Anda di halaman 1dari 15

9 Kiat Agar Tidak Terjerumus dalam Kelamnya Zina (Seri 1)

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc / 1 Jan 1970

Segala puji yang terbaik hanyalah milik Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita
Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Kita sudah ketahui bersama bagaimanakah kehidupan pemuda lajang saat ini.
Pergaulan bebas bukanlah suatu yang asing lagi di tengah-tengah mereka. Tidak
memiliki kekasih dianggap tabu di tengah-tengah mereka. Hubungan yang
melampaui batas layaknya suami istri pun seringkali terjadi. Bahkan ada yang
sampai putus sekolah gara-gara masalah ini. Sungguh, inilah tanda semakin
dekatnya hancur dunia.

Dalam tulisan kali ini, kami akan berusaha memberikan tips-tips mudah kepada
segenap pemuda dan kaum muslimin secara umum agar mereka bisa menjauhkan
diri dari bahaya yang satu ini yaitu zina. Semoga Allah beri kepahaman.

Pertama: Ketahuilah Bahaya Zina

Allah Taala dalam beberapa ayat telah menerangkan bahaya zina dan
menganggapnya sebagai perbuatan amat buruk. Allah Taala berfirman,

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al Isro: 32)

Dalam ayat lainnya, Allah Taala berfirman,

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak
membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan)
yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu,
niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (QS. Al Furqon: 68). Artinya, orang
yang melakukan salah satu dosa yang disebutkan dalam ayat ini akan mendapatkan
siksa dari perbuatan dosa yang ia lakukan.

Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,


Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah? Beliau bersabda,
Engkau menjadikan bagi Allah tandingan, padahal Dia-lah yang menciptakanmu.
Kemudian ia bertanya lagi, Terus apa lagi? Beliau bersabda, Engkau membunuh
anakmu yang dia makan bersamamu. Kemudian ia bertanya lagi, Terus apa lagi?
Beliau bersabda,

Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu. Kemudian akhirnya Allah


turunkan surat Al Furqon ayat 68 di atas.[1] Di sini menunjukkan besarnya dosa
zina, apalagi berzina dengan istri tetangga.

Dalam hadits lainnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Jika seseorang itu berzina, maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya
sedang diliputi oleh gumpalan awan (di atas kepalanya). Jika dia lepas dari zina,
maka iman itu akan kembali padanya.[2]

Inilah besarnya bahaya zina. Oleh karenanya, syariat Islam yang mulia dan begitu
sempurna sampai menutup berbagai pintu agar setiap orang tidak terjerumus ke
dalamnya. Jika seseorang mengetahui bahaya zina dan akibatnya, seharusnya
setiap orang semakin takut pada Allah agar tidak terjerumus dalam perbuatan
tersebut. Rasa takut pada Allah dan siksaan-Nya yang nanti akan membuat
seseorang tidak terjerumus di dalamnya.

Kedua: Rajin Menundukkan Pandangan

Seringnya melihat lawan jenis dengan pandangan penuh syahwat, inilah panah
setan yang paling mudah mengantarkan pada maksiat yang lebih parah. Allah
Taala berfirman,

( )





Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan


pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci
bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.
Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan kemaluannya. (QS. An Nur: 30-31)

Allah Taala juga menerangkan bahwa setiap insan akan ditanya apa saja yang telah
ia lihat, sebagaimana terdapat dalam firman Allah,

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta


pertanggungan jawabnya. (QS. Al Isro: 36)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun melarang duduk-duduk di tengah jalan karena
duduk semacam ini dapat mengantarkan pada pandangan yang haram.

Dari Abu Said Al Khudriy radhiyallahu anhuma, dari Nabi shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,

. .

Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan. Mereka bertanya, Itu kebiasaan


kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami
bercengkrama. Beliau bersabda, Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis
seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut. Mereka bertanya, Apa hak jalan
itu? Beliau menjawab, Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di
jalan, menjawab salam dan amar maruf nahi munkar. (HR. Bukhari no. 2465)

Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu anhu, dia berkata,


.
- -

Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengenai pandangan


yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan
pandanganku. (HR. Muslim no. 2159)

Ketiga: Menjauhi Campur Baur (Ikhtilath) yang Diharamkan

Di antara dalil yang menunjukkan haramnya ikhtilath (campur baur antara laki-laki
dan perempuan) adalah hadits-hadits berikut.

Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,

.
.

Janganlah kalian masuk ke dalam tempat kaum wanita. Lalu seorang laki-laki dari
Anshar berkata, Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?
beliau menjawab: Ipar adalah maut. (HR. Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 2172)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, ia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam
bersabda,

.
.

Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali dengan


ditemani mahromnya. Lalu seorang laki-laki bangkit seraya berkata, Wahai
Rasulullah, isteriku berangkat hendak menunaikan haji sementara aku diwajibkan
untuk mengikuti perang ini dan ini. Beliau bersabda, Kalau begitu, kembali dan
tunaikanlah haji bersama isterimu. (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341)

Dari Umar bin Al Khottob, ia berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu


perkampungan di Damaskus), lalu ia membawakan sabda Nabi shallallahu alaihi wa
sallam,

Janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang
bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiap yang
bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah
seorang yang mukmin. (HR. Ahmad 1/18. Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan
bahwa sanad hadits ini shahih, para perowinya tsiqoh sesuai syarat Bukhari-Muslim)

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda,

Ketahuilah! Seorang laki-laki bukan muhrim tidak boleh bermalam di rumah


perempuan janda, kecuali jika dia telah menikah, atau ada muhrimnya. (HR.
Muslim no. 2171)

Keempat: Wanita Hendaklah Meninggalkan Tabarruj

Inilah yang diperintahkan bagi wanita muslimah. Allah Taala berfirman,

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti
orang-orang jahiliyyah pertama. (QS. Al Ahzab : 33). Abu Ubaidah mengatakan,
Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya. Az Zujaj mengatakan, Tabarruj
adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong syahwat
(godaan) bagi kaum pria.[3]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam


bersabda,

Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu
kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para
wanita yang berpakaian tapi telanjang, mengajak orang lain untuk tidak taat,
dirinya sendiri jauh dari ketaatan, kepalanya seperti punuk unta yang miring.
Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya,
walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian. (HR. Muslim no.
2128)

Kelima: Berhijab Sempurna di Hadapan Pria

Sebagaimana Allah Taala firmankan,

Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi),
maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu
dan hati mereka. (QS. Al Ahzab: 53)

Konteks pembicaraan dalam ayat ini adalah khusus untuk istri Nabi. Namun illah
dalam ayat tersebut dimaksudkan umum sehingga hukumnya pun berlaku umum
pada yang lainnya. Illah yang dimaksud adalah,

Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.

Juga kalau kita perhatikan kelanjutan ayat, maka hijab tersebut berlaku bagi wanita
mukmin lainnya. Allah Taala berfirman,

Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteriisteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu
mereka tidak di ganggu. (QS. Al Ahzab: 59)

Ditambah lagi dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari Abdullah bin
Masud,

Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata
laki-laki. (HR. Tirmidzi no. 1173. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan
ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

-Bersambung insya Allah, harap sabar menanti -

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.rumaysho.com

[1] HR. Bukhari no. 7532 dan Muslim no. 86.

[2] HR. Abu Daud no. 4690 dan Tirmidzi no. 2625. Syaikh Al Albani mengatakan
bahwa hadits ini shahih.

[3] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 5/133, Mawqi Al Islam.

Print PDF

9 Kiat Agar Tidak Terjerumus dalam Kelamnya Zina (Seri 2)

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc / 1 Jan 1970

Segala puji yang terbaik hanyalah milik Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita
Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Pembahasan kali ini adalah lanjutan dari posting sebelumnya. Sekarang kita
lanjutkan kiat agar tidak terjerumus dalam zina keenam sampai kesembilan.
Semoga bermanfaat.

Keenam: Wanita Hendaklah Betah Tinggal Di Rumah

Allah Taala berfirman,

Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian


berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu (QS Al Ahzab: 33).

Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda, Wanita itu adalah aurat. Jika dia
keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki. (HR. Tirmidzi no. 1173,
shahih)

Dalam ajaran Islam pun, shalat wanita lebih baik di rumah. Dari Abdullah bin
Masud, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di


kamarnya, dan shalat seorang wanita di rumahnya yang kecil lebih utama baginya
daripada dirumahnya. (HR. Abu Daud no. 570. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa
hadits ini shahih)

Dari Ummu Salamah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah diam di rumah-rumah mereka. (HR.
Ahmad 6/297. Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan
dengan berbagai penguatnya)

Ketujuh: Hendaklah Wanita Menjalani Berbagai Adab Ketika Keluar Rumah

Di antara adab yang mesti diperhatikan oleh wanita adalah:

Pertama: Tidak memakai harum-haruman ketika keluar rumah.

