pola makan adalah susunan jenis dan jumlah pangan

yang dikonsumsi

seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu dan cara atau usaha dalam

pengaturan

jumlah

dan

jenis

makanan

dengan

maksud

tertentu

seperti

mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan

penyakit.

Pola

makan

sehari-hari

merupakan

pola

makan

seseorang

yang

berhubungan dengan kebiasaan makan setiap harinya ( Baliwati,2004 : 69 ).

Pengaturan kebiasaan makan setiap hari untuk remaja putri sangat penting

untuk mencapai tujuan diet/pola makan sehat. Pengaturan pola makan ini berguna

untuk mempertahankan kehidupan,pertumbuhan dan fungsi normal organ-organ serta

menghasilkan energy bagi remaja putri. Karena pada masa-masa seperti ini remaja

dikategorikan rentan dalam percepatan pertumbuhandan, perkembangan tubuh dalam

pemenuhan energy dan zat gizi yang lebih banyak. Maka dari itu pengaturan pola

makan sangat penting bagi remaja putri ( Arisman, 2004 : 66 ).

Pola makan remaja putri biasanya cepat sekali terpengaruh oleh lingkungan.

Kegemaran yang tidak lazim, seperti pilihan untuk menjadi vegetarian atau food

faddism. Kecemasan akan bentuk tubuh membuat remaja sengaja tidak makan, yang

paling sering yaitu tidak sarapan pagi, tidak jarang berujung pada anoreksia nervosa.

Kesibukan membuat remaja putri lebih memilih makan di luar rumah atau menyantap

kudapan. Sebagian besar kudapan bukan hanya hampa kalori, tetapi juga sedikit

sekali mengandung zat gizi, selain itu mengganggu ( menghilangkan nafsu makan ),

selain itu kegemaran remaja putri memakan makanan sampah jung food yang sangat

sedikit bahkan tidak ada kandungan dan nilai gizinya seperti kalsium, besi, riboflavin,

asam folat,vitamin A dan C, sementara kandungan lemak jenuh,kolesterol dan

natrium tinggi ( Arisman, 2004 : 66 ).

Dalam

pembangunan

MDGs,

khususnya

terhadap

kesehatan

reproduksi

remaja, pemerintah turut ikut serta terhadap kesehatan remaja khusunya terhadap

kejadian anemia. Data yang tercatat yaitu prevalensi anemia di Indonesia sebesar 30-

40 % diderita oleh remaja putri, 25-35 % diderita oleh anak usia sekolah dan 50 %

diderita oleh ibu hamil. Data diatas menunjukkan bahwa tinnginya masalah anemia

pada remaja yang masih belum bisa diselesaikan hingga saat ini ( Husaini dkk dalam

Bakta 2006 ).

Data

sementara

pada

mahasiswa

Universitas

Muhammadiyah

Sidoarjo

Fakultas Ilmu Kesehatan Podi D III Kebidanan semester III dari 32 mahasiswa, 17

mahasiswa (53,125 %) mengalami anemia. Data diatas menunjukkan bahwa sebagian

besar mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Fakultas Ilmu Kesehatan Podi

D III Kebidanan semester III mengalami anemia.

Efek

dari

anemia

ini

akan

menyebabkan

menurunnya

prestasi

belajar,

menurunnya daya tahan sehingga mudah terkena penyakit infeksi serta tingkat

kebugaran pun akan turun yang berdampak pada rendahnya produktifitas dan tidak

tercapai tinggi badan maksimal karena pada masa ini terjadi puncak pertumbuhan

tinggi badan (peak high velocity) ( Depkes 2003 pada wijiastuti 2006 ).

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, bahwa Faktor- Faktor terjadinya Anemia

pada Remaja dipengaruhi oleh:

1.2.1 Defisiensi Zat Besi

Anemia

Defisiensi

besi

adalah

anemia

yang

timbul

akibat

kosongnya

cadangan besi tubuh sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang,yang

pada akhirnya pembentukan hemoglobin berkurang,yang pada akhirnya pembentukan

hemoglobin berkurang. Kelainan ini ditandai oleh anemia hipokromik mikrositer,besi

serum menurun,TIBC ( total iron binding capacity ) meningkat saturasi transferin

menurun,feritin serum menurun,pengecatan besi sumsum tulang negatif dan adanya

respon terhadap pengobatan dengan preparat besi. Anemia jenis ini merupakan

anemia yang paling sering dijumpai terutama di negara tropik atau negara dunia

ketiga

karena

sangat

berkaitan

erat

dengan

taraf

sosial

ekonomi.

Anemia

ini

mengenai lebih dari sepertiga penduduk dunia yang memberikan dampak kesehatan

yang sangat merugikan serta dampak sosial yang cukup serius. ( Bakta,2006:26 ).

1.2.2 Tingkat Sosial Ekonomi

Faktor social ekonomi berpengaruh terhadap asupan besi seseorang yang

bersumber dari daging, ikan dan unggas serta makanan hewani lainnya.Faktor-faktor

yang melatar belakangi tingginya prevalensi anemia gizi di Negara berkembang

adalah keadaan sosial ekonomi yang rendah yang meliputi pendidikan orang tua dan

penghasilan yang rendah serta keadaan kesehatan lingkungan yang buruk. Rendahnya

tingkat konsumsi disebabkan oleh pemanfaatan pangan belum optimal, distribusi

makanan belum merata, pengetahuan tentang gizi dan pangan kurang, faktor sosial

ekonomi seperti tingkat pendidikan rendah, besar keluarga yang tinggi, tingkat

pengetahuan rendah serta faktor budaya setempat yang tidak mendukung antara lain

masih terdapat pantangan, tahayul, tabu dalam masyarakat.

Pendapatan

merupakan

variabel

penting

bagi

kualitas

dan

kuantitas

berpengaruh

pada

perbaikan

kesehatan

dan

kondisi

keluarga

dan

selanjutnya

berhubungan dengan status gizi. Keluarga yang sangat miskin, akan lebih mudah

memenuhikebutuhan makanan apabila anggota keluarganya kecil. Keluarga yang

mempunyai jumlah anggota keluarga besar apabila persediaan pangan cukup belum

tentu dapat mencegah gangguan gizi, karena dengan bertambahnya jumlah anggota

keluarga maka pangan untuk setiap anggota keluarga berkurang. Besar keluarga

mempunyai pengaruh pada belanja pangan. Pendapatan per kapita dan belanja

(Anonymous, 2008)

1.2.3 Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan

Sebab

mendasar

terhadap

kejadian

anemia

dikarenakan

rendahnya

pendidikan. Pengetahuan akan makanan yang banyak mengandung Fe dan juga

pentingnya mengkonsumsi tablet Fe sangat jarang diketahui masyarakat luas. Salah

satu penyebab timbulnya anemia gizi pada remaja yaitu kurangnya pengetahuan akan

makanan. Solusinya dapat dilakukan melalui proses belajar mengajar tentang pangan,

bagaimana tubuh

menggunakan

zat

gizi dan bagaimana zat

gizi

besi

tersebut

diperlukan untuk menjaga kesehatan.Untuk mencegah kekurangan zat besi yang

dapat menyebabkan kadar Hb di bawah normal, diperlukan pengetahuan remaja yang

baik tentang bahan-bahan pangan sumber zat besi. Remaja yang berasal dari sosial

ekonomi rendah

sumber makanan yang adekuat tidak terpenuhi,karena mereka

menhidangkan

mekanan

seadanya

saja

tanpa

melihat

status

gizinya

sehingga

mempunyai resiko kekurangan zat besi yang akan berakibat anemia (Paath,2005 : 49)

1.2.4 Pola makan

Pola makan biasa disebut juga dengan kebiasaan makan,adalah suatu perilaku

yang berhubungan dengan makan dan makanan seperti tata krama, frekuensi makan

seseorang,

pola

makanan

yang

dimakan,

pantangan,

distribusi

makanan

dalam

anggota keluarga, preferensi terhadap makanan, dan cara pemilihan bahan pangan.Zat

gizi atau nutrisi merupakan sumber energi untuk menjalankan berbagai aktivitas

metabolisme.

Selama masa pertumbuhan dan perkembangan, remaja harus mendapatkan

semua zat gizi yang diperlukan oleh tubuhnya. Maka, pola makanan yang diberikan

harus berupa menu yang seimbang dengan keanekaragaman pangan dan memenuhi

standar gizi yang dibutuhkan. Pola makan bergizi seimbang ini akan menjamin tubuh

remaja untuk memperoleh makanan yang mengandung semua zat gizi dalam jumlah

yang dibutuhkan. Dengan demikian akan tumbuh secara optimal, dan seluruh sistem

tubuhnya bekerja dengan baik. Selain itu sistem kekebalan tubuhnya juga akan

berfungsi dengan baik sehingga remaja menjadi tidak mudah diserang penyakit.

Untuk itu perlu jadwal yang diatur sedemikian rupa sehingga jumlah zat gizi yang

harus dikonsumsi dapat terpenuhi (Akhmad,2011).

