Anda di halaman 1dari 20

METABOLOMIK/PROTEOMIK

Metabolomik merupakan suatu proses pengukuran senyawa hasil metabolit yang


memiliki berat molekul (BM) 50-5000. Secara garis besar, terdapat dua macam metode
analisis metabolomik yaitu metabolomik sidik jari dan penanda kimia. Perbedaan mendasar
di antara keduanya adalah metabolomik sidik jari akan menelaah metabolisme dari
bioindikator secara keseluruhan, sedangkan metode penanda kimia hanya akan melakukan
kuantifikasi terhadap senyawa target tertentu yang kadarnya berkorelasi terhadap perubahan
lingkungan. Kedua metode ini akan dijelaskan sebagai berikut:
1. METABOLOMIK SIDIK JARI
Pengukuran sidik jari metabolisme dilakukan dengan mengekstrak bioindikator
menggunakan

pelarut

tertentu,

misalnya

metanol,

kemudian

langsung

dianalisis

menggunakan teknik spektroskopi ultraviolet, infra merah, massa, proton-NMR (Nuclear


Magnetic Resonance), dan lain-lain. Teknik spektroskopi dikembangkan berdasarkan
pemanfaatan range frekuensi tertentu yang berbeda-beda. Teknik spektroskopi massa dan
proton-NMR merupakan teknik yang paling sering digunakan karena mampu mendeteksi
metabolit dalam wilayah yang lebar dan memiliki reproduksibilitas yang baik.
Tabel 1. Radiasi Elektromagnetik dan Tipe Spektroskopi
Radiasi elektromagnetik
Sinar gamma
Sinar X
Ultra violet

Sinar tampak
Infra merah
Gelombang mikro
Gelombang radio

Tipe spektroskopi
Spektroskopi Emisi Sinar Gamma
Spektroskopi Absorpsi Sinar X
Spektroskopi Emisi Sinar X
Spektroskopi Absorpsi UV Vakum
Spektroskopi Absorpsi UV
Spektroskopi Emisi UV
Spektroskopi Flouresensi UV
Spektroskopi Absorpsi Vis
Spektroskopi Emisi Vis
Spektroskopi Flouresensi Vis
Spektroskopi Absorpsi IR
Spektroskopi Raman
Spektroskopi Gelombang Mikro
Spektroskopi Resonansi Paramagnetik Elektron (EPR)
Spektroskopi Resonansi Magnet Inti

Gambar 1. Daerah utama spektrum elektromagnetik


Aplikasi Umum
Pengukuran spektroskopi sifatnya melengkapi pengukuran difraksi, hal ini dikarenakan
spektroskopi hanya mengukur local order sementara difraksi long range order. Penerapannya
bisa pada penentuan bilangan koordinasi dan situs simetri, mendeteksi variasi pada local
order, adanya pengotor dan kristal tidak sempurna, material amorf seperti gelas dan gel.
Dikenal dua kelompok utama spektroskopi yaitu spektroskopi atom dan spektroskopi
molekul. Dasar dari spektroskopi atom adalah tingkat energi elektron terluar suatu atom atau
unsur sedangkan dasar dari spektroskopi molekul adalah tingkat energi molekul yang
melibatkan energi elektronik, energi vibrasi, dan energi rotasi. Berdasarkan signal radiasi
elektromagnetik penggolongan spektroskopi dibagi menjadi empat golongan yaitu (a)
spektroskopi absorpsi, (b) spektroskopi emisi, (c) spektroskopi scattering, dan (d)
spektroskopi fluoresensi. Spektroskopi absorpsi meliputi spektroskopi absorpsi sinar X,
spektroskopi absorpsi UV-Vakum, spektroskopi absorpsi UV-VIS, spektroskopi absorpsi infra
merah (IR), spektroskopi absorpsi gelombang mikro, spektroskopi resonansi magnet inti
(NMR), spektroskopi resonansi spin elektron (ESR), dan spektroskopi photoacoustic.
Spektroskopi emisi terdiri atas emisi sinar gamma, spektroskopi emisi sinarX, dan
spektroskopi emisi UV-Vis. Spektroskopi scattering adalah spektroskopi Raman, sedangkan
Spektroskopi fluoresensi terdiri dari spektroskopi fluoresensi sinar X dan spektroskopi
fluoresensi UV-VIS. Penggolongan spektroskopi lainnya yaitu berdasar analisis permukaan
seperti AES (Auger Electron Spectroscopy), SIMS (Secondary Ion Mass Spectroscopy), ISS
(Ion Scattering Spectroscopy), dan ESCA (Electron Spectroscopy for Chemical Analysis) atau
XPS (X-Ray Photoelectron Spectroscopy). Penggolongan lainnya yaitu berdasar kimia ion
yang dikenal dengan spektroskopi massa.
Berbagai teknik spektroskopi banyak digunakan dalam analisis senyawa anorganik
(senyawa kompleks koordinasi), antara lain: spektroskopi UV-VIS, spektroskopi absorpsi
atom, spektroskopi infra merah, spektroskopi fluorensi, spektroskopi NMR, dan spektroskopi
masses. Daerah sinar tampak mulai dari warna merah pada panjang gelombang 780 nm
sampai warna ungu pada panjang gelombang 380 nm (kisaran frekuensi 12800-26300 cm-l),
sedangkan daerah ultra violet dan panjang gelombang 380 nm sampai 180 nm (kisaran