Dari Abu Musa Al Asyari, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Apabila seorang wanita memakai wewangian, lalu keluar menjumpai orang-orang


hingga mereka mencium wanginya, maka wanita itu adalah wanita pezina. (HR.
Ahmad 4/413. Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid)

Kedua: Hendaklah wanita benar-benar menutup aurat dengan sempurna ketika


memasuki rumah yang terdapat kaum laki-laki

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad telah menceritakan kepada
kami Waki dari Sufyan dari Manshur dari Salim bin Abu Al Jad dari Abu Al Malih Al
Hudzali bahwa para wanita dari penduduk Himsha pernah meminta izin untuk
menemui Asiyah, maka dia berkata; Mungkin kalian adalah para wanita yang suka
masuk ke pemandian umum, saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam bersabda,

Wanita mana pun yang meletakkan pakaiannya di selain rumah suaminya, maka ia
telah menghancurkan tirai antara dia dan Allah. (HR. Ibnu Majah no. 3750. Syaikh
Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ketiga: Hendaklah wanita berhias diri dengan sifat malu

Allah Taala berfirman mengenai para wanita yang mendatangi Nabi Musa alaihis
salam,

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan
kemalu-maluan. (QS. Al Qoshshosh: 25)

Keempat: Tidak bercampur baur dengan para pria

Allah Taala menceritakan mengenai dua wanita yang mendatangi Musa,

Dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang
menghambat (ternaknya). Musa berkata: Apakah maksudmu (dengan berbuat
begitu)? Kedua wanita itu menjawab, Kami tidak dapat meminumkan (ternak
kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang
bapak Kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya. (QS. Al Qoshshosh: 23)

Kedelapan: Menghindari Jabat Tangan dengan Lawan Jenis (Yang Bukan Mahrom)

Dari Maqil bin Yasar, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Lebih baik kepala salah seorang di antara kalian ditusuk dengan jarum dari besi
daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (HR. Thobroni. Syaikh Al
Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat As Silsilah Ash Shohihah 226)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam


bersabda,

Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti
terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga
dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah
dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah
dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan
membenarkan atau mengingkari yang demikian. (HR. Muslim no. 6925). Jika kita
melihat pada hadits ini, menyentuh lawan jenis -yang bukan istri atau bukan

mahrom- diistilahkan dengan berzina. Hal ini berarti menyentuh lawan jenis adalah
perbuatan yang haram karena berdasarkan kaedah ushul: apabila sesuatu
dinamakan dengan sesuatu lain yang haram, maka menunjukkan bahwa perbuatan
tersebut adalah haram.[1]

Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun mencontohkan tidak menyalami wanita non
mahrom- dalam kondisi yang seharusnya beliau dituntut bersalaman sekalipun
semacam baiat.

Telah menceritakan kepadaku Malik dari Muhammad bin Al Munkadir dari Umaimah
binti Ruqaiqah berkata; Aku menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika
para wanita membaiatnya untuk Islam. Kami mengatakan; Wahai Rasulullah, kami
membaiatmu untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, tidak mencuri,
tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak mendatangi kejahatan yang
telah kami lakukan antara kedua tangan dan kaki kami, dan tidak bermaksiat
terhadap anda dalam kebaikan. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
menambahkan: Semampu dan sekuat kalian. Umaimah berkata, Kami
menyahutnya, Allah dan Rasul-Nya lebih kami sayangi daripada diri kami. Wahai
Rasulullah, kemarilah, kami akan membaiatmu. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam bersabda,

Sesungguhnya aku tidak akan bersalaman dengan wanita. Perkataanku terhadap


seratus wanita adalah seperti perkataanku terhadap seorang wanita, atau seperti
perkataanku untuk satu wanita. (HR. Malik 2/982. Syaikh Al Albani mengatakan
bahwa hadits ini shahih)

Kesembilan: Hendaknya Wanita Meninggalkan Tutur Kata yang Mendayu-dayu

Allah Taala berfirman,

Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang


yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. (QS. Al
Ahzab: 32) Yang dimaksudkan janganlah kamu tunduk dalam berbicara, As Sudi
mengatakan, Janganlah wanita mendayu-dayukan kata-katanya ketika bercakapcakap dengan kaum pria.[2]

Inilah beberapa jalan yang jika dijalankan dengan baik akan menjauhkan kita dari
pebuatan zina yang keji. Hanya Allah yang memberi taufik bagi siapa saja yang mau
merenungkan hal ini.[3]

Selesai disusun atas nikmat Allah di Panggang-GK, 19 Jumadil Awwal 1431 H


(03/05/2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.rumaysho.com

[1] Lihat Taysir Ilmi Ushul Fiqh, Abdullah bin Yusuf Al Judai, hal. 41, Muassasah Ar
Royan

[2] Tafsir Al Quran Al Azhim, Ibnu Katsir, 6/409, Dar Thoyibah, cetakan kedua, 1420
H.

[3] Pembahasan ini banyak kami sarikan dari penjelasan Syaikh Musthofa Al Adawi
dalam risalah beliau Wa laa taqrobuz zinaa, Daar Majid Asiiri.

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF