Anda di halaman 1dari 34

Tugas Hukum Kesehatan

ASPEK DAN HUKUM PENGENDALIAN TEMBAKAU


Oleh :
Keke Anisa Putri
25010113120012
Febrianto Simanullang
25010113120015
Trianita Eka Pamundhi
25010113120067
Lilis Setyaningrum
25010113120149
Rizki Pamulat Sari
25010113130117
Aini Nur Santi
25010113130238
Ade Yuny Afriyanty
25010113130275
Hanifah Iskhia Dilla
25010113130286
Inna Maullina
25010113130314
Lutfy Laksita Pranandari
25010113130342
Nova Listiana
25010113130396
Sri Widi Astuti
25010113130397
Sabrilla Putri G.
25010113140278
Fara Aulia Oktaviani
25010113140343
Syifa Sakinah
25010113140308
Iwan Yunianto
25010115183029
Kelompok 3 / AKK 2016
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro
Semarang
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang
Penggunaan tembakau merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di

seluruh dunia. Tembakau merupakan faktor risiko pada enam dari delapan
penyebab kematian terbesar dunia. Tembakau telah membunuh 5,4 juta jiwa pada
tahun 2005 dan 100 juta jiwa secara keseluruhan selama abad ke-20 melalui

penyakit-penyakit yang terkait dengan penggunaan tembakau. Bila hal ini terus
dibiarkan maka pada tahun 2030, diperkirakan akan ada 8 juta jiwa melayang
karena tembakau atau total berjumlah 1 milyar jiwa dalam abad 21 (Lonar, 2006).
Masalah yang semula terjadi hanya di negara maju kini telah melanda negaranegara berkembang yang sedang berada pada fase kedua dari empat fase masalah
epidemik tembakau. Pada fase ini, prevalensi pengguna tembakau, baik pria
maupun wanita, meningkat namun kematian yang diakibatkannya masih relatif
rendah bila dibandingkan dengan penggunaannya. Hal inilah yang membuat
pemerintah di negara-negara berkembang masih belum memberikan perhatian
yang cukup bagi pengendalian dampak tembakau, selain karena banyak negara
menganggap ekonominya masih ditopang oleh industri tembakau (The World
Bank Group, 2006).
Padahal, pendapatan negara dari cukai rokok tidak sebanding dengan biaya
kesehatan yang harus dikeluarkan untuk mengatasi dampak kesehatan yang
ditimbulkannya. Menurut Kosen, baiya kesehatan yang dikeluarkan oleh
Indonesia pada tahun 2005 adalah sebesar 18,1 milyar dolar Amerika atau sekitar
5,1 kali pendapatan negara dari cukai tembakau pada tahun yang sama (Kosen,
2007).
Rokok sebagai hasil produk dari tembakau merupakan produk tembakau
terbesar saat ini. Rokok menempatkan Indonesia di posisi nomor tiga dalam hal
konsumsi rokok. Untuk itu, dipandang perlu adanya pengendalian tembakau
secara tegas dalam sebuah aturan hukum. Payung hukum tentang pengendalian
tembakau di Indonesia masih dirasa lemah sehingga belum dapat mengendalikan
peredaran tembakau di pelosok negeri. Kebijakan atau peraturan yang disudah
adapun masih banyak kecacatan dan belum diimplementasikan secara penuh.
Berdasarkan hasil uraian di atas maka perlunya pengkajian mengenai hal tersebut.
2.

Tujuan
a. Mengetahui definisi, jenis, bahan dan kandungan rokok sebagai produk
tembakau.
b. Mengetahui definisi pengamanan rokok.
c. Mengetahui dampak rokok dan tembakau bagi kesehatan, sosial, ekonomi
dan budaya.
d. Mengetahui strategi pengendalian tembakau.
e. Mengetahui dasar hukum pengendalian tembakau.
f. Mengetahui Peraturan Daerah tentang kawasan tanpa rokok.

g. Mengetahui Rancangan Undang-Undang Pertembakauan.


h. Menganalisis kasus tentang pengendalian tembakau.
3.

Manfaat
a. Menambah wawasan mahasiswa dalam mengkaji permasalahan tentang
pengendalian tembakau.
b. Menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam merumuskan perundang
undangan tentang pengendalian tembakau.
c. Menjadi bahan informasi masyarakat tentang pengendalian tembakau.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Rokok
1. Pengertian Rokok
Menurut Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2003 tentang
Pengamanan Rokok bagi Kesehatan, rokok merupakan salah satu zat adiktif
yang bila digunakan mengakibatkan bahaya bagi kesehatan individu dan
masyarakat, oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya pengamanan.
Rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau
bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana Tabacum, Nicotiana
Rustica dan spesies lainnya atau sintetisnya yang mengandung nikotin dan tar
dengan atau tanpa bahan tambahan (Sitepoe, 2000).
Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120
mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi
daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu

ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada
ujung lainnya.
2. Bahan dan Kandungan Rokok
Rokok mengandung bahan tambahan seperti ammonia, butana, senyawa
cadmium, asam stearate, asam asetat, senyawa arsenat, karbonmonoksida,
metana, dan methanol.

Gambar 1. Rokok dan Kandungannya

Gambar 2. Rokok dan Kandungannya


Rokok juga mengandung asetaldehid, akrolein, aseton, dimetilnitrosamin,
naftalen, naftilamin, pyrene. Asap rokok merupakan hasil pembakaran tidak
sempurna dari rokok. Asap rokok mengandung karbonmonoksida yang tidak
berwarna namum bersifat racun bagi tubuh manusia. Hal ini akan
mengganggu peredaran oksigen di dalam darah sehingga juga merupakan
salah satu penyebab kekurangan oksigen dalam darah.

Nikotin adalah zat, atau bahan senyawa pirrolidin yang terdapat dalam
Nikotiana Tabacum, Nicotiana Rustica dan spesies lainnya atau sintetisnya
yang bersifat adiktif dapat mengakibatkan ketergantungan. Nikotin merupakan
senyawa alkaloid (zat yang berbahan dasar atom nitrogen) yang terdapat pada
akar dan daun tembakau. Nikotin pada tembakau berkisar 0,6 hingga 3% berat
tembakau. Tar adalah senyawa polinuklir hidrokarbon aromatika yang bersifat
karsinogenik.
Sementara itu, jumlah senyawa yang terkandung dalam asap rokok lebih
dari 4000 macam, diantaranya bersifat toksik, mutagenik, karsinogenik
dengan 43 jenis karsinogen yang telah diidentifikasi. Dalam prakteknya hasil
analisa asap rokok dikategorikan menurut jumlah tar yang merupakan
partikulat total dan nikotin yang ada dalam rokok per batang, dengan jumlah
yang dianjurkan untuk tar kurang dari 15 mg dan nikotin kurang dari 1 mg.

Tabel 1. Daftar Bahan Kimia yang Terdapat di dalam Asap Rokok yang
Dihisap
1. Nikotin
Nikotin yaitu zat atau bahan senyawa porillidin yang terdapat dalam
Nicotoana Tabacum, Nicotiana Rustica dan spesies lainnya yang
bersifat adiktif yang dapat mengakibatkan ketergantungan. Nikotin ini
dapat

meracuni

syaraf

tubuh,

meningkatkan

tekanan

darah,

menyempitkan pembuluh perifer dan menyebabkan ketagihan serta


ketergantungan pada pemakainya. Jumlah nikotin yang dihisap
dipengaruhi oleh berbagai faktor kualitas rokok, jumlah tembakau
setiap batang rokok, dalamnya isapan dan menggunakan filter rokok
atau tidak.
2. Karbonmonoksida (CO)
Karbonmonoksida yang dihisap oleh perokok tidak akan menyebabkan
keracunan CO sebab pengaruh CO yang dihirup oleh perokok dengan
sedikit demi sedikit dengan lamban namun pasti akan berpengaruh
negatif pada jalan nafas. Gas karbonmonoksida bersifat toksis yang

bertentangan dengan oksigen dalam transpor maupun penggunaannya.


Dalam rokok terdapat CO sejumlah 2%-6% pada saat merokok
sedangkan CO yang dihisap oleh perokok paling rendah sejumlah 400
ppm

(parts

per

million)

sudah

dapat

meningkatkan

kadar

karboksihaemoglobin dalam darah sejumlah 2%16% (Sitepoe, 1997).


