Anda di halaman 1dari 12

166

Ibadah dalam Al-Quran_Idah Suaidah

IBADAH DALAM AL-QURAN


Idah Suaidah
Dosen pada Fakutas Tarbiyah dan Keguruan
UIN Alauddin Makassar
Abstrak: Ibadah merupakan suatu bentuk manifestasi dari
totalitas ketundukan dan kepatuhan kepada sesuatu yang
menguasai jiwa raga seseorang dengan suatu penguasaan
yang hakikatnya tidak terjangkau. Sesuatu itu adalah Rabb
pencipta dan pemelihara seluruh alam, yakni Allah swt.
Ibadah hendaknya dilakukan sesuai dengan syara dan
harus bersih dari sikap syirik dan riya. Ibadah yang
dilakukan
seorang
hamba
seyogianya
dapat
menghindarkarkan dirinya dari perbuatan keji dan mungkar
dan pada puncaknya dapat menjadikannya seabagai
manusia yang bertakwa.Tulisan ini akan mendeskripsikan
bagaimana cara beribadah dan bagaimana fungsi serta
tujuan ibadah dalam perspektif al-Quran?
Kata kunci: Ibadah, al-Quran

I. PENDAHULUAN
Al-Quran juga menegaskan bahwa tujuan utama diciptakan-nya
manusia di dunia ini, adalah untuk beribadah kepada Allah:

Terjemahnya:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka menyembah-Ku. (QS. al-riyat/51: 56)

Menyembah kepada Allah sebagaimana dalam ayat di atas


berarti mengabdikan diri kepada-Nya. Dengan demikian, tujuan
manusia diciptakan untuk beribadah adalah untuk mengabdikan
seluruh aktivitas kehidupannya dalam rangka beribada kepada Allah.
Dapatlah dipahami bahwa ibadah di sini, merupakan kebutuhan
primer bagi manusia.
Doktrin ibadah seharusnya tidak dipahami secara dangkal, di
mana sebagian orang menafsirkan bahwa ibadah tersebut hanya
sebatas ibadah mah}d}ah, atau hanya menyangkut aspek-aspek ritual
saja seperti shalat, zakat, puasa, dan haji. Padahal, ibadah memiliki

Volume I Nomor 1, Oktober 2012

167

arti luas, yakni segala sesuatu yang diridhai dan disukai Allah swt.
dalam bentuk perbuatan dan ucapan adalah termasuk ibadah.
Ibadah kepada Allah dalam arti luas itu, juga memiliki cakupan
yang luas. Ada yang secara langsung maupun tidak langsung. Secara
langsung adalah dengan cara beribadah hablun min Allah. Secara tidak
langsung adalah dengan cara membina hablun min al-na>s menurut
yang diperintahkan Allah.
Seorang muslim yang taat, tentulah ingin menjalankan ibadah
yang di-perintahkan Allah, tapi kenyataannya pula banyak ditemukan
sebagian orang muslim tidak menjalankan ibadah secara baik. Boleh
jadi, kelompok yang terakhir ini, belum memahami hakikat ibadah
sendiri, fungsi dan tujuannya. Dengan kenyataan seperti ini, maka
sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut tentang ibadah menurut
perspektif al-Quran.
Berdasarkan uraian di atas, masalah pokok yang menjadi
obyek pembahasan makalah ini adalah bagaimana konsep ibadah
menurut al-Quran.
Agar pembahasan tentang ibadah dapat diuraikan secara
komprehensif maka yang menjadi acuan permasalahan adalah;
1. Bagaimana cara beribadah menurut al-Quran ?
2. Bagaimana fungsi dan tujuan ibadah dalam perspektif al Quran?
A. Pengertian Ibadah
Secara etimologis, kata ibadah merupakan bentuk mas}dar dari
kata abada yang tersusun dari huruf ain, ba, dan dal. Kata tersebut
mempunyai dua makna pokok yang tampak bertentangan atau bertolak
belakang. Pertama, mengandung pengertian lin wa zull yakni ;
kelemahan dan kerendahan. Kedua mengandung pengertian syiddat
wa qilaz yakni; kekerasan dan kekasaran.1 Terkait dengan kedua
makna ini, Abd. Muin Salim menjelaskan bahwa, dari makna pertama
diperoleh kata abd yang bermakna mamlk (yang dimiliki) dan
mempunyai bentuk jamak a>bid dan iba>d. Bentuk pertama
menunjukkan makna budak-budak dan yang kedua untuk makna
hamba-hamba Tuhan. Dari makna terakhir inilah bersumber kata
abada, yabudu,iba>datan yang secara leksikal bermakna tunduk
merendahkan, dan menghinakan diri kepada dan di hadapan Allah.2
Lebih lanjut Abd. Muin Salim mengemukakan bahwa kata ibadah
1

