Anda di halaman 1dari 8

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah Yang Maha Esa, karena rahmat dan perkenan-Nya
kami dapat menyelesaikan tugas makalah sejarah tentang Latar Belakang Republik Maluku Selatan.
Untuk menambah pengetahuan siswa-siswi yang sedang menempuh pendidikan pada Sekolah
Menengah Atas (SMA).
Sejarah adalah guru kehidupan, karena dengan belajar sejarah siswa diharapkan dapat belajar
dari pengalamannya orang lain untuk dibandingkan dengan pengalaman sendiri dan dijadikan bahan
pertimbangan untuk mengambil keputusan dan menentukan sikap untuk menjadi lebih baik di masa
yang akan datang.
Konsep dasar pembelajaran meliputi empat aspek penting yaitu belajar masa lalu, memahami
masyarakat kita, memahami masyarakat dan kebudayaan lain dan juga melatih keterampilan sosial
kita untuk dapat menanamkan makna dalam peristiwa kesejarahan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan belajar sejarah menanamkan kesadaran terhadap persatuan dan kesatuan bangsa dan
solidaritas serta semangat persaudaraan.
Sebagai akhir kata, rasa syukur yang tak terhingga penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa. Tanpa izinnya makalah ini tidak dapat terselesaikan dengan baik.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN ...............................................................................
1.1 Latar Belakang .................................................................................
1.2 Maksud dan Tujuan Penulisan .........................................................
1.3 Rumusan Masalah ............................................................................
1.4 Sistematika Penulisa .........................................................................
BAB II
PEMBAHASAN .........................................................................
2.1 Pengertian Republik Maluku Selatan ................................................
2.2 Pemberontakan Republik Maluku Selatan Berlangsung ...................
2.3 Akhir Pemberontakan Republik Maluku Selatan ..............................
2.4 Tokoh-tokoh yang berada dibalik Pemberontakan Republik Maluku Selatan
2.5 Peran Belanda dalam Pembentukan Republik Maluku Selatan.........
BAB III PENUTUP ............................................................................................
3.1 Kesimpulan .......................................................................................
3.2 Saran .................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada 25 April 1950 RMS diproklamasikan oleh orang-orang bekas prajurit KNIL dan proBelanda yang di antaranya adalah Dr. Chr.R.S. Soumokil bekas jaksa agung Negara Indonesia Timur
yang kemudian ditunjuk sebagai Presiden, Ir. J.A. Manusama dan J.H. Manuhutu.
Pemerintah Pusat yang mencoba menyelesaikan secara damai, mengirim tim yang diketuai
Dr. J. Leimena sebagai misi perdamaian ke Ambon. Tapi kemudian, misi yang terdiri dari para
politikus, pendeta, dokter dan wartawan, gagal dan pemerintah pusat memutuskan untuk menumpas
RMS, lewat kekuatan senjata. Dibentuklah pasukan di bawah pimpinan Kolonel A.E. Kawilarang.
Pada 14 Juli 1950 Pasukan ekspedisi APRIS/TNI mulai menumpas pos-pos penting RMS.
Sementara, RMS yang memusatkan kekuatannya di Pulau Seram dan Ambon, juga menguasai
perairan laut Maluku Tengah, memblokade dan menghancurkan kapal-kapal pemerintah.
Pemberontakan ini berhasil digagalkan secara tuntas pada bulan November 1950, sementara
para pemimpin RMS mengasingkan diri ke Belanda. Pada 1951 sekitar 4.000 orang Maluku Selatan,
tentara KNIL beserta keluarganya (jumlah keseluruhannya sekitar 12.500 orang), mengungsi ke
Belanda, yang saat itu diyakini hanya untuk sementara saja.
RMS di Belanda lalu menjadi pemerintahan di pengasingan. Pada 29 Juni 2007 beberapa
pemuda Maluku mengibarkan bendera RMS di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhono
pada hari keluarga nasional di Ambon. Pada 24 April 2008 John Watilette perdana menteri
pemerintahan RMS di pengasingan Belanda berpendapat bahwa mendirikan republik merupakan
sebuah mimpi di siang hari bolong dalam peringatan 58 tahun proklamasi kemerdekaan RMS yang
dimuat pada harian AlgemeenDagblad yang menurunkan tulisan tentang antipati terhadap Jakarta
menguat. Tujuan politik RMS sudah berlalu seiring dengan melemahnya keingingan memperjuangkan
RMS ditambah tidak adanya donatur yang bersedia menyisihkan dananya, kinihubungan dengan
Maluku hanya menyangkut soal sosial ekonomi. Perdana menteri RMS (bermimpi) tidak menutup
kemungkinan Maluku akan menjadi daerah otonomi seperti Aceh Kendati tetap menekankan tujuan
utama adalah meraih kemerdekaanpenuh.
Pemimpin pertama RMS dalam pengasingan di Belanda adalah Prof. Johan Manusama,
pemimpin kedua Frans Tutuhatunewa turun pada tanggal 25 april 2009. Kini John Wattilete adalah
pemimpin RMS pengasingan di Belanda.
1.2 Maksud dan Tujuan Penulisan
1.2.1 Maksud Penulisan
Adapun maksud dari makalah kami tentang Republik Maluku Selatan, yaitu :
1. Ingin mengetahui apa itu Republik Maluku Selatan.
2. Ingin mengetahui kapan Pembentukan Republik Maluku Selatan.
3. Ingin mengetahui akhir Republik Maluku Selatan.
4. Ingin mengetahui tokoh-tokoh yang berada dibalik Pembentukan Republik Maluku Selatan.
5. Ingin mengetahui peran Belanda dalam Pembentukan Republik Maluku Selatan.
1.2.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari makalah tentang Pemberontakan Republik Maluku Selatan adalah :
1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Sejarah.
2. Untuk menambah poin-poin dalam pembelajaran.

