Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Makin meningkatnya penggunaan zat warna pada berbagai industri, seperti
pangan dan tekstil, meninggalkan masalah lingkungan yang harus ditanggulangi.
Limbah zat warna yang dibuang cukup mengganggu karena menimbulkan
masalah lingkungan perairan yang pada beberapa kasus konsentrasi zat warna
kurang dari 1 ppm sudah dapat memberi cukup warna. Selain itu, adanya zat
warna dapat menghambat transmisi cahaya matahari sehingga mengurangi
aktivitas fotosintesis, khususnya makhluk hidup yang ada di dasar perairan dan
berubah menjadi racun jika pada perairan tersebut terdapat logam dan klorin.
Masalah ini semakin diperparah karena kebanyakan zat warna secara biologis sulit
untuk diuraikan sehingga zat warna harus disingkirkan atau dikurangi dari
lingkungan perairan.
Adsorpsi merupakan alternatif terbaik untuk mengatasi pencemaran zat warna.
Langkah awal untuk mendapatkan proses adsorpsi yang efektif adalah dengan
memilih adsorben yang memiliki selektivitas dan kapasitas tinggi serta dapat
digunakan berulang-ulang. Arang aktif telah lama digunakan untuk menyerap zat
warna tetapi karena harganya yang cukup tinggi maka penelitian beralih ke
adsorben yang lebih murah dan dapat dihasilkan dari bahan hasil buangan. Salah
satu hasil buangan yang berpotensi digunakan sebagai adsorben adalah chitin dan
chitosan.
Chitin merupakan biopolimer dan merupakan Komponen struktural utama
dari exoskeleton lobster, udang, udang, sotong ikan. Chitosan alami hanya ada
dibeberapa

spesies

jamur

dan

dapat

diproduksi

dengan

deasetilasi

chitin dengan solusi alkali pada suhu tinggi chitin dan chitosan adalah bahan
adsorben berpotensi berguna untuk menghilangkan pewarna dari limbah industri
tetapi chitosan lebih aktif adsorben daripada chitin. (F.H.Wattoo, 2011).
Indonesia merupakan negara kelautan yang kaya akan sumberdaya lautnya dan
menjadi salah satu negara pengekspor hasil perikanan dan laut terbesar di dunia.
Perikanan memiliki kontribusi terhadap pendapatan domestic bruto (PDB) yang

mengalami peningkatan sebesar 22,86 persen pada tahun 2007 menjadi Rp 93,22
trilium (BPS, 2008).
Indonesia memiliki 170 perusahaan pengolahan udang dengan total produksi
sekitar 500.000 ton per tahun. Sebanyak 75% dari berat total udang menjadi
limbah, yaitu bagian cangkang dan kepala (Kelly, 2005). Limbah udang tersebut
masih belum dimanfaatkan secara optimal. Limbah udang biasanya digunakan
untuk pakan ternak yang memiliki nilai ekonomis kecil. Teknologi bioadsorben
dapat mengubah limbah udang menjadi bioadsorbsi yang memiliki nilai ekonomis
yang tinggi.
1.2 Rumusan Masalah
Dari penelitian ini kami merumuskan suatu permasalahan yaitu :
1. Apakah limbah cangkang udang vannamei

dapat digunakan

sebagai

bioadsorbsi pada limbah industri tekstil?


2. Berapa konsentrasi

chitosan

yang dibutuhkan untuk mendapatkan

endapan terbanyak?
3. Berapa konsentrasi chitosan yang dibutuhkan untuk mendapatkan pH
netral dan menjernihkan air?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu :
1. Untuk mengetahui cangkang udang vannamei sebagai bioadsorbsi pada
limbah industri tekstil.
2. Untuk mengetahui konsentrasi chitosan yang tepat yang dibutuhkan untuk
mendapatkan endapan terbanyak.
3. Untuk mengetahui konsentrasi

chitosan

yang dibutuhkan untuk

mendapatkan pH netral dan menjernihkan air.


