Anda di halaman 1dari 39

BISNIS MARITIM

ANALISA LAPORAN KEUANGAN PT.BERLIAN


LAJU TANKER

OLEH :

KRISTIAWAN SURYA D.
(4208 100 067)

JURUSAN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN


FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOVEMBER
SURABAYA
2011

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

Pendahuluan
Proses pemotongan logam merupakan suatu proses yang digunakan untuk
mengubah bentuk suatu produk (komponen mesin) dari logam dengan cara memotong.
Berdasarkan

pada

cara

pemotongannya,

proses

pemotongan

logam

dapat

dikelompokkan menjadi empat kelompok dasar, yaitu:


1. Proses
2. Proses
3. Proses
4. Proses

pemotongan dengan mesin las


pemotongan dengan mesin pres
pemotongan dengan mesin perkakas
pemotongan non-konvensional (Electrical Discharge Machining, Laser

Beam Machining, Chemical Milling, dsb.)


Dari keempat proses pemotongan tersebut, laporan kami hanya akan membahas
kelompok ke-3 yaitu proses pemotongan dengan menggunakan pahat potong yang
dipasang pada mesin perkakas. Dalam istilah teknik, proses ini sering disebut dengan
nama Proses Pemotongan Logam (Metal Cutting Process) atau Proses Pemesinan
(Machining Process).
Dalam perkembangan industri logam, mesin perkakas masih banyak digunakan.
Mesin perkakas merupakan mesin yg digunakan untuk mengerjakan suatu benda kerja
sesuai dengan bentuk yang diinginkan dan ukuran yang tepat sesuai perencanaan
dengan menggunakan cara perautan untuk pemenuhan syarat teknik. Proses perautan
ini dapat berupa pemotongan, perataan, maupun penghalusan.
Ada beberapa macam mesin perkakas yang terdapat di Laboratorium Pengerjaan
Logam milik Jurusan Teknik Sistem Perkapalan FTK-ITS Surabaya. Diantaranya adalah
mesin bubut, mesin frais, dan mesin sekrap.

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

Pengerjaan Logam dengan Mesin


Bubut
(Turning Machine)

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

MARINE
ENGINEERING

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

1.Tujuan
Adapun

tujuan

dari

pelaksanaan

praktikum

Pengerjaan

Logam

dengan

menggunakan mesin bubut ini, adalah sebagai berikut :


a) Untuk mempraktekkan teori-teori yang telah diperoleh melalui kuliah di kelas.
b) Mengenal dan dapat mengoperasikan mesin Bubut secara benar.
c) Mengenal macam-macam bentuk yang dapat dibuat dengan menggunakan
mesin Bubut.
d) Agar mahasiswa mengetahui prinsip kerja dari mesin bubut
Permasalahan-permasalahan yang dibahas dalam laporan ini adalah :
a)

Bagaimana konstruksi dasar mesin Bubut.

b)

Bentuk benda kerja dari mesin Bubut

c)

Bentuk pahatan yang digunakan pada mesin Bubut

d)

Bagaimana pengoperasian mesin Bubut

e)

Begaimana cara bekerja supaya keamanan terjamin

2.Dasar Teori
Proses bubut adalah proses pemesinan untuk menghasilkan bagian-bagian
mesin berbentuk silindris yang dikerjakan dengan menggunakan Mesin Bubut. Prinsip
dasarnya dapat didefinisikan sebagai proses pemesinan permukaan luar benda
silindris atau bubut rata :
Dengan benda kerja yang berputar
Dengan satu pahat bermata potong tunggal (with a single-point cutting tool)
Dengan gerakan pahat sejajar terhadap sumbu benda kerja pada jarak tertentu
sehingga akan membuang permukaan luar benda kerja (lihat Gambar 1.1 no. 1).
Proses bubut permukaan (surface turning, Gambar 1.1 no. 2) adalah proses
bubut yang identik dengan proses bubut rata, tetapi arah gerakan pemakanan tegak
lurus terhadap sumbu benda kerja. Proses bubut tirus (taper turning, Gambar 1.1 no.
3) sebenarnya identik dengan proses bubut rata di atas, hanya jalannya pahat
membentuk sudut tertentu terhadap sumbu benda kerja. Demikian juga proses bubut
kontur, dilakukan dengan cara memvariasi kedalaman potong, sehingga menghasilkan bentuk yang diinginkan. Walaupun proses bubut secara khusus menggunakan
Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

pahat bermata potong tunggal, tetapi proses bubut


bermata potong jamak tetap termasuk proses bubut
juga, karena pada dasarnya setiap pahat bekerja
sendiri-sendiri.

Selain

itu

proses

pengaturan

(setting) pahatnya tetap dilakukan satu persatu.


Gambar

skematis

Mesin

Bubut

dan

bagian-

bagiannya dijelaskan pada Gambar1.2.


Gambar 1.1. (1) Proses bubut rata, (2) bubut permukaan, dan
(3) bubut tirus

Gambar 1. 2. Gambar skematis Mesin Bubut dan


nama bagian-bagiannya.