1.2.5 Gaya Hidup

Gaya

hidup

merupakan

salah

satu

aspek

yang

dapat

menyebabkan

peningkatan terjadinya anemia. Gaya hidup menggambarkan perilaku seseorang,

yaitu bagaimana ia hidupmenggunakan uangnya, danmemanfaatkan waktu yang

dimilikinya. Gaya hidup merupakan hasil penyaringa dari serentetan interaksi sosial,

budaya, dan keadaan.Masa remaja adalah masa dimana remaja mengalami saat-saat

pembentukan pribadi, dimana lingkungan sangat berperan.

Teman sebaya sangat penting sekali pengaruhnya bagi remaja, baik itu teman

sekolah, organisasi maupun teman bermain. Dalam kaitannya dengan pengaruh

kelompok sebaya, kelompok sebaya (peer groups) mempunyai peranan penting

dalam penyesuaian diri remaja dan bagi persiapan diri di masa mendatang. Serta

berpengaruh pula terhadap pandangan dan perilakunya dalam mengkonsumsi tablet

zat besi (fe). Sebabnya adalah, karena remaja pada umur ini sedang berusaha untuk

bebas

dari

keluarga

dan

tidak

tergantung

kepada

orang

tua

dan

remaja

juga

mempunyai banyak kegiatan yang dilakuakn. Hal ini yang menyebabkan banyak

remaja yang kurang akan zat besi (fe). Akan tetapi pada waktu yang sama mengerti

tentang manfaat dalam mengkonsumsi tablet zat besi (fe) agar tidak terjadi anemia

(Anonymous, 2008).

1.2.6 Menstruasi

Jumlah

darah

yang

dikeluarkan

saat

menstruasi

rata-rata

50-80

cc

dan

kehilangan zat besi sebesar 0-40 mg.Pada wanita terjadi kehilangan darah secara

alamiah setiap bulan. Jika darah yang keluar selama menstruasi sangat banyak akan

terjadi anemia defisiensi zat besi. Banyaknya darah yang keluar berperan pada

kejadian anemia karena wanita tidak mempunyai persediaan fe yang cukup dan

adsorbsi

Fe

ke

dalam

tubuh

tidak

dapat

menggantikan

hilangnya

Fe

saat

menstruasi.Kehilangan zat besi dapat pula diakibatkan oleh infestasi parasit seperti

cacing tambang, Schistosoma dan mungkin pula Trichuris trichiura (Feriani,2004).

1.2.7 Infeksi

Kehilangan besi dapat pula diakibatkan oleh infestasi parasit seperti cacing

ambang, Schistosoma, dan mungkin pula Trichuris trichiura. Hal ini lazim terjadi di

negara tropis, lembab serta keadaan sanitasi yang buruk (Arisman, 2004).

1.3 Pembatasan Masalah

Sehubungan dengan banyaknya faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia

maka penelitian ini hanya dibatasi pada faktor pola makan.

1.4 Perumusan Masalah

Uraian dalam latar belakang masalah diatas memberi dasar bagi peneliti untuk

merumuskan masalah atau pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimana gambaran Pola makan remaja ?

2. Bagaimana kejadian Anemia pada remaja ?

3. Bagaimana gambaran pola makan dan kejadian Anemia pada remaja ?

1.5 Tujuan Penelitian

1.5.1

Tujuan Umum

Diketahuinya

gambaran pola makan dan kejadian Anemia pada

remaja di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III kebidanan.

1.5.2 Tujuan Khusus

1.5.2.1

Mengidentifikasi

pola

makan

remaja

di

Universitas

Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III kebidanan.

 

1.5.2.2

Mengidentifikasi

Kejadian

Anemia

di

Universitas

Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III kebidanan.

1.5.2.3 Mengidentifikasi gambaran pola makan dan kejadian Anemia

di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III kebidanan.

1.6 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian yang diperoleh dari hasil penelitian ini

adalah:

1.6.1 Bagi Peneliti

Untuk menambah wawasan tentang anemia pada remaja dan

dapat menambah pengetahuan dan pengalaman tentang metodologi

penelitian kesehatan.

1.6.2 Bagi institusi Pendidikan

Dapat dijadikan sebagai bahan bacaan bagi yang memerlukan

dan sebagai masukan bagi pelaksana di bidang ilmiah pada masa yang

akan datang.

1.6.3 Bagi remaja

Sebagai bahan informasi dan menambah wawasan bagi remaja

dalam mengkonsumsi pola makan yang benar.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini akan menjelaskan mengenai (1) konsep dasar pola makan remaja putri (2)

Konsep dasar anemia pada remaja putri (3) Kerangka Konsep.

2.1 Konsep Dasar Pola Makan Remaja Putri

2.1.1 Definisi Pola Makan

Pola makan adalah susunan jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi

seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu dan cara atau usaha dalam

pengaturan

jumlah

dan

jenis

mempertahankan

kesehatan,status

makanan

dengan

nutrisi,mencegah

maksud

tertentu

seperti

dan

membantu

kesembuhan

penyakit.

Pola

makan

sehari-hari

merupakan

pola

makan

seseorang

yang

berhubungan dengan kebiasaan makan setiap harinya (Baliwati,2004 : 69)

Pola makan adalah cara atau perilaku yang ditempuh

seseorang atas

sekelompok orang dalam memilih, menggunakan bahan

makanan dalam konsumsi

pangan setiap hari yang meliputi jenis

makanan, jumlah makanan dan frekuensi

makan yang berdasarkan pada faktor-faktor sosial, budaya dimana mereka hidup.

Kebiasaan makan adalah cara seseorang dalam memilih dan memakannya

sebagai reaksi terhadap pengaruh-pengaruh psikologis,fisiologi,budaya dan social.

Kebiasaan makan adalah suatu perilaku yang berhubungan dengan

makan

seseorang,

pola

makanan

yang

dimakan,

pantangan,

distribusi

makanan dalam keluarga, preferensi terhadap makanan dan cara memilih

makanan Sehubungan dengan pangan yang biasanya dipandang pantas untuk

dimakan,

banyak

dijumpai

pola

pantangan,

tahayul

dan

larangan

pada

beragam kebudayaan dan daerah yang berlainan. Pola dan gaya hidup modern

membuat remaja cenderung lebih menyukai makan di luar rumah bersama

kelompoknya.

Remaja putri sering mempraktikkan diet dengan cara yang kurang

benar seperti melakukan pantangan-pantangan, membatasi atau mengurangi

frekuensi

makan

untuk

mencegah

kegemukan.

Pada

umumnya

remaja

mempunyai kebiasaan makan yang kurang baik. Beberapa remaja khususnya

remaja

putri

sering

mengkonsumsi

makanan

dalam

jumlah

yang

tidak

seimbang

dibandingkan

dengan

kebutuhannya

karena

takut

kegemukan.

Kebiasaan makan remaja rata-rata tidak lebih dari tiga kali sehari dan disebut

makan bukan hanya dalam konteks mengkonsumsi makanan pokok saja tetapi

makanan ringan juga dikategorikan sebagai makan.

Remaja suka sekali jajan makanan ringan. Jenis makanan ringan yang

dikonsumsi adalah kue-kue yang rasanya manis dan golongan pastry erta

permen.

Sedangkan

golongan

sayur-sayuran

dan

buah-buahan

yang

mengandung vitamin A dan vitamin C tidak populer atau jarang dikonsumsi,

sehingga dalam diet mereka rendah akan besi, kalsium, vitamin C, vitamin A,

dan lain-lain. ringan (soft drink), teh dan kopi yang frekuensinya lebih sering

dibandingkan dengan mereka minum susu.

Adanya kebiasaan minum teh/kopi pada masyarakat Indonesia. dapat

menurunkan absorbsi besi. Konsumsi kopi atau teh satu jam sesudah makan

akan menurunkan absorbsi besi sampai 40% untuk kopi dan 85% untuk teh,

karena terdapat suatu zat polyphenol seperti tanin yang terdapat pada teh

(Sediaoetama,2006 )

2.1.2 Klasifikasi

Pola makan dibagi menjadi 2 yaitu pola makan sehat dan pola makan tidak

sehat :

2.1.2.1 Pola Makan Sehat

Pola makan sehat adalah konsumsi pangan setiap hari yang meliputi

jenis

makanan, jumlah makanan dan frekuensi makanan yang baik. Lebih

baik makan dalam jumlah sedikit tapi sering dan teratur daripada makan

dalam porsi banyak tapi tidak teratur dengan

memperhatikan

nilai

dan

kandungan gizi di dalamnya yaitu 4 sehat 5 sempurna (Handoko,2009)

Ada 3 hal yang terkadung dalam pola makan sehat yaitu :

1. Frekuensi makan

Frekuensi makan adalah jumlah makan dalam sehari-hari baik

kualitatif dan kuantitatif. Secara alamiah makanan diolah

dalam

tubuh melalui alat-alat pencernaan mulai dari mulut sampai

usus

halus. Lama makanan dalam lambung tergantung sifat dan

jenis

makanan. Jika dirata-rata, umumnya lambung kosong antara

3-4

jam.