3. Untuk mengetahui lebih dalam tentang Pemberontakan Republik Maluku Selatan.

1.3 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam makalah ini berupa pertanyaan sebagai berikut:
1. Apakah pengertian RMS?
2. Sejak kapan Pemberontakan RMS berlangsung?
3. Kapan akhir Pemberontakan RMS?
4. Sebutkan tokoh-tokoh yang berada di balik Pembentukan RMS?
5. Bagaimana peran Belanda dalam Pembentukan RMS?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Latar Belakang Terjadinya Republik Maluku Selatan
Republik Maluku Selatan (RMS) adalah daerah yang diproklamasikan merdeka pada 25
April 1950 dengan maksud untuk memisahkan diri dari Negara Indonesia Timur (saat itu Indonesia
masih berupa Republik Indonesia Serikat). Namun oleh Pemerintah Pusat, RMS dianggap sebagai
pemberontakan dan setelah misi damai gagal, maka RMS ditumpas tuntas pada November 1950.
Sejak 1966 RMS berfungsi sebagai pemerintahan di pengasingan, Belanda.
2.2 Sejarah Pemberontakan Republik Maluku Selatan
Pada 25 April 1950 RMS hampir/nyaris diproklamasikan oleh orang-orang bekas prajurit
KNIL dan pro-Belanda yang di antaranya adalah Dr. Chr.R.S. Soumokil bekas jaksa agung Negara
Indonesia Timur yang kemudian ditunjuk sebagai Presiden, Ir. J.A. Manusama dan J.H. Manuhutu.
Pemerintah Pusat yang mencoba menyelesaikan secara damai, mengirim tim yang diketuai Dr. J.
Leimena sebagai misi perdamaian ke Ambon. Tapi kemudian, misi yang terdiri dari para politikus,
pendeta, dokter dan wartawan, gagal dan pemerintah pusat memutuskan untuk menumpas RMS, lewat
kekuatan senjata. Dibentuklah pasukan di bawah pimpinan Kolonel A.E. Kawilarang.
Pada 14 Juli 1950 Pasukan ekspedisi APRIS/TNI mulai menumpas pos-pos penting RMS.
Sementara, RMS yang memusatkan kekuatannya di Pulau Seram dan Ambon, juga menguasai
perairan laut Maluku Tengah, memblokade dan menghancurkan kapal-kapal pemerintah.
Pemberontakan ini berhasil digagalkan secara tuntas pada bulan November 1950, sementara para
pemimpin RMS mengasingkan diri ke Belanda. Pada 1951 sekitar 4.000 orang Maluku Selatan,
tentara KNIL beserta keluarganya (jumlah keseluruhannya sekitar 12.500 orang), mengungsi ke
Belanda, yang saat itu diyakini hanya untuk sementara saja.
RMS di Belanda lalu menjadi pemerintahan di pengasingan. Pada 29 Juni 2007 beberapa
pemuda Maluku mengibarkan bendera RMS di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhono
pada hari keluarga nasional di Ambon. Pada 24 April 2008 John Watilette perdana menteri
pemerintahan RMS di pengasingan Belanda berpendapat bahwa mendirikan republik merupakan
sebuah mimpi di siang hari bolong dalam peringatan 58 tahun proklamasi kemerdekaan RMS yang
dimuat pada harian AlgemeenDagblad yang menurunkan tulisan tentang antipati terhadap Jakarta
menguat. Tujuan politik RMS sudah berlalu seiring dengan melemahnya keingingan memperjuangkan
RMS ditambah tidak adanya donatur yang bersedia menyisihkan dananya, kinihubungan dengan
Maluku hanya menyangkut soal sosial ekonomi. Perdana menteri RMS (bermimpi) tidak menutup
kemungkinan Maluku akan menjadi daerah otonomi seperti Aceh Kendati tetap menekankan tujuan
utama adalah meraih kemerdekaanpenuh.
2.3 Berakhirnya Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS)
Pemberontakan Republik Maluku Selatan sudah berakhir tetapi masih ada beberapa orang
yang masih mengakui RMS dan sampai detik ini RMS masih tetap eksis dan mempunyai presiden
transisi bernama Simon Saiya.
2.4 Tokoh-tokoh yang terlibat di dalam Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS)
Pemimpin pertama RMS dalam pengasingan di Belanda adalah Prof. Johan Manusama,
pemimpin kedua Frans Tutuhatunewa turun pada tanggal 25 april 2009. Kini John Wattilete adalah