frekuensi 26300-55500 cm- l). Energi pada daerah ultra violet dan sinar tampak berkisar dari
140 sampai 660 kJ/mol.
Spektroskopi infra merah dilakukan pada daerah infra merah yaitu dari panjang
gelombang 0.78 sampai 1000 urn atau pada kisaran frekuensi 12800 - 10 cm . Teknik
spektroskopi infra merah terutama untuk mengetahui gugus fungsional suatu senyawa, juga
untuk mengidentifikasi senyawa, menentukan struktur molekul, mengetahui kemurnian, dan
mempelajari reaksi yang sedang berjalan.
Analisis senyawa anorganik dengan spektroskopi fluoresensi adalah sangat spesifik dan
sensitif. Teknik analisisnya serupa dengan spektroskopi absorpsi UV-VIS, pengukurannya
juga pada daerah ultra violet dan sinar tampak. Dalam hal ini perbedaannya yang diukur
adalah radiasi yang diemisikan oleh sampel. Salah satu kelemahan dari teknik ini adalah
terbatasnya bahan kimia. Ligan-ligan organik pada kompleks koordinasi umumnya
mengandung hidrogen atau proton. Teknik spektroskopi resonansi magnet inti (NMR)
memberikan keterangan tentang jumlah proton, dan tipe proton dalam suatu senyawa.
Analisis dengan teknik spektroskopi resonansi magnet inti dilakukan pada daerah gelombang
radio yaitu dari panjang gelombang 3000 sampai 3 m atau dengan kisaran frekuensi 0.1-100
MHz. Umumnya gabungan antara spektrum NMR dengan spektrum infra merah digunakan
untuk menentukan struktur suatu senyawa yang belum diketahui.

1.1. Spektroskopi Resonansi Magnet Inti (NMR = Nuclear Magnetic Resonance)


Spektroskopi resonansi magnetik nuklir (NMR) memberikan gambaran mengenai jenis
atom, jumlah, maupun lingkungan atom hidrogen (1H NMR) serta karbon (13C NMR).
Spektroskopi NMR didasarkan pada penyerapan gelombang radio oleh inti-inti tertentu dalam
molekul organik, apabila molekul tersebut berada dalam medan magnet yang kuat. Inti-inti
atom unsur-unsur dapat dikelompokkan sebagai mempunyai spin atau tidak mempunyai spin.
Suatu inti berspin akan menimbulkan medan magnet kecil, yang ditunjukkan oleh suatu
momen magnet nuklir, berupa suatu vektor.