Maka

jadwal

kosongnya lambung.

makan

ini

pun

menyesuaikan

dengan

Porsi makan pagi tidak perlu sebanyak porsi makan siang dan

makan

malam

sebagaian

zat

secukupnya

saja,

untuk

memenuhi

gizi

sebelum

tiba

makan

siang.

energi

dan

Sebaiknya

perbandingan jumlah bagian untuk sarapan pagi, makan siang dan

makan malam itu mempunyai nilai 1:2:2. Lebih baik lagi jika

makan makanan ringan sekitar pukul 10.00-11.00 pagi dan jam

16.00-17.00 bersama air teh atau kopi, bahkan lebih baik lagi

dengan susu atau coklat susu.

Menu sarapan yang

protein

dan

lemak,

serta

baik harus mengandung karbohidrat,

cukup

air

untuk

mempermudah

pencernaan makanan dan

penyerapan zat gizi. Pilih menu yang

praktis dan mudah

disiapkan dan usahakan selalu untuk makan

pagi karena penting dan mempersiapkan energi dalam beraktivitas

dalam sehari (Sediaoetama,2006).

2. Jenis makanan

Jenis makanan harus disediakan dengan cukup oleh makanan.

Untuk seorang yang awam zat gizi ini berupa bahan makanan,

yang adi dalam hidangan yang lengkap dapat dibedakan dalam

empat

kelompok

;

(a)

kelompok

bahan

makanan

pokok,

(b)

kelompok lauk-pauk, (c) kelompok sayur, dan (d) kelompok buah

cuci mulut

Menyediakan variasi makanan merupakan salah stau

cara untuk menghilangkan rasa bosan.

selera makan.

Sehingga mengurangi

Menyusun

hidangan

sehat

memerlukan

keterampilan dan

pengetahuan gizi. Variasi menu

yang tersusun

oleh kombinasi

bahan

makanan

yang

diperhitungkan

dengan

tepat

akan

memberikan

hidangan

sehat

kuantitas. Teknik pengolahan

baik

secara

kualitas

maupun

makanan adalah guna memperoleh

intake yang baik dan bervariasi. Jenis makanan yang dikonsumsi

remaja dapat dikelompokkan

dan makanan selingan.

a. Makanan Utama

menjadi dua yaitu makanan utama

Makanan utama adalah makanan yang dikonsumsi seseorang

berupa makan pagi, makan siang dan makan malam yang terdiri

dari makanan pokok, lauk-pauk, sayur, buah dan minuman.

1) Makanan Pokok

Makanan pokok adalah makanan yang dianggap memegang

peranan

penting

dalam

susunan

hidangan.

Pada

umumnya

makanan

pokok berfungsi sebagai sumber energi (kalori) dalam

tubuh dan

memberi rasa kenyang. Makanan pokok yang biasa

dikonsumsi yaitu nasi, roti dan mie atau bihun.

a) Nasi

Nasi merupakan bahan makanan pokok bagi sebagian

besar

rakyat Indonesia. Memasak nasi di rumah tangga dengan

cara

mencuci dengan air yang mengalir kemudian diaduk

dengan

tangan sampai air cuciannya bening, selanjutnya dapat

dilakukan

dengan cara meliwet, menanak dan mengukusnya.

Makan nasi

bisa dikonsumsi pada pagi hari, siang hari atau

disajikan bersama lauk pauk dan sayur. Kalori

adalah 1089-1452 kalori atau 2000 kalori

(Sediaoetama, 2006).

malam hari. Nasi

yang dihasilkan

seseorang perhari

b) Roti

Roti adalah makanan yang dibuat dari tepung terigu ditambah

ragi (yeast), lemak, garam dan air proses

pembuatannya dengan

fermentasi selama 1-8 jam. Roti kualitas baik berwarna putih dan

mempuyai tekstur seperti spons yang

empuk merata diseluruh

bagian roti tersebut. Sedangkan roti biasanya dikonsumsi pagi hari

berupa roti tawar yang diolesi

dengan margarin, diisi selai, mesis

dan dadar telur, sedangkan

sore hari sebagai makanan selingan

atau kecil. Bahan dari roti

adalah tepung terigu yang mempunyai

protein tinggi dari gluten yang dihasilkan tepung tersebut. Adonan

roti dapat

menghasilkan berbagai bentuk roti, seperti roti tawar,

roti manis,

roti pisang, roti isi daging dan sebagainya. Dalam

tepung terigu mempunyai kadar zat gizi dalam 100 gram.

c) Mie atau Bihun

Mie atau bihun adalah makanan yang terbuat dari tepung

terigu yang dijadikan adonan tanpa fermentasi, dilebarkan menjadi

lembaran tipis, diiris panjang-panjang dan dikeringkan. Mie dijual

sebagai bahan makanan setengah jadi yang akan dimasak lebih

lanjut.Mie

biasanya

di

warung

maupun

rumah

makan

menyediakan mie yang dicampur sayuran. Mie atau bihun yang

dikonsumsi pada pagi hari atau sebagai makanan selingan dan

makan malam hari. Mie yang sering dimasak dan dikeringkan serta

dikemas dalam bungkus praktis untuk langsung dikonsumsi setelah

direkonstitusi dengan air panas sebentar adalah jenis supermie,

indomie dan sebagainya (Sediaoetama, 2006)

2) Lauk-pauk

Lauk pauk berfungsi sebagai teman makanan pokok

yang memberikan rasa enak pada menu makanan sehari-hari.

Lauk pauk

terdiri dari dua golongan menurut jenisnya di

antaranya lauk pauk hewani dan lauk pauk nabati. Kedua jenis

lauk-pauk tersebut

mempunyai protein hewani dan nabati

mempunyai fungsi, antara lain membangun sel-sel yang rusak

dan membentuk zat pengatur

(Sediaoetama, 2006)

a) Lauk pauk hewani

seperti enzim dan hormon

Lauk pauk hewani mencakup semua bahan makanan

yang

berasal dari hewan terutama dari hewan piaraan, ternak,

unggas,

ikan, susu dan telur. Hewan ternak yang dimakan

adalah sapi,

kerbau dan kambing. Daging unggas yang biasa

dipelihara dan

dijual, daging serta telur. Telur unggas juga

banyak diperdagangkan dan dikonsumsi diindonesia baik telur

ayam,

bebek dan telur burung (telur puyuh). Fungsi telur

sebagai

sumber protein tinggi dari jenis bahan makanan lain.

Daging ikan mempunyai komposisi zat gizi dari berbagai jenis

daging ikan lainnya sama.

Kualitas

protein

ikan

tergolong

sempurna

(protein

lengkap) yang mengandung semua asam amino esensial dalam

jumlah

yang

mencukupi

kebutuhan

tubuh.

Ikan

biasanya

dikonsumsi sebagai ikan segar, ikan kering yang diasinkan dan

ikan

yang

dikalengkan

hasil

(Sediaoetama, 2006)

b) Lauk pauk nabati

teknologi

pangan

modern.

Lauk pauk nabati merupakan bahan makanan yang

bersumber dari protein nabati. Bahan makanan ini terdiri atas

golongan kacang-kacangan dan hasil olahannya, seperti tempe

dan tahu. Sumber protein nabati juga lebih murah harganya

dibandingkan dengan sumber protein hewani. (Sediaoetama,

2006 )

3) Jenis Sayur

Sayur adalah jenis masakan yang menggunkan dari

sayuran

berwarna

contohnya

kacang-kacangan,

kangkung,

bayam, sawi

hijau, wortel dan sebagainya dan tidak berwarna

contohnya

kubis,

sawi

putih

dan

taoge.

Sayur

yang

dikonsumsi bersama nasi bisa

berkuah dan tidak berkuah,

contoh sayur berkuah antara lain sayur lodeh, sayur kare, sayur

bayam, sayur asem, dan sayur sop.

Sayur tidak berkuah

contohnya tumis kangkung, tumis kacang panjang, tumis sawi

hijau dan sebagainya (Sediaoetama, 2006 ).

4) Buah

Buah merupakan jenis hidangan yang dimakan sebagai

cuci

mulut yaitu dimakan setelah makan nasi. Berupa buah

masak

segar seperti semangka, melon, pisang, durian dapat

juga berupa

masakan berupa buah cocktail, sale, setup dan

sebagainya. Buah- buahan berfungsi sebagai sumber vitamin

dan

mineral

tetapi

pada(Sediaoetama,

2006

)

buah-buah

tertentu

yang

menghasilkan

banyak

energi

(Sediaoetama,

2006).

5) Minuman

Minuman merupakan

cairan

yang

dikonsumsi

yang

tidak

terbatas

waktunya,

atau

yang

mengiringi

makanan

selingan

berupa minuman yang dikonsumsi adalah air putih

mengiringi

makan nasi, sedangkan minuman selingan berupa

es kelapa muda,

juice, es

cendol,

es teh,

sebagainya (Sediaoetama, 2006 ).

6) Makanan Selingan

es jeruk

dan

Makanan selingan adalah makanan makanan kecil yang

dibuat

sendiri maupun yang dijual didepan rumah maupun di

sekolah. Makanan selingan menurut bentuknya terdiri dari :

a) Makanan selingan berbentuk kering. Pada umumnya keripik

pisang,

keripik

sebagainya.

singkong,

kacang

telur,

pop

corn

dan

b) Makanan selingan berbentuk basah. Pada umumnya lemper,

semar mendem, tahu isi, pastel, pisang goreng dan sebagainya.

c) Makanan selingan berbentuk kuah. Pada umumnya bakso,

mie ayam, empek-empek, mie ketupat dan sebagainya.

d) Makanan selingan yang dijual di sekolah. Makanan sering

dijual

antara

lain

siomay,

batagor,

tempura,

humburger,

hotdog dan sebagainya (Sediaoetama, 2006 ).