Bagian-Bagian Mesin Bubut Biasa


a. Kepala tetap ( Head Stock )
Selalu berada di sebelah kiri operator dan
berisi roda-roda gigi pengubah kecepatan putar, tempat melekatnya spindle. Poros
utamanya berlubang, sehingga memungkinkan untuk mengerjakan batangan
logam yang panjang.
b. Kepala Lepas ( Tail Stock )
Bagian ini tidak berputar namun bisa digerakkan ke kanan dan ke kiri operator
melalui ways (meja) guna menyesuaikan dengan ukuran benda kerja. Bagian ini
juga dapat digerakkan silang kurang lebih 25 mm guna membuat benda kerja tirus
dengan sudut yang kecil.
c. Apron
Apron melekat pada bagian kereta, yang berisi lengan-lengan pengontrol (gerak
makan dan gerak ulir).
Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

d. Kereta (Carriage)
Bagian ini dapat digerakkan ke kiri atau ke kanan baik secara otomatis maupun
dengan cara manual.
e. Peluncur Silang (Cross Slide)
Bagian ini melekat pada kereta dan dapat digerakkan dalam arah sumbu-x
(melintang) yang tegak lurus dengan gerakan kereta. Digunakan untuk mengatur
kedalaman potong dan membubut muka.
f. Penumpu Dudukan Pahat (Compound Rest)
Bagian ini bertumpu pada peluncur silang dan dapat berputar 360.
g. Dudukan Pahat
Bagian ini bertumpu pada compound rest, yang digunakan sebagai tempat pahat
potong dipasang.
h. Alas (Bed)
Persyaratan dari alas adalah harus kaku sehingga dapat menahan lenturan ke
segala arah. Bahan bagian ini adalah besi tuang atau baja yang dilas dengan
berbagai bentuk penampang melintangnya.
I.

Rel (Way)
Rel dari mesin bubut berbentuk datar atau V, merupakan tempat jalannya atau
sebagai rel dari kereta dan kepala lepas.
Berikut gambar salah satu mesin bubut pada praktikum beserta gambar mesin
bubut dan bagiannya secara umum :

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

Gambar 1.3. Mesin Bubut

Keterangan Gambar :
1. Hendel untuk membalikkan arah perputaran paksi utama
2. Tuas untuk menggerakkan paksi utama
3. Poros potong bubut atau sekrup hantar
4. Tiga genggaman yang memusat sendiri
5. Hendel untuk kunci mur
6. Pemegangn pahat
7. Eretan atas
8. Senter dalam kepala lepas
9. Eretan melintang
10.

Alas mesin (landas eretan)

11.

Kepala lepas

12.

Roda tangan untuk memindahkan kepala lepas

13.

Tuas untuk mengatur jumlah perputaran poros catu awal

14.

Tuas untuk poros catu awal

15.

Roda tangan untuk memindahkan supor

16.

Lemari kunci

17.

Tuas untuk menjalankan catu awal lewat poros catu awal


Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

MARINE
ENGINEERING

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

18.

Poros catu awal

Dimensi Mesin Bubut


Dimensi mesin bubut dapat diklasifikasikan oleh 2-3 ukuran seperti pada
keterangan berikut :
1. Diameter benda kerja terbesar yang dapat dikerjakan, dengan pusat sumbu
spindle ke meja/ways ( 2 R1 ).
2. Diameter benda kerja terbesar, diukur dari pusat putar sumbu spindle terhadap
cross slide ( 2 R2 ).
3. Benda kerja terpanjang yang bisa dipegang ( antara pusat kepala lepas dan
ujung spindle ), ( L ).

Parameter yang Dapat Diatur pada Mesin Bubut


Tiga parameter utama pada setiap proses bubut adalah kecepatan putar
spindel (speed), gerak makan (feed) dan kedalaman potong (depth of cut). Faktor
yang lain seperti bahan benda kerja dan jenis pahat sebenarnya juga memiliki
pengaruh yang cukup besar, tetapi tiga parameter di atas adalah bagian yang bisa
diatur oleh operator langsung pada Mesin Bubut.
Kecepatan putar, n (speed), selalu dihubungkan dengan sumbu utama (spindel)
dan benda kerja. Kecepatan putar dinotasikan sebagai putaran per menit (rotations
per minute, rpm). Akan tetapi yang diutamakan

dalam proses bubut adalah

kecepatan potong (cutting speed atau v) atau kecepatan benda kerja dilalui oleh
pahat/keliling benda kerja (lihat Gambar 1.4). Secara sederhana kecepatan potong
dapat digambarkan sebagai keliling benda kerja dikalikan dengan kecepatan putar
atau :

Di mana :
v = kecepatan potong (m/menit)
d = diameter benda kerja (mm)
n = putaran benda kerja (putaran/menit)
Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

Gambar 1. 4. Panjang permukaan benda kerja yang dilalui pahat setiap putaran

Dengan demikian kecepatan potong ditentukan oleh diameter benda kerja.


Selain kecepatan potong ditentukan oleh diameter benda kerja faktor bahan benda
kerja dan bahan pahat sangat menentukan harga kecepatan potong. Pada
dasarnyapada waktu proses bubut kecepatan potong ditentukan berdasarkan bahan
benda kerja dan pahat.
Gerak makan, f (feed), adalah jarak yang ditempuh oleh pahat setiap benda
kerja berputar satu kali (Gambar 1.5.), sehingga satuan f adalah mm/putaran. Gerak
makan ditentukan berdasarkan kekuatan mesin, material benda kerja, material
pahat, bentuk pahat, dan terutama kehalusan permukaan yang diinginkan. Gerak
makan biasanya ditentukan dalam
hubungannya

dengan

kedalaman

potong a. Gerak makan tersebut


berharga sekitar 1/3 sampai 1/20 a,
atau sesuai dengan kehalusan yang
dikehendaki.

Gambar

1.5.

Gerak

makan (f) dan kedalaman potong (a).