Gambar 2. Standar frekuensi TMS


Inti atom yang mempunyai nilai geseran kimia () daerah rendah (dekat TMS) disebut
high shielded field (daerah medan magnet tinggi), sedangkan daerah makin jauh dari TMS
disebut low shielded field (daerah medan rendah). Kerapatan elektron disekeliling proton
dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain:
1. Efek induksi berbagai gugus yang bekerja melalui ikatan kimia yang terdapat pada
proton, yang umumnya disebabkan oleh adanya atom-atom yang bersifat elektronegatif,
seperti O, N, Cl. Proton atau inti atom yang makin dekat dengan atom elektronegatif
elektron yang mengelilingi proton tersebut menjadi kurang rapat.
2. Efek anisotropi suatu ikatan kimia, seperti adanya ikatan kimia yang mengandung
gugus alkena (C=C), alkuna (CC), karbonil (C=O), dan aromatik (Ar). Efek anisotropy
ini dapat menghasilkan medan magnet pada daerah proton yang memperkuat atau
memperlemah medan magnet yang digunakan.
3. Ikatan hidrogen, pembentukan ikatan hidrogen dari suatu atom H dari gugus hidroksil
dengan gugus karbonil (C=O) menyebabkan nilai geseran kimia ke arah medan rendah,
menjauhi dari TMS dan akan muncul pada daerah sekitar 13 ppm.
4. Pelarut, pelarut yang polar akan sedikit berpengaruh terhadap senyawa polar, sebab dapat
terjadi ikatan hidrogen, terutama pada sampel yang mengandung gugus COOH, NH 2, dan
OH. Efek ikatan hidrogen terhadap pelarut dapat dihindari dengan menggunakan pelarut
yang kurang polar, konsentrasi encer, atau temperatur ditinggikan.
5. Temperatur, akan sedikit berpengaruh pada sampel yang cenderung membentuk ikatan
hidrogen. Daerah geseran kimia proton bernilai antara 012 ppm, berikut daerah geseran
kimia yang penting untuk beberapa proton.

Gambar 3. Daerah geseran kimia proton bernilai antara 012 ppm


Langkah-langkah cara menginterpretasi spektra NMR

Tentukan/perhatikan :
Jumlah sinyal, menunjukkan ada berapa macam perbedaan proton yang terdapat dalam
molekul.
Kedudukan sinyal, ditunjukkan oleh geseran kimia () ppm, menunjukkan jenis proton.
Intensitas sinyal atau harga integrasi masing-masing sinyal, perbandingan harga integrasi
menyatakan perbandingan jumlah proton.
Pemecahan (spliting), menerangkan tentang lingkungan dari sebuah proton dengan proton
lainnya yang berdekatan.
Cara penulisan data NMR: ppm (jumlah H, m, J Hz), m = multiplisitas (singlet (s);
doublet (d); triplet (t), quartet (q); dan multiplet (m).

Gambr 4. Spektrum 1H-NMR (600 MHz, CDCl3)

Spektroskopi Karbon-13 (13C NMR)


Spektroskopi

13

C NMR menghasilkan informasi struktur mengenai karbon-karbon

dalam sebuah molekul organik. Spektroskopi 1H NMR kita bekerja dengan isotop hidrogen
alamiah dengan kelimpahan 99,985 %, atom hidrogen alamiah adalah 1H, sedangkan atom
karbon dalam alam 98,9 % adalah 12C, suatu isotop yang intinya tak mempunyai spin (I = 0).
Karbon-13 hanya merupakan 1,1 % atom karbon yang terdapat di alam (I = ). Disamping
itu transisi dari paralel ke antiparalel dari sebuah inti

13

C adalah transisi energi rendah.

Spektra

13

C NMR hanya dapat diperoleh dengan spektrometer yang sangat sensitif.

