Anda di halaman 1dari 2

Nadine Amarsha ( A / EKO sore)

1506 788 733


Tugas Kuliah Hukum Persaingan Usaha
Rabu, 13 April 2016.

1. Apakah hukum acara persaingan di Indonesia berdasarkan Peraturan Komisi Pengawas


Persaingan Usaha Nomor 1 Tahun 2010 telah menjamin due process of law?
Jawab:
Istilah due process of law mempunyai konotasi bahwa segala sesuatu harus dilakukan
secara adil. Konsep due process of law sebenarnya terdapat dalam konsep hak-hak
fundamental (fundamental rights) dan konsep kemerdekaan/kebebasaan yang tertib (ordered
liberty). Konsep due process of law yang prosedural pada dasarnya didasari atas konsep
hukum tentang keadilan yang fundamental (fundamental fairness).
Perkembangan due process of law yang prossedural merupakan suatu proses atau
prosedur formal yang adil, logis dan layak, yang harus dijalankan oleh yang berwenang,
misalnya dengan kewajiban membawa surat perintah yang sah, memberikan pemberitahuan
yang pantas, kesempatan yang layak untuk membela diri termasuk memakai tenaga ahli
seperti pengacara bila diperlukan, menghadirkan saksi-saksi yang cukup, memberikan ganti
rugi yang layak dengan proses negosiasi atau musyawarah yang pantas, yang harus dilakukan
manakala berhadapan dengan hal-hal yang dapat mengakibatkan pelanggaran terhadap hakhak dasar manusia, seperti hak untuk hidup, hak untuk kemerdekaan atau kebebasan (liberty),
hak atas kepemilikan benda, hak mengeluarkan pendapat, hak pilih, hak untuk berpergian
kemana dia suka, hak atas privasi, hak atas perlakuan yang sama (equal protection) dan hakhak fundamental lainnya.
Sedangkan yang dimaksud dengan due process of law yang substansif adalah suatu
persyaratan yuridis yang menyatakan bahwa pembuatan suatu peraturan hukum tidak boleh
berisikan hal-hal yang dapat mengakibatkan perlakuan manusia secara tidak adil, tidak logis
dan sewenang-wenang.
Dalam peraturan KPPU nomor 1 tahun 2010 telah menjelaskan berbagai tata cara
berperkara dan menjelaskan hak-hak serta kewajiban para terlapor maupun pelapor termasuk
tugas dan wewenang KPPU.

Magister Hukum Universitas Indonesia

Nadine Amarsha ( A / EKO sore)


1506 788 733
Menurut saya, dalam proses berperkara baik terlapor maupun pelapor diberikan hak
untuk menyampaikan pendapatnya beserta bukti-bukti yang akurat dalam proses pemeriksaan
dan penyeledikan sehingga pada setiap kesempatan, Terlapor berkesempatan untuk
menjelaskan posisi hukumnya atas semua informasi yang didapat Komisi dari bukti-bukti
yang lain. Bahkan KPPU menyediakan forum khusus bagi Pelaku usaha untuk
mempertahankan dan membela diri dalam Sidang Majelis. Dalam proses berperkara para
pihak diberikan hak untuk memakai jasa seorang advokat dan juga menghadirkan saksi-saksi
yang dapat mendukung argumentasinya. Para pihak berhak untuk mendapatkan informasi
yang akurat mengenai laporan jalannya pemeriksaan dan mendapatkan pemberitahuan
mengenai apa saja yang menajdi penetapan yang dilakukan oleh KPPU mengenai jalannya
perkara. Para pihak juga mendapatkan hak untuk melindungi privasinya. Hal ini dijamin
dalam pasal 6,7,8 tentang Hak dan Kewajiban Terlapor Maupun Pelapor. Nampak bahwa
multi kewenangan yang dimiliki KPPU tidak menutup pintu bagi terselenggaranya due
process of law dalam proses pemeriksaan.
Selain itu dalam ketentuan Pasal 45 ayat (3) jo. Pasal 43 ayat (1) yang mengatur
bahwa dalam Pemeriksaan Pendahuluan, Investigator harus membacakan Laporan Dugaan
Pelanggaran (LDP) yang dituduhkan kepada Terlapor dan juga sidang dibuka untuk umum,
hal ini menunjukan transparansi yang dilakukan oleh KPPU dalam rangka menjamin adanya
keadilan.
Dalam konteks putusan, para pihak diberikan hak untuk mengajukan keberatan. Tidak
ada kewenangan absolut yang dimiliki oleh KPPU karena putusannya masih bisa diuji
Pengadilan Negeri melalui Keberatan dan Mahkamah Agung. Hal ini menegaskan bahwa
terbuka peluang pada pelaku usaha untuk mempertahankan posisi hukumnya atas setiap
putusan yang dikeluarkan KPPU.
Dapat disimpulkan, tata cara berperkara di KPPU berdasarkan Peraturan KPPU
Nomor 1 Tahun 2010 telah menjamin adanya due process of law karena didalamnya telah
menjamin hak-hak fundamental para pihak yang terkait dan dijalankan secara formal sesuai
dengan Undang-Undang.

Magister Hukum Universitas Indonesia