3. Jumlah atau porsi

 

Merupakan suatu ukuran maupun takaran

makanan

yang dikonsumsi pada tiap kali makan. Jumlah (porsi) standar

bagi remaja antara lain :

a. Makanan pokok

Makanan pokok berupa nasi, roti tawar dan mie instant.

Jumlah atau porsi makanan pokok antara lain : nasi 100 gram

atau 1 ½ gelas , roti tawar 50 gram,

mie instant untuk ukuran

besar 100 gram dan ukuran kecil 60 gram.

b. Lauk pauk

Lauk pauk mempunyai dua golongan lauk nabati dan

lauk hewani, jumlah atau porsi makanan antara lain : daging 50

gram, telur 50

gram, ikan 50 gram, tempe 50 gram (dua

potong), tahu 100 gram (dua potong).

c. Sayur

Sayur merupakan bahan makanan yang berasal dari

tumbuh- tumbuhan, jumlah atau porsi sayuran dari berbagai

jenis masakan

sayuran antara lain: Sayur 100 gram atau satu

mangkuk sayur dengan isi sayurdaun hijaudan isi lainnya yang

berwarna-warni.

d. Buah

Buah merupakan suatu hidangan yang disajikan setelah

makanan utama yang fungsinya sebagai pencuci mulut, jumlah

atau porsi buah

ukuran buah 100 gram (satu potong pepaya)/

ukuran potongan atau 75 gram (satu buah pisang)

e. Makanan Selingan

Makanan

selingan

atau

kecil

biasanya

dihidangkan

antara waktu makan pagi, makan siang mapun sore hari. Porsi

atau jumlah untuk makanan selingan tidak terbatas jumlahnya

( bisa sedikit atau banyak).

f. Minuman

Minuman

mempunyai

fungsi

membantu

proses

metabolisme tubuh,

tiap jenis minuman berbeda-beda pada

umumnya jumlah atau ukurannya untuk air putih dalam sehari

lima kali atau lebih per gelas (2 liter perhari), sedangkan susu

1 gelas (200gram). Jumlah (porsi)

adalah

sesuai

dengan

anjuran

(Sediaoetama 2006).

makanan tersebut diatas

makanan

bagi

remaja

2.1.2.2 Pola Makan Tidak Sehat

Mengurangi jumlah konsumsi makanan dari seharusnya dan tidak

variatif dalam menu.ini bisa berdampak buruk pada status gizi dan kesehatan

remaja,seperti

terganggunya

(Akhmad,2011:46).

pertumbuhan

pencernaan,dan

reproduksi

Kesalahan dalam Pengaturan Pola makan adalah :

1. Jeda makan terlalu lama

Kesibukan

yang

tinggi

seringkali

membuat

terlamabat

bahkan

meninggalkan waktu maskan.ika hal ini terjadi,maka level gula darah akan

turun drastis dan tubuh akan memecah otot sebagai sumber enegi.

2. Mengkonsumsi Sumber Kalori Tak Sehat

Saat

lapar

mungkin

pernah

mengkonsumsi

biscuit,fast

food

ataupun

makanan olahan lain yang kurang sehat bagi tubuh.sekalipun memiliki

rasa yang lezat ternyata jenis makanan tersebut bukan merupakan sumber

kalori yang baik.

3. Makan sembarangan setelah berhasil Diet

Inilah

yang

sering

terjadi,saat

anada

berhasil

mencapai

berat

badan

ideal,anda akan mulai makan sesuka anda.Hal ini terjadi karena selama

diet anada merasa terkekang dan tidak biasa makan makanan yang anada

inginkan.

4. Memangkas karbohidrat secara besar-besaran

Tubuh masih membutuhkan karbohidrat sebagai sumber enegi untuk

aktifitas anda sehari-hari,jika anda tidak mengkonsumsi karbohidrat sama

sekali,maka tubuh akan menggunakan otot sebagai cadangan.

5. Mengkonsumsi karbohidrat Simple Sebelum Latihan

Karbohidrat simple merupakan karbohidrat yang dicerna lebih cepat oleh

tubuh.karena sifatnya yang cepat cerna ,maka anda pun lebih cepat

merasakan

lapar

dan

(Handoko,2009).

lebih

cepat

kehilangan

6. Mengkonsumsi Junk-Food

energy

saat

latihan

Adalah makanan modern dari dunia barat sepert ayam goreng yang jenis

dan cara masaknya tertentu. Jenis burger, pizza, dll memang dipandang

dari segi kesehatan bermutu rendah karena mengandung lemak dan protein

hewan terlalu banyak, mungkin bahan kimia tertentu serta sayuran/serat

yang sangat sedikit. Hal ini dapat menyebabkan batu saluran kemih

(sediaoetomo, 2006.

1.1.3Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pola Makan

1.1.3.1 Kebiasaan Masa Kecil

Kebiasaan masa kecil dipengaruhi oleh peralihan dan

pengetahuan ibu tentang makanan apa yang baik dan yang

tidak baik diberikan pada anak ,kebiasaan makan keluarga dan

lingkungan disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga

tersebut untukm menyediakan makanan.

1.1.3.2 Faktor Sosial Budaya

Kebiasaan

makan

berbeda

antar

suku,bangsa,dan

keluarga.Kebiasaan ini

dipengaruhi oleh lingkungan.bangsa

yang hidup di daerah empat musim secara naluri lebih banyak

makan lemah daripada yang hidup di daerah panas,karena

lemak dipercaya dapat memelihara suhu tubuh. Makanan yang

mrngandung banyak lemak biasanya juga mengandung banyak

protein,sehingga mereka hidup di daerah empatmusim pada

umumnya

juga

lebih

banyak

makan

makanan

sumber

protein,terutama sumber protein hewani.

1.1.3.3 Agama dan Kepercayaan

Agama dan kepercyaan sangat berpengaruh terhadap

kebiasaan makan seseorang. Agama islam misalnya pantang

makan babi,sedangkan kambing merupakan makan istimewa

yang disajikan pada upacara-upacara khitanan dan slametan.

Agama Kristen katolik mensakralkan anggur merah dan roti.

1.1.3.4 Keadaan Finansial

Keadaan

financial

keluarga

berpengaruh

terhadap

makanan yang disediakan.Keluarga dari kalangan ekonomi

lebih tinggi mampu menyediakan makanan beraneka ragam

,seperti daging,ayam,ikan,sayur dan buah dibandingkan dengan

keluarga dari kalangan ekonomi rendah.

1.1.3.5 Iklan

Iklan di media juga berpengaruh terhadap kebiasaan makan

seseorang.Akhir-akhir

ini

banyak

diiklankan

makanan

dari

mancanegara,yang biasanya padat energy tetapi kurang dalam

mineral dan vitamin,seperti pizza,hamburger,kentang goreng.

2.2 Konsep Dasar Anemia

2.2.1 Definisi Anemia

Anemia adalah suatu keadaan di mana kadar hemoglobin (Hb) yang

beredar tidak dapat memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi

jaringan tubuh. Secara laboratorik dijabarkan sebagai penurunan dibawah

normal kadar hemoglobin ,hitung eritrosit dan hematokrit. Klasifikasi

ditentukan menurut umur dan jenis kelamin seperti yang terlihat dalam Tabel

Batas Normal Kadar Hb menurut Umur dan JenisKelamin.

Kelompok

Umur (tahun)

Hemoglobin (g/dL)

Anak

6 bulan-6 tahun

11

6 - 14

12

Dewasa:

Laki-laki

> 14

13

Wanita

> 14

12

Wanita hamil

-

11

Sumber : ( Bakta,2006 :12

2.2.2 Klasifikasi Anemia

2.2.2.1 Anemia Ringan Sekali : 10 g/dl- cut off point

2.2.2.2 Anemia Ringan : 8 g/dl-9,9 gr/dl

2.2.2.3 Anemia Sedang : 6 gr/dl-7,9 gr/dl

2.2.2.4 Anemia Berat : < 6 gr/dl (Bakta,2006:13).

2.2.3 Tanda dan Gejala

Gejala

umum

anemia

disebut

juga

sebagai

sindrom

anemia,atau

anemic

syndrome. Gejala timbul pada semua jenis anemia pada kadar hemoglobin yang

sudah menurun sedemikian rupa dibawah titik tertentu. Gejala ini timbul karena

anoksia

organ

target

dan

mekanisme

kompensasi

tubuh

terhadap

penurunan

hemoglobin. Gejala-Gejala tersebut apabila diklasifikasikan menurut organ yang

terkena adalah sebagai berikut :

2.2.3.1

Sistem

Kardiovaskuler

:

lesu,cepat

kerja,angina pectoris dan gagal jantung.

lelah,palpitasi,takikardi,sesak

waktu

2.2.3.2

Sistem

Saraf

:

sakit

kepala,pusing,telinga

mendenging,mata

berkunang-

kunang,kelemahan

otot,iritabel,lesu,perasaan

dingin

pada

ekstremitas

(Bakta.2006:15)

2.2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anemia pada Remaja Putri

2.2.4.1 Defisiensi Zat Besi

Anemia Defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat kosongnya

cadangan

besi

tubuh

sehingga

penyediaan

besi

untuk

eritropoesis

berkurang,yang pada akhirnya pembentukan hemoglobin berkurang,yang pada

akhirnya pembentukan hemoglobin berkurang. Kelainan ini ditandai oleh

anemia hipokromik mikrositer,besi serum menurun,TIBC ( total iron binding

capacity)

meningkat

saturasi

transferin

menurun,feritin

serum

menurun,pengecatan besi sumsum tulang negatif dan adanya respon terhadap

pengobatan dengan preparat besi.