Kedalaman potong

a (depth of cut), adalah tebal bagian benda kerja yang

dibuang dari benda kerja, atau jarak antara permukaan yang dipotong terhadap
permukaan yang belum terpotong (lihat Gambar 1.5.). Ketika

pahat memotong

sedalam a, maka diameter benda kerja akan berkurang 2a, karena bagian
permukaan benda kerja yang dipotong ada di dua sisi, akibat dari benda kerja yang
berputar.
Beberapa proses pemesinan selain proses bubut pada Gambar 1.1., pada Mesin
Bubut dapat juga dilakukan proses pemesinan yang lain, yaitu bubut dalam (internal
turning), proses pembuatan lubang dengan mata bor (drilling), proses memperbesar
Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

lubang

(boring),

pembuatan

(grooving/parting-off).

Proses

ulir

MARINE
ENGINEERING

(thread

tersebut

cutting),

dilakukan

di

dan
Mesin

pembuatan
Bubut

alur

dengan

bantuan/tambahan peralatan lain agar proses pemesinan bisa dilakukan (lihat


Gambar 1.6.).

Gambar 1 .6. Proses pemesinan yang dapat dilakukan pada Mesin Bubut : (a) pembubutan
pinggul (chamfering), (b) pembubutan alur (parting-off), (c) pembubutan ulir (threading), (d)
pembubutan lubang (boring), (e) pembuatan lubang (drilling), dan (f) pembuatan kartel (knurling).

Perencanaan dan Perhitungan Proses Bubut


Elemen dasar proses bubut dapat dihitung/dianalisa dengan menggunakan
rumus-rumus dan Gambar 1.7. berikut :
Keterangan :
Benda Kerja :
do = diameter mula (mm)
dm = diameter akhir (mm)
lt = panjang pemotongan (mm)
Pahat :
r = sudut potong utama/sudut masuk
Gambar 1.7. Gambar skematis proses bubut.

Mesin Bubut :
a = kedalaman potong (mm)
f = gerak makan (mm/putaran)
Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

10

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

n = putaran poros utama (putaran/menit)


Perencanaan proses bubut tidak hanya menghitung elemen dasar proses
bubut, tetapi juga meliputi penentuan/pemilihan material pahat berdasarkan
material benda kerja, pemilihan mesin, penentuan cara pencekaman, penentuan
langkah kerja/langkah penyayatan dari awal benda kerja sampai terbentuk benda
kerja jadi, penentuan cara pengukuran dan alat ukur yang digunakan.
Alat Perlengkapan Mesin Bubut
Sebelum memulai praktikum, terdapat beberapa alat perlengkapan yang harus
dipersiapkan

dan

mempengaruhi

jalannya

praktikum

mesin

bubut.

Alat-alat

perlengkapan tersebut yaitu :


1. Pahat Bubut
Pahat bubut digunakan untuk memotong /menyayat benda kerja, pahat dijepit
/dipasang pada penjepit pahat (tool post). Adapun macam-macam pahat adalah
seperti gambar di bawah ini:

Keterangan :
A. left hand turning tool
B. right hand turning tool
Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

11

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

C. right hand facing tool


D. left hand facing tool
E. round nose turnig tool
F. cutoff tool
G. cutoff tool
H. boring tool
I. inside-threading tool
2. Alat Pencekam Benda Kerja
Alat yang digunakan sebagai alat penjepit benda kerja ada beberapa macam
yakni:
a. Plat pembawa (drive plat)
b. Plat pembawa rata.
c. Pencekam tiga rahang (otomatis)
d. Pencekam empat rahang (disetel secara manual)
3. Senter
Alat ini untuk memegang titik sumbu dari kedua ujung dari benda kerja, di mana
kedua ujung benda kerja dibor runcing sedikit untuk menempatkan ujung senter
tersebut,di mana senter ini memungkinkankan pengerjaan membubut tirus
maupun lurus.
4. Pembawa
Alat ini dipasang bersama-sama plat pembawa dengan maksud untuk membawa
serta benda kerja supaya ikut berputar seirama sumbu mesin.
5. Penyangga (kacamata)
Alat ini digunakan dalam pengerjaan batang bulat yang panjang, untuk
menyangga benda kerja supaya tidak melengking ke bawah, sehingga tetap lurus
segaris sumbu. Macamnya ada dua yakni penyangga tetap dan penyangga jalan.
6. Kartel

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

12

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

Kartel adalah suatu alat yang gunanya untuk membuat alur-alur kecil pada benda
kerja dengan maksud supaya tidak licin jika dipegang dengan tangan seperti
pemegang-pemegang, kartel ini dipasang seperti pahat.
7. Jangka sorong
Jangka sorong sangat diperlukan untuk pengukuran benda kerja, pada awal
praktikum dilakukan pengukuran awal begitu pula setelah pengerjaan mesin bubut
benda juga di ukur lagi untuk mengetahui apakah telah sesuai dengan yang
diinginkan.
8. Kertas gosok/Amplas
Kertas gosok digunakan untuk menghaluskan permukaan benda kerja setelah
dibubut agar rata dan mulus.
9. Gergaji besi
Gergaji besi digunakan untuk memotong kelebihan panjang pada benda kerja,
dilakukan setelah pembubutan selesai.
10. Kapur tulis
Kapur tulis digunakan untuk menandai benda kerja yang dibubut khususnya
menadai letak pembubutan serta ukurannya.
11. Kikir
Kikir juga digunakan untuk menghaluskan permukaan yang kasar setelah
pembubutan khususnya setelah pemotongan dan ujung-ujung benda kerja.
12. Palu karet
Palu karet digunakan untuk mengencangkan benda kerja yang diletakkan pada
penyangga mesin bubut agar tidak mempengaruhi jalannya proses.
13. Kunci pada kepala lepas
Digunakan untuk mengeratkan kepala lepas agar melekat dengan benda kerja dan
tidak sampai bergerak.
14. Benda kerja

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

13

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

Merupakan bahan yang akan digunakan atau sebagai objek pengerjaan mesin
bubut.