Lihat Ab Husain Ahmad Ibn Faris ibn Zakariya, Mujam Maqa>yis alLugah, juz IV (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), h. 205.
2

H. Abd. Muin Salim, Fiqh Siyasah; Konsepsi Kekuasaan Politik dalam AlQuran (Cet. I; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1994), h. 149-150.

168

Ibadah dalam Al-Quran_Idah Suaidah

mengandung ke-mujmal-an dan kemudahan. Ayat-ayat al-Quran yang


menggunakan kata abd ( )dan yang serupa dan dekat maknanya
adalah seperti khada (tunduk merendahkan diri); khasyaa (khusyuk);
athaa (mentaati), dan zal (menghinakan diri).3 Sejalan dengan
pengertian tersebut, Hasbi Ash-Shiddieqy juga menjelaskan bahwa
ibadah dari segi bahasa adalah taat, menurut, mengikut, tunduk, dan
doa.4
Sedangkan secara terminologis, Hasbi Ash-Shiddieqy mengutip
beberapa pendapat, antara lain; Mengesakan Allah, mentazimkanNya dengan sepenuh-sepenuhnya tazim serta menghinakan diri kita
dan menundukkan jiwa kepada-Nya (menyembah Allah sendiri-Nya.
Sedangkan ulama akhlak mengartikan ibadah dengan mengerjakan
segala taat badaniyah dan menyelenggaran segala syariat (hukum).
Ulama fikih mengartikan ibadah dengan segala taat yang dikerjakan
untuk mencapai keridhaan Allah dan meng-harap pahala-Nya di
akhirat.5
Selanjutnya ulama tafsir, misalnya M. Quraish Shihab
menyatakan bahwa:
Ibadah adalah suatu bentuk ketundukan dan ketaatan yang
mencapai puncaknya sebagai dampak dari rasa pengagungan yang
bersemai dalam lubuk hati seseorang terhadap siapa yang
kepadanya ia tunduk. Rasa itu lahir akibat adanya keyakinan
dalam diri yang beribadah bahwa obyek yang kepadanya
ditujukan ibadah itu memiliki kekuasaan yang tidak dapat
terjangkau hakikatnya.6
Sedangkan. Abd. Muin Salim menyatakan bahwa:
Ibadah dalam bahasa agama merupakan sebuah konsep yang
berisi pengertian cinta yang sempurna, ketaatan dan khawatir.
Artinya, dalam ibadah terkandung rasa cinta yang sempurna
kepada Sang Pencipta disertai kepatuhan dan rasa khawatir hamba
akan adanya penolakan sang Pencipta terhadapnya.7
Pengertian-pengertian ibadah dalam ungkapan yang berbedabeda sebagaimana yang telah dikutip, pada dasarnya memiliki

H. Abd. Muin Salim, Jalan Lurus Menuju Hati Sejahtera; Tafsir Surah alFatihah (Cet. I; Jakarta: Yayasan Kalimah, 1999), h. 74.
4

TM. Hasbi Ash-Shiddieqy, Kuliah Ibadah; Ibadah Ditinjau dari Segi


Hukum dan Hikmah (Cet. VII; Jakarta: Bulan Bintang, 1991), h. 1
5

Ibid,h. 2-3.