3. Tar
Tar merupakan bagian partikel rokok sesudah kandungan nikotin dan
uap air diasingkan, beberapa komponen zat kimianya karsinogenik
(pembentukan kanker). Tar adalah senyawa polinuklin hidrokarbon
aromatika yang bersifat karsinogenik. Dengan adanya kandungan
bahan kimia yang beracun sebagian dapat merusak sel paru dan
menyebabkan berbagai macam penyakit. Selain itu tar dapat menempel
pada jalan nafas sehingga dapat menyebabkan kanker. Tar merupakan
kumpulan dari beribu-ribu bahan kimia dalam komponen padat asap
rokok. Pada saat rokok dihisap, tar masuk kedalam rongga mulut
sebagai uap padat asap rokok. Setelah dingin akan menjadi padat dan
membentuk endapan berwarna coklat pada permukaan gigi, saluran
pernafasan dan paru-paru.(Sitepoe, 1997).
4. Timah Hitam (Pb)
Merupakan partikel asap rokok timah hitam (Pb) yang dihasilkan
sebatang rokok sebanyak 0,5 mikrogram. Sebungkus rokok (isi 20
batang) yang habis diisap dalam satu hari menghasilkan 10 mikrogram.
Sementara ambang batas timah hitam yang masuk ke dalam tubuh
antara 20 mikrogram per hari.(Sitepoe, 1997).
5. Amoniak
Amoniak merupakan gas yang tidak berwarna yang terdiri dari
nitrogen dan hidrogen. Zat ini tajam baunya dan sangat merangsang.
Begitu kerasnya racun yang ada pada ammoniak sehingga jika masuk
sedikitpun kedalam peredaran darah akan mengakibatkan seseorang
pingsan atau koma.
3. Jenis Rokok
Rokok merupakan produk utama dari hasil pengolahan tembakau yang
diramu dn dibentuk secara khusus dari berbagai jenis dan mutu tembakau.
Teknik pencampuran, pengolahan, dan pemberian bahan tambahan juga

bervariasi. Berdasarkan bahan-bahan tambahan tersebut dikenal jenis rokok


putih dan rokok kretek.
Menurut Sitepoe (1997), jenis rokok berdasarkan bahan baku dibagi tiga jenis:
1.
Rokok Putih
Rokok yang bahan baku atau isinya hanya tembakau yang diberi saus
untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.
2.
Rokok Kretek
Rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau dan cengkeh
yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.
3.
Rokok Klembak
Rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau,cengkeh, dan
kemenyan yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma
tertentu.
Selain itu, rokok dapat juga dibedakan jenisnya berdasarkan penggunaan filter,
yang dibagi dua jenis (Bustan, 2000) :
1.

Rokok Filter (RF)


Rokok yang pada bagian pangkalnya terdapat gabus.
2.
Rokok Non Filter (RNF)
Rokok yang pada bagian pangkalnya tidak terdapat gabus.
B. Pengamanan Rokok
Pengamanan rokok adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam
rangka mencegah dan/atau menangani dampak penggunaan rokok baik
langsung maupun tidak langsung terhadap kesehatan (PP Nomor 19 Tahun
2003).
Ada asumsi baru untuk penanganan solusi dampak kesehatan akibat
aktifitas merokok

dengan tetap merokok mengunakan rokok elektronik.

Namun hal ini sangat dibantahkan karena tingkat resiko dan dampaknya tidak
kalah berbahaya dengan pola merokok filter dan sigaret. Komponen rokok
elektrik terdiri dari atas cartrige, vaporizer atau penguap dan batrei litium.
Rokok ini membakar cairan nikotin cair dengan mengunakan baterai
litium dan uapnya di hisap ke paru paru kemudian dihembuskan lagi keluar,
seperti lazimnya merokok biasa. Asap yang mengandung zat zat tersebut tidak
dapat terdeteksi tingkat esensinya kecuali kandungan zat zat kimiawi yang
berbahaya bagi kesehatan. Asap yang mengandung kimia tidak dapat
tertoleransi oleh metabolisme tubuh sehinga memungkinkan gangguan

kesehatan baik infeksi penyakit paru ,kanker maupun penyakit kronis lainya.
Sampai saat ini juga belum ada rekmendasi pengunaan rokok elektrik karena
belum ada izin resmi dari BPOM , bahkan memperingatkan kepada
masyarakat bahwa merokok elektikyang beredar adalah ilegal dan tidak
aman.Badan kesehatan Dunia (WHO) juga telah menyatakan produk ini tidak
aman dikonsumsi dan merekomendasikan untuk melarang beredar.
Untuk meminimalisir bahaya rokok ini, pemerintah telah mengeluarkan PP
Nomor 81 tahun 1999 tentang penanggulangan Masalah Merokok bagi
Kesehatan. Peraturan ini mengatur agar kandungan tar/ nikotin pada rokok
dibatasi, maksimum 20 mg untuk tar dan 1,5 mg untuk nikotin. Selain itu,
melarang total iklan rokok di media massa dan elektronik. Tetapi kemudian PP
ini dimentahkan dengan PP No. 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok
bagi Kesehatan, yang di dalamnya mengindikasikan pemerintah melemah
dalam mengatasi masalah merokok. Masalah rokok menjadi dilema bagi
pemerintah, di satu sisi hasil cukai rokok menghasilkan kontribusi yang besar
bagi APBN, tapi di sisi lain penanggulangan kesehatan akibat merokok juga
membutuhkan dana dan usaha yang besar.
C. DAMPAK ROKOK DAN TEMBAKAU
1. DAMPAK ROKOK DAN TEMBAKAU BAGI KESEHATAN
Setiap kali menghirup asap rokok, baik sengaja atau tidak, berarti juga
mengisap lebih dari 4.000 macam racun diantaranya bahan radioaktif
(polonium-201) dan bahan bahan yang digunakan dalam cat (acetone),
pencuci lantai (ammonia), racun serangga (DDT), gas beracun (hydrogen
cyanide). Bagaimanapun, racun paling penting adalah Tar, Nikotin dan Karbon
Monoksida.
Merokok sama dengan memasukkan racun-racun tadi ke dalam rongga
mulut dan tentunya paru-paru. Merokok mengganggu kesehatan, kenyataan ini
tidak dapat dipungkiri. Banyak penyakit telah terbukti menjadi akibat buruk
merokok, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebiasaan merokok
bukan saja merugikan si perokok, tetapi juga bagi orang di sekitarnya.
Kerugian yang ditimbulkan rokok sangat banyak bagi kesehatan. Dalam asap

rokok terdapat 4000 zat kimia berbahaya untuk kesehatan, dua diantaranya
adalah nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik.
Racun dan karsinogen yang timbul akibat pembakaran tembakau dapat
memicu terjadinya kanker. Roan mengatakan bahwa Efek dari rokok atau
tembakau memberi stimulasi depresi ringan, gangguan daya tangkap, alam
perasaan, alam pikiran, tingkah laku dan fungsi psikomotor.
Berbagai penyakit mulai dari rusaknya selaput lendir sampai penyakit
keganasan seperti kanker dapat ditimbulkan dari perilaku merokok. Beberapa
penyakit tersebut antara lain :
1. Penyakit paru
Merokok dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi saluran napas
dan jaringan paru-paru. Pada saluran napas besar, sel mukosa membesar
dan kelenjar mukus bertambah banyak (hiperplasia). Pada saluran napas
kecil, terjadi radang ringan hingga penyempitan akibat bertambahnya sel
dan penumpukan lendir. Pada jaringan paru-paru, terjadi peningkatan
jumlah sel radang dan kerusakan alveoli (cabang dari paru).
2. Penyakit jantung koroner.
Pengaruh utama pada penyakit jantung terutama disebakan oleh dua bahan
kimia penting yang ada dalam rokok, yakni nikotin dan karbonmonoksida.
Dimana nikotin dapat mengganggu irama jantung dan menyebabkan
sumbatan pada pembuluh darah jantung, sedangkan CO menyebabkan
pasokan oksigen untuk jantung berkurang karena berikatan dengan Hb
darah.
3. Impotensi
Tjokronegoro, seorang dokter spesialis andrologi universitas Indonesia
mengungkapkan bahwa, nikotin yang beredar melalui darah akan dibawa
keseluruh tubuh termasuk organ reproduksi. Zat ini akan menggangu
proses spermatogenesis sehingga kualitas sperma menjadi buruk.
Sedangkan Taher menambahkan, selain merusak kualitas sperma, rokok
juga menjadi faktor resiko gangguan fungsi seksual terutama gangguan