Anemia

jenis

ini

merupakan

anemia

yang

paling

sering

dijumpai

terutama di negara tropik atau negara dunia ketiga karena sangat berkaitan

erat dengan taraf sosial ekonomi. Anemia ini mengenai lebih dari sepertiga

penduduk dunia yang memberikan dampak kesehatan yang sangat merugikan

serta dampak sosial yang cukup serius. Etiologi dari anemia defisiensi zat besi

ini

adalah

:

kehilangan

besi

akibat

perdarahan

menahun,faktor

nutrisikebutuhan besi meningkat,gangguan absorbsi besi ( Bakta,2006:26-31).

Adapun dampak dari anemia defisiensi zat besi adalah : gangguan

fungsi hemoglobin yang merupakan alat transport O2 yang diperlukan pada

banyak reaksi metabolik tubuh. Pada anak-anak sekolah teah ditunjukkan

adanya korelasi erat antara kadar Hb dan kesanggupan anak untuk belajar.

Dikatakan bahwa pada kondisi anemia daya konsentrasi dalam belajar tanpak

menurun ( Sediaoetama 2004 : 67 )

2.2.4.2 Tingkat Sosial Ekonomi Keluarga

Faktor social ekonomi berpengaruh terhadap asupan besi seseorang

yang

bersumber

dari

daging,

ikan

dan

unggas

serta

makanan

hewani

lainnya.Faktor-faktor yang melatar belakangi tingginya prevalensi anemia gizi

di Negara berkembang adalah keadaan sosial ekonomi yang rendah yang

meliputi pendidikan orang tua dan penghasilan yang rendah serta keadaan

kesehatan lingkungan yang buruk.

Rendahnya

tingkat

konsumsi

disebabkan

oleh

pemanfaatan

pangan

belum optimal, distribusi makanan belum merata, pengetahuan tentang gizi

dan pangan kurang, faktor sosial ekonomi seperti tingkat pendidikan rendah,

besar keluarga yang tinggi, tingkat pengetahuan rendah serta faktor budaya

setempat

yang

tidak

mendukung

tahayul, tabu dalam masyarakat.

antara

lain

masih

terdapat

pantangan,

Pendapatan merupakan variabel penting bagi kualitas dan kuantitas

berpengaruh pada perbaikan kesehatan dan kondisi keluarga dan selanjutnya

berhubungan dengan status gizi. Keluarga yang sangat miskin, akan lebih

mudah memenuhikebutuhan makanan apabila anggota keluarganya kecil.

Keluarga yang mempunyai jumlah anggota keluarga besar apabila persediaan

pangan cukup belum tentu dapat mencegah gangguan gizi, karena dengan

bertambahnya jumlah anggota keluarga maka pangan untuk setiap anggota

keluarga

berkurang.

Besar

keluarga

mempunyai

pengaruh

pada

belanja

pangan. Pendapatan per kapita dan belanja (Anonymous, 2008).

2.2.4.3 Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan remaja

Sebab mendasar terhadap kejadian anemia dikarenakan rendahnya

pendidikan. Pengetahuan akan makanan yang banyak mengandung Fe dan

juga pentingnya mengkonsumsi tablet Fe sangat jarang diketahui masyarakat

luas. Salah satu penyebab timbulnya anemia gizi pada remaja yaitu kurangnya

pengetahuan akan makanan. Solusinya dapat dilakukan melalui proses belajar

mengajar

tentang

pangan,

bagaimana

tubuh

menggunakan

zat

gizi

dan

bagaimana zat gizi besi tersebut diperlukan untuk menjaga kesehatan.

Untuk mencegah kekurangan zat besi yang dapat menyebabkan kadar

Hb di bawah normal, diperlukan pengetahuan remaja yang baik tentang

bahan-bahan

pangan

sumber

zat

besi.

Remaja

yang

berasal

dari

sosial

ekonomi rendah

sumber makanan

yang adekuat tidak terpenuhi,karena

mereka menhidangkan mekanan seadanya saja tanpa melihat status gizinya

sehingga mempunyai resiko defisiensi zat besi yang akan berakibat anemia

pada remaja (Paath,2005 : 49).

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. penginderaan terjadi

melalui

panca

indera

manusia,

yaitu

indera

penglihatan,

pendengaran,

penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh

melalui mata dan telinga. Pengetahuan kognitif merupakan dominan dan alat

penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Karena dari pengalaman dan

penelitian

ternyata

perilaku

yang

didasari

oleh

pengetahuan

akan

lebih

langsung dari pada perilaku yang tidak disadari oleh pengetahuan

Tingkat pendidikan dan pengetahuan gizi remaja sangat berpengaruh

terhadap kualitas zat-zat yang dikonsumsi. Pengetahuan gizi berkembang

secara bermakna dengan sikap positif terhadap perencanaan dan persiapan

makanan. Semakin tinggi pengetahuan remaja maka makin positif sikap

remaja terhadap gizi makanan sehingga makin baik pula konsumsi energi,

protein dan besi keluarganya.) Ada dua kemungkinan hubungan tingkat

pendidikan orangtua dengan makanan dalam keluarga, yaitu:

a. Tingkat pendidikan kepala rumah tangga secara langsung maupun tidak

langsung menentukan kondisi ekonomi rumah tangga, yang pada akhirnya

sangat mempengaruhi konsumsi keluarga.

b. Pendidikan istri, di samping merupakan modal utama dalam menunjang

perekonomian

keluarga

juga

berperan

dalam

penyusunan

pola

makan

keluarga. Pendidikan ibu merupakan faktor yang sangat penting. Tinggi

rendahnya pendidikan ibu erat kaitannya dengan tingkat perawatan kesehatan,

higiene, kesadaran terhadap anak dan keluarga, di samping berpengaruh pada

faktor sosial ekonomi lainnya seperti pendapatan, pekerjaan, makanan dan

perumahan. Ibu memegang peranan penting pada pengelolaan rumah tangga,

tingkat

pendidikan

ibu

terutama

dapat

menentukan

pengetahuan

dan

ketrampilan ibu dalam menentukan makanan keluarga yang selanjutnya akan

berpengaruh terhadap status anemia keluarga termasuk anak remajanya.Faktor

sosial ekonomi berikutnya adalah pendapatan keluarga.Pendapatan merupakan

salah satu faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas makanan, sehingga

terjadi hubungan yang erat antara pendapatan dan gizi (Anonymous, 2008).

2.2.4.4 Pola Makan

Pola makan adalah susunan jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi

seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu dan cara atau usaha

dalam pengaturan jumlah dan jenis makanan dengan maksud tertentu seperti

mempertahankan

kesehatan,status

nutrisi,mencegah

dan

membantu

kesembuhan

penyakit.

Pola

makan

sehari-hari

merupakan

pola

makan

seseorang

yang

berhubungan

dengan

kebiasaan

makan

setiap

harinya

(Baliwati,2004 : 69).

2.2.4.5 Gaya Hidup

Gaya hidup merupakan salah satu aspek yang dapat menyebabkan

peningkatan

terjadinya

anemia.

Gaya

hidup

menggambarkan

perilaku

seseorang,

yaitu

bagaimana

ia

hidupmenggunakan

uangnya,

danmemanfaatkan waktu yang dimilikinya. Gaya hidup merupakan hasil

penyaringa dari serentetan interaksi sosial, budaya, dan keadaan.Masa remaja

adalah

masa

dimana

remaja

mengalami

dimana lingkungan sangat berperan.

saat-saat

pembentukan

pribadi,

Ada beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi remaja, yaitu:

lingkungan

keluarga,lingkungan

sekolah,

lingkungan

teman

sebaya,

lingkungan

dunia

luar.Lingkungan

sekolah

yang

sangat

berperan

dan

berpengaruh rethadap remaja, dikawatirkan karena kondisi remaja yang masih

rentan terhadap hal-hal yang baru. Di mana istilah sekolah adalah rumah

kedua yaitu tempat remaja memperoleh pendidikan formal, di didik dan

diasuh oleh para guru. Dalam lingkungan inilah remaja belajar dan berlatih

untuk meningkatkan kemampuan daya pikirnya.

Dalam lingkungan sekolah guru memegang peranan yang penting,

sebab guru bagaikan pengganti orang tua. Karena itu diperlukan guru yang

arif bijaksana, mau membimbing dan mendorong anak didik untuk aktif dan

maju, memahami perkembangan remaja serta seorang yang dapat dijadikan

tauladan.