pemimpin RMS pengasingan di Belanda. Dr. Soumokil mengasingkan diri ke Pulau Seram. Ia
ditangkap di Seram pada 2 Desember 1962, dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan militer, dan
dilaksanakan di Kepulauan Seribu, Jakarta, pada 12 April 1966.

2.5 Peran Belanda dalam Pembentukan Republik Maluku Selatan (RMS)


Oleh karena kemerdekaan RMS yang di Proklamirkan oleh sebagian besar rakyat Maluku,
pada tanggal 24 April 1950 di kota Ambon, ditentang oleh Pemerintah RI dibawah pimpinan Sukarno
- Hatta, maka Pemerintah RI meng-ultimatum semua para aktifis RMS yang memproklamirkan
berdirinya Republik Maluku Selatan untuk menyerahkan diri kepadda pemerintah RI, sehingga semua
aktifis RMS itu ditangkapi oleh Pasukan2 Militer yang dikirim dari Pulau Jawa.
Karena adanya penangkapan yang dilakukan oleh militer Pemerintah RI, maka para
pimpinan teras RMS tersebut, ber-inisiatif untuk menghindar sementara ke Negeri Belanda,
kepindahan para pimpinan RMS ini mendapat bantuan sepenuhnya dari Pemerintah Belanda pada saat
itu. Dengan adanya kesediaan bantuan dari Pemerintah Belanda untuk mengangkut sebagian besar
rakyat Maluku dengan biaya sepenuhnya dari Pemerintah Belanda, maka sebagian besar rakyat di
Maluku yang beragama kristen, memilih dengan kehendaknya sendiri untuk pindah ke Negeri
Belanda. Pada waktu itu, Ada lebih dari 15.000 rakyat Maluku yang memilih pindah ke negeri
Belanda.
Pindahnya sebagian rakyat maluku ini, oleh Pemerintahan Sukarno-Hatta, diissukan sebagai
"PENGUNGSIAN PARA PENDUKUNG RMS", lalu dengan dalih pemberontakan, pemerintah RI
menangkapi para Menteri RMS dan para aktifisnya, lalu mereka dipanjarakan dan diadili oleh
pengadilan militer RI, dengan hukuman berat bahkan dieksekusi Mati.
Di Belanda, Pemerintah RMS tetap menjalankan semua kebijakan Pemerintahan, seperti
Sosial, Politik, Keamanan dan Luar Negeri. Komunikasi antara Pemerintah RMS di Belanda dengan
para Menteri dan para Birokrat di Ambon berjalan lancar terkendali. Keadaan ini membuat
pemerintahan Sukarno tidak bisa berpangku tangan menyaksikan semua aktivitas rakyat Maluku,
sehingga dikeluarkanlah perintah untuk menangkap seluruh pimpinan dengan semua jajarannya,
sehingga pada akhirnya dinyatakanlah bahwa Pemerintah RMS yang berada di Belanda sebagai
Pemerintah RMS dalam pengasingan Dengan bekal dokumentasi dan bukti perjuangan RMS, para
pendukung RMS membentuk apa yang disebut Pemerintahan RMS di pengasingan.