disfungsi ereksi (DE). Dalam penelitiannya, sekitar seperlima dari


penderita DE disebabkan oleh karena kebiasaan merokok.
4. Kanker kulit, mulut, bibir dan kerongkongan.
Tar yang terkandung dalam rokok dapat mengikis selaput lender di mulut,
bibir dan kerongkongan. Ampas tar yang tertimbun merubah sifat sel-sel
normal menjadi sel ganas yang menyebakan kanker. Selain itu, kanker
mulut dan bibir ini juga dapat disebabkan karena panas dari asap.
Sedangkan untuk kanker kerongkongan, didapatkan data bahwa pada
perokok kemungkinan terjadinya kanker kerongkongan dan usus adalah 510 kali lebih banyak daripada bukan perokok.
5. Merusak otak dan indera
Sama halnya dengan jantung, dampak rokok terhadap otak juga
disebabkan karena penyempitan pembuluh darah otak yang diakibatkan
karena efek nikotin terhadap pembuluh darah dan supply oksigen yang
menurun terhadap organ termasuk otak dan organ tubuh lainnya. Sehingga
sebetulnya nikotin ini dapat mengganggu seluruh system tubuh.
6. Mengancam kehamilan
Hal ini terutama ditujukan pada wanita perokok. Banyak hasil penelitian
yang menggungkapkan bahwa wanita hamil yang merokok meiliki resiko
melahirkan bayi dengan berat badan yang rendah, kecacatan, keguguran
bahkan bayi meninggal saat dilahirkan.
Penelitian terbaru juga menunjukkan adanya bahaya dari secondhandsmoke, yaitu asap rokok yang terhirup oleh orang-orang bukan perokok
karena berada di sekitar perokok, atau biasa disebut juga dengan perokok
pasif. Survey badan kesehatan dunia WHO yang mengatakan, ada sekitar 3
juta kematian setiap tahunnya akibat asap rokok pada selama kurun waktu
tahun 1990-an. Penyebabnya, bukan hanya kanker paru dan jantung yang
dipicu oleh berbagai racun yang disemburkan setiap isapan rokok ke dalam
tubuh, namun juga oleh banyak penyakit lain yang disebabkan perilaku
merokok, baik secara aktif maupun pasif. jumlah perokok Indonesia 9 justru

bertambah dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan rokok Indonesia pada


periode 2000-2008 adalah 0.9 % per tahun.
2. DAMPAK ROKOK DAN TEMBAKAU BAGI SOSIAL
Dampak sosial di antaranya adalah hilangnya rasa nyaman bagi orang
yang tidak merokok, hilangnya hak asasi seseorang terhadap udara segar,
bebasnya remaja merokok di jalanan walaupun masih menggunakan seragam
sekolah dan tidak sedikit terjadinya kebakaran dikarenakan putung rokok yang
dibuang sembarangan sebelum dimatikan.
Akhir-akhir ini persoalan iklan, peredaran dan produksi rokok di Indonesia
memunculkan keadaan pro dan kontra atas persoalan rokok tersebut, di satu
sisi para aktivis anti rokok berupaya mendesak pemerintah untuk
mengeluarkan regulasi tentang rokok untuk melindungi masyarakat non
perokok karena dapat berakibat fatal bagi kesehatan manusia dan lingkungan
secara global akibat dampak negatif asap rokok dengan berbagai argumen
ilmiah dan sebagai bentuk kepedulian warga bangsa atas dampak bahaya
merokok, terutama melindungi anak dari dampak negatif atas asap rokok. Di
sisi lain, industri rokok dan pemerintah mencoba untuk mencari jalan tengah
dengan berdalih melindungi kepentingan nasional yang lebih besar atas
pertumbuhan dan perkembangan industri rokok dari mulai pengusaha, tenaga
kerja industri rokok sampai pada petani tembakau. Industri rokok maupun
perilaku merokok di masyarakat dalam aspek sosial ekonomi tidak bisa
dilepas dari perspektif kemiskinan. Pada aspek produksi, banyak faktor atau
elemen yang terlibat pada aspek tersebut di antaranya adalah pemilik pabrik
(pemodal), karyawan/buruh, petani tembakau sampai pada penjual rokok di
pinggiran jalan.
3. DAMPAK ROKOK DAN TEMBAKAU BAGI EKONOMI
Peran tembakau dalam perekonomian nasional dapat dilihat dari beberapa
indikator seperti perannya dalam penerimaan negara (PDB), sumber lapangan
kerja dan pendapatan masyarakat. Industri tembakau secara luas mencakup
sektor bahan baku primer daun tembakau dan cengkeh dan industri
pengolahan rokok. Berdasarkan hasil analisa Input-Output tahun 2005 industri

tembakau memberikan kontribusi 1,66 persen terhadap total PDB nasional.


Kontribusi terbesar berasal dari Industri rokok sebesar 1,56 persen, sedangkan
sektor bahan baku tembakau dan cengkeh hanya berkontribusi masing masing
sebesar 0,036 persen dan 0,067 persen. Namun demikian industri rokok
merupakan salah satu industri pertanian (agroindustri) yangmenonjol di
Indonesia. Terhadap Agroindustri tersebut peran industri rokok mencapai
13,13 persen (Tabel 1).

Peran bahan baku primer tembakau dan cengkeh terhadap total perkebunan
dan pertanian relatif kecil. Nilai produksi usahatani tembakau dan cengkeh
terhadap nilai produk perkebunan masing-masing sebedar 1,54 persen dan
2,83 persen; sementara terhadap nilai produk pertanian masing-masing hanya
0,27 persen dan 0,49 persen (Tabel 2).

Peran komoditas tembakau yang cukup nyata dalam perekonomian


nasional adalah sebagai sumber penerimaan negara dari cukai. Nilai
penerimaan dari cukai yang dari tahun ke tahun terus meningkat, yaitu dari Rp
11,1 triliun pada tahun 2001 menjadi sekitar Rp 47,0 triliun pada tahun 2008,
suatu peningkatan rata rata 53 persen per tahun. Penerimaan nilai cukai
sebesar 47 triliun pada tahun 2008 merupakan nilai satu persen dari
penerimaan total negara. Peningkatan cukai tembakau tersebut terutama
karena kebijakan peningkatan harga jual eceran rokok tarif cukai hasil
tembakau,

sementara

produksi rokok memperlihatkan

kecenderungan

menurun.
Indonesia disamping sebagai eksportir produk tembakau juga sebagai
importir, baik produk daun tembakau maupun rokok. Secara keseluruhan
posisi Indonesia dalam perdagangan dunia tembakau adalah net eksportir,
dalam arti nilai ekspor lebih besar dari nilai impor.
Devisa terutama berasal dari ekspor rokok karena nilai ekspor rokok lebih
besar dari nilai impor rokok, namun untuk daun tembakau kecenderungan net
importir.
Dalam tahun 2007 surplus perdagangan rokok sebesar US$ 253, 87 juta
(nilai ekspor rokok sebesar US$ 304,45 juta dan nilai impor rokok sebesar
US$ 50,58 juta); sedangkan pada daun tembakau, terjadi defisit sebesar US$
96, 94 juta (nilai ekspor US$ 120,27 juta dan nilai impor US$ 217,21 juta).
Dengan demikian secata total pada tahun 2007 perdagangan tembakau
indonesia surplus sebesar US$ 156,93 juta.

4. DAMPAK ROKOK DAN TEMBAKAU BAGI BUDAYA


a. Kebiasaan merokok di sekolah
Kebiasaan merokok di Indonesia sudah tertanam sejak usia dini.
Kebiasaan merokok di lingkungan pendidikan contohnya di sekolah
menjadi salah satu bukti bahwa kebiasaan merokok di Indonesia sudah
menjadi budaya. Kebiasaan ini telah menjadi pendidikan budaya awal
yang setidaknya dapat mempengaruhi perilaku dan moral anak bangsa.

Dunia sekolah yang seharusnya memiliki fungsi untuk menanamkan


moral anak bangsa justru beralih fungsi sebagai tempat pendidikan
penanaman budaya yang mengarahkan pada kemerosotan moral.
Permasalahan terbesar dalam menghadapi masalah ini adalah guru
yang seharusnya menjadi panutan sering kali memberi contoh
kebiasaan jelek merokok ini di lingkungan sekolah.
Kesadaran awal akan bahaya merokok seharusnya ditanamkan melalui
pendidikan dan sosialisasi di lingkungan sekolah. Perilaku ini yang
sangat menjadi tolak ukur akan tingkah laku para peserta didik
Indonesia di kemudian hari pada saatnya mereka berinteraksi langsung
dengan lingkungan masyarakat. Ketegasan dari seorang guru dalam
memberikan tindakan terhadap pelanggaran merokok di sekolah.
Ketegasan ini tidak hnya bagi para peserta didik saja, melainkan semua
yang terlibat berkecimbung di institusi sekolah tersebut harus
mendapatkan sanksi yang sama apabila terjadi pelanggaran.
b. Balita Merokok, Meniru Orang Tua
Balita cenderung meniru perilaku orang-orang di sekitarnya. Keluarga
dan lingkungan perokok menjadi alasan utama mengapa balita
merokok.
Sebanyak 90% dari ayah perokok mengaku merokok di rumah ketika
seluruh anggota keluarganya berkumpul. Menurut riset yang dilakukan
oleh American Association for Cancer Research, semakin muda usia
anggota keluarga, maka penyerapan racun asap rokok ke dalam
tubuhnya pun sebagai besar. Balita dan anak-anak di bawah 6 tahun
ternyata memiliki kadar nikotin 12% lebih tinggi daripada orang
dewasa yang terpapar polusi asap rokok di rumahnya. Pada tahun
2006, UNICEF mengungkapkan fakta bahwa sebanyak 32,4 ribu balita
meninggal akibat perilaku merokok orang tuanya. Hasil riset
American Journal of Public Health (2008) juga mengungkapkan
bahwa angka kematian balita di lingkungan orang tua merokok lebih