Kelimpahan 13C yang rendah akan mengurangi kerumitan spektra 13C dibandingkan spektra
1

H NMR. Untuk menentukan spektra

13

C luas di bawah puncak tidak perlu sebanding

terhadap jumlah atom-atom karbon yang ekuivalen, akibatnya spektra


integrasikan. Terdapat dua tipe utama spektrum

13

C tidak dapat di

13

C NMR. Tipe spektrum

13

C NMR off

resonansi, interaksi antar karbon yang berdekatan diabaikan, tetapi karbon dapat berinteraksi
dengan proton yang diikat oleh masing-masing karbon menyebabkan terjadinya spliting yang
menunjukkan puncak (n + 1), n = jumlah H, oleh karena itu sinyal masing-masing karbon
dari:
karbon metil (CH3-C) akan muncul 4 puncak
karbon metilen (-CH2-) akan muncul 3 puncak
karbon metil (-CH-) akan muncul 2 puncak
karbon kuarterner (-C-) akan muncul 1 puncak
Spektrum

13

C NMR off resonansi ini memiliki keuntungan, karena langsung dapat

membedakan jenis-jenis karbon, namun akan menjadi sangat rumit apabila banyak terdapat
sinyal karbon yang saling overlap. Tipe spektrum karbon yang kedua adalah spektrum
dekopling-proton

13

C, adalah suatu spektrum dimana

13

C tidak terkopling dengan 1H, jadi

tidak menunjukkan pemisahan spin-spin. Dekopling dapat dicapai secara elektronis dengan
menggunakan suatu radio frekuensi kedua terhadap sampel. Energi tambahan tersebut
menyebabkan terjadinya interkonversi cepat antara keadaan spin paralel dan antiparalel dari
proton-proton tersebut. Akibatnya sebuah inti

13

C hanya melihat suatu rata-rata dari dua

keadaan spin proton dan isyaratnya tak akan terurai, Karena tak ada penguraian dalam suatu
spektrum dekopling-proton, maka isyarat untuk tiap kelompok atom karbon yang ekuivalen
secara magnetik akan muncul sebagai suatu singlet. Untuk membedakan jenis karbon, metil,
metilen, metin, dan karbon kuarterner digunakan analisis spektrum DEPT

13

C NMR atau

NMR dua dimensi (HMQC = korelasi antara proton-karbon satu ikatan). Ada dua jenis
spektrum DEPT 13C NMR, yaitu :
DEPT 90o= hanya muncul sinyal C-H
DEPT 135o= muncul sinyal CH dan CH3 masing-masing berharga positif, sedangkan sinyal
CH2 akan muncul sebagai sinyal berharga negatif.
Daerah geseran kimia proton bernilai antara 0 200 ppm, berikut daerah geseran kimia yang
penting untuk beberapa jenis karbon

Gambar 5. Daerah geseran kimia proton bernilai antara 0 200 ppm

Gambar 6. Spektrum 13C-NMR (600 MHz, CDCl3) dengan teknik APT

1.2. Spektroskopi Massa


Prinsip dasar kerja spektroskopi massa, spektroskopi massa berfungsi untuk:
Menghasilkan berkas sinar kation dari zat
Menghasilkan berkas kation menjadi bentuk spektrum massa (m/z)
Mendeteksi dan mencatat nilai massa relatif (m/z) dan kelimpahan isotopnya (%) atau
intensitasnya