Guru menempati tempat istimewa di dalam kehidupan sebagian besar

remaja. Guru adalah orang dewasa yang berhubungan erat dengan remaja.

Dalam pandangan remaja, guru merupakan cerminan dari alam luar. Remaja

percaya bahwa guru merupakan gambaran sosial yang diharapkan untuk

mendapatkan nformasi tentang anemia yang terjadi pada remaja

Teman sebaya sangat penting sekali pengaruhnya bagi remaja, baik itu

teman sekolah, organisasi maupun teman bermain. Dalam kaitannya dengan

pengaruh kelompok sebaya, kelompok sebaya (peer groups) mempunyai

peranan penting dalam penyesuaian diri remaja dan bagi persiapan diri di

masa mendatang. Serta berpengaruh pula terhadap pandangan dan perilakunya

dalam mengkonsumsi tablet zat besi (fe). Sebabnya adalah, karena remaja

pada umur ini sedang berusaha untuk bebas dari keluarga dan tidak tergantung

kepada orang tua dan remaja juga mempunyai banyak kegiatan yang

dilakuakn. Hal ini yang menyebabkan banyak remaja yang kurang akan zat

besi (fe). Akan tetapi pada waktu yang sama mengerti tentang manfaat dalam

mengkonsumsi tablet zat besi (fe) (Anonymous, 2008).

2.2.4.6 Pola Menstruasi

Jumlah darah yang dikeluarkan saat menstruasi rata-rata 50-80 cc dan

kehilangan zat besi gizi untuk remaja putri dan WUS mengeluarkan darah saat

menstruasi menyebabkan wanita membutuhkan zat besi tiga kali lebih banyak

dibanding pria. Salah satu faktor penyebab anemia pada wanita adalah

terjadinya kehilangan darah yaitu pada saat menstruasi. Banyaknya darah

yang keluar berperan pada kejadian anemia karena wanita tidak mempunyai

persediaan Fe di dalam tubuh dan tidak dapat mengganti hilangnya Fe saat

menstruasi ( Feriani,2004 ).

2.2.4.7 Infeksi

Kehilangan besi dapat pula diakibatkan oleh infestasi parasit seperti

cacing ambang, Schistosoma, dan mungkin pula Trichuris trichiura. Hal ini

lazim terjadi di negara tropis, lembab serta keadaan sanitasi yang buruk.

Penyakit kronis seperti tuberkulosis (TBC), Infeksi Saluran Pernapasan Atas

(ISPA), diare serta kehilangan darah karena infeksi parasit (malaria dan

kecacingan) akan memperberat anemia . Penyakit infeksi akan menyebabkan

gangguan gizi melalui beberapa cara yaitu menghilangkan bahan makanan

melalui

muntahmuntah

dan

(Arisman, 2004).

2.2.5 Akibat Anemia

diare serta dapat

menurunkan

nafsu makan

Anemia yang diderita remaja putri dapat menyebabkan Menurunnya

prestasi belajar, menurunnya daya tahan sehingga mudahterkena penyakit

infeksi. Sedangkan pada remaja putri yang terkena anemia tingkat kebugaran

pun akan turun yang berdampak pada rendahnya produktifitas dan prestasi

olahraganya dan tidak tercapai tinggi badan maksimal karena pada masa ini

terjadi puncak pertumbuhan tinggi badan (peak high velocity) ( Depkes 2003

pada wijiastuti 2006 ).

Menurut

Hardinsyah

(2007),

anemia

pada

remaja

putri

dapat

menimbulkan bernagai dampak antara lain menurunnya konsentrasi belajar

dan menurunnya stamina dan produktifitas kerja. Tingginya anemia pada

remaja putri ini akan berdampak pada turunnya prestasi belajar siswi karena

anemia

pada

remaja

putri

akan

menyebakan

daya

konsentrasi

menurun

sehinnga akan menyebabkan menurunnya prestasi belajar.

2.2.6 Cara mencegah dan Mengobati Anemia

Menurut pedoman penanggulangan anemia gizi untuk remaja putri

cara untuk mencegah dan mengobati anemia adalah : (sutomo,2008)

2.2.6.1 Meningkatkan konsumsi makanan yang bergizi.

1. makan makanan yang banyak mengandung zat besi dari

bahan

makanan

hewani

(daging,ikan,ayam,hati,telur)

dan

bahan makanan nabati (sayuran berwarna haijau tua,kacan-

kacangan,tempe).

2.

makan

sayur-sayuran

dan

buah-buahan

yang

banyak

mengandung

vit

C

(daun

katuk,daun

singkong,bayam,jambu,tomat,jeruk,nanas) sangat bermanfaat

untuk meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus.

2.2.6.2 Menambah pemasukan zat besi kedalam tubuh dengan minum

tablet penambah darah.

2.2.6.3 mengobati penyakit yang menyebabkan dan memperberat

anemia seperti :kecacingan,malaria dan TBC

Kerangka Konsep

Faktor-faktor Terjadinya Anemia

1.

Pola makan

2.

Defisiensi Zat Besi

3.

Tingkat sosial Ekonomi keluarga

4.

Pendidikan dan Pengetahuan

5.

Gaya hidup

6.

Pola Menstruasi

7.

Infeksi

ANEMIA
ANEMIA

1. Menurunnya prestasi belajar

2. Menurunnya daya tahan

3. Rendahnya produktifitas kerja

4. Tidak tercapai tinggi badan maksimal

kerja 4. Tidak tercapai tinggi badan maksimal Keterangan : : diteliti : ti : Tidak Diteliti
Keterangan :
Keterangan
:

: diteliti

: ti ti

: Tidak Diteliti

Sumber: Modifikasi Bakta (2006), Feriani (2004), Anonymous (2008), Baliwati (2004),

Arisman (2004), Depkes 2003 pada wijiastuti 2006, Hardinsyah (2007).

Keterangan Kerangka Konsep :

Kerangka konsep penelitian ini adalah gambaran pola makan dengan kejadian

anemia. Faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia yaitu pola makan,defisiensi zat

besi,tingkat social ekonomi keluarga,pendidikan dan pengetahuan,gaya hidup,pola

menstruasi serta infeksi.Namun pada penelitian ini hanya dibatasi pada faktor pola

makan.Dimana seharusnya para remaja harus mengkonsumsi pola makan

yang

seimbang dan bergizi agar tidak terjadi anemia yang bisa berdampak Menurunnya

prestasi belajar, Menurunnya daya tahan, Rendahnya produktifitas kerja, Tidak tercapai

tinggi badan maksimal

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan metode atau cara yang akan digunakan dalam

penelitian (Notoatmodjo, 2010: 86). Dalam uraian metode penelitian mencakup (1)

Desain Penelitian (2) Populasi (3) Identifikasi Variabel (4) Kerangka Kerja (5)

Definisi Operasional (6) Pengumpulan Data dan Analisa Data (7) Tempat dan Waktu

Penelitian (8) Etika Penelitian dan (9) Keterbatasan.

3.1 Desain Penelitian

Menurut Nursalam (2003: 77), desain penelitian merupakan suatu

strategi

penelitian

dalam

mengidentifikasi

permasalahan

sebelum

perencanaan

akhir

pengumpulan data dan digunakan untuk mendefinisikan struktur penelitian yang akan

dilaksanakan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian surve deskriptif

yaitu

suatu penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan pola

makan dan kejadian anemia pada remaja secara lebih mendetail tanpa uji statistik.

3.2 Populasi Dan Subyek Penelitian

Menurut Notoatmodjo (2010: 115), populasi adalah keseluruhan objek penelitian

atau objek yang diteliti. Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh mahasiswa

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Fakultas Ilmu Kesehatan Prodi D III Kebidanan

Semester III yang bersedia untuk diteliti dan tidak sedang sakit dan tidak mengalami

perubahan pola kebiasaan makan dalam satu bulan terakhir. Sebagai gambaran

populasi berjumlah 107 orang. Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih

dengan sampling untuk bisa mewakili populasi .Pada penelitian ini menggunakan

tekhnik purposive sampling yaitu pengambilan sample secara sengaja sesuai dengan

persyaratan sampel yang dibutuhkan. Jumlah sample adalah mahasiswa semester III

B sebanyak 36 mahasiswa.

3.3 Identifikasi Variabel

Menurut Notoatmodjo (2005: 70), variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki

oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh

kelompok

lain.

Variabel

mengalami anemia.

3.4 Kerangka Kerja

pada

penelitian

ini

adalah

Pola

makan

remaja

yang

Kerangka kerja adalah langkah-langkah dalam aktivitas ilmiah, mulai dari

penetapan

populasi,

sampel,

dan

seterusnya,

yaitu

kegiatan

sejak

awal

dilaksanakannya penelitian (Nursalam, 2003: 80).

Kerangka kerja dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pola makan remaja

yang mengalami anemia.

Pola Makan

Pola Makan Anemia

Anemia

3.5 Definisi Operasional

Definisi Operasional adalah proses perumusan atau pemberian arti dan makna

pada variabel untuk kepentingan akurasi, komunikasi, dan replikasi agar pemahaman

yang sama kepada setiap orang mengenai variabel yang diangkat dalam suatu

penelitian

(Nursalam, 2003: 106). Definisi operasional yang akan digunakan untuk

variable dalam penelitian adalah sebagai berikut.