tinggi daripada angka kematian balita di lingkungan orang tua yang


bukan perokok.
Budaya merokok, selain menjadi penyebab balita merokok, tapi juga
meningkatkan angka kematian balita akibat terpapar polusi asap rokok.
Angka kematian ini bisa dikurangi jika masyarakat sadar dan peduli
untuk merokok di tempat khusus perokok (smoking area) atau
menghilangkan kebiasaan merokoknya.
D. PengendalianTembakau
1. Pengertian Pengendalian Tembakau
Pengendalian tembakau merupakan serangkaian kegiatan dalam rangka
mencegah dan atau menangani dampak penggunaan tembakau baik langsung
maupun tidak langsung terhadap kesehatan. Pengendalian tembakau telah
diatur dalam berbagai peraturan, antara lan UU no 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan (UU Kesehatan) dan Peraturan Pemerintah (PP) No 109 Tahun
2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa
Produk Tembakau bagi Kesehatan. Dalam peraturan ini disebutkan bahwa
tembakau dan produknya merupakan zat adktif yang perlu diamankan
penggunaannya.
Pengaturan tersebut dituangkan dalam Pasal 113, Pasal 114, Pasal 115
dan Pasal

199 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Pasal 113 Undang-Undang ini menetukan bahwa :


1. Pengamanan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif diarahkan
agar tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan perseorangan,
keluarga, masyarakat, dan lingkungan.
2. Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tembakau,
produk yang mengandung tembakau, padat, cairan, dan

gas

yang

bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian


bagi dirinya dan/atau masyarakat sekelilingnya.
3. Produksi, peredaran, dan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif
harus memenuhi standar dan/atau persyaratan yang ditetapkan

2. Strategi Pengendalian Tembakau

Keprihatinan

dunia

tentang

bahaya

produk

tembakau

telah

mendorongWHO untuk merancang suatu langkah yang belum pernah


dilakukan sebelumnyayaitu mengembangkan suatu traktat internasional
pengendalian dampak tembakau(Framework Convention on Tobacco Control
atau FCTC).
WHO melalui FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) atau
kerangka kerja konvensi pengendalian tembakau adalah suatu konvensi
hukum internasional dalam pengendalian masalah tembakau yang mempunyai
kekuatan mengikat secara hukum bagi negara yang meratifikasinya. Naskah
FCTC yang merupakan perjanjian global pertama tentang kesehatan
masyarakat telah disepakati oleh 192 negara anggota WHO(World Health
Organization) dalam sidang Majelis Kesehatan Dunia pada Mei 2003. FCTC
harus melalui beberapa tahap agar bisa bermanfaat bagi kesehatan manusia.
FCTC yang terdiri dari 11 bab dan 38 pasal berisi:
1. Kebijakan harga dan Cukai rokok;
2. Iklan, sponsorship dan promosi
3. Pelabelan: peringatan kesehatan dan pernyataan yang menyesatkan
4. Undang-undang udara bersih
5. Pengungkapan dan pengaturan kandungan produk serta
6. Penyelundupan
Pokok-pokok isi FCTC terutama berkenaan dengan upaya untuk
menurunkan

penggunaan

produk

tembakau

melalui

penurunan

permintaan(demand), walaupun juga mengandung upaya-upaya yang bersifat


menurunkan pasokan (supply). Dalam FCTC disebutkan bahwa upaya
penurunan demand terhadap penggunanan tembakau dilakukan melalui
beberapa upaya, yaitu : 1)penggunaan mekanisme pengendalian harga dan
pajak; 2) pengendalian/penghentian iklan, sponsorship, dan promosi; 3)
pemberian label dalam kemasanrokok yang mencantumkan peringatan
kesehatan dan tidak menggunakan istilah yang menyesatkan; 4) pengaturan
udara bersih (proteksi terhadap paparan asap rokok); 5) pengungkapan dan
pengaturan isi produk tembakau; 6) edukasi, komunikasi, pelatihan dan
penyadaran

publik;

dan

7)

menghentikan kebiasaan merokok


E. Dasar Hukum

upaya

mengurangi

ketergantungan

dan

Berdasarkan hak setiap warga Negara yang diatur pada undang-undang,


tembakau

dapat

menyinggung

hak

kesehatan

masyarakat,

hak

penghidupan/hak mencari pekerjaan, hingga pendapatan/penerimaan negara


lewat cukai rokok dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dengan jumlah
yang tinggi. Regulasi tembakau di Indonesia saat ini diatur oleh Peraturan
Pemerintah No. 109 Tahun 2012 (PP No. 109 / 2012) tentang Pengamanan
Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi
Kesehatan dan Undang-Undang Republik Indonesia No. 36/2009 tentang
Kesehatan.
1. Tembakau berdasarkan sudut pandang kesehatan
Zat Adiktif merupakan bahan yang berbahaya bagi manusia. Pemerintah
telah mengatur regulasi hal ini dalam Pasal 113 sampai dengan Pasal 116 dan
Pasal 199 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentangKesehatan. Dalam
Pasal 113 ayat (2) Undang-UndangNomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan,
dinyatakan bahwaProduk Tembakau merupakan Zat Adiktif.
Dalam kaitannya dengan bidang kesehatan, konsumsi Produk Tembakau
terutama Rokok, menjadi masalah, karena di dalamProdukTembakau yang
dibakar terdapat lebihdari 4.000 (empat ribu) zat kimia antara lain Nikotin
yang bersifat adiktif dan Tar yang bersifat karsinogenik.
Untuk memberikan pengamanan, perlindungan, peningkatkan derajat
kesehatan masyarakat dan pencegahan dari dampak merugikan zat adiktif
produk tembakau maka pemerintah mengeluarkan PP No. 109 Tahun 2012.
Dalam PP ini diberikan definisi terkait bahaya zat adiktif yang terkandung
dalam produk tembakau dan upaya pemerintah untuk melakukan pengaturan
terhadapnya.
Berdasarkan

putusan

MK

nomor

19/PUU-VIII/2010

(hal.

137)

menyatakan juga bahwa penggunaan tembakau atau peredaran rokok sebagai


produk yang mengandung zat adiktif harus dikendalikan/dibatasi untuk
melindungi masyarakat bukan perokok.
2. Tembakau berdasarkan sudut pendapatan negara

Cukai rokok merupakan pendapatan negara terbesar keempat setelah pajak


pertambahan nilai, pajak penghasilan badan, serta pajak penghasilan minyak
dan

gas.

Selain

dilihat

dari

sudut

pandang

pendapatan

Negara,

industrirokokjugamenyeraptenagakerja yang cukupbesar.


Berdasarkan UU No. 39/2007 tentang Cukai, daerah penghasil tembakau
akan m/emperoleh DBH cukai rokok sebesar 2 persen. Target penerimaan
Negara dari cukai sebesar Rp 42,03 triliun, maka DBH untuk daerah penghasil
cukai rokok berkisarRp 800 miliar.
UU Cukai direalisasikan oleh pemerintah melalui Menteri Keuangan.
Tahun 2012, dikeluarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 197/PMK.07/2012
tentang Alokasi Definitif Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau, dengan
alokasi sebesar Rp 1,69 triliun yang berlaku sejak 11 Desember 2012.
Sedangkan alokasi definitif dana untuk provinsi dan kabupaten/kota diatur
oleh gubernur dan kepala daerah yang bersangkutan.
Alokasi pembagian dana cukai ini ditetapkan per provinsi menggunakan
variabel dengan masing-masing bobot, yaitu penerimaan cukai hasil tembakau
2 tahun sebelumnya dengan bobot sebesar 57,5%. Kemudian, rata-rata
produksi tembakau kering selama 3 tahun sebelumnya dengan bobot sebesar
37,5%.
3. Tembakau berdasarkan sudut pandang tenagakerja
Tembakau sebagai produk berbasis agro yang mampu menyerap jutaan
tenaga kerja serta mendapatkan dukungan dari pemerintah untuk melindungi
para tenaga kerja berbasis agro. Sesuai data dari Asosiasi Petani Tembakau
Indonesia (APTI), pada tahun 2015 luas produksi mencapai angka 238.722
hektar. Sedangkan jumlah petani tembakau berada di kisaran angka 2,3juta
orang, petani cengkeh 1,6 juta orang dan buruh pabrik sebanyak 150 ribu.
Jumlah karyawan industri yakni sebanyak 60 ribu orang. Sedangkan pengecer
sebesar 2,29 juta orang. Hal ini menggambarkan bahwa tingginya angka
penyerapan tenagakerja di sektor pertembakauan nasional.Sehingga dengan
potensi ini, perlu adanya regulasi yang melindungi petani tembakau dan
tenaga kerja lain yang berkaitan dengan bidang tersebut.
Berdasarkan Pasal 115 ayat (1) UU Kesehatan ini menunjukkan adanya
kepentingan secara adil khususnya bagi pedagang asongan rokok, buruh
pabrik rokok, dan petani tembakau. Sebab, dalam pengujian Pasal 115 ayat