Tahap pertama: Ionisasi


Atom di-ionisasi dengan mengambil satu atau lebih elektron dari atom tersebut supaya
terbentuk ion positif. Ini juga berlaku untuk unsur-unsur yang biasanya membentuk ion-ion
negatif (sebagai contoh, klor) atau unsur-unsur yang tidak pernah membentuk ion (sebagai
contoh, argon). Spektrometer massa ini selalu bekerja hanya dengan ion positif.
Tahap kedua : Percepatan
Ion-ion tersebut dipercepat supaya semuanya mempunyai kinetik yang sama. Ion-ion
positif yang ditolak dari ruang ionisasi tersebut akan melewati 3 celah, dimana celah terakhir
itu bermuatan 0 V. Celah yang berada di tengah mempunyai voltase menengah. Semua ionion tersebut dipercepat sampai menjadi sinar yang sangat terfokus.
Tahap ketiga : Pembelokan
Ion-ion tersebut dibelokkan dengan menggunakan medan magnet, pembelokan yang
terjadi tergantung pada massa ion tersebut. Semakin ringan massanya, akan semakin
dibelokan. Besarnya pembelokannya juga tergantung pada besar muatan positif ion tersebut.
Dengan kata lain, semakin banyak elektron yang diambil pada tahap 1, semakin besar muatan
ion tersebut, pembelokan yang terjadi akan semakin besar.
Tahap keempat : Pendeteksian
Sinar-sinar ion yang melintas dalam mesin tersebut dideteksi dengan secara elektrik.
Ketika sebuah ion menubruk kotak logam, maka ion tersebut akan dinetralisasi oleh elektron
yang pindah dari logam ke ion (gambar kanan). Hal ini akan menimbulkan ruang antara
elektron-elektron yang ada dalam logam tersebut, dan elektron-elektron yang berada dalam
kabel akan mengisi ruang tersebut. Aliran elektron di dalam kabel itu dideteksi sebagai arus
listrik yang bisa diperkuat dan dicatat. Semakin banyak ion yang datang, semakin besat arus
listrik yang timbul.
Ionisasi dan fragmentasi
Dalam spektrofotometer massa, reaksi pertama suatu molekul adalah ionisasi awal,
pengambilan sebuah elektron.
M + e Mo+ + 2 e
Mo+ disebut ion massa molekul (m/z paling besar, peak paling kanan pada spektrum
MS. Elektron yang paling mudah terlepas dalam molekul biasanya adalah elektron dalam
orbital berenergi tertinggi. Jika sebuah molekul mempunyai elektron-elektron n (menyendiri),
maka salah satunya akan dilepaskan. Jika tidak terdapat elektron n, maka akan dilepaskan
sebuah elektron pi, dan jika tidak terdapat elektron pi barulah elektron pada orbital sigma ().

Setelah ionisasi awal, ion molekul akan mengalami fragmentasi, suatu proses dimana
radikal-radikal bebas atau molekul netral kecil dilepaskan dari ion molekul tersebut. Sebuah
ion molekul tidak pecah secara acak, melainkan cenderung membentuk fragmen-fragmen
yang paling stabil. Dalam persamaan yang menunjukkan fragmentasi biasanya fragmen
radikal bebas tidak dituliskan karena tidak terdeteksi dalam spektrofotometer massa.
Beberapa molekul kecil yang stabil yang mudah terlepas dari ion molekul antara lain H 2O;
CO2 ; CO; C2H4

Percabangan dalam suatu rantai hydrogen menghasilkan fragmentasi yang terjadi


terutama pada cabang, karena radikal ion sekunder dan karbokation sekunder lebih stabil dari
pada bentuk primer, sebagai contoh ion molekul metilpropana menghasilkan terutama kation
isopropyl dan radikal metil.

Efek heteroatom
Fragmentasi ion molekul biasa terjadi pada posisi terhadap heteroatom, terutama terjadi
pada amina atau eter.

Penataan ulang Mc Lafferty


Penataan ulang Mc Lafferty terjadi bila terdapat sebuah atom hidrogen terhadap gugus
karbonil dalam ion molekul. Beberapa aturan dalam spektroskopi MS.

Hukum nitrogen. Suatu molekul yang massa molekulnya genap tidak mungkin
mengandung nitrogen, kalaupun mengandung nitrogen maka jumlah nitrogennya harus
genap. Pecahan molekul umumnya bermassa ganjil kecuali kalau terjadi penataan ulang.
Jumlah ketidakjenuhan (DBE = double bond ekuivalent) = (jumlah karbon + 1) (H
-X + N ) H = hidrogen; X = halogen; N = nitrogen
1.3. Spektroskopi Vibrasional: IR dan Raman
Atom dalam padatan bervibrasi pada frekuensi 1012 hingga 1013 Hz. Gerak vibrasi ini
melibatkan pasangan atau satu kelompok atom yang terikat dan dapat tereksitasi ke keadaan
energi lebih tinggi dengan menyerap radiasi pada frekuensi yang sesuai. Pada teknik IR,
frekuensi radiasi yang diberikan, divariasikan kemudian kuantitas radiasi yang terabsorpsi
atau ditransmisikan diukur. Pada teknik Raman, sampel disinari dengan sinar monokromatik
hingga dihasilkan dua cahaya sebaran. Sebaran Rayleigh timbul dengan energi dan panjang
gelombang sama persis dengan sinar awal. Sebaran Raman biasanya memiliki intensitas
kurang