M. Quraish Shihab, Fatwa-fatwa Seputar Ibadah Mahdah (Cet. I;


Bandung: Mizan, 1999), h. Xxi.
7

Abd. Muin Salim, Jalan Lurus, op. cit., h. 73-74

Volume I Nomor 1, Oktober 2012

169

kesamaan esensial, yakni masing-masing bermuara pada pengabdian


seorang hamba kepada Allah swt., dengan cara mengagungkan-Nya,
taat kepada-Nya, tunduk kepada-Nya, dan cinta yang sempurna
kepada-Nya. Dengan merujuk pada pengertian-pengertian ini, maka
tampak bahwa ada beberapa terma yang memiliki makna sama dengan
ibadah itu sendiri yang ditemukan di dalam Al-Quran, yakni antara
lain ;
1. Al-t}a>ah () , dalam al-Quran ditemukan sebanyak 128 kali
dalam berbagai bentuk perubahan katanya.8 Pada dasarnya, kata alt}a>ah ini mengandung arti senantiasa, menurut, tunduk dan
patuh kepada Allah dan rasul-Nya.
2. Khad}aa () , dalam al-Quran ditemukan sebanyak 2 kali,
yakni Q.S. al-Syuara/26: 4 dan Q.S. al-Ahzab/33: 32. Pada
dasarnya, kata khad}aa ini mengandung arti merendahkan dan
menundukkan.
3. al-Z|ulli/al-Z|illah ( /) , dalam al-Quran ditemukan
sebanyak 24 kali.9 Kata ini dapat berarti kerendahan atau
kehinaan.
Semua terma di atas dapat dikonotasikan kepada perilakuperilaku hamba Allah swt. yang beriman dan yang bertakwa, karena
mereka dalam hidupnya senantiasa tunduk dan patuh kepada semua
perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Berdasar pada
rumusan ini, maka ibadah menurut Muhammmad Abduh dalam tafsir
al-Manar adalah:
suatu keataatan hamba yang mencapai puncaknya dari kesadaran
hati seseorang sebagai akibat pengagungan kepada Allah.
Keagungan-Nya oleh karena tidak diketahui sampai dimana
batas-batas kekuasan-Nya, dan hakikat keberadan-Nya.
Di sisi lain, dipahami bahwa ibadah adalah perbuatan manusia
yang menunjukkan ketaatan kepada aturan atau perintah dan
pengakuan kerendahan dirinya di hadapan yang memberi perintah.10
Adapun yang memberi perintah untuk beribadah, adalah tiada lain
kecuali Allah sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. al-Baqarah
(2): 21,

Terjemahnya:

Muhammad Fuad Abd. al-Bqy, al-Mujam al-Mufahras li Alfzh alQurn al-Karm (Bairt: Dr al-Fikr, 1992), h. 429-431
9

Ibid. h. 350.

10

H. Abd. Muin Salim, Fiqh Siyasah, lo cit.

170

Ibadah dalam Al-Quran_Idah Suaidah

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu


dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.11
Dari ayat di atas, dapat dipahami bahwa sasaran ibadah
hanyalah kepada Allah swt. Dengan kata lain, bahwa manusia
beribadah adalah untuk mengabdikan dirinya kepada Allah sebagai
Tuhan yang telah menciptakan mereka.
B. Cara Beribadah
Dari segi turunnya ayat-ayat al-Quran, istilah abdun yang
merupakan akar kata ibadah, pertama kali ditemukan dalam Q.S.
alAlaq, selanjutnya dalam Q.S. al-Fa>tihah. Pengungkapan ibadah
dalam Q.S. al-Alaq, belum begitu jelas tentang cara beribadah,
sementara dalam Q.S. al-Fa>tihah dikemukakan secara jelas obyek
yang disembah yakni Allah.12 Penyebutan obyek, yakni Allah swt.
sebagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah melahirkan berbagai
interpretasi dalam berbagai ayat di dalam al-Quran tentang
bagaimana cara beribadah kepadaNya.
Kata ibadah dalam al-Quran disebut sebanyak 277 kali. 154
dalam bentuk ism dan 13 kali dalam bentuk fiil, 5 kali fiil md}i>,
81 fiil mud}ri dan 37 kali fiil amr.13 Dari sejumlah ayat-ayat alQuran ini, ditemukan di antaranya yang berbicara tentang cara
beribadah.
Cara beribadah yang harus terpenuhi menurut l-Quran adalah
dengan cara ikhlas. Bagaimana pun bentuk ibadah dan ragamnya
itu, harus didasari oleh keikhlasan. Ayat yang sangat terkait dengan
masalah ini adalah Q.S. al-Bayyinah (98): 5.

Terjemahnya:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan)
agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.14
11

Departemen Agama RI, al-Quran dan Terjemahnya (Bandung: Gema


Risalah Press, 2010), h. 8.
12

H. Abd. Muin Salim, Konsepsi, op. cit., h. 150.

13

Muhammad Fuad Abd. al-Bqy, al-Mujam al-Mufahras li Alfzh alQurn al-Karm (Bairt: Dr al-Fikr, 1992), h. 561-563.
14

Departemen Agama RI, op. cit., h. 1275-1276.

Volume I Nomor 1, Oktober 2012

171

Ayat serupa ditemukan pula dalam Q.S. al-Taubah (9): 31,


namun dalam ayat tersebut tidak ditemukan keterangan tentang
perintah shalat dan zakat sebagaimana dalam ayat di atas. Ayat lain
yang juga masih terkait dengan firman Allah tersebut adalah QS. alZumar (39): 2. Dalam ayat-ayat ini, disebutkan bahwa dalam
beribadah kepada-Nya harus dengan cara meng-ikhlaskan diri dalam
arti ibadah tersebut dilaksanakan dengan penuh kecintaan kepada-Nya
dan menghindarkan diri dari sikap riya dalam beribadah.
Muhammad Ali al-Shabni memberi keterangan mengenai
kata mukhlis}i>n dalam Q.S. al-Bayyinah (98): 5 di atas, bahwa ikhlas
adalah inti atau isi ibadah dan hanya dengan keikhlasan, amal ibadah
akan diterima oleh Allah swt, karena ikhlas dimaksudkan sebagai
pengabdian hanya semata kepada Allah.15 Di sisi lain, Abd. Muin
Salim juga memberi keterangan bahwa ikhlas dalam menjalankan
ibadah adalah konsisten dengan ajaran agama.16 Dengan demikian,
maka ibadah seorang muslim harus berdasar pada ajaran agama Islam.
Hal ini terkait dengan firman Allah dalam Q.S. al-Kahfi (18): 110.


...

Terjemahnya:
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada
Tuhannya.17

Dari ayat tersebut, dipahami bahwa amal-amal yang


dilaksanakan harus bersih dari syirik, karena jika bercampur dengan
syirik maka ia menjadi sia-sia. Jadi, ikhlas di sini merupakan bentuk
pengukuhan dari konsep ke-Esaan Allah sebagaimana yang tercermin
dalam syahadat Tiada Tuhan selain Allah. Ungkapan inti dalam
syahadat ini membuahkan pengingkaran terhadap syirik dalam jiwa
seorang muslim sebagai syarat diterimanya ibadah.
Muhammad Abduh dalam menguraikan tentang cara
beribadah, juga menekankan masalah keikhalasan, yakni khusyu dan
terhindar dari sifat dan sikap riya.18 Hal yang sama juga ditegaskan
Ibn Kas|ir dalam menafsirkan klausa
dalam Q.S. al-Fa>tihah
15

Muhammad Ali al-Shabniy, Shafwa al-tafsr, jilid III (Bairut: Dr alQur al-Karm, 1981), h. 589.
16

Abd. Muin Salim, Fiqh Siyasah, op. cit., h. 154.

17

Departemen Agama RI, op. cit., h. 584.

18

Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Qurn al-Hakim al-Musamma


Tafsir al-Manr, juz I (Mesir: Maktabah al-Qahirat, 1988), h. 17.