3.Cara Kerja Mesin Bubut


Berikut ini merupakan langkah-langkah pengerjaan dengan menggunakan
mesin bubut yang dilakukan dalam praktikum mesin bubut :
a. Pada benda kerja dibuat sebuah lubang pada salah satu ujungnya, yang tepat
pada tengah-tengah diameter, dengan menggunakan bor. Pada saat membuatnya,
senter pada kepala lepas dilepas dan diganti dengan mata bor.
b. Setelah lubang pada benda kerja jadi, bor diganti lagi dengan senter pada kepala
lepas.
c. Benda kerja kemudian dipasang lagi diantara kepala tetap dan kepala lepas, dan
lubang pada benda kerja dihbungkan dengan senter. Berikut merupakan gambar
benda kerja awal yang akan di bubut :

20 mm

200 mm
d. Kepala lepas kemudian dikencangkan sampai benda kerja tidak bisa bergeser.
e. Dilakukan pemilihan jenis pahat serta pemasangannya.
f. Mesin dihidupkan dengan kecepatan 730 rpm dan benda kerja mulai berputar.
g. Kemudian melakukan pengerjaan (pembubutan) dengan mendekatkan mata pahat
pada benda kerja seperti pada gambar berikut ini :

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

14

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

h. Pada saat yang bersamaan dengan pengerjaan agar tidak menimbulkan panas
yang berlebihan pada benda keraja dan pahat maka dialirkan fluida dingin yang
mengandung oli.
i. Carriage digeser-geser sampai pada ukuran tertentu yang telah ditentukan
j. Pada praktikum ini dilakukan pembubutan sebuah benda kerja silindris menjadi
beberapa diameter pada ukuran tertentu, sehingga kegiatan a-h dilakukan
berulang-ulang secara bertahap sampai membentuk seperti dibawah ini:

Gambar 2 dimensi (dari atas)

k. Setelah proses pemotongan (pembubutan) benda kerja selesai dan sudah sesuai
dengan diameter yang diinginkan serta bentuk benda kerja sudah sesuai dengan
yang diinginkan, benda kerja kemudian dihaluskan dengan menggunakan kertas
gosok dimana benda kerja masih dalam keadaan berputar.
l. Bila penghalusan telah selesai, mesin dimatikan kemudian benda kerja dilepas dan
diadakan pemotongan dengan gergaji besi sesuai dengan panjang benda kerja

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

15

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

yang diminta, untuk memperhalus bekas potongan dilakukan penghalusan dengan


kikir.

4.Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Pembubutan


Tindakan Keamanan dalam Pengerjaan Pembubutan :
Pahat harus tegak lurus terhadap benda kerja dan setinggi centre.
Jangan merubah rpm pada saat mesin masih berjalan.
Benda kerja dipasang dengan baik agar tidak terlepas.
Pasang pelindung mata saat membubut benda kerja agar tidak terkena fluida
pendingin dan bekas potongan.
Saat memahat fluida pendingin harus terus mengalir dan mengenai di tempat
benda kerja yang dipahat.
Pergeseran pahat untuk mengurangi diameter digeser sesuai dengan perintah.

Kesalahan yang sering dilakukan dalam pengerjaan mesin bubut sebagai berikut :

Pengukuran jangka sorong yang bergeser pada saat pengukuran.


Kesalahan dalam memutar eretan
Pemasangan benda kerja yang kurang baik
Kurang hati-hati dalam praktikum dan tidak mematikan mesin pada saat
memeriksa hasil kerja.
Untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang sebagian besar karena faktor

manual maka dalam pengerjaan harus lebih seksama, berhati-hati, konsentrasi, tidak
tergesa-gesa, teliti dan menaati petunjuk yang diberikan.

5.Kesimpulan
Dari penjelasan diatas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Mesin bubut adalah mesin yang berfungsi untuk meraut logam/ benda kerja
dengan prinsip melakukan pengikisan dengan gerakan memutar pada benda kerja.
2. Dalam praktikum mesin bubut ini, dilakukan pembentukan sebuah logam silinder
dengan diameter tertentu menjadi sebuah logam silinder yang memiliki beberapa
diameter yang diinginkan sesuai dengan gambar kerja yang diberikan.
Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

16

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

3. Digunakan sebuah pahat untuk mengurangi diameter dengan panjang tertentu


serta sebuah pahat radius pada pertemuan 2 diameter yang telah dibubut
sebelumya.
4. Hasil pengerjaan dipengaruhi oleh dua factor yaitu manual (praktikan) serta mesin
bubut/peralatan yang digunakan.
5. Kualitas dari suatu pengerjaan benda kerja dengan pembubutan dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu :
Jenis dan bentuk pahat yang digunakan
Besar kecilnya pemakanan
Putaran dari spindle
Fluida pendingin
6. Sedangkan faktor manusia lebih ditekankan pada kesalahan-kesalahan dalam
pengerjaan seperti ketelitian, pengendalian mesin, kecekatan serta keseriusan
dalam pengerjaan.

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

17

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

REFERENSI
Hardjono, Diktat Perencanaan Mesin Perkakas, Teknik Mesin ITS: Surabaya.
Daryanto 2002, Mesin Perkakas Bengkel, Bina Adhiaksa: Jakarta.
Dedikbud 1977, Diktat Teknologi Mekanik.
ITS, Data workshop, Surabaya.