dibanding

Rayleigh

dan

muncul

pada

panjang

gelombang

beda

(lebih

panjang/pendek) dibanding sinar awal. Tidak seperti spektra IR senyawa molekular organik,
spektra padatan memiliki perbedaan karena aturan seleksi yang berbeda, agar menjadi aktif
IR momen dipole ybs harus berubah-ubah selama siklus vibrasi, konsekuensinya pusat
simetri tak aktif IR, agar menjadi aktif Raman, gerak inti yang terlibat harus mampu
menghasilkan perubahan polarisabilitas.

Gambar 7. Spektra Absorpsi IR (a) Calcite, CaCO3 (b) NaNO3 (c) gypsum, CaSO4.2H2O
Contoh aplikasi Raman untuk membedakan dua polimorf silika, quartz dan cristobalite

Gambar 8. Laser raman spectra (a) squartz (b) kristabolit


1.4. Spektroskopi Visible dan Ultraviolet
Transisi elektron dikulit terluar terkait dengan perubahan energi pada range ~10 4-105
cm-1 atau 102-103 kJ/mol. Beberapa tipe transisi dapat diamati jika atom A dan B saling
bertetangga pada suatu struktur padatan (anion dan kation). Kulit elektron bagian dalam
terlokalisasi pada masing-masing atom sedangkan kulit terluar saling overlap membentuk
pita energi terdelokalisasi.

Gambar 9. Transisi elektronik pada padatan


Penjelasan
1.

Promosi elektron dari orbital terlokalisasi pada satu atom ketingkat energi lebih tinggi
pada orbital terlokalisasi atom yang sama

2.

Promosi elektron dari orbital terlokalisasi satu atom ke orbital terlokalisasi diatom
sebelahnya

3.

Promosi elektron dari orbital terlokalisasi satu atom ke pita energi terdelokalisasi, pita
konduksi.

4.

Promosi elektron dari pita energi (pita valensi) ke pita lain dengan energi lebih tinggi
(pita konduksi)

Prinsip Dasar Spektroskopi UV-VIS


Molekul mempunyai tingkat energi elektron yang analog dengan tingkat energi elektron
dalam atom. Tingkat energi molekul ini disebut orbital molekul. Orbital molekul timbul dari
antaraksi orbital atom daripada atom yang membentuk molekul itu.

1.5. Spektroskopi ESR


Interaksi spin-spin antara elektron tak berpasangan yang bertetangga, ini dapat diatasi
dengan menggunakan konsentrasi kecil elektron tak berpasangan mis. 0,1 s.d. 1 persen ion
logam transisi paramagnetik dilarutkan dalam struktur host diamagnetik. Adanya keadaan
tereksitasi yang terletak rendah dekat dengan keadaan dasar ini menyebabkan seringnya
terjadi transisi elektron, waktu relaksasi pendek dan puncak melebar. Untuk mengatasinya
dengan pengukuran pada suhu rendah, biasanya dalam suhu helium liquid 4,2 K.

Interpretasi ESR
Keadaan oksidasi, konfigurasi elektron dan bilangan koordinasi ion paramagnetik.
Keadaan dasar konfigurasi orbital d ion paramagnetik dan adanya distorsi struktural.
Besarnya kovalensi ikatan-ikatan antar ion paramagnetik dan anion atau ligan
disekelilingnya.
1.6. Spektroskopi Inframerah
Spektrum inframerah terletak pada daerah dengan panjang gelombang 0,78 sampai
1000 m atau bilangan gelombang dari 12800 sampai 10 cm-1. Spektrum inframerah dapat
dibagi menjadi inframerah dekat, inframerah pertengahan, dan inframerah jauh, seperti
diperlihatkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Daerah spektrum inframerah