(1) menyangkut hak mencari pekerjaan/penghidupan yang layak dan hak


mempertahankan kehidupannya sebagaimana dijaminPasal 27 ayat (2) dan
Pasal 28A UUD 1945.
4. Tembakau dari sudut pandang penyelenggara
Setiap orang yang memproduksi dan/atau mengimpor Produk Tembakau
wajib memiliki izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Setiap orang yang memproduksi Produk Tembakau berupa Rokok harus
melakukan pengujian kandungan kadar Nikotin dan Tar per batang untuk
setiap varian yang diproduksi. Pengujian dilakukan di laboratorium yang
sudah terakreditasi. Setiap orang yang memproduksi dan/atau mengimpor
Produk Tembakau ke wilayah Indonesia wajib mencantumkan peringatan
kesehatan. Peraturan Pemerintah No. 109 Tahun 2012 (PP No. 109 / 2012).
5. Tanggung jawab pemerintah dan instansi lainnya
Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya bertanggung
jawab mengatur, menyelenggarakan, membina, dan mengawasi pengamanan
bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi
kesehatan.
Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas ketersediaan
akses terhadap informasi dan edukasi atas pengamanan bahan yang
mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi kesehatan.
Menteri-menteri terkait, Kepala Badan, dan Pemerintah Daerah sesuai
dengan

kewenangannya

melakukan

pembinaan

atas

penyelenggaraan

pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif bagi kesehatan dengan:


a. mewujudkanKawasanTanpaRokok;
b. mencegahperokokpemuladan melakukan konseling berhenti merokok;
c. memberikaninformasi, edukasi, dan pengembangan kemampuan
masyarakat untuk berperilaku hidup sehat;
d. bekerjasamadenganbadan/atau lembaga internasional atau organisasi
kemasyarakatan untuk menyelenggarakan pengamanan Produk Tembakau
sebagai Zat Adiktif bagi kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan; dan
e. memberikan penghargaan kepada orang atau badan yang telah berjasa
dalam membantu penyelenggaraan pengamanan Produk Tembakau sebagai
Zat Adiktif bagi kesehatan.

Dalam melakukan pengawasan Produk Tembakau yang beredar, iklan, dan


promosi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Badan dapat mengenai
sanksi administratif berupa:
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis;
c. penarikan produk;
d. rekomendasi penghentian sementara kegiatan; dan/atau
e. rekomendasi penindakan kepada instansi terkait sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
F. Peraturan Daerah Tentang Kawasan Tanpa Rokok
1. Peraturan Gubernur provinsi daerah khusus Ibukota Jakarta Nomor 75
tahun 2005 Tentang Kawasan Dilarang Merokok
Pada tahun 2004, Pemprov DKI sudah mengeluarkan Surat Keputusan
Gubernur No 16/2004 tentang pengendalian rokok di tempat kerja di
lingkungan Pemprov DKI.SK Gubernur tersebut lalu dikembangkan menjadi
Peraturan Daerah No 75/2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok Perda ini
melarang merokok di tempat belajar mengajar,tempat bermain anak, tempat
ibadah, angkutan umum, tempat kerja dan tempat umum. Perda tersebut belum
dapat dilaksanakan secara efektif lalu dilakukan penyempurnaan peraturan
baru.
2. Peraturan Gubernur provinsi daerah khusus Ibukota Jakarta Nomor 50
tahun 2012 Tentang Pedoman, Pelaksanaan, Pembinaan, Pengawasan dan
Penegakan Hukum Kawasan Dilarang Merokok
Setelah dilaksanakannya Peraturan Daerah No 75/2005 tentang Kawasan
Dilarang Merokok dilakukan penyeempurnaan dan dikeluarkannya Peraturan
Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 50 Tahun 2012
yang menyebutkan bahwa kawasan atau tempat dilarang merokok yaitu tempat
umum, tempat belajar mengajar, tempat kerja, tempat pelayanan kesehatan,
angkutan umum, arena kegiatan anak-anak, dantempat ibadah.
3. Peraturan Daerah Bogor No. 12 tahun 2009 tentang Kawasan TanpaRokok
BerdasarkanPerda Bogor Nomor 12 tahun 2009 ada delapan kawasan
KTR, yaitu: tempat umum, perkantoran, sekolah,tempat ibadah, sarana
transportasi, sarana olahraga, tempat hiburan dan tempat kesehatan. Dengan
hukuman tahap pertama adalah sanksi administrasi, sebanyak tiga kali
berturut-turut kedapatan melakukan kesalahan yang sama akan dikenai saksi

tindak pidana ringan. Bagi masyarakat umum yang kedapatan melanggar


aturan Perda akan didenda Rp100.000, minimal Rp50.000. Sedangkan bagi
pejabat teknis yang membiarkan pegawainya merokok akan dikenai hukuman
penjara selama tiga hari.
4. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 3 Tahun 2013 Tentang Kawasan
Tanpa Rokok
Bahwa merokok menyebabkan terganggunya atau menurunnya kesehatan
perokok maupun masyarakat yang bukan perokok akibat ikut terpapar asap
rokok orang lain. Hal tersebut melahirkan Perda Nomor 3 tahun 2013 pasal 1
yang menyebutkan bahwa : Penyelenggaraan Kawasan Tanpa Rokok
merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi penetapan Kawasan Tanpa
Rokok, pemanfaatan Kawasan Tanpa Rokok, dan pengendalian pemanfaatan
Kawasan Tanpa Rokok. Adapun tujuan KTR disebutkan alam pasal 2 yaitu :
a. terciptanya ruang dan lingkungan yang bersih dan sehat
b. memberikan perlindungan kepada masyarakat dari dampak buruk rokok
baik langsung maupun tidak langsung;
c. menciptakan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat; dan
d. melarang /menghilangkan produksi, penjualan, iklan, promosi dan/atau
penggunaan rokok di Kawasan Tanpa Rokok.
Pada pasal 4 meliputi Ruang lingkup pengaturan Kawasan Tanpa Rokok
meliputi

hak dan

kewajiban,

penetapan,

pemanfaatan,

pengendalian

pemanfaatan Kawasan Tanpa Rokok, pembinaan dan pelaporan, dan peran


serta masyarakat.
5. Peraturan Daerah Kabupaten Kulon Progo Nomor 5 Tahun 2014 tentang
Kawasan Tanpa Rokok
Perda ini mempertimbangkan bahwa bahwa merokok merupakan aktivitas
yang berdampak negatif bagi kesehatan individu, keluarga, masyarakat dan
lingkungan, baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga perlu
upaya pengendalian dampak rokok terhadap kesehatan. Seperti halnya dalam
pertimbangan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5059). Pemerintah Daerah menetapkan kawasan tanpa rokok meliputi :
fasilitas pelayanan kesehatan

tempat proses belajar mengajar


tempat anak bermain
tempat ibadah
angkutan umum
tempat kerja
tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan

G. RUU Pertembakauan
Masuknya RUU tentang Pertembakauan dalam Prolegnas prioritas
menjadi perhatian besar bagi sebagian kalangan.Komnas Pengendalian
Tembakau merupakan pihak yang menolak keras keberadaan RUU tentang
Pertembakauan karena sebagian besar muatan materi draft RUU tersebut lebih
banyak membahas produksi tembakau, ketimbang pengendalian atas risiko
tembakau. Pertembakauan merupakan RUU yang berasal dari Insiatif DPR.
Masih menjadi polemik tersendiri karena masih banyak anggota DPR yang
belum sepakat terhadap RUU tentang Pertembakauan masuk dalam prioritas
Prolegnas tahun 2015.
POKOK PEMBAHASAN RUU PERTEMBAKAUAN
a.
Penjelasan Wakil Pengusul RUU tentang Pertembakauan usulan Fraksi
Partai Nasdem, sebagai berikut:
1. Konsep RUU tentang Pertembakauan ini fokus untuk mengatur
mengenai tanaman tembakau dan produk tembakau, nasib petani
tembakau dan pekerja, serta sumbangsih hasil produk tembakau bagi
pendapatan dan perekonomian, serta kewenangan Pemerintah dan
Pemerintah Daerah dalam pengembangan pertembakauan.
2. Draft RUU tentang Pertembakauan yang berasal dari Fraksi Nasdem
terdiri dari 13 Bab, dan 44 Pasal.
3. Landasan filosofis RUU ini adalah tembakau merupakan salah satu
kekayaan alam dan warisan budaya Indonesia yang memiliki peranan
strategis yang harus dikelola secara bijaksana untuk kesejahteraan dan
kemakmuran seluruh warga negara.
4. Landasan sosiologis RUU ini adalah pengelolaan tembakau perlu
memperhatikan seluruh aspek yang mencakup produksi, distribusi,
harga dan cukai, industri, dan pengendalian konsumsi produk
tembakau.