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

18

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

Pengerjaan Logam dengan Mesin Frais


(Milling Machine)

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

19

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

1.Tujuan
Adapun

tujuan

dari

pelaksanaan

praktikum

Pengerjaan

Logam

dengan

menggunakan mesin Frais ini, adalah sebagai berikut :


a) Untuk mempraktekkan teori-teori yang telah diperoleh melalui kuliah di kelas.
b) Mengenal dan dapat mengoperasikan mesin Frais secara benar.
c) Mengenal macam-macam bentuk yang dapat dibuat dengan menggunakan mesin
Frais.
Permasalahan-permasalahan yang dibahas dalam laporan ini adalah :
a)

Bagaimana konstruksi dasar mesin Frais.

b)

Bentuk benda kerja dari mesin Frais

c)

Bagaimana pengoperasian mesin Frais

d)

Begaimana cara bekerja supaya keamanan terjamin

2.Dasar Teori
Mesin frais merupakan mesin perkakas yang mempunyai multi-edge tool atau
sisi potong yang banyak. Benda kerja yang akan di milling/difrais dicekam kuat pada
meja kerja dan mata pahatnya terpasang kuat pada spindle. Antara benda kerja yang
bergerak linier dan mata potong yang bergerak rotasi, keduanya secara simultan,
dimana pemakanan (feed) benda kerja dipengaruhi oleh gerakan meja kerja.

Terdapat beberapa jenis mesin

frais yaitu:

1. Knee and Column, dibagi 2 :


a.

Vertical spindle
Tipe ini memiliki konstruksi

dimana posisi

prkakas potong terletak pada

poros spindle

posisi tegak lurus terhadap

meja,

spindle vertical.

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

20

posisi

MARINE
ENGINEERING

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

b. Horizontal spindle
Tipe ini memiliki konstruksi

dimana

perkakas

potong

(milling

cutter)

pada

poros

spindle

terpasang

dengan posisi horisonal/rata.


2. Bed type
3. Planer

type,

dapat

dibagi

menjadi dua

4.

a.

Vertical spindle

b.

Horizontal spindle
Tipe khusus ( special type

Dalam pengerjaan mesin frais terdapat beberapa operasi pemotongan yaitu :


1. Plain milling
Digunakan untuk membuat permukaan datar dengan penyayatan sisi
2. side milling
Memotong slot, groove dan poros spines dimana memotong pada kedua bagian
samping/keliling dan muka.
3. T-slot
Menghasilkan alur T, alur rata dan ekor burung
4. Form milling
Membuat roda gigi, bentuk cekung dan cembung yaitu menghasilkan bentukbentuk sudut bundar, lekukan dan gigi dari roda gigi.

Bagian-bagian mesin frais


Secara umum dan juga seperti yang terlihat pada gambar mesin frais diatas,
bagian-bagian mesin frais yaitu :
a. Column
Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

21

MARINE
ENGINEERING

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

Merupakan rangka mesin, di dalamnya terdapat mekanisme untuk memutar


spindle dan dapat memberi gerakan mekanis untuk memutar spindle dan dapat
memberi gerakan penekanan secara otomatis.
b. Over Arm
Merupakan bagian mesin untuk menunjang arbor agar tidak melintir.
c. Support
Merupakan salah satu pemegang ujung sport pada dudukannya.
d. Arbor
Merupakan tempat duduknya frais (cutting tool) dan dapat memberikan gerak
melingkar pada tool sebagai gerakan pemotongan (cutting motion).
e. Freis / Tool
Merupakan alat pemotong pada bagian mesin frais ( milling machine ).
f. Spindel
Tempat melekatnya pada ujung arbor dan dapat memberikan gerakan pemotongan.
g. Meja / Table
Tempat

duduknya

benda

kerja,

dapat

dipindahkan

sejajar

column

untuk

pemakanan.
h. Saddle
Tempat bergesernya meja yang dapat menjauhi dan mendekati column. Pada
mesin frais vertikal dapat melakukan gerakan memakan, pada frais horizontal
hanya bisa digerakkan untuk mengatur kedudukan benda kerja agar dapat
dikerjakan dengan baik setting up.
i. Knee
Merupakan tempat bergesernya mesin dan dapat digerakkan naik turun untuk
mendekatkan benda kerja ke tool dan juga untuk pemakanan dengan arah vertikal.

j. Elevating Screw
Merupakan ulir untuk menaikkan dan menurunkan knee.
Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

22

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

k. Base ( Alas Mesin )


Bagian mesin yang melekat pada pondasi.

Gambar. Mesin Frais

Alat Perlengkapan Mesin Frais


Alat-alat yang mendukung pengerjaan mesin frais adalah :
1. Pahat
Pahat mesin frais digunakan untuk menyayat atau memakan bagian yang dimilling
dengan gerak rotasi. Berikut beberapa jenis pahat mesin frais :

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

23

MARINE
ENGINEERING

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

2. Benda kerja
Merupakan bahan yang akan digunakan atau sebagai objek pengerjaan mesin
bubut.
3. Jangka sorong
Sebelum benda kerja dimilling, dilakukan proses pengukuran terlebih dahulu
sehingga dapat mengontrol proses milling.
4. Kapur tulis
Setelah dilakukan pengukuran, benda kerja ditandai dengan kapur tulis agar
menjaga keefektifan dari proses pengerjaan.
5. Kertas gosok
Kertas gosok digunakan untuk menghaluskan permukaan benda kerja setelah
dibubut agar rata dan mulus.
6.

Palu karet
Palu karet digunakan untuk mengencangkan benda kerja yang diletakkan pada
penyangga mesin bubut agar tidak mempengaruhi jalannya proses.

7. Gergaji besi
Gergaji besi digunakan untuk memotong kelebihan panjang pada benda kerja,
dilakukan setelah pembubutan selesai.