Pemerintah Belanda mendukung kemerdekaan RMS, Namun di tahun 1978 terjadi peristiwa
Wassenaar, dimana beberapa elemen pemerintahan RMS melakukan serangan kepada Pemerintah
Belanda sebagai protes terhadap kebijakan Pemerintah Belanda. Oleh Press di Belanda dikatakanlah
peristiwa itu sebagai teror yang dilakukan para aktifis RMS di Belanda. Ada yang mengatakan
serangan ini disebabkan karena pemerintah Belanda menarik dukungan mereka terhadap RMS. Ada
lagi yang menyatakan serangan teror ini dilakukan karena pendukung RMS frustasi, karena Belanda
tidak dengan sepenuh hati memberikan dukungan sejak mula. Di antara kegiatan yang di lansir Press
Belanda sabagai teror, adalah ketika di tahun 1978 kelompok RMS menyandera 70 warga sipil di
gedung pemerintah Belanda di Assen-Wassenaar.

BAB III
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Republik Maluku Selatan (RMS) adalah daerah yang diproklamasikan merdeka pada 25
April 1950 dengan maksud untuk memisahkan diri dari Negara Indonesia Timur (saat itu Indonesia
masih berupa Republik Indonesia Serikat). Namun oleh Pemerintah Pusat, RMS dianggap sebagai
pemberontakan dan setelah misi damai gagal, maka RMS ditumpas tuntas pada November 1950 lewat
kekuatan senjata.
Pada 14 Juli 1950 Pasukan ekspedisi APRIS/TNI mulai menumpas pos-pos penting RMS.
Sementara, RMS yang memusatkan kekuatannya di Pulau Seram dan Ambon, juga menguasai
perairan laut Maluku Tengah, memblokade dan menghancurkan kapal-kapal pemerintah.
Pemberontakan ini berhasil digagalkan secara tuntas pada bulan November 1950, sementara
para pemimpin RMS mengasingkan diri ke Belanda adalah Prof. Johan Manusama. Komunikasi
antara Pemerintah RMS di Belanda dengan para Menteri dan para Birokrat di Ambon berjalan lancar
membuat pemerintahan Sukarnosehingga mengeluarkan perintah untuk menangkap seluruh pimpinan
dengan semua jajarannya, sehingga pada akhirnya dinyatakanlah bahwa Pemerintah RMS yang
berada di Belanda sebagai Pemerintah RMS dalam pengasingan Dengan bekal dokumentasi dan bukti
perjuangan RMS

5.2 Saran
Alangkah baiknya kita mempelajari dan mengetahui sejarah-sejarah tentang pemberontakan
dunia khususnya Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS).
Dari pemberontakan tersebut kami dapat mengetahui bahwa Pemberontakan Republik
Maluku Selatan banyak sekali kisah-kisahnya pada masa lampau.

DAFTAR PUSTAKA
-

Buku LKS Sejarah Kelas XII Semester I


http://wikipedia
Agung Leo dan Aris Listiyani Dwi. 2009. Mandiri Sejarah. Jakarta: Erlangga