Penggunaan yang paling banyak adalah pada daerah pertengahan dengan kisaran
bilangan gelombang 4000 sampai 670 cm-1 at-au dengan panjang gelombang 2.5 sampai 15
m. Kegunaan yang paling penting adalah untuk identifikasi senyawa berikatan kovalen
karena spektrumnya sangat kompleks terdiri dari banyak puncak-puncak. radiasi infra merah
dengan frekuensi dalam kisaran 10000 sampai 100 cm-1 atau dengan panjang gelombang 1
sampai 100 um, maka radiasi akan diserap oleh molekul dan dikonversi ke dalam energi
vibrasi molekul. Vibrasi molekul hanya akan terjadi bila suatu molekul terdiri dari dua atom

atau lebih. Terdapat dua jenis vibrasi molekul yaitu stretching (ulur) dan bending (tekuk).
Vibrasi stretching adalah pergerakan atom yang teratur sepanjang sumbu ikatan. antara dua
atom sehingga jarak antara atom dapat bertambah atau berkurang. Vibrasi stretching meliputi
stretching simetris dan stretching asimetris.

Gambar 10. Vibrasi Ulur Simetris dan Asimetris


Vibrasi bending adalah pergerakan atom yang menyebabkan perubahan sudut ikatan
antara dua ikatan atau pergerakan dari sekelompok atom terhadap atom lainnya. Vibrasi
bending meliputi scissoring (deformation), wagging, twisting dan rocking. Gambar di dawah
menunjukkan gerakan dari keempat vibrasi bending.

Gambar 11. Tipe vibrasi tekuk


Dari keempat vibrasi bending, vibrasi scissoring dan rocking terletak pada satu bidang
sedangkan vibrasi wagging dan twisting terletak di luar bidang. Tanda + dan - pada vibrasi
twisting menunjukkan arah tegak lurus dengan bidang, + arahnya ke muka dan - arahnya ke
belakang.

Gambar 12. Vibrasi tekuk ke-luar bidang dan ke-dalam bidang

Spektrum infra merah ini menunjukkan hubungan antara absorpsi dan frekuensi atau bilanqan
gelombang atau panjang gelombang. Sebagai absis adalah frekuensi (Hertz, detik-1) atau
panjang gelombang (m) atau bilangan gelombang (cm-1) dan sebagai ordinat adalah
transmitans (%) atau absorbans. Contoh spektrum absorpsi infra merah dapat dilihat pada
gambar 5.10. dan 5.11.

Gambar 13. Spektrum Absorbans Inframerah Asam Laktat

Gambar 14. Spektrum Transmitans Inframerah Asam Laktat


Spektrum infra merah merupakan spektrum yang menunjukkan banyak puncak absorpsi
pada frekuensi yang karakteristik. Spektroskopi infra merah disebut juga spektroskopi
vibrasi. Untuk setiap ikatan kimia yang berbeda seperti C - C, C= C, C=- 0, C = 0, 0 = H dan
sebagainya mempunyai frekuensi vibrasi yang berbeda sehingga kemungkinan dua senyawa
berbeda yang mempunyai spektrum absorpsi yang sama adalah kecil sekali.
Untuk mengidentifikasi senyawa yang belum diketahui perlu dibandingkan dengan
spektrum standar yang dibuat pada kondisi sama. Daerah absorpsi pada kisaran frekuensi
1500 sampai 700 cm-1 atau panjang gelombang 6,7-14 m disebut daerah sidik jari (jati diri).
Senyawaan yang mempunyai spektrum infra merah sama adalah identik. Pada Tabel 3. tertera
beberapa gugus fungsional beserta puncak absorpsi karakteristiknya yang dapat membantu
dalam mengidentifikasi suatu senyawa.
Gugus fungsional yang memberikan banyak puncak absorpsi dapat diidentifikasi lebih
tepat dari pada gugus fungsional yang'hanya mempunyai satu puncak. Keton C=0 (stretching)
mempunyai satu puncak absorpsi pada frekuensi 1650-1730 cm-1. Gugus ini lebih sukar
diidentifikasi dari pada ester yang mempunyai dua puncak absorpsi yaitu C=0 (stretching)
pada 1735-1750 cm-1 dan C-0 (stretching) pada 1000-1300 cm-1. Gugus ester ini lebih sukar
dari pada amida yang mempunyai tiga absorpsi yaitu dua puncak absorpsi yang menunjukkan
C=0 (stretching) dan N-H (deformasi) pada 1630 -1690 cm-1 dan satu puncak absorpsi N-H,
stretching pada 3100-3500 cm-1.
Tabel 3. Absorpsi Inframerah Beberapa Gugus Fungsional