3.Cara Kerja Mesin Frais


Berikut ini merupakan langkah-langkah pengerjaan dengan menggunakan
mesin frais yang dilakukan dalam praktikum mesin frais :
1. Pisau frais (Pahat) dipasang pada tempatnya.
2. Benda kerja yang telah diukur ditempatkan pada mesin Frais dan dijepit dengan
kencang dengan cara dipukul dengan palu karet. Gambar benda kerja awal
seperti di bawah ini :

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

24

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

3. Senter dari benda kerja disesuaikan dengan posisi pisau frais agar bagian
material yang akan dihilangkan tepat ditengah-tengah.
4. Mesin dinyalakan (Kecepatan yang digunakan adalah 125 Rpm).
5. Arbor dinyalakan sehingga pisau frais berputar disertai dengan keluarnya fluida
pendingin.
6. Benda kerja dinaikkan agar pisau frais bisa memakan benda kerja, setelah itu
digeser ke kanan dan ke kiri agar benda kerja dimakan sesuai dengan lebar dari
lubang yang kita kehendaki.
7. Kenaikan benda kerja yang berfungsi untuk membuat kedalaman dilakukan
secara bertahap, agar pisau frais tidak patah (tiap kenaikan adalah 3 Strip dan
tiap strip sedalam 0,5 mm).
8. Setelah bentuk benda kerja sesuai dengan yang diharapkan, mesin dimatikan.
9. Benda kerja kemudian diturunkan dan digeser menjauh dari pisau frais dan
langsung dilepaskan.
10.

pada praktikum ini dilakukan dua kali proses milling pada satu benda kerja

yaitu bagian depan dan belakangnya, sehingga setelah melakukan proses pada
satu sisi maka dilakukan lagi pada sisi belakangnya hingga membentuk benda
kerja seperti dibawah ini :

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

25

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

20 mm

MARINE
ENGINEERING

10 mm

80 mm
100 mm
Gambar 2 dimensi

Gambar 3 dimensi

11.

Setelah itu dilakukan tindakan penghalusan benda kerja dengan kertas

gosok.

4.Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Proses Milling


Pemilihan spesifikasi mesin milling
Dalam pemilihan mesin frais harus disesuaikan dengan benda kerja yang akan kita
buat, factor pemilihan spesifikasi dapat berupa :
1. ukuran meja kerja
2. jumlah gerakan meja
3. kecepatan gerakan meja
4. daya motor
5. range kecepatan spindle

Tindakan Keamanan dalam Pengerjaan Frais


1. Jangan meletakkan tangan di atas meja kerja yang sedang bergerak.
Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

26

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

2. Jangan mengulurkan sesuatu di dekat pisau frais.


3. Jauhkan tangan dari pisau frais yang sedang berputar.
4. Matikan mesin pada saat akan mengatur pekerjaan, menyetel ataupun
melakukan pengukuran terhadap benda kerja.
5. Kenaikan benda kerja sesuaikan dengan petunjuk asisten.

Kesalahan-kesalahan dalam pengerjaan


Terdapat berbagai macam kesalahan dalam penggunaan mesin frais apalagi yang
dilakukan secara manual (oleh praktikan) seperti berikut :
a. Kesalahan memutar eretan. Lebih disebabkan karena terlalu cepat dan
kesalahan arah putar.
b.

Jangka sorong yang bergeser pada saat pengukuran hingga menyebabkan


validitas benda berkurang.

c. Pemasangan benda kerja yang kurang erat atau kurang tepat pada
tempatnya.
d. Kurang teliti terhadap pengerjaan baik dalam melihat skala putaran/eretan
maupun dalam melihat tanda batas pengukuran pada benda kerja.
e. Kurang sabar dalam menghaluskan bekas pahatan

Kesalahan-kesalahan tersebut lebih banyak disebabkan karena faktor


manual (praktikan) kurang sabar, kurang teliti maupun kurang konsentrasi. Halhal ini sangat mempengaruhi hasil akhir yang dicapai terhadap benda kerja.

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

27

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

5.Kesimpulan
Dari penjelasan diatas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Mesin frais merupakan mesin perkakas yang mempunyai multi-edge tool atau sisi
potong yang banyak. Benda kerja yang akan di milling/difrais dicekam kuat pada
meja kerja dan mata pahatnya terpasang kuat pada spindle.
2. Dalam mesin frais di praktikum ini digunakan dua pahat sesuai dengan
pengukuran yang telah ditetapkan
3. Hasil dari pengerjaan sangat dipengaruhi oleh factor manual yaitu praktikan juga
factor pemilihan mesin frais yang sesuai dengan kebutuhan.
4. Dalam penegerjaan hendaknya harus konsentrasi, sabar, hati-hati, teliti dan
telaten, dan sesuai dengan petunjuk pembimbing.
5. Penghalusan benda kerja harus dilakukan untuk finishing, dengan tujuan
mendapatkan hasil yang maksimal.

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

28

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

REFERENSI
Hardjono, Diktat Perencanaan Mesin Perkakas, Teknik Mesin ITS: Surabaya.
Daryanto 2002, Mesin Perkakas Bengkel, Bina Adhiaksa: Jakarta.
Dedikbud 1977, Diktat Teknologi Mekanik.
ITS, Data workshop, Surabaya.

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

29

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

Pengerjaan Logam dengan Mesin Sekrap


(Shaping Machine)

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

30

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

1.Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum logam dengan menggunakan mesin sekrap
antara lain :
1. Untuk mempraktekkan teori yang telah diberikan pada saat kuliah.
2. Agar praktikan mengenal dan dapat mengoperasikan mesin Sekrap dengan
benar.
3. Agar praktikan dapat mengetahui, bentuk bagaimana yang bisa dibuat dengan
menggunakan mesin sekrap.
Diharapkan nantinya para mahasiswa bisa menngetahui cara menggunakan
mesin sekrap dan memiliki sedikit ketrampilan tentang mesin sekrap.