Tabel 3.5 Definisi Operasional

Variabel

DefinisiOperasionaldan Cara Mengukur

Skala

Pola makan

Konsumsi pangansetiap hari yang meliputi jenis makanan, jumlah makanan dan frekuensi makanan.

Nominal

remaja

1.Sehat

Kriteria:

2. Cukup

1.Pola makan sehat

 

3. Tidak

Pagi :setengah dari porsi makan siang atau malam.

Sehat

Siang atau Malam

 

Variabel :

 

1.

Makanan pokok:

Pola Makan

Remaja

Karbohidrat : 1 piring nasi atau 2

potong roti tawar, atau 1 bungkus mie dalam ukuran besar atau kecil.

2.

Lauk pauk:

Lauk pauk nabati : 2 potong tahu/tempe Lauk pauk hewani : 1 potong daging atau 1 potong ikan atau 1 butir telur.

3. Sayur:satu mangkuk sayur dengan isi sayur daun hijau dan isi lainnya yang berwarna-warni.

4. Buah :satu potong pepaya ukuran potongan atau satu buah pisang

 

5.

ataukira-kira sama dengan beratbuah potongan. Minum air putih 8 gelas/hari atau 2 liter/hari

 

6. Makanan yang dimakan bukan makanan siap saji /fast food misalnya ayam goreng yang jenis dan cara masak tertentu, burger, pizza.

Cara mengukur : Pola makan sehari- hari

1. Pola makan sehat :jika semua jawaban sesuai dengan kriteria.

2. Pola makan cukup sehat :jika sebagian jawaban tidak sesuai dengan kriteria.

3. Pola makan tidak sehat : jika sebagian besar jawaban tidak sesuai dengan kriteria.

Alat ukur : menggunakan kuesioner.

Anemia pada

Kadar Hb mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III Kebidanan < 12 gr% berdasarkan pemeriksaan dengan Hb sahli. Kriteria :

Tidak anemia bila kadarHb ≥ 12 gr % AnemiabilakadarHb< 12 gr %

Nominal

remaja

1 Anemia

2.Tidak

Anemia

Cara Mengukur :Mengukur kadar Hb dengan Hb sahli.

3.6 Pengumpulan Data dan Analisa Data

3.6.1 Pengumpulan Data

Pengumpulan

data

yang

digunakan

adalah

data

primer

yang

di

peroleh

dariUniversitas

Muhammadiyah

Sidoarjo

Fakultas

Ilmu

Kesehatan Prodi

D

III

Kebidanan Semester IIImenggunakan kuesioner mengenai pola makan mahasiswa

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Fakultas Ilmu Kesehatan Prodi D III Kebidanan

Semester IIIResponden memilih salah satu dan mengisi jawaban yang dianggap

responden paling benar.Dan juga mengisi sesuai dengan jawaban masing-masing.

Dan apabila ada responden yang tidak faham dengan pertanyaan peneliti, maka

peneliti

akan

membantu

serta

mendampingi

maksud dari kuesioner tersebut.

3.6.2 Teknik Analisa Data

responden

untuk

menterjemahkan

Analisa data adalah merupakan suatu proses atau analisa yang dilakukan secara

sistematis yaitu dengan data yang telah dikumpulkan dengan tujuan supaya bias

dideteksi (Nursalam, 2003).

Data yang sudah terkumpul direkapitulasi dengan format pengumpulan data

kemudian disajikan dalam bentuk tabe lfrekuensi dan tabulasi silang. Dianalisis

secara deskriptif tanpa melakukan uji statistic untuk menggambarkan pola makan

remaja yang mengalami anemia.

3.7 Tempat Dan Waktu Penelitian

Tempat yang dijadikan penelitian adalah Universitas Muhammadiyah Fakultas

Ilmu Kesehatan Prodi D III Kebidanan. Waktu penelitian pada bulan Maret sampai

September. Dan waktu pengambilan data pada bulan Agustus.

3.8 Etika Penelitian

Dalam

penelitian

yang

dilakukan

ini,

dariUniversitas

Muhammadiyah

Fakultas

penelitian

mendapat

rekomendasi

Ilmu

Kesehatan

Prodi

D

III

Kebidananuntuk mendapat persetujuan dalam melakukan penelitian dan mendapatkan

surat jawaban dari lahan penelitian.

3.8.1 Informed Consent (lembar persetujuan)

Lembar

persetujuan

ini

diberikan

kepada

responden

yang

telah

diberi

penjelasan, tentang maksud dan tujuan dari penelitian ini. Dan penjelasan bahwa

penelitian ini tidak melibatkan perlakuan apapun terhadap responden, sehingga

apabila subjek

menolak

untuk

diteliti

menghormati hak-hak pasien.

3.8.2 Anonymity (tanpa nama)

maka peneliti

tidak

akan

memaksa dan

Dalam pengumpulan data responden dan untuk menjaga identitas responden,

maka peneliti tidak akan mencantumkan nama responden pada lembar kuesioner.

Untuk kepentingan data maka peneliti memberi kode nomor responden.

3.8.3 Confidentiality (kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi yang dberikan oleh subjek dijamin peneliti tidak akan

disampaikan kepada pihak lain, yang tidak terkait dengan penelitian ini.

3.9 Keterbatasan

Keterbatasan

adalah

kelemahan

atau

hambatan

dalam

penelitian

(Burns

dan

Grave,1991 : 121 yang di kutip Nursalam dan Parianai,2001 :173) keterbatasan yang

dihadapi peneliti adalah :

3.9.1 Keterbatasan Instrument

Instrument yang digunakan adalah questioner yang memiliki kelemahan untuk tidak

diisi sesuai dengan yang sebenrnya oleh respondent.

3.9.2 Penelitian ini hanya meneliti pola makan berdasarkan jumlah dan

kandungan gizinya. Tidak membedakan Sample yang tinggal di rumah atau di tempat

kost.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan diuraikan mengenai hasil penelitian yang dilakukan

tanggal 25 Agustus 2014 sampai 27 Agustus 2014 pada mahasiswi semester III

Universitas Muhammdiyah Sidoarjo Prodi D III Kebidanan.

Hasil penelitian dikelompokkan menjadi dua, yaitu data umum dan data

khusus. Data umum meliputi Suku Bangsa dan Penghasilan Orang Tua.Sedangkan

data Khusus meliputi pola makan sehari-hari dan Kejadian Anemia.

Selanjutnya data yang disajikan dalam bentuk table distribusi frekuensi dan

tabulasi silang.

4.1 Hasil Penelitian

Data yang telah dikumpulkan, kemudian diolah dan dikelompokkan dan

didapatkan hasil sebagai berikut :

4.1.1 Data Umum

Tabel 4.1 Distribusi Suku Bangsa Mahasiswa Semester III Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III Kebidanan

Suku

Frekuensi

Presentase

Jawa

34

94,4%

Madura

2

6,6%

Total

36

100%

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa sebagian besar Mahasiswa Semester III

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III Kebidanan bersuku Jawa sebanyak

94,4 %.

Tabel 4.2 Distribusi Penghasilan Orang Tua Mahasiswa Semester III

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III Kebidanan

Penghasilan Ortu

Frekuensi

Presentase

< 2jt/ bln

10

27,8 %

2 jt-5 jt

22

61,1 %

>5 jt/bulan

4

11,1 %

Total

36

100

%

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa Universitas

Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III Kebidanan dengan penghasilan Orang Tua 2 jt-

5 jt sebanyak 61,1%.

4.1.2 Data Khusus

Tabel 4.3 Distribusi Pola Makan Mahasiswa Semester III Universitas

Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III Kebidanan

Pola Makan

Frekuensi

Presentase

Sehat

10

27,8 %

Cukup Sehat

9

25 %

Kurang

17

47,2 %

Total

36

100

%

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa Semester III Universitas

Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III Kebidanan pola makannya kurang sehat yaitu

47,2 %.

Tabel 4.4 Distribusi Kejadian Anemia Mahasiswa Semester III Universitas

Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III Kebidanan

Kategori

Frekuensi

Presentase

Anemia

22

61,1 %

Tidak Anemia

14

38,9 %

Total

36

100%

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa Semester III Universitas

Muhammadiyah Prodi D III Kebidanan mengalami anemia 61,1%

Tabel 4.5 Distribus Tabulasi Silang Antara Pola Makan Dan Kejadian Anemia

Mahasiswa Semester III Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III

Kategori

Polamakan

Total

 

Anemia

TidakAnemi

Sehat

-

10 (100%)

10 (100%)

Cukup

5 (55%)

4 (45%)

9 (100%)

Kurang

17(100%)

-

17 (100%)

Total

22 (61,1%)

14 (38,9%)

36 ( 100%)

Dari Tabel 4.5 menunjukkan bahwa remaja di Universitas Muhammadiyah

Sidoarjo Prodi D III Kebidanan yang memiliki pola makan sehat seluruhnya tidak

anemia, sedangkan mahasiswa yang pola makannya cukup sehat hampir sama antara

yang anemia dan

yang tidak anemia. Dan

seluruhnya mengalami anemia.