5. Sedangkan landasan yuridis RUU tentang Pertembakauan ini adalah


pengelolaan tembakau memerlukan kepastian hukum yang terpadu dan
komprehensif meliputi semua aspek yang melingkupinya.
6. Dalam draft ini, pertembakauan didefinisikan sebagai kegiatan
pengelolaan tembakau dan olahan hasil tembakau serta pengaturan
yang berkaitan dengan produksi, distribusi, industri, harga dan cukai,
serta pengendalian konsumsi tembakau dan produk hasil olahan
tembakau.
7. Pengelolaan Pertembakauan diselenggarakan berdasarkan 5 (lima) asas
yaitu asas kesejahteraan, kemanfaatan, keterpaduan, kelestarian, dan
keadilan.
8. Pengelolaan Pertembakauan bertujuan untuk meningkatkan produksi
tembakau, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengembangkan
industri pertembakauan nasional, meningkatkan pendapatan Negara,
dan melindungi petani dan pekerja pertembakauan.
b. Penjelasan Wakil Pengusul RUU tentang Pertembakauan usulan Anggota
dari Lintas Fraksi, sebagai berikut :
1. RUU Pertembakauan ini diajukan dengan pertimbangan industri
tembakau dapat dikategorikan sebagai industri strategis domestik,
dimana komoditas tembakau ini memiliki signifikansi di bidang
pertanian, keuangan dan perdagangan.
2. Tembakau merupakan salah satu komoditas penting bagi petani di
Indonesia yang memiliki konstribusi besar pada keuangan Negara
melalui cukai yang dihasilkan dari luasnya distribusi dan konsumsi
komoditas tembakau.
3. Besaran industri tembakau di Indonesia sebesar Rp. 248 T, dengan
kontribusi perpajakan tembakau sebesar Rp. 154 T atau sebesar 52,7%.
Kontribusi industry tembakau ini lebih besar dari industri real
estate/konstruksi yang hanya sebesar Rp. 142 T atau sebesar 15,7%.
4. Secara filosofis, setiap orang berhak untuk hidup dan mempertahankan
kehidupannya melalui perolehan pekerjaan dan penghidupan yang

layak bagi kemanusiaan yang salah satunya dicapai melalui


pengusahaan di sektor pertembakauan.
5. Secara sosiologis, sektor pertembakauan telah memberikan kontribusi
terhadap pertumbuhan perekonomian nasional, penyediaan lapangan
kerja, kesejahteraan masyarakat, menjaga kekayaan plasma nutfah
tembakau khas Indonesia, keberlangsungan kretek sebagai haritage
nasional dan menjaga harmoni kehidupan sosial.
6. Sektor pertembakauan telah menyumbangkan cukai ke kas negara
sebesar Rp. 113 triliun dengan melibatkan sekitar 5,98 juta pekerja di
sektor manufaktur dan distribusi, serta 1,7 juta pekerja di sektor
perkebunan.
7. Pengaturan di bidang pertembakauan masih bersifat sektoral dan
bermuatan pada pengaturan pemanfaatan hasil tembakau dan belum
mengatur sistem pertembakauan nasional yang lebih komprehensif.
c. Tanggapan Anggota terhadap penjelasan wakil Pengusul RUU tentang
Pertembakauan, sebagai berikut :
1. Uraian mengenai draft RUU tentang pertembakauan sudah cukup
lengkap dengan memuat data-data statistik pendukung.
2. Perlu mengkaji lebih dalam mengenai kelebihan dan kekurangan
adanya pengaturan mengenai pertembakauan, akan tetapi diharapkan
RUU ini dapat mengurangi penggunaan tembakau dengan tetap
melindungi para petani tembakau dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya.
3. Kiranya tembakau dari Indonesia dapat dimanfaatkan menjadi bahan
baku olahan selain produk rokok.
4. Terhadap kretek Indonesia yang dinilai sebagai warisan budaya,
kiranya dapat dilestarikan dan lebih dikembangkan.
5. Perlu ada pemisahan antara rokok tembakau dan rokok nikotin,
mengingat saat ini terdapat rokok sintesis tanpa tembakau, namun tetap
mengandung nikotin.

6. Salah satu hambatan berkembangnya bisnis rokok tembakau adalah


adanya industri rokok nikotin tanpa tembakau.

H. Kasus dan Analisis Kasus


RUU Pertembakauan vs RUU Pengendalian Tembakau
Rabu, 9 September 2015
Oleh Dewanto Samodro
Jakarta (ANTARA News) - Para aktivis pendukung pengendalian
tembakau sontak "berteriak" ketika Badan Legislasi (Baleg) DPR akan
mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Pertembakauan menjadi RUU
usul inisiatif DPR. Reaksi para pendukung pengendalian tembakau itu disuarakan
melalui berbagai media sosial dan kampanye, karena tidak banyak media arus
utama yang memberitakan penolakan mereka terhadap RUU Pertembakauan.
Para pendukung pengendalian tembakau menilai RUU tersebut merupakan
RUU yang aneh, yang tiba-tiba "nyelonong" masuk ke Baleg, dan merupakan
titipan industri rokok yang tidak peduli dengan isu kesehatan yang digaungkan
para pendukung pengendalian tembakau. Apalagi, sebelumnya sudah ada RUU
Pengendalian Dampak Produk Tembakau Terhadap Kesehatan (PDPTK) yang
masuk ke Baleg. RUU tersebut dinilai lebih mengakomodasi isu kesehatan dan
pengendalian tembakau. Namun, Baleg menangguhkan RUU tersebut pada 7 Juli
2011.
Sebenarnya, apa beda antara RUU Pertembakauan dengan RUU PDPTK?
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Ermalena mengatakan naskah RUU
Pertembakauan yang masuk ke dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas)
2015-2019, dan menjadi prioritas 2015 menempatkan kesehatan masyarakat
sebagai tujuan terakhir. "Kesehatan masyarakat dinyatakan sebagai tujuan
terakhir, sementara tujuan pertama adalah meningkatnya produksi tembakau,"
papar Ermalena. Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu mengatakan hal
itu berbeda dengan naskah RUU PDPT. Menurut Erma, RUU tersebut

menempatkan perlindungan kesehatan masyarakat dari dampak buruk zat adiktif


sebagai tujuan utama.
Selain itu, RUU Pertembakauan juga membedakan antara rokok dengan
kretek dengan menyatakan kretek bukanlah rokok. Sementara, RUU PDPTK
menganggap rokok dan kretek sama, yaitu merupakan bagian dari zat adiktif.
"RUU Pertembakauan juga akan menghilangkan peringatan kesehatan bergambar
yang ada di bungkus rokok, mengganti dengan peringatan tertulis. Sedangkan
RUU PDPTK mengatur peringatan kesehatan bergambar secara komprehensif,"
tuturnya.
RUU Pertembakauan juga membedakan antara iklan, promosi dan
"sponsorship" yang dilakukan perusahaan rokok dengan yayasan milik perusahaan
rokok. Segala bentuk publikasi yang dilakukan yayasan atau organisasi lain untuk
perusahaan, tidak akan dianggap sebagai iklan, promosi atau "sponsorship",
ucapnya. Sementara itu, RUU PDPTK melarang total segala bentuk iklan,
promosi dan "sponsorship" baik yang dilakukan perusahaan rokok maupun
yayasan atau organisasi milik perusahaan rokok.
Terkait cukai rokok, RUU Pertembakauan menyatakan cukai dimanfaatkan
sebesar-besarnya untuk membangun pertanian tembakau. "Padahal, cukai
sejatinya adalah pajak dosa sehingga pemanfaatan yang diusulkan malah
bertentangan dengan hakikat cukai," ujar Erma. Hal itu berbeda jauh dengan cukai
yang diusulkan RUU PDPTK. RUU tersebut mengusulkan cukai rokok minimal
sama dengan cukai alkohol, yaitu minimal 80 persen, dan pemanfaatannya untuk
kesehatan masyarakat akibat konsumsi produk tembakau.
Karena itu, Ermalena mengatakan Komisi IX yang membidangi kesehatan
akan mengawal pembahasan RUU Pertembakauan dan mengambil sikap pada saat
paripurna pengambilan keputusan RUU tersebut menjadi RUU usul inisiatif DPR
RI."Karena tugas negara adalah melindungi rakyat, termasuk dari bahaya asap
rokok. Hal itu tercantum dalam Pembukaan dan Batang Tubuh Undang-Undang
Dasar 1945," tuturnya.Erma mengatakan dalam Pembukaan Undang-Undang
Dasar 1945 terdapat pernyataan "pemerintah negara Indonesia yang melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia".Sedangkan Pasal
28H Ayat (1) berbunyi "Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin,

bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta
berhak memperoleh pelayanan kesehatan".
Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau
RUU Pertambakauan juga dinilai sebagai sebuah ironi bagi Indonesia.
Pasalnya, di saat 190 negara telah meratifikasi Konvensi Kerangka Kerja
Pengendalian Tembakau (FCTC) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), para wakil
rakyat Indonesia justru mengusulkan RUU yang berpihak pada industri
rokok.Merupakan sebuah ironi, ketika Indonesia sebagai salah satu anggota
WHO, ikut menandatangani FCTC, tetapi hingga saat ini belum meratifikasi
konvensi tersebut. Akibatnya, Indonesia saat ini dinilai menjadi pasar rokok
terbesar di dunia.
Para penentang pengendalian tembakau berpendapat bahwa FCTC akan
"membunuh" industri rokok dalam negeri, yang menyumbangkan cukai besar bagi
negara, sehingga akan "mematikan" petani tembakau dan buruh industri beserta
keluarganya.Padahal, Kementerian Kesehatan telah menyatakan bahwa ratifikasi
FCTC WHO bukanlah untuk mengakomodasi kepentingan asing melainkan untuk
melindungi kesehatan masyarakat."Bila tidak meratifikasi FCTC, justru Indonesia
yang menjadi target pasar industri rokok asing," imbuh Kepala Seksi Bimbingan
dan Evaluasi Subdit Pengendalian Penyakit Kronis dan Degeneratif Direktorat
Pengendalian

Penyakit

Menular

Kementerian

Kesehatan

Tiffany

Tiara

Pakasi.Tiara mengatakan FCTC bukan bertujuan untuk melarang petani menanam


tembakau

dan

industri

memproduksi

rokok.

FCTC

bertujuan

untuk

mengendalikan pasokan dan permintaan rokok demi melindungi kesehatan


masyarakat. "Hal itu sesuai dengan visi dan misi pemerintah yaitu Trisakti dan
Nawacita serta agenda pembangunan manusia," tuturnya.
Trisakti, sebagaimana dicetuskan Ir Sukarno, adalah mandiri di bidang
ekonomi, berdaulat di bidang politik dan berkepribadian dalam budaya.
Sedangkan agenda kelima Nawacita Presiden Joko Widodo adalah meningkatkan
kualitas hidup manusia Indonesia.Kemudian, agenda pembangunan manusia
adalah pengembangan masyarakat agar setiap warga masyarakat mempunyai

kebebasan untuk hidup lebih panjang, sehat dan kreatif untuk meraih tujuan
hidupnya sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dianutnya.
Tiara mengatakan pada jangka panjang rokok akan berdampak
menyebabkan penyakit-penyakit yang tidak menular. Menurut dia, selama ini
penyakit tidak menular disebabkan oleh rendahnya kekebalan tubuh seseorang
akibat gaya hidup yang tidak sehat."Dampak jangka panjang rokok adalah
penyakit kanker, saluran pernafasan, kardiovaskuler, gangguan reproduksi dan
penyakit-penyakit lainnya," tambahnya. Padahal, tingkat adiksi inikotin yang
terkandung dalam tembakau merupakan yang tertinggi dibandingkan zat adiktif
lainnya seperti heroin, kokain dan alkohol.Karena itu, para pendukung
pengendalian tembakau sejak pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
telah mendesak pemerintah Indonesia untuk meratifikasi FCTC.
Komisi IX desak ratifikasi FCTC
Wakil Ketua Komisi IX DPR Ermalena pun mengatakan komisinya telah
menyatakan sikap terkait pengendalian tembakau dan mendesak pemerintah untuk
meratifikasi FCTC WHO. "Seluruh fraksi bersepakat bahwa jaminan kesehatan
bagi masyarakat akibat produk tembakau atau rokok sangat penting untuk diatur
dalam rangka memberikan perlindungan kepada masyarakat," kata Ermalena.
Selain mendesak pemerintah meratifikasi FCTC, Komisi IX menyatakan
akan memperjuangkan adanya pengaturan secara khusus terkait dampak produk
tembakau terhadap kesehatan. Ermalena mengatakan petani tidak akan
terpengaruh dengan isu pengendalian tembakau sebagaimana selama ini
digaungkan

oleh

kelompok-kelompok

yang

kontrapengendalian

terhadap

komoditas itu."Saya dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat. Konstituen saya
banyak petani tembakau. Namun, di dapil saya penerimaan kawasan tanpa rokok
justru cukup baik," ucapnya.
Menurut Ermalena, awalnya memang ada penolakan dari sebagian
masyarakat di daerah pemilihannya. Namun, setelah dijelaskan mereka bisa
menerima bahwa pengendalian tembakau bukan berarti larangan menanam
tembakau. "Sama dengan isu pendidikan seks. Di awal dulu kan banyak
penolakan, terutama di kalangan pesantren. Setelah memahami bahwa pendidikan

seks dimaksudkan untuk menjaga kelamin masing-masing, sebagaimana ajaran


agama, akhirnya diterima," tuturnya
Ermalena mengatakan merokok merupakan budaya di Nusa Tenggara
Barat. Merokok tidak hanya dilakukan oleh laki-laki, tetapi juga perempuan. Saat
ditanya pun, mereka menyatakan tidak akan berhenti merokok.Karena itu,
pengendalian tembakau tidak akan membuat yang sudah kencanduan rokok untuk
berhenti merokok, tetapi justru melindungi supaya anak-anak tidak ikut-ikutan
atau terpapar asap rokok. "Justru pengendalian tembakau akan menguntungkan
semua pihak karena industri tetap memproduksi rokok, kesehatan masyarakat bisa
diraih dan penerimaan negara bertambah dari cukai rokok yang tinggi," tukasnya.
Editor: Aditia Maruli

ANALISIS
RUU pertembakauan menuai pro-kontra dari berbagai pihak, salah satunya
aktivis pendukung pengendalian tembakau. Perbedaan RUU pertembakauan dan
RUU PDPTK dapat dilihat dari berbagai aspek. RUU Pertembakauan
membedakan antara rokok dengan kretek dengan menyatakan kretek bukanlah
rokok. Sementara, RUU PDPTK menganggap rokok dan kretek sama, yaitu
merupakan bagian dari zat adiktif. RUU Pertembakauan juga akan menghilangkan
peringatan kesehatan bergambar yang ada di bungkus rokok, mengganti dengan
peringatan tertulis. Sedangkan RUU PDPTK mengatur peringatan kesehatan
bergambar secara komprehensif. RUU Pertembakauan juga membedakan antara
iklan, promosi dan "sponsorship" yang dilakukan perusahaan rokok dengan
yayasan milik perusahaan rokok. Segala bentuk publikasi yang dilakukan yayasan
atau organisasi lain untuk perusahaan, tidak akan dianggap sebagai iklan, promosi
atau sponsorship. Sementara itu, RUU PDPTK melarang total segala bentuk
iklan, promosi dan "sponsorship" baik yang dilakukan perusahaan rokok maupun
yayasan atau organisasi milik perusahaan rokok.
Dalam bidang kesehatan masyarakat, seminim apapun pengetahuan yang
kita miliki mengenai bahaya kesehatan rokok, kita tetap bisa mengetahuinya lewat
iklan maupun kalimat peringatan yang tertera pada bungkus rokok. Namun