172

Ibadah dalam Al-Quran_Idah Suaidah

bahwa beribadah meliputi gerakan jasmaniah seperti menundukkan


badan dalam sembahyang, yakni rukuk, sujud, duduk, tetapi yang
terpenting juga adalah gerakan batiniyah, yakni menanamkan adanya
kesadaran dalam jiwa tentang keagungan Allah, dan keikhalasan hati
secara mendalam dari seorang hamba yang menjalankan ibadah
kepada-Nya.19
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa terdapat beberapa
unsur yang menjadi skala perioritas dalam beribadah yakni ketaataan,
keasadaran hati berupaa keikhlasan, dan keyakinan untuk mencapai
hamba Allah yang taat. Unsur-unsur ini menunjukkan adanya
hubungan dinamis antara hamba dengan Allah (hablun min Allah)
secara dinamis, yang nantinya juga diimplementasikan dalam
kehidupan sosial (hablun min al-ns).
C. Fungsi dan Tujuan Ibadah
Ibadah secara fungsional adalah menumbuhkembangkan nilainilai ketauhidan dan mengokohkannya dalam jiwa, atau dalam
beberapa kitab tafsir dibahasakan bahwa seseorang hamba yang
dengan jiwa raganya beribadah laksana kebun, dan semakin banyak
mendapat siraman melalui ibadah maka yang bersangkutan semakin
subur yang selanjutnya nilai-nilai ketauhidan akan tumbuh dan
berkembang semakin baik. Sebaliknya, semakin jarang orang
melakukan ibadah maka semakin memberikan kesempatan bagi
dirinya terjauh dari nilai-nilai ketauhidan.20
Masalah tauhid dalam Islam adalah rukun iman yang pertama,
yakni meng-Esa-kan Allah dari segi zat dan sifat-Nya, dan oleh karena
itu maka ibadah sebagai cara mentauhidkan Allah sangat urgen
kedudukannya. Begitu urgennya ibadah ini, maka dengan sendirinya
akan diketahui bahwa ibadah bagi setiap manusia memiliki fungsi dan
tujuan.
Fungsi ibadah, terkait dengan fungsi dan kedudukan manusia
sebagai abdullh (hamba Allah). Ada empat macam hamba Allah,
sebagai berikut; (a) hamba karena hukum, yakni budak-budak; (b)
hamba karena penciptaan, yakni manusia dan seluruh makhluk ciptaan
Tuhan; (c) hamba karena pengabdian kepada Allah, yakni orang-orang
beriman yang menunaikan hukum Tuhan dengan ikhlas; dan (d)

19

Abu al-Fida Muhammad Ismail bin Kar, Tafsr al-Qurn al-Karim, juz
I (Semarang: Toha Putra, t.th), h. 6.
20

Ibid., h. 6-7. Lihat juga Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi, juz I
(Mesir: Mustafa al-Babi al-Halab wa Awladuh, 1973), h. 5-6.

Volume I Nomor 1, Oktober 2012

173

hamba karena memburu dunia dan kesenangannya.21 Dari keempat


tipe hamba Allah ini, diketahui bahwa ternyata diketahui bahwa ada
diantaranya yang tidak menyembah kepada Allah.
Perintah beribadah dalam al-Quran dikaitkan pula dengan
sifat rubbiyah (pemeliharaan) Allah sebagaimana dalam Q.S. alBaqarah (2): 21 yang telah dikutip dalam bahasan terdahulu. Di
samping itu, perintah beribadah dikaitkan juga dengan perintah
berserah diri setelah upaya yang maksimal (tawakkal), sebagaimana
dalam Q.S. Hd (11): 123, yakni; ...
( beribadahlah

dan berserah dirilah kepada-Nya). Juga dalam al-Quran ditemukan


banyak ayat yang menegaskan bahwa keagungan dan kekuatan hanya
milik Allah.22 Ayat-ayat tersebut antara lain Q.S. al-Baqarah (2): 165,
dan bahwa tuhan-tuhan yang disembah manusia, dan diduga dapat
membantu, tidak lain adalah hamba-hamba Allah swt. juga,
sebagaimana halnya para penyembah mereka yang dijelaskan dalam
Q.S. al-Arf (7): 194.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa sekiranya fungsi
ibadah yang telah dikemukakan tidak dapat dicapai oleh manusia,
berarti nilai-nilai ibadahnya tidak membekas di jiwanya dan ibadah
yang dilakukannya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam hal
ini, al-Maragi memberikan contoh dalam melakukan shalat, Allah
memerintahkan hamba-Nya agar melakukan shalat secara lengkap dan
sempurna, sebagai bukti lengkap dan sempurnanya adalah tujuan akhir
shalat yang berfungsi untuk mencegah kemungkaran dapat terwujud
bagi seorang hamba.23 Allah swt.berfirman dalam Q.S. al-Ankabut
(29): 45:

Terjemahnya:
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan)
keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat)
adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain).
Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.24
Jika ternyata shalat tidak mampu mencegah kemungkaran,
atau jika seorang hamba tidak dapat mewujudkan perilaku baik dalam
kehidupannya, maka nilai ibadahnya menurut syariat akan sia-sia,

21

Abd. Muin Salim, Fiqh Siyasah, op. cit., h. 152.

22

M. Quraish Shihab, op. cit., h. xxv-xxvi.

23

Ahmad Mustafa al-Maragi, op. cit., h. 45.

24

Departemen Agama RI, op. cit., h. 793.

174

Ibadah dalam Al-Quran_Idah Suaidah

bahkan akan akan menuai kecelakaan. Hal ini sesuai dengan firmanNya dalam Q.S. al-Mn (107): 4-5

Terjemahnya:
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu)
orang-orang yang lalai dari shalatnya.25
Berkenaan dengan ayat tersebut, lebih lanjut al-Maragi
berkomentar bahwa sekalipun seorang hamba dijuluki sebagai ahli
ibadah atau ahli shalat lantaran mereka mengerjakan ibadah atau
shalat tersebut, tetapi mereka telah kehilangan hakekat shalat
sebenarnya. Mereka dinyatakan Allah sebagai orang yang lalai dan
lupa terhadap hakekat ibadahnya itu.26 Jadi secara jelas bahwa ibadah
shalat yang dimaksudkan di sini adalah bagaimana seorang hamba
mengarahkan dirinya pada perilaku yang marf (positif) dalam
kehidupannya.
Setelah menjelaskan ayat-ayat yang terkait dengan fungsi
ibadah, maka pada gilirannya akan diketahui tujuan ibadah itu sendiri,
yakni taqwa. Pada bagian akhir dalam Q.S. al-Baqarah/2: 21 yang
telah dikutip, tampak jelas ada kata taqwa, yakni .
Dengan demikian, tujuan akhir dari ibadah itu sendiri adalah agar
manusia bertaqwa kepada-Nya.
Terma tattaqn secara gramatikal berasal dari kata . Afif
Abd. al-Fattah Tabbrah menjelaskan bahwa makna asal dari taqwa
adalah takut dan pemeliharaan diri.27 Dari sini, dipahami bahwa
inti dari pada makna taqwa adalah menjauhkan (memelihara) diri dari
siksaan Allah dengan jalan mengikuti perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya karena ada perasaan takut dari siksaan-Nya tersebut.
Dengan melaksanakan ibadah dengan baik dan tekun, maka
seorang hamba akan mencapai derajat taqwa. Allah swt. sebagai
Tuhan satu-satunya yang Maha Pemelihara dan menciptakan manusia,
sangatlah wajar jika manusia tersebut menyembah dan mennaati
aturan-aturan-Nya. Dengan demikian, terma laallakum tatyttaqn dan
ayat-ayat lain yang memerintahkan untuk bertaqwa, misalnya
( Q.S. al-Nis (4): 1) adalah terkait dengan perintah
beribadah kepada-Nya dalam arti luas.

25

Ibid., h. 1289.

26

Ahmad Mustafa al-Maragi, op. cit., h. 46

27

Uraian lebih lanjut, lihat Aff Abd. al-Fatth Tabbrah, Rh al-dn alislmiy (Bairut: Dr al-Ilm al-Malyn, 1969), h. 205.

Volume I Nomor 1, Oktober 2012

175

Dalam Q.S. al-Baqarah (2): 2-4, ditemukan empat kriteria


orang-orang yang bertaqwa, yakni: beriman kepada yang ghaib;
mendirikan shalat; menafkahkan sebagian rezki yang diberikan-Nya;
beriman kepada al-Quran dan kepada kitab-kitab lainnya yang telah
diturunkan Allah; serta beriman kepada hari akhirat. Dari ayat ini
nampak bahwa taqwa dalam al-Quran sering dihubungkan dengan
iman. Itulah sebabanya, serangkaian ayat al-Quran menyatakan; y
Ayyuhallazna man yang pada penghujung ayat ditutup dengan kata
taqwa.28
Setelah menjalankan ibadah dan posisi taqwa telah diraih,
Allah swt. dalam berbagai ayat-Nya memberi predikat yang
bersangkutan sebagai muttaqi (jamaknya muttaqn), dan baginya
berhak mendapatkan kecintaan dari Allah, serta di akhirat nanti akan
diberi tempat yang paling baik, yakni surga seperti yang terungkap
dalam beberapa ayat misalnya; Q.S. Ali Imrn (3): 76, al-Zriyat (51):
15 dan al-Dukhn (44): 51-52.
Ciri-ciri orang yang betaqwa menunjukkan suatu keperibadian
yang benar-benar utuh dan integral, sebagai yang dinyatakan dalam
QS.al-Hujurat (49); 13, yakni

( Sesungguhnya

orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling bertakwa di antara kamu). Penggunaan kata atqkum
dalam ayat ini sekaligus menunjukkan bahwa taqwa mempunyai
tingkatan-tingkatan, dan perbedaan tingkatan tersebut sangat
ditentukan oleh kualitas ibadah seorang hamba. Hal ini
mengindikasikan bahwa semakin berkualitas ibadah seorang hamba,
maka semakin tinggi derajat seorang hamba tersebut di sisi-Nya.
II. PENUTUP
Berdasar pada uraian yang telah dijelaskan, maka dapat
dirumuskan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Cara beribadah bermacam-macam, namun yang terpenting adalah
melaksanakan ibadah tersebut kepada Allah semata sesuai dengan
ketentuan syara, dan mengutamakan keikhlasan tanpa dicampuri
sedikitpun oleh syirik dan sikap riya. Keikhlasan dalam beribadah
secara konsisten sesuai ajaran agama menjadikan ibadah yang
dilakukan itu diterima di sisi-Nya.
2. Ibadah yang dibebankan kepada setiap hamba memiliki fungsi dan
tujuan yang sangat signifikan. Dalam hal ini, fungsi ibadah adalah
ubudiyah (mengabdikan diri) karena esensi ibadah tersebut terkait

28

QS. al-Baqarah (2); 183; QS. Ali Imrn (3): 102, 103, 200, QS. al-Maidah
(5): 8, 11, dan seterusnya.

176

Ibadah dalam Al-Quran_Idah Suaidah

dengan kedudukan manusia sebagai abdullh (hamba Allah) yang


harus mengabdi kepada-Nya. Manusia (muslim) yang mengabdikan dirinya kepada Allah semata, maka pada gilirannya ia akan
mencapai derajat taqwa, dan derajat taqwa ini merupakan tujuan
akhir dari ibadah itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qurn al-Karm
Al-Bqy, Muhammad Fuad Abd. al-Mujam al-Mufahras li Alfzh
al-Qurn al-Karm. Bairt: Dr al-Fikr, 1992.
Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya. Jakarta: Proyek
Pengadaan Kitab Suci al-Quran, 1992.
al-Farmwiy, Abd. al-Hay. Muqaddimah f al-Tafsr al-Mawdhuiy.
Kairo: al-Hadhrah al-Arabiyah, 1977.
Ibn Faris Ibn Zakariyah, Ab Husain Ahmad. Mujam Maqayis alLugah, juz IV. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
al-Maragi, Ahmad Mustafa. Tafsir al-Maragi, juz I. Mesir: Mustafa
al-Babi al-Halab wa Awladuh, 1973.
Ridha, Muhammad Rasyid. Tafsir al-Qurn al-Hakim al-Musamma
Tafsir al-Manr. Mesir: Maktabah al-Qahirat, 1988.
Salim, H. Abd. Muin. Fiqh Siyasah; Konsepsi Kekuasaan Politik
dalam Al-Quran. Cet. I; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1994
, Jalan Lurus Menuju Hati Sejahtera; Tafsir Surah al-Fatihah.
Cet. I; Jakarta: Yayasan Kalimah, 1999, terjemahan dari alNahj al-Qawin wa al-Sirat al-Mustaqim min tafsir al-Qurn
al-Azhim. Ujungpandang: Syariah Press, 1995.
, Metodologi Tafsir; Sebuah Rekonstruksi Epistimologis
Memantapkan Keberadaan Ilmu Tafsir sebagai Disiplin Ilmu
Orasi Pengukuhan Guru Besar. Ujungpandang: IAIN
Alauddin, 1999
al-Shabniy, Muhammad Ali. Shafwa al-tafsr, jilid III. Bairut: Dr alQur al-Karm, 1981.
Ash-Shiddieqy, TM. Hasbi. Kuliah Ibadah; Ibadah Ditinjau dari Segi
Hukum dan Hikmah. Cet. VII; Jakarta: Bulan Bintang, 1991

Volume I Nomor 1, Oktober 2012

177

Shihab, H.M. Quraish. Fatwa-fatwa Seputar Ibadah Mahdah. Cet. I;


Bandung: Mizan, 1999
Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya. Cet. I; Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 1990
Tabbrah, Aff Abd. al-Fatth. Rh al-Dn al-Islmiy. Bairut: Dr alIlm al-Malyn, 1969.
al-Zuhayli, Wahbah. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Damsyiq: Dar
al-Fikr, 1989