4.2 Pembahasan

yang pola makannya kurang sehat

Dari Hasil Penelitian Gambaran Pola Makan dan Kejadian Anemia Pada Remaja,

maka sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan pada BAB 1, maka pada

bagian ini akan diuraikan pembahasan meliputi :

4.2.1 Gambaran Pola makan Remaja Putri Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Prodi D III Kebidanan

Table 4.2 menunjukkan bahwa Remaja Putri Universitas Muhammadiyah

Sidoarjo Prodi D III Kebidanan yang pola makannya kurang sehat sebanyak 47,2 %.

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa tidak makan 3x sehari, jenis

serta

jumlah

makanan

yang

di

konsumsi

tidak

sesuai.

Hal

ini

sesuai

teori

(sediaoetomo,2006). ) bahwa ada beberapa alasan seseorang tidak makan secara sehat

karena takut gemuk. Mereka ingin menjaga penampilan dengan cara diet, yaitu

mengurangi jumlah / porsi makan, tidak makan 3x sehari dan juga tidak bervariasi

dalam hal penyajian menu. Hal ini kemudian yang membuat remaja merasa bosan

jika setiap hari makan dengan menu yang sama dan tidak bervariasi dan akhirnya

membuat mereka malas untuk makan.

Sedangkan sebanyak 25 % mahasiswa yang pola makannya cukup sehat dan

27,8 % dengan pola makan sehat karena mahasiswa takut sakit bila tidak makan. Hal

ini sesuai teori Winardi (2011) yang mengatakan bahwa banyak remaja terpaksa

makan karena takut sakit magh yang dapat berakibat mual dan muntah sehingga

menghambat aktivitas para remaja.

4.2.2 Gambaran Kejadian Anemia Remaja Putri Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Prodi D III Kebidanan

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri di Universitas

Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III Kebidanan mengalami anemia sebanyak 61,1

%. Hal ini kemungkinan di akibatkan karena factor menstruasi dan kurangnya

istirahat karena banyaknya kegiatan dan tugask uliah. Hal ini sesuai teori Feriani

(2004) yang mengatakan bahwa jumlah darah yang di keluarkan saat mestruasi rata-

rata 50-80 cc dan kehilangan zat besi sebesar 0-40 mg. Salah satu factor penyebab

anemia pada wanita tidak mempunyai persediaan Fe yang cukup dan adsorb fe ke

dalam tubuh tidak dapat menngantikan hilangnya fe saat menstruasi.

Kurangnya istirahat juga bias menyebabkan remaja mengalami anemia sesuai

teori Kurniawan (2011) yang mengatakan bahwa masa remaja adalah masa yang

penuh

aktifitas,

baik

belajar,

Terkadang

karena

aktifita

bermain

smereka

/mengembangkan

diri

yang

padat

membuat

dan

kemampuan.

mereka

kurang

memperhatikan kebutuhan dirinya sendiri baik asupan nutrisi yang kurang seimbang

ataupun istirahat yang tidak cukup. Aktifitas yang padat dan asupan nutisi yang

kurang menjadi penyebab anemia. Anemia karena defisiensi besi ini biasa terjadi

apabila makanan yang dikonsumsi sehari-hari kurang mengandung zat besi sendiri

merupakan komponen penting dari hemoglobin, yaitu suatu protein di dalam darah

yang berfungsi untuk mengangkut oksigen keseluruh tubuh. Tanpa zat besi maka

hemoglobin tidak dapat mengangkut oksigen secara efektif. Sedangkan oksigen

sendiri dibutuhkan oleh setiap sel di tubuh untuk dapat menjalankan fungsinya

masing-masing.

MenurutKurniawan (2011) remaja yang mengkonsumsi asupan makanan yang

teratur dan cukup gizi yang terdiri dari zat-zat yang bergizi yaitu karbohidrat, protein,

lemak, vitamin, mineral, air, serat dalam jumlah seimbang akan tumbuh sehat dan

tidak akan terkena anemia dan anak mencapai prestasi belajarnya ,kebugaran untuk

dapat mengikuti semua aktifitas dan sumber daya yang berkualitas.

4.2.3 Gambaran Pola Makan Dan Kejadian Anemia pada Remaja Putri di Universitas

Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III Kebidanan

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa Remaja Putri di Universitas Muhammadiyah

Sidoarjo Prodi D III Kebidanan yang memiliki pola makan sehat seluruhnya

tidak

mengalami anemia, sedangkan yang pola makannya cukup sehat hampir sama antara

yang mengalami anemia dan yang tidak anemia. Dan yang pola makannya kurang

sehat seluruhnya mengalami anemia. Hal ini sesuai teori Soetjiningsih (2004), jika

pola makan sehat maka pertumbuhan remaja akan berlangsung optimal. Dengan

demikian remaja yang memiliki pola makan sehat, akan memiliki status gizi yang

normal dan tidak anemia.

Menurut teori Hardinsyah (2007), bahwa anemia dapat menyebabkan berbagai

dampak antara lain menurunnya konsentrasi belajar dan menururunnya stamina serta

produktifitas kerja. Kejadian anemia ini akan berdampak pada prestasi belajar karena

daya konsentrasi yang menurun. Oleh karena itu hendaknya pola makan terus dijaga

Pencegahan terjadinya anemia sesuai dengan teori Sutomo (2008), adalah

dengan meningkatkan konsumsi makanan bergizi serta makan - makanan yang

mengandung makanan hewani serta nabati. Selain itu juga diperlukan sayur-sayuran

dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin c. Ditambah dengan pemasukan

zat besi dalam tubuh yaitu dengan minum tablet Fe secara rutin. Dengan pencegahan

tersebut kejadian anemia pada remaja dapat ditekan. Sehingga generasi penerus bebas

dari anemia yang dapat berakibat pada reproduksi, prestasi belajar, aktifitas dll.

BAB V

PENUTUP

Pada bab ini akan diuraikan tentang simpulan dan saran dari uraian penelitian

tentang gambaran pola makan dan kejadian anemia pada remaja putri Universitas

Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III Kebidanan Semester III.

5.1 Simpulan

5.1.1Sebagian besa rremaja putri Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III

Kebidanan memiliki pola makan kurang sehat.

5.1.2 Sebagian besar remaja putri Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III

Kebidanan mengalami anemia.

5.1.3 Sebagian besar remaja putri Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Prodi D III

Kebidanan yang pola makannya sehat tidak mengalami anemia, sedangkan yang pola

makannya cukup sehat sebagian besar mengalami anemia dan yang pola makannya

tidaksehat seluruhnya mengalami anemia.

5.2 Saran

5.2.1 Bagi Instansi Pendidikan

Memotivasi Remaja untuk lebih memperhatikan pola makannya, karena

dengan pola makan sehat sangat penting bagi remaja.

5.2.2 Bagi Petugas Kesehatan

Diharapkan

lebih

meningkatkan

KIE

tentang

pola

makan

mencegah terjadinya anemia pada remaja.

sehat

untuk

DAFTAR PUSTAKA

Akhmad, 2011. Diet Sehat Untuk Remaja. Yogyakarta: Pustaka Kanisius

Anonymous, 2008. Available from :

Almatsier, S. 2005. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum.

Arisman,2004.Gizi Dalam Daur Kehidupan.Jakarta: EGC

Baliwati dkk. 2004. Pengantar pangan & gizi. Cetakan 1. Jakarta : penebar swadaya

Bakta, I Made, 2006. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta : EGC

Depkes, RI, 2008. Gizi dalam angka. Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI: Jakarta.

Hardinsyah. 2007. Inovasi gizi dan pengembangan modal social bagi peningkatan kualitas hidup manusia dan pengentasan kemiskinan. IPB. Bogor

Handoko,Gaya Hidup Sehat.2009.Available from:

Http://gayahidupsehat. Org/pola-makan-sehat

Nursalam. 2003. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu keperawatan. Jakarta:

Salemba Medika.

Notoatmodjo S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Paath. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Sediaoetomo, A.D, 2004. Ilmu Gizi Jilid 1. Jakarta: Dian rakyat

Lampiran 1

 

KUESIONER

A. Data Umum

 

1. Penghasilan Orang tua

:

<

2jt

< 2jt

2,2 jt-5 jt

2,2 jt-5 jt

> 5 jt.

> 5 jt.

2. Data Khusus

 

1. Pola makan sehari-hari

 

Waktu

   

Makan

Minum

Pagi

 

1.

Nasi…piring,

atau

Air putih…gelas

 

roti…potong,

atau

Teh…gelas

mie…bungkus

Kopi…gelas

 

2.

Sayur…mangkuk

Lain-lain

3.

Ikan…potong,

atau

 

daging…potong,

atau

telur…butir

 

4.

Tempe/tahu…potong

5.

Lain-lain…

siang

 

1.

Nasi…piring,

atau

Air putih…gelas

 

roti…potong,

atau

Teh…gelas

mie…bungkus

Kopi…gelas

 

2.

Sayur…mangkuk

Lain-lain

3.

Ikan…potong,

atau

 

daging…potong,

atau

telur…butir

 

4.

Tempe/tahu…potong

5.