pemberitahuan yang tanpa disertai tindakan preventif nyata dari pemerintah


berdampak pada kegagalan pemerintah dalam pemantapan status kesehatan
rakyatnya. Tidak adanya kesadaran (rehabilitasi) baik pelaku perokok itu sendiri
maupun yang tidak merokok akan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh rokok
tersebut malah akan menambah jumlah korban kematian. Tidak menjadi perokok
tapi berada di lingkungan para perokok mempunyai risiko gangguan kesehatan
yang sama besarnya. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kematian
para perokok pasif di seluruh dunia mencapai 600.000 orang per tahun.Ini angka
yang hampir sama dengan kematian perokok di dunia sebanyak 1 juta orang per
tahun.
Terkait cukai rokok, RUU Pertembakauan menyatakan cukai dimanfaatkan
sebesar-besarnya untuk membangun pertanian tembakau. Hal itu berbeda jauh
dengan cukai yang diusulkan RUU PDPTK. RUU tersebut mengusulkan cukai
rokok minimal sama dengan cukai alkohol, yaitu minimal 80 persen, dan
pemanfaatannya untuk kesehatan masyarakat akibat konsumsi produk tembakau.
Dilihat dari sudut pandang ekonomi dan industri, Indonesia masih sangat
menggantungkan penerimaan dari produk tembakau, terlebih lagi dilihat dari cara
menteri keuangan yang meningkatkan produksi batang rokok, bukannya
mengusahakan penerimaan dari produk lain. Direktur Penerimaan dan Peraturan
Kepabeanan dan Cukai Kementerian Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu,
Susiwijono Moegiarso, mengatakan penerimaan di sector cukai masih didominasi
produk tembakau, di antaranya rokok. Dari total cukai bulan Februari 2014 senilai
Rp12,9 triliun, 98 persen disumbang oleh hasil tembakau. Menurut Susi, faktor
utama yang mempengaruhi penerimaan cukai hasil tembakau adalah tingginya
volume produksi komoditas tersebut. Kenaikan APBN pada tahun 2014
meningkat cukup tinggi dari tahun 2013. Sementara untuk cukai rokok sendiri
tidak mengalami kenaikan, sehingga untuk mencapai target penerimaan
diperlukan peningkatan produksi rokok sebanyak 4,8 persen di tahun 2014 atau
setara dengan 5 miliar batang rokok dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
RUU pertembakauan ini nantinya hanya akan menguntungkan para industry
rokok, yaitu melindungi kepentingan industry rokok dan untuk terus
meningkatkan produksi rokok.

Dalam hal ini komisi XI DPR RI yang membidangi kesehatan perlu


mengawal RUU pertembakauan ini. Hal ini sesuai dengan Pembukaan UndangUndang Dasar 1945 terdapat pernyataan "pemerintah negara Indonesia yang
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia".
Tugas negara disini adalah melindungi rakyat, termasuk dari bahaya asap rokok.
Sedangkan Pasal 28H Ayat (1) berbunyi "Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir
dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan
sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan". Dalam rangka untuk
meningkatan derajat kesehatan, pemerintah juga mengatur tentang penggunaan
bahan yang mengandung zat adiktif yaitu tembakau dan produk yang
mengandung tembakau karena dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya
dan/atau

masyarakat

sekelilingnya. Pengaturan tersebut dituangkan

dalam

Pasal 113, Pasal 114, Pasal 115 dan Pasal 199 Undang-undang Nomor 36
Tahun 2009 tentang Kesehatan. Dengan demikian, RUU pertembakauan ini perlu
ditelaah lebih dalam lagi, khususnya dari aspek kesehatan masyarakat. Hal ini
agar RUU pertembakauan ini tidak hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu.
Harapannya, Pemerintahsegera meratifikasi Framework Convention on
Tobacco Control (FCTC) karena FCTC merupakan solusi yang paling tepat untuk
mengimbangi para Industri rokok dengan permasalahan-permasalahan kesehatan
yang muncul. Indonesia tidak butuh RUU pertembakauan tapi, Indonesia butuh
melakukan aksesi FTCT. FCTC lah yang akan memberikan perlindungan terhadap
kesehatan dan petani tembakau. Dengan FCTC produksi serta pemasaran rokok
memang akan sangat dibatasi, hanya rokok dengan kadar nikotin rendah yang bisa
beredar dengan bebas di pasaran. Namun hal ini tentunya diimbangi dengan
diadakannya penelitian terkait produk hasil tembakau dengan kualitas yang sesuai
harapan. Dalam salah satu poin FCTC ditegaskan bahwa negara harus
memfasilitasi dan mempermudah akses penelitian terkait tembakau. Disini
dampak baiknya. Para akademisi yang mumpuni di bidangnya, akan sangat
berguna untuk meneliti serta mengkaji tembakau. Sehingga ke depannya
diharapkan akan muncul suatu varietas tembakau yang tidak lagi memicu adiksi.
Atau bisa juga peneliti mengembangkan suatu produk olahan tembakau untuk
diproduksi dalam sector yang lain selain industri rokok, yang sekiranya

menimbulkan efek buruk seminimal mungkin. Akhirnya dengan begitu, petani


tembakau tidak perlu meninggalkan mata pencahariannya. Seperti yang kita
ketahui bahwa rokok itu racun, bahwa rokok itu menyebabkan begitu banyak
penyakit, bahwa sudah lima juta orang (yang sebagian besarnya ada di negara
negara miskin dan berkembang) setiap tahun mati karena penyakit yang berkaitan
dengan kebiasaan merokok, tapi kita tidak berbuat apa apa.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau
bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana Tabacum, Nicotiana
Rustica dan spesies lainnya atau sintetisnya yang mengandung nikotin dan tar
dengan atau tanpa bahan tambahan seperti ammonia butana, senyawa cadmium,
asam stearate, asam asetat, senyawa arsenat, karbonmonoksida, metana, dan
methanol.
Pengamanan rokok adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam
rangka mencegah dan/atau menangani dampak penggunaan rokok baik langsung
maupun tidak langsung terhadap kesehatan. Aturan tersebut berisi agar kandungan
tar/ nikotin pada rokok dibatasi, maksimum 20 mg untuk tar dan 1,5 mg untuk
nikotin, selain itu melarang total iklan rokok di media massa dan elektronik.
Namun peraturan pemerintah tersebut masih menjadi dilema, dimana cukai rokok
menghasilkan kontribusi yang besar bagi APBN, tapi di sisi lain penanggulangan
kesehatan

akibat

merokok

juga

membutuhkan

dana

dan

usaha

yang

besar. Akhirnya pemerintah memilih solusi untuk menaikkan harga cukai rokok
dan menerapkannya dengan seragam tanpa adanya penjenjangan.
Ternyata rokok dan tembakau mempunyai banyak dampak yang tidak
baik, bukan hanya bagi kesehatan tetapi juga social, ekonomi dan budaya pun ikut
mendapatkan

dampaknya.

Dari

segi

kesehatan

merokok

sama

dengan

memasukkan racun-racun tadi ke dalam rongga mulut dan tentunya paru-paru.

Merokok mengganggu kesehatan, kenyataan ini tidak dapat dipungkiri. Dari segi
social buruknya tingkat kesejahteraan petani tembakau dipicu oleh tata niaga yang
meminggirkan petani. Mereka kerap menghadapi berbagai bentuk kesewenangwenangan pihak industri.
Industri rokok dan pemerintah mencoba untuk mencari jalan tengah
dengan berdalih melindungi kepentingan nasional yang lebih besar atas
pertumbuhan dan perkembangan industri rokok dari mulai pengusaha, tenaga
kerja industri rokok sampai pada petani tembakau.
Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional
diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup
sehat bagi setiap penduduk, agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang
optimal. Untuk mewujudkan derajat kesehatan yangoptimal bagi masyarakat
tersebut, pemerintah mengatur tentang upaya kesehatanbagi seluruh masyarakat
khususnya mengatur tentang penggunaanbahan yang mengandung zat adiktifyaitu
tembakau dan produk yang mengandung tembakau karena dapat menimbulkan
kerugian bagi dirinya dan/atau masyarakat sekelilingnya.
Regulasi tembakau di Indonesia saat ini diatur oleh Peraturan Pemerintah
No. 109 Tahun 2012 (PP No. 109 / 2012) tentang Pengamanan Bahan yang
Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan dan UndangUndang Republik Indonesia No. 36/2009 tentang Kesehatan.
B. SARAN
-Perlu adanya penanggulangan dampak rokok dari segi kesehatan, social,
ekonomi dan budaya.
-Harus ada informasi dan edukasi yang jelas atas pengamanan bahan yang
mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi kesehatan
-Perlu adanya peraturan daerah ataupun pusat terkait penyelenggaraan
kawasan tanpa rokok agar lebih tegas dan jelas penyelenggaraannya

-Masyarakat terakit bersama pemerintah segera mencari solusi tentang RUU


yang dianggap hanya membahas produksi tembakau daripada pengendalian atas
resiko tembakau
-Pemerintah harus segera meratifikasi Framework Convention on Tobacco
Control (FCTC) karen FCTC dianggap solusi yang paling tepat dalam
penyelesaian masalah.