2.Dasar Teori
Mesin sekrap adalah mesin yang digunakan untuk mengerjakan suatu benda
kerja sesuai dengan pola yang diinginkan dan ukuran yang tepat sesuai perencanaan
dengan menggunakan cara perataan. Mesin sekrap (Shaper machine) juga diartikan
sebagai mesin yang berfungsi untuk meraut logam/ benda kerja dengan prinsip
melakukan pengikisan dengan gerakan lurus bolak-balik. Pahat di mesin sekrap
melakukan gerak memotong (cutting motion), sedang benda kerja melakukan
gerakan pemakanan (feed motion ). Secara skematis gerakan tersebut bisa dilihat
seperti gambar berikut.

Ket : td panah = arah gerak


Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

31

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

Pada penggunaannya mesin skrap memiliki 2 cara pengerjaan yaitu :


1. Pengerjaannya dengan jangka pendek,

Pengerjaan

dengan

jangka

pendek

biasanya

menggunakan pahat sudut. Karena dalam proses


penyekrapan ini tidak membutuhkan kekuatan yang
sangat besar maka dari itu memakai Rpm besar.

2. Pengerjaannya dengan jangka panjang


Pada proses pengerjaan ini memakai
dan

memakai

rpm

kecil

Pahat

Rata

karena

membutuhkan kekuatan yang sangat

besar.

Dalam proses jangka panjang ini

hanya

menarik satu arah saja yaitu ke arah

depan,

disaat kearah belakang yaitu muatan

kosong.

Keuntungan dari pemakaian pahat ini adalah sebenarnya tidak ada bedanya
hanya saja hasil dari pahatan itu sendiri. Pahat rata menghasilkan permukaan yang
halus, dan sebaliknya pahat sudut menghasilkan permukaan yang lebih kasar
Bagian-bagian

Mesin

Sekrap

Gambar mesin sekrap yang

digunakan

dalam praktikum seperti di

samping ini :

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

32

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

Secara sederhanana (umumnya) gambar mesin sekrup serta bagian-bagiannya


seperti di bawah ini :
Secara jelas berikut perincian bagian-bagian mesin sekrup :
b

f
Gambar. Mesin
g Sekrap

Keterangan :
o Abjad yg digambar sesuai dengan penjelasan di bawah
o Tanda panah bolak-balik merupakan gerak bagian mesin
Penjelasan dari gambar diatas yaitu :
a. Column

: rangka

mesin

yang

didalamnya

terdapat

mekanisme

untuk

menggerakkan Ram dan menggerakkan feed secara otomatis.


b. Ram

: bergerak

maju

mundur

untuk

gerakan

memotong

(hanya

saat

maju saja ram memotong logam), dimana untuk jauh tidaknya gerakan
ini bisa diatur pada pengatur di mesin.
c. Tool head

tempat pahat (tool) yang dapat digerakkan naik turun

sebagai gerakan pemakan (feed motion).


d. Pahat (tool)

alat pemotong

e. Saddle : penghubung column dengan table, dimana saddle ini dapat dinaikkan
dan diturunkan untuk setting up.
f. Table

: tempat

menjepit

benda

kerja.

Dapat

bergerak

(otomatis maupun manual) untuk feed maupun setting up.


g. Support
h. Base

penunjang table.

: alas mesin.
Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

33

horizontal

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

Gambar. Mesin Sekrap


Keterangan:
1. hantaran dalam penopang untuk meja siku
2. hantaran untuk gerak vertikal meja siku
3. pelat ketam
4. pemegang pahat
5. hendel untuk menyetel pahat
6. pembagian skala
7. hantaran untuk ram
8. Hendel untuk mengikat ram
9. Ram
10.
Tuas untuk mengatur banyaknya langkah
11.
Motor listrik
12.
Poros untuk menetapkan panjang langkah
13.
Badan mesin
14.
Penopang untuk eja siku
15.
Kaki
16.
Meja tambat
17.
Paksi untuk memindahkan meja siku dalam arah vertikal
18.
Hantaran untuk memindahkan meja tambat dalam arah X
19.
Mekanisme palang untuk catu awal mekanis

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

34

MARINE
ENGINEERING

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

Alat Perlengkapan Mesin Sekrap.


Selain bagian-bagian mesin sekrup terdapat alat-alat perlengkapan yang
melengkapi pengerjaan logam menggunakan mesin sekrap bahkan ada alat-alat
yang tanpa digunakan maka mesin skrup tidak akan bekerja secara optimal. Alat-alat
perlengkapan tersebut secara umum yaitu :
1. Pahat bubut digunakan untuk memotong /menyayat benda kerja, pahat dijepit
/dipasang pada penjepit pahat.
2. Penyangga (kacamata)
Penyangga ini digunakan untuk menyangga benda kerja agar permukaan yang
disekrap tetap datar dan sesuai dengan yang diinginkan. Penyangga ini
diletakkan dibawah benda kerja dan ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan.
3. Jangka sorong
Jangka sorong sangat diperlukan untuk pengukuran benda kerja, pada awal
praktikum dilakukan pengukuran awal begitu pula setelah pengerjaan mesin
sekrap benda juga di ukur lagi untuk mengetahui apakah telah sesuai dengan
yang diinginkan.
4. Kapur tulis
Kapur tulis digunakan untuk menandai benda kerja yang disekrap khususnya
menadai letak penyekrapan serta ukurannya.
5. Kikir
Kikir juga digunakan untuk menghaluskan permukaan yang kasar setelah
penyekrapan khususnya setelah pemotongan dan ujung-ujung benda kerja.
6. Palu karet
Palu karet digunakan untuk mengencangkan benda kerja yang diletakkan pada
penyangga mesin sekrap agar tidak mempengaruhi jalannya proses.
7. Gergaji besi
Gergaji besi digunakan untuk memotong kelebihan panjang pada benda kerja,
dilakukan setelah pembubutan selesai.
Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

35

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

8. Benda kerja
Merupakan bahan yang akan digunakan atau sebagai objek pengerjaan mesin
sekrap.

3.Cara Kerja Mesin Sekrap


Berikut

merupakan

langkah-langkah

pengerjaan

praktikum

dengan

menggunakan mesin sekrup:


1. Hal pertama yang dilakukan adalah pemilihan pahat yang sesuai dengan
kebutuhan (dalam praktikum ini prtama dilakukan langkah pendek sehingga
menggunakan pahat sudut) dan pemasangan pahat pada tempatnya (tool head)
2. Pemasangan benda kerja pada table, dijepit dan diberi penyangga. pada awal
benda kerja memiliki bentuk seperti dibawah ini :

(gambar 2 dimensi)
sebelum dipasang benda kerja diukur terlebih dahulu dan kemudian ditandai
dengan kapur .
3. Mesin dinyalakan (sebelumnya diadakan pengaturan jarak langkah tool head
dan kecepatan mesin).
4. Table didekatkan dengan pahat sehingga terjadi pemotongan, disini gerak
pemakanan jangan dilakukan dulu karena kita mengatur dalamnya pemotongan
yang diinginkan, sesudah sesuai dalam pemotongan kita baru menggerakkan
table ke samping secara otomatis atau manual, sehingga terjadi gerakan
pemakanan. Pada gerakan pemotongan dan pemakanan jangan sampai melebihi
dari garis pola, kurang sedikit akan lebih baik. Lakukan kegiatan ini berulangulang sesuai dengan pengukuran sebelumnya sampai pada tanda kapur dan
mencapai bentuk yang diinginkan.
Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

36

MARINE
ENGINEERING

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

5. Untuk membuat cekungan di tengah benda kerja (sesuai dengan gambar kerja
yang diberikan) maka diperlukan jenis pahat yang berbeda . Karena itu setelah
penyekrapan mendatar diatas, mesin dimatikan dan pahat diganti.
6. Setelah pemasangan pahat, table didekatkan dengan pahat tepat didaerah yang
akan dibuat cekungan pada benda kerja. Kemudian mesin dinyalakan.
7. Pada pembuatan cekungan ini table tidak digerakkan kekanan/kekiri karena
hanya meyekrap pada satu daerah saja di benda kerja. Namun kedalamannya
tatap diatur sesuai kebutuhan dengan menggerakkan table keatas.
8. Setelah selesai mesin dimatikan dan benda kerja dilepaskan dari table kemudian
diukur kembali dengan jangka sorong.
9. Karena pada umumnya hasil penyekrapan kurang halus maka dilakukan
penghalusan dengan menggunakan kikir ataupun kertas gosok, sedangkan
kelebihan panjang dapat dipotong dengan gergaji besi.
10. Hasil benda kerja yang dilakukan dalam proses penyekrapan ini seperti gambar
berikut :
2 mm

10 mm

55 mm
(gambar 2 dimensi dari samping)

4.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Penyekrapan


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengerjaan penyekrapan sebagai
berikut :
1. Dibutuhkan ketelitian dalam pengukuran benda kerja sebelum disekrap karma
akan mempengaruhi hasil penyekrapan.
2. Dalam peletakan benda kerja di table harus seerat mungkin agar tidak bergeser
pada saat penyekrapan.
Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

37

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

3. Hati-hati dalam pengaturan keceptan mesin harus disesuaikan dengan benda


kerja, jenis pahat dan langkah yang digunakan, hal ini disebabkan pahat akan
patah apabila tidak adanya kesesuaian dalam hal tersebut.
4. Tidak diperkenankan berada tepat didepan mesin sekrap yang sedang bergerak
akan membahayakan praktikan.
5. Kehalusan benda kerja setelah penyekrapan dan penghalusan dipengaruhi oleh
factor manual karena penggunaan kikir yang salah akan merusak benda kerja.

5.Kesimpulan
Hal-hal yang dapat disimpulkan dari uraian di atas adalah :
1. Mesin sekrup merupakan mesin yang berfungsi untuk meraut logam/ benda kerja
dengan prinsip melakukan pengikisan dengan gerakan lurus.
2. Pada mesin sekrup terdapat 2 macam proses kerja yaitu oengerjaan dengan
langkah panjang dan pendek.
3. Hasil penyekrapan sangat dipengaruhi oleh faktor manual yaitu tergantung dari
kecakapan, ketelitian dan kesabaran praktikan.
4. Faktor kehalusan dari benda kerja hasil penyekrapan dipengaruhi oleh proses
penghalusan dengan kikir yang dilakukan praktikan.

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

38

Laporan Praktikum Pengerjaan Logam

MARINE
ENGINEERING

REFERENSI
Hardjono, Diktat Perencanaan Mesin Perkakas, Teknik Mesin ITS: Surabaya.
Daryanto 2002, Mesin Perkakas Bengkel, Bina Adhiaksa: Jakarta.
Dedikbud 1977, Diktat Teknologi Mekanik.
ITS, Data workshop, Surabaya.

Agustinus Cahyo W.

4209 100 004

39