1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan memanfaatkan cangkang udang vannamei menjadi
bioadsorbsi, menentukan karakteristik bioadsorbsi secara fisik dan kimia yang
dihasilkan. Serta meningkatkan nilai ekonomis limbah cangkang udang vannamei
dengan memanfaatkan chitosan cangkang udang vannamei sebagai bioadsorbsi

pada limbah industri tekstil. Bagi industri tekstil dapat lebih memperhatikan
proses penanganan limbah tekstil sehingga tidak menyebabkan pencemaran
lingkungan yang mengganggu keseimbangan ekosistem.

BAB II
TINJAUN PUSTAKA
2.1 Kitin
Kitin merupakan bahan organik utama terdapat pada kelompok hewan
crustaceae, insekta, fungi, mollusca dan arthropoda. Cangkang kepiting, udang
dan lobster telah lama diketahui sebagai sumber bahan dasar produksi kitin,
karena kandungan kitinnya cukup tinggi. Cangkang kering arthropoda rata-rata
mengandung 20-50% kitin (Suhardi, 1993). Kitin juga diketahui terdapat pada
kulit siput, kepiting, kerang, dan bekicot.

Kitin merupakan biopolimer alam

paling melimpah kedua setelah selulosa. Senyawa kitin atau ((1-4)-N-asetil-Dglukosamin) dapat dipertimbangkan sebagai suatu senyawa turunan selulosa,
dimana gugus hidroksil pada atom C-2 digantikan oleh gugus asetamido
(Kusumaningsih et al. 2004).
2.2 Kitosan
Kitosan adalah suatu biopolimer dari D-glukosamin yang dihasilkan dari
proses deasetilasi khitin dengan

menggunakan alkali kuat. Kitosan bersifat

sebagai polimer kationik yang tidak larut dalam air, dan larutan alkali dengan pH
di atas 6,5. Khitosan mudah larut dalam asam organik seperti asam formiat, asam
asetat, dan asam sitrat (Rahayu & Purnavita 2007).
2.3 Ekstraksi Khitosan
Kitosan diperoleh dari kitin melalui proses deasetilasi. Ekstraksi kitin dari
kulit udang dilakukan dua tahap, yaitu tahap pemisahan mineral (demineralisasi)
dan pemisahan protein (deproteinasi) yang dilanjutkan dengan pemutihan.
a. Proses Demineralisasi
Demineralisasi yaitu penghilangan mineral yang terdapat dalam bahan
yang mengandung kitin. Penghilangkan mineral tersebut

terutama

kandungan kalsiumnya dilakukan dengan penambahan asam seperti asam


klorida (HCl), asam sulfat (H2SO4), dan asam sulfit (H2SO3). Proses

demineralisasi berdasarkan pada metode ini adalah dengan menggunakan


HCl 1,5 N dengan perbandingan 1:7 (b/v) untuk bahan dan larutan HCl
dengan pemanasan pada suhu 90oC selama 1 jam.
Pemisahan mineral bertujuan untuk menghilangkan senyawa organik
yang ada pada

limbah

tersebut.

Besarnya kandungan mineral yang

dihilangkan, maka akan menghasilkan kitin yang semakin baik. Kulit udang
umumnya mengandung 30-50% mineral. Mineral utama yang terdapat
pada udang yaitu kalsium dalam bentuk CaCO3
dan sedikit Ca3(PO4)2. Senyawa kalsium akan bereaksi dengan HCl
menghasilkan kalsium klorida, asam karbonat dan asam fosfat yang larut
dalam air pada saat demineralisasi.