2. METABOLOMIK PENANDA KIMIA BIOINDIKATOR


Berbeda dengan pengukuran sidik jari yang melibatkan analisis metabolit bioindikator
secara keseluruhan, metabolomik penanda kimia hanya akan menganalisis satu atau beberapa
senyawa target dari bioindikator. Terdapat banyak senyawa yang dapat diaplikasikan sebagai
penanda kimia. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai fungsi dari penanda kimia terhadap
bioindikator penghasil menjadi hal yang sangat penting. Misalnya pada lingkungan perairan

dengan kadar oksigen rendah, biota laut akan meningkatkan kadar senyawa betaines untuk
menyeimbangkan kehilangan asam amino yang teroksidasi dari media intraselular (Viant et
al. 2003). Proses awal analisis penanda kimia serupa dengan teknik sidik jari, yaitu
mengekstrak bioindikator menggunakan pelarut tertentu. Selanjutnya, penanda kimia
dipisahkan dari metabolit lain menggunakan teknik kromatografi, seperti High Performace
Liquid Chromatography (HPLC) atau Gas Chromatography (GC). Kadar dari penanda kimia
ditentukan berdasarkan luas area puncak kromatogram hasil analisis kromatografi tersebut.
HPLC (High Performance Liquid Chromatography) atau biasa juga disebut dengan
kromatografi. Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran didasarkan atas perbedaan
distribusi dari komponen-komponen campuran tersebut diantara dua fase, yaitu fase diam
(padat atau cair) dan fase gerak (cair atau gas). Bila fase diam berupa zat padat yang aktif,
maka dikenal istilah kromatografi penyerapan (adsorption chromatography). Bila fase diam
berupa zat cair, maka teknik ini disebut kromatografi pembagian (partition chromatography).
Instrumentasi HPLC pada dasarnya terdiri atas: wadah fase gerak, pompa, alat untuk
memasukkan sampel (tempat injeksi), kolom, detektor, wadah penampung buangan fase
gerak, dan suatu komputer atau integrator atau perekam.

Gambar 15. Skema Instrumen HPLC


Prinsip kerja HPLC

Dengan bantuan pompa fase gerak dialirkan melalui kolom ke detektor. Sampel yang
dilarutkan dalam solvent, dimasukkan ke dalam aliran fasa gerak dengan cara injeksi. Di
dalam kolom terjadi pemisahan komponen-komponen campuran berdasarkan perbedaan
kekuatan interaksi anatara analat (solut-solut) dengan stationary phase pada kolom.

Solut-solut yang kurang kuat interaksinya dengan fase diam akan keluar dari kolom
terlebih dahulu. Sebaliknya, solut-solut yang kuat berinteraksi dengan fasa diam maka

solut-solut tersebut akan keluar dari kolom lebih lama. Setiap komponen campuran yang
keluar dari kolom dideteksi oleh detektor kemudian direkam dalam bentuk kromatogram.

Kromatogram HPLC serupa dengan kromatogram GC dengan jumlah peak


menyatakan jumlah komponen; luas area peak menyatakan konsentrasi dalam campuran

Sisitim HPLC dapat dihubungkan dengan software pada komputer dan dioperasikan
secara computerize

Gambar 16. Kromatogram tablet vitamin C


Referensi
Lin CY, Viant MR, Tjeerdema RS. 2006. Metabolomics: methodologies and application in the
environmental sciences. Journal of Pesticides Science. 31 (3): 245251.
Viant, M.R., Rosenblum, E.S., and Tjeerdema, R.S. 2003. NMR-Based Metabolomics: a
powerful approach for characterizing the effects of environmental stressors on organism
health. Environmental Science Technologies. 37: 49824989.