Proses demineralisasi menyebabkan terjadinya reaksi kimia antara


asam klorida (HCl) dengan kalsium (CaCO3 dan Ca3(PO4)2), menghasilkan
kalsium klorida yang akan mengendap apabila pH ditingkatkan dan mudah
dipisahkan dengan proses penyaringan.
Proses

demineralisasi

akan

berlangsung

sempurna

dengan

mengusahakan agar konsentrasi asam yang digunakan serendah mungkin


dan disertai pengadukan yang konstan, dengan pengadukan yang konstan
diharapkan dapat menciptakan panas yang homogen sehingga asam yang
digunakan tersebut

dapat bereaksi sempurna dengan bahan baku yang

digunakan (Ferdiansyah 2005).

b. Proses Deproteinasi
Proses deproteinasi bertujuan menghilangkan protein dari limbah
udang tersebut.

Protein ini dapat mencapai 30-40% berat bahan organik

kulit udang. Keefektifan proses tersebut bergantung dari kekuatan larutan


basa dan tingginya suhu yang digunakan. Penggunaan larutan NaOH 3,5%
dengan pemanasan 90oC selama 1 jam dapat dilakukan sebagai alternatif
deproteinasi dengan perbandingan limbah udang yang kering dan larutan
sebesar 1:10. Selama proses, larutan alkali akan masuk ke celah-celah
limbah udang untuk memutuskan ikatan antara kitin dan protein. Ion Na +
akan mengikat ujung rantai protein menjadi Na-proteinat yang selanjutnya
dapat dipisahkan kembali dengan menurunkan pH karena
pengendapan natrium. Produk

akhir

dari

terjadi

proses demineralisasi dan

deproteinasi tersebut adalah kitin (Ferdiansyah 2005).


c. Proses Deasetilasi
Pembuatan kitosan, dengan cara penghilangan gugus asetil (-COCH 3)
(deasetilasi) dari kitin yang dilakukan dengan menggunakan larutan NaOH
pekat (50%) dengan perbandingan 1:20 selama 1 jam pada suhu 120-140oC.
Suhu yang tinggi (140oC) dan konsentrasi NaOH yang tinggi (50%)
berkaitan dengan ikatan kuat antara atom nitrogen pada gugus amin dengan
gugus asetil. Banyaknya gugus asetil yang hilang dari polimer kitin, maka
akan semakin meningkatkan interaksi antar ion dan ikatan hidrogen dari
kitosa. Terjadi reaksi antara NaOH dengan gugus N-asetil pada kitin (rantai
C-2) yang akan menghasilkan Na-asetat dan substitusi gugus asetil dengan
gugus amina (-NH2) selama berlangsungnya proses ini (Ferdiansyah 2005).
2.4 Manfaat Kitosan
Kitosan juga telah dimanfaatkan dalam berbagai bidang kesehatan antara
lain sebagai bahan anti kolesterol, bahan pembungkus kapsul karena memiliki
kemampuan untuk melepas obat ke dalam tubuh secara terkontrol dan sebagai

bahan anti tumor karena kitosan mempunyai sifat antibakterial dan antikoagulan
dalam darah serta dapat menggumpalkan sel-sel leukemia (Hargono et al.
2008).
Kitosan mempunyai gugus amino bebas sebagai polikationik, pengkelat
dan pembentuk dispersi

dalam

larutan

asam

asetat. Karakteristik kitosan

sebagai polielektrolit dapat digunakan untuk bahan pengkoagulasi dalam sistem


pengolahan limbah secara fisik-kimia, industri cat sebagai koagulan, pensuspensi
dan flokulasi, serta industri makanan sebagai aditif dan penghasil protein sel
tunggal (Ferdiansyah 2005).

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pembuatan Kitosan

Bahan Baku

Pencucian

Pencucian

Penghancuran dengan blender

HCl 1 N 1:7

Demineralisasi

90C, 1 jam

Penyaringan dan pencucian

NaOH 3,5% 1:10

Deproteinasi

90C, 1 jam

Penyaringan dan pencucian

120-140C, 1 jam

Deasetilasi
(N-asetil-kitin+NaOH)

Penyaringan dan pencucian

Kitosan

120-140C, 1 jam